cover
Contact Name
Nasaruddin
Contact Email
nasarhb@gmail.com
Phone
+6285242574293
Journal Mail Official
jtajdid@gmail.com
Editorial Address
LP2M Institut Agama Islam Muhammadiyah Bima, Gedung Lantai III, Jln. Anggrek No. 16 Ranggo NaE Kota Bima NTB, Telp. 0374-44646, Fax. 0373-45267
Location
Kota bima,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan
Published by IAI Muhammadiyah Bima
ISSN : 25498983     EISSN : 26146630     DOI : https://doi.org/10.52266/tadjid
TAJDID merupakan jurnal pemikiran keislaman dan kemanusiaan. Frekuensi penerbitan dilakukan sebanyak 2 (dua) kali dalam setahun setiap bulan April dan Oktober oleh LP2M IAI Muhammadiyah Bima. TAJDID akan menyajikan ide-ide yang up to date disertai dengan solusi-solusi yang relevan seputar pemikiran keislaman dan kemanusiaan. Terlepas dari itu, secara tehknisnya bahwa TADJID hadir untuk mempermudah penulis, peneliti, mahasiswa, guru bahkan stakeholder lainnya yang berkepentingan akan teori-teori yang relevan yang dapat dijadikan sebagai bahan rujukan/referensi secara luas. TAJDID berkomitmen kuat akan selalu hadir sebagai solusi dalam konteks pengembangan keilmuan dibidang keagamaan dan kemanusiaan (sosial).
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 4 No 1 (2020): April" : 8 Documents clear
SEJARAH DAN PEMIKIRAN KH. A. GANY MASYKUR DALAM MENGEMBANGKAN PERSYARIKATAN MUHAMMADIYAH DI BIMA Rafiuddin Rafiuddin; Abdussahid Abdussahid; Husnatul Mahmudah
TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol 4 No 1 (2020): April
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tadjid.v4i1.320

Abstract

Penelitian bertujuan mengungkapkan sejarah dan pemikiran KH.A Gany Masykur seorang tokoh Muhammadiyah di daerah Bima dalam mengembangkan persyerikatan Muhammadiyah. Penelitian ini diarahkan untuk mengkaji bagaimana implementasi pemikiran KH. A. Gany Masykur dan persepsi para para kader Muhammadiyah di Bima. Penelitian ini dinilai penting untuk mengungkapkan kiprah KH. A. Gany Masykur dalam mengembangkan persyerikatan Muhammadiyah di Bima, mengingat beliau salah satu tokoh yang sangat berpengaruh di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sebagai seorang tokoh terkemuka, eksistensi KH.A. Gany Masykur di daerah Bima masih dianggap sebagai simbol dalam pengambilan keputusan terutama dalam bidang pendidikan keagamaan dan sosial kemasyarakatan. Hal ini menjadi landasan untuk mengungkapkan kiprah beliau sehingga dapat dijadikan rujukan pemikiran oleh para generasi selanjutnya terutama bagi para kader Muhammadiyah di daerah Bima. Hasil penelitian menunjukan bahwa KH A.Gany Masykur memiliki andil yang sangat besar dalam mengembangkan Persyarikatan Muhamamdiyah di Bima. Perkenalan KH. A. Gany Masykur dengan Muhamamdiyah pada tahun 1937 melalui Ruma Bicara (Abdul Hamid) dari Kerajaan Bima. Sisi lain, pemikirannya telah menjadikan rujukan para kader dalam mengembangkan persyarikatan Muhammadiyah di daerah Bima.
AHKAM AL-KHAMS DALAM DINAMIKA PEMIKIRAN HUKUM ISLAM DAN PERUBAHAN SOSIAL Sahlul Fuad
TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol 4 No 1 (2020): April
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tadjid.v4i1.322

Abstract

Artikel ini mengajukan pendapat bahwaAhkam al-Khams sebagai acuan penilaiaan perbuatan atau tindakan dalam Islam memiliki ketahanan terhadap dinamika pemikiran hukum Islam dan perubahan sosial. Hingga saat ini hukum Islam tetap memberlakukan lima kategori untuk menilai perilaku atau tindakan para mukallaf, yang sering disebut dengan istilahAhkam al-Khams, yaitu: Wajib, Mandub, Mubah, Makruh, dan Haram. Kelima hukum tersebut menjadi acuan untuk menilai perbuatan atau tindakan (amal) para mukallaf, baik terkait hubungan dengan Tuhan (ibadah) maupun hubungan sesama manusia (muamalah). Ketetapan-ketetapan hukum tersebut pada dasarnya merupakanhasil interpretasi para ulama atas wahyu, yang yang didasarkan pada pertimbangan kriteria dan kondisi tertentu. Walaupun saat ini telah terjadi perkembangan sosial dan dinamika pemikiran hukum yang sangat pesat, namun ahkam al-khmas tetap memiliki relevansi dan tidak mengalami perubahan, kecuali pergeseran status akibat perubahan penafsiran atau pengambilan hukum atas sumber hukum.
KETELADANAN GURU DAN PENDIDIKAN DALAM KELUARGA TERHADAP KEPRIBADIAN MUSLIM SISWA DI MTs PONDOK PESANTREN AL-HUSAINY KOTA BIMA Farizal Marliu; Otong Surasman; Taufan Taufan
TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol 4 No 1 (2020): April
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tadjid.v4i1.324

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan data empiris yang terkait dengan teladan guru dan kepribadian pendidikan siswa muslim secara terpisah atau bersama-sama. Penulis menggunakan metode survey data kuantitatif korelasional yang diperoleh dari siswa Madrasah Tsanawiyah/MTs Pondok Pesantren Al-Husainy Kota Bima, NTB. Sampel penelitian sebanyak 120 responden tahun ajaran 2017-2018.Pengumpulan data menggunakan observasi, dokumentasi, dan kuesioner.Jenis analisis ini menggunakan analisis korelasi dan regresi dijelaskan secara deskriptif. Hasil penelitian, pengaruh yang signifikan antara kepribadian guru-siswa teladan Muslim ditunjukkan oleh besarnya koefisien korelasi dan koefisien determinasi berarti bahwa setiap peningkatan satu unit skor keteladanan guru mempengaruhi peningkatan Skor Kepribadian Siswa muslim. Ada pengaruh yang signifikan antara Pendidikan dalam Keluarga dengan Kepribadian Muslim, yang berarti bahwa setiap peningkatan dalam satu unit Pendidikan dalam Skor Keluarga mempengaruhi peningkatan skor Kepribadian Muslim sebesar 0,360, itu berarti bahwa setiap peningkatan dalam satu unit nilai pendidikan dalam keluarga mempengaruhi peningkatan skor lepribadian muslim siswa. Ada pengaruh signifikan yang ditunjukkan nilai probabilitas. Nilai koefisien korelasi kedua variabel adalah 0,633 dan koefisien determinasi adalah 40,1%, yang berarti bahwa peningkatan satu unit skor dari model guru dan pendidikan di keluarga bersama-sama meningkatkan skor kepribadian siswa.
PENERAPAN SISTEM PEMBINAAN HALAQAH DALAM MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSIONAL Armansyah Armansyah
TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol 4 No 1 (2020): April
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tadjid.v4i1.325

Abstract

Perkembangan abad mutakhir menghendaki adanya suatu sistem pendidikan dan pengajaran Islam yang komprehensif. Lembaga pendidikan Islam dituntut untuk mampu ikut berkompetisi dalam upaya menciptakan suatu inovasi kreatif terhadap sistem ataupun metode pembelajaran yang telah ada. Guru sebagai salah satu komponen pendidikan mempunyai peranan sangat penting dalam pencapaian tujuan pendidikan. Halaqah biasanya digunakan untuk mengambarkan sekelompok kecil muslim yang secara rutin menkaji ajaran Islam jumlah peserta berkisar antara 3-12 orang. Pada dasarnya sistem pembinaan halaqah ada tiga tingkatan, mulai dari tahap pertama adalah tahap rahasia dan perseorangan yaitu sejak turunnya wahyu yang pertama Al-qur‟an Surat 96, ayat 1-5, tahap kedua adalah tahap terang-terangan kemudian tahap ketiga adalah Tahap untuk umum yaitu seruan dalam skala internasional. Secara praksis penerapan metode halaqah, menjadi ruang meditor bagi setiap orang untuk memahami potensi dirinya mencakup kecerdasan mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain, bahkan membina hubungan.
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PAI YANG INTEGRATIF: Antara Guru PAI, Orang Tua dan Masyarakat Irwan Irwan
TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol 4 No 1 (2020): April
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tadjid.v4i1.326

Abstract

Pembelajaran PAI pada lembaga pendidikan merupakan mata pelajaran yang tidak pernah dipisahkan dari kegiatan mengajarkan, mendidik, membina dan menanamkan atau memahamkan nilai-nilai ajaran Islam secara kaffah kepada peserta didik, agar mereka dapat mengamalkan ajaran-ajaran tersebut di dalam kehidupan mereka sehingga menjadi sebagai pribadi maupun kelompok yang taat kepada ajaran agama Islam. Pembelajaran PAI haruslah bersifat integratif yang artinya adanya sinergisitas atar Guru PAI, Peranan Orang Tua dan Masyarakat, agar apa yang menjadi tujuan pemeblajaran dapat tercapai dengan hasil yang maksimal. Dari beberapa syarat-syarat pendidik yang ideal diantaranya adalah sabar, sehat jasmani dan rohani, memiliki ilmu pengetahuan, bertaqwa kepada Allah SWT. Syarat-syarat pendidik yang mulia yang ada pada diri Rasulullah yang harus dimiliki oleh seorang pendidik yaitu sabar, memiliki ilmu pengetauan yang luas, sehat jasmani dan rohani, taat beribadah, agar seorang pendidik dalam proses pendidikan mencapai hasil yang maksimal yaitu terciptan Masanya kepribadian muslim yang bertaqwa kepada Allah SWT.
PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN MELALUI PENDEKATAN PENGELOLAAN KELAS Anton Anton; Usman Usman
TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol 4 No 1 (2020): April
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tadjid.v4i1.327

Abstract

Peningkatan mutu pendidikan akan tercapai apabila proses belajar mengajar yang diselenggarakan di kelas benar-benar efektif dan berguna untuk mencapai kemampuan pengetahuan, sikap dan keterampilan yang diharapkan. Karenapadadasarnya proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan, di antaranya guru merupakan salah satufaktor yang penting dalam menentukan berhasilnya proses pembelajaran di dalam kelas. Oleh karena itu guru dituntut untuk meningkatkan peran dan kompetensinya. Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan lebih mampumengelola kelasnya sehingga hasil belajar peserta didik berada pada tingkat yang optimal. Dalam kegiatan belajar mengajar terdapat dua hal yang turut menentukan berhasil tidaknya suatu proses belajar mengajar, yaitu pengelolaan kelas dan pengajaran itu sendiri. Kedua hal itu saling tergantung. Keberhasilan pengajaran, dalam arti tercapainya tujuan-tujuan intruksional sangat bergantung pada kemampuan mengelola kelas. Kelas yang baik dapat menciptakan situasi yang memungkinkan siswa belajar sehingga merupakan titik awal keberhasilan pengajaran.
KONSEP DASAR EKONOMI ISLAM DITENGAH KONSERVATISME PEMIKIRAN EKONOMI MODERN DI INDONESIA Abu Bakar
TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol 4 No 1 (2020): April
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tadjid.v4i1.329

Abstract

Konsep ekonomi Islam berbeda dan tidak mengadopsi sistim kapitalisme Barat maupun sosialisme. Sistem ekonomi Islam berbeda dari kapitalisme, sosialisme maupun negara kesejahteraan (welfare state). Walaupun disejajarkan dengan konsep sosialisme, Islam berbeda dalam hal kekuasaan negara, yang dalam sosialisme sangat kuat dan menentukan. Kebebasan perorangan yang dinilai tinggi dalam Islam jelas bertentangan dengan ajaran sosialisme. Meski demikian gagasan ekonomi kesejahteraan (welfare state) yang berada di tengah-tengah antara kapitalisme dan sosialisme memang lebih dekat ke ajaran Islam. Bedanya bahwa dalam Islam etika dijadikan pedoman perilaku ekonomi sedangkan dalam welfare state tidak demikian, karena etika welfare state adalah sekuler yang tidak mengarahkan pada “integrasi vertikal” antara aspirasi materi dan spiritual. Hal ini dapat dipahami melalui nilai-nilai dasar yang mengilhami ekonomi Islam di antara; konsep tauhid, rububiyyah, khalifah, dan tazkiyyah sebagi benyuk manifestasi nilai dasar ajaran Islam.
FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM: Tinjauan Antroposentris Tentang Konsep Pendidikan Manusia Muhammad Muhammad
TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol 4 No 1 (2020): April
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tadjid.v4i1.330

Abstract

Kedudukan manusia dalam proses pendidikan senantiasa diperbincangkan dalam perspekstif akademik, mengingat manusia merupakan aktor utama selaku subjek dan objek pendidikan. Salah satu pokok persoalan yang selalu didiskusikan tentang manusia dalam pelaksanaan pendidikan adalah eksistensi manusia yang dapat dididik dan harus mendidik. Dalam al-Qur‟an manusia digeneralkan dengan kosa kata al-insan berasal dari kata anasa yang arinya melihat, dan banyak dijelaskan dalam al-Qur‟an. Kata insan yang bentuk jamaknya al-nas dasar kata anasa, yang berarti melihat, mengetahui dan meminta izin. Sehingga muatannya mengandung petunjuk adanya keterkaitan antara manusia dengan kemampuan penalaran, yakni manusia dapat mengambil pelajaran dari apa yang dilihatnya, ia dapat pula mengetahui apa yang benar dan apa yang salah, dan terdorong meminta izin untuk menggunakan sesuatu yang bukan miliknya. Pengertian tersebut, menunjukan adanya potensi manusia untuk dididik dan mendidik pada diri manusia. Sehingga memberikan gambaran bahwa manusia memiliki kemampuan yang tinggi untuk beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di lingkungannya, baik perubahan sosial maupun perubahan alamiah sebagai proses pendidikan dalam diri seorang manusia.

Page 1 of 1 | Total Record : 8