cover
Contact Name
Muhammad Aditya Pratama
Contact Email
adityapratama@ikj.ac.id
Phone
+6285693972062
Journal Mail Official
imaji@ikj.ac.id
Editorial Address
Jalan Sekolah Seni No.1 (Raden Saleh, Kompleks Taman Ismail Marzuki Jl. Cikini Raya No.73, RT.8/RW.2, Cikini, Jakarta, Central Jakarta City, Jakarta 10330
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal IMAJI
ISSN : 19073097     EISSN : 27756033     DOI : https://doi.org/10.52290/JI
Core Subject : Humanities, Art,
Journal IMAJI accommodates a collection of various topics of film / audio-visual studies that contain ideas, research, as well as critical, fresh, and innovative views on the phenomenal development of cinema in particular and audio-visual in general. This journal aims to provide research contributions to film and audio-visual media which are expected to encourage the development of film, including photography, television and new media in Indonesia, so that they are superior and competitive at the national level and in the international world.
Articles 206 Documents
Mencari Bentuk Estetika Film Nasional melalui Wayang dalam Relief Candi-candi di Jawa Prakosa, Gotot
IMAJI No. 5 (2009): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In Asia the concept of projecting moving pictures has been understood for at least a thousand years. The shadow theater so popular in those cultures conjured up gods and heroes, animals from fables, and demons on a screen and porta,ved them in various adventures. The earliest remnants of shadow' play were discovered in China and in Indonesia and stem from the 11 century. Two dimensional filigree figures were cut from tanned animal skins and artistically painted in color. The shadow players manipulated the chosen figure’s movable limbs with rods right up against the back of a screen of paper or silk. The light from an oil lamp illuminated the figure in such a way that the viewers could even enjoy the moving shadows in color. Especially in Indonesia, the shadow play Wayang Kulit is still popular today, and utilizes black silhouette figures and three-dimensional dolls along with the traditional audiences, ever mindful of tradition, still envision engineering the actual spirits of their ancestors in the moving enterplay of light and dark. This article tries to connect wav say wayang in comparison study with story film.
Adakah Bahasa Visual 'Baru' dalam Sinema Indonesia? Kusumaryati, Veronika
IMAJI No. 5 (2009): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Apakah teknologi baru menghasilkan bahasa visual baru? Apakah teknologi berpengaruh pada bentuk bahasa film yang diciptakan? Pertanyaan-pertanyaan ini banyak beredar dalam pembacaan terhadap kemunculan bahasa visual 'baru' di sinema Indonesia pasca-Kuldesak. Kehadiran bahasa visual baru, bagi banyak orang, dipercaya merupakan hasil dari perkembangan dan pengenalan teknologi baru dalam proses produksi sinema. Kepercayaan ini mendapat pembenaran dari teori teori klasik macam Andre Bazin dan Jean Mitry tetapi kemudian mendapat tantangan dari pembacaan fenomena baru dari ahli-ahli macam Guy Debord dan Jonathan L. Belief: Artikel ini berkehendak menghadirkan perdebatan teknologi dan produksi citraan dalam sinema Indonesia dengan mengacu pada perdebatan sejarah sinema dan teknologi.
Semi-Dokumenter Bukan Dokumenter? Ayawaila, Gerzon R.
IMAJI No. 5 (2009): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebuah pernyataan yang mungkin terlalu lemah jika Dinyatakan bahwa semi-dokumenter bukan dokumenter. Apa dasar argumentasinya untuk menyatakan bahwa dokumenter adalah dokumenter, tanpa menambahkan embel-embel 'semi'. Sebagian berpendapat bahwa apabila dokumenter ditambahi dengan kata 'semi', maka aspek validitas, orisinalitas atau autentisitas Jari peristiwa yang direkam bisa menjadi kabur. Argumentasinya aJalah film dokumenter yang ditambahi dengan kata 'semi', biasanya bertujuan propaganda, baik dengan tujuan positif maupun negatif. Kemurnian dokumenter ketika ditambah dengan kata 'semi' maka makna kata ini seakan memberi sebuah ruang tambahan yang abu-abu, dimana dengan leluasa ruang abu-abu ini dapat direkayasa atau manipulasi dengan memberi ilustrasi pada konteks, yang batasannya samar bagi penilaian normatif. Apakah hal ini masih perlu diperdebatkan atau dipermasalahkan?
Membaca Komik, Menonton Film Ajidarma, Seno Gumira
IMAJI No. 5 (2009): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Adaptasi komik menjadi film semakin menggejala, dan melahirkan film-film box-office. Benarkah terhadap gambar-gambar komik lebih mudah dilakukan adaptasi daripada sumber-sumber gagasan dari medium lain? Instrumen bahasa komik dan film sebetulnya sangat berbeda, meski saling pengaruh ternyata memang ada. Peran pembaca penonton juga sangat menentukan-ketika para tokoh superhero komik telah menjadi bagian dari mitologi masa kini.
Peranan Karakter Film Berjudul Miracle In Cell No.7 Prasetyo, Martinus Eko; Liu, Theofilus
IMAJI Vol. 15 No. 1 (2024): Arsip, Wacana Visual & Film Eksperimental
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/i.v15i1.165

Abstract

Film sebagai media visual yang menggunakan gambar bergerak untuk menyampaikan cerita, gagasan, atau pesan kepada penonton sebagai alat ekspresi artistik dan naratif. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis lebih dalam tentang isi film secara estetika, peran karakter, spectacle, audio elements dan editing, komposisi angle kamera, dan keunikan film. Metode penelitian dilakukan secara deskriptif kualitatif, pencarian data-data langsung dengan menonton film berjudul Miracle In Cell No.7 yang diproduksi tahun 2013, dengan data-data penunjang daftar pustaka mengenai teori-teori dan jurnal film. Hasil penelitian "Peranan Karakter Film Berjudul Miracle In Cell No.7" bahwa pentingnya daya tarik secara estetika, peran karakter, audio elements dan editing, Spectacle, komposisi angle & kamera, dan keunikan film dalam membangun emosi audiens yang begitu mendalam dan ini menjadi alasan bagaimana film ini sukses menghadirkan hiburan yang terus dibicarakan oleh audiens hingga hari ini.
Kajian dampak sosiologi pengarsipan film-film Teguh Karya Riza, Muhammad Rivai
IMAJI Vol. 15 No. 1 (2024): Arsip, Wacana Visual & Film Eksperimental
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/i.v15i1.166

Abstract

Dalam karyanya yang terkenal Course in positive Philosophy (1830-1842). Sosiolog Auguste Comte menguraikan secara rinci pandangannya tentang perkembangan pengetahuan manusia. Dalam telaah sosiologi tersebut Comte menguraikan bahwa manusia sebagai bagian dari sebuah organisme sosial yang berkembang, di mana setiap manusia adalah bagian dari struktur yang memiliki fungsi seperti layaknya sebuah organisme biologis. Setiap individu memiliki peran dan fungsi yang saling bergantung dan menentukan terhadap stabilitas dan perkembangan masyarakat itu sendiri. Sinematek Indonesia adalah sebuah lembaga arsip Mandiri yang didirikan oleh sutradara dan penulis skenario Misbach Yusa Biran pada tahun 1974. Hingga hampir 50 tahun pendiriannya lembaga ini menjadi pusat dari berbagai penelitian tentang film Indonesia. Artikel ini adalah sebuah kajian aspek sosiologi dalam konsep organisme sosial Comte dari kekaryaan film sutradara film Teguh Karya (1937-2001) dan koleksi arsip film filmnya di Sinematek Indonesia, satu satunya lembaga resmi pengarsipan film yang didirikan tahun 1974 di Indonesia. Artikel ini mencoba mengajukan sebuah tinjauan peran sosial, dampak sosiologis dan budaya dari koleksi arsip film Teguh Karya, termasuk di dalamnya pendidikan sejarah dan film. Pengamatan secara spesifik melihat film pertama sutradara Teguh Karya berjudul Wajah Seorang Laki Laki (1971). Metode penelitian adalah dengan melakukan observasi materi arsip film dan kunjungan ke arsip film.
RITME EDITING DALAM KONVENSI GENRE DAN MOOD FILM: STUDI KASUS FILM KKN DI DESA PENARI DAN WANALATHI Prama Saputra, Ary
IMAJI Vol. 15 No. 1 (2024): Arsip, Wacana Visual & Film Eksperimental
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/i.v15i1.167

Abstract

Untuk bisa mengetahui keberadaan ritme editing sebuah film sangatlah mudah. Kita cukup dengan sadar menyimak pergantian gambar yang terjadi akibat cutting. Selanjutnya kita akan menyimpulkan tentang irama serta tempo film sebagai cepat atau lambat dimana kemudian disebut sebagai pace, berdasarkan sebuah pola. Tapi apakah ritme dan pace film hanya terbentuk melalui apa yang disebutkan sebelumnya? Juga apakah ritme editing keberadaannya hanya untuk sekedar membuat irama tanpa arah dan fungsi? Jawabannya adalah tidak. Keberadaan ritme editing film tidak boleh seperti itu karena dia harus bersinergi dengan naratif filmya. Jadi jika naratif memiliki elemen yang ditata maka ritme editing filmnya juga harus mengusahakan tatanan dari faktor ritmenya mejadi bentuk yang tepat. Karena arahan bentuk ritme yang salah dari editing akan fatal dampaknya bagi film. Respon negatif bisa bermunculan mengenai film yang membosankan karena terasa lambat atau bikin pusing karena terlalu cepat ritmenya. Lalu bagaimana cara mengetahui bahwa ritme yang dibentuk melalui editing sudah tepat? Apalagi jika tatanan elemen naratif film mengarah ke genre tertentu yang pasti mengerucut jadi sebuah konvensi. Tentu cepat atau lambatnya film, baik di adegan tertentu juga keseluruhan film akan memperhatikan beberapa hal terlebih dahulu sebelum dibentuk. Tulisan ini berusaha mengetahui apakah faktor ritme film yang diolah dalam sebuah film memiliki bentuk yang tepat sehingga mendukung bertemunya konvensi dengan harapan atau mood yang ingin dimunculkan dari sebuah film. Cara yang dilakukan adalah mengurai perihal ritme editing yang terjadi dibatasan durasi yang sama dari dua film yang berbeda, yaitu film horor. Kata kunci: ritme editing, pace film, genre film
Analisis Hermeneutika Film Dokumenter Short Cut Hermansyah, Kusen Dony
IMAJI Vol. 15 No. 1 (2024): Arsip, Wacana Visual & Film Eksperimental
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/i.v15i1.168

Abstract

Film Short Cut terasa biasa saja sebagai film dengan tipe observational documentary. Film ini bercerita tentang kelihaian seorang barber yang sedang memotong rambut seorang perempuan. Keunikannya adalah bahwa barber tersebut bertato dan bertindik. Metode penelitian yang akan digunakan dalam pengamatan ini metode penelitian kualitatif. Sumber datanya adalah film Short Cut yang disutradarai oleh Luigi Rizzo. Teknik pengumpulan datanya menggunakan studi kepustakaan dan dokumen dan analisis datanya menggunakan analisis hermeneutika radikal dari Jacques Derrida. Dengan teori tersebut dapat terungkap bahwa barber tersebut juga memiliki profesi lain. Film Short Cut terasa biasa saja sebagai film dengan tipe observational documentary. Film ini bercerita tentang kelihaian seorang barber yang sedang memotong rambut seorang perempuan. Keunikannya adalah bahwa barber tersebut bertato dan bertindik. Metode penelitian yang akan digunakan dalam pengamatan ini metode penelitian kualitatif. Sumber datanya adalah film Short Cut yang disutradarai oleh Luigi Rizzo. Teknik pengumpulan datanya menggunakan studi kepustakaan dan dokumen dan analisis datanya menggunakan analisis hermeneutika radikal dari Jacques Derrida. Dengan teori tersebut dapat terungkap bahwa barber tersebut juga memiliki profesi lain.
FOTOGRAFI LANDSCAPE DENGAN VISUAL DARI PENDEKATAN FOTOGRAFI EKSPRESI Mochamad Naufal Diwana
IMAJI Vol. 15 No. 2 (2024): Fotografi, Bahasa Visual dan Eksotisme
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/i.v15i2.177

Abstract

Penulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan konsep dan proses penciptaan seni fotografi dengan judul Fotografi Landscape Dengan Visual Dari Pendekatan Fotografi Ekspresi. ada banyak jenis dan teknik dalam fotografi, salah satunya yang membuat tertarik penulis adalah fotografi landscape. Penciptaan karya seni fotografi mengangkat tema utama adalah Fotografi Landscape Dengan Visual Dari Pendekatan Fotografi Ekspresi. Tema tersebut berupa keindahan alam beserta karakteristiknya. Fotografi Landscape Dengan Visual Dari Pendekatan Fotografi Ekspresi menggunakan proses eksplorasi dalam penciptaan karya. Eksplorasi ini untuk menemukan konsep dan ide-ide terkait dengan keindahan alam di Trenggalek berupa pantai, air terjun, dan sebagainya yaitu dengan melakukan observasi melihat lokasi, mempelajari situasi dan kondisi untuk menentukan sudut pandang terhadap objek. Konsep dalam penciptaan karya Fotografi Landscape Dengan Visual Dari Pendekatan Fotografi Ekspresi ini adalah penulis ingin menampilkan keindahan alam yang memiliki kesan tenang, sejuk, dan dramatis. Proses visualisasi karya dikerjakan dengan menggunakan alat kamera Canon EOS RP, lensa 24-105 mm, ND filter, kartu memori, tripod dan teknik yang digunakan yaitu ruang tajam luas di kombinasikan dengan slow speed atau long exposure.
Peran Fotografi dalam Pengarsipan Dokumentasi Sejarah Kemerdekaan Indonesia Subhan Akrom Duta Laksana
IMAJI Vol. 15 No. 2 (2024): Fotografi, Bahasa Visual dan Eksotisme
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/i.v15i2.188

Abstract

Arsip adalah segala naskah kertas, buku, foto, film, mikrofilm, rekaman suara, gambar peta, diagram, atau dokumen lain dalam bentuk atau sifat apa pun, asli atau salinan, dibuat atau diterima oleh pihak yang berwenang sebagai bukti, diciptakan dengan cara apa pun. Karena tujuan, organisasi, fungsi, kebijakan, keputusan, prosedur, operasi, atau kegiatan pemerintahan lainnya, atau karena pentingnya informasi yang terkandung di dalamnya. Pengarsipan dokumentasi sejarah kemerdekaan Indonesia menjadi sangat penting karena bisa menjadi bukti sejarah perjalanan Indonesia yang bisa tercatat dan bisa menjadi pembelajaran bagi generasi mendatang tentang bagaimana memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Metode penelitian disini menggunakan metode literatur yang bersifat deskriptif-analitis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengertian fotografi dokumenter , arsip dan dokumentasi, membuktikan bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia dapat dilihat melalui bukti dokumentasi dengan memanfaatkan fotografi sebagai wujud seni visual modern yang memadukan seni serta teknologi serta mengetahui implementasi fotografi terhadap pengarsipan sejarah kemerdekaan Indonesia.

Filter by Year

2005 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 17 No. 1 (2026): Film Artistik dan Film Komersial: Estetika, Industri dan Ideologi Hiburan Vol. 16 No. 3 (2025): Imaji Visual dalam Ruang, Waktu, dan Memori Vol. 16 No. 2 (2025): Film, Masyarakat, Teknologi, dan Identitas Budaya Vol. 16 No. 1 (2025): Identitas dalam Sinema Indonesia Vol. 15 No. 3 (2024): Ruang, Penonton, dan Wacana Sinematik Vol. 15 No. 2 (2024): Fotografi, Bahasa Visual dan Eksotisme Vol. 15 No. 1 (2024): Arsip, Wacana Visual & Film Eksperimental Vol. 14 No. 3 (2023): Suara & Imaji yang Berkelindan Vol. 14 No. 2 (2023): Fotografi, Riwayatmu Hingga Kini Vol. 14 No. 1 (2023): Antara Struktur dan Bahasa Visual Vol. 13 No. 3 (2022): Menuju Layar Personal sebagai Budaya Baru Menonton Vol. 13 No. 2 (2022): Wawancara dan Kedalaman Penelitian Media Audio Visual Vol. 13 No. 1 (2022): Merayakan dan Dirayakan Melalui Sinema Vol. 12 No. 3 (2021): Membingkai Realitas melalui Imaji Visual Vol. 12 No. 2 (2021): Panorama Mengamplifikasi Gagasan melalui Media Audio-Visual Vol. 12 No. 1 (2021): Sinema dan Wacana Vol. 11 No. 2 (2020): Sinema, Ideologi, dan Kritik Sosial Vol. 11 No. 1 (2020): Bentuk, Gaya, dan Persepsi Penonton Vol. 10 No. 2 (2018): Karakter dan Konsep-Konsep Psikoanalisis dalam Film Vol. 10 No. 1 (2018): Teknologi dan Storytelling dalam Medium Audio-Visual Vol. 9 No. 1 (2017): Mitos dalam Film dan Televisi Vol. 8 No. 1 (2016): IMAJI Vol. 5 No. 2 (2013): IMAJI Vol. 5 No. 1 (2013): IMAJI Vol. 4 No. 2 (2012): IMAJI Vol. 4 No. 1 (2012): IMAJI No. 6 (2011): IMAJI No. 5 (2009): IMAJI No. 4 (2008): IMAJI No. 3 (2007): IMAJI No. 2 (2006): Dimana Posisi Kritik Sinema Indonesia? No. 1 (2005): Antara Melihat dan Membaca More Issue