cover
Contact Name
Muhammad Aditya Pratama
Contact Email
adityapratama@ikj.ac.id
Phone
+6285693972062
Journal Mail Official
imaji@ikj.ac.id
Editorial Address
Jalan Sekolah Seni No.1 (Raden Saleh, Kompleks Taman Ismail Marzuki Jl. Cikini Raya No.73, RT.8/RW.2, Cikini, Jakarta, Central Jakarta City, Jakarta 10330
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal IMAJI
ISSN : 19073097     EISSN : 27756033     DOI : https://doi.org/10.52290/JI
Core Subject : Humanities, Art,
Journal IMAJI accommodates a collection of various topics of film / audio-visual studies that contain ideas, research, as well as critical, fresh, and innovative views on the phenomenal development of cinema in particular and audio-visual in general. This journal aims to provide research contributions to film and audio-visual media which are expected to encourage the development of film, including photography, television and new media in Indonesia, so that they are superior and competitive at the national level and in the international world.
Articles 206 Documents
Media Baru dan Film Dokumenter sebagai Kritik terhadap Electoral Authoritarianism: Studi atas Film Dokumenter Dirty Vote Karya Watchdoc Ilham, Muhamad Hidayatul; Jaya, Eko Pebryan
IMAJI Vol. 16 No. 2 (2025): Film, Masyarakat, Teknologi, dan Identitas Budaya
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/i.v16i2.340

Abstract

Tahun 2024 lalu publik dihebohkan dengan film dokumenter yang diberi judul Dirty Vote. Film ini menampilkan tiga narasumber yang secara terbuka menjelaskan bentuk dugaan kecurangan yang mewarnai Pemilihan Umum 2024. Tulisan ini menganalisis film Dirty Vote sebagai alat kritik terhadap praktik otoritarianisme elektoral di Indonesia. Tulisan ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang berpadu dengan semiotika John Fiske yang menggunakan tiga level makna yakni realitas, representasi dan ideologi yang dibalut dalam setiap dimensi otoritarianisme elektoral yakni pemilu sebagai hiasan, alat dan arena kontestasi. Hasil dari analisis menunjukkan jika film ini berhasil mengangkat fakta manipulasi struktural serta menampilkan visual dan naratif yang membongkar legitimasi semu pemilu. Sebagai produk media baru, Youtube menjadi medium efektif yang tidak hanya mendistribusikan kritik secara luas, tetapi juga membuka ruang partisipasi dan mobilisasi publik. Dengan demikian, eksistensi film dokumenter yang dipublikasikan melalui platform media baru seperti Youtube menjadi fasilitator signifikan bagi pembentukan kesadaran politik bagi masyarakat umum
The Characterization of Siti and 4:3 Screen Aspect Ratio in the Movie "Siti": A Reflection of Free Will Anjarsari, Fitrilya; Wellem, Karmilla Alamsyah
IMAJI Vol. 16 No. 2 (2025): Film, Masyarakat, Teknologi, dan Identitas Budaya
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/i.v16i2.346

Abstract

Penggunaan Aspek Rasio Layar 4:3 dalam Film Siti: Sebuah Refleksi Kehendak Bebas ala Posthumanisme ingin menunjukkan sisi lain dari penggunaan elemen tersebut dalam sinematografi film. Penggunaan aspek rasio layar tersebut seringkali identik dengan pemahaman filosofis akan ruang gerak yang terbatas. Pemahaman tersebut mempengaruhi bagaiman pemeran utama Perempuan dalam film Siti direpresentasikan. Penelitian ini akan menggunakan metode pembacaan difraksi yang menjadi khas penelitian posthumanisme untuk menunjukkan bahwa penggunaan aspek rasio 4:3 tidak selamanya terkoneksi dengan representasi keterbatasan. Kemudian dilakukan pembacaan jarak dekat dalam studi kasus film Siti dengan menggunakan teori time-image yang dicetuskan Gilles Deleuze untuk kemudian menunjukkan bahwa karakter Siti tidak menjadi korban keterbatasan ruang gerak sebagai seorang perempuan melainkan seseorang yang memaksimalkan upaya kehendak bebasnya.
Dari Bahasa hingga Aksara: Bias Autentisitas dalam Film Adisatria Gundala (2019) dan Sri Asih (2022) Ridwan, Sinta
IMAJI Vol. 16 No. 2 (2025): Film, Masyarakat, Teknologi, dan Identitas Budaya
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/i.v16i2.350

Abstract

Penelitian ini mengkaji pola representasi kebahasaan dalam film adisatria Indonesia Gundala (2019) dan Sri Asih (2022) untuk mengungkap bias Jawasentris dalam konstruksi identitas nasional. Meskipun berlatar Jakarta sebagai ruang multikultural, kedua film secara sistematis menggunakan unsur kebahasaan Jawa untuk momen-momen spiritual dan supernatural, sementara bahasa Indonesia Jakarta hanya digunakan untuk percakapan sehari-hari. Menggunakan kerangka ideologi bahasa Kathryn Woolard, konsep pasar bahasa Pierre Bourdieu, dan teori komunitas imajiner Benedict Anderson, penelitian ini menganalisis transkrip dialog dari 15 adegan terpilih dengan penanda waktu spesifik serta penggunaan aksara sebagai simbol bahasa. Temuan menunjukkan tiga pola krusial: pertama, hierarki sakral-profan yang memposisikan bahasa Jawa sebagai pembawa otoritas spiritual; kedua, disposesi budaya di mana Jakarta kehilangan identitas budayanya sendiri termasuk fenomena simulacrum autentisitas; ketiga, marjinalisasi sistematis keberagaman bahasa Indonesia melalui apropriasi tradisi non-Jawa ke dalam kategori dominan, termasuk mis-identifikasi aksara Sunda sebagai Jawa Kuno. Ketidakakuratan bahasa dan aksara dalam penggunaan unsur Jawa mengungkap bahwa representasi ini bersifat performatif untuk menciptakan efek mistis, bukan autentisitas budaya. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman tentang bagaimana media populer berpartisipasi dalam reproduksi hierarki budaya yang dapat memarjinalisasikan keberagaman dalam era demokratisasi.
Kepulauan Multiinderawi: Representasi Realitas Sosial Budaya di Indonesia melalui Estetika Pertanggungjawaban dan Pendekatan Lintas Spesies Ompusunggu, Moses Parlindungan
IMAJI Vol. 16 No. 2 (2025): Film, Masyarakat, Teknologi, dan Identitas Budaya
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/i.v16i2.351

Abstract

Dalam tulisan ini, Penulis bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana estetika pertanggungjawaban (aesthetics of accountability) dan pendekatan lintas spesies (interspecies atau multispecies) dapat digunakan untuk merepresentasikan realitas-realitas sosial dari budaya-budaya di Indonesia melalui film. Pertama-tama, tulisan ini akan membahas bagaimana dua konsep tersebut dilahirkan dan berkembang dalam berbagai lapangan diskursus teori dan praktik, terutama antropologi visual dan perfilman nonfiksi, selama beberapa tahun terakhir. Selanjutnya, tulisan ini akan menggunakan sebuah contoh penerapan estetika pertanggungjawaban dan pendekatan lintas spesies dalam merespons sebuah isu publik mengenai pertambangan nikel di sebuah wilayah pariwisata laut untuk menganalisis sejauh mana keterjangkauan (affordance) yang bisa ditawarkan oleh kedua konsep dalam merepresentasikan realitas-realitas sosial dari budaya-budaya di Indonesia. Sebagai kajian kasus, Penulis akan mendeskripsikan dan merefleksikan pengalaman menggunakan estetika pertanggungjawaban dan pendekatan lintas spesies dalam sebuah produksi dokumenter etnografis kolaboratif. Pada akhirnya, tulisan ini berkesimpulan bahwa dua konsep tersebut sangat relevan dengan dua hal: interseksionalitas dalam realitas-realitas sosial dari budaya-budaya di Indonesia dan potensi sinema untuk membentuk sekumpulan pengalaman audiovisual yang Penulis sebut sebagai sebuah kepulauan multiinderawi (a multisensory archipelago).
Paradoks Representasi Kekerasan Seksual dalam Film Indonesia: Analisis Wacana Multimodal Film Like and Share (2022) Aisyah, Asmi Nur
IMAJI Vol. 16 No. 2 (2025): Film, Masyarakat, Teknologi, dan Identitas Budaya
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/i.v16i2.352

Abstract

Penelitian ini menelaah paradoks representasi kekerasan seksual dalam film Indonesia berjudul Like and Share (2022). Narasi kekerasan seksual, termasuk yang disampaikan melalui film, berkontribusi dalam membentuk pemahaman sosial terhadap kompleksitas fenomenanya. Sebagai bagian dari dinamika budaya, industri film turut memberi perhatian terhadap isu ini sebagai bagian dari upaya memajukan perfilman nasional yang relevan dengan perkembangan masyarakat. Melalui metode analisis wacana multimodal dari Kress dan Van Leeuwen, penelitian ini berfokus pada tiga bentuk kekerasan seksual yang ditampilkan dalam Like and Share (2022), yakni kekerasan seksual berbasis siber berupa Non-Consensual Intimate Imagery (NCII), kekerasan seksual terhadap anak (child grooming), dan kekerasan seksual verbal. Studi ini mengungkap adanya apropriasi metaforis terhadap wacana feminisme yang memaknai pemerkosaan sebagai ekspresi simbolik dari kekuasaan. Namun, film ini juga berkelindan dengan narasi pasca-feminis (post-feminism), yang mengadopsi unsur-unsur seperti penerimaan positif terhadap seks (sex positivity), normalisasi fantasi dan mitos pemerkosaan (rape fantasies and myths), serta upaya membangun empati penonton terhadap korban—yang justru dapat menghambat pendalaman implikasi politis dari representasi kekerasan seksual dalam film tersebut.
A, The, Of Tugas Perempuan dalam Pilihan Ganda: Membaca The Assignment (2025) Sebagai Kritik Gender dalam Pendidikan Vivi Helmalia Putri; Dhanny Wijaya Setiawan; Yusril Mahendra
IMAJI Vol. 16 No. 2 (2025): Film, Masyarakat, Teknologi, dan Identitas Budaya
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/i.v16i2.353

Abstract

Apa sebenarnya tugas seorang perempuan? Pertanyaan ini menjadi titik berangkat dalam membaca film pendek The Assignment (2025) yang memotret ruang kelas sebagai lanskap simbolik benturan antara sistem pendidikan formal dan pengalaman hidup perempuan. Film ini mengangkat narasi sederhana namun menyentuh, sekaligus menyoroti bias gender dalam kurikulum sekolah dasar. Anak-anak, terutama perempuan, mulai mempertanyakan peran-peran tradisional yang telah ditanamkan sejak dini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif dengan menjadikan The Assignment (2025) sebagai studi kasus praktik sinema berbasis realitas sosial. Tujuan penelitian adalah menganalisis representasi gender dalam film serta mengeksplorasi persepsi guru perempuan terhadap film ini sebagai medium literasi gender di lingkungan pendidikan dasar. Data diperoleh melalui analisis isi film dan wawancara semi-terstruktur dengan sepuluh guru SD perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film ini tidak hanya mengkritisi konstruksi peran perempuan dalam pendidikan, tetapi juga menciptakan ruang kontra-narasi terhadap dominasi nilai-nilai patriarkal. Para responden mengungkapkan bahwa film ini memicu refleksi personal dan diskusi kritis terkait kerja domestik, peran ibu, dan ketimpangan gender dalam sistem pendidikan. Dengan pendekatan realis dan sentuhan satire, The Assignment (2025) membuktikan bahwa sinema pendek dapat menjadi sarana literasi gender yang efektif, emosional, dan mudah diakses. Film ini menegaskan bahwa “tugas perempuan” bukanlah soal satu jawaban benar, melainkan ruang tafsir yang terus bergulir dalam konteks sosial yang dinamis.
sadfsafa Nabila, Fahla
IMAJI Vol. 16 No. 2 (2025): Film, Masyarakat, Teknologi, dan Identitas Budaya
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/i.v16i2.355

Abstract

Film esai merupakan bentuk sinema yang khas dengan menempatkan subjektivitas, refleksi, dan ekspresi pribadi sebagai inti narasinya. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik dan perkembangan film esai dalam lanskap dokumenter yang lebih luas, menggunakan pendekatan analisis bentuk dan naratif. Kajian ini mengeksplorasi ciri-ciri utama film esai, seperti narasi suara reflektif, penggunaan materi arsip, rekaman keseharian, serta keterlibatan langsung pembuat film sebagai narator. Studi ini juga meneliti subtipe seperti film diari, dan dokumenter performatif, memposisikan mereka dalam tipologi mode dokumenter Bill Nichols untuk menunjukkan bagaimana film esai melampaui batas-batas dokumenter konvensional, menawarkan pengalaman sinema yang personal, puitis, dan bermuatan politis. Melalui studi kasus Shirkers (2018) karya Sandi Tan, analisis ini mengilustrasikan bagaimana struktur non-linier, narasi pribadi, dan integrasi arsip dalam film tersebut mencerminkan proses esaiistik, menavigasi hubungan antara pengalaman individu dan konteks publik, khususnya dalam lanskap budaya Singapura. Studi ini menegaskan kemampuan film esai untuk menantang representasi tradisional realitas melalui penceritaan yang reflektif dan eksploratif.
WACANA PASCAKOLONIAL DALAM REPRESENTASI IDENTITAS PADA FILM DARAH DAN DOA Sasongko, Ario
IMAJI Vol. 16 No. 2 (2025): Film, Masyarakat, Teknologi, dan Identitas Budaya
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/i.v16i2.356

Abstract

Darah dan Doa (Usmar Ismail, 1950) merupakan film monumental yang menempati posisi historis dan simbolik dalam konstruksi sinema nasional. Studi ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana film tersebut merepresentasikan identitas nasional Indonesia yang sedang dibentuk dalam konteks pascakolonial, melalui pembacaan terhadap naratif dan representasi karakter. Menggunakan pendekatan teori pascakolonial, analisis ini memfokuskan diri pada bagaimana film memproduksi wacana nasionalisme dan membingkai relasi kuasa kolonial yang masih membayang dalam narasi identitas kebangsaan. Hasil penelitian ini nantinya menunjukkan bahwa Darah dan Doa berfungsi sebagai teks ideologis dalam merepresentasikan identitas nasional, sekaligus memperlihatkan kompleksitas representasi politik dan kultural dalam sinema pascakolonial Indonesia. Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa dampak dari kuasa kolonial tetap terlihat setelah masa kolonial fisik tersebut berakhir. Tak hanya itu, bahkan mempengaruhi wacana berpikir masyarakatnya ketika mereka ingin mengonstruksi diri mereka sendiri.
Lahirnya Sebuah Gerakan Achnas, Nan T.
IMAJI No. 3 (2007): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di belahan bumi manapun, perfilman dalam sebuah negara akan selalu mengalami perubahan. Banyak faktor yang memicu perubahan tersebut, terutama adanya gerakan-gerakan inte/ektual dalam perubahan tersebut yang mengiringi perubahan global menyangkut struktur masyarakat dunia. Gerakan perubahan akan memacu elemen elemen dasar didalamnya, pembuat film dan film yang dibuat. Dalam konteks dunia global, gerakan itu menjadi penting ketika kita sudah menempatkan diri sebagai bagian dar; masyarakat dalam perubahan tersebut.
Sinema dan Kajian Budaya (2): Spektakel & Bintang Film: Politik Selebritas Ajidarma, Seno Gumira
IMAJI No. 3 (2007): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Melihat film sebagai potensi bisnis, tidak bisa dilepaskan akan peran teknologi yang berkembang dan mengiringinya. Melalui campur tangan teknologi ini film diyakini akan terlihat lebih sensasional dan nampak begitu fantastis -spektakuler. Namun pemeran film juga menuntut statusnya dipertimbangkan sebagai faktor penentu juga bagi penciptaan spektakel tadi. Jadilah film sebagai ajang pertarungan ideologi dalam hegemoni wacana spektakel/, tempat memperebutkan identitas aktor-aktris film.

Filter by Year

2005 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 17 No. 1 (2026): Film Artistik dan Film Komersial: Estetika, Industri dan Ideologi Hiburan Vol. 16 No. 3 (2025): Imaji Visual dalam Ruang, Waktu, dan Memori Vol. 16 No. 2 (2025): Film, Masyarakat, Teknologi, dan Identitas Budaya Vol. 16 No. 1 (2025): Identitas dalam Sinema Indonesia Vol. 15 No. 3 (2024): Ruang, Penonton, dan Wacana Sinematik Vol. 15 No. 2 (2024): Fotografi, Bahasa Visual dan Eksotisme Vol. 15 No. 1 (2024): Arsip, Wacana Visual & Film Eksperimental Vol. 14 No. 3 (2023): Suara & Imaji yang Berkelindan Vol. 14 No. 2 (2023): Fotografi, Riwayatmu Hingga Kini Vol. 14 No. 1 (2023): Antara Struktur dan Bahasa Visual Vol. 13 No. 3 (2022): Menuju Layar Personal sebagai Budaya Baru Menonton Vol. 13 No. 2 (2022): Wawancara dan Kedalaman Penelitian Media Audio Visual Vol. 13 No. 1 (2022): Merayakan dan Dirayakan Melalui Sinema Vol. 12 No. 3 (2021): Membingkai Realitas melalui Imaji Visual Vol. 12 No. 2 (2021): Panorama Mengamplifikasi Gagasan melalui Media Audio-Visual Vol. 12 No. 1 (2021): Sinema dan Wacana Vol. 11 No. 2 (2020): Sinema, Ideologi, dan Kritik Sosial Vol. 11 No. 1 (2020): Bentuk, Gaya, dan Persepsi Penonton Vol. 10 No. 2 (2018): Karakter dan Konsep-Konsep Psikoanalisis dalam Film Vol. 10 No. 1 (2018): Teknologi dan Storytelling dalam Medium Audio-Visual Vol. 9 No. 1 (2017): Mitos dalam Film dan Televisi Vol. 8 No. 1 (2016): IMAJI Vol. 5 No. 2 (2013): IMAJI Vol. 5 No. 1 (2013): IMAJI Vol. 4 No. 2 (2012): IMAJI Vol. 4 No. 1 (2012): IMAJI No. 6 (2011): IMAJI No. 5 (2009): IMAJI No. 4 (2008): IMAJI No. 3 (2007): IMAJI No. 2 (2006): Dimana Posisi Kritik Sinema Indonesia? No. 1 (2005): Antara Melihat dan Membaca More Issue