cover
Contact Name
Apriana Vinasyiam
Contact Email
akuakultur.indonesia@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
akuakultur.indonesia@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Akuakultur Indonesia
ISSN : 14125269     EISSN : 23546700     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Akuakultur Indonesia (JAI) merupakan salah satu sarana penyebarluasan informasi hasil-hasil penelitian serta kemajuan iptek dalam bidang akuakultur yang dikelola oleh Departemen Budidaya Perairan, FPIK–IPB. Sejak tahun 2005 penerbitan jurnal dilakukan 2 kali per tahun setiap bulan Januari dan Juli. Jumlah naskah yang diterbitkan per tahun relatif konsisten yaitu 23–30 naskah per tahun atau minimal 200 halaman.
Arjuna Subject : -
Articles 569 Documents
The potency of plankton as natural food for hard-lipped barb larvae (Osteochilus hasselti C.V.) Pratiwi, Niken Tunjung Murti; Winarlin, .; Frandy, Yuki Hana Eka; Iswantari, Aliati
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.993 KB) | DOI: 10.19027/jai.10.81-88

Abstract

Plankton is aquatic organism that can be utilized as natural food. Hard-lipped barb is one of herbivorous fish that most of its life using plankton as its food source. Growing phytoplankton in pond can be conducted by providing nutrient source, such as fertilizing.  In this study, we examined the growth of hard-lipped barb larvae related to the existence of natural food in different fertilized ponds.  Four types of fertilizer were applied i.e. 100% organic fertilizer (PO), mixing of 85% organic and 15% inorganic fertilizer (PCa), mixing of 60% organic and 40% inorganic fertilizer, and 100% inorganic fertilizer (PA). Hard-lipped barb larvae were put into ponds after fertilizing process. Plankton was observed in ponds and larval intestines (Index of Preponderance and Ivlev Index). The growth of hard-lipped barb larvae was also observed. The result showed that larvae tend to utilize phytoplankton from the class of Bacillariophyceae and zooplankton in the early of its life. Utilizing plankton with those compositions as natural food in the early period generates a good growth performance.  The best performance of growth was shown by larvae in PA treatment which utilized most on zooplankton in the early period. Key words: fertilizer, natural food, hard-lipped barb, plankton   ABSTRAK Plankton merupakan organisme akuatik yang dapat digunakan sebagai sumber pakan alami. Ikan nilem merupakan salah satu jenis ikan herbivora yang hampir sepanjang hidupnya memanfaatkan plankton sebagai sumber makanannya. Cara untuk menumbuhkan fitoplankton di kolam adalah dengan menyediakan sumber nutrien, di antaranya melalui pemupukan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mempelajari tingkat pertumbuhan larva ikan nilem berkaitan dengan keberadaan pakan alami yang ditumbuhkan pada media dengan jenis pupuk berbeda. Dalam penelitian ini diterapkan empat jenis pupuk berbeda, yaitu 100% pupuk organik (PO), campuran 85% pupuk organik dan 15% pupuk anorganik (PCa), campuran 60% pupuk organik dan 40% pupuk anorganik, dan 100% pupuk anorganik (PA).  Larva ikan nilem ditebar di kolam setelah proses pemupukan. Pengamatan dilakukan terhadap keberadaan plankton di kolam dan di usus (Indeks Preponderance dan Ivlev).  Di samping itu juga dilakukan pengamatan pertumbuhan larva.  Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa fitoplankton dari kelas Bacillariophyceae dan zooplankton banyak dimanfaatkan oleh larva di awal hidupnya.  Pemanfaatan plankton dengan komposisi tersebut sebagai pakan alami di awal masa pemeliharaan menghasilkan pertumbuhan yang baik.  Larva dengan pertumbuhan yang paling baik ditunjukkan oleh perlakuan PA yang memanfaatkan zooplankton lebih besar di awal masa pemeliharaan. Kata kunci: ikan nilem, pakan alami, plankton, pupuk
Nitrification and denitrification in pond Pujihastuti, Yuni Puji
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (704.357 KB) | DOI: 10.19027/jai.10.89-98

Abstract

More of waste than pond aquacultutre system produced, will increase sedimentation in the bottom.  Ammonium and nitrite compounds are other forms of inorganic nitrogen in the pond. Nitrogen anorganic consist of ammonia, ammonium, nitrit, nitrat and nitrogen. Degradation of process metabolic biota culture waste can biologically be nitrat compound one of the forms that are not toxic in the nitrification process.  Five process of nitrogen biogeochemical cycle in the container cultivation is the amonification, nitrification, nitrogen assimilation, denitrification and nitrogen fixation. Nitrogen is the one of the compound in the overlay/ top stratification sediment.  Improvement of speed degradation will be success if the pond bottom on aerobic condition. Survival rate of tiger shrimp in the laboratory scale can be increase by administration of nitrification and denitrification bacteria should not just in the water kolom of pond engineering but also at the bottom pond layer at the preparation step.  Depht of the sediment 15 cm in day zero, intensive pond have been produced of nitrit and ammonium with the producing bacteria.  Application of nitrification and denitrification bacteria in the sediment and water coloum can be performed as the measurenment and evaluation nitrit, nitrat and ammonium abudance. Key words:  ponds, nitrogen inorganic, nitrification, denitrification   ABSTRAK Semakin banyak limbah kegiatan yang dihasilkan dalam sistem budidaya tambak, akan meningkatkan sedimentasi dalam dasar tambak.  Senyawa amonium dan nitrit merupakan bentuk lain dari nitrogen anorganik dalam tambak. Nitrogen anorganik terdiri terdiri dari amonia (NH3-), amonium (NH4+), nitrit (NO2-), dan nitrogen (N2). Secara biologis, proses perombakan sisa metabolisme biota budidaya dapat menjadi nitrat (NO3), suatu bentuk yang tidak berbahaya dalam proses nitrifikasi.  Lima proses siklus biogeokimia nitrogen yang terjadi di wadah budidaya adalah amonifikasi, nitrifikasi, asimilasi nitrogen, denitrifikasi, dan fiksasi nitrogen. Nitrogen merupakan senyawa yang biasanya terletak di lapisan paling atas dalam sedimen.  Peningkatan kecepatan degradasi akan dapat dicapai jika sedimen berada dalam kondisi aerobik. Tingkat kelangsungan hidup udang pada uji skala laboratorium memperlihatkan bahwa penambahan bakteri nitrifikasi dan denitrifikasi terseleksi dapat meningkatkan kelangsungan hidup udang windu Aplikasi pemberian bakteri nitrifikasi dan denitrifikasi tidak seharusnya hanya dalam air saja, namun juga dalam pengolahan tanah dasar tambak.  Pada kedalaman sedimen 15 cm hari ke-0, tambak intensif telah terdapat bakteri penghasil nitrit dan amonium dan kelimpahannya semakin meningkat seiring dengan bertambahnya umur udang.  Aplikasi pemberian bakteri nitrifikasi dan denitrifikasi di sedimen dan kolom perairan dapat dilakukan seiring dengan pengukuran dan evaluasi kondisi nitrit, nitrat dan ammoniumnya.  Secara alami,  dalam kolom perairan telah terdapat senyawa nitrit, nitrat dan amonium, seberapapun itu perlu diimbangi dengan kebijakan dalam pemberian bakteri dari luar. Kata kunci: tambak, nitrogen anorganik, nitrifikasi, denitrifikasi
The utilization of different combination and level of corn, tapioca and pollard on the growth performance of black tiger shrimp (Penaeus monodon) juvenile Suprayudi, M. Agus; Yaniharto, Dedi; Ridwan, .
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (62.819 KB) | DOI: 10.19027/jai.9.104-109

Abstract

This experiment was conducted to evaluate the effect of carbohydrate level and sources on the growth performance of black tiger shrimp Penaeus monodon juvenile. Four shrimp diet contains isoprotein (35%) and isoenergy-protein ratio (8.2 kkcal/g protein) but different in carbohydrate level were used in this experiment. Diet A and B containing carbohydrate at the level of 34%, while diet C and D contain 40% of carbohydrate.  Diet A and diet C have similar carbohydrate source pollard and corn plus tapioca at the ratio of 1:1, where diet B and D was 2:1:1.  Shrimp with 1.5±0.1 g of average body weight were reared in aquarium at the density of 10 shrimp/aquaria and fed 4 times daily at the level of 8% of body weight. Feed consumption, total and protein digestibility, protein and lipid retention, relative growth rate, feed efficiency, survival rate and feed conversion ratio was used as evaluating parameters. The results showed that all diets  have similar  effect on total and protein digestibility, protein and lipid retention, relative growth rate, feed efficiency, and survival rate (P>0.05). It is concluded that Penaeus monodon juvenile could utilize carbohydrate until the level of 40%, and shrimp could utilize corn and tapioca as good as pollard. Keyword: Peneaus monodon, carbohydrate, pollard, corn, tapioca, growth ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek penggunaan dua kadar karbohidrat berbeda dari kombinasi tepung tapioka, tepung jagung dan tepung pollard dalam pakan terhadap kinerja pertumbuhan juvenil udang windu Penaeus monodon. Pakan uji yang digunakan mengandung kadar protein (35%) dan rasio energi-protein (8,2 kkal g protein) yang sama, tetapi berbeda kadar karbohidrat. Pakan A dan B mengandung kadar karbohidrat 34%, sedangkan pakan C dan D mengandung karbohidrat 40%. Pakan A dan C mengandung kadar karbohidrat sama dengan sumber pollard, jagung  dan tapioka dengan rasio 1:1:1, sedangkan pakan B dan D dengan rasio 2:1:1. Larva dengan bobot 1,5±0,1 g dipelihara dalam akuarium selama 60 hari dengan kepadatan 10 ekor/akuarium.  larva diberi pakan sebanyak 4 kali sehari sebanyak 8% dari bobot biomassa. Parameter yang diamati adalah tingkat konsumsi pakan, kecernaan total dan protein, retensi protein, retensi lemak, pertumbuhan relatif, efisiensi pakan, kelangsungan hidup dan konversi pakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua pakan perlakuan memberikan pengaruh yang sama terhadap  tingkat konsumsi pakan, kecernaan total dan protein, retensi protein, retensi lemak, pertumbuhan relatif, efisiensi pakan, konversi pakan dan kelangsungan hidup (P>0,05).  Dengan demikian disimpulkan bahwa juvenil Penaeus monodon mampu memanfaatkan karbohidrat sampai kadar 40%, dan udang mampu memanfaatkan tepung jagung dan tapioka seperti halnya pollard. Kata kunci: Penaeus monodon, karbohidrat, pollard, taioka, jagung, pertumbuhan
Bacterial quorum sensing and the role of algae in bacterial diseases control in aquaculture Wiyoto, .; Ekasari, Julie
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.037 KB) | DOI: 10.19027/jai.9.110-118

Abstract

Bacterial disease is one of the most common diseases in aquaculture practices which have a significant impact. Several researches noted that pathogenicity of a certain bacteria can be determined by its quorum sensing activity. Quorum sensing is a communication process of a certain bacteria with the same or different species of bacteria which involves the releasing and capturing of signal molecule to and from the environment. This activity will activate a certain target gene which further resulted in the expression of a phenotype by the bacteria. With regard to this characteristic, one of the methods to control bacterial diseases is by quorum sensing disruption. Several species of algae, both micro and macro, have been found to be able to intervense bacterial quorum sensing and thus can be used as an alternative in bacterial disease control.    Key words: quorum sensing, bacterial disease, aquaculture, algae  Abstrak Penyakit bakteri adalah salah satu penyakit yang paling umum dalam akuakultur dengan dampak yang cukup signifikan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tingkat patogenitas suatu bakteri salah satunya ditentukan oleh aktivitas kuorum sensing bakteri. Kuorum sensing bakteri merupakan suatu proses komunikasi yang dilakukan oleh bakteri dengan bakteri lainnya baik yang sejenis maupun berlainan jenis yang berupa pelepasan dan penangkapan molekul sinyal menuju dan dari lingkungan sekitar bakteri tersebut. Aktivitas inilah yang akan menentukan ekspresi suatu gen target seperti patogenitas, sehingga salah satu metode yang dapat digunakan dalam mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh bakteri adalah dengan mengganggu aktivitas kuorum sensing bakteri. Beberapa jenis alga, baik mikro maupun makro, diketahui dapat mengintervensi aktivitas kuorum sensing, dan dapat menjadi salah satu alternatif bagi pengendalian penyakit bakterial. Kata-kata kunci: kuorum sensing, penyakit bakterial, akuakultur, alga
Screening of Probiotic Bacteria from Intestine and Culture Environment of Hoeven’s slender carp Leptobarbus hoeveni Blkr to Control Pathogenic Bacteria Sunarto, .; Sukenda, .; Widanarni, .
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.755 KB) | DOI: 10.19027/jai.9.127-135

Abstract

The ability of probiotic bacteria to control disease infection has been used in aquaculture. This experiment was conducted to isolate and characterize probiotic bacteria; the competition test its ability probiotic bacteria against pathogenic bacteria; and to improve survival rate of Leptobarbus hoeveni. The bacteria were isolated from Leptobarbus hoeveni and its culture environment, and then tested to know its ability to inhibit bacterial fish pathogen in-vitro. Furthermore, the selected probiotic bacteria were tested in vivo to evaluate their ability to inhibit pathogen of Leptobarbus hoeveni.  The result showed that probiotic bacteria inhibit the growth of Streptococcus iniae, Flexibacter columnaris, Mycobacterium fortuitum and Aeromonas hydrophila in vitro.  Isolate DD3 was the best of candidate probiotic because of the ability to inhibit pathogen, especially A. hydrophila, the most virulent bacteria in Leptobarbus hoeveni.Key Words  : probiotic bacteria, Leptobarbus hoeveni, pathogenic bacteriaAbstrakKemampuan bakteri probiotik untuk mengendalikan penyakit infeksi telah digunakan dalam akuakultur. Tujuan penelitian ini adalah mengisolasi dan mengkarakterisasi bakteri probiotik, menguji kemampuan bakteri probiotik terhadap bakteri patogen, sehingga dapat meningkatkan tingkat kelangsungan hidup ikan jelawat. Bakteri diisolasi dari usus ikan jelawat dan lingkungan budaya, kemudian diuji kemampuannya menghambat bakteri patogen secara in-vitro. Selanjutnya bakteri probiotik yang dipilih diuji secara in vivo untuk mengevaluasi kemampuannya dalam menghambat patogen di dalam tubuh ikan jelawat. Dari hasil penelitian diperoleh bakteri probiotik yang diisolasi dari usus dan lingkungan budaya ikan jelawat menunjukkan penghambatan pertumbuhan terhadap Streptococcus iniae, Flexibacter columnaris, Mycobacterium fortuitum dan Aeromonas hydrophila secara in vitro. Isolat DD3 merupakan kandidat probiotik terbaik, karena mempunyai kemampuan untuk menghambat bakteri patogen,  khususnya bakteri  A. hydrophila adalah bakteri yang paling viluren bagi ikan jelawat.    Kata Kunci:   bakteri probiotik, ikan jalawat dan baktri patogen
Infection control of Aeromonas hydrophila in catfish (Clarias sp.) using mixture of meniran Phyllanthus niruri and garlic Allium sativum in feed Wahjuningrum, Dinamella; Solikhah, Eka Hidayatus; Budiardi, Tatag; Setiawati, Mia
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.899 KB) | DOI: 10.19027/jai.9.93-103

Abstract

Motile aeromonad septicaemia (MAS) is caused by the bacterium Aeromonas hydrophila. The use of plant (natural materials) such as meniran and garlic can be as an alternative way to inhibit the activity of A. hydrophila by their active substances which have potency as an antibacterial and immunostimulant. The aim of this study was to analyze the effectiveness of using a mixture of meniran and garlic in feed to control of A. hydrophila in catfish. There were split in two kind of doses namely, preventive (garlic:meniran=5 ppt:20 ppt) and curative (garlic:meniran=10 ppt:40 ppt). The preventive treatment was given for two weeks before challenging test. The curative treatment was performed on 2th-8th day after challenging test.  Challenging test was carried out by intramuscularly injecting of 0,1 mL A. hydrophila (108cfu/ml)  into the fish. The results indicated that preventive treatment with a mixture of extracts 5 ppt meniran and 20 ppt garlic was more effective in preventing infection of A. hydrophila than curative treatment.  Keywords: Phyllanthus niruri, Allium sativum, catfish, Aeromonas hydrophila.  ABSTRAK  Penyakit MAS (motile aeromonad septicaemia) disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophila. Bahan alami seperti meniran dan bawang putih dapat digunakan sebagai alternatif untuk menghambat aktivitas bakteri ini.  Zat aktif yang dimiliki bahan ini berpotensi sebagai antibakteri dan immunostimulan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis efektivitas penggunaan campuran meniran dan bawang putih dalam pakan untuk pengendalian penyakit MAS pada ikan lele. Perlakuan dibagi menjadi dua dosis, yaitu pencegahan (bawang putih:meniran=5 ppt:20 ppt) dan pengobatan (bawang putih:meniran=10 ppt:40 ppt). Perlakuan pencegahan diberikan selama seminggu sebelum uji tantang. Perlakuan pengobatan dilakukan pada hari ke 2 hingga hari ke-8 setelah uji tantang. Uji tantang dilakukan dengan menyuntikkan secara intramuskuler 0,1 ml A. hydrophila (108cfu/ml) ke ikan lele. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pencegahan dengan campuran ekstrak meniran 5 ppt dan bawang putih 20 ppt efektif dalam mencegah infeksi A. hydrophila dibandingkan dengan perlakuan pengobatan dengan campuran ekstrak meniran 10 ppt dan 40 ppt bawang putih.   Kata kunci: meniran, bawang putih, lele, Aeromonas hydrophila. 
Mortality and condition factor of juvenile green catfish (Hemibagrus nemurus c.v) on different bottom substrat Dualantus, .; Djauhari, Ricky
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (34.746 KB) | DOI: 10.19027/jai.9.136-139

Abstract

The research was aimed to determine the type of substrate that is suitable for juvenile of green catfish in a container after transportation. This research used completely randomized design with 3 treatments and 3 replications.  Treatments are bottom substrates of white sand, 1 inch piece of  PVC pipes, and pieces of the tree roots submerged in river water. The result of the analysis of survival rate data variability of green catfish juvenile showed no significantly different among treatments. Similar result was also showed in mortality rate that was not affected by substrate type used. Thus, substrates of white sand, 1 inch piece of PVC pipes and tree roots submerged in water provided similar opportunity to green catfish to survive. The range of condition factor obtained was 2.3 to 3.9. That value was in the common range, which means that the weight gain was greater than the length. Keywords: Substrate, juvenile, Hemibagrus nemurus. ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan jenis substrat dasar yang paling cocok bagi benih ikan baung dalam wadah penampungan setelah pengangkutan.  Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 kali ulangan.  Perlakuan tersebut berupa  pasir putih,  potongan pipa paralon berdiameter 1 inci dengan panjang 10-15 cm dan potongan akar tanaman yang terendam di air sungai. Hasil analisis keragaman data terhadap sintasan ikan baung menunjukkan tidak ada perbedaan antara perlakuan.  Hasil yang sama juga ditunjukkan pada tingkat mortalitas yang tidak dipengaruhi oleh substrat yang digunakan. Dengan demikian, media substrat dasar pasir putih, potongan pipa paralon 1 inchi dan akar tanaman yang terendam di air sungai  memberikan peluang hidup yang sama terhadap juvenil ikan baung.  Kisaran nilai faktor kondisi (FK) yang diperoleh adalah 2,3-3,9. Nilai tersebut berada dalam kisaran umum, yang berarti bahwa pertambahan bobot lebih besar dibandingkan dengan pertambahan panjang.  Kata Kunci: Substat dasar, benih, Hemibagrus nemurus.
Parasites infestation on juvenile tiger grouper (Epinephelus fuscoguttatus) nursed in net cage at Sea Farming Instalation Kepulauan Seribu, Jakarta Hadiroseyani, Yani; Effendi, Irzal; Rahayu, Agnis Murti; Arianty, Heni Sela
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (60.144 KB) | DOI: 10.19027/jai.9.140-145

Abstract

This study was aimed to identify fauna parasite of juvenile tiger grouper (Epinephelus fuscoguttatus) on the two locations of floating net at Floating Net Sea Farming Center, Pulau Seribu Jakarta. A total of five tiger grouper fry from each location, checked every two weeks during the nursery period in August-September 2008 and June-August 2009. Parasites of young tiger grouper found were protozoa (Trichodina and myxosporea), monogenea Diplectanum, metaserkaria digenea, and isopods Alitropus. Diplectanum infestation was dominant with prevalence reached 100% and the average intensity of 2,87-72,8. Fish nursed in the Perairan Pulau Semak Daun was more susceptible compared to the fish nursed in Pulau Karang Congkak. Keywords: tiger grouper, parasite, infestation, Seribu Island. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyakit yang menyerang benih kerapu macan pada masa pendederan dalam karamba jaring apung di dua lokasi Karamba Jaring Apung Balai Sea Farming, Kepulauan Seribu, yaitu di Perairan Pulau Semak Daun dan Perairan Pulau Karang Congkak. Sebanyak 5 ekor benih kerapu macan dari masing-masing lokasi, diperiksa setiap minggu selama dua periode pendederan pada bulan Agustus-September 2008 dan bulan Juni-Agustus 2009. Fauna parasit benih kerapu macan pada masa pendederan dalam jaring apung tersebut meliputi protozoa (Trichodina dan myxosporea), monogenea Diplectanum, metaserkaria digenea, dan isopoda Alitropus. Diplectanum merupakan parasit yang mendominasi dengan prevalensi mencapai 100% dan intensitas rerata 2.87–72,8. Pada Perairan Pulau Semak Daun lebih banyak ditemukan jenis parasit dengan prevalensi dan intensitas yang cukup tinggi dibandingkan dengan Perairan Pulau Karang Congkak.Kata kunci: ikan kerapu macan, parasit, infestasi, Pulau Seribu.
Growth performance and nutrition value of Spirulina sp. under different photoperiod Budiardi, Tatag; Priyo Utomo, Nur Bambang; Santosa, Asep
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.763 KB) | DOI: 10.19027/jai.9.146-156

Abstract

This study was conducted to analyze the production of freshwater Spirulina sp. cultured with photoperiod manipulation treatment. In this study, photoperiod manipulation treatment performed on cultured spirulina using fiber tanks (100 L). Spirulina was grown with different photoperiod (bright/T and dark/G) that are six hours per day (6T-18G), 12 hours per day (12T-12G), 18 hours per day (18T-6G), and 24 hours per day (24L-0G). The parameters were observed include dry biomass, population density (N), specific growth rate (SGR), doubling time (G), proximate analysis, and water quality. The results of this study showed that the optimum population density was achieved on day-3 days of cultured, and manipulation photoperiod showed no significant effect to the dry biomass harvest and population density, but significantly affect the specific growth rate and doubling time. Treatment of lighting 12, 18 and 24 hours per day to produce the maximum specific growth rate (0,345 to 0,366 per day) and a maximum doubling time (1,89 to 2,01 days) were not significantly different, whereas the old treatment six hours per day lighting showed the lowest maximum growth rate (0,323 per day) and highest doubling time (2,15 days). At treatment of lighting 12 hours per day, relatively higher protein content (39,73%) than others. In conclusion, the lighting 12 hours per day resulted in optimum production efficiency than other treatments.Keywords: Spirulina sp., photoperiod, density, biomass, growth, nutrition value. ABSTRAKPenelitian ini dilakukan untuk menganalisis produksi spirulina Spirulina sp. air tawar yang dikultur dengan manipulasi fotoperiode.  Dalam penelitian ini, spirulina dikultur dalam wadah fiber 100 L dengan perlakuan fotoperiode (terang/T dan gelap/G) berbeda, yaitu enam jam per hari (6T-18G), 12 jam per hari (12T-12G), 18 jam per hari (18T-6G), dan 24 jam per hari (24T-0G). Parameter yang diamati meliputi biomassa kering, kepadatan populasi (N), laju pertumbuhan spesifik (SGR), waktu penggandaan (G), dan analisis proksimat sprirulina, serta kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan populasi optimum dicapai pada hari ke-3 umur kultur dan manipulasi fotoperiode tidak berpengaruh nyata terhadap hasil biomassa kering dan kepadatan populasi, namun secara nyata mempengaruhi laju pertumbuhan dan waktu penggandaan. Perlakuan pencahayaan 12, 18 dan 24 jam per hari menghasilkan laju pertumbuhan spesifik maksimum (0,345 sampai dengan 0,366 per hari) dan waktu penggandaan maksimum (1,89 sampai dengan 2,01 hari) yang tidak berbeda nyata, sedangkan perlakuan pencahayaan enam jam per hari menunjukkan laju pertumbuhan maksimum terendah (0.323 per hari) dan waktu penggandaan tertinggi (2,15 hari). Pada perlakuan pencahayaan 12 jam per hari, kandungan protein relatif lebih tinggi (39,73%) dari yang lain. Secara umum dapat disimpulkan bahwa  pencahayaan 12 jam per hari menghasilkan efisiensi produksi yang lebih baik daripada perlakuan lainnya.Key word: Spirulina sp., fotoperiode, kepadatan, biomassa, pertumbuhan, kandungan nutrisi.
Microbial abundance and diversity in water, and immune parameters of red tilapia reared in bioflocs system with different fish density (25 fish/m3, 50 fish/m3, and 100 fish/m3) Agustinus, Frid; Widanarni, .; Ekasari, Julie
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (955.755 KB) | DOI: 10.19027/jai.9.157-167

Abstract

ABSTRACTThe objective of this experiment was to study microbial abundance and diversity in the water, and immune parameters of red tilapia Oreochromis sp. cultured in bioflok system with different fish stocking densities. The experiment comprised of two different factors, carbon source addition (bioflocs and control), and fish stocking density (25 fish/m3, 50 fish/m3, dan 100 fish/m3), with an experimental period of 99 days. Microbial load in water was determined biweekly, whereas immune parameters represented by fish blood profile were measured on day 0, 50, and 90. There was no significant difference in total bacteria count in the water of all treatments; there was however a tendency shown by all treatments that the microbial load in water increased along with the culture period. There were 4 genera of bacteria which particularly found in bioflok system, which are Acinetobacter sp., Corynobacterium sp., Listeria sp., dan Pseudomonas sp, and are suggested to play a role in bioflok formation. The percentage of phagocytic index of fish in bioflok system was higher than that in control, and may indicate that bioflok may stimulate the fish immune system.Keywords: bioflocs, red tilapia, bacteria, blood profile. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kelimpahan dan keragaman jenis bakteri dalam air dan parameter imunitas ikan nila Oreochromis sp. yang dipelihara dalam sistem bioflok dengan kepadatan ikan yang berbeda. Penelitian terdiri atas dua faktor perlakuan yaitu penambahan sumber carbon (bioflok dan kontrol), dan padat penebaran ikan (25 ekor/m3, 50 ekor/m3, dan 100 ekor/m3) dengan lama waktu pemeliharaan ikan selama 99 hari. Kelimpahan bakteri diukur setiap 2 minggu sekali selama masa pemeliharaan. Parameter imunitas meliputi gambaran darah diukur dengan pengambilan contoh darah yang dilakukan pada tiga ekor ikan pada hari ke 0, 50, dan 99. Kelimpahan bakteri pada semua perlakuan pada setiap titik pengamatan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Semua perlakuan menunjukkan kecenderungan peningkatan kelimpahan bakteri seiring dengan masa pemeliharaan. Terdapat 4 genus bakteri yang hanya ditemukan pada kolam bioflok yaitu Acinetobacter sp., Corynobacterium sp., Listeria sp., dan Pseudomonas sp yang diduga berperan dalam pembentukan bioflok. Persentase indeks fagositik pada ikan dengan perlakuan bioflok lebih tinggi dibanding kontrol, yang mengindikasikan peran bioflok sebagai stimulus sistem imun.Kata kunci: bioflok, nila merah, bakteri, gambaran darah.

Filter by Year

2002 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 2 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 1 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 2 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 1 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 1 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 2 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 1 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 2 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 1 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 1 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 2 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 1 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 2 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 1 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 3 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 2 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 1 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 2 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 1 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 3 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 2 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 1 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia More Issue