cover
Contact Name
Apriana Vinasyiam
Contact Email
akuakultur.indonesia@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
akuakultur.indonesia@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Akuakultur Indonesia
ISSN : 14125269     EISSN : 23546700     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Akuakultur Indonesia (JAI) merupakan salah satu sarana penyebarluasan informasi hasil-hasil penelitian serta kemajuan iptek dalam bidang akuakultur yang dikelola oleh Departemen Budidaya Perairan, FPIK–IPB. Sejak tahun 2005 penerbitan jurnal dilakukan 2 kali per tahun setiap bulan Januari dan Juli. Jumlah naskah yang diterbitkan per tahun relatif konsisten yaitu 23–30 naskah per tahun atau minimal 200 halaman.
Arjuna Subject : -
Articles 582 Documents
The dynamics glucose on carbohydrate utilization of striped catfish Pangasianodon hypophthalmus with yacon leaf Smallanthus sonchifolius dietary supplementation Syefti Palmi, Revita; Setiawati, Mia; Jusadi, Dedi; Ekasari, Julie
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.24.2.158-171

Abstract

The objective of the study was to test dietary supplementation of yacon leaf on the carbohydrate utilization, growth performance, and glucose tolerance of striped catfish during the early-stage period. Fish were fed with five different levels of yacon leaf supplementation (0%, 0.5%, 1%, 1.5%, 2%) for nine weeks. Three hundred striped catfish (initial mean body weight: 14 ± 0.14 g) were maintained in 15 rectangular net cages. The results showed that the specific growth rate of fish with yacon leaf supplementation (3.46-3.79%) was higher than the control fish (3.19%) also the feed efficiency value. The highest protein retention was found on 1% yacon leaf fish diet, while the highest lipid retention was found on 1.5%. The blood glucose post-prandial was rise slower than the control fish. The glucose tolerance test also obtained less time to return to basal level after the glucose load. The increased of enzymatic were also present at the supplemented fish. The liver lipid and glycogen concentration was decreased, and the hepatic somatic index was increased. The blood biochemistry showed the lower level of total protein plasma and albumin in supplemented fish, and higher triglyceride and cholesterol levels due to the replenishment of energy storage in adipose tissues while fasting. Therefore, this study concludes that the yacon leaf dietary supplementation has the potential to improve carbohydrate utilization by promoting glucose use efficiently as the main energy, while protein can be utilized for growth. Our data suggest that the best level of yacon leaf supplementation in fish diets is 1.36%. Keywords: yacon-leaf, homeostatic, glucose, sparing-effect ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji efektifitas suplementasi daun insulin pada pakan terhadap pemanfaatan karbohidrat, kinerja pertumbuhan, dan toleransi glukosa pada benih ikan patin. Ikan diberi pakan dengan lima tingkat suplementasi daun insulin yang berbeda yaitu 0%, 0,5%, 1%, 1,5%, 2% selama sembilan minggu. Tiga ratus benih ikan patin (rata-rata biomasa awal: 14 ± 0,14 g) dipelihara dalam 15 keramba jaring berbentuk persegi panjang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pertumbuhan spesifik ikan yang diberi suplementasi daun insulin (3,46-3,79%) lebih tinggi dibandingkan ikan kontrol (3,19%) linier dengan nilai efisiensi pakan. Retensi protein tertinggi terdapat pada ikan dengan pakan daun insulin 1%, sedangkan retensi lemak tertinggi terdapat pada pakan 1,5%. Kenaikan glukosa darah post-prandial lebih lambat dibandingkan pada ikan kontrol. Kadar toleransi glukosa juga memperoleh waktu yang lebih singkat untuk kembali ke level basal setelah injeksi glukosa. Peningkatan aktivitas enzimatik juga terjadi pada ikan yang diberi suplementasi daun insulin. Konsentrasi lipid dan glikogen hati menurun, dan indeks somatik hati meningkat. Biokimia darah menunjukkan rendahnya kadar total protein plasma dan albumin pada ikan yang diberi suplementasi, serta kadar trigliserida dan kolesterol yang lebih tinggi selama proses pemulihan menggunakan cadangan energi dari jaringan adiposa saat dipuasakan. Oleh karena itu, penelitian ini menyimpulkan bahwa suplementasi daun insulin berpotensi untuk meningkatkan pemanfaatan karbohidrat dengan menstimulasi penggunaan glukosa secara efisien sebagai energi utama, sementara protein dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan. Data kami menunjukkan bahwa tingkat suplementasi daun insulin terbaik dalam pakan ikan adalah 1,36%. Kata kunci: daun insulin, efek hemat, homeostatis, glukosa
The effectiveness of dragon fruit peel Hylocereus polyrhizus in feed on color quality and growth performance of comet fish Carassius auratus Andriani, Yuli; Rihadatul Nabila, Shela; Intan Pratama, Rusky; Meyllianawaty Pratiwy, Fittrie; Hanidah, In In
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.24.2.172-184

Abstract

Color is a defining trait of ornamental fish, crucial for their aesthetic appeal, but it diminishes without pigment supplementation in their diet. Utilizing dragon fruit skin as a natural feed constituent offers a promising method to intensify fish coloration. This investigation aims to assess the impact of incorporating dragon fruit skin meal into fish feed on color vibrancy and growth performance, specifically focusing on comet fish. The test subjects, ranging from 4 to 6 cm in size and weighing 3.1 ± 0.2 grams, underwent examination. Employing a completely randomized design (CRD), the study involved four treatments replicated four times: treatment A (control), B (5% dragon fruit skin meal addition), C (10% addition), and D (15% addition). Before commencing the study, a preliminary assessment of dragon fruit skin meal was conducted, encompassing a chromameter-based color pigmentation test. Results revealed positive a (red) and b (yellow) values, a chroma value of 26.32 signifying carotenoid pigments, a hue value of 3.18° indicating a red-orange hue, and a moderate antioxidant activity was observed, indicating the presence of antioxidant compounds. Findings demonstrated that a 15% addition of dragon fruit skin meal substantially enhanced color vibrancy across the fish's body sections, including the head, body, and tail. Although fish weight and length were influenced by the feed amendment, ANOVA analysis did not ascertain significant effects. Furthermore, treatment C exhibited the most favorable feed conversion ratio and specific growth rate, recording values of 0.09 ± 0.03 and 0.934 ± 0.215, respectively. Keywords: comet fish, color brightness, dragon fruit peel flour ABSTRAK Warna merupakan ciri khas yang dimiliki oleh ikan hias, yang akan memudar bila tidak ada tambahan pigmen dalam pakan. Kulit buah naga dapat digunakan sebagai bahan pakan alami untuk meningkatkan kecerahan warna pada ikan. Riset ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian tepung kulit buah naga dalam pakan terhadap kualitas warna dan performa pertumbuhan ikan komet. Ikan uji berukuran 4-6 cm dengan bobot 3,1 ± 0,2 gram. Metode riset yang digunakan yaitu metode eksperimental dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 4 ulangan yaitu perlakuan A (kontrol), B (penambahan tepung kulit buah naga 5%), C (penambahan tepung kulit buah naga 10%) dan D (penambahan tepung kulit buah naga 15%). Sebelum penelitian dilakukan uji pendahuluan pada tepung kulit buah naga yaitu uji pigmentasi warna menggunakan chromameter diperoleh hasil nilai a positif (merah) dan b positif (kuning), nilai chroma 26,32 artinya terdapat kandungan pigmen karotenoid, nilai hue 3,18° menunjukkan warna orange merah, serta uji aktivitas antioksidan dengan hasil aktivitas antioksidan yang kurang aktif namun tetap memiliki kandungan antioksidan. Hasil riset menunjukkan bahwa penambahan tepung kulit buah naga 15% dalam pakan dapat meningkatkan kualitas warna yang optimal pada tubuh ikan yaitu kepala, badan dan ekor. Penambahan tepung kulit buah naga dalam pakan dapat mempengaruhi bobot dan panjang ikan namun di uji lanjut menggunakan analisis ANNOVA tidak memberikan pengaruh nyata. Penambahan tepung kulit buah naga juga memberikan nilai konversi pakan dan laju pertumbuhan spesifik terbaik pada perlakuan C dengan nilai 0,09 ± 0,03 dan 0,934 ± 0,215. Kata kunci: ikan komet, kecerahan warna, tepung kulit buah naga
The Effectiveness of inulin on health status, digestive activity, and production of common carp Cyprinus carpio Gurning, Putri Sartika; Nikhlani, Andi; Agustina, Agustina; Pagoray, Henny; Maidie, Asfie; Fitriyana, Fitriyana
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.24.2.211-219

Abstract

The addition of inulin to fish diets has the potential to enhance health, growth performance and feed utilization. This study aims to evaluate the role of inulin on the health status, digestive activity, and production levels of common carp (Cyprinus carpio) in farming. This study employed a completely randomized design with four treatments and three replications, consisting of diets with 0, 2, 4, and 6 g/kg of inulin diet. The study involved 120 fish, with each group containing 10 fish weighing 8.46 ± 0.42 g was reared in each 30 L aquarium for 30 days. Fish were fed according to the treatment, at satiation twice daily. Hematology parameters showed normal ranges and intestinal histology revealed an increase in intestinal villi size with the addition of inulin. The treatment with inulin at 4 g/kg diet showed highest number of lactic acid bacteria in the fish intestines (P<0.05). The activity of digestive enzymes, including α-amylase, lipase, and protease, increased the inulin dose increased (P<0.05). The best final weight, weight gain and feed conversion ratio were observed in the 4 g/kg inulin treatment (P<0.05). Meanwhile, the specific growth rate in the 2, 4 and 6 g inulin groups was not significantly different from the 0 g group (P>0.05). The survival rate was similar across all treatments (P>0.05). These results suggest inulin can be used as a prebiotic feed additive to enhance production in carp farming. Keywords: common carp, feed additive, growth, inulin, prebiotic ABSTRAK Penambahan inulin dalam pakan berpotensi meningkatkan kesehatan, kinerja pertumbuhan dan pemanfaatan pakan ikan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi peran inulin terhadap status kesehatan, aktivitas pencernaan, dan tingkat produksi pada budidaya ikan mas (Cyprinus carpio). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan tiga ulangan, yang terdiri dari 0, 2, 4, dan 6 g/kg inulin pakan. Penelitian ini menggunakan ikan 120 ekor, masing-masing10 ekor dengan berat 8,46 ± 0,42 g dipelihara dalam tiap akuarium bervolume 30 L selama 30 hari. Ikan diberi pakan sesuai perlakuan, secara at satiation dua kali sehari. Parameter hematologi menunjukkan kisaran normal, dan histologi usus menunjukkan peningkatan ukuran vili usus dengan penambahan inulin. Jumlah bakteri asam laktat tertinggi dalam usus ikan ditunjukkan oleh perlakuan yang diberi inulin 4 g/kg pakan (P<0,05). Aktivitas enzim pencernaan, yaitu α-amilase, lipase, dan protease, meningkat seiring dengan peningkatan dosis inulin (P<0,05). Berat akhir, pertambahan berat dan rasio konversi pakan terbaik ditunjukkan pada perlakuan pakan inulin 4 g/kg pakan (P<0,05). Sementara itu, laju pertumbuhan spesifik pada perlakuan penambahan inulin 2, 4 dan 6 g tidak berbeda nyata dengan perlakuan 0 g (P>0,05). Tingkat kelangsungan hidup tidak berbeda nyata pada semua perlakuan (P>0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa dalam budidaya ikan mas, inulin dapat digunakan sebagai imbuhan pakan dalam bentuk prebiotik untuk meningkatkan produksi. Kata kunci: ikan mas, imbuhan pakan, inulin, pertumbuhan, prebiotik
Evaluation of protein and lipid on feed of Tilapia Oreochromis niloticus Niagara, Niagara; Muhammad Agus Suprayudi; Setiawati, Mia; Achmad Fauzi, Ichsan
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.24.2.266-273

Abstract

The goal of this study was to discover the optimal protein and lipid levels for increasing the growth performance of Nile tilapia Oreochromis niloticus. A 2×2 randomized factorial design was used for this research, and two treatment factors were used: the protein level (28% and 32%) and the lipid level (6% and 8%). So, there were four test treatments and carried out with three replications. Nile tilapia with an average body weight of 5.60 ± 0.06 g were grown in a 900×45×35 cm3 aquarium at a density of 20 fish/aquarium. The experimental fish were grown for 60 days and fed three times daily until they appeared to be satisfied. Parameters evaluated in this study were growth performance and blood chemistry. The fish fed with diet 32;8 showed significantly higher growth than other treatments. Plasma protein in the fish fed with 32;6 diets were higher than those of plasma triglycerides, high density lipoprotein, and low density lipoprotein content were the same among the treatments. The result shows that feed 28;8 has the best protein efficiency ratio and protein retention. Keywords: Oreochromis niloticus, protein sparing effect, lipid, feed ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar protein dan lipid yang optimum dalam meningkatkan kinerja pertumbuhan ikan nila Oreochromis niloticus. Penelitian ini menggunakan rancangan acak faktorial 2×2 dengan dua faktor perlakuan yaitu kadar protein (28% dan 32%) dan kadar lipid (6% dan 8%). Jadi terdapat empat perlakuan uji dan dilakukan dengan tiga kali ulangan. Ikan nila dengan rata-rata bobot badan 5,60 ± 0,06 g dipelihara dalam akuarium berukuran 900×45×35 cm3 dengan kepadatan 20 ekor/akuarium. Ikan dipelihara selama 60 hari dan diberi makan tiga kali sehari secara at satiation. Parameter yang dievaluasi dalam penelitian ini adalah kinerja pertumbuhan dan kimia darah. Ikan yang diberi perlakuan dengan pakan 32;8 menunjukkan pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya. Protein plasma pada ikan yang diberi pakan 32;6 lebih tinggi dibandingkan dengan trigliserida plasma, HDL dan LDL rendah yang sama antar perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pakan 28;8 mempunyai nilai protein efesiensi rasio dan retensi protein terbaik. Kata Kunci: Oreochromis niloticus, protein sparing effect, lemak, pakan
Induction of maturation gonads the Asian swamp eel Monopterus albus at different sizes with the hormones PMSG + antidopamine and hCG Sandra, Aan Aryanti; Sudrajat, Agus Oman; Arfah, Harton; Soelistyowati, Dinar Tri
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.24.2.274-287

Abstract

Monopterus albus is a protogynous hermaphrodite species that undergoes a unidirectional sex change from female to male. Asian swamp eel cultivation activities face constraints in seeding due to limited mature gonad broodstock. This study aims to evaluate the effect of administering a combination of PMSG + Antidopamine (OodevⓇ) and hCG on the induction of gonad maturation of Asian swamp eels at various body sizes. The research design used was a factorial design consisting of control treatment (without hormone injection), P1 = hCG (dose 20 IU/kg), P2 = OodevⓇ (dose 0.5 ml/kg), and P3 = hCG+OodevⓇ (dose 20 IU+0.5 ml/kg) with body length groups, namely K1 (15–25 cm), K2 (30–40 cm), and K3 (45–55 cm). The results showed that eels in group K1 had the highest body length growth (3.63 ± 0.96 cm), while the highest body weight gain (5.30 ± 1.30 grams) in K3 (P<0.05). Administration of oodevⓇ showed the highest values ​​for GSI = 8.13 ± 0.72% and HSI = 4.36±0.80% in K1 compared to K2 (GSI = 6.95 ± 2.86%; HSI = 3.26 ± 0.68%) with female sex. In contrast, group K3 experienced a decrease in GSI = 0.81 ± 0.11% and HSI = 2.48 ± 1.06% accompanied by masculinization. Administration of oodevⓇ also increased the concentration of estradiol-17β in K1 and K2, while testosterone increased in K3. The conclusion of this study is that administering oodevⓇ to 15-40 cm sized Asian swamp eels can accelerate gonad maturity with female sex status, while at sizes >45 cm it can accelerate masculinization and maturation of male gonads. Keywords: body length size, gonad maturation, masculinization, Monopterus albus, oodevⓇ ABSTRAK Monopterus albus adalah spesies hermaprodit protogini yang mengalami perubahan jenis kelamin dari betina ke jantan secara searah. Kegiatan budidaya belut sawah menghadapi kendala dalam pembenihan karena keterbatasan induk matang gonad. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pemberian kombinasi PMSG + Antidopamine (OodevⓇ) dan hCG terhadap induksi pematangan gonad belut sawah pada berbagai ukuran tubuh. Desain penelitian yang digunakan adalah rancangan faktorial yang terdiri dari perlakuan kontrol (tanpa injeksi hormon), P1 = hCG (dosis 20 IU/kg), P2 = OodevⓇ (dosis 0,5 ml/kg), dan P3 = hCG+OodevⓇ (dosis 20 IU+0,5 ml/kg) dengan kelompok ukuran panjang tubuh yaitu K1 (15–25 cm), K2 (30–40 cm), dan K3 (45–55 cm). Hasil penelitian menunjukkan bahwa belut kelompok K1 memiliki pertumbuhan panjang tubuh tertinggi (3,63 ± 0,96 cm), sementara pertambahan bobot tubuh tertinggi (5,30±1,30 gram) pada K3 (P<0,05). Pemberian oodevⓇ menunjukkan nilai tertinggi untuk GSI = 8,13±0,72% dan HSI = 4,36±0,80% pada K1 dibandingkan dengan K2 (GSI = 6,95±2,86%; HSI = 3,26±0,68%) dengan jenis kelamin betina. Sebaliknya, kelompok K3 mengalami penurunan nilai GSI = 0,81±0,11% dan HSI = 2,48±1,06% disertai dengan maskulinisasi. Pemberian oodevⓇ juga meningkatkan konsentrasi estradiol-17β pada K1 dan K2, sedangkan testosterone meningkat pada K3. Kesimpulan penelitian ini adalah pemberian oodevⓇ pada belut sawah ukuran 15-40 cm dapat mempercepat kematangan gonad dengan status kelamin betina sedangkan pada ukuran >45 cm dapat mempercepat maskulinisasi dan pematangan gonad jantan. Kata kunci: maskulinisasi, Monopterus albus, oodevⓇ, pematangan gonad, ukuran panjang tubuh
Prospects for Mangrove Reforestation Using the Silvofishery Method in Aquaculture Areas in Bireuen Regency, Aceh Shah Putra, Rima; Ernawita, Ernawita; Iswahyudi, Iswahyudi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.24.2.244-257

Abstract

The conflict between shrimp productivity and mangrove conservation can be addressed through the “silvofishery” pond model, which integrates shrimp farming with mangrove intercropping especially relevant for traditional pond farmers who dominate aquaculture in Indonesia. However, silvofishery is not yet widely practiced. This research aims to assess the understanding and acceptance of pond farmers in Bireuen Regency toward mangroves and silvofishery, and to identify barriers to future implementation. The study was conducted in three sub-districts Kuala, Peusangan, and Jangka using in-depth interviews with ten respondents selected through a snowball method. Quantitative responses were analyzed descriptively, while qualitative data were interpreted using Miles and Huberman’s interactive model. Findings reveal that mangrove reforestation in Bireuen is still under threat from land conversion. Silvofishery remains challenging due to three core issues: (1) declining per capita landholding makes it difficult for farmers to allocate pond space for mangrove planting; (2) not all farmers accept silvofishery without first seeing proven models initiated by the government; and (3) concerns about increased pests, such as crabs and birds, which are attracted to mangrove habitats. These factors contribute to the currently low prospects for mangrove rehabilitation through silvofishery at the farmer level. A paradigm shift is needed, encouraging farmers to see mangroves not as a threat but as allies in solving persistent aquaculture problems, including disease and water pollution. Policy support, field schools, and demonstration ponds will be critical in building local trust and fostering long-term ecological and economic resilience. Keywords: aquaculture, farmer perception, mangrove conservation, shrimp pond, silvofishery ABSTRAK Konflik antara produktivitas budidaya udang dan konservasi mangrove dapat diatasi melalui model tambak “silvofishery” yang mengintegrasikan budidaya udang dengan penanaman mangrove terutama relevan bagi petambak tradisional yang mendominasi sektor akuakultur di Indonesia. Namun, praktik silvofishery belum banyak diterapkan. Penelitian ini bertujuan untuk menilai pemahaman dan penerimaan petambak di Kabupaten Bireuen terhadap mangrove dan sistem silvofishery, serta mengidentifikasi hambatan implementasi ke depan. Studi dilakukan di tiga kecamatan Kuala, Peusangan, dan Jangka melalui wawancara mendalam terhadap sepuluh responden yang dipilih dengan metode bola salju. Data kuantitatif dianalisis secara deskriptif, sementara data kualitatif dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil menunjukkan bahwa rehabilitasi mangrove di Bireuen masih terancam oleh alih fungsi lahan. Silvofishery menghadapi tantangan karena tiga hal utama: (1) penyusutan luas lahan per kapita menyulitkan petambak untuk menyediakan ruang tanam mangrove di dalam tambak; (2) tidak semua petambak menerima konsep silvofishery tanpa melihat model nyata yang diinisiasi pemerintah; dan (3) kekhawatiran akan meningkatnya hama seperti kepiting dan burung yang tertarik ke habitat mangrove. Faktor-faktor ini menyebabkan prospek rehabilitasi mangrove melalui silvofishery masih rendah di tingkat petambak. Diperlukan pergeseran paradigma, agar petambak mulai melihat mangrove bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai sekutu dalam mengatasi persoalan budidaya seperti penyakit dan pencemaran air. Dukungan kebijakan, sekolah lapang, dan tambak percontohan akan sangat penting untuk membangun kepercayaan lokal dan mewujudkan ketahanan ekologi dan ekonomi jangka panjang. Kata kunci: akuakultur, konservasi mangrove, persepsi petambak, tambak udang, wanamina
The effectiveness of calcium silicate in preventing ice-ice disease and production performance of Kappaphycus alvarezii Wirantari, Ayu Puspa; Nirmala, Kukuh; Supriyono, Eddy; Hamim, Hamim
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.24.2.288-298

Abstract

The cultivation of Kappaphycus alvarezii faces serious challenges due to ice-ice disease outbreaks. This disease is caused by fluctuating environmental conditions that induce stress in the seaweed. Ice-ice disease is characterized by thallus whitening, softening, and fragility, which can lead to a reduction in yield and directly impact the economic returns for seaweed farmers. This study aims to evaluate the effectiveness of calcium silicate (CaSiO3) dosing as a mineral source for the prevention of ice-ice disease and the growth of K. alvarezii seaweed. The experimental design used was a completely randomized design with three replications across four treatments: CaSiO3 doses of 0, 1.6, 1.8, and 2 g/L. The study used an initial weight of K. alvarezii of 100 g per tie. The experiment was conducted through a field trial in seawater using an off-bottom cultivation method. The results indicated that the group with the highest dose of CaSiO3 (2 g/L) produced the best ice-ice resistance, with treatment D showing 17.77 ± 5.09% at the population level and 0.25 ± 0.015 at the individual level, which was statistically significant (P<0.05). Optimal CaSiO3 dosing can be a potential cultivation strategy to improve resistance to ice-ice disease and increase the productivity of K. alvarezii. Keywords: ice-ice, Kappaphycus alvarezii, mineral, nutrient enrichment, seaweed ABSTRAK Budidaya rumput laut K. alvarezii menghadapi tantangan serius akibat serangan penyakit ice-ice. Penyakit ini disebabkan karena kondisi lingkungan yang berfluktuatif sehingga menyebabkan rumput laut menjadi stres. Penyakit ice-ice ditandai dengan pemutihan talus, talus menjadi lunak, dan mudah patah. Penyakit ini dapat mengurangi hasil panen yang berdampak langsung pada keuntungan ekonomi bagi pembudidaya rumput laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pemberian dosis kalsium silikat (CaSiO3) sebagai sumber mineral terhadap pencegahan penyakit ice-ice dan pertumbuhan rumput laut K. alvarezii. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan tiga kali ulangan pada empat perlakuan yaitu dosis CaSiO3 0, 1,6, 1,8, dan 2 g/L. Penelitian ini menggunakan berat awal K. alvarezii sebesar 100 g per ikatan. Pengujian dilakukan dengan percobaan lapangan di perairan laut dengan metode lepas dasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok dengan dosis CaSiO3 tertinggi (2 g/L) secara signifikan (p<0,05) menghasilkan persentase ice-ice terbaik yaitu pada perlakuan D sebesar 17,77 ± 5,09% pada level populasi dan sebesar 0,25 ± 0,01% pada level individu. Pemberian CaSiO3 pada dosis optimal dapat menjadi strategi budidaya yang potensial untuk meningkatkan ketahanan dari penyakit ice-ice dan produktivitas K. alvarezii. Kata kunci: ice-ice, Kappaphycus alvarezii, mineral, pengayaan nutrisi, rumput laut
The Application of Barokah herb and salinity on the growth of Sangkuriang catfish Clarias gariepinus Burchell, 1822 Faulana, Arum Fahmi; Rohmah, Zuliyati
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.24.2.258-265

Abstract

The demand and need for catfish is increasing along with the growth of the Indonesian population, thus requiring greater catfish production. In addition, most of the brackish water areas in Indonesia have not been optimized for freshwater fish farming. Water salinity of 4 ppt plays a role in increasing fish growth, so when combined with the use of probiotics it has the potential to optimize catfish growth. This prompted a study on the Barokah herb, a herbal probiotic developed by the Mina Rukun fish group in Gunungkidul, which was combined with a water salinity of 4 parts per thousand (ppt) for more optimal rearing of Sangkuriang catfish. This study used a Completely Randomized Design with four treatment groups: control (K), salinity 4 ppt (S), herbal probiotics Barokah Herb with a dose of 30 mL/kg feed (P), and a combination of Barokah herb and salinity (PS). Each pond contained 375 catfish as replications with a stocking density of 250 fish/m3. Data analysis was carried out using the ANOVA Test and the Tukey HSD Test as a post hoc test. The results showed that the combination of Barokah herb with a dose of 30 mL/kg feed and salinity of 4 ppt gave the best effect on the growth of Sangkuriang catfish, feed conversion ratio (FCR) of 1.001 and specific growth ratio (SGR) of 1.021. Histo-morphologically, the combination of Barokah Herb and 4 ppt salinity showed an increase in the dimensions of the villi, crypts, and tunica mucosa in the intestine and increased the dimensions skeletal muscle fascicles of the Sangkuriang catfish. This is related to the environment that is isoosmotic to the catfish's body and also the improvement of the catfish's digestive system. Keywords: catfish growth, histo-morphology, barokah herb, salinity ABSTRAK Permintaan dan kebutuhan lele semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk Indonesia, sehingga membutuhkan produksi lele yang lebih besar. Selain itu, sebagian besar wilayah perairan payau di Indonesia belum dioptimalkan untuk budidaya ikan air tawar. Salinitas air 4 ppt berperan dalam meningkatkan pertumbuhan ikan, sehingga ketika dikombinasikan dengan probiotik, berpotensi menjadikan pertumbuhan lele lebih optimal. Hal ini mendorong dilakukannya penelitian tentang probiotik herbal Ramuan Barokah yang dikembangkan oleh kelompok ikan Mina Rukun Gunungkidul yang dikombinasikan dengan salinitas air 4 part per thousand (ppt) agar pemeliharaan ikan lele Sangkuriang lebih optimal. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan empat kelompok perlakuan yaitu kontrol (K), salinitas 4 ppt (S), probiotik herbal Ramuan Barokah dengan dosis 30 mL/kg pakan (P), dan kombinasi probiotik hebal dan salinitas (PS). Setiap kolam diisi 375 ekor ikan lele sebagai ulangan dengan padat tebar 250 ekor/m3. Analisis data dilakukan dengan menggunakan Uji ANOVA dan Uji Tukey HSD sebagai uji post hoc. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi Ramuan Barokah dengan dosis 30 mL/kg pakan dan salinitas 4 ppt memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan ikan lele Sangkuriang, rasio konversi pakan (FCR) sebesar 1,001 dan rasio pertumbuhan spesifik (SGR) sebesar 1,021. Secara histomorfologi, kombinasi Ramuan Barokah dan salinitas 4 ppt menunjukkan adanya peningkatan dimensi vili, kripta, dan tunika mukosa pada usus serta peningkatan dimensi fasikulus otot rangka ikan lele Sangkuriang. Hal ini berkaitan dengan lingkungan yang isoosmotik terhadap tubuh ikan lele dan juga perbaikan sistem pencernaan lele. Kata kunci: histo-morfologi, pertumbuhan lele, ramuan barokah, salinitas
Utilization of skipjack tuna Katsuwonus pelamis offal waste for mass culture of Daphnia sp. as feed for Betta sp. Cahyono, Indra; Mutmainah, Sri Nurul; Basir, Buana; Mulyawan, Ardi Eko; Mulyani, Sri
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.24.2.233-243

Abstract

This study aims to assess the impact of skipjack tuna (Katsuwonus pelamis) offal soaking water on the mass culture of Daphnia sp. for the growth of Betta fish (Betta sp.). This study was conducted for 30 days with treatment of offal 4.5 ml/L (treatment B), 7.5 ml/L (treatment C), 10.5 ml/L (treatment D) and commercial feed without skipjack offal soaking water as control (treatment A). The variables data of this study consisted of growth rate and population density of Daphnia sp., which were analyzed using variance analysis. The results showed that the highest population growth rate was found in the treatment of offal soaking water 4.5 ml/L with a value of 11.59% and a density of 260 individuals/liter on the 19th day of rearing. Daphnia sp. produced from soaking tuna offal can also be used as a natural food for the growth and development of Betta fish, although its effectiveness is still lower than other organic materials. Keywords: Daphnia sp., growth, mass culture, skipjack offal ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh air rendaman jeroan ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) pada kultur massal Daphnia sp. terhadap pertumbuhan ikan Betta (Betta sp.). Penelitian ini dilakukan selama 30 hari dengan perlakuan air rendaman jeroan ikan cakalang sebanyak 4,5 ml/L (perlakuan B), 7,5 ml/L (perlakuan C), 10,5 ml/L (perlakuan D) dan pakan komersil tanpa air rendaman jeroan ikan cakalang sebagai kontrol (perlakuan A). Data variabel penelitian terdiri dari laju pertumbuhan dan kepadatan populasi Daphnia sp. dianalisis menggunakan analisis ragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pertumbuhan populasi tertinggi pada perlakuan menggunakan air rendaman jeroan 4,5 ml/L dengan nilai 11,59% dan dengan kepadatan individu 260 individu/liter pada hari pemeliharaan ke 19. Daphnia sp. yang dihasilkan dari perendaman jeroan ikan cakalang juga dapat digunakan sebagai pakan alami untuk pertumbuhan dan perkembangan ikan Betta (Betta sp.) walaupun efektivitasnya masih lebih rendah dibandingkan bahan organik lainnya. Kata kunci: Daphnia sp., jeroan cakalang, kultur massal, pertumbuhan
The effectiveness of giving silkworms Tubifex sp. enriched with curcumin on the growth and survival of jelawat fish larvae Leptobarbus hoevenii Nur Asiah; Ayuningtyas Putri, Fadila; Heltonika, Benny
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 25 No. 1 (2026): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.25.1.16-25

Abstract

Curcumin is a secondary metabolite that enhances fish immunity and functions as an antibacterial and antimicrobial agent. Curcumin acts as a supplement to increase the larvae's appetite. The aim of this study was to evaluate the effect of curcumin-enriched silkworms (Tubifex sp.) on the growth and survival of jelawat fish larvae. This research was carried out in June–July 2023 at the Fish Hatchery and Breeding Laboratory, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Riau University. This study applied an experimental method using a completely randomized design (CRD) with three replications. The treatment in this study was P0 (silkworms without curcumin enrichment), P1 (silkworms enriched with curcumin 0.2 mg/kg silkworms), P2 (silkworms enriched with curcumin 0.3 mg/kg silkworms), P3 (silkworms enriched with 0.4 mg/kg curcumin), and P4 (silkworms enriched with curcumin 0.5 mg/kg silkworms). The results showed that the treatment of silkworms enriched with curcumin had a significant effect on the growth and survival of jelawat fish larvae (P<0.05). The best treatment is P3 (silkworms enriched with curcumin 0.4 mg/kg silkworms) with absolute weight growth of 2.26 ± 0.04 g, absolute length 5.25 ± 0.03 cm, SGR 11.84 ± 0.04% and survival 100 ± 0.00% respectively. The water quality parameters during the research period were temperature 27.2-29.5℃, pH 6.3-7.5, and dissolved oxygen 4.5-5.8 mg/L still in good condition for jelawat fish. Keywords: curcumin, jelawat fish larvae, silkworms   Abstrak Kurkumin merupakan salah satu senyawa metabolit sekunder yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh ikan dan memiliki manfaat sebagai zat anti bakteri atau mikroba. Kurkumin berperan sebagai suplemen untuk menambah nafsu makan larva. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian cacing sutera (Tubifex sp.) yang diperkaya kurkumin terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan larva ikan jelawat. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni–Juli 2023 di Laboratorium Pembenihan dan Pembibitan Ikan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap faktor dan tiga kali ulangan. Perlakuan pada penelitian ini adalah P0 (cacing sutera tanpa diperkaya kurkumin), P1 (cacing sutera yang diperkaya dengan kurkumin 0,2 mg/kg cacing sutera), P2 (cacing sutera yang diperkaya dengan kurkumin 0,3 mg/kg cacing sutera), P3 (cacing sutera yang diperkaya dengan kurkumin 0,4 mg/kg cacing sutera), dan P4 (cacing sutera yang diperkaya dengan kurkumin 0,5 mg/kg cacing sutera). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian cacing sutera diperkaya kurkumin berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva ikan jelawat (P<0,05). Perlakuan terbaik adalah P3 (cacing sutera yang diperkaya dengan kurkumin 0,4 mg/kg cacing sutera) dengan pertumbuhan bobot mutlak 2,26 ± 0,04 g, panjang mutlak 5,25 ± 0,03 cm, SGR 11,84 ± 0,04% dan kelangsungan hidup 100 ± 0,00%. Parameter kualitas air selama penelitian yaitu suhu 27,2-29,5℃, pH 6,3-7,5, dan oksigen terlarut 4,5-5,8 mg/L, masih dalam kondisi baik untuk ikan jelawat. Kata kunci: cacing sutera, kurkumin, larva ikan jelawat

Filter by Year

2002 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2026): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 2 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 1 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 2 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 1 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 1 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 2 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 1 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 2 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 1 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 1 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 2 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 1 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 2 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 1 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 3 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 2 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 1 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 2 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 1 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 3 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 2 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 1 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia More Issue