cover
Contact Name
Apriana Vinasyiam
Contact Email
akuakultur.indonesia@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
akuakultur.indonesia@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Akuakultur Indonesia
ISSN : 14125269     EISSN : 23546700     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Akuakultur Indonesia (JAI) merupakan salah satu sarana penyebarluasan informasi hasil-hasil penelitian serta kemajuan iptek dalam bidang akuakultur yang dikelola oleh Departemen Budidaya Perairan, FPIK–IPB. Sejak tahun 2005 penerbitan jurnal dilakukan 2 kali per tahun setiap bulan Januari dan Juli. Jumlah naskah yang diterbitkan per tahun relatif konsisten yaitu 23–30 naskah per tahun atau minimal 200 halaman.
Arjuna Subject : -
Articles 569 Documents
Effectiveness of artificial diet enriched by spinach extract on molting stimulation to produce soft shell crab Aslamyah, Siti; Fujaya, Yushinta
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (65.469 KB) | DOI: 10.19027/jai.10.8-15

Abstract

Artificial feed is an alternative media applications spinach extract (EB) that is known to contain molting stimulant. However, utilization of the artificial feed is related to its expensive cost, with a very high protein concentration since it's mainly produced from fish based materials, so need to be studied artificial feed formulation with substitution of vegetable material in stimulating molting and growth of mud crabs. Four formula artificial feed enriched EB (700 ng/g crab) used in this study were feed A (fish, crab shells, and cassava), feed B (fish, silage, shell crab, and cassava), feed C (fish, silage, shell crab, soy flour, and cassava), and feed D (fish, silage, shell crab, soy flour, corn starch, and pollard), trash fish and feed A without EB as control. During the test, mud crab intermolt phase was culture individually in crab box placed in pond. The results showed that the percentage of molting and weight growth in their respective in the feed A (44% and 41.96%); feed B (56% and 31.57%); feed C (74% and 23.20%); feed D (50% and 39.15%); trash feed control (24% and 50.66%); and feed A without EB (28% and 35.11%). An opposite phenomenon, where the feed C with the highest percentage of molting but with the lowest growth rate, the opposite occurs in the control of trash feed. This is apparently the effect of spinach extract as a stimulant molting, where performance can be optimized with a complete and balance nutrient composition. This prediction is supported by the analysis of protein content of crabs tested at the highest feed C treatment compared with the control feed. Key words: spinach extract, soft shell crab, molting, artificial feed, growth   ABSTRAK Pakan buatan merupakan alternatif media aplikasi ekstrak bayam (EB) yang diketahui mengandung stimulan molting.  Namun demikian, pakan buatan yang digunakan masih mahal dengan kandungan protein yang tinggi, karena berbahan dasar ikan, sehingga perlu dikaji formulasi pakan buatan dengan subtitusi berbagai bahan nabati  dalam menstimulasi molting dan pertumbuhan kepiting bakau.  Empat formula pakan buatan yang diperkaya EB (700 ng/g kepiting) digunakan pada penelitan ini, yaitu Pakan A (ikan, cangkang kepiting, dan ubi), Pakan B (ikan, silase, cangkang kepiting, dan ubi), Pakan C (ikan, silase, cangkang kepiting, tepung kedelai, dan ubi), dan Pakan D (ikan, silase, cangkang kepiting, tepung kedelai, tepung jagung, dan pollard). Pakan rucah dan pakan A tanpa EB digunakan sebagai kontrol.  Selama penelitian, kepiting bakau fase intermolt dipelihara secara individu dalam crab box yang diletakkan di tambak. Hasil penelitian menunjukkan persentase molting dan pertumbuhan bobot masing-masing pada Pakan A (44% dan 41,96%); Pakan B (56% dan 31,57%); Pakan C (74% dan 23,20%); Pakan D (50% dan 39,15%); kontrol pakan rucah (24% dan 50,66%); dan  pakan A tanpa EB (28% dan 35,11%).  Terjadi anomali, yaitu Pakan C dengan persentase molting tertinggi, tetapi dengan tingkat pertumbuhan terendah, namun terjadi sebaliknya pada kontrol pakan rucah. Hal ini diduga efek dari ekstrak bayam sebagai stimulan molting, dimana kinerjanya dapat dioptimumkan dengan komposisi nutrien lengkap dan seimbang.  Pendugaan ini didukung hasil analisis kadar protein kepiting uji pada perlakuan Pakan C tertinggi dibandingkan kontrol. Kata kunci: Ekstrak bayam, kepiting cangkang lunak, molting, pakan buatan, pertumbuhan
Effectiveness of B-actin promoter on driving target gene expression in common carp transgenesis Hidayani, Andi Aliah; Carman, Odang; Alimuddin, .
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (925.474 KB) | DOI: 10.19027/jai.10.16-23

Abstract

Promoter in transgene construct plays an important role on regulating of transgene expression level in transgenic fish. In fish transgenesis, researcher convinced that use all-fish gene construct is safety and prospective. This study was performed to compare effectiveness b-actin promoter, - the promoter which has ubiquitous, constitutive, housekeeping characteristics, from common carp (homologous) and from tilapia and medaka b-actin promoters (heterologous) in driving of green fluorescent protein (GFP) expression as a model of target gene on common carp transgenesis. These gene constructs were separately microinjected into cytoplasm of 60 one-cell-stage common carp embryos. The results suggested that 70% survival rate at embryo stage and 45% hatching rate values showed that the microinjection was performed successfully. Percentage of embryos expressing GFP gene were slightly higher when injected using common carp and medaka promoters than those of using tilapia promoter. Percentage of larvae expressing GFP using common carp promoter was similar with medaka promoter. Furthermore, GFP expression using common carp b-actin promoter could be detected at one-week-old larvae, while GFP expressing using medaka b-actin promoter was lasted at 2-day-old larvae. The results demonstrated that homologous promoter more effective in driving of a target gene expression than that of heterologous promoter.  Key words: homologous promoter, GFP, transgenesis, common carp   ABSTRAK Promoter dalam konstruksi transgen berperan penting dalam pengaturan tingkat ekspresi transgen pada ikan transgenik. Dalam transgenesis ikan, peneliti meyakini bahwa penggunaan konstruksi gen "all-fish" adalah aman dan prospektif.  Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan efektivitas promoter β-aktin, - promoter yang memiliki ciri ubiquitous, constitutive, dan housekeeping, dari ikan dari ikan mas (homolog) dan ikan nila dan ikan medaka (heterolog) dalam mengendalikan ekspresi gen GFP sebagai model gen pada transgenesis ikan mas. Setiap  konstruksi gen tersebut diinjeksikan secara terpisah ke sitoplasma embrio ikan mas fase 1 sel sebanyak 60 embrio. Hasil penelitian dengan kelangsungan hidup embrio 70% dan derajat penetasan 45% menunjukkan bahwa kegiatan mikroinjeksi berhasil dengan baik.  Persentase embrio mengekspresikan gen GFP yang diinjeksi konstruksi gen dengan promoter β-aktin ikan mas dan ikan medaka sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan yang menggunakan promoter β-aktin ikan nila.  Selanjutnya, ekspresi gen GFP yang dikendalikan oleh promoter β-aktin ikan mas dapat dideteksi pada larva berumur 1 minggu, sedangkan ekspresi GFP dengan promoter β-aktin ikan medaka hanya bisa terdeteksi hingga larva berumur 2 hari.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa promoter homolog adalah lebih efektif dalam mengatur ekspresi gen target dibandingkan dengan promoter heterolog. Kata kunci: promoter homolog, GFP, transgenesis, ikan mas
Growth and molting of mud crab administered by different doses of vitomolt Fujaya, Yushinta
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.74 KB) | DOI: 10.19027/jai.10.24-28

Abstract

Vitomolt is a molting stimulant made from spinach (Amaranthus spp.) extracts.  The objective of this study was to optimize the dose of vitomolt injection on the growth and molting of mud crab (Scylla spp). The research was conducted in April to June 2010.  There were three doses of vitomolt tested, i.e. 9 mg/g crab, 15 mg/g, and 21 mg/g crab. The results showed that the dose of vitomolt injection had great influence on the growth and molting of mud crab.  Higher dose of vitomolt gave higher growth but its molting percentage was different.  Vitomolt dose of 15 mg/g crab was the optimal dose to induce molting of mud crab while the dose of 21 mg/g crab gave the highest growth which reached 53.6%.  However, in terms of productivity, dose of 15 mg/g crab gave the highest production of soft crab. Key words: dose, vitomolt, growth, molting, mud crab   ABSTRAK Vitomolt adalah stimulan molting yang terbuat dari ekstrak bayam (Amaranthus spp.).  Tujuan penelitian ini adalah optimalisasi dosis penyuntikan vitomolt terhadap pertumbuhan dan molting kepiting bakau (Scylla spp).  Penelitian dilakukan pada bulan April hingga Juni 2010.  Ada tiga dosis vitomolt yang diuji, yakni: 9 mg/g, 15 mg/g, dan 21 mg/g kepiting. Hasilnya menunjukkan bahwa penyuntikan vitomolt sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan molting kepiting bakau. Semakin tinggi dosis vitomolt memberikan pertumbuhan yang semakin tinggi pula namun tidak demikian terhadap persentase molting. Dosis vitomolt 15 mg/g kepiting adalah dosis optimal menginduksi molting kepiting bakau, sedangkan dosis 21 mg/g kepiting memberikan pertumbuhan tertinggi hingga 53,6%. Bila ditinjau dari produktivitas, dosis 15 mg/g kepiting memberikan produksi kepiting lunak tertinggi. Kata kunci: dosis, vitomolt, pertumbuhan, molting, kepiting bakau
Pair replacement on the spawning success of broodstock Seahorse (Hippocampus barbouri) Syafiuddin, .; Junior, M. Zairin; Jusadi, Dedi; Carman, Odang; Affandi, Ridwan
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1111.033 KB) | DOI: 10.19027/jai.10.29-37

Abstract

Seahorse, (Hippocampus barbouri) is one of marine living resources having high commercial values and has commonly been traded especially as live ornamental aquarium fish, raw material of traditional medicine and as souvenirs. This expriment was conducted to determine the succces of spawning rate by replacing the broodstock pair of seahorse. This study was done experimentally with treatment of replacement of broodstock pair after spawning under control condition. The experiment was designed to apply completely randomize design by using the following treatments: Treatment A, without replacement neither male nor female. Treatment B, spawned female broodstock  was being mated with her unpaired male broodstock.  Treatment C, a male broodstock that still brood was being mated with his unpaired female broodstock.  Treatment D, a spawned male broodstock that has released larva was being mated with his unpaired female broodstock.  Results showed that under control condition the replacement of broodstock pairs of seahorse had significantly influenced the spawning interval, number of eggs released and number of juveniles produced (P0,05).  It can be concluded that seahorse is not monogamous, either male or female after being spawned may accept other pair for the next spawning. Key words: pair replacement, broodstock, success spawning, Hippocampus barbouri   ABSTRAK Kuda laut, (Hippocampus barbouri) merupakan salah satu sumberdaya hayati laut yang memiliki nilai komersial dan telah banyak diperdagangkan terutama sebagai ikan hias, bahan baku obat tradisional dan juga sebagai suvenir. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengkaji tingkat keberhasilan pemijahan dengan penggantian pasangan induk kuda laut pada wadah budidaya. Percobaan ini dilakukan secara ekperimental dengan perlakuan penggantian pasangan induk setelah pemijahan dalam wadah budidaya. Percobaan dirancang dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan sebagai berikut: Perlakuan  A, pemijahan   sepasang  induk kuda laut (tanpa pergantian). Perlakuan B, pemijahan induk betina yang telah memijah dengan induk jantan bukan pasangannya. Perlakuan C, pemijahan  induk  jantan  yang telah memijah (mengerami telur) dengan induk betina bukan pasangannya. Perlakuan D, pemijahan induk jantan yang telah melahirkan dengan induk betina bukan pasangannya. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggantian pasangan induk pada wadah budidaya sangat berpengaruh terhadap interval pemijahan, jumlah telur yang dikeluarkan dan jumlah juwana yang dihasilkan (P0,05). Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa kuda laut, tidak bersifat monogami, artinya baik jantan maupun betina setelah memijah dapat menerima pasangan lain untuk pemijahan berikutnya. Kata kunci: induk, keberhasilan pemijahan, pergantian pasangan, Hippocampus barbouri
Substitution time of natural food by artificial diet on survival rate and growth of pacific white shrimp (Litopenaeus vannamei) postlarvae during rearing in low salinity media Taqwa, Ferdinand Hukama; Djokosetiyanto, Daniel; Affandi, Ridwan
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (60.776 KB) | DOI: 10.19027/jai.10.38-43

Abstract

This research was conducted to determine natural food substitution time by artificial diet   after salinity acclimatization from 20 ppt until 2 ppt, which can increase survival and growth of (Litopenaeus vannamei) postlarvae during rearing period. Design experiment was completely randomized design with five treatments and three replications of natural food Chironomus sp.  (60% of crude protein) substitution time by artificial diet (40% of crude protein) at day: 1 (A), 7 (B), 14 (C), 21 (D) and full natural food without artificial diet (E) during 28 days rearing period. White shrimp postlarvae and rearing media in this experiment based from best result of earlier research that is PL25 from acclimatization in media 2 ppt with addition of potassium 25 ppm to freshwater media.  The densities of PL25 white shrimp were 20 PLs/50 liters of 2 ppt media. The result of this experiment showed that the use of artificial diet as soon as after salinity acclimatization (PL25) gave best performance production compared to which only that was given natural food Chironomus sp. during experiment or with treatment by artificial diet substitution at day-7, day-14 or day-21, shown with the highest value of food consumption level, protein retention, energy retention, daily growth rate and food efficiency. Survival rate of PL54 was above 80% and not significant different between treatment. That is supported by chemical-physical value of water quality still in range appropriate to survival rate of white shrimp post larvae during a rearing period. The result of this experiment indicated that requirement nutrient of PL25 in low salinity did not fulfilled if only rely on natural food, so that require artificial diet with nutrition content to support growth and survival rate of white shrimp post larvae more maximal. Key words: salinity, natural food, artificial diet, Pacific white shrimp   ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan waktu penggantian pakan alami oleh pakan buatan yang tepat selama masa pemeliharaan postlarva udang vaname di media bersalinitas rendah setelah melalui masa aklimatisasi penurunan salinitas dari 20 ppt hingga 2 ppt, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan dan kelangsungan hidup. Rancangan percobaan berupa rancangan acak lengkap dengan perlakuan yang diterapkan berupa waktu penggantian pakan alami Chironomus sp. (kadar protein 62%) oleh pakan buatan (kadar protein 40%) pada hari ke-1 (A), ke-7 (B), ke-14 (C), ke-21 (D) dan pakan alami (E) selama masa pemeliharaan. Postlarva udang vaname dan media pemeliharaan yang dipergunakan selama percobaan mengacu pada hasil terbaik yang didapatkan dari penelitian pendahuluan yaitu berupa PL25 hasil aklimatisasi di media bersalinitas 2 ppt  dengan penambahan kalium 25 ppm ke media air tawar pengencer. Padat tebar sebanyak 20 ekor/50 liter/wadah. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pemberian pakan buatan yang diberikan segera setelah masa aklimatisasi salinitas (pada awal pemeliharaan PL25) memberikan performa produksi budidaya terbaik bila dibandingkan dengan yang hanya diberi pakan alami selama masa pemeliharaan maupun waktu penggantian pakan alami oleh pakan buatan pada hari ke-7, ke-14 dan hari ke-21 yang ditunjukkan dengan tingkat konsumsi pakan, retensi protein, retensi energi, laju pertumbuhan harian dan efisiensi pakan yang tertinggi.  Kelangsungan hidup di akhir pemeliharaan (PL54)  di atas 80% dan tidak berbeda nyata antar perlakuan. Hal ini ditunjang oleh nilai fisika kimia air yang berada dalam kisaran yang layak selama masa pemeliharaan. Hasil percobaan ini menunjukkan bahwa kebutuhan nutrisi pada stadia PL25 di media bersalinitas rendah tidak terpenuhi jika hanya mengandalkan pakan alami sehingga perlu ditunjang dari pakan buatan dengankandungan nutrisi yang dapat mendukung pertumbuhan dan kelangsungan hidup yang lebih maksimal. Kata kunci: salinitas, pakan alami, pakan buatan, udang vaname.
Production and bioactivity test of recombinant protein common carp growth hormone Utomo, Deny Sapto Chondro; Alimuddin, .; Sudrajat, Agus Oman; Faizal, Irvan
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1361.474 KB) | DOI: 10.19027/jai.10.44-50

Abstract

This study aimed to produce recombinant growth hormone (rGH) protein of common carp (Cyprinus carpio) and evaluate its bioactivity. DNA fragment encoding mature GH protein of common carp (mCcGH) was amplified by polymerase chain reaction (PCR) method and PCR products were then ligated into pCold I to generate pCold I-mCcGH protein expression vector. Escherichia coli BL21 (DE3) harboring pCold I-mCcGH was cultured in the 2xYT medium at 15 °C for 24 hours and protein production was induced by isopropyl-beta-thio galactopyranoside (IPTG). The inclusion bodies containing rGH protein from E. coli transformants were isolated by sonication method and analyzed by SDS-PAGE. The result showed that rGH with molecular weight of about 25 kDa was obtained. Common carp juveniles with average body weight of 5.2±0.4 g were intramuscularly injected once a week for 4 weeks with rGH protein solution from 1 μg bacterial cells per gram fish body weight. The result showed that juveniles fish injected with rGH grew 106.56% higher than control. This result indicated that rGH produced in E. coli BL21 possessed biological activity and it may be useful to improve growth of aquaculture species.Key words: growth hormone, recombinant protein, common carp ABSTRAKPenelitian ini bertujuan menghasilkan protein rekombinan hormon pertumbuhan (growth hormone, GH) dari ikan mas (Cyprinus carpio) dan menguji bioaktivitasnya. Fragmen DNA penyandi protein matang (mature) GH ikan mas (mCcGH) diamplifikasi dengan menggunakan metode PCR dan hasilnya kemudian diligasi ke dalam pCold-I untuk menghasilkan konstruksi vektor ekspresi pCold-I-mCcGH. Plasmid pCold-I-mCcGH ditransformasi ke bakteri Escherichia coli BL21 (DE3), dikultur dalam media 2xYT cair pada suhu 15°C selama 24 jam dan produksi protein diinduksi dengan menggunakan isopropyl-beta-thio galactopyranoside (IPTG). Badan inklusi yang mengandung protein rekombinan GH (rGH) dari bakteri E. coli transforman diisolasi menggunakan metode sonikasi dan dianalisis dengan menggunakan SDS-PAGE. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rGH dengan bobot molekul sekitar 25 kDa berhasil diproduksi. Benih ikan mas dengan bobot rata-rata 5,15±0,4 g diinjeksi secara intramuskular satu kali per minggu selama 4 minggu dengan larutan rGH hasil ekstraksi dari 1 µg pelet bakteri/g bobot ikan. Benih yang disuntik dengan rGH tumbuh sekitar 100% lebih cepat bila dibandingkan dengan kontrol yang tidak diinjeksi rGH. Hasil ini mengindikasikan bahwa rGH yang diproduksi dalam bakteri E. coli memiliki bioaktivitas dan dapat bermanfaat untuk memacu pertumbuhan spesies ikan-ikan budidaya.Kata kunci: hormon pertumbuhan, protein rekombinan, ikan mas
Masculinization of Nile tilapia (Oreochromis niloticus) by administration of bull testes meal Muslim, Muslim; Junior, M. Zairin; Utomo, Nur Bambang Priyo
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (532.672 KB) | DOI: 10.19027/jai.10.51-58

Abstract

The synthetic steroid 17α-Methyltestosteron (MT) is commonly used as a feed additive to produce male population of Nile tilapia (Oreochromis niloticus). The use of synthetic testosterone hormone is not recommended in Indonesia. This study was conducted to evaluate the effect of natural testosterone hormone in bull testes meal (BTM) on the masculinization of Nile tilapia using validated aceto carmine squash method of gonads of the fish. Experimental design was utilized two factors experiments in completely randomized design. Fry kept in 40-L glass aquaria at a density of 40 fry/aquarium. Fry (7 dph) received the BTM  for 7 days (T1), 14 days (T2) and 21 days (T3) and doses 0% (D1), 3% (D2), 6% (D3), and 9% (D4).  When treatment was these results, indicated that significant (P≥0.05) masculinization occurred only in the group treated of BTM and no treated of BTM. In the group treated of BTM, doses and duration treatment is not significant. The percentage of male fish 83.3% (9%-7d, 9%-21d, 6%-21d: doses and duration, respectively), higher than all group. Survival rate of fry (95-99.5%) is not affected by treatment BTM (no significant P≥0.05). Fish growth was significantly affected by treatment BTM compare with no treated of BTM. The highest growth performance of fry were obtained with the 9% BTM.Key words: masculinization, nile tilapia, bull testes meal ABSTRAKSteroid sintetik 17α-Methyltestosteron (MT) umumnya digunakan sebagai aditif pakan untuk menghasilkan populasi ikan nila jantan (Oreochromis niloticus). Penggunaan hormon testosteron sintetis tidak dianjurkan di Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh hormon testosteron alami dalam makanan testis banteng (BTM) pada maskulinisasi ikan nila menggunakan metode divalidasi aceto carmine squash, dari gonad ikan. Desain eksperimental dimanfaatkan dua eksperimen faktor dalam desain benar-benar acak. Fry disimpan dalam 40-L akuarium kaca pada kepadatan 40 fry/akuarium. Fry (7 DPH) menerima BTM selama 7 hari (T1), 14 hari (T2) dan 21 hari (T3) dan dosis 0% (D1), 3% (D2), 6% (D3), dan 9% (D4). Ketika pengobatan hasil ini, menunjukkan signifikan (P ≥ 0,05) hanya terjadi maskulinisasi pada kelompok perlakuan dari BTM dan tidak diperlakukan BTM. Pada kelompok diobati BTM, dosis dan durasi pengobatan tidak signifikan. Persentase ikan jantan 83,3% (9%-7d, 9%-21d, 6%-21d: dosis dan durasi, masing-masing), lebih tinggi dari kelompok semua. Tingkat kelangsungan hidup benih (95-99,5%) tidak dipengaruhi oleh pengobatan BTM (tidak ada P yang signifikan ≥ 0,05). Pertumbuhan ikan secara signifikan dipengaruhi oleh BTM pengobatan dibandingkan dengan tidak diobati BTM. Kinerja pertumbuhan tertinggi fry diperoleh dengan BTM 9%.Kata kunci: maskulinisasi, ikan nila, tepung testis sapi 
Quality of tiger shrimp artificial feed using various dosages of seaweed (Gracilaria gigas) meal as binder Saade, Edison; Aslamyah, Siti; Salam, Nur Insana
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.481 KB) | DOI: 10.19027/jai.10.59-66

Abstract

The quality of an artificial feed particularly the stability of the feed in the water is highly determined by binding agents. The objective of this study was to determine the optimum dosage of seaweed, Gracilaria gigas meal as binder.  Completely randomized design was used in this study, with three dosages of sea weed meal as treatment feeds, i.e. 3, 6, and 9%, with three replications. The control feed was a commercial feed. The physical parameters measured were water stability, hardness level, homogeneity level, sinking rate, attractiveness, and palatability of the feed, and the chemical parameters were protein and lipid dispersion. Based on parameters of hardness level, homogeneity level, protein and lipid dispersion, feed used G. gigas meal of 9% was better than the commercial feed; parameters of sinking rate, attractiveness, and palatability with G. gigas of 9% was equal to the commercial feed; and based on parameters of water stability, the commercial feed was better than treatment feeds. However, when the three treatment feeds were compared, the 9% dosage of G. gigas meal was better than the other two dosages. Based on the results, the feed using seaweed, G. gigas meal of 9% was the best feed. Key words:  Artificial feed, binder, feed quality, G. gigas meal   ABSTRAK Bahan perekat sangat menentukan kualitas pakan buatan, terutama stabilitas dalam air.  Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan dosis tepung rumput laut, Gracilaria gigas yang terbaik sebagai bahan perekat. Penelitian didesain menggunakan rancangan acak lengkap, dengan tiga dosis tepung G.gigas, yaitu 3, 6, dan 9% yang diulang tiga kali.  Pakan komersial digunakan sebagai pakan kontrol.  Parameter fisik yang diukur adalah water stability (kecepatan pecah dan dispersi padatan), tingkat kekerasan, tingkat homogenitas, kecepatan tenggelam, daya pikat dan daya lezat pelet, sedangkan parameter kimiawi adalah dispersi protein dan lemak.  Berdasarkan parameter tingkat kekerasan, tingkat homogenitas, dispersi potein dan dispersi lemak pakan yang menggunakan binder tepung G. gigas 9% lebih baik dibanding dengan pakan komersial; parameter kecepatan tenggelam, daya pikat dan daya lezat pakan yang mengandung binder G. gigas 9% sama dengan pakan komersial; dan berdasarkan water stability, pakan komersial lebih baik dibanding dengan pakan yang menggunakan binder tepung rumput laut G. gigas. Namun bila ketiga pakan perlakuan dibandingkan, pakan dengan binder G. gigas 9% masih lebih baik dibanding dengan kedua pakan perlakuan lainnya.  Sesuai hasil penelitian ini, pakan yang menggunakan binder tepung rumput laut, G. gigas dengan dosis 9% adalah pakan terbaik. Kata kunci:  kualitas pakan, binder, tepung G. gigas, pakan buatan
Improvement of the nutritional value and growth of rotifer (Brachionus plicatilis) by different enrichment period with Bacillus sp. Budi, Sutia; Zainuddin, .; Aslamsyah, Siti
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.353 KB) | DOI: 10.19027/jai.10.67-73

Abstract

Brachionus plicatilis is a widely used as natural feed in hatchery. Characteristics of rotifers as biocapsule can improve the quality of rotifers in a practical way. Bacillus sp. is capable of improving the nutrition rotifers to produce vitamins, food detoxication or through enzymatic activity such as protease, lipase, and amylase. This research aimed at observing the influence of the enrichment length of Bacillus sp. on the quality of nutrition and growth of rotifers. The research container was a polyearbonate vessel of one ton volume which contained Nannochloropsis sp. with the density of 105 cell/mL, it was then scattered with rotifer with the density of 1,000 ind./mL. The types of bacteria used were Bacillus subtilis, B. pumilus and B. licheformis with the density of 2x1010 cfu/g. The experiments tried with different enrichment length were A = 0 hour, B = 5 hours, C = 10 hours and D = 10 hours with triplicate. As the comparing data, rotifer culture experiment was carried out with Nannochlorophsis sp.as the control. The number of containers were 24 which consists of 12 for threatment and 12 pieces as control. Variables measured were proximate to each treatment and the growth of rotifers. The result of the research revealed the enrichment length of rotifers with Bacillus sp. has significantly (P
The nutritional content of bilih fish (Mystacoleucus padangensis blkr) eggs waste as source of fish feed material Syandri, Hafrijal
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.741 KB) | DOI: 10.19027/jai.10.74-80

Abstract

The purpose of study was to know nutrient content of bilih fish Mystacoleucus padangenesis Blkr eggs meal to provide basic information for local material based fish feed development. The eggs were collected from fishermen. Parameters observed were proximate (protein, fat, moisture and ash), minerals (mangan and zinc), amino acid total, fatty acid, and vitamins (A, C and E) levels. The study showed that bilih fish eggs meal contained protein 22,44-59,90%, fat 12,67-18,09%, moisture 7,33-10,62%, ash 3,25-5,43%, amino acid total 14,57-27, 50%, fatty acid 0,24-0,53%, mangan 1,38-1,66 mg/100 g, zinc 22,39-24,73 mg/ 100 g, vitamin  A 188,95-218,44 mg/100 g, vitamin C  10,42-18,08  mg/100 g and  vitamin  E 8,64-10,39 mg/100 g samples. It can be concluded that the egg meal of bilih fish is potentially be used as an enrichment ingredients of diet to improve fish growth and reproduction.  Keywords: Bilih fish eggs, proximate, amino acid, fatty acid, minerals, vitamin   ABSTRAK Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui kandungan nutrisi tepung telur ikan bilih Mystacoleucus padangenesis Blkr sebagai informasi dasar dalam pengembangan pakan ikan menggunakan bahan lokal. Telur dikumpulkan dari nelayan.  Parameter yang diamati adalah proksimat (protein, lemak, air dan abu), mineral (mangan dan seng), total asam amino, asam lemak, dan vitamin (A, C, E). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung telur ikan bilih mengandung protein 22,44-59,90%, lemak 12,67-18,09%, air 7,33-10,62%, abu 3,25-5,43%, asam amino total 14,57-27, 50%, asam lemak 0,24-0,53%, mangan 1,38-1,66 mg /100 g , seng 22,39-24,73 mg/100 g, vitamin A 188,95-218,44 mg/100 g, vitamin C 10,42-18,08 mg/100 g dan vitamin E 8,64-10,39 mg/100 g sampel. Sebagai kesimpulan adalah bahwa tepung telur ikan bilih memiliki potensi untuk digunakan sebagai bahan pengkayaan pakan untuk meningkatkan pertumbuhan dan reproduksi ikan. Kata kunci: telur ikan bilih, proksimat, asam amino, asam lemak, mineral, vitamin

Filter by Year

2002 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 2 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 1 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 2 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 1 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 1 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 2 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 1 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 2 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 1 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 1 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 2 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 1 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 2 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 1 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 3 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 2 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 1 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 2 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 1 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 3 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 2 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 1 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia More Issue