cover
Contact Name
Apriana Vinasyiam
Contact Email
akuakultur.indonesia@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
akuakultur.indonesia@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Akuakultur Indonesia
ISSN : 14125269     EISSN : 23546700     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Akuakultur Indonesia (JAI) merupakan salah satu sarana penyebarluasan informasi hasil-hasil penelitian serta kemajuan iptek dalam bidang akuakultur yang dikelola oleh Departemen Budidaya Perairan, FPIK–IPB. Sejak tahun 2005 penerbitan jurnal dilakukan 2 kali per tahun setiap bulan Januari dan Juli. Jumlah naskah yang diterbitkan per tahun relatif konsisten yaitu 23–30 naskah per tahun atau minimal 200 halaman.
Arjuna Subject : -
Articles 582 Documents
Control of Ectoparasitic Monogenean Infestation on GIFT Tilapia (Oreochromis sp.) using Salt Addition Hadiroseyani, Yani; Harti, L.S.; Nuryati, Sri
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.274 KB) | DOI: 10.19027/jai.8.135-145

Abstract

Ectoparasitic monogenean infestation is one of fish diseases which may cause mass mortality, therefore controlling the parasites is one of the important factors to ensure the success of aquaculture activities. Salt addition is one of disease curative and controlling techniques which is cheap, easy and environmental friendly as well as effective to control ectoparasites in freshwater environment. The objectives of this study were to examine monogenean parasites species in GIFT (Genetically Improved Farmed Tilapia) tilapia, their tolerance to salt concentration and the most effective salt concentration to control the parasites. Identification, intensity and prevalence of parasitic monogenean were carried out on the external parts (body surface, fins and gills) of 31 fishes. Subsequently, two different experiments were carried out  to determine parasites and fish resistance on various salt concentration at a range of 0 - 24 g/l with an interval of 2 g/l. To confirm the results of previous experiment, parasites infected fish was immersed in salt water at various concentration based on previous experiments. Two genera of monogenean were identified in GIFT tilapia, i.e. Gyrodactylus sp. on body surface and fins, and Cichlidogyrus sp. on gills with the same prevalence (100%). The intensity of those parasites was different, namely 27.84 ind/fish for Gyrodactylus sp. and 6.06 ind/fish for Cichlidogyrus sp. The intensity of both parasites was found to be lower as salt concentration increase. Salt concentration of 24 g/l was the most effective concentration to reduce parasites infestation and could totally treat the infested fish within 6 days. Keyword : tilapia, Oreochromis, monogenea, parasite and salt     ABSTRAK Serangan monogenea ektoparasitik merupakan salah satu masalah penyakit ikan yang dapat menyebabkan kematian masal, sehingga pengendaliannya merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam usaha budidaya. Garam merupakan agen penyembuh atau pengendali penyakit yang murah, mudah didapat, ramah lingkungan dah efektif untuk mengendalikan ektoparasit pada lingkungan air tawar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis monogenea yang menyerang ikan nila, kisaran toleransinya terhadap kadar garam air dan efektifitas kadar garam yang dapat menekan perkembangannya tanpa membahayakan inang. Identifikasi, intensitas dan prevalensi monogenea yang menyerang dilakukan melalui pemeriksaan eksternal (permukaan tubuh, sirip dan insang) 31 ekor ikan nila gift. Kemudian penentuan kisaran salinitas monogenea dan ikan inang dilakukan dengan menguji daya tahan parasit dan ikan pada salinitas 0 - 24 g/l dengan selang 2 dilanjutkan dengan penelitian perendaman ikan yang terinfeksi monogenea dalam air garam dengan salinitas berdasarkan hasil penelitian sebelumnya. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa terdapat dua genus monogenea yang menyerang ikan nila yaitu Gyrodactylus sp. pada permukaan tubuh dan sirip serta Cichlidogyrus sp. pada insang dengan prevalensi mencapai 100%. Namun intensitas kedua parasit tersebut ditemukan berbeda yaitu 27,84 ind/ekor untuk Gyrodactylus sp. dan Cichlidogyrus sp. sebesar 6,06 ind/ekor. Intensitas Gyrodactylus sp. menurun dengan meningkatnya konsentrasi garam, begitu juga dengan intensitas Cichlidogyrus sp. Konsentrasi 24 g/l merupakan konsentrasi garam yang paling cepat untuk mengurangi serangan parasit tersebut pada ikan dibandingkan konsentrasi 12 dan 0 g/l. Bahkan dapat membebaskan ikan dari infeksi parasit tersebut dalam waktu hari 6 hari. Kata kunci : nila, Oreochromis, monogenea, parasit dan garam.
Effect of SKT-b Vibrio probiotic bacteria addition at different developmental stages on tiger shrimp Penaeus monodon larvae survival rate Widanarni, .; Arifin, M.S.; Sukenda, .
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (145.046 KB) | DOI: 10.19027/jai.8.147-155

Abstract

This experiment was conducted to study the effect of probiotic bacteria SKT-b Vibrio addition at different developmental stages on survival rates of tiger shrimp Penaeus monodon larva.  Main activity of this experiment consisted of tiger shrimp rearing started from nauplius stage until Pl10 and addition of 106 CFU/ml SKT-b Vibrio probiotic bacteria at various developmental stages namely at early nauplius stage, early zoea zoea stage, early mysis stage, early postlarva (Pl) stage, every developmental stage changes, everyday, and control (without probiotic bacteria addition). Results showed that survival rates of shrimp larva ranged at 24,17%-35,83% with the higest value in the treatment of probiotic bacteria addition at every developmental stage changes namely 35,83%, whereas the lowest was found at control (without probiotic bacteria addition) namely 24,17%.  No significantly different was found in term of shrimp growth rate among control and treatment. Growth rate in length of tiger shrimp larva ranged 18,64%-19,09% for SKT-b Vibrio addition and 18,47% for control. Key word: Probiotic bacteria, SKT-b Vibrio, Penaeus monodon, shrimp larvae stages   ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari pengaruh pemberian bakteri probiotik Vibrio SKT-b pada stadia yang berbeda terhadap kelangsungan hidup larva udang windu Penaeus monodon. Kegiatan utama dari penelitian ini adalah pemeliharaan udang windu yang dimulai dari stadia nauplius sampai Pl10 dan diberi bakteri probiotik Vibrio SKT-b dengan dosis 106 CFU/ml pada waktu yang berbeda yaitu pada awal stadia nauplius, awal stadia zoea, awal stadia mysis, awal stadia postlarva (Pl), setiap pergantian stadia, setiap hari, dan kontrol (tanpa pemberian bakteri probiotik). Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup larva udang berkisar antara 24,17%-35,83% dengan nilai tertinggi terdapat pada perlakuan pemberian bakteri probiotik pada setiap pergantian stadia yaitu sebesar 35,83%, sedangkan terendah pada perlakuan kontrol (tanpa pemberian bakteri probiotik) yaitu 24,17%.  Sedangkan terhadap pertumbuhan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kontrol dengan perlakuan. Nilai laju pertumbuhan panjang larva udang windu dengan penambahan bakteri probiotik Vibrio SKT-b berkisar antara 18,64%-19,09% dan kontrol sebesar 18,47%. Kata kunci: Probiotik, Vibrio SKT-b, Penaeus monodon, stadia larva udang
Growth of Gracilaria under Different Planting Distances in Pond Sunarto, .
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (43.878 KB) | DOI: 10.19027/jai.8.157-161

Abstract

The use of non-productive shrimp ponds for cultivation of Gracilaria is one of the strategies that can be performed to achieve production target of seaweed. This study was conducted to determine the influence of different planting distances on growth of Gracilaria cultivated in pond. Gracilaria was separately planted in distant of 20x20 cm; 25x25 cm; 30x30 cm and 35x35 cm in pond for 45 days cultivation.  Relative growth rate and thallus length increment were measured to obtain an optimal planting distance. The results of study showed that 25x25 cm planting distance resulted in a higher relative growth rate (137.8%) and increment of thallus length (15.3%) compared with other treatments.  Thus, cultivation of Gracilaria in an unproductive pond with 25x25 cm planting distance may improve production. Keywords : non-productive ponds, planting distance, Gracilaria   ABSTRAK Pemanfaatan tambak udang yang tidak produktif untuk budidaya Gracilaria merupakan salah satu strategi yang dapat dilakukan untuk mencapai target produksi rumpul laut. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh jarak tanam yang berbeda terhadap pertumbuhan Gracilaria di tambak.  Gracilaria ditanam terpisah dengan jarak 20x20 cm; 25x25 cm; 30x30 cm dan 35x35 cm di tambak selama 45 hari pemeliharaan.  Pertumbuhan relatif dan panjang thalus diukur untuk memperoleh jarak tanam yang optimal.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa jarak tanam 25x25 cm memberikan pertumbuhan relatif (137.8%) dan pertambahan panjang thalus (15.3%) tertinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Dengan demikian, budidaya Gracilaria di tambak tidak produktif dengan jarak tanam 25x25 xm diduga sangat membantu untuk mencapai target produksi rumput laut. Kata kunci : tambak non-produktif, jarak tanam, Gracilaria
Blood Meal Utilization as Organic Fe Source for Polka Dot Grouper Cromileptes altivelis Growth Performance Setiawati, Mia; Purnama, P.; Mokoginta, I.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (78.395 KB) | DOI: 10.19027/jai.8.163-168

Abstract

This experiment was designed to examine the use of spray dried cell blood meal as organic Fe source in polka dot grouper (Cromileptes altivelis) feed to substitute inorganic Ferosulphate (FeSO4.7H2O). Two treatments were applied, one with FeSO4.7H2O as Fe source and the other with 6% blood meal. Fish with initial length and weight of 6.48 ± 0.16 cm and 5.60±0.25 g was reared at a density of 10 fish/aquarium (40 x 60 x 50 cm3) in a recirculation system for 40 days. Feed was administrated 3 times a day at satiation. The use of organic Fe with 6% blood meal apparently resulted in a lower body Fe content, feed consumption and lipid retention but a higher protein retention and feed efficiency. There was however no significant difference between treatments in growth and survival (P>0.05).   Keywords : Spray dried cell, polka dot grouper, growth, Fe, blood meal   ABSTRAK Penelitian dirancang untuk melihat pemanfaatan tepung darah spray-dried cell (SBC) sebagai sumber zat besi organik dalam pakan kerapu bebek (Cromileptes altivelis), menggantikan bahan anorganik Ferosulfat (FeSO4.7H2O). Penelitian menggunakan 2 jenis perlakuan yaitu pakan Fe-anorganik dengan sumber Fe dari FeSO4.7H2O dan sumber Fe-organik dari tepung darah 6 %. Panjang awal ikan 6,48±0,16 cm dan bobot awal 5,60±0,25 gr/ekor, kepadatan 10 ekor/akuarium (40x60x50cm3) dalam sistem resirkulasi. Pemeliharaan ikan selama 40 hari dengan pemberian pakan 3 kali sehari  sekenyangnya (at satiation). Parameter uji meliputi kinerja pertumbuhan dan komposisi tubuh ikan. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan Fe-organik dengan 6 % tepung darah sebagai pengganti sumber Fe-anorganik pada kerapu bebek memberikan pengaruh terhadap penurunan kandungan Fe tubuh, konsumsi pakan dan retensi lemak, tetapi laju pertumbuhan harian, panjang relatif dan kelangsungan hidup sama (P>0,05). Penggunaan Fe-organik memberikan pengaruh terhadap peningkatan retensi protein dan efisiensi pakan. Kata kunci : spray-dried cell, kerapu bebek, pertumbuhan, Fe, tepung darah
Isolation and Identification of Pathogenic Proteolytic Bacteria from External Body Part of GIFT Tilapia Oreochromis niloticus Wahjuningrum, D.; Mayasari, L.; Mubarik, N.R.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (83.372 KB) | DOI: 10.19027/jai.8.169-174

Abstract

The aims of this research were to isolate and identify pathogenic proteolytic bacteria from external body part of GIFT tilapia and to study the role of the selected bacteria. Twenty bacterial isolates that were incubated at room temperature (25-27ºC) revealed proteolytic activity in nutrient agar containing 0.5% skimmed milk. Staphylococcus sp strain T.c2 and Necromonas sp.strain T.s2 isolates from infected tilapia  were selected based on the proteolytic index.  Postulat Koch test showed that Necromonas sp. strain T.s2. was pathogenic bacteria for tilapia and has a high value of proteolytic index. Keywords : Tilapia, Oreochromis niloticus, proteolytic bacteria, pathogen.   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi bakteri  proteolitik patogen dari bagian eksternal ikan nila strain GIFT serta untuk mempelajari peranan dari bakteri proteolitik terpilih.  Duapuluh isolat bakteri yang diinkubasi pada suhu ruang (25-27ºC) menunjukkan aktivitas proteolitik dalam media agar yang mengandung 0,5% susu skim. Berdasarkan indeks proteolitik tertinggi, diidentifikasi dua isolat yaitu Staphylococcus sp. strain T.c2 dan Necromonas sp. .strain T.s2 dari ikan nila yang terinfeksi.  Uji Postulat Koch menunjukkan bahwa isolat Necromonas sp.strain T.s2  bersifat patogen bagi ikan nila dan memiliki indeks proteolitik yang tinggi. Kata kunci : Ikan nila, Oreochromis niloticus, bakteri proteolitik, patogen.
Gonad Maturity of Coconut Crab (Birgus latro) in Pasoso Island, Central Sulawesi Sulistiono, .; Refiani, Suzana; Tantu, Fadly Y.; Muslihuddin, .
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.602 KB) | DOI: 10.19027/jai.8.175-184

Abstract

Study on gonad maturity of coconut crab (Birgus latro) was carried out from June 2004 to January 2005.  Crabs were collected by some gears such as trap, net and by hand. Observation was done to know sex ratio, gonad maturity and eggs diameter, while analysis was employed to estimate condition factor, gonado somatic index and fecundity.  Observation result showed that condition factor, gonad maturity and gonado somatic index varied depending on sampling month. Gonado somatic index showed a high value around November/December.  A similar result was also showed by condition factor and gonado somatic index that was high around November /December. Fecundity varied from 58.717 to 197.400. Oocyte diameter varied from 0,015 to 0,035 mm,  had one mode that is clasified to be a total spawner. Keywords :  Gonad maturity, coconut crab (Birgus latro), total spawner.   ABSTRAK Penelitian tentang kematangan gonad kepiting kelapa (Birgus latro) dilakukan sejak Juni 2004 sampai Februari 2005.  Sampel kepiting ditangkap dengan menggunakan beberapa peralatan, yaitu perangkap, jaring dan secara langsung dengan tangan. Pengamatan dilakukan terhadap jenis kelamin, kematangan gonad dan diameter telur, sedangkan analisis dilakukan untuk menentukan faktor kondisi, indeks kematangan gonad, dan fekunditas.  Hasil pengamatan menunjukkan bahwa faktor kondisi, kematangan gonad dan indeks kematangan gonad bervariasi tergantung dari bulan pengambilan contoh. Pengamatan kematangan gonad menunjukkan bahwa nilai tertinggi terdapat pada November/Desember.  Keadaan yang sama juga ditunjukkan dengan nilai faktor kondisi dan indeks kematangan gonad yang cukup tinggi pada bulan November /Desember. Fekunditas berkisar antara 58.717-197.400 butir telur. Diameter telur berkisar antara 0,015-0,035 mm,  memiliki 1 puncak sehingga dapat diklasifikasikan sebagai total spawner. Kata kunci :  Kematangan gonad, kepiting kelapa (Birgus latro), total spawner.
The Effect of Cirata Reservoir Sediment on Early Developmental Stage of Common Carp (Cyprinus carpio) Embryo Pujihastuti, Yuni; Nirmala, K.; Effendi, I.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.816 KB) | DOI: 10.19027/jai.8.185-192

Abstract

Sedimentation at Cirata reservoir may directly and indirectly influence fish particularly fish which have an adhesive characteristic at its early developmental stage such as common carp (Cyprinus carpio). Sample of sediment was collected from Cirata reservoir using Eikmand dredge at a depth of 80 m. The sample was subsequently centrifuged at 5500 rpm for 10 min. The supernatant obtained was then used for toxicity test on common carp at early developmental stage. In this test, four treatments were applied based on the concentration of sediment supernatant, namely: 0, 8.33, 16.60 and 24.90 %. The results showed that a higher sediment supernatant concentration resulted in lower egg yolk absorption rate, lower relative growth rate in length, lower egg yolk efficiency and higher egg and larval abnormality.  Higher sediment supernatant concentration also resulted in lower hatching percentage of common carp larva. The damage of eggs and larval morphologies in treatments with sediment supernatant was likely caused by the presence Pb and organic matters which act in synergy. Keywords :  sediment, Cirata, embryo, common carp   ABSTRAK Sedimentasi di Waduk Cirata secara langsung dan tidak langsung akan berpengaruh terhadap kehidupan ikan khususnya tahap awal perkembangan ikan yang bersifat adhesiveseperti ikan mas (Cyprinus carpio).  Sampel sedimen waduk Cirata diambil dengan Eikmand dredge pada kedalaman 80 m.  Hasil ekstrak di sentrifugasi dengan kecepatan 5500 rpm selama 10 menit untuk diambil air pori sedimennya.  Air pori digunakan sebagai bahan uji toksisitas terhadap perkembangan awal ikan mas dengan perlakuan 0; 8,33; 16,60 dan 24,90 %. Hasil uji toksisitas diperoleh bahwa semakin tinggi konsentrasi air pori dari sediment maka semakin rendah laju penyerapan kuning telur Laju pertumbuhan relatif panjang embrio pada berbagai konsentrasi juga diperoleh bahwa semakin tinggi konsentrasi air sedimen maka semakin rendah laju pertumbuhan relatif panjang embrio Efesiensi pemanfaatan kuning telur menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi air pori sedimen maka semakin rendah efesiensi kuning telurnya.  Semakin tinggi konsentrasi air pori sediment maka semakin tinggi pula abnormalitas telur dan larva ikan mas.  Rata-rata derajat penetasan telur menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi air pori maka semakin rendah derajat penetasan telurnya.  Berdasarkan kerusakan morfologi telur dan larva pada perlakuan diduga yang berpengaruh adalah timbal dan bahan organik yang bekerja secara sinergis.  Kata kunci : sedimen, Cirata, embrio, ikan mas
Growth of Banggai Cardinalfish Pterapogon kauderni Reared at Different Salinity in a Controlled System Madinawati, .; Ndobe, Samliok; Gamgulu, Afiat
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.28 KB) | DOI: 10.19027/jai.8.193-198

Abstract

The research was conducted to study the effect of salinity on the growth of Banggai Cardinalfish Pterapogon kauderni. The research was set up in completely randomized design with different salinity as the main variable, i.e. 27, 29, 31, 33 and 35 ppt with 4 replications. The result showed that the lowest salinity (27 ppt) resulted in the highest fish growth (1.625 g). Keywords : Growth, salinity, Banggai Cardinalfish   ABSTRAK Penelitian telah dilakukan  untuk mengetahui pengaruh salinitas terhadap pertumbuhan ikan kardinal banggai Pterapogon kauderni yang dipelihara dalam akuarium. Penelitian  menggunakan  Rancangan  Acak   Lengkap  dengan 5 perlakuan salinitas, yaitu 27, 29, 31, 33 dan 35 ppt, masing-masing 4 kali ulangan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan berat mutlak (1,625 g) tertinggi diperoleh pada salinitas 27 ppt. Kata kunci : Pertumbuhan, salinitas, Kardinal Banggai
Effect of Stocking Density on Growth and Survival Rate of Giant Gouramy (Osphrenemus gouramy Lac.) Seed Sarah, S.; Widanarni, .; Sudrajat, Agus Oman
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.177 KB) | DOI: 10.19027/jai.8.199-207

Abstract

This experiment was conducted to study the stocking density effect on growth and survival rate of giant gouramy seed in the aquarium. Fish were stocked at the density of 2.5; 5.0; 7.5 and 10 individual/l with average initial weight and length were 0.013 g and 5.56 mm, respectively. Fish were fed with silkworm (Tubifex sp.) ad libitum in the morning and evening for 22 days of experiment. Aquarium was siphoned and water was changed everyday for maintaining good water quality. Result showed that survival rate remain high in all treatment (93.5 - 95.5%). Increasing stocking density from 2.5 to 10 individual/I did not affect survival rate. On the other hand growth rate and feed efficiency decreased, while fish yield increased. Stocking density of 2,5 individual/l gave  the highest daily growth rate, individual growth rate, growth in length and feed efficiency of 12.94%, 0.0081 g/day, 16.84 mm and 12.51%; respectively. The highest value for fish yield (0,0360 g/l/day) was obtained from stocking density of 10 individual/l Key words: stocking density, seed, survival rate, growth rate, giant gouramy Osphrenemus goramy   ABSTRAK Keterbatasan pengadaan benih ikan gurame (Osphronemus gourame Lac.) disebabkan oleh tidak seimbangnya jumlah benih yang tersedia dengan kebutuhan usaha pembesaran. Teknik pembenihan yang digunakan sampai saat ini relatif sederhana dengan cara tradisional. Pemeliharaan gurame secara terkontrol di akuarium dapat menjawab tantangan dalam teknologi pembenihan gurame sekaligus sebagai sarana pola budidaya secara bertahap yang sedang berkembang saat ini. Produksi yang tinggi akan dicapai dengan pemeliharaan pada kepadatan yang tinggi. Pada keadaan lingkungan yang baik dan pakan yang mencukupi, peningkatan kepadatan akan disertai dengan peningkatan hasil. Jumlah ikan yang ditebar pada penelitian ini disesuaikan berdasarkan perlakuan yaitu 2,5; 5,0; 7,5 dan 10 ekor/l. Pengamatan terhadap ikan dilakukan sampai hari ke-22. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa peningkatan kepadatan 2,5 - 10 ekor/l pada pemeliharaan benih gurame di akuarium mempengaruhi pertumbuhan, hasil dan efisiensi pakan, namun tidak berpengaruh terhadap kelangsungan hidup. Dengan meningkatnya padat penebaran, laju pertumbuhan dan efisiensi pakan semakin menurun, sedangkan hasil (yield) semakin meningkat. Padat penebaran 2,5 ekor/l menghasilkan laju pertumbuhan harian, laju pertumbuhan individu, pertumbuhan panjang mutlak dan efisiensi pakan tertinggi, masing-masing mencapai 12,94 %, 0,0081 g/hari, 16,84 mm dan 12,51 %. Sedangkan nilai tertinggi untuk hasil (yield) sebesar 0,0360 g/l/hari diperoleh pada padat penebaran 10,0 ekor/l. Kata kunci : padat tebar, pembenihan, gurame dan Osphronemus gouramy
Enhancement of non-specific immune response, resistance and growth of (Litopenaeus vannamei) by oral administration of nucleotide Manoppo, Henky; Sukenda, .; Djokosetiyanto, Daniel; Sukadi, Mochamad Fatuchri; Harris, Enang
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.428 KB) | DOI: 10.19027/jai.10.1-7

Abstract

This research evaluated the nonspecific immune responsse, resistance, and growth of Litopenaeus vannamei fed nucleotide diet. Shrimp juveniles (mean weight 5.39±0.56 g) were reared in two groups of glass aquaria, each with three replications. Shrimps in group one and group two were fed nucleotide diet and basal diet each for four weeks. Total haemocyte count (THC) and PO activity were evaluated at the end of feeding while growth was measured at two weeks interval. At the end of feeding trial, the shrimps were intramuscularly injected with Vibrio harveyi 0.1x106 cfu.shrimp-1. THC of shrimp fed nucleotide diet significantly increased (P

Filter by Year

2002 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2026): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 2 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 1 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 2 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 1 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 1 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 2 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 1 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 2 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 1 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 1 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 2 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 1 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 2 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 1 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 3 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 2 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 1 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 2 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 1 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 3 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 2 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 1 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia More Issue