cover
Contact Name
Lutfatulatifah
Contact Email
jurnalequalita@syekhnurjati.ac.id
Phone
+6282217654100
Journal Mail Official
lutfatulatifah@syekhnurjati.ac.id
Editorial Address
Jl. Perjuangan By Pass Sunyaragi Kota Cirebon 45132
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak
ISSN : 27456641     EISSN : 27756327     DOI : http://dx.doi.org/10.24235/equalita.v2i2.
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak focuses on topics related to gender and child issues. We aim to disseminate research and current developments on these issues. We invite manuscripts on gender and child topics in any perspectives, such as religion, economics, culture, history, education, law, art, communication, politics, and theology, etc. We look forward to having contributions from scholars and researchers of various disciplines.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 1 (2025)" : 10 Documents clear
Childfree dalam Perspektif Teologi Pembebasan Ali Ashgar Engineer: Kebebasan, Keadilan, dan Kesejahteraan Farah, Naila
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak Vol 7, No 1 (2025)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/equalita.v7i1.21090

Abstract

Artikel ini mengkaji konsep childfree dalam perspektif teologi pembebasan Ali Asghar Engineer, dengan fokus pada nilai-nilai kebebasan, keadilan, dan kesejahteraan. Fenomena childfree —keputusan untuk tidak memiliki anak— semakin relevan di tengah dinamika sosial dan ekonomi masyarakat modern. Dalam teologi pembebasan, Engineer mengedepankan interpretasi agama yang progresif, berorientasi pada pembebasan individu dari struktur yang menindas, termasuk tekanan sosial terkait reproduksi. Serta mengeksplorasi bagaimana konsep kebebasan individu dalam memilih childfree dapat dipahami dalam kerangka teologi pembebasan, yang menghargai hak individu untuk menentukan hidupnya sesuai dengan nilai-nilai keadilan sosial dan kesejahteraan kolektif. Pendekatan ini mencakup analisis terhadap tradisi agama yang sering kali bersifat patriarkal dan eksplorasi bagaimana nilai keadilan gender, keadilan ekonomi, dan kesejahteraan komunitas dapat diharmonisasikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perspektif childfree tidak bertentangan dengan prinsip teologi pembebasan, selama pilihan tersebut didasarkan pada kesadaran, tanggung jawab, dan orientasi terhadap keadilan sosial. Artikel ini berkontribusi pada wacana teologis kontemporer dengan menawarkan pandangan alternatif tentang peran agama dalam mendukung kebebasan individu dan membangun kesejahteraan masyarakat secara inklusif. Kata Kunci: childfree, teologi pembebasan, Ali Asghar Engineer, kebebasan, keadilan, kesejahteraan.
Kesetaraan Gender Dalam Iklan Melaju Syantiek Dengan Grab Tahun 2024 (Analisis Semiotika Roland Barthes) Afrita, Witri; Corliana, Tellys; Yuliani, Magvira
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak Vol 7, No 1 (2025)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/equalita.v7i1.20592

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi makna kesetaraan gender dalam iklan  Melaju Syantiek  oleh Grab tahun 2024 melalui pendekatan semiotika Roland Barthes. Subjek penelitian berupa iklan digital yang ada di platform YouTube, menampilkan perempuan dengan profesi pengemudi driver online, yang sebelumnya profesi tersebut didominasi oleh laki-laki. Metode analisis semiotika digunakan untuk mengungkap makna denotatif, konotatif, dan mitos dalam tanda visual dan verbal dalam iklan. Hasil penelitian yang menunjukkan bahwa iklan ini merepresentasikan kesetaraan gender secara ambivalen: di satu sisi, menampilkan kemandirian perempuan di ruang publik dan solidaritas gender; di sisi lain, tetap bersantai perempuan dengan ekspektasi tradisional, seperti mempertahankan feminitas ( syantiek ) dan tanggung jawab domestik. Iklan juga mengonstruksi mitos bahwa teknologi dan kerja platform menjadi solusi utama kesetaraan, meski mengabaikan hambatan struktural seperti ketimpangan peran domestik dan risiko ekonomi digital. Rekomendasi penelitian menekankan perlunya transformasi sistemik, termasuk redistribusi tanggung jawab domestik dan kebijakan perlindungan pekerja, untuk mencapai kesetaraan gender yang substantif.Kata Kunci: Iklan Digital; Analisis Semiotika; Peran Ganda Perempuan.
Emansipasi Perempuan Dalam Membingkai Fiqih Sosial Romli, Muhammad
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak Vol 7, No 1 (2025)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/equalita.v7i1.18967

Abstract

 ABSTRAK: Di Indonesia perjuangan emansipasi perempuan penuh dengan dinamika. Bentuk Gerakan maupun penekanan isunya selalu mengalami perubahan. Khusunya tinjauan beberapa dekade terakhir ini, telah muncul kesadaran baru dikalangan intelektual dan aktivitis perempuan bahwa paradigma lama dalam gerakan perempuan perlu ditinjau ulang. Fiqih yang selama ini hanya dipahami sebagai alat membaca untuk mengukur kebenaran ortodoksi (halal,haram), diera modernisasi seperti saat ini perlu memahami fiqih sebagai realitas sosial untuk kemudian mengambil sikap dan tindakan tertentu atas realitas sosial tersebut, konsep ini disebut fiqih sosial. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan penelitian pustaka (library research), yaitu penelitian yang penemuan objeknya dilakukan dengan menggali informasi kepustakaan, khususnya berupa teks yang terdapat pada buku-buku, ensiklopedi, jurnal ilmiyah, website dan dokumen lain. Berdasarkan hasil penelitian dan pengkajian dapat disimpulkan : Pertama, perlu adanya kontekstualisasi pemahaman terhadap fiqih, yang selama ini fiqih dijadikan sebatas sebagai madzhab tekstua(qauli), fiqih juga dijadikan sebagai madzhab manhaji(metodologis). Kedua, pemahaman fiqih terhadap perempuan perlu ditinjau ulang khususnya perannya dalam bidang sosial. Ketiga, perempuan memiliki lima peran penting, yaitu sebagai istri, ibu rumah tangga, pendidik, juru dakwah dan penggerak social. Keempat, Pendidikan sebagai akatualisasi nyata dalam memajukan perempuan..Kata kunci: Emansipasi perempuan, Fiqih sosialABSTRACT: In Indonesia, the struggle for women's emancipation is full of dynamics. The form of the movement and the emphasis on its issues are always changing. Especially reviewing the last few decades, a new awareness has emerged among women's intellectuals and activists that the old paradigm in the women's movement needs to be reviewed. Until now, fiqh has only been understood as a reading tool to measure the truth of orthodoxy (halal, haram), in the current era of modernization it is necessary to understand fiqh as a social reality to then take certain attitudes and actions regarding that social reality, this concept is called social fiqh. This research is descriptive qualitative with library research, namely research in which the object is discovered by exploring library information, especially in the form of texts found in books, encyclopedias, scientific journals, websites, and other documents. Based on the results of the research and study, it can be concluded: First, there is a need to contextualize the understanding of fiqh, while fiqh has so far been used only as a textual school of thought (qauli), fiqh has also been used as a manhaji (methodological) school of thought. Second, the understanding of women in jurisprudence needs to be reviewed, especially their role in the social field. Third, women have five important roles, namely as wives, housewives, educators, preachers, and social activists. Fourth, education is a real actualization in advancing women.Keywords: Women's emancipation, social fiqih
Transformasi Konsep Diri Perempuan dengan Orientasi Seksual Lesbian melalui Pendekatan Terapi Rational Emotive Behavior Therapy (REBT): Studi Kasus dan Analisis Psikologis Afridah, Mumtaz; Triadhari, Imelda; Azzakiyyah, Najwa
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak Vol 7, No 1 (2025)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/equalita.v7i1.14825

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran terapi Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) dalam mendukung transformasi konsep diri perempuan dengan orientasi seksual lesbian, terutama mereka yang memiliki latar belakang pengalaman traumatis dalam relasi heteroseksual. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus, penelitian ini menggali secara mendalam dinamika psikologis yang memengaruhi perubahan persepsi diri pada subjek. Temuan menunjukkan bahwa REBT secara efektif membantu individu mengidentifikasi dan menggugat keyakinan irasional yang terbentuk akibat pengalaman masa lalu. Melalui pendekatan ABCDE (Activating Event, Belief, Consequence, Disputing, Effect), REBT memfasilitasi rekonstruksi pola pikir yang lebih rasional, yang berdampak pada peningkatan aspek kognitif dan afektif dari konsep diri. Perubahan signifikan juga terlihat pada aspek hardiness, yaitu komitmen, kontrol diri, dan kesiapan menghadapi tantangan. Hasil ini mengindikasikan bahwa REBT dapat menjadi pendekatan intervensi psikologis yang relevan untuk membantu individu keluar dari trauma emosional dan membangun identitas diri yang lebih sehat dan positif.Kata Kunci: Rational Emotive Behavior Therapy, konsep diri, lesbian, trauma relasional, studi kasus, hardinessABSTRACT: This study aims to explore the role of Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) in facilitating the transformation of self-concept among lesbian women who have experienced traumatic events in past heterosexual relationships. Employing a qualitative case study approach, the research delves deeply into the psychological dynamics underlying the subject’s evolving self-perception. The findings reveal that REBT effectively helps individuals identify and challenge irrational beliefs rooted in emotional trauma. By applying the ABCDE framework (Activating Event, Belief, Consequence, Disputing, Effect), the therapy enables the reconstruction of more rational thought patterns, thereby enhancing both cognitive and affective components of self-concept. Notable improvements were also observed in the subject’s psychological hardiness, particularly in the areas of commitment, control, and challenge. These results suggest that REBT is a relevant therapeutic method for supporting individuals in overcoming relational trauma and developing a healthier, more positive sense of identity.Keywords: Rational Emotive Behavior Therapy, self-concept, lesbian, relational trauma, case study, psychological hardiness
Mengurai Moderasi Beragama dalam Perspektif Gender: Potensi dan Tantangan Aliyah, Himmah; Faizah, Farichah Naily
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak Vol 7, No 1 (2025)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/equalita.v7i1.18757

Abstract

Kasus radikalisme, ekstrimisme dan intoleransi masih marak terjadi di Indonesia. Radikalisme merupakan sebuah kenyataan yang muncul akibat kegagalan dalam mengatasi masalah-masalah yang ada bersamaan dengan modernitas. Seringkali gerakan modernisasi dianggap terlalu jauh dan tidak bisa dibendung dengan cara-cara moderat. Akibatnya lahirlah cara yang ekstrim ketika cara moderat tidak lagi mampu mengatasi masalah. Penelitian ini termasuk dalam kajian penelitian kualitatif yang akan memfokuskan tentang upaya dalam meredamkan kasus-kasus diskriminasi yang dialami kelompok minoritas dengan menggunakan metode kepustakaan. Bagaimana agama menilai potensi perempuan dalam konsep moderasi beragama yang dikenalkan Kementrian Agama baru-baru ini. Esensi moderasi agama harus melahirkan penghormatan kepada semua agama juga berdampak pada semua kelompok masyarakat termasuk perempuan. Berdasarkan penafsiran-penafsiran dan analisis yang moderat akan teks-teks agama yakni Al-Qur’an dan Hadist bahwa karakter dan nilai-nilai dari konsep moderasi beragama harus sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan yakni adil, toleransi dan musyawarah. Kaum perempuan memiliki peran dan potensi yang besar dalam mewujudkan masyarakat yang moderat seperti karakter yang tidak egosentris dan cenderung menolak kekerasan. Muslim yang moderat harus memiliki pemikiran yang luas dan terbuka, tidak menutup dan membatasi diri dari perbedaan. Mereka harus mampu beradaptasi, integrasi dan mengikuti perubahan terutama dorongan kesetaraan dan keadilan gender. Perempuan dan laki-laki memiliki peran dan tanggung jawab yang sama dalam upaya mewujudkan Indonesia yang menjunjung tinggi moderasi beragama.
Cara Didik Orang Tua terhadap Anak Laki-Laki dan Anak Perempuan Mulai Dari Aspek Fisik Hingga Mental pada Warga Pondok Ungu Permai Kabupaten Bekasi Rachman, Hasna Luthfiyah; Nabilah, Siti
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak Vol 7, No 1 (2025)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/equalita.v7i1.19505

Abstract

Hubungan antara orang tua dan anak merupakan sebuah fenomena sosiologi yang menarik. Keluarga merupakan sebuah institusi sosial yang paling pertama hadir dan dapat membentuk kepribadian seorang individu dalam berperilaku di masyarakat luas. Aspek fisik yang tumbuh sebagaimana mental anak terbentuk dapat dikaitkan dengan gizi, tempat tinggal, dan pola asuh kedua orang tua. Tentunya, perkembangan zaman turut menghadirkan ilmu-ilmu baru kepada para orang tua guna mendidik anak-anaknya. Dalam hal ini, tidak menutup kemungkinan adanya perbedaan mencolok antara cara didik terhadap anak yang memiliki kebutuhan berbeda, seperti pada anak laki-laki dan anak perempuan yang tentunya menjadi penting untuk melihat garis pemisah yang mendeskripsikan perbedaan krusial tersebut. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dan didukung dengan pendekatan kuantitatif melalui survei langsung berdasarkan pengisian kuesioner oleh warga sekitar, khususnya para orang tua yang memiliki anak laki-laki dan anak perempuan di wilayah terkait. Temuan atas penelitian ini menekankan pada pemahaman bagi seorang anak dalam melihat peran orang tuanya atas pembentukan kepribadian mereka sebagai aktor masyarakat, dimana orang tua maupun anak yang saling berkecimpung pada kelompok-kelompok sosial dapat menemukan kualitas yang setara.
Ekploitasi Buruh Perempuan pada Perusahaan Tekstil di Brebes Amalia, Tasya Diana; Musahwi, Musahwi; Farah, Naila
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak Vol 7, No 1 (2025)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/equalita.v7i1.21004

Abstract

Artikel ini mengkaji secara mendalam mengenai eksploitasi pada buruh perempuan yang bekerja di PT. X, Kabupaten Brebes dengan status pekerja tidak tetap. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam pada buruh yang masih aktif bekerja dan mantan buruh yang pernah bekerja di PT. X. Penelitian ini fokus pada pengalaman eksploitasi buruh perempuan selama bekerja. Selain wawancara mendalam, data dikumpulkan melalui observasi dan dokumentasi yang berhubungan dengan topik penelitian.  Hasil penelitian ini menunjukan bahwa buruh perempuan mengalami berbagai bentuk eksploitasi seperti jam kerja yang berlebihan, upah lembur yang tidak sesuai dengan regulasi, ketimpangan fasilitas kerja antar shift, jaminan sosial seperti BPJS yang tidak merata, status kerja yang tidak pasti sehingga buruh rentan mengalami pemutusan hubungan kerja secara sepihak dan juga kekerasan  simbolik melalui perkataan kasar. Kondisi ini memperlihatkan ketidakberdayaan buruh perempuan yang berstatus pekerja tidak tetap.
Perlindungan Hak-Hak Perempuan dan Anak Pascaperceraian Perspektif Hukum Islam dan Hukum Positif di Kabupaten Cirebon Leliya, Leliya; Mujahidin, Muhamad; Wildanuddin, Muhamad Dadan
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak Vol 7, No 1 (2025)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/equalita.v7i1.19968

Abstract

Perceraian yang terjadi dalam rumah tangga sering kali menimbulkan dampak yang kompleks, khususnya bagi perempuan dan anak mengenai hak-hak mereka yang berkaitan dengan nafkah, hak asuh, dan perlindungan fisik serta mental. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi kebijakan dan regulasi perlindungan hak-hak perempuan dan anak pascaperceraian di Kabupaten Cirebon, mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung maupun menghambatnya, serta menjelaskan dampak perceraian terhadap perlindungan hak-hak tersebut. . Penelitian menggunakan metode pendekatan kualitatif melalui wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan implementasi kebijakan dan regulasi perlindungan hak-hak perempuan dan anak pascaperceraian di Kabupaten Cirebon telah menunjukkan upaya yang signifikan, meskipun belum sepenuhnya efektif. Beberapa kebijakan dan peraturan telah diterapkan dengan adanya Peraturan Daerah Kabupaten Cirebon Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pemberdayaan dan Pelindungan Perempuan, namun pelaksanaannya masih terkendala oleh faktor-faktor pendukung dan penghambat. Faktor pendukung mencakup adanya undang-undang dan peraturan daerah, kesadaran masyarakat yang semakin meningkat terhadap hak-hak perempuan dan anak, serta sinergitas pemerintah daerah dan lembaga swadaya masyarakat. Namun, terdapat pula faktor penghambat, seperti budaya patriarki, kurangnya pemahaman hukum di kalangan masyarakat, serta kelemahan dalam sistem perlindungan sosial. Dampak perceraian terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Cirebon cukup signifikan, baik dari aspek psikologis, ekonomi, sosial, serta dampak terhadap anak yang sering kali menyebabkan ketidakpastian pemenuhan hak-hak dasar mereka, termasuk hak atas perlindungan, pendidikan, dan kesejahteraan. Hal ini menekankan pentingnya penguatan sistem perlindungan hukum untuk memastikan hak perempuan dan anak terlindungi secara optimal pascaperceraian.
A Comparative Study of Family Literacy Practices in Middle-Upper and Lower Socio-Economic Households in Cirebon, Indonesia Aisyiyah, Muhsiyana Nurul; Yanuar, Ivo Dinasta
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak Vol 7, No 1 (2025)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/equalita.v7i1.21111

Abstract

Family is the smallest scope but has a huge impact on a person's literacy development. This research aims to potray the literacy practices of families who come from two different SES categories, middle-upper SES and lower SES. This research used a qualitative descriptive research design. Data was collected by conducting semistructured interviews. The research results show that there are different patterns between literacy practices in families with -middle-upper SES and lower SES. Families from middle-upper SES provide a variety of reading books that can attract children's interest in reading, while families with lower SES have limitations in providing books. The literacy activities in the two categories are also quite different. Parents in the middle-upper SES category tend to prioritize interaction, meaning making, values, and reading culture through storytelling and shared reading habits. Meanwhile, parents from lower SES tend to prioritize formal literacy such as introducing letters, teaching spelling, and numbers. Furthermore, in families with middle-upper SES background, both fathers and mothers are actively involved in home literacy activities. Meanwhile, Meanwhile, in families with lower SES backgrounds, gaps in parental involvement in family literacy practices were found. Mothers take a greater role than fathers in providing children's literacy experiences.
Pernikahan Usia Muda sebagai Faktor Risiko dalam Ketahanan Ekonomi Keluarga Rahmah, Syifa Aulia; Achdiani, Yani
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak Vol 7, No 1 (2025)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/equalita.v7i1.20017

Abstract

Pernikahan pada usia muda masih menjadi permasalahan yang cukup umum terjadi di berbagai daerah Indonesia, terutama di lingkungan pedesaan dengan tingkat pendidikan dan pendapatan masyarakat yang rendah. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi pernikahan usia muda sebagai salah satu penyebab melemahnya ketahanan ekonomi dalam rumah tangga, dengan pendekatan kajian pustaka berdasarkan studi literatur. Hasil ini menunjukkan bahwa pernikahan dini membawa dampak serius terhadap kondisi ekonomi keluarga, ditandai dengan terbatasnya akses pendidikan, minimnya peluang pekerjaan yang layak, serta kurangnya keterampilan dalam mengelola keuangan keluarga. Pasangan muda juga rentan mengalami tekanan psikologis dan ketergantungan finansial terhadap keluarga besar. Selain itu, keterbatasan dalam mengakses bantuan sosial memperburuk ketahanan ekonomi mereka. Dalam jangka panjang, kondisi ini memperbesar risiko munculnya siklus kemiskinan antargenerasi. Studi ini merekomendasikan pentingnya peningkatan edukasi, pelatihan keterampilan hidup, serta kebijakan yang mendorong penundaan usia pernikahan sebagai langkah preventif. Kolaborasi antara keluarga, lembaga pendidikan, dan pemerintah sangat diperlukan dalam menciptakan sistem perlindungan dan pemberdayaan bagi remaja agar mampu mencapai kesiapan berumah tangga secara optimal, baik dari aspek psikologis maupun ekonomi.Kata Kunci: Pernikahan Muda; Ketahanan Ekonomi; Kesejahteraan Keluarga. Early-age marriage continues to be a significant social issue in many parts of Indonesia, particularly in rural communities with low levels of income and education. This study explores how early marriage contributes to weakened family economic stability by reviewing scientific literature published over the past five years. The analysis reveals that marrying young has a considerable negative impact on economic resilience. Contributing factors include limited educational attainment, lack of access to decent employment opportunities, and poor financial management skills. Young couples are also vulnerable to psychological stress and often remain financially dependent on their extended families. Furthermore, their inability to access formal social assistance worsens their household's financial condition. In the long term, these economic difficulties increase the risk of intergenerational poverty. This study recommends the importance of improving education, life skills training, and policies that promote delayed marriage as preventive measures. Cooperation among families, educational institutions, and government entities is necessary to establish systems that protect and empower youth so they can attain adequate readiness for marriage, both psychologically and economically.Keywords: Early-Age Marriage; Economic Resilience; Family Well-Being.

Page 1 of 1 | Total Record : 10