cover
Contact Name
Wahyu Andy Nugraha
Contact Email
jurnalkelautan@trunojoyo.ac.id
Phone
+6282234502425
Journal Mail Official
jurnalkelautan@trunojoyo.ac.id
Editorial Address
Jurusan Kelautan dan Perikanan, Universitas Trunojoyo Madura, Jl. Raya Telang PO. BOX 2 Kamal, Bangkalan, Jawa Timur, Indonesia 69162
Location
Kab. bangkalan,
Jawa timur
INDONESIA
Juvenil: Jurnal Ilmiah Kelautan dan Perikanan
ISSN : -     EISSN : 27237583     DOI : -
Juvenil: Journal of Marine and Fisheries Sciences, is a scientific journal in the field of marine and fisheries science published electronically and periodically four times a year by the Department of Marine Affairs and Fisheries, Trunojoyo University, Madura. This journal aim to become a medium of dissemination of high quality research and scientific note in the fiend of marine and fisheries. This journal can be accessed and downloaded freely for everyone. The article published in this journal have been pass the rigorious peer review by the expert reviewer. This journal accept every article that contain the following, but not limited to, scope: Juvenil: Journal of Marine and Fisheries Sciences, is a scientific journal in the field of marine and fisheries science published electronically and periodically four times a year by the Department of Marine Affairs and Fisheries, Trunojoyo University, Madura. This journal is expected to function as a medium for the dissemination of quality scientific research results as well as scientific rebuttal (notes) in the marine and fisheries sector which can be accessed online and free of charge by the Indonesian community and the international community. The articles (articles) published in this journal are articles that have passed peer-review (partner bebestari). This journal accepts every article which contains, but is not limited to, the scope: 1. Ecology and biology of marine and fisheries 2. Marine and Aquaculture 3. Marine and Aquatic Conservation 4. Marine Water Pollution 5. Management of marine and aquatic resources 6. Marine and fishery processing technology
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1: Februari (2023)" : 8 Documents clear
Pengaruh Penambahan Bayam Hijau (Amaranthus tricolor L.) Terhadap Kualitas Gizi Dimsum Ikan Patin (Pangasius sp.) Surjana Falah AS; Aryani Aryani; Ida Ratnasari
Juvenil Vol 4, No 1: Februari (2023)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v4i1.19025

Abstract

ABSTRAKDiversifikasi atau penganekaragaman produk olahan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan daya terima konsumen. Salah satu alternatif diversifikasi produk olahan hasil perikanan adalah dimsum ikan. Masyarakat Indonesia banyak yang menyukai dimsum karena memiliki rasa yang enak, harga yang murah, selain itu cara pengolahan dimsum tergolong mudah serta penyajiannya praktis. Berdasarkan hal tersebut, maka akan dicoba membuat dimsum ikan patin (Pangasius sp.) dengan penambahan bayam hijau (Amaranthus tricolor L.) untuk meningkatkan kualitas gizi pada dimsum ikan. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan bayam hijau (Amaranthus tricolor L.) terhadap kualitas gizi dimsum ikan patin (Pangasius sp.) melalui uji kimia dan uji organoleptik. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 taraf perlakuan yaitu A (tanpa bayam hijau), perlakuan B (25 g bayam hijau), perlakuan C (50 g bayan hijau), perlakuan D (75 g bayam hijau). Parameter yang diuji yaitu analisis kimia (uji air, abu, protein, lemak, karbohidrat dan zat besi) yang dilaksanakan di Laboratorium Nutrisi Ikan Institut Pertanian Bogor. Hasil penelitian berdasarkan metode indeks efektivitas perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan dimsum ikan patin dengan penambahan 75 g bayam hijau (Amaranthus tricolor L.).Kata Kunci : Bayam hijau, dimsum, ikan patin ABSTRACTDiversification of processed products is one of the efforts to increase consumer acceptance. One of the alternative diversification of processed fishery products is fish dimsum. Many Indonesian people like dimsum because it tastes good, the price is cheap, besides that the way to process dimsum is relatively easy and the presentation is practical. Based on this, will try to make catfish dimsum (Pangasius sp.) with the addition of geen spinach (Amaranthus tricolor L.) to increase the nutritional quality of fish dimsum. The objective of this research was to determine the effect of adding geen spinach (Amaranthus tricolor L.) to the nutritional quality of catfish (Pangasius sp.) dim sum through chemical tests and organoleptic tests. This study used a completely randomized design (CRD) which consisted of 4 treatment levels, namely A (without geen spinach), treatment B (25 g geen spinach), treatment C (50 g geen spinach), treatment D (75 g geen spinach). The parameters tested were chemical analysis (water test, ash, protein, fat, carbohydrates and iron) which was carried out at the Fish Nutrition Laboratory, Bogor Agicultural University. The results of the study based on the best treatment effectiveness index method were found in the catfish dimsum treatment with the addition of 75 g of geen spinach (Amaranthus tricolor L.).Keywords: Green spinach, dimsum, catfish
Karakteristik Kimia (Kadar Air, TVB-N, dan Protein) pada Produk Perikanan di BPMHP Semarang Cindera Nur Hayati; Hafiludin Hafiludin
Juvenil Vol 4, No 1: Februari (2023)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v4i1.17389

Abstract

ABSTRAKProduk perikanan merupakan salah satu bahan pangan yang mudah rusak (Perishable food), karena memiliki kandungan protein dan air yang tinggi sehingga dapat menjadi media yang baik untuk pertumbuhan mikroba apabila tidak dilakukan penanganan dengan benar. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Pengujian Mutu Hasil Perikanan (BPMHP) Semarang dari tanggal 5 Januari – 5 Februari 2022 dengan tujuan menentukan karakteristik mutu kimiawi pada produk hasil perikanan berupa ikan asin, cumi-cumi beku, tepung ikan, udang vannamei beku dan rajungan kaleng beku. Parameter uji yang dilakukan terdiri atas uji kadar air pada cumi-cumi beku, ikan asin, dan tepung ikan, uji kadar TVB-N pada rajungan kaleng beku dan tepung ikan serta uji kadar protein pada udang vannamei beku, ikan asin, dan tepung ikan. Hasil penelitian menunjukan rata-rata kadar air pada ikan asin sebesar 23,68 ± 0,063%, pada cumi-cumi beku sebesar 81,89 ± 0,668%, dan pada tepung ikan sebesar 7,34 ± 0,061%. Rata-rata kadar TVB-N pada rajungan kaleng beku sebesar 29,18 ± 1,446 mgN/100g dan pada tepung ikan sebesar 134,43 ± 6,658 mgN/100g. Hasil uji protein mendapatkan rata-rata pada sampel ikan asin sebesar 36,71 ± 1,733%, pada udang vannamei beku sebesar 18,13 ± 0,134%, dan pada tepung ikan sebesar 58,37 ± 1,23%.Kata kunci: Produk perikanan, Kadar air, Kadar TVB-N, Kadar protein.ABSTRACTFishery products are one of the foodstuffs that are easily damaged because they have high protein and water content, so they can be a good medium for microbial growth if not handled properly. This research was conducted at the Fisheries Product Quality Testing Center (BPMHP) Semarang from January 5 to February 5, 2022. The aim of the research was determined chemical quality characteristicswith of fishery products in the form of salted fish, frozen squid, fish flour, frozen shrimp and frozen canned crab. The test parameters consisted of testing the water content of frozen squid, salted fish, and fish flour, the content of TVB-N on frozen canned crab and fish flour, and the protein content of frozen shrimp, salted fish, and fish flour. The results showed that the average water content in salted fish was 23,68 ± 0,063%, the frozen squid was 81,89 ± 0,668%, and the fish flour was 7,34 ± 0,061%. The average TVB-N content in frozen canned crab was 29,18 ± 1,446 mgN/100g and in fish flour was 134,43 ± 6,658 mgN/100g. The protein test results obtained an average of 36,71 ± 1,733% for salted fish, 18,13 ± 0,134% for frozen shrimp, and 58,37 ± 1,23% for fish flour. Key words: Fisheries product, Moisture content, TVB-N Content, Protein content.
Fermentasi Bahan Baku Nabati Pakan dengan Cairan Rumen Sapi dalam Meningkatkan Pertumbuhan Ikan Mas (Cyprinus carpio) Muhammad Safir; Novalina Serdiati; Aswad Eka Putra; Yesaya Warisyu
Juvenil Vol 4, No 1: Februari (2023)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v4i1.18792

Abstract

ABSTRAKIkan mas adalah salah satu ikan air tawar yang bersifat herbivor. Pakan sebagai sumber nutrien dalam pembesaran ikan mas umumnya terbuat dari beberapa campuran bahan baku nabati. Penggunaan bahan baku nabati tanpa pengolahan dapat menurunkan pertumbuhan ikan karena kandungan serat dan zat antinutrisnya yang relatif tinggi. Cairan rumen sapi merupakan salah satu bahan kaya akan enzim dan mikroorganisme yang berperan dalam menurunkan serat kasar dan zat antinutrisi pada bahan nabati pakan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis cairan rumen sapi yang tepat sebagai bahan fermentasi pada seluruh bahan nabati pakan dalam meningkatkan pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan mas. Penelitian didesain menggunakan rancangan acak lengkap. Perlakuan yang diujikan yakni dosis penggunaan cairan rumen sapi (0%, 25%, 50% dan 75% dari bobot bahan nabati pakan). Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan cairan rumen sapi sebagai bahan fermentasi bahan nabati dalam pembuatan pakan memberikan pengaruh nyata (p0,05) terhadap laju pertumbuhan spesifik harian (LSPH), pertambahan bobot individu (PBI), rasio konversi pakan (RKP). LSPH dan PBI tertinggi serta RKP terendah diperoleh pada perlakuan dosis cairan rumen sapi 75% per bobot sampel bahan nabati yakni secara berurut sebesar 2,87 % hari-1, 1,18 g dan 1,77. Kelangsungan hidup selama pemeliharaan untuk semua perlakuan berkisar antara 66,67-80,0%. Kualitas air selama pemeliharaan meliputi pH (5,8-8,1), suhu (28-30 ºC), oksigen terlarut (5,0-6,8 ppm), dan amonia  (0,05-0,01 ppm) masih dalam kategori sesuai untuk pemeliharaan benih ikan mas. Dosis penggunaan cairan rumen sapi sebagai bahan fermentasi bahan baku nabati pakan yang memberikan nilai terbaik diperoleh pada perlakuan D (75% cairan rumen sapi).Kata Kunci: Bahan baku pakan, Kelangsungan hidup, Rasio konversi pakanABSTRACTThe carp (Cyprinus carpio) is a herbivorous freshwater fish. Feed as a source of nutrients in carp grow-out is generally made from a mixture of plant-based ingredients. The use of unprocessed plant materials can inhibit fish growth due to the relatively high fiber and anti-nutrient content. Bovine rumen fluid is rich in enzymes and microorganisms that can reduce crude fiber and anti-nutrient content in plant-based feed ingredients. This study aimed to determine the best dose of bovine rumen fluid used as a plant-based feed ingredient fermentation agent in terms of improving the growth and survival of carp fry. The study used a complete randomized design. The treatments trialed were various doses of bovine rumen fluid (0%, 25%, 50% and 75% of plant-based feed ingredients by weight). The results showed that using bovine rumen liquid to induce fermentation of plant-based feed ingredients during feed manufacturing had a significant effect (p0.05) on specific growth rate (SGR), individual weight gain (IWG), and feed conversion ratio (FCR). The highest SGR and IWG and the lowest FCR (2.87% day-1, 1.18 g and 1.77, respectively) were obtained under the bovine rumen fluid dose of 75% plant-based ingredient weight. Across all treatments, survival rate during the study period ranged from 66.67-80.0%. Water quality remained within suitable ranges for carp fry rearing, as follows: pH (5.8-8.1), temperature (28-30ºC), dissolved oxygen (5.0-6.8 ppm), and ammonia (0.05-0.01 ppm). The dosage of bovine rumen fluid that provided the best results when used as a fermentation agent for plant-based ingredients in carp fry feed was treatment D (75% bovine rumen fluid by weight).Key words: Feed ingredients, Survival, Feed conversion ratio.
Potensi Ko-Kultur (Caulerpa lentillifera) dan Udang Windu (Penaeus monodon) di Tambak Tradisional Air Payau Jumiati Jumiati; Nanang Maulana; Heriansah Heriansah; Imran Lapong; Arnold Kabangnga
Juvenil Vol 4, No 1: Februari (2023)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v4i1.18563

Abstract

ABSTRAKKeberhasilan pertumbuhan anggur laut Caulerpa lentillifera yang dikultur bersama dengan udang windu ditentukan oleh posisi yang tepat untuk menerima nutrien secara maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pertumbuhan anggur laut dan udang windu pada posisi tanam di dasar dan lepas dasar di dalam tambak tradisional masing-masing dengan 10 ulangan.. Hapa berukuran 1x1 m dan nampan 25x25 cm digunakan untuk memelihara kedua spesies ini. Selama masa pemeliharaan 35 hari, udang windu tidak diberi pakan buatan untuk mempertahankan tipikal tambak tradisional sebagai pemasok bahan pangan organik. Uji t independen mengindikasikan Laju Pertumbuhan Spesifik (LPS) anggur laut dan udang windu di dasar tambak (1,98 ± 0,32% dan 3,68±0,11% per hari) secara signifikan (p0.05) lebih tinggi dibandingkan lepas dasar (1,59±0,29% dan 3,50±0,31% per hari). Sementara itu, Efisiensi Reduksi Nutrien (ERN) dari Total Amonia Nitrogen (TAN) sebesar 38,53±4,48% yang mengindikasikan kemampuan C. lentillifera menyerap bahan anorganik. Studi menyimpulkan bahwa ko-kultur C. lentillifera dan udang windu memiliki efek sinergitas yang positif dan dapat dikembangkan di tambak tradisional. Untuk hasil yang lebih baik, disarankan C. lentillifera ditanam pada dasar tambak dan dikultur bersama dengan udang windu.Kata Kunci: anggur laut, ko-kultur, pertumbuhan, tambak tradisional, udang winduABSTRACTThe successful growth of sea grapes Caulerpa lentillifera co-cultured with tiger prawns is determined by the appropriate position to absorb maximum nutrients. This study aims to evaluate the growth of sea grapes and tiger shrimp in bottom and off-bottom planting position in traditional ponds with 10 replicates each.  Hapa 1x1 m and trays of 25x25 cm were used to rear these two species. During the 35-day rearing period, tiger shrimp were not artificially fed to maintain traditional ponds typical of organic food suppliers. The independent t-test indicated that the Specific Growth Rate (SGR) of sea grapes and tiger prawns at the bottom (1.98 ± 0.32% and 3.68 ± 0.11% day-1) were significantly (p0.05) higher than off the bottom (1.59±0.29% and 3.50±0.31% day-1). Meanwhile, the Nutrient Reduction Efficiency (ERN) of Total Ammonia Nitrogen (TAN) was 38.53 ± 4.48%, which indicated the ability of C. lentillifera to absorb inorganic materials. The study concluded that the co-culture of C. lentillifera and tiger shrimp had a positive synergistic effect and could be developed in traditional ponds. For better results, it is recommended to plant C. lentillifera at the bottom of the pond and co-culture with tiger shrimp.Keywords: co-culture, growth, tiger prawns, sea grapes, traditional pond
Efektifitas Jenis Tanaman Berbeda Terhadap Kualitas Air Media Budidaya Udang Galah (Macrobranchium rosenbergii de Man 1879) Sistem Akuaponik Gamal M Samadan; Aras Syazili; Muhammad Nur Findra; Supyan Supyan; Yuli Dwi Wijayanti
Juvenil Vol 4, No 1: Februari (2023)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v4i1.18503

Abstract

ABSTRAK                                                           Telah dilakukan penelitian tentang peranan tanaman sebagai biofilter untuk menjaga kualitas air media. Penelitian ini dilakukan dengan beberapa rangkaian kerja yang dimulai pada bulan Juni - Agustus 2022 di UPT Laboratorium Terpadu Unkhair Kota Ternate. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri 3 perlakuan dan 3 ulangan selama 60 hari. Pengukuran dilakukan terhadap suhu, salinitas, DO dan pH, amoniak, nitrat dan nitrit pada setiap minggu. Estimasi dilakukan terhadap efektifitas biofilter tanaman terhadap ammonia (N) dan fosfor (P) pada setiap perlakuan, pertumbuhan mutlak dan sintasan (SR) udang galah dan dianalisis menggunakan ANOVA dengan uji F pada taraf kepercayaan 95%. Uji Fisher (LSD) dilakukan apabila perlakuan berpengaruh nyata terhadap peubah yang diukur (P0.05). Hasil analisis memperlihatkan bahwa ketiga perlakuan tanaman tidak berbeda dalam menyerap N dari limbah budidaya udang galah. Sedangkan untuk penyerapan P dari ketiga perlakuan, jenis pakcoy menyerap paling efektif (0.725 mgL-1) dibandingkan dengan tanaman seledrei (0.540mgL-1) dan selada (0.186 mgL-1) (P0,05). Selain itu pula, konsentrasi ammonia selama penelitian cenderung menurun. Pertumbuhan mutlak dan laju pertumbuhan spesifik pada ketiga perlakuan tidak signifikan berpengaruh (P0,05), sedangkan sintasannya signifikan berpengaruh (P0,05). Meskipun demikian, ketiga tanaman dapat digunakan sebagai biofilter dalam system akuaponik.Kata kunci: Biofilter, tanaman, akuaponik, limbah, udang galahABSTRACTIt has been studied how plants can act as biofilters to preserve the standard of media water. The UPT Unkhair Integrated Laboratory in Ternate City will be the site of this research, with work series beginning in June 2022 and lasting through August 2022. Three treatments and three replications were used in this study's completely randomized design (CRD), which lasted for 60 days. Temperature, salinity, DO and pH, ammonia, nitrate, and nitrite were all measured on a weekly basis. ANOVA with the F test and a 95% confidence level were used to estimate the efficiency of the plant biofilter against ammonia (N) and phosphorus (P) in each treatment, absolute growth, and survival (SR) of gigantic prawns. When the treatment had a significant impact on the measured variables (P0.05), Fisher's test (LSD) was applied. The analysis's findings demonstrated that N absorption from the giant prawn industry's waste did not differ between the three plant treatments. Regarding the three treatments' P absorption, pakchoi (0.725 mgL-1) absorbed P more efficiently than celery (0.540 mgL-1) and lettuce (0.186 mgL-1) (P0.05). Additionally, there was a tendency for the study's ammonia concentration to decline. Survival had a significant influence (P0.05), although the absolute growth and specific growth rates of the three treatments did not (P0.05). However, all three plants can be utilized in aquaponic systems as biofilters.Keyword: Biofilter, plants, aquaponics, waste, giant prawns
Pemeliharaan Benih Kakap Putih (Lates calcalifer, Bolch) Di Tambak Dengan Kepadatan Tebar Berbeda Maya Maiyana; Silfester Silfester; Herno Minjoyo; Suciantoro Suciantoro
Juvenil Vol 4, No 1: Februari (2023)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v4i1.17165

Abstract

ABSTRAKPembibitan di tambak air laut merupakan salah satu cara budidaya untuk pembibitan benih. Percobaan dengan sistem ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas benih tambak dengan meningkatkan daya dukung dan menstabilkan produksi benih ikan. Pembibitan dilakukan dengan jaring atau happa berukuran (1 x 1 x 1,2 m3) yang dipasang pada keramba jaring apung di tambak. Terdapat 3 padat tebar yaitu perlakuan A dengan 250 ekor/m3, perlakuan B 500 ekor/mᶾ, dan perlakuan C 750 ekor/mᶾ. Ukuran awal benih untuk semua perlakuan adalah 4-5 cm dan dibudidayakan selama satu bulan. Hasil penelitian menunjukkan dengan padat penebaran dalam jaring adalah 250 ekor/mᶾ, 500 ekor/mᶾ dan 750 ekor/mᶾ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup dan tingkat pertumbuhan perlakuan A masing-masing sebesar 77,46% dan 6,02% lb/h lebih baik dibandingkan perlakuan B dan C. Sedangkan tingkat kelangsungan hidup dan tingkat pertumbuhan perlakuan B dan C tidak berbeda nyata. berbeda yaitu berturut-turut 61,70% dan 5,47 lb/hari, 54,3% dan 5,50 lb/hari. Sedangkan padat tebar yang berbeda mempengaruhi pertumbuhan berat mutlak dan panjang benih, kelangsungan hidup, FCR dan SGR.Kata kunci: Pembibitan, tambak, keramba jaring apung, padat tebarABSTRACTNursery seed in the sea water pond is a one of cultivation method for culturing seed. The aim of experimenting with the system was to increase seed productivity of ponds by increasing carrying capacity and stabilizing fish seed production. Nursery was done by jaring or happa sized (1 x 1 x 1.2 m3), which was installed on floating cage in the pond. There were 3 stocking density as treatmen A with 250 fishes/m3, treatmen B 500 fishes/mᶾ, and treatmen C 750 fishes/mᶾ. Initial seed size for all treatmens is 4-5 cm and was culturing for one month. The result showed with stocking density in jaring is 250 fishes/mᶾ, 500 fishes/mᶾ and 750 fishes/mᶾ. The results showed that survival rate and growth rate of treatmen A which were respectively as much as 77,46% and 6.02% lb/d was better than treatment B and C. Meanwhile survival rate and growth rate for treatmen B and C was not significantly different, which consecutively were 61,70% and 5,47 lb/day, 54,3% and 5,50 lb/day. Where as different stocking densities affect the growth of absolute weight and length of seeds, survival, FCR and SGR.Keywords: Nursery, pond, floating net cage, stocking density
Pola Pertumbuhan dan Faktor Kondisi Udang Merah (Parhippolyte uveae) di Perairan Rawa Kawasan Pantai Koguna Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara Muhammad Yusuf Afara; La Sara La Sara; Halili Halili; Muhammad Nur Findra
Juvenil Vol 4, No 1: Februari (2023)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v4i1.18815

Abstract

ABSTRAKRawa udang merah (Parhippolyte uveae) berada di Desa Mopaano, Kecamatan Lasalimu Selatan, Kabupaten Buton dan merupakan salah satu destinasi wisata yang unik karena terdapat organisme udang merah yang tidak seperti udang pada umumnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pola pertumbuhan dan faktor kondisi udang merah di perairan rawa kawasan Pantai Koguna Kabupaten Buton. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober sampai Desember 2021. Metode penelitian yang digunakan adalah metode purposive sampling berdasarkan keberadaan udang merah. Pengambilan sampel udang merah dilakukan pada 3 kelompok pengamatan. Pengambilan sampel dilakukan pada setiap kelompok dengan alat tangkap waring. Udang yang ditemukan dihitung jumlahnya, diukur panjang karapasnya menggunakan kaliper dengan ketelitian 0,01 mm, dan ditimbang bobot tubuhnya menggunakan timbangan digital dengan ketelitian 0,01 gram. Selanjutnya dilakukan analisis untuk mengamati pola pertumbuhan dan faktor kondisinya. Hasil analisis hubungan panjang karapas dengan berat udang merah memiliki nilai konstanta b3 pada ketiga kelompok pengamatan yang menunjukkan pola pertumbuhannya bersifat allometrik negatif. Faktor kondisi menunjukkan bahwa kelompok pengamatan 1 memiliki nilai yang lebih rendah dibandingkan kelompok pengamatan lainnya. Nilai faktor kondisi yang rendah diduga kuat berkaitan dengan ketersediaan makanan, reproduksi, dan faktor lingkungan.Kata Kunci: faktor kondisi, hubungan panjang-berat, Parhippolyte uveae, Pantai Koguna, pola pertumbuhan,ABSTRACTThe red shrimp (Parhippolyte uveae) swamp is located in Mopaano Village, Lasalimu Selatan District, Buton Regency and is a unique tourist destination because there are red shrimp organisms that are not like shrimp in general. The purpose of this study was to determine growth patterns and condition factors of the shrimp ) in swamp waters at Koguna Beach area, Buton Regency. The research was carried out from October to December 2021. The research method was a purposive sampling based on the presence of red shrimp. Sampling was carried out in 3 observation groups. Sampling was carried out in each group by fishing nets. The number of shrimp found was counted, their carapace length was measured using calipers with an accuracy of 0.01 mm, and their body weight was weighed using a digital scale with an accuracy of 0.01 gram. Then an analysis was carried out to observe growth patterns and codification factors. The results of the relationship between carapace length and weight analysis showed a constant value was b3 in the three observation groups which indicated that the growth pattern was negative allometric. The condition factors show that the observation group 1 shows a lower value than the others. It is strongly suspected to be related to food availability, reproduction and environmental factors.Keywords: condition factors, growth patterns, length-weight relationship, Koguna Beach, Parhippolyte uveae.
Aplikasi ‘Propack” Menunjang Tingkat Kelulusan Hidup Benih Ikan Nila (Oreochromis Niloticus) Pada Sistem Transportasi Tertutup Suratno Suratno; Andy Artha Donny Oktopura; Dedi Fazriansyah Putra; Sutikno Sutikno
Juvenil Vol 4, No 1: Februari (2023)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v4i1.17310

Abstract

ABSTRAK Salah satu faktor penentu keberhasilan produksi Budidaya perikanan adalah suksesnya proses transportasi pengiriman ikan dari produsen ikan ke konsumen. Salah satu resiko terbesar dalam sistem transportasi ikan adalah terjadinya stres dan kematian sehingga dapat mengakibatkan kerugian secara ekonomi. Sistem transportasi benih ikan harus mempertimbangkan lama perjalanan, biaya dan keselamatan sampai di tempat tujuan. Resiko kematian ikan dalam transportasi benih dapat merugikan pihak produsen benih dan konsumen. Dalam kajian ini, kami telah melakukan ujicoba dan pengembangan penggunaan bahan kimia racikan sendiri dengan nama ‘propack’ untuk menjaga menjaga kualitas air tetap ideal sehingga ikan saat ditransportasikan dalam kantong plastik tidak mengalami stres dan kematian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan tablet ‘Propack’ terhadap tingkat kelulushidupan benih yang ditransportasikan dalam waktu tertentu. Objek penelitian ini menggunakan ikan nila (Oreochromis niloticus) ukuran 3-5 cm. Rancangan Percobaan menggunakan 4 perlakuan dan 5 ulangan sebagai berikut P0 adalah media air hanya oksigen tanpa penambahan tablet” Propack”, sedangkan pada P1 media air dengan oksigen ditambahkan propack sebanyak 40 ppm, P2 media air dengan oksigen ditambahkan propack sebanyak 60 ppm, P3 media air dengan oksigen ditambahkan propack sebanyak 80 ppm. Hasil menunjukkan bahwa kualitas ikan setelah 12 jam perjalanan menunjukkan berbeda nyata dengan antara perlakuan P0 dan P1, P2 dan P3. Pada saat 21 jam P0 mengalami banyak kematian benih sedangkan P1, P2 dan P3 masih bertahan dan sedikit mengalami kematian ikan. Setelah 30 jam dilakukan perhitungan tingkat hidup benih menghasilkan P0(2%), P1(80,6%), P2(81,8%), dan P3(77,6%). Tingkat hidup benih kemudian diuji Anova taraf signifikasi 5% dihasilkan bahwa perlakuan P1, P2 dan P3 berbeda nyata dengan perlakuan P0. Dapat disimpulkan bahwa perlakuan pemberian bahan tablet ‘propack’ dengan dosis 40-60 ppm memberikan hasil tertinggi untuk tingkat hidup benih ikan nila yaitu 80,6% dan 81,8%. Berdasarkan hasil temuan ini, aplikasi tablet ‘propack’ terhadap media air ikan saat transportasi menjadi temuan baru yang bermanfaat dalam proses transportasi ikan nila (Oreochromis niloticus). Kata kunci: Transportasi, nila, propack, oksigen ABSTRACTOne of the determining factors for the success of aquaculture production is the successful process of transporting fish from fish producers to consumers. One of the biggest risks in the fish transportation system is the occurrence of stress and death which can result in economic losses. The fish seed transportation system must consider the length of the trip, costs and safety to the destination. The risk of fish mortality in seed transportation can be detrimental to both seed producers and consumers. In this study, we have conducted trials and developed the use of a self-concocted chemical called 'Propack' to maintain ideal water quality so that when fish are transported in plastic bags, they do not experience stress and death. The purpose of this study was to determine the effect of the addition of 'Propack' tablets on the survival rate of seeds transported at a certain time.The object of this study used tilapia (Oreochromis niloticus) with a size of 3-5 cm. The experiment used 4 treatments and 5 repetitions as follows: P0 is water media with only supplemental oxygen "Propack" tablets, while P1 water media with oxygen is added 40 ppm Propack, P2 water media with oxygen added 60 ppm propack, P3 water media with oxygen 80 ppm of oxygen was added by propack. The results showed that the quality of fish after 12 hours of travel was significantly different from that between treatments P0 and P1, P2 and P3. At 21 hours P0 experienced a lot of death of the fry while P1, P2 and P3 still survived and experienced a few fish deaths. After 30 hours, the survival rate of the seeds was calculated to produce P0(2%), P1(80,6%), P2(81,8%), and P3(77,6%). The seed level was then tested for a 5% ANOVA level of significance which resulted that the P1, P2 and P3 treatments were significantly different from the P0 treatments. It can be said that the administration of the 'propack' tablet material at a dose of 40-60 ppm gave the highest results for the survival rate of tilapia fish, namely 80.6% and 81.8%, respectively. Based on these findings, the application of 'propack' tablets to fish water media during transportation is a new finding that is useful in the transportation process of tilapia (Oreochromis niloticus).Keywords: Transportation, tilapia, propack, oxygen

Page 1 of 1 | Total Record : 8