cover
Contact Name
Ekasatya Aldila Afriansyah
Contact Email
ekafrian@gmail.com
Phone
+628979550972
Journal Mail Official
mosharafajournal@institutpendidikan.ac.id
Editorial Address
Gedung B, Lantai 2, Program Studi Pendidikan Matematika Institut Pendidikan Indonesia (IPI) Garut Jalan Pahlawan No. 32 Sukagalih, Garut, Jawa Barat
Location
Kab. garut,
Jawa barat
INDONESIA
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika
ISSN : 20864280     EISSN : 25278827     DOI : https://doi.org/10.31980/mosharafa
Core Subject : Education,
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika (p-ISSN: 2086-4280 & e-ISSN: 2527-8827) mempublikasikan artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang pendidikan matematika yang belum pernah dipublikasikan. Penulis dapat berasal dari berbagai level, seperti mahasiswa (S1, S2, S3), guru, dosen, praktisi, maupun pemerhati pendidikan matematika. Mosharafa terbit tiga kali dalam satu tahun, yaitu pada bulan Januari, Mei, dan September. Penerbit Mosharafa adalah Program Studi Pendidikan Matematika Institut Pendidikan Indonesia.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 966 Documents
STUDENT’S METACOGNITION: DO INTRAPERSONAL INTELLIGENT MAKE ANY DIFFERENCE? Nur Rokhima; Harina Fitriyani
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1369.522 KB) | DOI: 10.31980/mosharafa.v7i2.36

Abstract

AbstrakMetakognisi adalah kesadaran seseorang tentang proses berpikirnya untuk merencanakan, mengamati, dan mengevaluasi. Selain itu, kecerdasan siswa memiliki peran penting untuk menyelesaikan masalah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses metakognitif siswa dalam rangka menyelesaikan masalah matematika yang ditinjau dari kecerdasan intrapersonal mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Subyek ini terdiri dari tiga jenis siswa yang memiliki kecerdasan intrapersonal tinggi, rata-rata, dan rendah. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner, tes pemecahan masalah matematika (TPMM) dan wawancara. Data dianalisis dengan menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek yang memiliki kecerdasan intrapersonal tinggi dalam menyelesaikan masalah matematika melakukan perencanaan, pengamatan, dan evaluasi kegiatan di setiap tahap polya. Subyek intelijen interpersonal rata-rata berada di tahap memahami masalah, mengatur dan menerapkan rencana pemecahan masalah. Mereka telah melakukan semua kegiatan metakognitif, tetapi tidak melakukan perencanaan, mengamati, dan mengevaluasi kegiatan di tahap crosschecking. Subjek kecerdasan intrapersonal rendah berada di tahap memahami masalah, perencanaan, pengamatan, dan evaluasi. Namun, dalam mengatur penyelesaian masalah, mereka hanya melakukan perencanaan dan pengamatan tanpa mengevaluasi. Dalam tahap menerapkan rencana pemecahan masalah, mereka hanya melakukan perencanaan tanpa mengamati dan mengevaluasi. Selain itu, mereka tidak melakukan kegiatan metakognitif dalam tahap evaluasi. AbstractMetacognition is the awareness of someone about his thinking process in order to plan, observe, and evaluate. Besides, the student’s intelligence has an important role to accomplish the problem. The objective of this research is to know the students’ metacognitive process in order to accomplish mathematic problem reviewed from their intrapersonal intelligence. This research used descriptive qualitative approach. The subject consists of three kinds of students who have high, average, and low intrapersonal intelligence. The instruments are questionnaire, mathematic problem solving test (TPMM) and interview. The data were analyzed by using reduction of data, presentation of data, and conclusion. The result showed that the subject who has high intrapersonal intelligence in accomplishing the mathematic problem did planning, observing, and evaluating activities in every polya stage. The average interpersonal intelligence subject was in the stage of understanding the problem, arranging and implementing the problem solving plan. They had done all metacognitive activities, but did not do planning, observing, and evaluating activities in the crosschecking stage. The low intrapersonal intelligence subject was in the stage of understanding the problem, planning, observing, and evaluating. However, in arranging the problem solving, they only did planning and observing without evaluating. In the stage of implementing the problem solving plan, they only did the planning without observing and evaluating. In addition, they did not do metacognitive activities in the evaluation stage.
Perbedaan Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa antara Think Pair Share dan Think Talk Write Hilmi Ramdayani Fauziah Nur Hanifah; Reni Nuraeni
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.434 KB) | DOI: 10.31980/mosharafa.v9i1.632

Abstract

AbstrakPerlu adanya upaya guru untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa, karena fakta di lapangan menunjukkan rendahnya kemampuan matematis siswa tersebut. Salah satunya penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share dan Think Talk Write. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis perbedaan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa antara yang mendapatkan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share dan Think Talk Write. Metode penelitiannya adalah kuasi eksperimen. Populasi penelitian yaitu seluruh siswa kelas VII MTs Negeri 1 Garut, dengan sampel sebanyak dua kelas yang terdiri dari 46 siswa. Instrumen penelitian yang digunakan berupa tes uraian. Analisis data diawali dengan uji gain ternormalisasi, uji normalitas data gain ternormalisasi, kemudian uji Mann Whitney. Berdasarkan hasil analisis secara statistik diperoleh kesimpulan bahwa terdapat perbedaan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa antara yang mendapatkan model pembelajaran Think Pair Share dan Think Talk Write. The Differences in Improving Students of Mathematical Problem Solving Ability Between Think Pair Share and Think Talk Write AbstractTeachers need help to improve students 'mathematical problem-solving skills because the facts in the field show the students' low mathematical ability. One of them is the use of Think Pair Share and Think Talk Write cooperative learning models. This research was conducted to analyze the differences in the improvement of students' problem-solving skills between those who get the cooperative learning model Think Pair Share and Think Talk Write types. The research method is quasi-experiment. The study population was all grade VII students of MTs Negeri 1 Garut, with a sample of two classes consisting of 46 students. The research instrument used was a description test. Data analysis begins with the normalized gain test, the normalized normality gain data test, then the Mann Whitney test. Based on the analysis results obtained from the research results obtained from the comparison between students' mathematical problem solving between those who get the Think Pair Share learning model and Think Talk Write.
PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS DISCOVERY LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH SISWA KELAS VIII SMP Rahmiati Rahmiati; Edwin Musdi; Ahmad Fauzi
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.197 KB) | DOI: 10.31980/mosharafa.v6i2.314

Abstract

AbstrakSalah satu tujuan pembelajaran matematika yang harus dikuasai siswa adalah kemampuan pemecahan masalah. Namun kenyataannya dilapangan siswa masih kesulitan dalam menyelesaikan masalah matematika, khususnya pada materi bangun ruang sisi datar. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan perangkat pembelajaran matematika berbasis discovery learning yang valid, praktis dan efektif dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. Model pengembangan yang digunakan adalah model Plomp. Model ini dilakukan dalam 3 tahap. Pada tahap pertama adalah fase investigasi awal (preliminary research) dilakukan analisis kebutuhan, analisis kurikulum, analisis siswa dan analisis konsep. Pada tahap kedua adalah fase pengembangan atau pembuatan prototipe (development or prototyping phase) yang didesain sesuai dengan model discovery learning dilakukan evaluasi sendiri, validasi pakar/ahli, evaluasi satu-satu, evaluasi kelompok kecil. Pada tahap ketiga adalah fase penilaian (assessment phase) bertujuan untuk melihat keefektivan perangkat pembelajaran dengan melakukan uji lapangan kelompok besar di kelas VIII MTsN 1 Bukittinggi. Agar menghasilkan perangkat pembelajaran matematika berbasis discovery learning yang valid, praktis, dan efektif.Kata Kunci: Perangkat Pembelajaran, Discovery Learning, Model Plomp.AbstractOne of the goals of learning mathematics that must be mastered by students is the ability problem-solving. But the reality in the field of students is still difficult in solving math problems, especially on the matter of building a flat side room. This study aims to develop a learning device based on discovery learning mathematics that is valid, practical and effective in improving problem-solving skills. The development model used is the Plomp model. This model is done in 3 stages. In the first phase is the preliminary research phase of needs analysis, curriculum analysis, student analysis and concept analysis. In the second phase is the development or prototyping phase which is designed according to the discovery learning model by self-evaluation, expert / expert validation, one-to-one evaluation, small group evaluation. In the third stage is the assessment phase aims to see the effectiveness of learning tools by conducting large group field test in grade VIII MTsN 1 Bukittinggi. In order to produce a valid, practical, and effective learning tool based on discovery learning mathematics.Keyword: Learning Device, Discovery Learning, Model Plomp.
MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA MELALUI PENDEKATAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL Diar Veni Rahayu
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.453 KB)

Abstract

AbstarctThis study was intended to know students’ achievement and ability development in mathematical problem solving through contextual learning. This study was conducted in experimental method comparing the mathematical problem solving ability of students that were taught through contextual approach and students that were taught by conventional learning. This research design used pretest-posttest control group design. The population of this study was all students of grade VIII at a school with 80 students from two classes as sample subject.  The experimental group was taught using contextual learning and control group was taught using conventional approach. The instrument which was used in this study is mathematical problem solving ability test and student affective scale based on Likert scale. From this study, it can be concluded that: 1) the mathematical problem solving ability of students that were taught through contextual approach is better than students that were taught using conventional approach; 2) the development of mathematical problem solving ability of students that were taught through contextual approach is better than student that were taught using conventional approach; 3) the students showed positive affective in contextual learning.
Penerapan Pendekatan Kontekstual dalam Menyelesaikan Soal Cerita pada Materi Perbandingan dan Skala terhadap Siswa SMP Yuni Agnesti; Risma Amelia
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.687 KB) | DOI: 10.31980/mosharafa.v9i2.748

Abstract

AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh pembelajaran yang kurang terhubung dengan kehidupan nyata, sehingga siswa kurang paham dengan pembelajaran. Penyebabnya adalah karena cara mengajar guru yang masih terlalu berpatokan pada buku pelajaran. Solusinya, peneliti menerapkan model pembelajaran pendekatan kontekstual. Pendekatan Kontekstual merupakan pendekatan dengan konsep belajar yang mengaitkan materi dengan kehidupan nyata. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui penerapan pendekatan kontesktual terhadap siswa kelas VIII SMP terhadap materi perbandingan dan skala. Sampel penelitian yaitu siswa kelas VIII A SMP Pasundan Rongga 2019/2020.  Instrumen penelitian adalah soal tes  berbentuk uraian dan pedoman wawancara. Penelitian mengacu pada, siswa dapat menyelesaikan soal cerita dengan langkah-langkahnya, siswa mengerjakan sesuai intruksi.Hasil analisis data wawancara, bahwa penerapan pendekatan kontekstual terhadap siswa kelas VIII SMP Pasundan Rongga masih mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal cerita. AbstractThis research is motivated by learning that is less connected to real life, so students lack an understanding of learning. The reason is because of the way to teach teachers who still rely too much on textbooks. The solution, researchers apply a learning model of contextual approaches. A contextual Approach is an approach to the concept of learning that links material with real life. This type of research is qualitative research. The purpose of this study was to determine the application of the contextual approach to eighth-grade students of SMP on comparison and scale material. The research sample is students of class VIII A, Pasundan Cavity 2019/2020. The instrument in this study was a test item in the form of a description and interview guidelines. Research refers to, students can solve story problems with steps, students work according to instructions. The results of the interview data analysis show that the application of the contextual approach to the eighth-grade students of Pasundan Rongga Middle School still had difficulty in completing story questions.
MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS DAN SELF-CONFIDENCE SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN CYCLE 7E Teni Sritresna
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.577 KB) | DOI: 10.31980/mosharafa.v6i3.330

Abstract

AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh hasil penelitian-penelitian terdahulu yang menunjukkan masih rendahnya kemampuan komunikasi matematis dan self-confidence siswa dalam belajar matematika. Learning Cycle 7E merupakan salah satu model pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematis dan self-confidence siswa. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui peningkatan kemampuan komunikasi matematis dan self-confidence siswa yang mendapatkan model pembelajaran learning cycle 7E dengan yang mendapatkan model pembelajaran konvensional. Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen dengan populasi siswa di salah satu SMP di Kabupaten Garut. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupas tes kemampuan komunikasi matematis dan skala sikap self-confidence siswa. Hasil analisis data menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan komunikasi matematis dan self-confidence siswa yang mendapatkan model pembelajaran learning cycle 7E lebih baik daripada siswa yang mendapatkan pembelajaran konvensional. AbstractThis research is motivated by the results of previous studies which indicates the low ability of mathematical communication and self-confidence of students in learning mathematics. Learning Cycle 7E is one of the learning model that is expected to improve the ability of mathematical communication and self-confidence of students. The purpose of this study to determine the improvement of mathematical communication skills and self-confidence of students who get learning model of learning cycle 7E with which get the conventional learning model. This research is a quasi-experiment research with student population in one of junior high school in Garut. Sampling is done by using purposive sampling technique. The instrument used in this study examined the ability of mathematical communication and the scale of student self-confidence attitude. The result of data analysis shows that the improvement of mathematical communication ability and self-confidence of students who get the learning model of learning cycle 7E is better than students who get conventional learning.
PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA ANTARA YANG MENDAPATKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DAN KONTEKSTUAL Nursuci Lestari; Sukanto Sukandar Madio
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 2, No 3 (2013)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.994 KB)

Abstract

Abstract:             Quasi-experimental research design the static  group pretest- posttest design was aimed to know the differences of students achievement in learn mathematic between students who get cooperative learning in Jigsaw and Contextual types. The technique of collecting data uses subjective tests from description, this instrument is clarified have complied the validity, reliability, and level of difficulty distinguishing power. Data analysis is Mann-Whitney test. The result can be summed up that there are the significance differences in initial ability between students who get cooperative learning in Jigsaw dan Contextual types. As any rate, in data analysis of students affective base on questionnaire which is given, most of these responses are positive. This is because, the average of neutral affective is most little than students affective.   Abstrak:Penelitian kuasi eksperimen dengan desain kelompok the static group pretest-posttest design ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar matematika siswa antara yang mendapatkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan Kontekstual. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tes tulis berbentuk uraian, instrumen tersebut dinyatakan telah memenuhi syarat validitas, reliabilitas, daya pembeda dan tingkat kesukaran. Analisis data dilakukan dengan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat perbedaan kemampuan awal yang signifikan antara siswa yang mendapatkan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dengan siswa yang mendapatkan pembelajaran Kontekstual. Pada analisis data sikap siswa yaitu berdasarkan angket yang diberikan, responnya sebagian besar bernilai positif. Ini terlihat dari rata-rata sikap netral lebih kecil daripada sikap siswa, sehingga dapat disimpulkan bahwa sikap siswa terhadap model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw maupun model pembelajaran Kontekstual mempunyai respon positif.
Kemandirian Belajar Mahasiswa dalam Pembelajaran Jarak Jauh Selama Masa Pandemi Alberta Parinters Makur; Emilianus Jehadus; Sebastianus Fedi; Silfanus Jelatu; Viviana Murni; Polikarpus Raga
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.53 KB) | DOI: 10.31980/mosharafa.v10i1.862

Abstract

AbstrakPenelitian ini dilakukan untuk melihat kemandirian belajar mahasiswa pada mata kuliah Matematika Dasar dalam mengikuti pembelajaran jarak jauh khususnya pembelajaran dalam jaringan selama masa Pandemi Covid-19. Merupakan penelitian kuantitatif-deskriptif dengan 85 orang mahasiswa tahun pertama Prodi Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng dengan fokus untuk mempelajari kemandirian belajar mahasiswa yang mengikuti pembelajaran dalam jaringan karena situasi Pandemi Covid-19. Hasil penelitian menunjukkan 18.82% mahasiswa yang memiliki kemandirian belajar rendah, sedangkan 81.18% mahasiswa memiliki kemandirian belajar yang tinggi. Selanjutnya, dalam wawancara semi terstruktur ditemukan bahwa mahasiswa pada awalnya mengalami kesulitan dalam beradaptasi perubahan kebiasaan belajar, keterbatasan sumber daya belajar dalam jaringan, dan kurangnya interaksi baik sesama mahasiswa maupun dengan dosen. Keterbatasan ini mendorong mahasiswa semakin mandiri dalam belajar yang terlihat dari lebih dari 70% mahasiswa sudah menetapkan tujuan belajar, strategi belajar, mampu mengatur waktu belajar, dan melakukan evaluasi diri terhadap proses pembelajaran yang telah diikuti. Lebih dari 80% mahasiswa menentukan lingkungan belajar yang mendukung suasana belajar dan mencari bantuan dari rekan sekelas apabila mengalami kesulitan dalam belajar.  Kata Kunci: kemandirian belajar, pandemic Covid-19, pembelajaran jarak jauh. AbstractThis research was conducted to see the independence of student learning in the Basic Mathematics course in participating in distance learning, especially online learning during the Covid-19 Pandemic. This is a quantitative-descriptive study with 85 first-year students of the Agricultural Socio-Economic Study Program of the Indonesian Catholic University, Santu Paulus Ruteng, with a focus on studying the learning independence of students who take online learning due to the Covid-19 Pandemic situation. The results showed 18.82% of students had low learning independence, while 81.18% of students had high learning independence. Furthermore, in semi-structured interviews, it was found that students initially experienced difficulties in adapting to changes in learning habits, limited learning resources in the network, and a lack of interaction between students and lecturers. This limitation encourages students to be more independent in learning, which can be seen from more than 70% of students who have set learning goals, learning strategies, being able to manage study time, and conduct self-evaluation of the learning process that has been followed. More than 80% of students determine a learning environment that supports a learning atmosphere and seek help from classmates.Keywords: independent learning, Covid-19 pandemic, distance learning.
ANALISIS KEMAMPUAN LITERASI MATEMATIK MAHASISWA CALON GURU MATEMATIKA Mega Nur Prabawati
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.245 KB) | DOI: 10.31980/mosharafa.v7i1.347

Abstract

AbstrakPenelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan dan menggambarkan kemampuan literasi matematika mahasiswa calon guru matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Siliwangi Negeri berdasarkan kemampuan matematika. Untuk mengetahui kemampuan literasi matematik mahasiswa berdasarkan kemampuan matematika terlebih dahulu dilakukan pengelompokan kemampuan matematik mahasiswa yaitu tingkat kemampuan matematika rendah, sedang dan tinggi. Masing-masing pada tingkatan tersebut dipilih 1 orang untuk dijadikan sebagai subjek penelitian, sehingga terpilih 3 mahasiswa yang dijadikan sebagai subjek penelitian., yaitu M1 (mahasiswa berkemampuan tinggi), M2 (mahasiswa berkemampuan sedang), M3 (mahasiswa berkemampuan rendah). Semua subjek penelitian diberikan soal tes kemampuan literasi matematik kemudian dilanjutkan dengan wawancara untuk mengetahui sudah sampai level berapa dan pada indikator mana kemampuan literasi matematik yang telah mereka capai. Berdasarkan analisis yang telah dilaksanakan M1 berada pada level 4 kemampuan literasi matematik, M2 berada pada level 3 kemampuan literasi matematik, dan M3 berada pada level 2 kemampuan literasi matematik. AbstractThis study was conducted to describe and illustrate the mathematical literacy skills student teachers of mathematics the Faculty of Education University of Siliwangi State based math skills. To determine the ability of students based on the mathematical literacy mathematical ability grouping first performed mathematical ability of students is the level of mathematical ability is low, medium and high. Respectively at the level of the selected one person to serve as a research subject, so that the selected three students who serve as research subjects., The M1 (high-ability students), M2 (student-capable medium), M3 (low-ability students). All the study subjects given about mathematical literacy skills test is then followed by an interview to determine what level is already up and on which indicators mathematical literacy skills they have achieved. Based on the analysis performed at the level M1 4 mathematical literacy skills, M2 is at level 3 mathematical literacy skills, and M3 are at level 2 mathematics literacy skills.
PENGGUNAAN ALAT PERAGA SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR DALAM MEMAHAMI KONSEP BENTUK ALJABAR PADA SISWA KELAS VIII DI SMPN 2 PASIRWANGI Agah Nugraha; Rostina Sundayana
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.863 KB)

Abstract

ABSTRACTThe results showed the existence of differences in the ability to understand the form of algebraic operations/between the lesson that students using props with which do not use props (t hitung > t tabel, price thitung =3,486, price ttabel = 2,686). Test results showed that the normalized gain an average increase in the learning outcomes of the experimental class is middle category (g= 0,619 ) and control class is low category (g = 0,415). Based on the supporting data in the form of observation and question form, assisted learning props more enjoyable and easy to understand.  ABSTRAKHasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan kemampuan dalam memahami bentuk/operasi aljabar antara siswa yang pembelajarannya menggunakan alat peraga dengan yang tidak menggunakan alat peraga (thitung > ttabel, harga thitung = 3,486, harga ttabel = 2,686). Hasil uji gain ternormalisasi menunjukkan bahwa rata-rata peningkatan hasil pembelajaran dari kelas eksperimen berkatagori sedang (g = 0,619) dan kelas kontrol berkatagori rendah (g = 0,415). Berdasarkan data pendukung berupa observasi dan angket, pembelajaran dengan dibantu alat peraga lebih menyenangkan dan mudah dipahami.

Page 3 of 97 | Total Record : 966


Filter by Year

2012 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 1 (2025): January Vol. 13 No. 4 (2024): October Vol. 13 No. 3 (2024): July Vol. 13 No. 2 (2024): April Vol. 13 No. 1 (2024): January Vol. 12 No. 4 (2023): October Vol. 12 No. 3 (2023): July Vol 12, No 3 (2023) Vol. 12 No. 2 (2023): April Vol 12, No 2 (2023) Vol. 12 No. 1 (2023): January Vol 12, No 1 (2023) Vol. 11 No. 3 (2022): September Vol 11, No 3 (2022) Vol. 11 No. 2 (2022): Mei Vol 11, No 2 (2022) Vol. 11 No. 1 (2022): Januari Vol 11, No 1 (2022) Vol. 10 No. 3 (2021): September Vol 10, No 3 (2021) Vol 10, No 2 (2021) Vol. 10 No. 2 (2021): Mei Vol. 10 No. 1 (2021): Januari Vol 10, No 1 (2021) Vol. 9 No. 3 (2020): September Vol 9, No 3 (2020) Vol 9, No 2 (2020) Vol. 9 No. 2 (2020): Mei Vol 9, No 1 (2020) Vol. 9 No. 1 (2020): Januari Vol 8, No 3 (2019) Vol. 8 No. 3 (2019): September Vol. 8 No. 2 (2019): Mei Vol 8, No 2 (2019) Vol 8, No 1 (2019) Vol. 8 No. 1 (2019): Januari Vol 7, No 3 (2018) Vol. 7 No. 3 (2018): September Vol. 7 No. 2 (2018): Mei Vol 7, No 2 (2018) Vol 7, No 1 (2018) Vol. 7 No. 1 (2018): Januari Vol. 6 No. 3 (2017): September Vol 6, No 3 (2017) Vol. 6 No. 2 (2017): Mei Vol 6, No 2 (2017) Vol 6, No 1 (2017) Vol. 6 No. 1 (2017): Januari Vol 5, No 3 (2016) Vol. 5 No. 3 (2016): September Vol. 5 No. 2 (2016): Mei Vol 5, No 2 (2016) Vol 5, No 1 (2016) Vol. 5 No. 1 (2016): Januari Vol 4, No 3 (2015) Vol. 4 No. 3 (2015): September Vol. 4 No. 2 (2015): Mei Vol 4, No 2 (2015) Vol. 4 No. 1 (2015): Januari Vol 4, No 1 (2015) Vol 3, No 3 (2014) Vol. 3 No. 3 (2014): September Vol 3, No 2 (2014) Vol. 3 No. 2 (2014): Mei Vol 3, No 1 (2014) Vol. 3 No. 1 (2014): Januari Vol 2, No 3 (2013) Vol. 2 No. 3 (2013): September Vol 2, No 2 (2013) Vol. 2 No. 2 (2013): Mei Vol 2, No 1 (2013) Vol. 2 No. 1 (2013): Januari Vol. 1 No. 2 (2012): September Vol 1, No 2 (2012) Vol. 1 No. 1 (2012): Mei Vol 1, No 1 (2012) More Issue