cover
Contact Name
Yulius Tiranda
Contact Email
yuliustiranda@ikestmp.ac.id
Phone
+6281994854458
Journal Mail Official
penelitianikestmp@gmail.com
Editorial Address
Jl. A. Yani 13 Ulu, Plaju, Palembang
Location
Kota palembang,
Sumatera selatan
INDONESIA
Masker Medika
ISSN : 23018631     EISSN : 26548658     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Jurnal yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Inovatif (LP2MI) IKesT Muhammadiyah Palembang ini berfokus pada kajian keperawatan (Keperawatan Medikal Bedah, Keperawatan Anak, Keperawatan Maternitas, Keperawatan Jiwa, Keperawatan Kritis, Keperawatan Komunitas dan Manajemen Keperawatan) , Kebidanan (Kehamilan, Persalinan, Nifas, Neonatus, Bayi dan Anak, Kesehatan Reproduksi), Kesehatan Lingkungan, fisioterapi dan Tekhnik Laboratorium Medik. Jurnal Masker Medika terbit 2 kali dalam setahun yaitu pada bulan Juni dan bulan desember yang dipublikasikan dalam terbitan cetak dan elektronik.
Articles 765 Documents
TINGKAT STRES DAN KUALITAS TIDUR DENGAN KADAR GULA DARAH KLIEN DIABETES MELITUS DI RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH PALEMBANG Suratun, Suratun
Masker Medika Vol 8 No 1 (2020): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52523/maskermedika.v8i1.380

Abstract

Pendahuluan: Diabetes melitus merupakan penyakit gangguan metabolisme kronis yang ditandai peningkatan kadar gula dalam darah (hiperglikemia). Salah satu faktor pemicu yang berpotensi mempengaruhi kadar gula dalam darah adalah stres. Stres memicu reaksi biokimia tubuh melalui neural dan neuroendokrin. Stres juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tidur. Pola tidur yang tidak teratur menjadi salah satu pemicu perubahan kadar gula darah. Tidur yang berkualitas dan cukup dapat membantu menstabilkan kadar gula darah. Tujuan penelitian: untuk mengetahui hubungan tingkat stres pendekatan cros sectdan kualitas tidur dengan kadar gula darah klien diabetes melitus di rumah sakit muhammadiyah palembang. Metode Penelitian: ini menggunakan desain deskritif analitik yang dilakukan dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian: klien diabetes melitus, teknik pengambilan sampel dengan cara accidental sampling, jumlah responden sebanyak 65 klien diabetes melitus. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan kuesioner. Uji statistik yang akan digunakan adalah Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat stres sedang 69,2%, memiliki kualitas tidur buruk 55,4% dan dengan kadar gula darah tinggi 63,1%, terdapat hubungan antara tingkat stres dengan kadar gula darah dengan pvalue 0,047, ada hubungan antara kualitas tidur dengan kadar gula darah dengan p-value 0,05. Introduction: Diabetes mellitus is a chronic metabolic disorder characterized by an increase in blood sugar levels (hyperglycemia). One trigger factor that has the potential to influence blood sugar levels is stress. Stress triggers the body's biochemical reactions through neural and neuroendocrine. Stress is also one of the factors that influence sleep. Irregular sleep patterns become one of the triggers for changes in blood sugar levels. Good quality sleep can help stabilize blood sugar levels. The purpose of this study: to determine the relationship between the stress level of the cross sect approach and the quality of sleep with the blood sugar levels of diabetes mellitus clients in Palembang Muhammadiyah Hospital. Research Methods: This uses an analytical descriptive design that is carried outwith a cross sectional approach. Study sample: diabetes mellitus clients, sampling techniques by accidental sampling, the number of respondents was 65 diabetes mellitus clients. The instrument in this study used a questionnaire. The statistical test that will be used is Chi Square. The results showed that most respondents had moderate stress levels of 69.2%, had poor sleep quality of 55.4% and with high blood sugar levels 63.1%, there was a relationship between stress levels and blood sugar levels with a p-value of 0.047, there is a relationship between sleep quality with blood sugar levels with a p-value of 0.05.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERJADINYA RUPTURE PERINIUM DI KAMAR BESALIN RSUD IBNU SOETOWO BATURAJA KAB OKU TAHUN 2016 Puspitasari, Yeviza
Masker Medika Vol 8 No 1 (2020): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52523/maskermedika.v8i1.381

Abstract

Penduhuluan: Upaya penurunan AKI harus difokuskan pada penyebab langsung kematian ibu, yang terjadi 90% pada saat persalinan dan segera setelah persalinan, yaitu perdarahan (28%), eklamsia (24%), infeksi (11%), komplikasi pueperium 8%, partus macet 5%, abortus 5%, trauma obstetrik 5%, emboli 3%, dan lain-lain 11%. Robekan jalan lahir merupakan penyebab kedua setelah atonia uteri. Rupture perineum dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor maternal, faktor janin dan faktor penolong. Tujuan penelitian: Untuk mengetahui Hubungan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Rupture Perineum Di Kamar Bersalin RSUD Dr. H. Ibnu Sutowo Baturaja Kabupaten Ogan Komering Ulu Tahun 2016. Metode penelitian: menggunakan metode survey analitik dengan pendekatan cross sectional . Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang melahirkan dikamar bersalin RSUD Dr. Ibnu Soetowo periode Januari - Februari 2016. Sampel penelitian menggunakan metode Simple Random sampling dan didapatkan 76 orang. Penelitian dilaksanakan di RSUD Dr. Ibnu Sutowo Baturaja Kabupaten Ogan Komering Ulu. Pengumpulan data melalui check list. Pengolahan data secara analisa univariat dan bivariat. Hasil penelitian: didapatkan hasil ada hubungan antara berat badan lahir dengan kejadian rupture perineum (p value 0,000), Jarak Kelahiran dengan kejadian rupture perineum (p value 0,000) dan Paritas dengan kejadian Rupture Perineum (p value 0,002). Introduction: Efforts to reduce MMR should be focused on the direct cause of maternal death, which occurs 90% during labor and immediately after delivery, namely bleeding (28%), eclampsia (24%), infection (11%), complications of 8% pueperium, parturition traffic jam 5%, abortion 5%, obstetric trauma 5%, embolism 3%, etc. 11%. Tearing of the birth canal is the second cause after uterine atony. Perineal rupture is influenced by several factors, namely maternal factors, fetal factors and helping factors. The purpose of this study: To determine the relationship of factors that influence the occurrence of rupture of the perineum in the delivery room of RSUD Dr. H. Ibnu Sutowo Baturaja Ogan Komering Ulu Regency in 2016. The research method: using analytic survey method with cross sectionalapproach. The population in this study were all mothers giving birth in the maternity hospital Dr. Ibnu Soetowo for the period January - February 2016. The research sample used the Simple Random Sampling method and found 76 people. The study was conducted at Dr. Ibnu Sutowo Baturaja Ogan Komering Ulu Regency. Data collection through check list. Univariate and bivariate analysis of data processing. Results: The results showed that there was a relationship between birth weight and the incidence of perineal rupture (p value 0,000), birth distance with perineal rupture event (p value 0,000) and parity with perineumrupture (p value 0.002).
ANALISIS KEJADIAN DISMINORE PADA SISWI WANITA DI SMAN 1 KELEKAR TAHUN 2018 Rahayu, Septiana
Masker Medika Vol 8 No 1 (2020): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52523/maskermedika.v8i1.382

Abstract

Latar Belakang: Remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menjadi dewasa. Menurut World Health Organization (WHO), remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10- 19 tahun. Pada masa remaja terdapat perubahan hormonal, fisik, psikologis maupun sosial, dimana kondisi tersebut dinamakan dengan masa pubertas. Salah satu tanda pubertas pada remaja putri yaitu terjadinya menstruasi (Batubara, 2012). Pada saat menstruasi, masalah yang dialami oleh hampir sebagian besar wanita adalah rasa tidak nyaman atau rasa nyeri yang hebat. Hal ini biasa disebut dengan nyeri haid (dismenore) (Putri, 2017). Tujuan dari penelitian: untuk menganalisis kejadian dismenore pada siswi wanita di SMAN 1 Kelekar. Desain penelitian: Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan rancangan cross sectional dengan pendekatan kuantitatif. Sampel pada penelitian ini adalah keseluruhan populasi 70 siswi. Pemilihan sampel menggunakan total sampling yang berjumlah 70 orang. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni sd Juli 2018. Data dianalisis dengan menggunakan analisis univariat (deskriptif), bivariate (chi square) dan multivariate (regresi logistic). Hasil Penelitian: Dari hasil uji statistik chi square didapatkan variabel yang tidak ada hubungan dengan dismenorea, yaitu usia menarche (0,599), status gizi (0,847), dan variabel yang ada hubungan dengan dismenore, yaitu tingkat kecemasan (0,001), kualitas hidup (0,001). Agar dismenore dapat dihindari diharapkan pada sekolah meningkatkan pengetaahuan siswi dan petugas UKS tentang dismenore malalui penyuluhan, sosialisasi berupa dalam bentuk leaflet dan poster.. Kesimpulan: Agar dismenore dapat dihindari diharapkan padasekolah meningkatkan pengetaahuan siswi dan petugas UKS tentang dismenore malalui penyuluhan, sosialisasi berupa dalam bentuk leaflet dan poster. Background: Teenagers are a transition from children to adults. According to the World Health Organization (WHO), adolescents are residents in the age range of 10-19 years. In adolescence there are hormonal, physical, psychological and social changes, where the condition is called puberty. One sign of puberty in young women is menstruation (Coal, 2012). During menstruation, the problem experienced by most women is discomfort or extreme pain. This is usually called menstrual pain (dysmenorrhea) (Putri, 2017).. The purposes of this study: This study aims to analyze the incidence of dysmenorrhea in female students at SMAN 1 Kelekar. Research methods This type of research is analytic observational with cross sectional design with quantitative approach. The sample in this study was an overall population of 70 students. The sample selection uses a total sampling of 70 people. This research was conducted from June to July 2018. Data were analyzed using univariate (descriptive), bivariate (chi square) and multivariate (logistic regression) analyzes. The results: From the chi square statistical test results obtained variables that have no relationship with dysmenorrhoea, namely the age of menarche (0.599), nutritional status (0.847), and variables that have a relationship with dysmenorrhea, namely the level of anxiety (0.001), quality of life (0.001).. Conclusion: In order to avoid dysmenorrhea, it is hoped that schools will increase the knowledge of students and UKS officers about dysmenorrhea through counseling, socialization in the form of leaflets and posters.
ANALISIS KECEMASAN PADA PASIEN PREOPERASI APENDISITIS DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SITI AISYAH KOTA LUBUKLINGGAU TAHUN 2019 Soewito, Bambang; Sulaiman, Sulaiman
Masker Medika Vol 8 No 1 (2020): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52523/maskermedika.v8i1.383

Abstract

Latar BelakangApendiksitis adalah peradangan dari apendik periformis, dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering.Istilah usus buntu yang dikenal di masyarakat awam adalah kurang tepat karena usus yang buntu sebenarnya adalah sekum. Apendisitis diperkirakan ikut serta dalm system imun sektorik di saluran pencernaan. Namun, pengangkatan apendiks tidak menimbulkan efek fungsi system imun yang jelas. Tujuan dari penelitian: untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan, pendidikan, umur dan ekonomi secara simultan dengan kecemasan pada pasien pre operasi appendisitis di ruangrawat inap Rumah Sakit Umum Daerah Siti Aisyah Kota Lubuklinggau tahun 2019. Desain penelitian: Desain penelitian ini adalah kuantitatif yang menggunakan metode survei analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien appendisitis yang dirawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Siti Aisyah Kota Lubuklinggau tahun 2019 pada saat penelitian dilakukan yang diperkiraan berjumlah 127 orang. Hasil Penelitian: Berdaarkan Uji statistik dengan metode ChiSquare di dapatkan hasil yang didapatkan yaitu ada hubungan antara pengetahuan secara parsial dengan kecemasan pada pasien pre operasi appendisitis dengan ρ-value = 0,00. Ada hubungan antara pendidikan dengan kecemasan pada pasien pre operasiappendisitis dengan ρ-value = 0,019.Ada hubungan antara umur dengan kecemasan pada pasien pre operasi appendisitis dengan ρ-value = 0,003.Ada hubungan antara faktor ekonomidengan kecemasan pada pasien pre operasi appendisitis dengan ρ-value = 0,002. Dan hasil uji statistik multivariat diperoleh variabel yang berhubungan bermakna adalah umur (5,135) dan ekonomi (0,148).Dan variabel yang paling dominan berhubungan bermakna adalah variabel umur. Kesimpulan: Saran kepada pihakRumah Sakit Umum Daerah Siti Aisyah Kota Lubuklinggau, khususnya bagi perawat untuk meningkatkan kinerja perawat dalam mencegah atau mengurangi kecemasan pasien sebelum dilakukan operasi apendisitis. Background: Appendixitis is inflammation of the appendix periformis, and is the most common cause of acute abdomen. The term appendicitis which is known in ordinary people is less precise because the appendix is actually a cecum. Appendicitis is thought to participate in the sectoral immune system in the digestive tract. However, removal of the appendix does not cause a clear effect of immune system function. The purposes of this study: The purpose of this study was to determine the relationship between knowledge, education, age and economy simultaneously with anxiety in patients with preoperative appendicitis in the inpatient area of the Siti Aisyah Regional Hospital in Lubuklinggau City in 2019. Research methods The design of this research is quantitative which uses analytic survey method with cross sectional approach. The population in this study were all appendicitis patients who were treated in the Inpatient Room of the Siti Aisyah Regional Hospital in Lubuklinggau City the year at the time of the study which was estimated at 127 people. The results: Based on statistical tests using the Chi-Square method the results obtained are that there is a relationship between knowledge partially with anxiety in patients with preoperative appendicitis with ρ-value = 0.00. There is a relationship between partial education with anxiety in patients with preoperative appendicitis with ρ-value = 0.019. There is a relationship between age partially with anxiety in patients with preoperative appendicitis with ρ-value = 0.003. There is a relationship between economic factors partially with anxiety in patients with preoperative appendicitis with ρ-value = 0.002. And the results of multivariate statistical tests obtained variables that weresignificantly associated simultaneously were age (5,135) and economy (0.148). And the most dominant variable related significantly is the age variable. Conclusion: Suggestions to the Siti Aisyah Regional General Hospital Lubuklinggau, especially for nurses to improve the performance of nurses in preventing or reducing patient anxiety before appendicitis surgery.
HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN MEKANISME KOPING YANG BERFOKUS PADA MASALAH DENGAN KENAKALAN PADA REMAJA Dekawaty, Ayu
Masker Medika Vol 8 No 1 (2020): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52523/maskermedika.v8i1.384

Abstract

Latar Belakang: Remaja merupakan masa transisi dari masa anak-anak menjadi dewasa, terjadi perubahan-perubahan mulai dari perubahan fisik, proses berfikir, emosi, dan perasaan mampu untuk menjadi dewasa. Remaja adalah individu yang berusia 11-21 tahun dan belum menikah. Pada masa transisi tersebut kemungkinan dapat menimbulkan masa krisis, yang ditandai dengan kecenderungan munculnya perilaku menyimpang. Kemampuan remaja untuk memecahkan masalahnya secara adekuat berpengaruh terhadap bagaimana ia mudah mencari pemecahan masalah. Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain cross sectional dan teknik purposive sampling pada siswa Panti Sosial X. Jumlah responden yang diambil dalam penelitian ini adalah 80 responden. Variabel independen adalah mekanisme koping yang berfokus pada masalah (causioness, instrumental action, dan negotiation) dan variabel dependen kenakalan pada remaja di Panti Sosial Marsudi Putra Dharmapala Indralaya (kenakalan biasa/ringan, kenakalan sedang, serta kenakalan khusus/ berat). Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Penelitian ini menggunakan uji Chi-square (X2) dengan tingkat kesalahan 5% atau 0,05. Hasil penelitian: menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara penggunaan mekanisme koping yang berfokus pada masalah dengan kenakalan pada remaja (ρ value 0,000). Secara spesifik didapatkan hasil ρ value 0,002 untuk ‘instrumental action’ serta ρ value 0,005 untuk ‘negotiation’, yang menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara kedua variabel tersebut. Sedangkan ‘causioness’ memiliki ρ value 0,0819 yang artinya tidak terdapat hubungan antara kedua variabel tersebut. Diskusi: siswa diharapkan dapat menggunakan mekanisme koping yang adaptif sehingga dapat menyelesaikan setiap permasalahan dengan baik. Introduction: Adolescent is a transition period from child to adult, there are many changes from physical, thought process, and feeling can be an adult. Adolescent is a person of 11-21 years old and not yet marriage. In the transition period may be can lead a crisis period, that will be a juvenile delinquency. The adolescentia’s potency to solve a problem adequately influences how easily he looks for problem solving. Method: The method of this research is analytic with cross sectional design and purposive sampling technique to student at Social Building X. The responden of this research is 80 people. The independent variable isproblem focused coping mechanism (causionee, instrumental action, and negotiation) and the dependent variable is juvenile delinquency (general delinquency, moderate delinquency, and heavy delinquency). Data is collected by questioner. This research use chi-square test with significant level 5% (0,05). Result: This research result show there is a significant correlation of problem focused coping mechanism’s utilization and juvenile (ρ value 0,000). Spesificaly, ρ value 0,002 for instrumental action and ρ value 0,005 for negotiation, that show there is correlation of that variable. Even though causioness have ρ value 0,0819, thatmeans there is not significant correlation of that variable. Discussion: we have to expect for student to use adaptively’s coping mechanism so can solve many problems well.
HUBUNGAN SANITASI DASAR DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI DESA TANJUNG BARU WILAYAH KERJA UPTD PUSKESMAS TANJUNG BARU TAHUN 2019 Yustati, Eva
Masker Medika Vol 8 No 1 (2020): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52523/maskermedika.v8i1.385

Abstract

Latar belakang : Kasus kejadian diare pada balita di Wilayah kerja UPTD puskesmas tanjung baru tahun 2017 terdapat 705 balita dengan diare sebanyak 35 (4,00%) tahun 2018 terjadi peningkatan yaitu terdapat 864 balita dengan diare 41 (4,74%). Tujuan Penelitian yaitu untuk mengetahui hubungan sanitasi dasar dengan kejadian diare pada balita di desa tanjung baru wilayah kerja UPTD puskesmas tanjung baru tahun 2019. Metode penelitian: jenis penelitian menggunakan pendekatan cross sectional, pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi dan wawancara langsung dengan menggunakan kuesioner danchecklist. Sampel dalam penelitian ini yaitu berdasarkan hasil perhitungan besar sampel sebanyak 180 sampel. Hasil penelitian : Hasil penelitian diperoleh 37,8% responden yang menderita diare, Responden 48,3% ketersediaan sarana air bersih tidak memenuhi syarat kesehatan, 40,0% ketersediaan jamban tidak memenuhi syarat kesehatan, 42,2% ketersediaan SPAL tidak memenuhi syarat kesehatan. Kesimpulan :Dari hasil penelitian menunjukan bahwa proporsi responden yang ketersediaan air bersih mememenuhi syarat yang balitanya mengalami kejadian diare lebih kecil sebanyak 5,4 % dibandingkan dengan responden yang ketersediaan air bersih tidak mememenuhi syarat kesehatan yang balitanya mengalami kejadian diare sebanyak 72,4 %. setelah dilakukan Uji statistik Chi-square didapat p value 0,000 maka hasil tersebut menunjukan adanya hubungan yang bermakna antara ketersediaan air bersih dengan kejadian diare. kejadian diare sebanyak 13,0% lebih kecil dibandingkan dengan responden yang ketersediaan jamban tidak tersedia mengalami kejadian diare sebanyak 75,0%, setelah dilakukan Uji statistik Chi-square didapat p value 0,000 maka hasil tersebut menunjukan ada hubungan yang bermakna antara ketersediaan jamban dengan kejadian diare.ada hubungan yang bermakna antara ketersediaan air bersih dengan kejadian diarepada balita dengan p value 0,000, ada hubungan bermakna antara ketersediaan jamban dengan kejadian diare pada balita dengan p value 0,000, ada hubungan yang bermakna antara ketersediaan SPAL dengan kejadian diare pada balita dengan p value 0,000. Background: Cases of diarrhea in infants in the working area of the UPTD of the new tanjung puskesmas in 2017 there were 705 infants with diarrhea as many as 35 (4.00%) in 2018 there was an increase namely there were 864 children with 41 diarrhea (4.74%). The purpose of this study was to determine the relationship of basic sanitation with the incidence of diarrhea in infants in tanjung baru village, the working area of the new Tanjung Puskesmas UPTD 2019. Research methods: this type of research uses a cross sectional approach, data collection is done by observation and direct interviews using a questionnaire and checklist. The sample in this study is based on the results of the calculation of the sample size of 180 samples. The results of the study: The results obtained 37.8% of respondents suffering from diarrhea, Respondents 48.3% availability of clean water facilities did not meet health requirements, 40.0% availability of latrines did not meet health requirements, 42.2% availability of SPAL did not meet health requirements. Conclusion: The results of the study showed that the proportion of respondents whose availability of clean water fulfilled the requirements of toddlers experiencing diarrhea events was smaller by 5.4% compared to respondents whose availability of clean water did not meet health requirements whose toddlers experienced diarrhea as much as 72.4%. After Chi-square statistical tests obtained p value 0,000, these results indicate a significant relationship between the availability of clean water and the incidence of diarrhea. the incidence of diarrhea was 13.0% smaller than that of respondents whose availability of latrines was not available. The incidence of diarrhea was 75.0%, after a Chi-square statistical test obtained p value of 0,000, the results showed a significant relationship between availability of latrines and the incidence diarrhea. Thereis a significant relationship between the availability of clean water and the incidence of diarrhea in infants with a p value of 0,000, there is a significant relationship between the availability of latrines with the incidence of diarrhea in infants with a p value of 0,000, there is a significant relationship between the availability of SPAL with the incidence of diarrhea in infants with a p value 0,000.
PENGARUH BIBLIOTERAPI TERHADAP KECEMASAN HOSPITALISASI ANAK USIA PRASEKOLAH DI RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH PALEMBANG Ginanjar, Marwan Riki; Iswari, Miranti Florencia; Noftalina, Noftalina
Masker Medika Vol 8 No 1 (2020): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52523/maskermedika.v8i1.386

Abstract

Latar belakang: Hospitalisasi dapat menimbulkan kecemasan pada anak prasekolah. Kecemasan anak prasekolah akibat hospitalisasi dapat diminimalisirdengan bermain, salah satunya menggunakan buku cerita. Pemanfaat buku sebagai media terapi disebut juga dengan Biblioterapi. Tujuan:Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh biblioterapi terhadap kecemasan hospitalisasi pada anak usia prasekolah di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. Metode:Penelitian menggunakan metode pre-experiment dengan rancangan One Group Pretest-postest. Kecemasan diukur dengan kuisioner kecemasan. Sampel penelitian ini adalah sebagian anak yang mengalami hospitalisasi di RS Muhammadiyah Palembang sebanyak 25 anak. Pengumpulan data dilakukan pada bulan April – Mei 2019.. Uji Statistik dengan mengunakan statistik parametrik uji T-test dependent.Hasil:Rata-rata nilai kecemasan siswa sebelum dan setelah dilakukan intervensibiblioterapi adalah 56,84 dan 3,35 dengan nilai p value<0,001 yang artinya ada pengaruh biblioterapi terhadap kecemasan hospitalisasi pada anak prasekolah. Background: Hospitalization can cause anxiety in children. When children experience anxiety at the hospital, children will usually play using books. Use of books as a therapeutic medium is also called Bibliotherapy. Purpose: of this study was to determine the effect of Bibliotherapy on the anxiety of hospitalization in preschool children at the Muhammadiyah hospital in Palembang.Methode: This research method uses preexperimental research methods with one group pre-post test design with 25 responden. Data collected at April – May 2019. T Test dependent used to analysis the result.Results:The Mean of Anxiety before and after intervention is 56,84 dan 3,35p value<0.001, which means that there is a significant relationship between bibliotherapy to the hospitalization anxiety in preschool children at the Muhammadiyah Hospital Palembang.
DUKUNGAN KELUARGA DAN PENGETAHUAN DENGAN KEPATUHAN PEMBATASAN CAIRAN PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK Ningrum, Windy Astuti Cahya; Drajat, M Rafiud; Imardiani, Imardiani
Masker Medika Vol 8 No 1 (2020): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52523/maskermedika.v8i1.387

Abstract

Latar Belakang: Kegagalan fungsi ginjal dalam mempertahankan metabolisme keseimbangan cairan dan elektrolit merupakan kondisi yang dialami oleh pasien gagal ginjal kronik, keadaan ini mengakibatkan pasien perlu untuk mengontrol asupan cairan guna membantu mengurangi beban kerja ginjal dalam memproses cairan. Pembatasan cairan merupakan salah satu intervensi atau terapi dan faktor penting dalam menentukan keberhasilan terapi pasien gagal ginjal kronik, sehingga dibutuhkan kepatuhan pasien dalam terapi tersebut. Pengetahuan keluarga dan dukungan keluarga merupakan faktor yang dapat meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani pembatasan cairan. Tujuan Penelitian: Mengetahui hubungan pengetahuan dan dukungan keluarga dengankepatuhan pembatasan cairan pasien gagal ginjal kronik. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan jenis desain analitic korelasi melalui pendekatan cross sectional dengan teknik non probability sampling : total sampling yangdilaksanakan pada tanggal 10 April – 15 April dan didapatkan jumlah sampel 52 responden dengan menggunakan instrument penelitian kuesioner dan observasi.Hasil: Analisis uji chi square antara pengetahuan dengan kepatuhan pembatasan cairan didapatkan nilai p=0,012 dan dukungan keluarga dengan kepatuhan pembatasan cairan didapatkan nilai p=0,014.Kesimpulan: Ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan dukungan keluarga dengan kepatuhan pembatasan cairan pasien gagal ginjal kronik di Ruang Hemodialisa RS PUSRI Palembang. condition experienced by patients with chronic renal failure, this condition resulted in patients need to control fluid intake to help reduce the workload of the kidney in processing fluids. Fluid restriction is one of intervention or therapy and an important factor in determining the success of chronic renal failure therapy patients, so that patient's compliance is required in the therapy. Family knowledge and family support are factors that can improve patient compliance with fluid restrictions. Objective: To examine the relationship of knowledge and family support to fluid restriction adherence in patients with chronic renal failure. Method: This research use correlation analitic design type through cross sectional approach with non probability sampling technique: consecutive sampling and got sample number 52 respondents. Result: Analysis of chi square test between knowledge to fluid restriction compliance (p value = 0,012) and family support to compliance of fluid restriction (p value = 0,014). Conclusion: There is a significant relationship between knowledge and family support for fluid restrictioncompliance in patients with chronic renal failure in the Hemodialisa Room of PUSRI Palembang Hospital.
HUBUNGAN ANTARA DISMENOREA PRIMER DENGAN KUALITAS TIDUR MAHASISWI PSIK STIKES MUHAMMADIYAH PALEMBANG Yuniza, Yuniza; Anandez, Puji Fitrianti Putri; Romadoni, Siti
Masker Medika Vol 8 No 1 (2020): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52523/maskermedika.v8i1.388

Abstract

Latar belakang: kejadian dismenorea primer dapat mempengaruhi kualitas tidur menjadi buruk karena peningkatan kadar prostagladin memiliki efek meningkatkan kontraktilitas otot uterus, vasokonstriksi dan mengakibatkan iskemia pada otot uterus, sehingga terjadinya nyeri saat menstruasi. Tujuan: Mengetahui Hubungan Antara Dismenorea Primer Dengan Kualitas Tidur Mahasiswi PSIK STIKes Muhammadiyah Palembang. Metode: Desain Penelitian yang digunakan yaitu cross-sectional dengan kuesioner dismenorea primer dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Teknik sampling yang digunakan yaitu totalsampling dengan jumlah sampel 342 responden, dengan uji statistik Chi Square. Kesimpulan: Berdasarkan hasil uji statistik diketahui bahwa nilai p value (0,000) < α = 0,05. Ada hubungan antara dismenorea primer dengan kualitas tidur mahasiswi PSIK STIKes Muhammadiyah Palembang. The incidence of primary dysmenorrhea results in poor sleep quality because increased levels of prostaglandin has an effect of increasing contractility of the uterine muscle and vasoconstriction and resulting in ischemia in the uterine muscle so that pain during menstruation occurs. To find out the relationship between primary dysmenorrhea and sleep quality of PSIK female students of Muhammadiyah Institute of Health Science of Palembang. This study used cross sectional design with Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). The number of samples was 342 respondents taken using total sampling technique. The statistical used was chi-square test. The statistical test results showed that p value obtained was (0,000) < α= 0,05. There was a relationship between primary dysmenorrhea and sleep quality of PSIK female students of Muhammadiyah Institute of Health Science.
SENSITIVITAS KAKI PASIEN DIABETES MELITUS TIPE II DI RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH PALEMBANG Sukron, Sukron
Masker Medika Vol 8 No 1 (2020): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52523/maskermedika.v8i1.389

Abstract

Latar Belakang : Meningkatnya angka penyakit diabetes melitus tipe 2 khususnya di Indonesia bersamaan dengan meningkatnya komplikasi salah satunya diabetic foot ulcer yang juga merupakan faktor terjadinya gangguan sensitivitas pada kaki. Pencegahan dapat dilakukan dengan mengukur sensitivitas kaki dengan menggunkan monofilmen test. Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui gambaran tingkat sensitivitas kaki pada penderita diabetes melitus tipe 2 di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian dengan metode Deskripti Analitik dengan pendekatan kuantitatif. Teknik sampling menggunakan convenience sampling pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang yang berjumlah 60 responden. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pasien diabetes melitus tipe 2 berusia 59,45 tahun dan sebagaian besar berjenis kelamin laki-laki dengan tingkat pendidikan sebesar 33,3% SD dan 33,3% SMA. Rerata responden juga menderita diabetes melitus tipe 2 selama 3,58 tahun dengan sebagian besar responden tidak berkerja dan tidak berolahraga. Serta tingkat sensitivitas kaki pada pasien diabetes melitus tipe 2yang tidak ada rasa dengan frekuensi tertinggi yaitu pada dorsal kaki sebanyak 25 orang (41,67%), metatarsal head ke-1 sebanyak 23 orang (38,33%), Midfoot bagian Medial sebanyak 22 orang (36,67), jari tengah sebnayk 21 orang (35%), metatarsal head ke-3 sebanyak 20 orang (33,33%), Midfoot bagian lateral sebanyak 20 orang (33,33%), Tumit sebanyak 18 orang (30%), jari kelingking sebanyak 18 orang (30%), metatarsal haed ke-2 sebanyak 17 orang (28,33%), dan terendah yaitu padajempol kaki dengan frekuensi 12 responden (20%). Kesimpulan : sensitivitas kaki pada pasien diabetes melitus tipe II yaitu terendah pada dorsal kaki. Background: The increasing number of type II diabetes mellitus, especially in Indonesia together with the increase in complications, one of which is diabetic foot ulcer, which is also a factor in sensitivity to the feet. Prevention can be done by measuring foot sensitivity by using a monofilment test. Objective: To find out the description of the level of sensitivity of the foot in patients with type II diabetes mellitus patients in Muhammadiyah Hospital Palembang. Method of Researvh: This research is a research with Analytic Descriptive method with quantitative approach. The sampling technique uses convenience sampling in patients with type II diabetes mellitus at Muhammadiyah Hospital Palembang, amounting to 60 respondents. Result of Research: The results showed that the average type II diabetes mellitus patients were 59.45 years old and most were male with education level of 33.3% elementary school and 33.3% high school. The average respondent also suffered from type II diabetes mellitus for 3.58 years with most respondents not working and not exercising. And the level of sensitivity of the foot in patients with type II diabetes mellitus that does not have the highest frequency is the dorsal foot of 25 people (41.67%), the first metatarsal head of 23 people (38.33%), Midfoot of the Medial section of 22 people (36.67), middle fingers 21 people (35%), 3rd metatarsal head as many as 20 people (33.33%), lateral midfoot as many as 20 people (33.33%), Heel as many as 18 people ( 30%), the pinky finger was 18 people (30%), the second metatarsal haed were 17 people (28.33%), and the lowest was the big toe with a frequency of 12 respondents (20%). Conclusion: Foot sensitivity in type II diabetes mellitus patients is lowest in the dorsal foot.