cover
Contact Name
Nikki Aldi
Contact Email
nikki.aldi@unib.ac.id
Phone
+6287885050404
Journal Mail Official
jukeraflesia@unib.ac.id
Editorial Address
Bagian Pendidikan Kedokteran FKIK Universitas Bengkulu, Jl. WR Supratman Bengkulu
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Raflesia
Published by Universitas Bengkulu
ISSN : 24773778     EISSN : 26228343     DOI : 10.33369
Core Subject : Health, Science,
JKR (Jurnal Kedokteran Raflesia) is a peer-reviewed professional journal with the editorial board of scholars mainly in medicine, biomedic and health sciences. It is published by UNIB Press, Universitas Bengkulu, Indonesia with the ISSN (online): 2622-8343; and ISSN (print): 2477-3778. The journal seeks to disseminate research to educators around the world and is published twice a year in the months of June and December. The newest template has been published since Volume 6(2): December 2020.
Articles 76 Documents
Hubungan Antara Kejadian Anemia dan Tingkat Kecukupan Zat Besi dalam MP-ASI pada Bayi Usia 6-23 Bulan di Puskesmas Jembatan Kecil Kota Bengkulu Tahun 2015 Lala Foresta Valentine Gunasari
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 3, No 1 (2017): Jurnal Kedokteran Raflesia
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v3i1.20292

Abstract

Anemia defisiensi zat besi (ADB) sangat banyak ditemui di seluruh dunia. Sebanyak 64,8% bayi usia 6-12 bulan dan 48,2% balita mengalami ADB. Gejala yang samar pada awal stadium anemia, seringkali menyebabkan keterlambatan diagnosis. ADB memiliki dampak yang merugikan bagi kesehatan anak berupa gangguan tumbuh kembang, penurunan daya tahan tubuh dan daya konsentrasi, serta meningkatkan risiko kematian pada anak. Pada usia di atas 6 bulan, cadangan besi dalam tubuh mulai habis, sedangkan ASI tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan zat besi, sehingga diperlukan asupan zat besi yang adekuat dari makanan pendamping ASI (MP-ASI). Penelitian ini ingin mencari hubungan antara tingkat kecukupan zat besi dalam MP-ASI dan kejadian anemia pada bayi usia 6-23 bulan di Puskesmas Jembatan Kecil Kota Bengkulu. Penelitian bersifat analitik dengan pendekatan cross sectional. Kejadian anemia didasarkan pada hasil pemeriksaan kadar hemoglobin darah pada bayi dengan menggunakan alat Hb-meter digital. Tingkat kecukupan zat besi dalam MP-ASI diperoleh dari wawancara pada ibu bayi mengenai frekuensi dan jumlah pemberian bahan makanan yang diberikan pada MP-ASI dengan bantuan Food Frequency Questionnaire (FFQ). Data yang diperoleh dari FFQ akan dianalisis menggunakan program Nutrisurvey 2007 untuk mendapatkan hasil berupa jumlah rata-rata asupan zat besi per hari yang diperoleh dari MP-ASI. Dari 50 orang bayi yang menjadi subjek penelitian, 90% bayi mengalami anemia karena kadar hemoglobin darahnya < 11 mg/dL. Sedangkan 24% subjek penelitian diketahui kekurangan zat besi dalam MP-ASInya. Analisis data tersebut memberikan hasil bahwa terdapat hubungan antara tingkat kecukupan zat besi dalam MP-ASI dan kejadian anemia pada bayi usia 6-23 bulan
EFEK PEMBERIAN PARASETAMOL INTRAVENA PADA PASIEN PASCA OPERASI SUATU TINJAUAN KEPUSTAKAAN SISTEMATIK Daud Habinsaran Gultom; Julian Famil; Hernita Taurustya
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 7 No 1 (2021)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v7i1.12922

Abstract

Latar belakang: Pada kasus pasca operasi, nyeri menyebabkan perubahan mendasar pada metabolisme. Opioid sering digunakan sebagai obat anti nyeri yang kuat, akan tetapi karena efek sampingnya yaitu dependensi yang cukup berbahaya maka diperlukan alternatif analgesik nonopioid untuk menghilangkan rasa sakit dan mengurangi penggunaan opioid. Parasetamol yang biasanya digunakan sebagai obat antipiretik, juga dapat digunakan sebagai pengganti atau pelengkap obat untuk mengendalikan rasa sakit pasca operasi. Parasetamol bekerja dengan cara menekan sintesis prostaglandin yang terutama dipengaruhi oleh hambatan pada siklus enzim Siklooksigenase.Metode: Pencarian jurnal melalui data base literatur kedokteran dan kesehatan yaitu PubMed pada tanggal 10 Juni 2020. Kata kunci yang digunakan yaitu parasetamol (acetaminophen) intravena, efek analgesik, post-operasi dan dewasa. Jurnal yang digunakan adalah jurnal dari tahun 2015 sampai 2020.Hasil: Dari 4 jurnal jenis randomized controlled trial (RCT) yang memenuhi kriteria inklusi terdapat total 614 pasien dengan 306 pasien kelompok yang diberi parasetamol intravena, 40 pasien kelompok pembanding yang diberi ibuprofen intravena dan 268 adalah pembanding yang menggunakan placebo. Hasil menunjukan terdapat perbedaan yang bermakna pada skor nyeri kelompok parasetamol dan placebo pada pasien post-operasi dan 2 jam setelah operasi.Kesimpulan: Pemberian parasetamol intravena terbukti lebih baik dalam menurunkan intensitas nyeri. Kata kunci: Parasetamol/Acetaminophen, Post-operasi, Visual Analog Scale, Numeric Rating Scale
Peranan Free Living Amoeba - Achantamoeba sebagai patogen penyebab kelainan pada otak dan mata Ryan Halleyantoro; Ika Puspa Sari
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 7 No 1 (2021)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v7i1.14540

Abstract

The free-living amoeba (FLA) group of protozoa that can be found in various types of conditions in nature, one of which is the genus Acanthamoeba. Although, the number of infections caused by this protozoan is low, the diagnosis was still difficult to confirm and therefore there were a higher mortality, especially those associated with encephalitis. This review presents some information about the biology, pathogenesis, clinical symptoms caused by Acanthamoeba in humans, as well as diagnostic and therapeutic methods. Acanthamoeba infection in humans can cause disorders such as granulomatous amoebic encephalitis (GAE), acanthamoeba keratitis and cutaneous acanthamoeba. In addition, this parasite can also act as a vector of pathogens.
GAMBARAN JUMLAH KASUS COVID-19 DI KOTA BALIKPAPAN, KOTA SAMARINDA, DAN KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA PERIODE MARET 2020 - JANUARI 2021 Swandari Paramita; Alif Bareizy; Mita Ellyana Ashadi; Muhammad Yusuf Aditya Prawira; Fauziah Bahar; Bara Al-Ayubi W
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 7 No 1 (2021)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v7i1.15680

Abstract

Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Kasus COVID-19 pertama di Indonesia diumumkan pada tanggal 2 Maret 2020 atau sekitar 4 bulan setelah kasus pertama di Cina. Kota Balikpapan, kota Samarinda dan kabupaten Kutai Kartanegara menempati urutan teratas kasus terkonfirmasi COVID-19 di Kalimantan Timur. Penelitian ini membahas gambaran jumlah kasus COVID-19 di kota Balikpapan, kota Samarinda, dan kabupaten Kutai Kartanegara periode Maret 2020-Januari 2021. Penelitan ini menggunakan jenis penelitian deskriptif, data diambil pada bulan Maret 2020- Januari 2021 dari catatan COVID-19 di situs web Dinas Kesehatan Kalimantan Timur pada bulan Maret 2020-Januari 2021. Kota Balikpapan, kota Samarinda dan kabupaten Kutai Kartanegara menempati urutan teratas periode Maret 2020-Januari 2021 dengan jumlah total kasus terkonfirmasi sebanyak 3.904 kasus di Balikpapan, 2.236 kasus di Kutai Kartanegara dan 1.799 kasus di Samarinda. Sementara  kasus kematian dengan jumlah terbanyak ditemukan di kota Balikpapan yaitu 90 kasus pada bulan Januari, sebanyak 69 kasus kematian di kota Samarinda pada bulan September dan sebanyak 31 kasus kematian di kabupaten Kutai kartanegara pada bulan Januari 2021. Kata Kunci : COVID-19, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kota Balikpapan, Kota Samarinda
Profil Hasil Pemeriksaan GeneXpert Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) Terhadap Mycobacterium tuberculosis pada Pasien Tuberkulosis Paru di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Bengkulu Periode Januari-Desember 2018 Sariyanti, Mardhatillah
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol. 7 No. 2 (2021)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v7i2.15892

Abstract

Background: Tuberculosis (TB) is an infection that caused by Mycobacterium tuberculosis (MTB) and the droplets can be transmitted by the air. Mycobacterium tuberculosis mainly infected the lungs, but also and infected other organs like, glands, bones, and nervous system. World Health Organization reported that there are 10 million TB cases in 2017 and 1,3 million death caused by this disease. Based on the data from Health’s Profile in Bengkulu city in 2015 there are 18.982 lung tuberculosis suspects. GeneXpert is a brand new innovation to diagnose TB based on molecular examination that uses  Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) which targeting the gene rpoB hotspot in MTB integrated and automatically processing the sample’s Deoxyribo Nucleic Acid (DNA) in disposable catridge. Method: This is an analytic description research. This research took secondary data (medical record) from the result of sputum examination by GenExpert tools from the lung tuberculosis patients at Bhayangkara Polda Bengkulu Hospital in January-December 2018 to acknowledge the result of MTB’s examination. Results: From this research, there were 150 male patients (70,1%) and 64 female patients (29,9%). The most patients in this research was from the age range 45-65 years old which is 102 patients (47,7%). The proportion of MTB rifampicin sensitive is 22 patients (10,3%). The proportion of MTB rifampicin resistance is 1 patient (0,05%). And the proportion of MTB not-detected is 191 patients (89,2%). Conclusion: Profile of the result of Genexpert examination in lung tuberculosis patients at Bhayangkara Polda Bengkulu Hospital is sensitive to rifampicin
HUBUNGAN PERILAKU PENCEGAHAN MALARIA DENGAN KEJADIAN MALARIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PERANAP KABUPATEN INDRAGIRI HULU TAHUN 2017-2018 Tyagita Widya Sari; Zatil Aqila Rahmadhani
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 7 No 1 (2021)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v7i1.16678

Abstract

Latar Belakang: Berdasarkan data World Malaria Report tahun 2015, malaria telah menyerang 106 negara di dunia. Secara nasional angka kejadian malaria selama tahun 2009-2016 cenderung menurun yaitu dari 1,8 per 1.000 penduduk berisiko pada tahun 2009 menjadi 0,84 per 1.000 penduduk berisiko pada tahun 2016. Pada tahun 2016 Annual Parasite Incidence (API) Provinsi Riau adalah sebesar 0,05%, dengan tingkat API tertinggi terdapat di Kabupaten Indragiri Hulu yaitu dengan jumlah 172 sediaan darah positif yang diperiksa. Berdasarkan data tahun 2016, di Puskesmas Peranap terdapat sebanyak 93 orang positif malaria, sedangkan pada tahun 2017 terdapat sebanyak 46 orang dan pada paruh pertama tahun 2018 terdapat 14 orang positif penyakit malaria. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kejadian malaria antara lain faktor lingkungan, faktor pengetahuan, faktor perilaku, dan faktor sosial-ekonomi. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan perilaku pencegahan malaria dengan kejadian malaria di wilayah kerja Puskesmas Peranap Kabupaten Indragiri Hulu tahun 2017-2018. Metode:  Penelitian yang dilakukan merupakan analitik observasional dengan rancangan penelitian case control. Teknik pengambilan sampel kasus dilakukan dengan cara Total Sampling sebanyak 50 sampel kasus, sedangkan teknik pengambilan sampel kontrol dilakukan dengan teknik Purposive sampling dengan perbandingan sampel kasus dan kontrol 1:1. Hasil: Perilaku keluar rumah pada malam hari (p-value=0,000; OR=84,33), perilaku menggunakan kelambu (p-value=0,000; OR=441), perilaku menggunakan kassa anti nyamuk (p-value=0,000; OR=359,33), perilaku menggunakan obat anti nyamuk (p-value=0,000; OR=47,25) berhubungan dan merupakan faktor risiko kejadian malaria di wilayah kerja Puskesmas Peranap Kabupaten Indragiri Hulu tahun 2017-2018.  Kesimpulan: perilaku keluar rumah pada malam hari, perilaku menggunakan kelambu, perilaku menggunakan kassa anti nyamuk, dan perilaku menggunakan obat anti nyamuk berhubungan dan merupakan faktor risiko kejadian malaria di wilayah kerja Puskesmas Peranap Kabupaten Indragiri Hulu tahun 2017-2018.
Pengaruh pemberian teh hitam (camellia sinensis) terhadap gambaran histopatologi gaster tikus putih (Rattus norvegicus) jantan Sprague dawley yang diinduksi minyak jelantah Akbar, Novrian
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol. 7 No. 2 (2021)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v7i2.19031

Abstract

Latar Belakang: Minyak jelantah atau minyak goreng bekas adalah minyak yang digunakan secara berulang tanpa penambahan minyak goreng baru. Pemakaian minyak berulang kali dapat merusak struktur kimia dan menghasilkan radikal bebas. Hasil dari proses tersebut adalah senyawa toksik seperti hidroperoksida. Teh mengandung enam kelompok bioflavanoid catechins, theaflavins, the arubigins, oxyaromatic acids, flavonols, flavones, dan derivac gallic acid yang dapat menghambat radikal bebas, melindungi organ dari stress oksidatif. Teh hitam selain mengandung katekin juga mengandung theaflavin dan thearubigin sebagai hasil dari proses oksidasi enzimatik yang lebih tinggi dibandingkan dengan teh hijau. Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimental post test only control grup design dengan menggunakan 24 tikus Sprague dawley jantan dibagi dalam 6 kelompok secara acak dan diberi perlakuan selama 7  minggu. K0 (control) (diberi aquadest), K1 (diberi  minyak jelantah 12 kali penggorengan  1,5 ml/hari, 1 jam kemudian diberi aquadest), K2 (diberi infusa teh hitam dengan dosis 0,50 gr/200grBB), K3 ( diberi infusa teh hitam dengan dosis 0,75 gr/200grBB), K4(diberi minyak jelantah 12 kali penggorengan  1,5 ml 1 jam kemudian diberi infusa teh hitam dengan dosis 0,50 gr/200grBB) K5 (diberi minyak jelantah 12 kali penggorengan  1,5 ml 1 jam kemudian diberi infusa teh hitam dengan dosis 0,75 gr/200grBB), setiap hari selama 6 minggu. Pada akhir penelitian tikus dilakukan terminasi dan diambil lambungnya untuk pembuatan preparat histopatologi dengan pewarnaan Hematoksilin Eosin. Data dianalisis dengan uji Kruskal-Wallis dan uji Post Hoc Mann-Whitney. Hasil: Hasil uji Kruskal-Wallis diperoleh nilai p=0,063, yang artinya tidak terdapat perbedaan bermakna dari skor histopatologi antar kelompok. Hasil uji Post Hoc Mann-Whitney menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna K0 terhadap K1 yang berarti pemberian minyak jelantah 12 kali pemanasan tidak merusak  gambaran histopatologi lambung ditinjau secara statistik. Perbandingan antara K0 dengan K2 dan K3 tidak terdapat perbedaan bermakna yang artinya dosis yan diberikan tidak merusak gambaran histopatologi lambung. Perbandingan antara K0 dengan K4 dan K5 menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna yang artinya pemberian infusa teh hitam (Camellia sinensis) dosis 0,50 gr/200 grBB dan dosis 0,75 gr/200 grBB tidak terjadi perbaikan terhadap kerusakan gaster tikus putih. Kesimpulan: Penelitian membuktikan bahwa Induksi minyak jelantah dengan 12x pemanasan berulang tidak menyebabkan kerusakan pada gaster tikus Rattus norvegicus dan pemberian infusa teh hitam (Camellia sinensis) dosis 0,50 gr/200 grBB dan dosis 0,75 gr/200 grBB tidak terjadi perbaikan terhadap kerusakan gaster tikus putih.
Diagnostic Description of Ischemic Stroke Patients with Type 2 Diabetes Mellitus in Royal Prima Medan General Hospital Halim, Michael
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol. 7 No. 2 (2021)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v7i2.19087

Abstract

AbstractStroke is a focal cerebral dysfunction that occurs for 24 hours or more, which can cause disability or death due to spontaneous bleeding or inadequate blood supply. The stroke itself can be divided into ischemic and hemorrhagic. Ischemic stroke is a sudden loss of blood circulation in the brain area. Diabetes mellitus is a metabolic disease characterized by hyperglycemia that occurs due to abnormalities in insulin, insulin action, or both. Diabetes mellitus is divided into type 1, type 2, and gestational. Type 2 diabetes mellitus is a metabolic disorder usually characterized by increased blood sugar due to a decrease in insulin by pancreatic beta cells and insulin resistance. The purpose of this study was to determine the diagnostic picture of ischemic stroke patients with type 2 diabetes mellitus and to determine the distribution of proportions based on sociodemographic characters, procedures for diagnosis, management, and complications of the disease. This research is descriptive, retrospective with a case study design and a sample of 30 medical records at Royal Prima Hospital, which will then be analyzed using the SPSS application. The results showed the distribution of the proportion of ischemic stroke patients with T2DM in the elderly, male gender, blood sugar levels 200-300 mg/d, cholesterol above 200, and previous disease history. Based on the research results that have been done, it is concluded that people who have had an ischemic stroke almost always have a history of diabetes mellitus, both type 2 and vice versa, and have congenital supporting diseases such as hypertension. Keywords: Stroke, ischemic stroke, type 2 diabetes mellitus  AbstrakStroke merupakan disfungsi serebral fokal yang terjadi selama 24 jam, bahkan lebih. Sehingga dapat menyebabkan disabilitas atau kematian karena terjadi pendarahan spontan atau pasokan darah yang tidak memenuhi. Stroke sendiri dapat dibagi menjadi iskemik dan hemoragik. Stroke iskemik merupakan hilangnya sirkulasi darah didaerah otak secara tiba-tiba. Diabetes mellitus merupakan penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan insulin, kerja insulin atau keduanya. Diabetes mellitus dibagi menjadi DM tipe 1, DM tipe 2, gestasional. Pengertian dari diabetes mellitus tipe 2, yaitu merupakan gangguan metabolik yang biasanya ditandai dengan kenaikkan gula darah akibat penurunan insulin oleh sel beta pankreas dan resistensi insulin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran diagnostik pasien stroke iskemik terhadap diabetes mellitus tipe 2, serta untuk mengetahui distubusi proporsi berdasarkan karakter sosiodemografis, tata cara diagnosis, penatalaksanaan dan komplikasi penyakit. Penelitian ini bersifat deskriptif, retrospektif dengan desain studi kasus dan jumlah sampel sebanyak 30 data rekam medis di RSU Royal Prima yang selanjutnya akan dianalisa menggunakan aplikasi SPSS. Hasil penelitian didapatkan distribusi proporsi pasien stroke iskemik dengan DMT2 pada usia lansia, jenis kelamin laki-laki, kadar gula darah 200-300mg/d, kolestrol diatas 200 dan memiliki riwayat penyakit sebelumnya. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan hasil: orang yang pernah terkena stroke iskemik hampir selalu memiliki riwayat penyakit diabetes mellitus baik tipe 2 dan sebaliknya, serta memiliki penyakit bawaan pendukung seperti hipertensi.                                                                                          Kata kunci: Stroke, stroke iskemik, diabetes mellitus tipe 2
TOXICITY TEST OF WHITE TURMERIC (CURCUMA ZEDOARIA) ON LIVER ORGANS IN WHITE MALE RATS Araminta Marella Zega; Erny Tandanu; Fiska Maya Wardhani
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 7 No 1 (2021)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v7i1.19102

Abstract

AbstractWhite turmeric is often used by the people of Indonesia as an herbal plant that has many benefits for the body, one of which is for the liver. But there are still many people who do not know the right and correct dosage in using this white turmeric. The purpose of this study was to determine the toxic dose of white turmeric extract to estimate the degree of damage caused by the extract to the liver. This research design uses experimental research methods by means of Post Test Only Control Group Design. The sample used in this study consisted of 5 rats in each group with a number of groups of rats consisting of 6 groups with a total sample of 30 male white rats of the Wistar strain and in each group different treatments were carried out. Sampling was done using the Simple Random Sampling technique. Rats were divided into 2 control groups, namely equates negative control and NaCMC positive control, and also 4 treatment groups with a dose of 250 mg/kg BW, 500 mg/kg BW, 750 mg/kg BW, and 2000 mg/kg BW. From the results, it was found that the histopathological picture of the control group did not show significant changes, but in the treatment group, the doses of 250 mg/kg BW and 500 mg/kg BW were very clear where there was a lot of severe damage and hydrophilic degeneration began to occur where cell swelling, vacuoles were also found. fat. However, this happens because the liver sample already has a history of disease so that it gives a picture of degeneration. Keywords: acute toxicity test, extract of white turmeric (Curcuma zedoaria), liver histopathology, male white rat Wistar strain Abstrak                            Kunyit putih sering sekali digunakan oleh masyarakat Indonesia sebagai tanaman herbal yang memiliki banyak manfaat bagi tubuh, salah satunya bagi organ hati. Tetapi masih banyak masyarakat yang belum mengetahui dosis yang tepat dan benar dalam menggunakan kunyit putih ini. Tujuan dilakukannya penelitian untuk mengetahui dosis toksik dari ektrak kunyit putih untuk memperkirakan derajat kerusakan yang diakibatkan oleh ektrak tersebut terhadap organ hati. Rancangan penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimental dengan cara Post Test Only Control Group Design. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 5 ekor tikus setiap kelompok dengan jumlah kelompok tikus terdiri dari 6 kelompok dengan jumlah total sampel 30 tikus putih jantan jenis galur wistar dan di setiap kelompok dilakukan perlakuan yang berbeda- beda. Pengumpulan sampel dilakukan menggunakan teknik Simple Random Sampling. Tikus dibagi menjadi 2 kelompok kontrol yaitu kontrol negatif aquades dan kontrol positif NaCMC, dan juga 4 kelompok perlakuan dengan dosis 250 mg/KgBB, 500 mg/KgBB, 750 mg/KgBB, dan 2000 mg/KgBB. Dari hasil di dapatkan bahwa gambaran histopatologi kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan yang signifikan, tetapi pada kelompok perlakuan dosis 250 mg/KgBB dan 500 mg/KgBB terlihat sangat jelas dimana banyak kerusakan yang berat dan mulai terjadi degenarasi hidrofilik dimana pembengkakan sel, adanya di jumpai juga vakuola lemak. Namun hal ini terjadi kemungkinan sampel hati sudah memiliki riwayat penyakit sehingga memberikan gambaran degenerasi. Tetapi pada dosis 750 mg/KgBB dan 2000 mg/KgBB dijumpai sel yang mulai membaik dengan menunjukkan adanya perbaikan dimana berkurangnya degenerasi parenkimatosa dan degenerasi hidrofik tetapi masih dijumpai kelainan hati yang abnormal yaitu masih adanya pembengkakan pada sel-sel. Dengan kesimpulan semakin tinggi diberikan dosis dalam perlakuan maka memberikan efek yang positif atau baik terhadap perbaikan kerusakan hati. Keywords: uji toksisitas akut, ekstrak kunyit putih (Curcuma zedoaria), histopatologi hati, tikus putih jantan galur wistar  
RELATIONSHIP OF PATIENT CHARACTERISTICS WITH THE SEVERITY OF COVID-19 IN HOSPITALIZED PATIENTS IN ROYAL PRIMA HOSPITAL MEDAN JANUARY- MARCH 2021 Millenny Zai, Theodora Destry
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol. 7 No. 2 (2021)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v7i2.19620

Abstract

Coronavirus Disease 19 (COVID-19) is an infectious ailment as a consequence of Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Symptoms that get up due to SARS-CoV-2 infection are the most common with in the form of fever, fatigue, and dry cough, similarly to some of the symptoms and symptoms that patients may also moreover experience, are headache, conjunctivitis, sore throat, diarrhea, loss of sense of smell and skin rash. Serious signs can also additionally consist of issue respiration or shortness of breath, chest pain, and issue speak me or moving. Covid-19 is split into numerous types, specifically asymptomatic, mild, moderate, severe, and crucial that have a courting with affected person traits. This has a look at is a retrospective cohort have a look at. The general quantity of samples become 372 affected person clinical facts with information taken with inside the shape of age, gender, blood pressure, weight, height, Hb, urea, creatinine, SGOT, SGPT, blood glucose, smoking records, hypertension, coronary heart attack, kidney disorders, and radiological results. The results of this study showed that there were several patient characteristics related to the severity of Covid-19 (p<0.05), namely Body Mass Index (BMI), urea, GFR, X-Ray Radiology examination, CT-Scan examination, and the patient's initial symptoms. On the other hand, other characteristics did not show an association with the severity of Covid-19 (p>0.05), namely: age, gender, blood pressure, creatinine, SGOT, SGPT, Hb, blood glucose, smoking history, history of hypertension, history of heart attack, and history of renal impairment.Coronavirus Disease 19 (COVID-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Sindrom Pernafasan Akut Parah Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Gejala yang timbul akibat kontaminasi SARS-CoV-2 adalah yang paling umum berupa demam, kelelahan, dan batuk kering, serta beberapa gejala yang mungkin juga dialami penderita, yaitu sakit kepala, konjungtivitis, nyeri tenggorokan, diare, kehilangan indra penciuman dan ruam kulit.. Gejala serius yang dapat terjadi berupa kesulitan bernapas atau sesak napas, nyeri pada dada, dan kesulitan berbicara atau bergerak. Covid-19 dibedakan menjadi beberapa type yaitu tanpa gejala, ringan, sedang, berat, dan kritis yang memiliki hubungan dengan karakteristik pasien. Penelitian ini merupakan penelitian cohort retrospective. Jumlah sampel total berjumlah 372 rekam medis pasien dengan data yang diambil berupa usia, jenis kelamin, tekanan darah, berat badan, tinggi badan, Hb, ureum, kreatinin, SGOT, SGPT, KGD, riwayat merokok, hipertensi, serangan jantung, gangguan ginjal, dan hasil pemeriksaan radiologi. Pada hasil penelitian ini menunjukkan adanya beberapa karakteristik pasien yang berhubungan dengan derajat keparahan Covid-19 (p<0.05), yaitu Indeks Massa Tubuh (IMT), ureum, GFR, pemeriksaan Radiologi X-Ray, pemeriksaan CT-Scan, serta gejala awal pasien. Sebaliknya karakteristik lainnya tidak menunjukkan adanya hubungan dengan derajat keparahan Covid-19 (p>0.05), yaitu: umur, jenis kelamin, tekanan darah, kreatinin, SGOT, SGPT, Hb, KGD, riwayat merokok, riwayat hipertensi, riwayat serangan jantung, dan riwayat gangguan ginjal .