cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 65 Documents
Search results for , issue "Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL" : 65 Documents clear
BEREMPATI TERHADAP BUKU FISIK SEBAGAI PENGGAGAS WADAH PEMINATAN AKTIVITAS MEMBACA Maulidani, Rahmat; Sutanto, Agustinus
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27188

Abstract

Physical books are an important part of the development of a civilization, history has repeatedly shown the huge impact of knowledge, ideas, and information that was spread directly starting from the era of Mesopotamia, Ancient Greek, Baghdad, Renaissance, and continuing until the present day. Indonesia has a stigma of low interest in reading, but socio-culture is not a natural thing but something systematic and created slowly. Pondok Cina Station has a history of causing hundreds of scholars to demonstrate and hold up KRL due to the eviction of 35 secondhand book stalls to modernize the station. A strong inner bond between scholars and literature is a reminder that physical books are not dead and need to be studied to achieve quality and widely useful socio-culture. Secondhand Bookstore and Physical Books are closely related to various educational institutions, apart from their cheap prices, they also have easy access to read the books beforehand. Secondhand Bookstore become an interesting opportunity in an empathetic movement that pays attention to one of human primitive abilities, namely cognitive. Empathizing with Secondhand Bookstores and Physical Books aims to find and examine the sweet spot that can provide a place that encourages users to be interested in literature, by using the heterotopia design method and emptiness (suwung) philosophy to give birth to a place that ignites a new culture that can be developed systematically and progressively to achieve a new era of literature. Keywords: Architecture; Bookstore; Empathy Architecture; Heterotopia; Physical Books Abstrak Buku fisik merupakan bagian penting dalam perkembangan sebuah peradaban, sejarah telah berulang kali menunjukkan dampak besar dari pengetahuan, ide, dan informasi yang disebarkan secara langsung mulai dari era Mesapotomia, Yunani Kuno, Baghdad, Renaisans, dan terus begitu hingga masa kini. Indonesia memiliki stigma minat membaca yang rendah, namun sosio-kultur bukanlah hal yang natural melainkan sesuatu yang sistematis dan diciptakan secara perlahan. Stasiun Pondok Cina memiliki sejarah yang membuat ratusan mahasiswa berdemo dan menahan KRL akibat penggusuran 35 kios buku bekas untuk modernisasi stasiun. Sebuah ikatan batin yang kuat antara mahasiswa dan literasi menjadi sebuah pemantik bahwa buku fisik belum mati dan perlu dikaji untuk menggapai sosio-kultur yang berkualitas dan bermanfaat secara meluas. Toko Buku Bekas dan Buku Fisik sangat erat hubungannya dengan berbagai lembaga pendidikan, selain karena murahnya harga juga karena mudahnya akses untuk langsung membaca sebelum membeli. Toko Buku Bekas menjadi sebuah peluang dalam gerakan empatik yang merangkul sekaligus memperhatikan salah satu kemampuan primitif manusia yaitu kognitif. Berempati terhadap Toko Buku Bekas dan Buku Fisik bertujuan untuk mencari dan menelisik titik manis yang dapat menghadirkan wadah yang mendorong penggunanya untuk tertarik dengan literatur, dengan menggunakan metode desain heterotopia dan filsafat suwung untuk melahirkan sebuah wadah pemantik kultur baru yang dapat berkembang secara sistematis dan progresif untuk menggapai era literatur yang baru.
PERANCANGAN RUANG KELAS BAGI ANAK USIA SEKOLAH DASAR PENYANDANG ATTENTION DEFICIT HYPERACTIVITY DISORDER Surya, Claurent; Suteja, Mekar Sari
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27189

Abstract

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) is a disorder that often appears in elementary school-age children (6-12 years). Its prevalence in Indonesia is estimated at around 5% (Dewi, 2011), reaching 26.2% among elementary school children in the DKI Jakarta area (Saputro, 2009). Global trends also show a significant increase in ADHD cases (Abdelnour et al., 2022). The impact greatly influences children's adaptation to various aspects of life, from academic contexts to social relationships and psychological aspects. At elementary school age (ages 6-12 years), children are at the beginning stages of learning to manage school with ADHD. Therefore, it is crucial to provide appropriate accommodation to facilitate their adaptation to the learning environment. One way is by modifying the classroom's learning environment according to their needs. This research uses qualitative methods (observation and in-depth interviews) to identify ideal classroom designs for elementary school-age children with ADHD. The research began by examining the behavior of children with ADHD and analyzing their space needs. From the research that has been carried out, good classroom design criteria for children with ADHD will be produced, along with applying these design criteria to the classroom design. It is hoped that the research will help examine the design of good learning spaces to help maintain the focus and mental well-being of children with ADHD. Keywords: attention deficit hyperactivity disorder; classroom; school-age children Abstrak Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) merupakan salah satu gangguan yang kerap muncul pada anak usia sekolah dasar (6-12 tahun). Prevalensinya di Indonesia diperkirakan sekitar 5% (Dewi, 2011), angka ini mencapai 26,2% di anak sekolah dasar wilayah DKI Jakarta (Saputro, 2009). Tren global juga menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam kasus ADHD (Abdelnour et al., 2022). Dampaknya sangat memengaruhi adaptasi anak-anak dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari konteks akademik hingga hubungan sosial dan aspek psikologis. Pada usia sekolah dasar (usia 6-12 tahun), anak-anak berada pada tahap awal dalam belajar mengelola sekolah dengan ADHD. Maka dari itu, sangat penting untuk memberikan akomodasi yang tepat supaya mempermudah adaptasi mereka di lingkungan pembelajaran. Salah satunya, yaitu melalui modifikasi lingkungan belajar di ruang kelas sesuai dengan kebutuhan mereka. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif (studi literatur dan in-depth interview) untuk mengidentifikasi desain ruang kelas yang ideal bagi anak usia sekolah dasar dengan ADHD. Penelitian dimulai dengan mengkaji perilaku anak dengan ADHD dan menganalisis kebutuhan keruangan mereka. Dari penelitian yang telah dilakukan, akan dihasilkan kriteria desain ruang kelas yang baik bagi anak dengan ADHD, beserta dengan penerapan kriteria desain tersebut terhadap perancangan sebuah ruang kelas. Penelitian diharapkan dapat membantu mengkaji desain ruang pembelajaran yang baik untuk membantu menjaga fokus dan kesejahteraan mental dari anak penyandang ADHD.
PENERAPAN METODE BERTAHAP DAN MEKANISME SEDERHANA UNTUK MENGGALI BAKAT ANAK-ANAK AUTISME Sulistyawan, Dominikus Martin; Liauw, Franky
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27191

Abstract

Autism Spectrum Disorder (ASD) or autism is a group of neurological developmental disorders that impact social life and can manifest as difficulties in communication. The challenges faced by children with autism should not serve as a reason to treat them differently from parents or the surrounding community. They are entitled to a decent life and the same comfort as other typically developing children. Children with autism often exhibit remarkable potential and talent in various fields such as arts, music, mathematics, computer science, and more. Despite facing difficulties in communication and social interaction, they possess unique intelligence and creativity. According to a 2019 study conducted by the University of California, Davis, gradual methods such as observation, communication with parents, skills testing, collaboration with professionals, exploring activities, and providing support and praise have proven effective in uncovering the talents of children with autism. The ultimate goal of this research is to create an inclusive environment that supports the development of children with autism, enabling them to thrive and make meaningful contributions in various aspects of life. The study aims to discover the hidden talents and potentials of children aged 6-17 with autism, with the hope that it will contribute to enhancing their quality of life. Keywords: Autism; Potential; Talent Abstrak Autism Spectrum Disorder (ASD) atau autisme merupakan sekelompok gangguan perkembangan neurologis yang mempengaruhi kehidupan sosial yang dapat berupa sulit untuk berkomunikasi.  Gangguan autisme yang di alami oleh anak bukan menjadi alasan bagi mereka memperoleh perlakuan yang berbeda dari orang tua maupun masyarakat sekitar. Mereka berhak mendapatkan kehidupan yang layak dan memiliki kenyamanan yang sama dengan anak normal lainnya. Anak-anak penyandang autisme sering kali memiliki potensi dan bakat yang luar biasa dalam berbagai bidang seperti seni, musik, matematika, ilmu pengetahuan komputer dan lainnya. Meskipun menghadapi kesulitan dalam berkomunikasi dan berinteraksi sosial, mereka memiliki kecerdasan dan kreativitas yang unik. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh University of California, Davis pada tahun 2019 menyatakan bahwa metode bertahap seperti observasi, komunikasi dengan orang tua, pengujian keterampilan, berkolaborasi dengan professional, eksplorasi kegiatan dan dukungan dan pujian, metode-metode tersebut terbukti efektif dalam menemukan potensi bakat pada anak penyandang autisme. Penelitian ini bertujuan akhir untuk menciptakan lingkungan yang inklusif dan mendukung anak penyandang autisme agar mereka dapat berkembang dan memberikan kontribusi yang berarti dalam berbagai aspek kehidupan tanpa dibatasi oleh spektrum autisme yang mereka miliki dan untuk menemukan bakat dan potensi anak penyandang autisme yang masih terpendam dari anak berusia 6-17 tahun dengan harapan penelitian ini dapat membantu meningkatkan kualitas hidup mereka.
PERTANIAN VERTIKAL SEBAGAI RESPONS PEDAGANG PASAR TRADISIONAL DI KECAMATAN KEMBANGAN TERHADAP PERUBAHAN POLA PERDAGANGAN DAN GAYA HIDUP MASYARAKAT Justin, Justin; Winata, Suwardana
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27192

Abstract

Traditional markets are places for buying, selling and bargaining activities. However, currently people's interest in traditional markets is decreasing due to changes in people's lifestyles. This has a big impact on traditional market traders in urban areas, especially in the Kembangan District. Currently, people are starting to pay attention to their health through the quality of the food they consume so that the quality of the freshness of the fresh ingredients can determine consumer trust in traders. Apart from that, there has been a change in trading patterns, from initially conventional trading to now being completely digital, resulting in the loss of the role of traders who are distributors liaising between producers and consumers. This change in people's lifestyles has forced competitors such as modern markets and online traders to start selling fresh goods to attract people's interest. This sense of empathy for the problems of traditional market traders in the Kembangan area creates a desire to learn more about traditional traders and markets so that they can find solutions to these problems. In the process of empathy, an idea was discovered that could turn traders into "producers", namely by integrating vertical farming with traditional markets. By combining vertical farming with traditional markets, we can solve the problem of traders losing their function and the problem of increasing demands for the quality of fresh ingredients. The method used is to study the problems experienced by traditional market traders in the Kembangan District through literature studies and reviewing the data that has been obtained so that they can find the right strategy to respond to these problems. This research aims to enable traditional market traders in the Kembangan District to respond to changes in trading patterns which are included in changes in people's lifestyles. Key words: Empathy; Market; Sellers; Vertical farming Abstrak Pasar tradisional merupakan tempat untuk melakukan aktivitas jual beli dan tawar menawar. Namun, saat ini minat masyarakat terhadap pasar tradisional semakin berkurang akibat perubahan gaya hidup masyarakat. Hal tersebut sangat berdampak bagi pedagang pasar tradisional di kawasan perkotaan khususnya di Kecamatan Kembangan. Saat ini masyarakat mulai memperhatikan kesehatannya melalui kualitas makanan yang dikonsumsi sehingga kualitas bahan segar dapat menentukan kepercayaan konsumen terhadap pedagang. Selain itu, terdapat perubahan pola perdagangan yang awalnya perdagangan dilakukan secara konvensional kini menjadi serba digital sehingga terjadi hilangnya peran pedagang yang merupakan distributor penghubung antara produsen dengan konsumen. Perubahan gaya hidup masyarakat ini membuat para pesaing seperti pasar modern maupun pedagang online untuk mulai menjual bahan segar (fresh goods) untuk menarik minat masyarakat. Rasa empati terhadap permasalahan pedagang pasar tradisional di Kawasan Kembangan ini membuat adanya keinginan untuk mempelajari lebih dalam mengenai pedagang dan pasar tradisional sehingga dapat menemukan solusi atas masalah tersebut. Dalam proses berempati, ditemukan gagasan yang dapat menjadi pedagang menjadi “produsen” yaitu dengan mengintegrasikan pertanian vertikal dengan pasar tradisional. Dengan menggabungkan pertanian vertikal dengan pasar tradisional maka dapat memecahkan permasalahan pedagang yang kehilangan fungsinya dan permasalahan akan tuntutan kualitas bahan segar yang semakin meningkat. Metode yang digunakan adalah dengan mempelajari permasalahan yang dialami oleh pedagang pasar tradisional di Kecamatan Kembangan melalui studi literatur dan mengkaji data-data yang telah didapatkan sehingga dapat menemukan strategi yang tepat untuk menanggapi permasalahan ini. Penelitian ini bertujuan agar pedagang pasar tradisional di Kecamatan Kembangan dapat merespons perubahan pola perdagangan yang termasuk ke dalam perubahan gaya hidup masyarakat.
PENERAPAN KONSEP ARSITEKTUR EMPATI DALAM MENGINTEGRASIKAN FASILITAS TERAPI DAN PENDIDIKAN BAGI PENYANDANG DOWN SYNDROME, JAKARTA UTARA Zulfikar, Hafizh; Solikhah, Nafiah
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27193

Abstract

Individuals with Down syndrome are one of the special needs groups that require special attention, including the provision of an inclusive and supportive environment. Down syndrome is mentioned as the most common cause of intellectual disability, accounting for about 15-20% of the total population of individuals with intellectual disabilities. Down syndrome occurs in about 1 in 1,000 births. The most common cause of Down syndrome is trisomy 21, a condition in which body cells have 3 copies of chromosome 21, whereas there should only be 2 copies. Besides trisomy 21, Down syndrome can also be caused by genetic abnormalities such as chromosomal translocations and mosaicism. Individuals with Down syndrome have specific needs regarding physical accessibility, lighting, and visual elements. This research aims to design an inclusive and supportive built environment for children with Down syndrome using an empathetic architectural approach that prioritizes users' issues and needs, ranging from their physical to sensory needs. Based on the research findings, a built environment is designed with the concept of the Pillar of Growth, drawing inspiration from the philosophy that each individual is like a pillar supporting their own growth and potential. This building will serve as a visual metaphor and a concrete experience reflecting growth pillars for children with Down syndrome, emphasizing sustainability, growth, and support. Architectural explorations in this research include floor designs symbolizing growth stages, beautiful open spaces to stimulate physical and sensory growth, and environmentally friendly materials to create a healthy and safe environment. By combining the empathetic architectural approach and the Pillar of Growth concept, it is hoped to create an inclusive and supportive built environment for the optimal growth and development of children with Down syndrome and contribute to society. Keywords: down syndrome; empathic architecture; pillar of growth Abstrak Down syndrome terjadi pada sekitar 1 dari 1.000 kelahiran. Penyebab paling umum dari Down syndrome adalah trisomi 21, yaitu kondisi di mana sel-sel tubuh memiliki 3 salinan kromosom 21, padahal seharusnya hanya ada 2 salinan. Selain trisomi 21, Down syndrome juga dapat disebabkan oleh kelainan genetik berupa translokasi kromosom dan mosaik. Penyandang Down syndrome adalah salah satu kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian khusus, termasuk dalam hal penyediaan lingkungan yang inklusif dan mendukung. Down syndrome merupakan penyebab tersering dari kondisi tunagrahita (disabilitas intelektual), yakni sekitar 15-20% dari total populasi penyandang tunagrahita. Penyandang Down syndrome memiliki beberapa kebutuhan khusus dalam hal aksesibilitas fisik, pencahayaan, dan elemen visual. Penelitian ini bertujuan untuk merancang sebuah lingkungan binaan yang inklusif dan mendukung bagi anak-anak penyandang Down syndrome dengan menggunakan pendekatan arsitektur empati yang mengutamakan masalah dan kebutuhan pengguna mulai dari kebutuhan fisik hingga sensorik mereka. Berdasarkan hasil penelitian, maka dirancang sebuah lingkungan binaan dengan konsep Pillar of Growth, konsep ini mengambil inspirasi dari filosofi bahwa setiap individu adalah seperti pilar yang mendukung pertumbuhan dan potensi mereka sendiri. Bangunan ini akan menjadi metafora visual dan pengalaman konkret yang mencerminkan pilar-pilar pertumbuhan bagi anak-anak penyandang Down syndrome, menekankan keberlanjutan, pertumbuhan, dan dukungan. Eksplorasi arsitektural yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi; desain berlantai yang melambangkan tahapan pertumbuhan, ruang terbuka yang indah untuk merangsang pertumbuhan fisik dan sensorik, material ramah lingkungan untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan aman. Dengan penggabungan pendekatan arsitektur empati dan konsep Pillar of Growth, diharapkan dapat menciptakan sebuah lingkungan binaan yang inklusif dan mendukung untuk tumbuh dan kembang anak-anak Down syndrome secara optimal, serta berkontribusi dalam masyarakat.
KONSEP ERGONOMI BARU TERKAIT LANSIA SEBAGAI PRINSIP PERANCANGAN PADA SENIOR FARMERS MARKET Kimberly, Kimberly; Darmady, Irene Syona
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27194

Abstract

The sandwich generation phenomenon raises the stereotype that the elderly are a "burden" for the younger generation. This makes the elderly want to be active, independent and productive through self-actualization. One way to overcome this problem is to provide opportunities for the elderly to work and contribute to society. Projects created to help the elderly tend to be less friendly to the elderly such as work environments that are not ergonomic, limited accessibility and services that are not in accordance with the needs of the elderly. Lack of attention to the comfort of the elderly in projects for the elderly can have a negative impact on the health and well-being of the elderly. Based on these problems, the design of the Senior Farmers Market requires an ergonomic study so that the elderly can work comfortably. Thus, ergonomic work environment design is needed to create a comfortable and safe work environment for the elderly. Ergonomics study itself is a relevant approach to understanding and improving aspects of the design of a project that can affect the comfort and productivity of its users. This study aims to explore the ergonomics study approach as a design principle in the context of a senior farmers market that is friendly to its workers who are mostly elderly. This research uses a qualitative method with a literature study approach, observation, and ergonomic analysis to identify the ergonomic needs of the elderly. Keywords: Elderly; Ergonomics; Senior farmers market Abstrak Fenomena sandwich generation memunculkan stereotype bahwa lansia adalah beban bagi generasi dibawahnya. Stereotype ini kemudian membuat lansia berkeinginan untuk mencapai kemandirian dan menciptakan kesejahtraan mereka sendiri. Hal ini membuat lansia ingin menjadi aktif, mandiri dan produktif melalui aktualisasi diri. Salah satu metode untuk menyelesaikan masalah ini adalah dengan memberikan kesempatan bagi lansia untuk bekerja dan berkontribusi dalam masyarakat. Proyek yang di buat untuk membantu lansia cenderung kurang ramah bagi lansia seperti lingkungan kerja yang tidak ergonomis, aksesibilitas yang terbatas dan pelayanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan lansia. Kurangnya perhatian terhadap kenyamanan para lansia dalam proyek-proyek untuk lansia dapat berdampak negatif terhadap kesehatan dan kesejahteraan lansia. Berdasarkan permasalahan tersebut, perancangan Senior Farmers Market yang dibuat dalam rangka membantu lansia beraktualisasi diri ini membutuhkan studi ergonomi agar para lansia dapat bekerja dengan nyaman. Oleh karena itu, desain lingkungan kerja yang ergonomis sangat penting untuk membuat tempat kerja yang aman dan nyaman bagi orang tua. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi pendekatan studi ergonomi sebagai prinsip perancangan dalam konteks senior farmers market yang ramah bagi para pekerjanya yang sebagian besar merupakan lansia. Untuk menentukan kebutuhan ergonomi untuk orang lanjut usia, penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang menggunakan metode studi literatur, observasi, dan analisis ergonomi yang sesuai untuk lansia.
PENERAPAN PENDEKATAN EKSPERIMENTAL RASIONALISME YANG EMPATIK DALAM DESAIN FASILITAS PENGOLAHAN UDARA BERSIH DI JAKARTA Lewinski, Madeline Louis; Ariaji, Priscilla Epifania
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27196

Abstract

Jakarta ranks among the top 10 cities with the highest pollution levels globally. Architecture can play a role to help reduce air pollution by implementing air purification technology within buildings. This design method represents the application of experimental rationalism that has not been tried before. With experimental rationalism, the air filtration technology in the design becomes the basis for an empathetic program within the building. The primary purpose is to provide a healthy space for the general public, whose daily lives are threatened by health risks triggered by air pollution. The emerging program includes an air-based therapy space, a research and education center on air pollution and air filtration technology, and commercial areas to complement the building's facilities. The empathy emphasized is towards the people of Jakarta, particularly their health risks. The building is envisioned to be a facility for healthy air processing accessible to everyone, aiming to empathize with the community and its health conditions by implementing modern air filtration technology capable of filtering harmful pollutants in Jakarta's air. Keywords: air filtration technology; air purification architecture; empathetic program; experimental rationalism Abstrak Jakarta menginjak peringkat 10 besar sebagai kota dengan polusi tertinggi di dunia. Disini arsitektur bisa berperan untuk membantu reduksi polusi udara, dengan cara mengimplementasikan teknologi penyaring udara dalam bangunan. Metode desain ini merupa penerapan eksperimental rasionalisme yang belum pernah dicoba sebelumnya. Menggunakan penerapan eksperimental rasionalisme, teknologi penyaring udara dalam desain dijadikan basis program empatik dalam bangunan, dimana pengolahan udara bersih yang diproduksi oleh bangunan tersebut dijadikan kegunaan utama bangunan, yang bertujuan untuk menyediakan fasilitas ruang sehat kepada masyarakat umum yang kesehariannya terancam oleh resiko kesehatan dipicu oleh polusi udara. Program yang dimunculkan adalah ruang terapi berbasis udara sehat, pusat riset dan edukasi polusi udara dan teknologi penyaring udara, serta area komersil untuk melengkapi fasilitas bangunan.  Empati yang diambil merupakan empati terhadap masyarakat Jakarta. Empati terhadap kesehatan mereka yang di ancam oleh resiko kesehatan. Bangunan ini menjadi sebuah fasilitas pengolahan udara sehat yang dapat diakses oleh semua orang, dan bertujuan untuk berempati terhadap masyarakat dan kondisi kesehatannya dengan cara menerapkan teknologi modern penyaring udara yang dapat memfiltrasi polutan buruk di udara Jakarta.  
PERAN ARSITEKTUR TERHADAP KEMAJUAN UMKM DI BIDANG FASHION DI ERA DIGITALISASI MELALUI PENDEKATAN ARSITEKTUR EMPATI Deva, Sidharta Chandana; Halim, Martin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27444

Abstract

MSMEs, or Micro, Small, and Medium Enterprises, represent productive ventures owned by individuals or entities qualifying as micro-enterprises. In the digitalization era, these MSMEs have witnessed rapid growth, significantly contributing to Indonesia's economic advancement. Recognizing their importance, both governmental and private sectors are actively promoting MSMEs in the country. A notable sector experiencing rapid expansion is the creative economy, particularly the fashion industry. However, challenges threaten the progress of fashion-oriented MSMEs in Indonesia's digital age. The digitalization era has intensified both national and global competition. Many enterprises struggle to adapt to these digital shifts, exacerbated by the lack of supportive facilities. This research examines the development of fashion-related MSMEs through an architectural lens, investigating how architectural and digital designs influence their evolution in an increasingly digital landscape. Utilizing both qualitative and quantitative methods, the study further analyzes transformations within the fashion business, encompassing shifts in physical store designs due to digitalization, and the role of architectural communication via social media, online branding, and digital marketing in shaping brand identity. Keywords: Architecture; Digitalization; Fashion; MSMEs; Progress Abstrak UMKM adalah singkatan dari usaha mikro, kecil dan menengah, UMKM merupakan usaha produktif yang dimiliki perorangan atau badan usaha yang telah memenuhi kriteria sebagai usaha mikro. UMKM berkembang cukup pesat di era digitalisasi ini, sehingga memiliki peranan penting terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia, oleh karena itu pemerintah dan swasta tengah berupaya dalam memajukan UMKM di Indonesia, salah satu sektor industri yang berkembang cukup pesat saat ini adalah industri ekonomi kreatif dibidang fashion, namun, terdapat permasalahan yang dapat menghambat dan mengancam kemajuan UMKM bidang fashion di Indonesia di era digitalisasi. Era digitalisasi membuat persaingan nasional maupun global semakin ketat, dan masih banyak yang tidak mampu beradaptasi terhadap perkembangan digitalisasi, minimnya fasilitas yang mewadahi hal ini juga menjadi salah satu faktor yang menghambat kemajuan UMKM di Indonesia. Penelitian ini mendekati perkembangan UMKM dibidang fashion dengan perspektif arsitektural, mengeksplorasi desain arsitektur dan digital dapat mempengaruhi perkembangan UMKM di bidang fashion yang semakin terdigitalisasi dengan menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif, selain itu penilitian ini juga bertujuan untuk menganalisis transformasi dalam konteks bisnis fashion dan kebutuhan UMKM, termasuk desain toko fisik yang mengalami perubahan akibat perkembangan digitalisasi, serta komunikasi arsitektur melalui media sosial, branding online, dan strategi pemasaran digital dapat memainkan peran dalam membangun identitas merek.
ARSITEKTUR ADAPTIF YANG MENJUNJUNG TINGGI KEMANUSIAAN DALAM BANGUNAN SIAP HUNI BAGI PENGUNGSI BANJIR Yonandi, Reinhard Patricio; Halim, Martin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27447

Abstract

Floods are a familiar disaster for Jakarta residents, often bringing detrimental impacts. These include disruptions to physical and mental health, property damage, and significant economic losses. With numerous residences submerged, affected residents are compelled to evacuate, seeking shelter and assistance. However, the high number of evacuees and the limited capacity of emergency shelters often result in a drastic decline in their quality of life. Additionally, government regulations regarding aid provision further exacerbate the disparity between the assistance provided and the needs of the evacuees. Acknowledging the shortcomings and responses from those who have experienced displacement, this journal explores the crucial role of architecture in meeting the needs of evacuees in flood-prone areas, particularly in Jakarta. It delves into how architecture can address the needs of evacuees through its design. The primary focus is on designing buildings that are adaptive to environmental conditions, considering essential needs. Involving humanitarian elements in housing development becomes a key aspect, as outlined in the journal, detailing efforts to enhance the quality of life and sustainability for the evacuee community. This research highlights the importance of adaptive architecture as an integral solution in addressing the impact of natural disasters from both architectural and human design perspectives. It provides a fresh perspective on handling evacuations in flood-prone areas. Keywords: Adaptive; Architecture; Evacuees; Needs Abstrak Banjir adalah salah satu bencana yang sudah tidak asing lagi bagi warga Jakarta, dan seringkali bencana ini membawa dampak negatif yang merugikan. Hal ini mencangkup gangguan terhadap kesehatan fisik dan mental, kerusakan properti, dan juga kerugian ekonomi yang signifikan. Dengan banyak terendamnya tempat tinggal, para warga yang tertimpa terpaksa mengungsi, mencari perlindungan, dan meminta bantuan. Sementara jumlah pengungsi yang tinggi, terdapat keterbatasan kapasitas dari tempat pengungsian darurat yang sering mengakibatkan penurunan drastis dari kualitas hidup mereka. Selain itu, dengan adanya peraturan mengenai bantuan kebutuhan dari pemerintah, kelebihan kapasitas ini membuat bantuan yang diberikan menjadi tidak sebanding dengan korban pengungsi yang ada. Mengetahui kekurangan dan respon dari para warga yang pernah mengungsi, jurnal ini mengeksplorasi peran krusial arsitektur dalam memenuhi kebutuhan pengungsi di kawasan rawan banjir, khususnya di Jakarta. Bagaimana arsitektur dapat memenuhi kebutuhan para pengungsi melalui rancangannya. Fokus utama adalah pada merancang bangunan yang adaptif terhadap kondisi lingkungan, dengan mempertimbangkan aspek kebutuhan esensial. Melibatkan elemen kemanusiaan dalam pengembangan ruang hunian menjadi elemen            kunci, jurnal ini merinci upaya meningkatkan kualitas hidup dan keberlanjutan bagi komunitas pengungsi. Penelitian ini menyoroti pentingnya arsitektur adaptif sebagai solusi integral dalam menghadapi dampak bencana alam dari aspek rancangan arsitektur dan manusia, dan memberikan pandangan baru terhadap penanganan pengungsian di kawasan yang rentan terhadap banjir.
PENDEKATAN EMPATI-SALUTOGENIK DALAM PERANCANGAN FASILITAS PERAWATAN MASA NIFAS Carissa, Cindy; Hadiwono, Alvin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27449

Abstract

Postnatal care centers play an important role in facilitating a woman's physical and emotional recovery after giving birth. This journal discusses the integration of salutogenic and empathetic design principles within postnatal care centers, with the goal of providing an environment that comprehensively nurtures the health and well-being of postnatal mothers. Salutogenic design focuses on promoting health and resilience, while empathic design centers on recognizing and addressing individual needs. This paper explores the fundamental aspects of salutogenic design, including personalized spaces, exposure to natural light, access to natural elements, acoustic comfort and the integration of positive distractions. In addition, this journal emphasizes the importance of clear spatial organization and the provision of privacy within postnatal care centers to pay attention to psychological aspects. Simultaneously, empathetic design considerations involve creating spaces that support mothers' emotional well-being during the postpartum period that is vulnerable to physical and emotional instability. Incorporating these design principles within a postnatal care center can produce a therapeutic environment that not only supports physical recovery but also maintains emotional resilience. The research uses qualitative methods to look for relationships and impacts that can be produced by the application of salutogenics in the design process. The journal aims to provide application and determine the impact of implementing empathetic and salutogenic aspects into the design of postpartum facilities such as the integration of green areas, customized programs for the mother's physical and mental recovery, as well as customized units based on needs. Keywords:  Empathic; Post partum; Salutogenic Abstrak Pusat perawatan masa nifas memegang peran penting dalam memfasilitasi pemulihan fisik dan emosional wanita setelah melahirkan. Jurnal ini membahas integrasi prinsip-prinsip desain salutogenik dan empatik di dalam pusat perawatan pasca melahirkan, dengan tujuan menyediakan lingkungan yang secara komprehensif memelihara kesehatan dan kesejahteraan para ibu pasca melahirkan. Desain salutogenik berfokus pada promosi kesehatan dan ketahanan, sementara desain empatik berpusat pada pengenalan dan penanganan kebutuhan individu. Makalah ini mengeksplorasi aspek mendasar desain salutogenik, mencakup ruang yang dipersonalisasikan seesuai kebutuhan, paparan cahaya alami, akses ke elemen alami, kenyamanan akustik, dan integrasi distraksi positif. Selain itu, jurnal ini menekankan pentingnya organisasi spasial yang jelas dan penyediaan privasi di dalam pusat perawatan masa nifas untuk memperhatikan aspek psikologis. Secara bersamaan, pertimbangan desain empatik melibatkan penciptaan ruang yang mendukung kesejahteraan emosional para ibu selama masa nifas yang rentan akan ketidakstabilan fisik dan emosional. Penggabungan prinsip-prinsip desain ini di dalam pusat perawatan pasca melahirkan dapat menghasilkan lingkungan terapeutik yang tidak hanya mendukung pemulihan fisik tetapi juga memelihara ketahanan emosional. Penelitian menggunakan metode kualitatif untuk mencari hubungan dan dampak  yang dapat dihasilkan oleh penerapan salutogenik  dalam proses perancangan. Jurnal bertujuan untuk memberikan penerapan dan mengetahui dampak penerapan aspek empati dan salutogenik kedalam desain fasilitas masa nifas seperti integrasi area hijau, program yang disesuaikan untuk pemulihan fisik dan mental ibu, serta unit yang terkostumisasi berdasarkan kebutuhan.