cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
WADAH AKTIVITAS TEMPORER DI RAWA BUAYA Adelia Putri Octavini; Dewi Ratnaningrum
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6882

Abstract

The lives of many Jakarta people are spent in the residence (first place) and the workplace (second place). Lack of community interaction outside these two places makes people feel unfamiliar with the surrounding environment to cause prejudice and even crime (Theory of Deindividuation). Humans tend to feel more secure about the surrounding environment if they can get to know the people around him. The density of Jakarta is accompanied by a variety of activities that have not been properly enclosed. Spatial optimization using the planning of space temporality is manifested in the portability of architecture and program planning. To bring the community together, a temporary activity place (Tempo. Act. Place) is designed in Rawa Buaya. This site was chosen because it has a high diversity of the community. The method used is quantitative and qualitative methods, which is a grounded observation, interviews, and a literature review. The program in this building is realized through some zones, which are the Temporary Event Zone, the Knowledge Sharing Zone, the Pocket Farming Zone, and the Commercial Zone. The zone is planned to bring togetherness and trigger the needs of users so they can interact with each other. Organizing space is also formed through the approach of Social Psychology theory, namely Functional Distance. The shape of the building was inspired by the metamorphosis of the Liquid Phase theory in Temporary City which was realized in the form of cones. Then the curved floor plan following the cone made the building more dynamic. So that the third-place character that are playful mood, a conversation is the main activity, and neutral can be fulfilled. AbstrakKehidupan masyarakat Jakarta banyak dihabiskan di tempat tinggal (first place) dan tempat bekerja (second place). Kurangnya interaksi masyarakat di luar dua tempat tersebut membuat masyarakat merasa asing dengan lingkungan sekitarnya hingga menimbulkan prasangka dan kejahatan (Theory of Deindividuation). Manusia cenderung merasa lebih aman terhadap lingkungan sekitarnya, apabila ia dapat mengenal orang sekitarnya. Kepadatan kota Jakarta diiringi beragam aktivitas yang belum terwadahi dengan baik. Pengoptimalan ruang menggunakan sifat kesementaraan ruang terwujud dalam portabilitas arsitektur dan perencanaan program yang berfungsi mewaktukan ruang. Untuk mempertemukan masyarakat, direncanakan sebuah wadah aktivitas yang bersifat temporer yang berada di Rawa Buaya. Lingkungan ini dipilih karena memiliki keberagaman yang tinggi. Metode yang dipakai adalah metode kuantitatif dan kualitatif, yaitu berupa observasi grounded, wawancara, dan kajian literatur. Program ruang dalam bangunan ini terwujud melalui zona yang ada, yaitu Zona Temporary Event, Zona Knowledge Sharing, Zona Pocket Farming, dan Zona Komersil. Zona tersebut direncanakan untuk mempertemukan dan memicu kebutuhan antar pengguna sehingga dapat saling berinteraksi. Pengorganisasian ruang juga dibentuk melalui pendekatan teori Psikologi Sosial, yaitu Functional Distance. Bentuk bangunan terinspirasi dari metamorfosa teori Liquid Phase di Temporary City yang diwujudkan dalam bentuk cone. Kemudian bentuk denah yang melengkung mengikuti cone tadi membuat bangunan menjadi lebih dinamis. Sehingga karakter third place dapat terpenuhi, yaitu playful mood, conversation is the main activity, dan neutral.
PENANGGULANGAN ISU WIRAUSAHA DI INDONESIA DENGAN PEMBANGUNAN KOMUNITAS KRIYA JATINEGARA Ruthy Elvana David; Lina Purnama
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4426

Abstract

Millennial Generation is the generation births from 1981-1994. This generation is known as a generation that is open-minded, like to challenge themselves, brave enough to take risks, determinded, and interested to try new things. There is a fact that says almost 70,9% of millennials are interested to start their own bussinesses. It is the reason of the term “millennial entrepreneur”. That means an entrepreneur that is born in millennial generation. They have the ability to create creative and innovative bussiness plan that is different from others. Altough the number of entrepreneurs in Indonesia increasing every year, this has not been recognized by the worid because the amount is only 1,65% of population compared to other countries (Singapore, Malaysia, South Korea, China, USA, Thailand). Therefore, the author aims to increase the number of entrepreneurs by providing a place that can accommodate all of their activities. Not only providing learning activities, but also their physical activities, such as:  eat, take a bath, exercise, and take a rest. This project, known as Jatinegara Craft Community, is located in Jatinegara, East Jakarta. The method of this study is cross-programming method. Vision of this project is to become a mixed-use building that can fulfill the needs of millennial entrepreneurs so that they can solve the issue of entrepreneurship in Indonesia and also the issue of sustainability. Meanwhile, the mission of this project is to create a place for the current millennial generation, especially for the young entrepreneurs in their study (formal and non-formal), work, social life and rest.  AbstrakGenerasi Milenial adalah generasi yang lahir pada tahun 1981-1994. Generasi ini dikenal sebagai generasi yang open-minded, menyukai tantangan, berani mengambil resiko, memiliki pendirian yang kuat, dan tertarik untuk mencoba hal-hal baru. Ada fakta yang menyatakan bahwa sekitar 70,9% Generasi Milenial tertarik untuk membuka usaha sendiri, sehingga banyak muncul istilah millennial entrepreneur, dimana mereka adalah wirausaha yang lahir di Generasi Milenial. Mereka mampu untuk menciptakan ide bisnis yang kreatif dan inovatif, yang berbeda dari yang lain. Walaupun tingkat wirausaha di Indonesia makin meningkat tiap tahunnya, tetapi sepertinya millennial entrepreneur di Indonesia belum dianggap oleh dunia karena jumlahnya hanyalah 1,65% jika dibandingkan dengan negara lain (Singapura, Malaysia, Korea Selatan, Cina, Amerika Serikat, Thailand). Oleh karena itu, penulis bertujuan untuk meningkatkan jumlah wirausaha dengan memberikan wadah yang dapat menampung segala kegiatan mereka. Bukan hanya memberikan kegiatan pembelajaran, tetapi sampai ke kegiatan pokok mereka, antara lain; makan, mandi, olahraga, dan istirahat. Proyek ini, Komunitas Kriya Jatinegara, berlokasi di Jatinegara, Jakarta Timur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode cross-programming. Visi dari proyek ini adalah untuk menjadi bangunan multi-fungsi yang dapat memenuhi kebutuhan millennial entrepreneur. Selain itu, diharapkan proyek ini juga dapat menjawab isu kurangnya wirausaha di Indonesia dan isu sustainability. Sementara itu misi dari proyek ini adalah untuk menciptakan ruang yang dibutuhkan oleh Generasi Milenial sekarang ini, khususnya untuk wirausaha muda dalam mereka belajar (formal dan non-formal), bekerja, bersosialisasi, dan beristirahat.
RUANG KOMUNAL KUE TRADISIONAL DI SENEN Astrid Agustina; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8503

Abstract

The Indonesian people should be proud, because Indonesian food has been named the most delicious food in the world for several years. Other nations even recognize our ancestral heritage. Indonesian traditional foods such as rendang, satay and fried rice are already well-known and recognized by other countries, but traditional snacks and cakes are still less popular in Indonesia's young generation. Throughout culinary development, we often encounter cakes like tarts, brownies, or pies compared to traditional cakes such as bugis, apem cake, bikang cake. It is not wrong if  Indonesian wants to know about cakes from the west country, but we must also preserve culture as the identity of the Indonesian people in the eyes of the world. Do not let the traditional cakes that can still be found in the market have decreased. Therefore, Third Place as a forum that can be used to provide knowledge and preparation is needed in the midst of the younger generation. Third place as a space to support is needed by humans. Humans need social assistance between other humans. Lack of social connections can damage human health more than obesity, smoking, and high blood pressure. In addition to socializing, Third Place can also be made for education purposes, with the aim that all people particularly young people have knowledge of their own culture and traditional foods, especially traditional cakes.Keywords:  Indonesian foods, social, third place, traditional cakesAbstrakBangsa Indonesia patut berbangga, pasalnya makanan Indonesia dinobatkan sebagai makanan terenak di dunia selama beberapa tahun. Bangsa lain saja bahkan mengakui kelezatan warisan nenek moyang kita. Makanan tradisional Indonesia seperti rendang, sate, dan nasi goreng memang sudah dikenal dan diakui oleh negara lain, namun camilan dan kue tradisional masih kurang populer bahkan di generasi muda Indonesia sendiri. Seiring perkembangan kuliner, lebih sering kita temui kue-kue seperti tart, brownies, atau pie dibandingkan kue tradisional seperti kue bugis, kue apem, kue bikang. Tidak salah bila masyarakat Indonesia ingin terbuka dan mempelajari kue-kue asal barat, namun kita pun harus tetap melestarikan budaya sebagai identitas bangsa Indonesia di mata dunia. Jangan sampai kue-kue tradisional yang masih bisa ditemukan di pasar semakin menurun eksistensinya. Oleh karena itu, sebuah Third Place sebagai wadah yang dapat digunakan untuk memberikan pengetahuan dan pengenalan diperlukan di tengah-tengah generasi muda. Third Place sebagai ruang untuk berkumpul sangat diperlukan bagi manusia. Manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan koneksi antara manusia lain. Kurangnya koneksi sosial bahkan dapat merusak kesehatan seorang manusia lebih besar dibandingkan obesitas, rokok, dan tekanan darah tinggi. Selain untuk bersosialisasi, Third Place juga dapat dijadikan sarana untuk edukasi, dengan tujuan agar semua masyarakat terutama generasi muda memiliki pengetahuan dan mengenal budaya memasak dan makanan tradisional mereka sendiri, khususnya kue tradisional.
URBAN ENTERTAINMENT HUB DI KAWASAN PANTAI INDAH KAPUK Jefferson Fritzgerald Karnadi; Sutrisnowati Machdijar
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4385

Abstract

Jakarta as a busy city has an interpretation that describes the city with its density and irregularity. The city is busy inhabited by residents who race against time where city life runs for 24 hours. Jakarta is ranked 25th as a city with a high level of stress, this is possible because Jakarta is the center of government and business center. At the same time, there is an increasing need for Jakarta's entertainment and recreation to release stress in everyday life in urban areas. To eliminate boredom, a person needs to do activities that are different from his daily routine, so that the person can feel refreshed to do the activity well. Shopping is one of the activities carried out by the community to release fatigue. Therefore, a new container created a "shopping center" that was in accordance with the pattern and behavior of the millennial generation in removing their fatigue. A new container that is not only a shopping center in general, but also represent programs that can increase social value and provide control due to changes in patterns and behavior of the community.Abstrak Jakarta sebagai kota sibuk memiliki interpretasi yang menggambarkan kota dengan kepadatan serta ketidak -teraturannya. Kota sibuk dihuni oleh para penduduk yang berpacu dengan waktu dimana kehidupan kota tersebut berjalan selama 24 jam. Jakarta menempati peringkat ke-25 sebagai kota dengan tingkat stress yang cukup tinggi, hal ini dimungkinkan karena Jakarta merupakan pusat pemerintahan dan pusat bisnis. Disaat yang bersamaan, terjadinya peningkatan kebutuhan akan hiburan dan rekreasi masyarakat Jakarta untuk melepas stress dalam kehidupan sehari-hari di perkotaan. Untuk menghilangkan kejenuhan, seseorang perlu melakukan kegiatan yang berbeda dari rutinitas sehari-hari, sehingga orang tersebut dapat merasa segar kembali untuk melakukan aktifitas dengan baik. Berbelanja merupakan salah satu aktifitas yang dilakukan oleh masyarakat untuk melepaskan rasa penat. Oleh karena itu, perancangan kali ini menciptakan “shopping center” yang sesuai dengan pola dan tingkah laku generasi milenial dalam menghilangkan rasa penat mereka. Sebuah wadah baru yang tidak hanya menjadi pusat pembelanjaan pada umumnya, tetapi juga menghadirkan program-program yang dapat meningkatkan nilai sosial serta memberi kontrol akibat perubahan pola dan tingkah laku masyarakat.
SISTEM HUNIAN MASA DEPAN BERBASIS TEKNOLOGI UNTUK KEBUTUHAN MANUSIA Albert Utama; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10800

Abstract

The Living Bot is a project where future residential buildings will adapt to the times. In the coming year, the human population will continue to grow, so that it will use the land as a place for various needs such as shelter, activities, and other things. Along with this increase in human population, the land will also shrink while the land itself is needed so that humans can meet their food needs either from farming (plants), or through livestock (animal). Therefore, The Living Bot created a system in which human implementation begins to adapt to the life in which they live by implementing a residential system that can produce their own food with plantings that maximize vertical land. This form of shelter can be used as a system so that its application can be carried out. Adaptations that are carried out are by changing the lifestyle of humans to the use of technology. The lifestyle that must adapt is by farming, assisted by A.I. technology. because humans in urban areas do not have a background in growing a food crop. Therefore technology is present in helping urban communities, also assisted by modern planting methods such as using hydroponics, aquaponics, aeroponics, and indoor planting techniques assisted by artificial light such as LEDs. Keywords: Adaptation; Techonology Abstrak The Living Bot merupakan sebuah proyek dimana bangunan hunian pada masa depan akan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Pada tahun yang akan datang, populasi manusia akan terus bertambah, sehingga akan menggunakan lahan sebagai tempat untuk berbagai macam kebutuhan seperti tempat tinggal, aktivitas, dan hal lainnya. Seiring dengan pertambahan populasi manusia ini, lahan juga akan semakin menyempit sedangkan lahan sendiri diperlukan agar manusia dapat memenuhi kebutuhan pangannya baik dari hasil bertani (tumbuh-tumbuhan), ataupun melalui peternakan (hewani). Maka dari itu The Living Bot membuat suatu sistem yaitu dimana implementasi manusia mulai beradaptasi dengan kehidupan tempat tinggalnya dengan menerapkan sistem hunian yang dapat menghasilkan makanannya sendiri dengan penanaman-penanaman yang memaksimalkan lahan secara vertikal.Bentuk hunian seperti ini dapat dijadikan sebuah sistem sehingga penerapannya dapat dilakukan di berbagai hunian Adaptasi yang dilakukan adalah dengan mengubah gaya hidup manusia sampai kepada pengunaan teknologi. Adapun gaya hidup yang harus beradaptasi adalah dengan bercocok tanam, dengan dibantu oleh teknologi A.I. karena manusia yang ada di perkotaan tidak memiliki latar belakang dalam menanam sebuah tanaman pangan. Maka dari itu teknologi hadir dalam membantu masyarakat kota, juga dibantu oleh metode menanam yang modern seperti menggunakan hidroponik, akuaponik, aeroponik, dan teknik penanaman indoor yang dibantu oleh cahaya buatan seperti LED.
MEREDEFINISI KAMPUNG: PARADIGMA BARU PERENCANAAN KOTA DALAM MEWUJUDKAN KOTA YANG LEBIH BAIK Maria Iqnasia Karen; Dewi Ratnaningrum; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10826

Abstract

The rapid growth of the urban population on limited land pushes the city to grow vertically. Vertical development is clearly very helpful in overcoming the problem of high density, yet the existing module for vertical existence has produced an urban landscape of formal and monotonous that pushes the population to become socially disconnected. This paper aims to propose a new typology of a vertical dwelling in densely populated settlements in Urban Kampoong through a strategy of redevelopment, based on the form of community interaction and characteristics of urban village known as Kampung, in Tambora, West Jakarta. At some point, urban village has presented a new concept of urban development which is compact city, in terms of density, land efficiency with mixed land use pattern, and complex-dynamic social systems, that ensure the sustainability of the kampung and creates a livable community. Furthermore, within the framework of the "urban village", interaction between inhabitants relatively intense, and people feel a strong “sense of belonging” to their home. Urban Kampung can be the start of a new paradigm of urban planning towards a better city. The understanding of the Kampung itself refers to two methods of design, perception of space and locality.Keywords: vertical dwelling; social interaction; urban kampung AbstrakPertumbuhan pesat populasi perkotaan pada lahan yang terbatas mendorong kota tumbuh secara vertikal. Pembangunan secara vertikal jelas sangat membantu mengurangi masalah keterbatasan lahan dan kepadatan, namun model hunian vertikal yang ada malah menciptakan lanskap perkotaan dengan bentuk massa yang formal dan kaku. Hal ini berdampak pada hilangnya interaksi sosial dan kebersamaan penghuninya. Tujuan dari penulisan ini adalah mengusulkan tipologi baru hunian vertikal sebagai solusi bermukim pada permukiman padat di kampung kota melalui sebuah strategi redevelopment atau penataan ulang kawasan berdasarkan karakteristik dan bentuk interaksi warga pada kampung kota di Tambora, Jakarta Barat. Dalam beberapa hal, kampung kota telah mempresentasikan konsep baru pembangunan kota yaitu compact city baik dari sisi kepadatan penduduk, efisiensi lahan dengan pola guna lahan campuran, sistem sosial yang kompleks dan dinamis, dan lain-lain yang menjamin keberlanjutan kampung kota itu sendiri dan menciptakan kondisi kota yang livable. Selain itu, pada kampung kota terjalin ikatan kekeluargaan yang erat dan warga memiliki “sense of belonging” yang kuat terhadap tempat hidupnya tersebut. Kampung kota dapat menjadi awal dimulainya paradigma baru perencanaan kota dalam mewujudkan kota yang lebih baik. Pemahaman mengenai kampung kota itu sendiri mengacu pada dua metode desain yaitu persepsi ruang dan lokalitas.
PUSAT AKUATIK DI KELAPA GADING Stevie Liardi; Budi Adelar Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3954

Abstract

Gaya hidup di kota Jakarta telah mengalami perkembangan terutama kesadaran akan pentingnya berolahraga. Olahraga kini dipandang tidak hanya merupakan gaya hidup sehat tetapi dilihat suatu rekreasi yang memberikan manfaat kesehatan, hal ini tentunya merupakan suatu potensi wisata. Dengan berkembangnya minat olahraga tersebut, maka diperlukan suatu wadah untuk menampung kebutuhan masyarakat sekitar juga untuk meningkatkan kesadaran untuk berolahraga terutama di olahraga renang. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dan kuantitatif, pada pendekatan kuantitatif, metode yang digunakan merupakan metode survey untuk mengumpulkan data mengenai minat olahraga masyarakat di Jakarta utara terutama olahraga renang. walaupun dengan banyaknya minat berolahraga di masyarakat kota Jakarta saat ini, menurut hasil penelitian menunjukkan bahwa olahraga renang masih memiliki peminat yang sedikit dengan berbagai faktor seperti kekurangan tempat yang memadai serta fasilitas yang tidak terawat. Diharapkan dengan adanya suatu wadah untuk olahraga renang di Kelapa Gading yaitu Pusat Akuatik di Kelapa Gading ini maka tidak hanya dapat memberikan wadah bagi peminat olahraga renang di Jakarta, namun juga dapat menarik peminat baru serta pengunjung sehingga meningkatkan angka pariwisata di daerah kelapa gading itu dan dapat mengembangkan daerah kelapa gading serta daerah disekitarnya .  
PUSAT KREATIVITAS REMAJA DAN ANAK MUDA MILENIAL Stefanus Sutanto; Dewi Ratnaningrum
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4440

Abstract

In this modern age we often hear the term Millennial, Millennial is a young person today who was born between 1980-2000an. Especially in Indonesia even Millennials are very numerous, millennials are young people who certainly have many abilities and diverse creativity which of course can be developed in a positive way for the ability in each of them. Activities that can build their creativity are certainly very pleasant besides being able to fill their time with useful things besides that they can also increase their ability for the future so they can have an entrepreneurial spirit. This project aims to accommodate millennials who can develop their abilities and the creativity they have to develop in the future so that they can have an entrepreneurial spirit besides being able to fill time with useful and positive things and socializing to meet many people who have a passion and the same creativity so that it can add insight. This project is a place that accommodates teenagers and millennial young people to develop their talents and creativity in the activities they enjoy. as well as being a new non-formal teaching place for the Tangerang city, specifically Alam Sutera. The method used is descriptive where direct observation is carried out in the field and analysis of data - data to determine the space requirements to obtain the relationship of space and circulation in the site. From the results that have been found, a round / curved form of building mass is formed, with a façade that tends to be modern, depicting young people who are dynamic and not fixated in monotone activities. Activity groups are based on zoning and pay attention to the privacy of each activity and each activity can be obtained from the results of a survey with most young people and adolescents living in the Alam Sutera area. AbstrakPada zaman modern ini kita sering mendengar istilah Milenial, Milenial adalah anak muda pada sekarang ini yang lahir di antara tahun 1980-2000an. Terutama di Indonesia pun kaum Milenial sangatlah banyak, kaum milenial pun adalah kaum muda yang pastinya memiliki banyak kemampuan dan kreativitas yang beragam yang tentunya dapat di kembangkan dalam hal yang positif untuk kemampun dalam diri mereka masing-masing. Kegiatan yang dapat membangun kreativitas mereka tentunya sangat menyenangkan selain dapat mengisi waktu dengan hal yang berguna selain itu pun  juga bisa menambah kemampuan diri untuk masa depan agar bisa memiliki jiwa entrepreneur. Proyek ini memiliki tujuan untuk mewadahi para kaum milenial bisa mengembangkan kemampuan mereka serta kreativitas yang mereka miliki untuk di kembangkan untuk kedepannya agar bisa mempunyai jiwa entrepreneur selain itu juga dapat mengisi waktu dengan hal yang berguna dan positif serta bersosialiasi bertemu dengan orang banyak yang memiliki kegemaran dan kreativitas yang sama sehingga dapat  menambah wawasan. Proyek ini adalah tempat yang mewadahi para remaja dan anak muda milenial untuk mengembangkan bakat dan kreativitas mereka dalam kegiatan yang mereka gemari. sekaligus menjadi tempat pengajaran non formal baru bagi kota Tangerang khusus nya Alam Sutera. Metode yang digunakan adalah deksriptif di mana dilakukan pengamatan langsung di lapangan dan analisis data – data untuk menentukan kebutuhan ruang hingga didapatkan hubungan ruang serta sirkulasi di dalam tapak. Dari hasil yang sudah di dapati, terbentuklah bentuk massa bangunan yang bundar/melengkung, dengan façade yang cenderung modern, Menggambarkan anak muda yang dinamis dan tidak terpaku dalam kegiatan yang monotone saja. Kelompok kegiatan dibuat berdasarkan zoning dan memperhatikan privasi dari tiap kegiatan serta setiap kegiatan di dapat dari hasil survey dengan sebagian besar anak muda dan remaja yang tinggal di kawasan Alam Sutera.
FASILITAS EDUKASI DAN HIBURAN BERBASIS TANAMAN DI DURI UTARA Lieman Lieman
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8544

Abstract

Urban society has a high level stress. The daily routine beet home (first place) and at the workolace (second place) is a stress trigger. There is a gap to fill between first place and second place. So third place is a place for escape between first place and second place. At that place people will release the stress and fill it with conversation and activities. A open architecture try to present the third place in it. It try to bring place for various activities that can change according to development. That place can use for various age from child and adult. This project use observation approach and study of literature. See what happening on the field. Contextualities applied in this project, made building harmony and appear polite with surrounding. The project raised issue on the field. In release the stress used acitivies that use natural media methods. The natural media used is plant. According to research by doing activities related with plants such as planting, caring, or harvesting can reduce the level of stress in the soul. Creative activities that can be enjoyed by various ages, in childern to adult range. More creative interactions have been implemented in the project of plant-based educational and entertainment facilities in Duri Utara. Keywords: plant; stress; third place AbstrakMasyarakat kota memiliki tingkat stres yang tinggi. Rutinitas sehari-hari antara di rumah (first place) dan di tempat kerja (second place) merupakan faktor pemicu stres. Antara rumah sebagai first place dan tempat kerja atau sekolah sebagai second place ada celah untuk mengisi di antara dua hal tersebut. Maka hadirlah third place sebagai tempat pelarian antara first place dan second place. Ditempat itu sesorang akan datang untuk melepas stres dengan mengisinya dengan pembicaraan dan kegiatan. Sebuah arsitektur yang terbuka (open architecture) berusaha menghadirkan tempat ketiga (third place) di dalamnya. Hal itu mencoba menghadirkan sebuah wadah dengan beragam aktivitas yang dapat berganti sesuai perkebangannya. Wadah tersebut juga dapat digunakan oleh beragam usia dari anak-anak sampai dewasa. Proyek ini menggunakan pendekatan observasi dan studi literatur. Melihat langsung apa yang terjadi dilapangan. Kontekstualitas diterapkan dalam proyek untuk membuat bangunan yang selaras dan tampak sopan dengan sekitarnya. Proyek diangkat permasalahan yang ada di daerah perancangan. Dalam menghilangkan stres digunakan metode kegiatan yang menggunakan media alam. Media alam yang digunakan adalah tanaman. Menurut penelitian dengan melakukan kegiatan yang berhubungan dengan tanaman seperti menanam, merawat, atau memanen dapat mengurangi tingkat stres dalam jiwa. Kegiatan yang bersifat kreativitas yang dapat dinikmati oleh beragam kalangan usia, mulai dari anak-anak sampai dewasa. Interaksi yang lebih kreatif coba di terapkan dalam proyek fasilitas edukasi dan hiburan berbasis tanaman di Duri Utara.
WADAH AKTIVITAS KRE-AKTIF Melissa Melissa; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6751

Abstract

Living and growing up in urban areas with various pressures, both from home or work/school, makes people have a higher stress level. Urban people need a space in between home (first place) and a place of work / study (second place), namely the third place. Third place is important for the people because it is a place where they can be themselves, freely channel their talents and interests, as well as socializing and maintaining fitness in the midst of the busy city. Therefore, a need rises for an architectural manifestation in the form of a third place with a creative hub to channel ideas, creativity, talents, and interests and active space to maintain fitness, socialize, and build community. Alam Sutera is a developing city that has a beautiful atmosphere and integrated transportation system so that it can support a healthy walking lifestyle. In addition, Alam Sutera is also home to various types of communities, ranging from student activity units to car lovers communities. The location of the site which is located in Alam Sutera and close to universities, offices, and residential areas makes the Cre-Active Social Hub a strategic third place and able to accommodate various needs of the third activities of the Alam Sutera community and its surroundings. Cre-Active Social Hub is designed to be a place for sustainable community development, a place in between for the people of Alam Sutera, and to make the environment mood more lively and pleasant. AbstrakTinggal dan besar di daerah perkotaan dengan berbagai tekanan, baik dari rumah maupun tempat kerja atau sekolah, membuat masyarakat memiliki tingkat stres yang lebih tinggi. Masyarakat kota membutuhkan ruang antara tempat tinggal (first place) dan tempat kerja/ belajar (second place) yaitu third place. Third place penting bagi masyarakat kota untuk menjadi tempat di mana mereka bisa menjadi diri sendiri, bebas menyalurkan bakat dan minat, sekaligus bersosialisasi dan menjaga kebugaran di tengah sibuknya kota. Oleh karena itu, muncul kebutuhan akan sebuah perwujudan arsitektur berupa third place dengan creative hub untuk menyalurkan ide, kreativitas, bakat, dan minat serta active space untuk menjaga kebugaran, bersosialisasi, dan membangun komunitas. Alam Sutera merupakan sebuah kota berkembang yang memiliki suasana asri dan sistem transportasi terintegrasi sehingga dapat mendukung pola hidup berjalan kaki yang sehat. Selain itu, Alam Sutera juga merupakan rumah untuk berbagai jenis komunitas, mulai dari unit kegiatan mahasiswa hingga komunitas pecinta mobil. Lokasi tapak yang berada di Alam Sutera dan dekat dengan universitas, kantor, dan hunian membuat Wadah Aktivitas Kre-Aktif menjadi sebuah third place yang strategis dan dapat mewadahi berbagai kebutuhan third activities masyarakat Alam Sutera dan sekitarnya. Wadah Aktivitas Kre-Aktif dirancang untuk menjadi wadah bagi pembangunan komunitas yang berkelanjutan, menjadi tempat antara bagi masyarakat Alam Sutera, serta membuat suasana semakin hidup dan menyenangkan.

Page 40 of 134 | Total Record : 1332