cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
RUANG BERMAIN KOTA KAWASAN EPICENTRUM Kevinn Sukhayanto; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6791

Abstract

Play as a way for breaking the routine, rupturing the space that isolated individuals from the community, to give a feeling of fun, to rejuvenate individuals from their routines, Therefore Play is the best way to give the feeling of fun and joy also to restore the relationship between individuals with their community. City community needed an activities knot that fastens every activity within the city, in the city context this knot referred to as a platform, in the form of an object architecture. In-Play, architecture objects have a role to maintain the perspective of every individual, various ways to interact as well as a distinctive interpretation of architectural elements, so that makes architecture is not a limit or a barrier between program. Creating architecture space that is inclusive to all those. With great planning and design hopefully in the future Urban Playscape at Epicentrum will bring more vibrant life to the district and introduce a real meaning of ‘play’  to the people with a simple yet sustainable design.Abstrak Jakarta sebagai kota metropolitan dengan intensitas kegiatan tinggi, seringkali memberikan tekanan pada masyarakatnya. Kegiatan berintensitas tinggi dan berulang ini yang akhirnya memunculkan permasalahan-permasalahan mental seperti stress dan depresi, juga permasalahan mental kegiatan repetitif ini juga menyebabkan permasalahan sosial, yang mengisolasi setiap individu pada masyarakat kota pada ruang rutinitasnya masing-masing. Permainan menjadi sarana pemecah rutinitas, memecah ruang yang mengisolasi individu dari komunitas, memberikan perasaan menyengankan, sebagai sarana penyegaran individu dari rutinitas mereka, bermain menjadi solusi terbaik untuk memberikan rasa senang serta mengembalikan hubungan antara individu dengan komunitasnya. Masyarakat kota membutuhkan sebuah platform yang dapat memberi “jeda” dari rutinitas mereka. Sebuah platform yang menyediakan ruang bagi masyarakat kota untuk berisitrahat, bermain, dan bersosialisasi bersama dalam rangka penyegaran diri. Sebagai platform penyegaran yang ideal bagi masyarakat kota diusulkan sebuah ruang bermain kota yang berlokasi di kawasan Epicentrum, kawasan Epicentrum ini memiliki ruang-ruang penting berlangsungnya rutinitas kota seperti kantor, universitas, serta perumahan vertikal. Ruang Bermain ini memiliki macam kegiatan dari yang sifatnya aktif (olahraga) hingga pasif (terapi), proses perancangan melalui pertimbangan berbagai pola dan alur kegiatan yang mungkin terjadi di dalamnya sehingga menghasilkan ruang-ruang kegiatan yang multiguna serta dapat digunakan semua orang dari berbagai macam rentang usia dan latar belakang. Dengan perencanaan dan perancangan Ruang Bermain Kota di Kawasan Epicentrum diharapkan dapat menjadi sebuah simpul kegiatan baru bagi kawasan yang inklusif, serta memberikan warna baru pada kehidupan kawasan Epicentrum.
ANJUNGAN KULINER NUSANTARA Ria Iryani Wijaya; Dewi Ratnaningrum
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3968

Abstract

Kota Jakarta merupakan salah satu Kota Metroplis di Indonesia, yang memiliki tingkat stress serta penat yang tinggi, yang berasal dari berbagai faktor yang ada, di antaranya pola kegiatan sehari-hari yang berulang, macet, polusi dan lain sebagainya. Hal tersebut merupakan salah satu contoh pentingnya wisata rekreasi dalam suatu kota metropolis untuk menekan tingkat stress dan bosan pada rutinitas sehari-hari. Program yang diusung merupakan hasil dari analisis data dan lapangan, dimana merupakan kebutuhan pokok sehari-hari dari penghuninya yaitu makanan. Makanan yang dimaksud merupakan makanan yang melambangkan ciri khas dari berbagai provinsi di Indonesia, berupa kuliner nusantara, yang dimana kuliner nusantara merupakan salah satu kebanggaan terbesar bagi Indonesia, namun semakin lama semakin sedikit yang mengetahui jenis-jenisnya. Maka dari itu, ‘Anjungan Kuliner Nusantara’ ini digunakan sebagai suatu wadah untuk memperkenalkan kembali kuliner nusantara, dan juga dapat digunakan untuk pergelaran kuliner nusantara. Konsep anjungan kuliner nusantara ini adalah memasukkan salah satu unsur khas dalam kuliner nusantara yaitu daun pisang, yang dimana sering digunakan sebagai penambah rasa dan harum hingga sebagai wadah, yang melambangkan anjungan kuliner nusantara ini merupakan wadah dari perkulineran nusantara di Jakarta.
Taman Edukasi Bungga dan Terapi di Rawa Belong Christine Christine; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8491

Abstract

The process of building a city is inseparable from the development of parks within the city. Whilst the process of building a city must have a priority towards the designing of parks in each region. One of the cities that has issues with the process of developing parks in Indonesia is Jakarta. Jakarta is classified as a city with minimal park recreation although benefits of having a park recreation might help individuals in overcoming stress. Utilization of green open space in urban areas that parks have 4 main functions namely ecological, social, economic, and aesthetic functions. However, people who live in big cities are faced with a variety of occupations and work demands, therefore individuals need a place of entertainment or recreation, one of which can be a flower garden. As we know at this moment in time, individuals more often interact through social medial, therefore we unconsciously lose the essence of social life. The loss of direct interaction between individuals, resulted in the growth of individualism, narcissism and lack of empathy in humans. With that being said, we need a proper place for the community to refresh their mind, socialize, relax themselves in order to increase interaction between individuals. The facilities needed are in the form of a public educational flower garden and therapy park which is commercial, especially for the surrounding community. In addition, the existence of the Educational Flower Garden and Therapy Park will be able to enhance social interactions and in accordance with the character of the surrounding community. Keywords: Park; Social; Third place AbstrakProses pengembangan suatu kota tidak terlepas dari perkembangan taman hijau RTH dalam kota tersebut. Dimana proses pembangunan suatu kota harus memberikan prioritas terhadap perancangan taman hijau RTH pada setiap wilayah. Ruang terbuka hijau RTH merupakan sebuah kebutuhan dasar yang dibutuhkan masyarakat perkotaan. Taman hijau RTH memiliki 4 fungsi utama, yaitu fungsi ekologis, sosial, ekonomis, dan estetika. Fungsi ekologis, taman merupakan paru-paru dunia dan taman memiliki fungsi untuk meredam kebisingan. Fungsi sosial, taman dapat dijadikan sebagai tempat rekreasi dimana individu dapat berkumpul dan bersosialisasi, fungsi estetika, taman memiliki nilai yang sangat tinggi sehingga dapat dimanfaatkan untuk memperindah kota dan taman juga memberikan unsur ketenangan. Setelah dianalisa RTH Jakarta termasuk kota yang minim akan rekreasi taman hijau RTH. Seperti yang kita ketahui pada zaman sekarang individu lebih sering berinteraksi melalui sosial media, sehingga kehidupan bersosial mulai kehilangan makna. Oleh karena itu, dibutuhkan berupa taman edukasi bunga dan terapi yang berupa komersial, khususnya bagi masyarakat sekitar. Selain itu keberadaan Taman Edukasi Bunga dan Terapi harus bisa memicu interaksi sosial dan sesuai dengan karakter masyarakat sekitar. Terdapat 3 program utama untuk mewujudkan visi yaitu : edukasi bunga, pasar bunga dan kuliner yang dapat dilakukan bersama keluarga ataupun kerabat. Tujuan dari proyek ini agar masyarakat dapat merasakan pengalaman berada di bagunan  yang dipenuhi dengan taman hijau RTH serta sebagai tempat pertemuan, bersosialisai dan berkumpul masyarakat
PENERAPAN METODE DIAGRAM PADA TRANSFORMASI GUBAHAN MASSA GO LEARN SEBAGAI TEMPAT KETIGA DI KELURAHAN DURI UTARA Adi Wijaya; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8624

Abstract

The definition of togetherness is when human can come together, pursuing the same goals, and interact with each other during the process. Maybe that’s how a Third place is created, where the project trace back at the character of the surroundings, so that the planned program is certainly appropriate. Go Learn is an educational place in Duri Utara. Looking at the character of the region which is dominated by formal educational facilities, a place with informal education as its main program is guaranteed to increase the enthusiasm of the surrounding comimunity because it will become a place to escape from the bustle of normality. It’s main programs are based on culinary, music and craft which are obtained by analyzing the surrounding context. Located near Krendang triggers culinary activities on the site that are meant not to oppse but as a major support by providing cooking classes to improve the skills of its people. Music has become the number one passion of humans, especially for children, suitable for the majority of the population which are young adults. Music education is expected to gather groups of different backgrounds and at the same time enliven the area with performances that is played by themselves. Patchwork fabric, being one of the most common industries in Duri Utara region, and are usually sold raw. With craft education to process the fabrics, their economy is expected to grow along their skills on hand crafting. The presence of Go Learn in Duri Utara, with its form generated from music diagramss, is expected to gather the community together with the aim to improve their abilities and escape for a moment. Interaction with each other that is carried out during the process will bring them closer as a community and kinship. Keywords:  craft; culinary; education; music; third placeAbstrakDefinisi keterikatan adalah disaat manusia dapat berkumpul bersama, mengejar tujuan yang sama, sekaligus berinteraksi satu sama lain saat prosesnya. Mungkin begitulah third place diciptakan, dimana tempatnya melihat kembali karakter kawasannya, sehingga program yang dihadirkan tepat guna. Go Learn adalah sebuah wadah edukasi yang berlokasi di Duri Utara. Melihat karakter kawasannya yang didominasi oleh fasilitas pendidikan formal, sebuah tempat dengan edukasi informal sebagai program utamanya dijamin dapat meningkatkan antusias masyarakat sekitar karena akan menjadi tempat melepaskan diri dari kesibukan normalitas. Aktivitasnya berbasis kuliner, musik dan kerajinan yang didapatkan oleh analisis konteks sekitar. Dekatnya dengan Krendang memicu untuk aktivitas kuliner yang bukan menjadi lawan tetapi sebagai pendukung utama dengan menyediakan kelas memasak untuk meningkatkan kemampuan masyarakatnya. Musik yang menjadi kegemaran nomor satu manusia sejak dulu apalagi anak–anak, mendukung penduduk yang mayoritasnya adalah generasi muda. Edukasi musik diharapkan menjadi pengikat antar kalangan sekaligus menghidupkan kawasannya dengan pertunjukan yang mereka bawa sendiri. Kain perca, menjadi salah satu industri terbanyak di kawasan Duri Utara yang biasanya dijual secara mentah. Dengan adanya edukasi kerajinan untuk mengolah kain tersebut, ekonomi mereka diharapkan meningkat seiringnya dengan kemampuan mereka terhadap kerajinan. Hadirnya Go Learn pada Duri Utara, dengan transformasi massa yand didapat oleh diagram musik, diharapkan mengumpulkan masyarakatnya bersama dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan mereka serta melepaskan diri sejenak. Interaksi satu sama lain yang dilakukan selama prosesnya nanti akan mendekatkan mereka secara komunitas dan kekeluargaan.
RUANG PERANTARA MANUSIA DENGAN HEWAN Jennifer Chandra; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4484

Abstract

Millennials are currently facing the 6th stage of Psychosocial Crisis which revolves around the nature of relationships. Success in going through this phase will lead them to love and intimacy, while failure will result in isolation and in some cases might lead to depression and other mental health problems. Animal Assisted Therapy has been proven to be effective in the correction of an individual’s relationship orientiation. A space is needed to accommodate these programs and activities in which humans and animals are concerned. This journal will be discussing the design of the previously mentioned required space. Discussion will include analysis and syntesis of the datas collected, and also the final design output. Abstrak Milenial sedang menghadapi krisis psikososial ke-6 yang berkaitan dengan hubungan relasi dengan pihak-pihak lain. Keberhasilan dalam melewati tahap ini akan membentuk sebuah individu yang mengenal cinta dan bahagia, kegagalan dalam melewati tahap ini adalah isolasi yang dapat menjurus kearah masalah mental seperti depresi. Terapi hewan telah dibuktikan dapat membantu untuk memperbaiki hubungan manusia dan juga memberikan dampak yang sangat baik pada sifat dari hubungan tersebut. Sebuah wadah dibutuhkan untuk mewadahi kegiatan tersebut. Artikel ilmiah ini akan membahas mengenai perancangan sebagai wadah kegiatan. Pembahasan akan meliputi analisis dan sintesis dari data-data yang telah dikumpulkan, dan output perancangan.
POLA PEMUKIMAN MASA DEPAN MASYARAKAT PENGEMBARA LAUT, SUKU BAJAU Vincent Moyola Ancung; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10759

Abstract

In the era of globalization, Nusantara have lost most of its identity and culture. The view of society that has experienced gentrification needs to be restored to raise the locality again. Our minds have been blinded to the standard of living, it's time for us to think again to save the remaining culture. This project is the reflection of the process that has happened, creating another option of a new habitual pattern in the future by taking the literature on the life of the Bajau people, the Sama tribe who partly still embrace their original identity, For centuries the Bajau have lived according to the wind. and ocean currents, but now they are considered as violating national borders until they were arrested 6 years ago, November 2014 because they are considered as foreign and illegal fishermen. They are persuaded and forced to settle on the mainland in order to have an identity, even though their true identity is sea nomads. The story of "The Nomad of the Ocean" was taken over to create a new narrative of their fate,  a story where they, the Bajau, the Same tribe succeeded in fighting against capitalism which had not respected them all this time, and decided to return to settle in the ocean. Their identity and cultural values are still thick as lessons that can be learned to be a slap about a life that really needs to be protected. Hopefully this design will help the new generation understand the spirituality projected into the design to rediscover their interpretation of the identity of the nation in the archipelago. Keywords: Capitalism; Identity; Habitual Pattern; The Bajau; The Sea Nomads Abstrak Di era globalisasi ini, Nusantara nampaknya telah kehilangan sebagian besar identitas dan budayanya. Pandangan masyarakat yang telah mengalami gentrifikasi perlu dipulihkan untuk menaikan lagi Lokalitas. Batin dan pikiran kita telah dibutakan atas standar hidup, sudah saatnya kita berfikir kembali untuk menyelamatkan kebudayaan yang tersisa. Proyek ini mencoba merefleksikan proses atas apa yang telah terjadi, menciptakan opsi lain dari pola berhuni baru di masa depan dengan mengambil literatur kehidupan Masyarakat Bajau, suku Sama yang sebagian masih memeluk identitas asli mereka,  Selama berabad-abad suku Bajau hidup mengikuti arah angin dan arus laut, namun kini dianggap melanggar batas negara hingga ditangkap pada 6 tahun lalu, November 2014 karena dianggap sebagai nelayan asing dan illegal. Mereka dibujuk dan dipaksa untuk menetap di daratan agar memiliki identitas, Padahal identitas sejatinya adalah pengembara lautan. Kisah dari “Sang Pengembara Lautan” ini diambil alih untuk membuat narasi baru atas nasib mereka, cerita dimana orang Bajau, suku Sama berhasil melawan kapitalisme yang selama ini memandang mereka hanya dengan sebelah mata dan memutuskan kembali menetap di lautan. Identitas dan nilai kebudayaan yang masih kental dari mereka dijadikan pelajaran yang dapat di petik untuk menjadi tamparan tentang sebuah kehidupan yang sesungguhnya perlu di jaga. Angan-angan akan masa depan berhuni mereka dalam perancangan ini diharapkan dapat membantu generasi baru dalam memahami spiritualitas yang diproyeksikan ke dalam perancangan untuk menemukan kembali interpretasi mereka tentang jati diri dari bangsa di Nusantara.
PENATAAN KAWASAN WISATA PULAU PARI DENGAN KONSEP ECOTOURISM Bram Benjamin; Priyendiswara Agustina Bela
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.7277

Abstract

Pari Island is one of the tourist islands in the Thousand Islands, Kepulauan Seribu Selatan, DKI Jakarta. The Thousand Islands is a region of marine tourism planning and development within the RIPPARDA (Planning Regional Tourism Development Master) based on the Jakarta Regional Regulation as a tourism area developed in Wonderful Indonesia. Pari Island is unique in its tidal phenomenon which is an attractive tourist point there, with the characteristics of limestone sand beaches. Other potentials and attractions also exist in customs in the Pari Island village, where many residents from outside the island carry customs them and mixed into unique behavioral customs. The author processes the data using analyzes that determine the arrangement of tourism areas on Pari Island where they want to be taken, using policy analysis, location analysis, site analysis, ecotourism concept analysis, best practice analysis, analysis tourism activities, market analysis, analysis of space requirements. The results of this plan are the arrangement of the Pari Island Tourism Area with the Ecotourism Concept. The plan also uses the concept of ecotourism which is certainly in accordance with the data and analysis conducted by the author to develop Pari Island as a good tourist location as a leading tourist site for Wonderful Indonesia. Potential arrangement that is good is the addition of restaurants, restaurants with a concept to relax and enjoy the view of the north coast of Pari Island. Tourism should have an awareness of the importance of environmental sustainability that can only be prevented by the visitor's self-awareness, facilities are well provided, only its use should be more more attention to the arrangement of the Pari Island Tourism Region is successful. Keywords: Ecotourism; Island Tourism Area; Small Island Tourism ABSTRAKPulau Pari adalah salah satu pulau wisata di Kepulauan Seribu, Kepulauan Seribu Selatan, DKI Jakarta. Kepulauan Seribu merupakan wilayah perencanaan dan pembangunan wisata bahari di dalam RIPPARDA (Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah) berdasarkan Perda DKI Jakarta sebagai kawasan pariwisata yang dikembangkan dalam Wonderful Indonesia. Pulau Pari memiliki keunikan pada fenomena pasang surut-nya yang menjadi titik wisata menarik disana, dengan karakteristik pantai yang pasir kapur.Potensi dan daya tarik lain juga ada di adat istiadat di kampung Pulau Pari, dimana warga banyak yang dari luar pulau yang membawa adat istiadat mereka dan tercampur menjadi adat istiadat perilaku yang unik.Penulis mengolah data dengan menggunakan analisis-analisis yang menentukan penataan kawasan wisata di Pulau Pari mau dibawa kemana, dengan menggunakan analisis kebijakan, analisis lokasi, analisis tapak, analisis konsep ekowisata, analisis best practice, analisis kegiatan wisata, analisis pasar, analisis kebutuhan ruang.Yang dari itu menghasilkan rencana penataan kawasan wisata Pulau Pari dengan konsep ekowisata.Rencana tersebut juga menggunakan konsep ekowisata yang tentunya sesuai dengan data dan analisis yang dilakukan penulis untuk mengembangkan Pulau Pari menjadi lokasi wisata yang baik sebagai lokasi wisata unggulan Wonderful Indonesia. Penataan yang berpotensi baik adalah penambahan rumah makan, restoran dengan konsep untuk bersantai menikmati pemandangan pesisir utara Pulau Pari. Wisatawan harus memiliki kesadaran akan pentingnya kelestarian lingkungan yang hanya dapat dicegah dengan kesadaran diri pengunjungnya, fasilitas sudah disediakan dengan baik, hanya penggunaannya saja yang harus lebih lagi diperhatikan agar penataan Kawasan Wisata Pulau Pari ini berhasil dengan baik.
“BERNAFAS KEMBALI”: SARANA OLAHRAGA PASCA COVID Michelle Adeline; Budi Adelar Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10703

Abstract

COVID-19 is a contagious disease caused by SARS-CoV-2. The first case was identified in Wuhan, China, in 31st December 2019. The virus has spread worldwide, causing an ongoing pandemic. Small droplets containing the virus can spread form an infected person’s nose and mouth as they berathe, cough, and sneeze. The virus may also spread via contaminated surfaces. COVID-19 pandemic that is being faced globally in 2020 has caused significant changes to human lifestyle, starting from self-quarantine, implementing social distancing, people became more hygienic and living a healthier lifestyle than the previous years. This lifestyle occurs as an effort to prevent the spread of the virus. This change causes a new phenomenon known as the New Normal in COVID-19. People are now aware of the importance of maintaining good health and hygiene. The community also started doing sports activities such as cycling, exercising from home, jogging, and other activities in an effort to strengthen endurance. With many new activities carried out by the community, sports facilities are needed that can facilitate community sports activities so that people who prefer to exercise outside the home or people who do not have sports equipment can use this facility with building facilities that comply with standard health protocols. in Indonesia. Keywords: COVID-19; Lifestyle; New Normal.AbstrakPenyakit COVID-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus Corona yang ditemukan pada tanggal 31 Desember 2019, kasus pertama di Wuhan, Tiongkok. Virus ditransmisikan melalui droplet yang dihasilkan saat orang yang terinfeksi batu, bersin, atau menghembuskan nafas. Droplet ini terlalu berat dan tidak bisa bertahan di udara, sehingga dengan cepat jatuh dan menempel pada lantai atau permukaan lainnya. Pandemi COVID- 19 yang dihadapi secara global pada tahun 2020 menyebabkan perubahan signifikan terhadap pola hidup masyarakat dunia, mulai dari karantina mandiri, menerapkan budaya social distancing, merubah pola hidup yang lebih higenis dan sehat dibandingkan tahun- tahun sebelumnya. Pola hidup ini terjadi sebagai mitigasi atau upaya dalam mencegah penyebaran virus. Perubahan ini menyebabkan fenomena baru yang disebut sebagai Kenormalan baru COVID-19. Masyarakat dunia menjadi lebih sadar akan pentingnya menjaga kesehatan dan kebersihan. Masyarakat juga mulai melakukan kegiatan-kegiatan olahraga seperti bersepeda, berolahraga dari rumah, jogging, dan aktivitas lainnya sebagai upaya untuk memperkuat daya tahan tubuh. Dengan kegiatan baru yang banyak dilakukan masyarakat maka diperlukan sarana olahraga yang dapat memfasilitasi aktivitas olahraga masyarakat sehingga masyarakat yang lebih suka berolahraga di luar rumah atau masyarakat yang tidak punya alat-alat olahraga dapat menggunakan sarana ini dengan fasilitas-fasilitas bangunan yang sesuai dengan standar protokol kesehatan yang ada di Indonesia.
SARANA OLAHRAGA HIBURAN AIR INDOOR DI PANTAL ANCOL Melvin Melvin; Timmy Setiawan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3977

Abstract

Di masa millennial, Jakarta berkembang sangat pesat diluar jangkauan manusia. Dari segi infrastruktur, ekonomi, social, bisnis, maupun pariwisata. Tidak terlepas dari perkembangan tersebut, pemerintah mulai berfokus pada pariwisata yang merupakan salah satu motor perekonomian di Indonesia. Sehingga beberapa titik mulai ditujukan pembangunan bangunan berunsur pariwisata dan edukasi di masa yang akan mendatang.Olahraga memiliki beberapa cabang yang dapat diminati masyarakat. Dari segi lokasi, ancol memiliki daya Tarik tersendiri dengan olahraga yang berunsur air. Latar belakang pantai dan lautan yang diminati masyarakat, poin ini dapat dimanfaatkan baik sehingga Suatu bangunan yang berbasis olahraga dan air dapat menghibur masyarakat sekaligus mengedukasi pengertian masyarakat terhadap olahraga yang berbasis Internasional. Untuk itu Penulis mengkaji dan menganalisis tentang kawasan Ancol dan merancang Indoor Watersportaiment di Pantai Ancol. Dengan terdapat beberapa permasalahan dari segi biaya, persaingan, dan market pengunjung yang akan berkunjung.
KAJIAN PERANCANGAN PERANGKAP TURIS DENGAN PENGALAMAN BUDAYA BETAWI DI LENTENG AGUNG Monica Vioni Leksono; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4349

Abstract

Millennials is a generation who prefers exploring new things rather than saving for future. Millennials who were born in rapid high technology development era make the global culture affects the generation easily, this causes the local culture such as betawi culture is less demanded by millennials. Tourism area in South Jakarta which less centralized and not having strong activity connection make some of the attractions unexplored, such as Betawi Village in Setu Babakan. A connector between Ragunan attractions & Perkampungan Betawi in Setu Babakan is needed by creating facilities with informal education and entertainment program that can help tourist to explore more about betawi culture with holiday experience. This design is studied by researching the behavior of Millennials, their behavior towards betawi culture and the characteristics of attractions that will be able to make Millennials come. The design strategy of this touris trap is explorative, interactive, and telling a story about a space experience that can catch Millennials’ attention which can be adapted to their behavior. Contoured site and green area along the site and street make this tourist trap integrated well with green area. Narrative architecture method is applied to make space rich with immersive experience in order to have their one story. Visitors can do fun activities by learning with interactive digital media in the form of cullinary gallery, self learning area, workshop, and escape room based on betawi culture history and the story of Betawi folkfore. AbstrakGenerasi millenial adalah generasi yang lebih suka mengeksplor hal baru dengan berwisata dibandingkan dengan menabung untuk kebutuhan masa depan. Generasi millenial lahir di era perkembangan teknologi yang pesat, membuat budaya asing masuk lebih mudah sehingga budaya lokal seperti budaya betawi kurang diminati oleh generasi ini. Kawasan Pariwisata di Jakarta Selatan yang kurang terpusat dan tidak memiliki konektivitas aktivitas yang kuat menyebabkan objek wisata kurang tereskplor, seperti Perkampungan Betawi di Setu Babakan. Penghubung antar objek wisata Ragunan dan Perkampungan Betawi dibutuhkan dengan membuat fasilitas dengan program edukasi dan hiburan yang bersifat informal yang dapat membantu wisatawan mempelajari lebih dalam mengenai budaya Betawi dengan pengalaman berlibur berdasarkan perilaku millenial. Perancangan ini disusun dengan mengkaji perilaku dari generasi millenial, perilakunya terhadap budaya Betawi dan karakteristik dari atraksi yang dapat menarik millenial untuk datang. Perangkap turis ini dirancang dengan strategi desain yang eksploratif, interaktif, dan menceritakan sebuah cerita dari pengalaman ruang sehingga dapat menarik perhatian millenial. Tapak yang berkontur dan jalur hijau yang berada di sepanjang tapak dan jalan membuat perangkap turis ini berintegrasi dengan ruang luar lebih baik. Metode naratif arsitektur diterapkan untuk membuat ruang kaya akan pengalaman imersif sehingga memiliki satu-kesatuan cerita. Para pengunjung dapat melakukan aktivitas yang menyenangkan dengan belajar menggunakan media digital interaktif dalam bentuk galeri kuliner, area belajar mandiri, pelatihan ketrampilan dan permainan yang didasari oleh cerita sejarah budaya betawi dan cerita rakyat betawi.

Page 39 of 134 | Total Record : 1332