cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
HUNIAN VERTIKAL PRODUKTIF DI PAPANGGO, JAKARTA UTARA Elda Widiastri; Stephanus Huwae
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12343

Abstract

Humans are social creatures who live and need each other. Humans form a family and live together in a space. The number of human population in the world is increasing every year, especially in big cities. The increasing population causes an imbalance between the needs and the available energy, land supply in large urban areas in Indonesia such as Jakarta. City food supply relies on external sources, the distribution causing increased greenhouse gas emissions. Papanggo itself is a densely populated area that has a medium to low economic level with a low level of productivity of its citizens. Based on the Indonesian Statistics Center in 2020, the Papanggo area in North Jakarta recorded a population of 46,141 people with a total area of 2.80 km2. Judging from these data, Papanggo is a dense area in Jakarta with a population density of 16,478.9 people/km2 and only a small proportion of its residents work as urban farmers. From several problems that exist in Papanggo, an approach is carried out starting from the observation stage, then continued with site analysis. The program is processed using a place contextual method, cross-programming, and biophilic design methods. Biophilic principles that respect nature can provide comfort and a sense of security, is expected to increase users’ productivity and health. The conclusion of this project is to try to provide new vertical residential space in Papanggo so that city residents can live and remain productive in producing energy and food independently by utilizing local natural and human resources. Keywords: Biophilic; Papanggo; ResidenceAbstrak Manusia merupakan makhluk sosial yang hidup berkelompok dan saling membutuhkan satu sama lain. Manusia membentuk sebuah keluarga dan hidup bersama di dalam satu ruang lingkup hunian. Angka populasi manusia di dunia semakin meningkat tiap tahunnya terutama di pusat kota besar. Jumlah penduduk yang meningkat menyebabkan ketidakseimbangan antara kebutuhan warga kota dengan pasokan energi dan lahan yang tersedia di perkotaan besar di Indonesia seperti Jakarta. Pasokan pangan warga kota mengandalkan sumber dari luar atau pinggiran kota, yang distribusinya menghasilkan peningkatan emisi gas rumah kaca. Papanggo, Jakarta Utara sendiri merupakan daerah padat penduduk yang memiliki tingkat ekonomi menengah ke rendah dengan tingkat produktivitas warganya yang kurang. Berdasarkan Pusat Statistik Indonesia pada tahun 2020, daerah Papanggo yang berada di Tanjung Priok, Jakarta Utara mencatat jumlah penduduk sebesar 46.141 jiwa dengan luas total 2,80 km2. Ditinjau dari data tersebut, Papanggo merupakan daerah yang cukup padat di DKI Jakarta dengan kepadatan penduduk 16.478,9 jiwa/km2 dan hanya sebagian kecil warganya bekerja sebagai petani kota. Dari beberapa masalah yang ada di Papanggo, dilakukan pendekatan dimulai dari tahap observasi, lalu dilanjutkan dengan analisis tapak. Program diolah dengan metode kontekstual tempat, cross programing, sedangkan penerapan metode desain biophilic. Prinsip Biophilic yang menghargai alam dapat memberikan kenyamanan dan rasa aman, diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan kesehatan fisik maupun psikis pengguna. Kesimpulan pada proyek bangunan ini adalah dengan berusaha memberikan ruang hunian vertikal baru pada Kawasan Papanggo agar warga kota bisa tinggal dan tetap produktif menghasilkan energi dan bahan pangan secara mandiri dengan memanfaatkan sumber daya alam dan manusia setempat. 
PENERAPAN TEKTONIKA DAN BANGUNAN MODULAR DALAM PERANCANGAN PROYEK PENGAWASAN DAN REBOISASI HUTAN BEKAS TERBAKAR Efraim Jusuf; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12488

Abstract

The phenomenon that occurs is the amount of deforestation that occurs due to forest fires during the dry season, making forest areas dry. That makes a lot of forest land that has been burned to be barren without reforestation. So that the loss of biodiversity in the forest area and damage the existing ecosystem. A project is needed to reforest burnt forest land to minimize biodiversity loss and even restore it. The research method focused on the literature related to deforestation. The design method applied is based on tectonic principles and focuses on the Knock-down system to maximize reforestation on the forest land. In addition, applying Kevin Lynch's principles in the context of the city into the forest becomes a new thought in designing a reforestation project. The presence of a reforestation project and monitoring of burned forests are expected to be an example to minimize the loss of biodiversity and even restore it so that the forest ecosystem that supports human life can survive and not be lost. Keywords: deforestation; reforestation; tectonic; knock-downAbstrakFenomena yang terjadi merupakan banyaknya deforestasi yang terjadi akibat kebakaran hutan saat musim kemarau yang membuat kawasan hutan menjadi kering. Hal ini membuat banyaknya lahan hutan yang bekas terbakar menjadi tandus tanpa dilakukannya reboisasi kembali. Sehingga hilangnya keanekaragaman hayati yang ada kawasan hutan itu dan merusak ekosistem yang ada. Diperlukannya suatu proyek untuk mereboisasi lahan hutan bekas terbakar untuk meminimalisir hilangnya keanekaragaman hayati dan bahkan mengembalikannya. Metode penelitian yang dilakukan difokuskan melalui literatur-literatur yang berhubungan dengan deforestasi. Metode desain yang diterapkan berdasarkan pada prinsip tektonik dan juga berfokus pada sistem bongkar pasang sehingga dapat memaksimalkan reboisasi pada lahan hutan tersebut. Selain itu menerapkan prinsip Kevin Lynch dalam konteks kota ke dalam hutan menjadi suatu pemikiran baru dalam merancang suatu proyek reboisasi di hutan. Hadirnya proyek reboisasi dan pengawasan hutan bekas terbakar ini diharapkan dapat menjadi salah satu contoh untuk meminimalisir hilangnya keanekaragaman hayati dan bahkan mengembalikannya sehingga ekosistem hutan yang menopang kehidupan manusia dapat bertahan dan tidak hilang.
HUNIAN DAN FASILITAS REKREASI PESISIR LAMBOLO Kevin Adriel; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12515

Abstract

The ecological crisis is a global challenge for mankind at the beginning of the 21st century which has not been resolved until now. Governments and people around the world are very concerned about the worsening environmental conditions. The crisis destroys the entire natural ecology of the earth which affects the entire ecosystem. Taking Natural Resources irresponsibly will result in damage to the surrounding environment. All living things depend on the earth's energy, but if it is handled incorrectly, the environment will be damaged due to careless extraction of natural resources. One problem arose due to nickel mining activities by a nickel smelter in North Morowali, Central Sulawesi, which resulted in environmental damage, especially in Hamlet V Lambolo, which is adjacent to the coast of Tomori Bay. The buildings that are built must not damage the environment, and the damaged environment must be repaired according to the aspects of the Sustainable Development Goals. The purpose of this plan is to produce a design by rehabilitating the area so that the problems there can be solved by problem solving programs and existing social recreation programs with ecological architectural designs. Keywords: Architectural Design; Ecological Crisis, Environmental Damage; Natural Resources, Sustainable Development GoalsAbstrak Krisis ekologi merupakan tantangan global umat manusia pada awal abad 21 yang sampai sekarang belum terselesaikan. Pemerintah dan masyarakat di seluruh dunia sangat prihatin dengan kondisi lingkungan yang makin lama kian memburuk. Krisis tersebut merusak seluruh ekologi alam di bumi yang berdampak pada seluruh ekosistem. Pengambilan Sumber Daya Alam (SDA) dengan tidak bertanggung jawab akan berakibat pada kerusakan lingkungan sekitar. Semua makhluk hidup sangat bergantung pada energi bumi, namun jika penanganannya salah maka lingkungan akan rusak akibat pengambilan SDA secara ceroboh.Satu masalah muncul akibat aktivitas penambangan nikel oleh salah satu smelter nikel di Morowali Utara, Sulawesi Tengah yang berdampak pada kerusakan lingkungan terutama di Dusun V Lambolo yang berdekatan dengan pesisir Teluk Tomori.   Bangunan yang terbangun harus tidak boleh merusak lingkungan, dan lingkungan yang rusak harus dibenahi menganut aspek-aspek dari Suistainable Development Goals. Tujuan perencanaan ini adalah untuk menghasilkan rancangan dengan me-rehabilitasi kawasan tersebut supaya masalah-masalah disana dapat terselesaikan dengan program penyelesaian masalah serta program rekreasi sosial eksisting dengan desain arsitektur ekologi. 
PENATAAN KAMPUNG GUJI BARU DENGAN KONSEP KONSOLIDASI TANAH VERTIKAL Rani Rachmasari; Suryono Herlambang; Suryadi Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12890

Abstract

Infrastructure Development The West Jakarta Administration has several plans, such as a plan to develop an activity center system that supports activity services and as a spatial structure builderGuji Baru Village will be improved with the Vertical Land Consolidation Concept, because this village has conditions that do not meet the requirements to be a good area, have irregular land, with land consolidation this village can be reorganized into a regular area complete with infrastructure, so that achieve optimal land use. The concept of land consolidation can systematically combine scattered and irregular land according to spatial planning, distribute existing consolidated land to landowners proportionally, regulate the form and layout of ownership parcels, increase economic value through the provision of environmentally friendly facilities and infrastructure. adequate on land donated by the owner. This concept has the principle of Cost & Benefit Sharing to the community and related stakeholders such as the government and developers. Land readjustment in the concept of Vertical Land Consolidation as a Multipurpose Technique can provide a number of benefits in urban development, including land assembly or consolidation, government land acquisition for public purposes, infrastructure development, legal implementation, fair distribution of costs and benefits, registration Land analysis, and timely land development. This study aims to implement improvements to the Guji Baru slum in order to create a good living environment according to the spatial plan, applying the concept of Vertical Land Consolidation. Key Word: GTRA; Vertical Land Consolidation, Village ImprovementAbstrakPengembangan Infrastruktur Kota Administrasi Jakarta Barat memiliki beberapa rencana seperti rencana pengembangan system pusat kegiatan yang menunjang pelayanan kegiatan dan sebagai pembentuk struktur ruang. Kampung Guji Baru akan diperbaiki dengan Konsep Konsolidasi Tanah Vertikal, karena kampung ini memiliki kondisi yang kurang memenuhi syarat untuk menjadi kawasan yang baik, memiliki lahan yang tidak teratur, dengan konsolidasi lahan maka kampung ini dapat ditata kembali menjadi kawasan yang teratur lengkap dengan prasarana, agar tercapai penggunaan lahan yang secara optimal. Konsep Konsolidasi Tanah dapat menggabungkan secara sistematis lahan yang berpencar-pencar dan tidak teratur disesuaikan dengan tata ruang, mendistribusikan lahan yang telah ada dikonsolidasikan kepada pemilik lahan secara proporsional, mengatur bentuk dan tata letak persil kepemilikan, meningkatkan nilai ekonomis melalui pengadaan sarana dan prasarana lingkungan yang memadai diatas lahan yang disumbangkan oleh pemilik. Konsep ini memiliki prinsip Cost & Benefit Sharing kepada masyarakat maupun stakeholder terkait seerti pemerintah dan developer. Penyesuaian kembali lahan dalan konsep Konsolidasi Tanah Vertikal sebagi Teknik multiguna dapat memberikan sejumlah manfaat dalam pembangunan perkotaan, termasuk perakitan atau konsolidasi tanah, pembebasan tanah pemerintah untuk tujuan umum, pembangunan infrastruktur, implementasi secara resmi, pembagian baiya dan manfaat yang adil, pendaftaran Analisa tanah, dan pengembangan tanah tepat waktu. Penlitian ini bertujuan untuk menerapkan perbaikan kampung kumuh Guji Baru agar tercipta lingkungan hidup yang baik sesuai rencana tata ruang, menerapkan konsep Konsolidasi Tanah Vertikal. 
PERMUKIMAN BARU HEMAT ENERGI DI SUDIROPRAJAN Rychell Lyaputera; Budi A. Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12356

Abstract

Basically, the present human being lives their life by the support of nature and other beings to maintain ecological balance. The problems that the world is facing today, among others, is that it has become imbalance due to the increasing numbers of people when the stock of land and food resources are decreasing. One of the result of such imbalance is the increasing number of slum areas. Hence, the aim of this project is to show solution of housing design that provides better quality of life. The design targets are people who have a lower-middle quality of life or those who are less fortunate, who live in slums. The design methodology within this housing design is a simple survey and unstructured questionnaires, together with literature studies. The design method, on the other hand, is to apply the Greenship home v.1.0 system, featuring green settlement aspects, particularly natural ventilation and lighting, renewable energy, and green open space. The ultimate target is a vertical housing with facilities that support activities of the occupants, having gree open space as well as hard open space for outdoor sport activities, along with renewable system of energy to decrease the emission. Hence, there are solar panels at vertical housing and the multi-purpose building, recycle system of rain water and waste. There are also facilities of un-organic trash to degrade plastic waste and to process it into selling goods that may add the income of occupants. By doing this little thing, people can help save energy, because inorganic waste becomes something useful that can be reused, start using electricity from solar power, and save and be wise in the use of water.         Keywords: Outdoor; Renewable Energy; Sustainable; Vertical HousingAbstrakPada dasarnya manusia hidup sekarang dengan bantuan alam dan mahluk hidup lain yang turut menjaga keseimbangan ekologi. Permasalahan yang sedang dihadapi oleh bumi ini, salah satunya ketidakseimbangan ekologi, dimana manusia bertambah namun lahan atau tempat tinggal serta makanannya mengalami penurunan tetap. Salah satu akibatnya adalah banyak berkembangnya permukiman kumuh. Tujuan dari desain ini adalah untuk memperlihatkan solusi merancang permukiman dengan kualitas hidup yang lebih baik daripada permukiman kumuh. Target sasaran desain merupakan masyarakat yang memiliki kualitas hidup menengah ke bawah atau yang kurang mampu, yang berada dipermukiman kumuh. Metodologi yang digunakan dalam perancangan ini adalah survei disertai wawancara secara langsung dan studi literatur. Adapun metode perancangannya sendiri menerapkan sistem Greenship home v.1.0, dengan penekanan pada aspek hunian hijau, khususnya pengudaraan dan pencahayaan alami, energi terbarukan, serta ruang terbuka hijau. Sasaran-akhir perancangan berupa rumah-susun dengan fasilitas yang mendukung kegiatan warga, memiliki ruang terbuka hijau, ruang terbuka dengan perkerasan untuk kegiatan luar-ruang serta energi terbarukan dalam rangka mengurangi emisi. Untuk itu tersedia perangkat panil-surya di bangunan rumah susun dan bangunan serba guna, pada bangunan rumah-susun terdapat fasilitas daur-ulang air hujan dan air limbah. Selain itu tersedia juga fasilitas pengolahan sampah anorganik dalam rangka mengurangi sampah plastik, untuk dijual dan hasilnya menjadi tambahan pendapatan warga. Dengan melakukan hal kecil ini, bisa membantu pengehematan energi, karena sampah anorganik menjadi sesuatu yang berguna yang bisa digunakan kembali, mulai menggunakan listrik yang berasal dari tenaga surya, dan menghemat dan bijak dalam penggunaan air.
MERANCANG KOMUNITAS ANAK MUDA BERBASIS ARSITEKTUR EKOLOGI Estefany Betzy Gultom; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12448

Abstract

During the pandemic, student activities do not take place optimally. Whether in the social activities or formal learning, everything must be limited following government regulations. And these days, where humans use natural resources irregularly and do city development that exploits the ecosystem. When we are doing a development. We should pay more attention and efforts to maintain natural ecosystems, because natural resources are not only for the current generation but for the needs of younger generation in the future. The city of Bogor itself has a lot of potential both in the social and ecological fields. Bogor weather climate is very good where the city itself is famous in terms of agriculture and plantations. The majority of residents in the city of Bogor are on a productive age. Facilities for adolesence itself are already available, but the programs that offered are more directed to non-academic activities. Therefore this building is designed to accommodate the needs of young people ranging from non-academic needs to the needs of non-formal education. With the programs that offered, which aim to improve the social and economic quality of young people in the city of Bogor. Ecological Architecture method are used in this building. It is applied to the program and maintenance building systems, which refers to the 6 Beyond Ecology Principals. The use of a symbiotic theme is applied to the building program and also the building maintenance system, which aims to save energy. Key Words: Ecology; Ecology Architecture; Youth Centre AbstrakPada masa pandemi kegiatan belajar-mengajar tidak berlangsung secara maksimal. Baik dalam kegiatan sosial atau pembelajaran formal, semuanya harus dibatasi mengikuti peraturan pemerintah. Dan di era globalisasi seperti sekarang ini dimana manusia memanfaatkan sumber daya alam dengan tidak teratur dan melakukan banyak pembangunan yang mengeksploitasi ekosistem. Pembangunan seharusnya lebih memperhatikan upaya untuk menjaga ekosistem alam karena sumber daya alam tidak hanya untuk generasi sekarang namun untuk kebutuhan generasi muda di masa depan. Kota Bogor sendiri memiliki banyak potensi baik di bidang sosial maupun ekologinya. Iklim kota Bogor sangat bagus dimana kotanya sendiri terkenal dalam hal pertanian dan perkebunan. Penghuni kota Bogor mayoritas adalah penduduk di usia produktif. Fasilitas anak muda di kota Bogor sendiri sudah tersedia namun program yang ditawarkan lebih mengarah ke kegiatan non akademik. Sehingga bangunan dirancang untuk mewadahi kebutuhan anak muda mulai dari kebutuhan non-akademik sampai ke kebutuhan pendidikan non-formal. Dengan program-program yang ditawarkan, yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas sosial dan ekonomi anak muda di Kota Bogor. Penerapan  metode Arsitektur Ekologi dalam merancang fasilitas untuk anak muda di Kota Bogor diaplikasikan pada program dan sistem perawatan dalam bangunan, yang mengacu terhadap 6 Beyond Ecology Principal. Pengunaan tema simbiosis yang diaplikasikan pada program bangunan dan juga sistem perawatan bangunannya, yang bertujuan untuk menghemat energi.
STUDI POTENSI WISATA CAGAR BUDAYA DESA SANGLIAT DOL Edoardus Edwyn Ayowembun; Suryono Herlambang; Jo Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12922

Abstract

Sangliat Dol Village is one of the tourist villages located in Wertamrian sub-district, Tanimbar Islands Regency with an area of 20 hectares. Sangliat Dol Village is a tourist village area contained in the Tourism Area Development Plan in the Tanimbar Islands Regency and is written in the RTRW of West Southeast Maluku Regency 2012-2032 as a Cultural Tourism Area. The Cultural Tourism Area was developed in several villages, as an old traditional village that still has an important role in the cultural structure of West Southeast Maluku Regency. Sangliat Dol Village is also designated as the National Tourism Development Area (KPPN) of Tanimbar. However, the potential and attraction possessed by Sangliat Dol Village in the form of natural scenery, customs that are still closely attached, and historical relics have not been utilized to the maximum so that if developed properly it can increase the interest of domestic and foreign tourists to come to visit the village. Sangliat Dol. The author conducts several analyzes such as analysis of determining cultural heritage, location analysis, area footprint analysis, best practice analysis and analysis of proposed approaches to developing cultural heritage tourism so as to produce proposals for the concept of developing the Sangliat Dol Village Tourism Area in order to achieve a sustainable cultural heritage tourism area and attract tourists . Keywords: Cultural Conservation; Tourism; Customs; Ecotourism approach.Abstrak Desa Sangliat Dol merupakan salah satu desa wisata yang terletak di kecamatan Wertamrian, Kabupaten Kepulauan Tanimbar  dengan luas wilyah 20 Ha. Desa Sangliat Dol merupakan wilayah desa wisata yang terdapat dalam Rencana Pengembangan Kawasan pariwisata di wilayah Kabupaten Kepulauan Tanimbar serta tertulis dalam RTRW Kabupaten Maluku Tenggara Barat 2012-2032 sebagai Kawasan Wisata Budaya. Kawasan Wisata Budaya dikembangkan dibeberapa desa, sebagai desa adat tua yang masih memiliki peran penting dalam struktur budaya Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Desa Sangliat Dol juga ditetapkan sebagai Kawasan Pengembangan Pariwisata Nasional (KPPN) Tanimbar. Namun potensi dan daya Tarik yang dimiliki oleh Desa Sangliat Dol berupa pemandangan alam, adat istiadat yang masih melekat erat, serta peninggalan – peninggalan sejarah ini belum dimanfaatkan dengan maksimal sehingga jika dikembangkan dengan baik dapat meningkatkan minat wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara untuk datang berkunjung ke Desa Sangliat Dol. Penulis melakukan beberapa analisis seperti analisis penentuan cagar budaya, analisis lokasi, analisis tapak kawasan, analisis best practice serta analisis usulan pendekatan  pengembangan wisata cagar budaya sehingga menghasilkan usulan untuk konsep pengembangan Kawasan Wisata Desa Sangliat Dol demi tercapainya Kawasan wisata Cagar budaya yang berkelanjutan dan diminati wisatawan. 
FASILITAS PENANGANAN HEWAN TERLANTAR Cecilia Evelina; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12378

Abstract

The development of technology and society's economy is one of the driving factors for growth in an urban environment. This development does not only occur in physical terms, but there is also a shift in the social and cultural elements of society. The nature of urban society tends to be individualistic, capitalist, more concerned with speed or something that is considered instant and is no longer familiar with nature, plants, and animals. Things that are considered unprofitable tend to be removed. Humans, animals and plants should coexist even if an area has turned into a big city. The existence of abandoned animals is an inseparable component of life in urban areas. The population of animals such as stray dogs and stray cats that continue to soar will certainly affect the ecosystem in urban areas. In the end, the disruption of the ecosystem will also affect human life, such as increasing the spread of diseases from animals to humans to increasing road accidents. For this reason, human efforts are needed to deal with the problems of street animals which are actually an inseparable part of the city, as well as efforts to bring the interaction between city humans and animals closer. Rengkuh is also present as a project that seeks to become a container for handling abandoned animals on the streets of BSD City. Keywords: Ecology; Pet; Stray Animal; Urban; Rengkuh Asuh Abstrak Perkembangan teknologi dan ekonomi masyarakat menjadi salah satu faktor pendorong terjadinya pertumbuhan di suatu lingkungan urban. Perkembangan itu tidak hanya terjadi dalam segi fisik, melainkan juga terdapat pergeseran pada unsur sosial dan budaya dari masyarakat. Sifat masyarakat urban cenderung individualistis, kapitalis, lebih mementingkan kecepatan atau sesuatu yang dianggap instan, serta tidak lagi akrab dengan alam, tumbuhan dan hewan. Hal yang dianggap tidak menguntungkan cenderung disingkirkan. Manusia, hewan dan tumbuhan seharusnya hidup berdampingan meskipun suatu wilayah telah berubah menjadi sebuah kota besar. Keberadaan hewan terlantar merupakan komponen yang tidak dapat terpisahkan di dalam kehidupan di perkotaan. Populasi dari hewan seperti anjing dan kucing jalanan yang terus melonjak tentu akan mempengaruhi ekosistem di dalam perkotaan. Pada akhirnya terganggunya ekosistem itu juga akan turut mempengaruhi kehidupan manusia, seperti meningkatnya penyebaran penyakit dari hewan ke manusia hingga peningkatan kecelakaan di jalanan. Untuk itu diperlukan upaya manusia untuk menangani permasalahan dari hewan jalanan yang sebenarnya juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kota, juga upaya mendekatkan kembali interaksi antara manusia kota dengan hewan. Rengkuh Asuh pun hadir menjadi sebuah proyek yang berupaya menjadi wadah penanganan hewan terlantar di jalanan Kota BSD.
FUNGSI EKOWISATA SEBAGAI SARANA EDUKASI PELESTARIAN HUTAN TROPIS DI KABIL, BATAM Robert Halim; Diah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12551

Abstract

Forests are one of the largest oxygen producers on Earth and are home to many types of plants and animals. The existence of forests on Earth is very important because their absence would have fatal consequences for all life. One of the impacts due to the reduced number of forests is global warming, flooding, reduced oxygen supply and landslides. The word deforestation is no longer a "taboo" in forest management in Indonesia. The area of natural forests in Indonesia continues to decrease every year. According to Global Forest Watch, Indonesia's forests decreased by 40% in 2018. Agriculture, illegal logging and mining are commercial activities as the main drivers of deforestation. One of them is that the city of Batam has experienced a 45% reduction in the amount of forested area each year due to various factors, one of which is illegal logging in the city of Batam. The biophilic approach was chosen in the design of issues regarding deforestation to provide a positive relationship between humans and nature to achieve environmental, moral, social and economic benefits. This project is expected through entertainment tourism activities to educate residents to better understand the problem of deforestation and increase awareness of environmental improvements, especially tropical forests in Indonesia. Keywords:  Batam; ecotourism; forest; prerservation; tropical forestAbstrakHutan adalah salah satu penghasil oksigen di Bumi dan tempat hidup berbagai jenis tanaman dan hewan. Keberadaan hutan di Bumi sangat penting karena ketidakhadirannya akan memiliki konsekuensi fatal bagi semua kehidupan. Salah satu dampak akibat berkurangnya jumlah hutan adalah pemanasan global, banjir, berkurangnya pasokan oksigen dan tanah longsor. Kata deforestasi sudah tidak lagi menjadi “tabu” dalam pengelolaan hutan di Indonesia.Luas hutan alam di Indonesia terus berkurang setiap tahunnya. Berdasarkan Global Forest Watch, terjadi penurunan hutan dii Indonesia sebesar 40% pada 2018. Agrikultur, penembangan liar dan pertambangan merupakan kegiatan komersial sebagai pendorong utama deforestasi. Salah satunya yaitu kota Batam telah mengalami pengurangan 45% jumlah daerah berhutan setiap tahunnya karena berbagai faktor, salah satunya adalah pembalakan liar di Kota Batam. Pendekatan biophilic dipilih dalam desain persoalan mengenai deforestasi untuk memberikan hubungan positif antar manusia dengan alam untuk mencapai manfaat lingkungan, moral, sosial dan ekonomi. Proyek ini diharapkan melalui kegiatan wisata hiburan dapat mengedukasi penduduk agar lebih memahami persoalan deforestasi dan meningkatkan kepedulian pada perbaikan lingkungan khususnya hutan tropis di indonesia.
RENCANA PENGELOLAAN OBJEK WISATA PANTAI BARON UNTUK MENINGKATKAN DAYA TARIK PENGUNJUNG (OBJEK STUDI : OBJEK WISATA PANTAI BARON DESA KEMADANG, KABUPATEN GUNUNGKIDUL) Fitria Agistya Ningrum; Irwan Wipranata; Sylvie Wirawati
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12850

Abstract

 The government plans to create an ideal tourist area condition so that it can serve the various interests of the community, government visitors in an optimal arrangement and development effort with a mature, directed and integrated planning process so that it can be a reference in tourism development. One of the areas chosen to be developed is Gunung Kidul Regency. According to the Gunung Kidul Regency Regional Regulation on the RPJMD 2011-2021, Gunung Kidul Regency has several potential tourist areas, namely Baron Beach tourism. The author's purpose in making this report is to find out how the condition of the tourist attraction area is, both physical areas, facilities and infrastructure and provide management strategies for the Baron Beach tourist area to become sustainable tourism. Baron Beach is a beach that was first developed by the government of Gunung Kidul Regency with an area of 1.5 hectares, Baron Beach is known as a beach that has a large TPI and has the highest lighthouse so that visitors can enjoy the beauty of the beach. This beach is also the main destination for beach tourism when visiting Gunung Kidul Regency. This research is a descriptive study with a combination of qualitative and quantitative approaches. Qualitative data collection was carried out by conducting field surveys to tourist attraction locations and in-depth interviews with parties directly related to Baron Beach tourism objects, while qualitative data collection was carried out by filling out questionnaires by visitors. The analysis carried out is location analysis, site characteristics analysis, analysis of the condition of facilities and infrastructure, analysis of attractiveness, analysis of perceptions and preferences, and analysis of costs and management strategies so that it can produce in the form of any factors that affect the management of both facilities and infrastructure and provide strategy both in plan and cost for baron beach. Keywords: Tourism Objects; Attractiveness; Management; Baron's BeachAbstrakPemerintahan berencana untuk menciptakan kondisi kawasan wisata yang ideal supaya mampu melayani berbagai kepentingan masyarakat, pengunjung pemerintah dalam usaha penataan dan pengembangan secara optimal dengan proses perencanaan yang matang, terarah dan terpadu sehingga dapat menjadi acuan dalam pengembangan pariwisata. Salah satu Daerah yang terpilih untuk dikembangkan yaitu Kabupaten GunungKidul, Menurut Peraturan Daerah Kabupaten GunungKidul Tentang RPJMD Tahun 2011-2021, Kabupaten GunungKidul memiliki beberapa potensi kawasan wisata yaitu pariwisata Pantai Baron. Tujuan penulis membuat laporan ini untuk Mengetahui bagaimana kondisi kawasan objek wisata baik fisik kawasan, sarana maupun prasarana dan Memberikan strategi pengelolaan terhadap kawasan wisata Pantai Baron agar menjadi wisata yang berkelanjutan. Pantai Baron adalah pantai yang dikembangkan pertamakali oleh pemerintah Kabupaten GunungKidul dengan luas 1,5 Ha, pantai baron dikenal dengan pantai yang memiliki TPI yang besar dan memiliki mercusuar tertinggi sehingga pengunjung dapat menikmati keindahan pantai tersebrut. Pantai ini juga menjadi tujuan utama wisata pantai jika berkunjung ke Kabupaten GunungKidul. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan kombinasi pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pengumpulan data kualitatif dilakukan dengan melakukan survey lapangan ke lokasi objek wisata dan wawancara mendalam dengan pihak-pihak yang terkait langsung dengan objek wisata Pantai Baron, sedangkan untuk pengumpulan data kualitatif dilakukan dengan pengisian kuesioner oleh pengunjung. Analisis yang dilakukan ialah analisis lokasi, analisis karakteristik tapak, analisis kondisi sarana dan prasarana, analisis daya Tarik, analisis persepsi dan preferensi, dan analisis biaya dan strategi pengelolaan sehingga dapat menghasilkan   berupa faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pengelolaan baik dalam sarana maupun prasarana dan memberikan strategi baik dalam rencana maupun biaya untuk pantai baron. 

Page 55 of 134 | Total Record : 1332