cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
EVALUASI KEBERHASILAN BAURAN PENYEWA MALL KUNINGAN CITY Sandio Adhya Bayudi; Priyendiswara Agustina Bela; Parino Rahardjo
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.9033

Abstract

This study aims to determine the right tenant mix for the Kuningan City Mall shopping center in an effort to increase the number of visitors and tenants. Kuningan City Mall has a Lifestyle & Entertainment concept that aims to complement the needs and entertainment for the surrounding area of the Setiabudi District, South Jakarta. In this case, several analyzes are conducted, namely location analysis, market analysis, comparative analysis of Mall Kuningan City with its competitors, and analysis of people's perspectives and perspectives, with the help of several analytical tools to be used namely descriptive, SWOT, comparison method, questionnaire. The analysis results obtained will be used as consideration for a new management strategy for Kuningan City Mall in an effort to increase the number of visitors and tenants. Keywords: competitors; management strategy; occupancy rate; shopping center; tenant mixAbstrakPenulisan ini bertujuan untuk mengetahui bauran penyewa yang tepat bagi pusat perbelanjaan Mall Kuningan City dalam upaya untuk meningkatkan jumlah arus pengunjung dan penyewa. Mall Kuningan City memiliki konsep Lifestyle & Entertainment yang bertujuan untuk melengkapi akan kebutuhan dan hiburan bagi disekitar cakupan area Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan. Dalam hal ini, maka dilakukan beberapa analisis yaitu analisis lokasi, analisis komparasi antara Mall Kuningan City dengan kompetitornya, dan analisis persepsi dan perspektif masyarakat, dengan bantuan beberapa alat analisa yang akan digunakan yaitu deskriptif, SWOT, comparison method, dan kuesioner. Dari hasil analisis yang diperoleh tersebut akan digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk strategi pengelolaan yang baru bagi Mall Kuningan City dalam upaya meningkatkan jumlah arus pengunjung dan penyewa.
WADAH MUSIK INDIE LOKAL Yohanes Rheza; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6763

Abstract

Individualism is one of the issues that occur in people's lives. One of the causes is one’s habit in spending most of their time working and resting at home and without social activities that can be done every day with other individual, furthermore with the existence of social media that makes humans able to communicate with electronic devices and not meeting directly. The main issue is "Open Architecture as a Third Place" which discusses how to create a place that can become a Third Place as a gathering place for communities to socialize and as an informal public place. Another issue is Indie Music as a genre of music that is becoming a trend in the music industry today. The project site is located at Jalan Cikini Raya in Central Jakarta, known as one of the arts and tourism areas with Taman Ismail Marzuki as the center of arts and culture. The aim of this project is to create a Third Place where the society can become a community and to support indie musicians in making music and developing their abilities. The research methods used in this research are Site Survey, Literature Study and Precedent Study. The result obtained is the design of the building "Local Indie Music Quarter". The main programs in this project are the Indie Bar, Community Space, Music Studio, Music Store and Music Class that aim to facilitate social activities of the community together with indie music that can embrace the community into one community together. AbstrakIndividualisme merupakan salah satu permasalahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Hal ini disebabkan oleh salah satunya kebiasaan manusia dalam menghabiskan sebagian besar waktunya bekerja dan beristirahat di rumah dan tanpa adanya kegiatan sosial yang dapat rutin dilakukan setiap hari dengan sesamanya, apalagi dengan adanya media sosial yang membuat manusia dapat berkomunikasi hanya dengan perangkat elektronik dan tidak bertemu secara langsung. Isu utama yang diangkat adalah “Open Architecture sebagai Third Place” yang membahas tentang bagaimana menciptakan sebuah tempat yang dapat menjadi Third Place sebagai tempat berkumpulnya komunitas masyarakat untuk bersosialisasi dan sebagai tempat publik informal. Isu lain yang di angkat adalah Musik Indie sebagai aliran musik yang sedang menjadi trend dalam industri musik saat ini. Lokasi proyek berada di Jalan Cikini Raya di Jakarta Pusat, yang dikenal sebagai salah satu kawasan seni dan wisata dengan adanya Taman Ismail Marzuki sebagai pusat kesenian dan kebudayaan. Tujuan dari proyek ini adalah menciptakan sebuah Third Place yang dapat menjadi tempat berkumpulnya masyarakat untuk berkomunitas dan untuk mendukung musisi indie dalam berkarya dan mengembangkan kemampuannya. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Survey Lapangan, Studi Literatur dan Studi Preseden. Hasil penelitian yang didapatkan adalah perancangan bangunan sebagai “Wadah Musik Indie Lokal”. Program utama dalam proyek ini yaitu Indie Bar, Community Space, Music Studio, Music Store dan Music Classes yang bertujuan untuk mewadahi aktivtias sosial masyarakat bersamaan dengan musik indie yang dapat merangkul masyarakat menjadi satu komunitas bersama.
REKREASI SEBAGAI PUSAT REHABILITASI GEN Z Grace Jovita; Dewi Ratnaningrum; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10742

Abstract

Generation Z has a significant influence on technological developments, productivity, and social interactions. In the Covid-19 phenomenon that occurred in 2020, it caused humans to become aware of the importance of face-to-face social interactions. Therefore, the provision of social facilities that can restore social interaction between humans is needed. The purpose of this research is to restore socialization between people, especially in the z generation after the pandemic, to provide spatial rehabilitation through social space in the form of entertainment in stages, to provide facilities that are able to meet the social needs of the community, and to create activity programs that are able to meet the socialization needs of the community while improving the quality of life local community. Reported by Maslow's Hierarchy of Needs, there are five stages of human needs, namely self-actualization, respect, compassion, security, and psychological needs. Which is where generation Z is needed to make ends meet. Therefore, it is necessary to have housing that requires a technology concept that can be used more effectively in interacting better than face-to-face. The method used is a communication approach which is used through observation and data collection from the internet and correlation to find a relationship between two quantitative variables. The results obtained are to create a public space where generation z can take advantage of technology and architecture that support the interaction process.Keywords: Recovery; Rehabilitation; Entertainment; Fundamental.AbstrakGenerasi Z memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan teknologi, produktivitas, dan interaksi sosial. Dalam fenomena Covid – 19 yang terjadi di tahun 2020 ini menyebabkan manusia sadar akan seberapa pentingnya interaksi sosial tatap muka. Oleh karena itu, penyediaan fasilitas sosial yang dapat mengembalikan interaksi sosial antar manusia sangat dibutuhkan. Tujuan penelitian ini diantaranya adalah untuk mengembalikan interaksi sosial antar manusia terutama pada Generasi Z pasca pandemi, memberikan rehabilitasi ruang melalui ruang sosial berupa hiburan secara bertahap, menghadirkan fasilitas yang mampu memenuhi kebutuhan sosial masyarakat, dan menciptakan program kegiatan yang mampu memenuhi kebutuhan sosialisasi masyarakat sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat setempat. Dilansir Maslow Hierarchy of Needs ada lima tahap kebutuhan manusia yaitu aktualisasi diri, menghargai, kasih sayang, keamanan, dan kebutuhan psikologis. Yang dimana Generasi Z sangat dibutuhkan dalam memenuhi kebutuhan. Oleh karena itu diperlukan hunian yang memerlukan konsep teknologi yang dapat digunakan lebih efektif dalam berinteraksi secara lebih baik dibanding dengan tatap muka secara langsung.  Metode yang digunakan adalah dengan pendekatan komunikasi yang digunakan melalui pengamatan dan pengumpulan data dari internet serta korelasi untuk mencari hubungan antara dua variabel yang bersifat kuantitatif. Hasil yang didapatkan adalah dengan membuat public space dimana para Generasi Z dapat memanfaatkan teknologi serta arsitektur yang mendukung dalam proses interaksi.
AULA SPEKTRUM Kevin Samuel; Dewi Ratnaningrum
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3959

Abstract

Sebuah bangunan arsitektur yang memiliki ciri khas yang unik dapat menjadi identitas bagi suatu tempat, sehingga  karya arsitektur tersebut dapat dikenal secara luas. Sebuah tempat dapat lebih dikenal dengan adanya bangunan tertentu. Kecanggihan teknologi juga ditampilkan dalam bangunan sehingga dapat menjadi nilai tambah bagi bangunan. Konten bangunan yang bersifat interaktif membuat konten yang berbeda dengan setiap individu yang berbeda. Konten yang bersifat pengetahuan mendorong pengunjung untuk belajar dengan cara yang menarik sehingga menimbulkan pertanyaan yang membuat pengunjung ingin mendapatkan informasi lebih. Tema Spektrum diambil karena sifat ilmu pengetahuan yang selalu berkembang dapat berguna bagi konten yang ada pada proyek wisata sehingga dapat selalu berkembang.  
PUSAT KREATIF DAN PENGOLAHAN FESYEN DAN MISELIUM BANDUNG Fransisca Meilanny; Timmy Setiawan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12450

Abstract

Fast fashion is a phenomenon, where the latest trends and high levels of consumer demand affect the amount of fashion production. This affects the production chain system and the lifestyle of modern society, especially the gen z and gen y (millennials). The mass production that occurs causes the need for many resources and the use of low-quality (non-durable) materials to pursue trends and affordable prices. Plus the lifestyle of modern society which tends to follow trends has led to a linear concept in fashion, namely take-wear-throw. This system certainly has an impact on environmental damage, especially on materials that are difficult to decompose. This phenomenon has led to community innovations related to mushroom technology that produces mycelium as an environmentally friendly material as well as efforts made by a creative community in fashion management. Thus, it is hoped that the architecture can act as a container that supports activities by applying the cradle-to-cradle (upcycling) concept. This concept invites the public, especially modern society, to be more aware of the management and use of fashion which is supported by a metaphorical method approach of combining mushroom and fashion characters with the use of alternative materials such as mycelium which is the root of mushrooms which is an environmentally friendly material, as well as programs from processing mushrooms and fashion to create an activity center that has a positive impact on the environment and society by promoting ecological balance. Keywords: Architecture; Creative; Environmental Damage; Fast fashion; Mycelium  AbstrakFesyen cepat merupakan sebuah fenomena, dimana tren terbaru dan tingkat permintaan tinggi konsumen yang berpengaruh terhadap jumlah produksi fesyen. Hal ini mempengaruhi sistem rantai produksi dan gaya hidup masyarakat modern, terutama kaum gen z dan gen y (milenial). Produksi massal yang terjadi menyebabkan banyaknya sumber daya yang dibutuhkan dan penggunaan material yang berkualitas rendah (tidak tahan lama) untuk mengejar tren dan harga terjangkau. Ditambah gaya hidup masyarakat modern yang cenderung mengikuti tren menyebabkan konsep linear dalam fesyen, yaitu ambil-pakai-buangj. Sistem ini tentunya berdampak pada kerusakan lingkungan, khususnya pada material yang sulit terurai. Fenomena ini memunculkan inovasi masyarakat terkait dengan teknologi jamur yang menghasilkan miselium sebagai material ramah lingkungan serta upaya yang dilakukan oleh suatu komunitas kreatif dalam pengelolaan fesyen. Dengan demikian, diharapkan arsitektur dapat berperan sebagai wadah yang menunjang aktivitas dengan penerapan konsep cradle-to-cradle (upcycling). Konsep ini mengajak masyarakat, khususnya masyarakat modern untuk lebih sadar akan pengelolaan dan pemanfaatan fesyen yang di dukung dengan pendekatan metode metafora penggabungan karakter jamur dan fesyen dengan penggunaan material alternatif seperti miselium yang merupakan akar dari jamur yang merupakan material yang ramah lingkungan, serta program dari pengolahan jamur dan fesyen untuk mewujudkan pusat aktivitas yang berdampak pada lingkungan dan masyarakat secara positif dengan mengusung keseimbangan ekologi.
FASILITAS PEMANFAATAN RUMPUT LAUT DI LAUT WULA, NUSA TENGGARA TIMUR Stevie Stevie; Djidjin Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12423

Abstract

East Nusa Tenggara is one of the provinces in Indonesia that has abundant marine natural wealth and is the second largest seaweed producer in Indonesia. Electricity is an important component in civilization and modernity, as well as the development of knowledge and information. However, East Nusa Tenggara often suffers from a shortage of electricity and fuel to carry out activities that are still dependent on fossil fuels that damage the environment. Therefore, realizing the enormous potential of the existing sea, it is necessary to build a facility for the use of seaweed that can be converted into biofuel, which can then be converted into electrical energy, and can also be processed into agar, carrageenan, and fertilizer focused on the Wula Village Sea as a source of energy. prime location. This project is also intended to educate visitors to get to know the sea more closely, as well as remind humans that in order to survive, we don't have to sacrifice other lives. This project uses a regenerative architecture design method that prioritizes the balance between humans, marine life, and the sea. This project consists of a program for the biofuel industry, electricity generation, tourism, seaweed raw material industry, workers' residences, and service rooms with futuristic building styles. Keywords: architecture; biofuel; electricity; futuristic; industry; seaweed; sea.AbstrakNusa Tenggara Timur merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki kekayaan alam laut yang melimpah dan menjadi penghasil rumput laut terbesar kedua di Indonesia. Listrik merupakan komponen penting dalam peradaban dan modernitas, serta perkembangan pengetahuan dan informasi. Namun, seringkali Nusa Tenggara Timur mengalami kekurangan pasokan listrik dan bahan bakar untuk menjalankan aktivitas yang hingga saat ini masih bergantung dengan energi fosil yang merusak lingkungan. Maka dari itu, menyadari besarnya potensi laut yang ada, perlu dibangun suatu fasilitas pemanfaatan rumput laut yang dapat dikonversikan menjadi biofuel, yang selanjutnya dapat dikonversikan menjadi energi listrik, dan juga dapat diolah menjadi agar, karaginan, dan pupuk yang difokuskan pada Laut Desa Wula sebagai lokasi utama.  Proyek ini juga dimaksudkan untuk memberikan edukasi kepada pengunjung untuk mengenal laut lebih dekat, serta mengingatkan manusia bahwa untuk bertahan hidup, kita tidak harus mengorbankan kehidupan lainnya. Proyek ini menggunakan metode desain regenerative architecture yang mengutamakan keseimbangan antara manusia, biota laut, dan laut. Proyek ini terdiri dari program industri biofuel, penghasil listrik, wisata, industri bahan baku rumput laut, tempat tinggal pekerja,  dan ruang servis dengan gaya bangunan futuristik.
FASILITAS PENGOLAHAN SAMPAH PLASTIK DAN GALERI EDUKASI DI KAMPUNG MELAYU Pramukti Siswo Sunarno; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12464

Abstract

The increase of solid waste production is a general problem in municipality, particularly of plastic waste. Architecture is always closely related to settlements and the environment. With this plastic waste, the problems that arise in residential areas must be various, including an uncomfortable atmosphere around residential areas. However, so far the existing problems have not been resolved strategically so that negative impacts always arise with the environment and society. For the solution offered in dealing with this case is a design to accommodate those related to waste management in activities. Processing and management of plastic waste must be carried out through the application of environmental sustainability that is able to integrate ecology-based management. By proposing a plastic waste processing facility as well as a gallery for exhibitions of art objects made of plastic waste and a workshop for handicrafts made of plastic waste, this building is expected to reduce the impact of plastic waste accumulation in Malay villages. The exhibition area in this building is also a way to touch the community about waste education and become a new tourist spot that is related to other tourist attractions in the vicinity as well as solving waste problems in the environment and workshops that create creative and unique items that can attract visitors. Keywords: Art; Educational Gallery; Plastic waste ; Plastic Waste Problems; Plastic Waste ProcessingAbstrak Peningkatan timbunan sampah, khususnya sampah plastik, merupakan masalah yang paling sering dihadapi oleh masyarakat di lingkungan perkotaan. Arsitektur selalu berkaitan erat dengan permukiman dan juga lingkungan. Dengan adanya sampah plastik ini maka permasalahan yang timbul di kawasan permukiman pasti bermacam-macam, diantaranya timbul suasanya tidak nyaman di sekitar kawasan permukiman. Namun selama ini permasalah yang ada belum tertuntaskan secara strategis sehingga dampak-dampak negatif selalu timbul bersama lingkungan dan masyarakat. Untuk solusi yang ditawarkan dalam menghadapi kasus ini adalah sebuah rancangan untuk mewadahi terkait dengan pengelolaan sampah dalam beraktifitas. Pengolahan dan pengelolaan sampah plastik harus dilakukan melalui penerapan keberlanjutan lingkungan yang mampu mengintegrasikan pengelolaan berbasis ekologi dan wadah untuk masyarakat dalam mempelajari nilai penting dari sampah baik secara negatif maupun positif. Dengan mengusulkan sebuah wadah fasilitas pengolahan sampah plastik dan juga galeri untuk pameran benda-benda seni yang terbuat dari sampah plastik dan bengkel kerja kerajinan tangan dari sampah plastik, bangunan ini diharapkan dapat mengurangi dampak timbunan sampah plastik di kampung melayu. Area pameran pada bangunan ini juga merupakan sebagai salah satu cara untuk menyentuh masyarakat tentang edukasi persampahan dan menjadi tempat wisata baru yang berhubungan dengan tempat wisata lain disekitarnya sekaligus memecahkan permasalahan sampah di lingkungan dan workshop yang menciptakan barang-barang kreatif dan keunikan yang dapat menarik para pengunjung. 
KONSEP ARSITEKTUR EKOLOGI PADA RUMAH PEMASYARAKATAN BERBASIS KOMUNITAS DAN PENGEMBANGAN DIRI Octavianus Bryan; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12392

Abstract

The crime rate which continues to increase from year to year in various regions in Indonesia indicates one of them is that the prison system has not been effective, especially in reducing cases of recidivism. The formation of social stigma and negative views from the community towards the status of prisoners also has a big role so that former assisted residents are not always treated properly in the community, especially in economic and social life. The design concept in this project aims to create a Penitentiary that supports the complete integration of inmates into the community, which is expected to be a solution in the process to overcome the overcapacity in most of the correctional institutions in Indonesia. This project focuses on innovations for correctional institutions in general in Indonesia, while taking into account the standards and regulations stipulated in law. The design method is implemented with an ecological approach and the concept of nature and flexibility in the community. The interactions that exist in the community are aimed at rehabilitating the assisted members, both personally and socially. This project produces an ecological design that is free with community spaces that can be used to establish interactions within the ecology itself, both between the assisted residents and the assisted residents, with the general public, as well as with the natural environment and all its supporting elements. The concept of flexibility that is highlighted in this project, remains in a corridor that is guarded through the close supervision of officers through technology that supports remote surveillance of prisoners.Keywords: Assisted People; Community; Ecology; Penitentiary AbstrakTingkat kriminalitas yang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun di berbagai wilayah di Indonesia mengindikasikan salah satunya bahwa sistem pemasyarakatan belum berjalan efektif terutama dalam mengurangi kasus residivisme. Pembentukan stigma sosial dan pandangan negatif dari masyarakat terhadap status narapidana juga mempunyai peran yang besar sehingga mantan warga binaan tidak selalu diperlakukan sebagaimana mestinya dalam lingkungan masyarakat, terutama dalam kehidupan ekonomi dan sosial. Konsep desain dalam proyek ini bertujuan menciptakan Lembaga Pemasyarakatan yang mendukung integrasi warga binaan secara utuh ke dalam masyarakat, yang diharapkan dalam prosesnya dapat menjadi solusi untuk mengatasi kelebihan kapasitas pada sebagian besar Lembaga Pemasyarakatan di Indonesia. Proyek ini fokus menciptakan inovasi untuk Lembaga Pemasyarakatan di Indonesia, dengan tetap memperhatikan standar dan peraturan yang ditentukan dalam Undang-Undang. Metode perancangan diimplementasikan dengan pendekatan ekologi serta konsep alam dan fleksibilitas dalam komunitas. Interaksi yang terjalin dalam komunitas itu yang bertujuan untuk merehabilitasi para warga binaan baik secara personal maupun sosial. Proyek ini menghasilkan desain ekologi yang bersifat bebas dengan ruang-ruang komunitas yang bisa dimanfaatkan untuk menjalin interaksi dalam ekologi itu sendiri, baik antara warga binaan dengan warga binaan, dengan masyarakat  umum, maupun dengan lingkungan alam dan segala elemen pendukungnya. Konsep fleksibilitas yang ditonjolkan pada proyek ini, tetap dalam koridor yang dijaga melalui pengawasan ketat dari para petugas melalui teknologi yang mendukung pengawasan jarak jauh bagi narapidana.
OLAH DESAIN MODUL APUNG PADA HUNIAN APUNG TUMBUH DI MUARA ANGKE Alexander Kevin Gunarso; Priscilla Epifania Ariaji
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12330

Abstract

Floating Housing is a house type which is an altrnative housing model in coastal areas with prone to flood and affected by land subsidence phenomenon. The purpose of floating housing design is to give safe and proper housing, with the supporting facilities and independent utilities. Floating housing concept in Muara Angke, North Jakarta is an architectural response to the land subsidence, that keep happening in North Jakarta Coast up to 18 cm / year. In doing a floating housing design, floating structure is the most important thing. It needs effective and efficient floating structure concept and has resistance to sea waves.  Besides that, floating structure must easy to maintenance, and repair, also accomodate the residential loads. Research method in this project is collecting data, material analysis and structure calculations, so as to produce a modular floating structure concept. The results of this research is hexagonal floating structure module made from 2 kind of material, that is plastic drum and b-foam (Expanded Polystyrene). Then, the floating structure design applied to the building according to its function, such as house, markets, and other needs. Material selection has follow the standard buoyancy calculation. So, the floating structure module design can use to support community activities safely and eco friendly. Keywords:  floating housing; floating modul; flood resistant house; growth floating structure; muara angke AbstrakHunian Apung merupakan jenis hunian yang menjadi alternatif hunian pada daerah pesisir yang rawan banjir dan terdampak fenomena penurunan muka tanah. Perancangan hunian apung memiliki tujuan untuk memberikan hunian yang aman dan layak, beserta dengan fasilitas penunjang dan utilitas yang mandiri.  Konsep hunian apung pada Kawasan Muara Angke, Jakarta Utara merupakan respon arsitektur terhadap fenomena penurunan muka tanah yang terus terjadi di pesisir Pantai Jakarta, hingga mencapai 18 cm / tahun. Dalam melakukan perancangan bangunan apung, struktur apung menjadi hal yang paling utama. Dibutuhkan konsep struktur apung yang efektif dan efisien serta memiliki ketahanan terhadap gelombang air laut. Selain itu, rancangan struktur apung juga memiliki kemudahan untuk perawatan dan reparasi, serta struktur yang mampu mengakomodasi beban hunian. Metode penelitian melalui pengumpulan data, analisis material, dan perhitungan kapasitas struktur, sehingga menghasilkan sebuah konsep struktur apung modular. Hasil dari penelitian ini berupa rancangan modul struktur apung berbentuk heksagonal yang terdiri dari 2 jenis material, yaitu drum plastik dan b-foam (Expanded Polystyrene).  Rancangan struktur apung kemudian diterapkan pada bangunan sesuai fungsi, seperti hunian, pasar dan kebutuhan lain. Pemilihan material juga telah memenuhi standar perhitungan daya apung. Sehingga, rancangan modul struktur apung dapat digunakan untuk menunjang kegiatan masyarakat dengan aman dan ramah lingkungan.
PENERAPAN METODE THERAPEUTIC ARCHITECTURE PADA HUNIAN PRODUKTIF & RUANG KOMUNAL BAGI PENDUDUK LANJUT USIA Shienia Shienia; Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12439

Abstract

Since December 2019, world has been infected the spread of pandemic by Coronavirus or also we known as COVID-19. This pandemic has been effecting the global population drastically, and also various aspects of human life. There’s so many countries is being faced the threat of this disease, especially for elderly citizens. The elderly population has higher risk of being infected to this disease more than any age group, especially for they who has any health problems and degenerative physiological conditions. WHO noted more than 95% mortality caused by coronavirus threat ages population. 8 out of 10 deaths occur in individuals with comorbidities, particularly those with cardiovascular disease, hypertension, diabetes, as well as various other chronic conditions. It is imperative for countries to provide a comprehensive response to this pandemic, supporting the elderly population, their families and their care givers. In this condition, the elderly need protection, and access to nutritious food, availability of basic necessities, money, medicine to support their physical health, and care. The purpose of this research is to find specific data and analysis as the basis for the design of productive housing for the elderly using the Therapeautic Architecture design method. Writer also hoping, this research will be able to describe and prove aspects of nature as part of the design to built environment that support the healing process, especially in productive housing for the elderly population. Keywords: Covid-19; Elderly; Community Housing; Ageing Population; Therapeutic Architecture Abstrak Sejak Bulan Desember 2019, penyebaran pandemic akibat virus Corona, yang juga dikenal sebagai Coronavirus (COVID-19) menyerang hampir satu dunia. Berbagai aspek kehidupan penduduk global terdampak secara signifikan dengan adanya persebaran virtus Pandemi ini. Berbagai negara menanggapi ancaman penyakit ini, terutama karena pandemi menyerang semua kelompok usia, terutama pada kelompok umur lanjut usia. Penduduk lansia menghadapi risiko yang signifikan terkena penyakit virus corona ini, apalagi jika mereka mengalami gangguan kesehatan yang diiringi dengan penurunan kondisi fisiologis. WHO mencatat lebih dari 95% kematian yang diakibatkan virus corona terjadi kepada penduduk kelompok usia lebih dari 60 tahun. 8 dari 10 kematian terjadi pada individu dengan komorbiditas, khususnya mereka dengan penyakit kardiovaskular, hipertensi, diabeter, juga berbagai kondisi kronis lainnya. Sangat penting bagi negara untuk memberikan respon komprehensif terhadap pandemic ini, dengan mendukut penduduk lansia, keluarga, dan pengasuhnya. Pada kondisi ini, lanjut usia memerlukan adanya perlindungan, dan akses terhadap makanan bergizi, ketersediaan kebutuhan dasar, uang, obat-obatan untuk mendukung kesehatan fisik, dan perawatan. Tujuan dari penelitian ini adalah mencari data dan analisa spesifik sebagai landasan desain Hunian Produktif bagi Lanjut usia dengan metode desain Therapeautic Architecture. Diharapkan dengan penelitian ini mampu menjabarkan dan membuktikan aspek alam sebagai bagian dari rancangan lingkungan binaan untuk mendukung proses penyembuhan khususnya pada hunian produktif bagi penduduk kelompok usia lanjut. 

Page 54 of 134 | Total Record : 1332