cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
REVITALISASI HUNIAN VERTIKAL DI MUARA ANGKE, JAKARTA UTARA Fransina Pietersz; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12364

Abstract

Revitalization of vertical hausing by implementing recycled plastic waste is purpose to change the residential settlement patternt in Muara Angke to be better and more sustainable, which this project is built based on slum conditions in existing residential. The main reason of this project is plastic waste pollution in Angke River and Jakarta Bay. This project also provide program support such as communal space, floating park and middle-low business. These programs expected to fullfiled residents’ needs and activities, also make the environment in Muara Angke become better. The research method is the technology method uses RePlast Brick that will be the main element of the building, also Bioclimatic Architecture will be use as design method. Keywords:  Plastic Waste; Sustainable; Vertical Housing AbstrakRevitalisasi hunian vertikal dengan daur ulang sampah plastik di Muara Angke bertujuan untuk mengubah pola pemukiman hunian di Muara Angke menjadi lebih baik dan ramah lingkungan, yang mana revitalisasi hunian vertikal berbasis usaha ini bermula dari kondisi eksisting pemukiman di sana memiliki kondisi yang kumuh. Dan penyebab utama lainnya adalah pencemaran sampah plastik di Sungai Angke dan Teluk Jakarta. Proyek ini juga menyediakan penunjang program seperti tempat pembuangan sementara, tempat pengolahan daur ulang sampah plastik, ruang komunal, taman apung dan UMKM. Program-program ini diharapkan dapat membantu kebutuhan aktivitas warga dan menjadikan lingkungan kawasan Muara Angke menjadi lebih baik. Selanjutnya, metode teknologi bangunan menggunakan RePlast Brick yang akan dijadikan elemen utama dalam bangunan, dan metode perancangan yang digunakan adalah arsitektur bioklimatik.
HOUSE OF BLACK SOLDIER FLIES PETERNAKAN DAN GALERI EKOSISTEM LALAT TENTARA HITAM Mikael Morgan; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12311

Abstract

The Bantar Gebang Integrated Waste Disposal Site (Bantar Gebang Landfill) is the largest landfill in Asia. This unique ecosystem is born from millions of garbage which include mountains of inorganic and organic waste, thousands of scavengers, and millions of flies. However, the ecosystem in this landfill has not worked well, the components in the ecosystem still work independently and do not work in mutualism way. The program is present with the aim of maximizing the existing ecosystem in this landfill, by making the components as one unit. Such as the Black Soldier flies breeding program which is made from organic waste, a waste workshop for the scavengers, and an information gallery about flies and garbage for the outside people. Processing organic waste naturally (using Black Soldier flies), make this program is very environmentally and ecologically friendly. Design methods such as sustainability and biomimicry are used to produce projects that care about the environment, and target the psychological level of the people. By doing so, the project is expected to be able to help overcome the problem of organic waste in the Bantar Gebang Landfill, as well as open up public knowledge about waste management. Keywords: Bantar Gebang Landfill; disposal; flies, scavengers; waste.AbstrakTempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang merupakan TPST terbesar se-Asia. Ekosistem yang unik lahir dari jutaan sampah yang meliputi gunungan sampah organik anorganik, ribuan pemulung, serta jutaan lalat. Akan tetapi, ekosistem di TPST ini belum bekerja dengan baik, antar komponen dalam ekosistem masih bekerja sendiri-sendiri dan tidak bekerja secara mutualisme. Program hadir dalam tujuan memaksimalkan ekosistem yang ada di TPST ini, dengan menjadikan antar komponen sebagai satu kesatuan. Seperti program peternakan lalat BSF yang berbahan dasar sampah organik, workshop sampah bagi para pemulung, dan galeri informasi mengenai lalat dan sampah bagi masyarakat luar. Mengolah sampah organik secara alami (menggunakan lalat BSF), maka program ini menjadi sangat ramah lingkungan dan ekologis. Metode perancangan seperti keberlanjutan dan biomimikri dipakai untuk menghasilkan proyek yang peduli terhadap lingkungan, serta menargetkan pada tingkat psikologis masyarakat. Dengan begitu, proyek diharapkan dapat membantu mengatasi masalah sampah organik di TPST Bantar Gebang, serta membuka wawasan masyarakat luas tentang pengolahan sampah.
HUNIAN WARGA YANG ‘KOMPAK DAN BERKELANJUTAN’ DI KAMPUNG SAWAH, JAKARTA UTARA Erika Visca Lina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12459

Abstract

Urban sprawl due to limited land for living causes more residential development on the edge of the city. Land fragmentation results in the need for high mobility. With the characteristics of settlements in urban sprawl areas that use large land and large house areas, the demand for water and energy, especially electricity, increases. Due to the lack of clear arrangements and regulations from the central government, residents who refuse to live far from their place of work choose to live in the urban village area. Due to the shortage of residential land, inadequate settlements began to appear in urban areas, which are often called Kampung Kota. Even though it is located in an urban area, Kampung Kota is still a village with difficult access, poor population, and is a form of adaptation to the lack of residential land. The organically formed Kampung Kota is a reflection of the vital needs of the city dwellers, namely accessibility and a comfortable living environment. The solution to the problem of urban sprawl can be overcome with the compact city principle, which has been reflected in Kampung Kota which was originally organic. Compact city is an urban planning that focuses on densely populated mixed-use functions. This concept is based on the use of efficient public transportation and has an urban setting that encourages residents to walk or cycle, lower energy consumption, and reduce pollution. Therefore, the expansion of Kampung Kota with compact city principles that are similar to each other can be applied also is expected to become a prototype for compact Kampung Kota housing. Keywords: compact city; kampung sawah; urban sprawl; urban village Abstrak Perkembangan kota ditandai dengan urban sprawl, karena terbatasnya lahan tinggal menyebabkan pembangunan hunian di pinggir kota. Fragmentasi lahan akibat urban sprawl mengakibatkan diperlukannya mobilitas tinggi. Dengan karakteristik permukiman di daerah urban sprawl yang menggunakan lahan besar dan luasan rumah yang besar juga membuat kebutuhan air dan energi terutama listrik meningkat. Karena kurangnya penataan dan regulasi yang jelas dari pemerintah pusat, penduduk yang menolak tinggal jauh dari tempat bekerja memilih untuk tinggal di area kampung kota. Akibat kekurangan lahan permukiman, mulai bermunculan permukiman tidak layak di area perkotaan, yang sering disebut kampung kota. Meskipun letaknya di perkotaan, kampung kota masih bersifat kampung yang  sulit diakses, masalah kemiskinan penduduk, dan merupakan adaptasi penduduk akan kurangnya lahan tinggal. Kampung Kota yang terbentuk secara organik merupakan cermin kebutuhan vital penduduk kota, yakni aksesibilitas dan lingkungan hidup yang nyaman.  Solusi untuk permasalahan urban sprawl dapat diatasi dengan prinsip compact city, yang telah tercermin dalam Kampung Kota. Compact city adalah sebuah perencanaan urban yang berfokus pada fungsi mixed-use padat penduduk. Konsep ini memiliki dasaran penggunaan transportasi publik yang efisien dan memiliki tatanan urban yang mendorong penduduknya untuk berjalan kaki atau bersepeda, konsumsi energi yang rendah, dan mengurangi polusi. Oleh karena itu perluasan kampung kota dengan prinsip compact city yang similar satu sama lain dapat diterapkan. Prinsip compact city yang telah tercermin dalam kampung kota di Kampung Sawah diharapkan dapat menjadi prototype hunian kompak kampung kota. 
ZERO FOOD WASTE: PASAR HIJAU TRADISIONAL DI GROGOL, JAKARTA BARAT Felia Alexandra Linoh; Denny Husin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12419

Abstract

Food waste is one of the ecological issues that have a detrimental effect on big cities like Jakarta. Food waste that decomposes in landfills releases methane that can be harmful to ozone layers. The problem is that Indonesia’s food waste management is poorly handled; in fact, Indonesia is the world’s second-largest food waster. Indonesian cities waste contains approximately 55 – 60% organic matter. One of the biggest sectors that generate food waste is food retailers such as the marketplace. The solution for handling the food waste issues in this sector is to create a closed cycle food waste in architecture system within a building. Therefore, this project attempts to apply a closed-cycle food waste method by adding another relevant program into the marketplace to achieve green architecture with zero food waste. Keywords:  architecture; green; system.Abstrak Fenomena sampah makanan adalah salah satu isu ekologi yang merugikan di kota kota besar seperti Jakarta. Sampah makanan yang menumpuk di TPA (tempat pembungan akhir) dapat menghasilkan gas metana yang dapat merusak lapisan ozon. Masalahnya, pengelolaan sampah makanan di Indonesia masih buruk, nyatanya Indonesia adalah negara ke-2 penyumbang sampah makanan terbesar. Sampah kota di Indonesia rata-rata masih mengandung 55 sampai 60% bahan organik. Salah satu sektor penyumbang terbesar sampah makanan adalah sektor pangan seperti pasar. Untuk menangani isu sampah makanan dalam sektor tersebut, diperlukan suatu sistem dalam arsitektur berupa siklus dalam satu bangunan yang tertutup. Oleh karena itu, proyek ini berusaha menerapkan metode siklus penanganan sampah makanan yang tertutup dengan menambahkan program-program lain yang relevan ke dalam pasar tradisional sehingga dapat mencapai arsitektur hijau dengan zero food waste.
IMPLEMENTASI PANGAN BERKELANJUTAN DI BALEKAMBANG MELALUI FASILITAS AQUAPONIC BERBASIS KOMUNITAS Risyad Nadhifian Reksoprodjo; Djidjin Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12347

Abstract

Food is a primary need for humans. With energy produced by foods, humans can do daily activities that contribute to human society. Because of this, food plays a very pivotal role in human society, and the world itself. Unfortunately, in this era of globalization, food systems are commonly capitalized, which creates negative effects on earth’s ecosystem. Negative effects include overfarming, overuse of natural resources, and over-wasting.  This has bad effects on earth and its ecologies, that’s why the application of sustainable foods in human society must be done. Sustainable food systems focus on producing food with a positive impact on the earth’s ecosystem and its consumers. Sustainable foods are well suited to be implemented in urban society, due to their large consumption value which largely impacts the rotation of food systems. The hope is that  with the application of sustainable foods in urban communities, the need for healthy and positive-impacting food in urban communities could be fulfilled, while also keeping earth’s ecosystems intact. Balekambang community based aquaponics facility is a pilot project to provide sustainable and locally produced foods for urban residents in Jakarta, specifically in Balekambang sub-district. Using aquaponics system at its core, we combine planting and social activities to create a sustainable food ecosystem that belongs to the residents. The building itself is designed to provide optimal sunlight, airflow, and water distribution towards aquaculture and hydroponic plant systems, thus creating the year-round optimal environment for growing fish and plants.Keywords: community; food; social; sustainability; urban  Abstrak Pangan merupakan kebutuhan utama bagi manusia. Dengan energi dari pangan, manusia dapat melakukan aktivitas keseharian yang dapat berpengaruh terhadap kehidupan manusia. Dengan ini pangan sangat penting terhadap semua aspek kehidupan manusia, serta kondisi ekosistem bumi itu sendiri. Sayangnya, di era globalisasi ini, Sistem pangan sebagian besar dikapitalisasi. Banyak efek buruk yang diakibatkan kapitalisasi pangan ini. seperti contohnya overfarming, pemborosan SDA, dan penumpukan limbah. Hal ini berefek buruk terhadap ekosistem. Untuk itu aplikasi pangan berkelanjutan menjadi teramat penting. Pangan berkelanjutan berfokus pada bagaimana memproduksi pangan dengan cara yang positif terhadap ekologi bumi serta pengonsumsi pangan itu sendiri. Pangan berkelanjutan patut diterapkan di masyarakat perkotaan, karena volume konsumsi yang besar dan cukup berpengaruh terhadap rotasi pangan. Harapannya dengan aplikasi pangan berkelanjutan di masyarakat perkotaan, keperluan pangan sehat dan merata di masyarakat dapat dipenuhi, seiringan dengan dapat terjaganya kondisi ekosistem bumi. Fasilitas Aquaponic berbasis komunitas di Balekambang merupakan sebuah proyek eksperimental yang mengaplikasikan sistem pangan berkelanjutan di tengah komunitas pemukiman padat DKI Jakarta, spesifiknya Kelurahan Balekambang. Dengan mengkombinasikan sistem pangan Aquaponic dengan aktivitas sosial warga sekitar, proyek ini bertujuan agar sistem pangan berkelanjutan dapat diadopsi oleh warga balekambang dan menjadi sesuatu yang berasa dimiliki oleh warga sekitar, serta menghasilkan pangan sehat dan berkelanjutan bagi warga sekitar.
PENDEKATAN DESAIN KESEHARIAN PADA EKOWISATA MANGROVE DI DESA PANTAI MEKAR, MUARA GEMBONG, BEKASI Gracia Kristina; Timmy Setiawan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12333

Abstract

Mangrove is one of the plants that thrives along the coast in Indonesia. The existence of the mangrove ecosystem brings impacts and benefits, both for living things, the environment and the community around the coast. People use mangroves to meet their daily needs, from roots, leaf stems to fruit. Massive use of mangroves has resulted in damage to the mangrove ecosystem. The Mangrove Ecotourism Project aims to improve the existing mangrove ecosystem due to degradation and introduce the use of mangrove fruit that is more environmentally friendly, does not damage the mangrove ecosystem by not cutting down the roots and generating economic value. In Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Degradation is defined as a setback and decline. The Mangrove Ecotourism project uses the Everydayness method. By using the Everydayness method, Mangrove Ecotourism seeks to provide a daily picture as an initial introduction from seeding until mangrove trees can grow. mangrove park. Mangrove Ecotourism is located in Pantai Mekar Village, Muara Gembong, Bekasi, the design site is on land equipped with mangroves. In the Mangrove Ecotourism program, there are several programs, namely mangrove seeding and planting, spa, mangrove fruit processing for beauty products and snack workshops made from mangroves as well as various other supporting programs such as restaurants, recreation areas, etc.Keywords:  Degradation; Ecotourism; Mangrove Ecotourism  AbstrakMangrove merupakan salah satu tanaman yang tumbuh subur di sepanjang pantai yang ada di Indonesia. Keberadaan ekosistem mangrove membawa berbagai dampak dan manfaat, baik bagi makluk hidup, lingkungan maupun masyarakat disekitar pesisir pantai. Masyarakat memanfaatkan mangrove yang melimpah dan kaya manfaat ini untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari akar, batang daun hingga buahnya. Pemanfaatan Mangrove secara besar-besaran mengakibatkan rusaknya ekosistem Mangrove. Proyek Ekowisata Mangrove bertujuan untuk memperbaiki ekosistem mangrove yang ada akibat degradasi serta memperkenalkan pemanfaatan buah mangrove yang lebih ramah lingkungan, tidak merusak ekosistem mangrove dengan tidak menebang akar – batang dan menghasilkan nilai ekonomi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), degradasi diartikan sebagai kemunduran, kemerosotan dan penurunan. Proyek Ekowisata Mangrove ini menggunakan metode keseharian. Ekowisata mangrove berusaha untuk memberikan gambaran keseharian sebagai pengantar awal dari mulai pembenihan hingga pohon mangrove dapat tumbuh. Partisipatif dengan mengajak dan memperlihatkan kepada pengunjung pemanfaatan mangrove yang tidak menebang pohon mangrove semata serta pengungkapan realitas ekosistem mangrove dengan adanya rekreasi, observation deck dan taman mangrove. Ekowisata Mangrove terletak di Desa Pantai Mekar, Muara Gembong, Bekasi, tapak perancangan berada di lahan yang dikelilingi oleh tumbuhan mangrove. Pada program Ekowisata Mangrove terdapat beberapa program yaitu pembenihan dan penanaman mangrove, spa, Pengolahan buah mangrove untuk produk kecantikan dan workshop jajanan yang berbahan dasar mangrove serta berbagai program penunjang lainnya seperti restoran, area rekreasi, dsb. 
APLIKASI SENSORIAL ARCHITECTURE PADA FASILITAS PENGOLAHAN DAN PENGELOLAAN SAMPAH PLASTIK DI KELURAHAN PAPANGGO Jasmine Calista; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12446

Abstract

Plastic is one of the most popular materials because of its flexiblity, low cost, and durability. However, despite being durable, a lot of plastics are only used once before ending up in landfills or the environment; piles of plastic waste can be seen floating on the sea because of their non-degradable nature. The plastic waste treatment and management facility responds to this problem in two ways, namely through processing plastic waste into raw materials used in making the filament for 3D printing, and through management, by the manufacture of alternative materials (algae bioplastic) using the wastewater obtained from washing plastics and by inviting the community to participate through upcycling. Through this, plastic waste can be converted into a usable product (such as furniture, ornaments, and others), and if said product is defected or broken, it can be recycled back and turned into raw material for another printing process, thus creating a circular economy. Furthermore, as citizens’ awareness towards the proper management of plastic waste and the reduction of  plastic consumption plays an important role in addressing this issue, this project uses the sensorial architecture of the seven senses (sight, hearing, smell, touch, taste, skeleton and muscle) as a design approach to make the users ‘feel’ the building. As a result, the purpose of this project, which is to help in managing plastic waste and to raise awareness regarding this issue, can be achieved through the programs and spatial experience. By using technology and sensorial architecture design, not only does this project generate product from plastic waste, but also creates a new ecology to an industrial building.Keywords: 3D printing; plastic waste; sensorial architecture; seven senses; spatial experience AbstrakPlastik merupakan salah satu bahan yang paling sering digunakan karena sifatnya yang fleksibel, murah, dan tahan lama. Namun, meski mempunyai sifat yang tahan lama, banyak plastik yang hanya dipakai sekali sebelum akhirnya berakhir di TPA atau di lingkungan. Sifatnya yang tidak bisa / sulit terdegradasi menyebabkan dampak buruk pada lingkungan, terutama ekosistem laut. Perancangan fasilitas pengolahan dan pengelolaan sampah plastik merespon terhadap masalah ini dengan dua cara, yaitu melalui pengolahan sampah plastik menjadi bahan dasar filamen dalam fasilitas pencetakan 3D dan pengelolaan melalui pembuatan bahan alternatif (alga bioplastik) dari air bekas hasil pencucian plastik, dan dengan mengajak masyarakat untuk turut ikut serta melalui program upcycling. Melalui cara ini, sampah plastik dapat diolah menjadi barang yang dapat digunakan kembali, dan hasil produk (berupa furnitur, ornamen, dan lainnya) yang sudah rusak dapat didaur ulang dan diolah kembali menjadi produk yang baru sehingga menciptakan sebuah ekonomi yang sirkuler. Selain itu, karena kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan dan pengurangan konsumsi plastik juga menjadi bagian penting dalam mengatasi masalah ini, perancangan menerapkan pendekatan desain arsitektur sensori melalui ketujuh indera manusia (penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba, pengecap, tulang dan otot) agar dapat menjadi bangunan yang dapat ‘dirasakan’ oleh penggunanya. Dengan ini, tujuan perancangan untuk membantu mengelola sampah plastik dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kondisi lingkungan sekarang ini dapat disampaikan melalui program dan pengalaman ruang yang dirasakan. Melalui penggunaan teknologi dan penerapan desain arsitektur sensori, perancangan tidak hanya menghasilkan produk olahan sampah plastik, tetapi juga menciptakan ekologi baru pada bangunan industri.
MOOD ECOLOGY AKTIVATOR UNTUK SETIAP TEMPAT Giovani Baptista; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12346

Abstract

Along with the times, the human population and the demands of the times continue to grow, so humans must adapt to survive. In life, humans face many obstacles that affect their mental condition and performance. When humans are in a happy mood, the degree of quality of human life increases, and vice versa. However, life in this fast-paced and dense urban area makes it difficult for them to release their stressful feelings due to the problems they face every day, the space as a stress-relief place in urban areas is not enough to handle stress in this crowded city. The design of a space as an activator for human mood is designed to reach points in urban areas, in order to help release their stress. A place that helps people's activities and helps release the stress they face. Dense cities, make people have to be able to make good use of space. Therefore, this activator chamber is designed to have a small-scale area. This project starts from determining the main program and objectives, the main program will be proposed at each point of project development, but this program will still be reviewed for suitability with the site to be taken. Then a sample location was taken, namely Pasar Baru Village as a research location before this project was spread to various points in urban areas. Three locations were found in Pasar Baru Village, due to differences in the function and compatibility of the main program with the function of the program to be referred to at that site. The results of this sample will then be used as a reference for project development at different location points in the future. Keywords:  Activator; Mood; Room; Stress.AbstrakSeiring perkembangan zaman, populasi manusia dan tuntutan zaman pun terus berkembang sehingga manusia harus menyesuaikan diri untuk dapat bertahan hidup. Dalam kehidupannya manusia menghadapi banyak rintangan yang mempengaruhi kondisi dari mental dan kinerja mereka. Ketika manusia berada dalam suasana hati yang senang, maka derajat kualitas hidup manusia pun meningkat, begitu pun sebaliknya. Namun, kehidupan di perkotaan yang serba cepat dan padat ini, membuat mereka sulit untuk melepaskan perasaan stres mereka akibat masalah yang dihadapi setiap harinya, ruangan sebagai tempat pelepas stres yang ada di perkotaan tidak cukup untuk menangani stres di perkotaan yang padat ini. Perancangan sebuah ruang sebagai aktivator bagi suasana hati manusia ini dirancang untuk menjangkau titik - titik yang ada di perkotaan, supaya dapat membantu melepaskan stres mereka. Tempat yang membantu aktivitas masyarakat dan membantu melepaskan stres yang mereka hadapi. Perkotaan yang padat, membuat manusia harus dapat memanfaatkan ruangan dengan baik. Oleh karena itu ruang aktivator ini dirancang agar memiliki luasan berskala kecil. Proyek ini dimulai dari menentukan program dan tujuan utama, program utama akan diajukan pada setiap titik pengembangan proyek, namun program ini akan tetap dikaji kembali kecocokannya dengan tapak yang akan diambil. Lalu diambil sampel lokasi, yaitu Kelurahan Pasar Baru sebagai lokasi penelitian sebelum proyek ini disebar ke berbagai titik di perkotaan. Ditemukan 3 titik lokasi pada Kelurahan Pasar Baru, karena perbedaan fungsi dan kecocokan program utama dengan fungsi program yang akan dirujuk pada tapak tersebut. Hasil sampel ini kemudian akan menjadi acuan bagi pengembangan proyek di titik lokasi yang berbeda kedepannya. 
PENERAPAN PENDEKATAN PRAGMATIS: BENTUK MENGIKUTI FUNGSI DALAM PERANCANGAN ARSITEKTUR INDUSTRI YANG EKOLOGIS Christina Ferlenthya Puwardi; Priscilla Epifania Ariaji
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12379

Abstract

One way to overcome plastic waste is to take advantage of technological developments, without ignoring ecological awareness, to process waste before disposal. The process can be done by recycling plastic waste as raw material for production and using plasma gasification to convert recycling leftovers into electrical energy. Along with the usage of waxworm as decomposers, these methods require a building that accomodates the process, and the building is commonly referred as industrial architecture. Eco-industrial architecture should be able to take responsible decisions in every stage of its existence (planning, construction, maintenance, demolition). This main principle is embraced by the Khanah Kufu: Plastic Waste Processing Facility in Bantar Gebang. Pragmatic approach can be used to design this plastic waste processing facility with form following its function. The success of designing eco-industrial architecture can be achieved through the following design considerations: (1) space and volume requirements; (2) space relations; (3) accessibikity and circulation. It is expected that by using this method, design results are able to achieve its goal to overcome the problem of plastic waste without producing new emissions and waste, even when the building is no longer used. Keywords:  Eco-industrial architecture; form follow function; functional; pragmatic approach; recycle, gasification, and decompositionAbstrakSalah satu cara mengatasi permasalahan sampah plastik adalah dengan kesadaran ekologis memanfaatkan perkembangan teknologi untuk mengolah sampah tersebut sebelum dibuang. Pengolahan tersebut dapat dilakukan dengan mendaur ulang kembali sampah plastik yang masih baik untuk digunakan kembali sebagai bahan baku produksi atau menggunakan metode gasifikasi plasma untuk mengubah sampah plastik yang sudah tidak baik menjadi energi listrik. Disertai dengan ulat lilin sebagai representasi alam sebagai pengurai, metode-metode pengolahan ini tentunya membutuhkan suatu bangunan yang memfasilitasi berjalannya proses , dan bangunan itu biasa disebut sebagai arsitektur industri. Arsitektur industri sebaiknya ramah lingkungan dan bertanggung jawab dalam setiap keputusan yang diambil, baik dalam perencanaan, pembangunan, hingga perawatan. Prinsip utama ini dianut oleh dalam proyek Khanah Kufu: Fasilitas Pengolahan Sampah Plastik di Bantar Gebang. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk perancangan arsitektur industri fasilitas pengolahan sampah plastik ini adalah pendekatan pragmatis dengan metode bentuk mengikuti fungsi. Keberhasilan perancangan arsitektur dengan metode ini dapat dicapai melalui pertimbangan perancangan berikut: (1) kebutuhan volume ruang; (2) hubungan antar ruang ; (3) aksesibilitas dan sirkulasi. Diharapkan dengan menggunakan metode ini, hasil perancangan arsitektur industri pengolah sampah plastik dapat mencapai tujuannya untuk menghentikan permasalahan sampah plastik tanpa menghasilkan emisi karbon serta sampah yang baru, bahkan saat bangunan sudah tidak lagi digunakan dan dihancurkan. 
RUANG KOMUNAL BARU: PERANCANGAN FASILITAS KOMUNITAS (REKREASI-RELAKSASI-KEBUGARAN) DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR BIOFILIK DI PLUIT, JAKARTA UTARA Arnantya Fajar Ramadhanti; Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12404

Abstract

Cities are now the preferred place of residence for half the human population. The city itself is part of the ecology in which there are various systems. The reason residents choose to live in the city is the many supporting facilities and opportunities for growth. However, this does not guarantee that humans are always happy, there will be many problems that occur as time and time change so that it can cause stress triggers. Especially since the pandemic has impacted people, they are required to work or attend school from home. Living in a city with overlapping residences, the lack of open lands, such as apartments or housing, will make people feel that space is increasingly limited. Based on this, we need a space that can reduce stress. The goal is to create a new communal space as a place to interact to form a community to provide social support to each other with environmentally friendly designs, one of which is by applying biophilic designs. The application of biophilic can help humans improve the quality of life in terms of psychology and has a characteristic that combines natural patterns into buildings to reduce stress. The community can use this new communal space, especially those living around the site, with the main program providing easy-to-reach public space facilities. These facilities include work and study, a place for psychological consultations with professionals, communities such as gardening, cooking, workshops, as well as recreational facilities such as jogging, swimming, salon, cinema.Keywords: biophilic; city; community; stress; wellness AbstrakKota saat ini menjadi tempat tinggal yang dipilih bagi separuh populasi manusia. Kota sendiri termasuk bagian dari ekologi yang di dalamnya terdapat berbagai sistem. Alasan mengapa penduduk memilih untuk tinggal di kota adalah karena banyak fasilitas pendukung dan peluang untuk berkembang. Namun, hal tersebut tidak menjamin manusia selalu  bahagia, akan banyak masalah terjadi seiring perubahan masa dan waktu sehingga dapat menyebabkan pemicu stress. Apalagi sejak terjadinya pandemi yang berdampak pada masyarakat diharuskan bekerja maupun bersekolah dari rumah. Tinggal di kota dengan tempat tinggal yang saling berhimpitan, kurangnya lahan terbuka, seperti apartemen maupun perumahan akan membuat masyarakat merasakan ruang semakin terbatas. Berdasarkan hal tersebut, diperlukan ruang yang dapat menurunkan tekanan stress. Tujuannya adalah membuat ruang komunal baru sebagai tempat berinteraksi membentuk komunitas untuk saling memberikan dukungan sosial dengan desain yang ramah terhadap lingkungan, salah satunya dengan menerapkan desain biofilik. Penerapan biofilik dapat berpengaruh membantu manusia meningkatkan kualitas hidup dalam hal psikologis dan memiliki ciri khas yang menggabungkan pola alam ke bangunan sehingga dapat mengurangi stress. Ruang komunal baru ini dapat digunakan oleh masyarakat terutama yang tinggal di sekitar tapak dengan program utama memberikan fasilitas ruang publik yang mudah dijangkau. Fasilitas tersebut antara lain untuk bekerja dan belajar, tempat konsultasi psikologis pada pihak profesional, berkomunitas seperti berkebun, memasak, workshop, maupun fasilitas rekreasi seperti jogging, berenang, salon, bioskop.

Page 57 of 134 | Total Record : 1332