cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
PENERAPAN METODE BIOKLIMATIK DALAM DESAIN RUSUNAMI YANG INTERAKTIF, SEHAT DAN AKTIF Clairine Aloysia Benedicta; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12407

Abstract

Jakarta is one of the fastest growing areas in terms of population. The city of Jakarta as the capital city of the Republic of Indonesia has very rapid development and progress in various fields and sectors such as social, economic, cultural and political. Due to the attractiveness of Jakarta, it triggers urbanization which causes the number and density of Jakarta's population to continue to increase every year. With the increase in population, the need for housing also increases. Flats are one solution to the problem of population growth. Flats are considered to be the answer to the housing needs in urban areas, especially for the lower middle class. This study uses the “Bioclimatic Architecture” method as a design approach that refers to the design of buildings and spaces (interior - exterior - outdoor) based on the local climate, which aims to provide thermal and visual comfort, utilizing solar energy and other environmental sources. The basic element of the Bioclimatic Architectural design is Passive Solar Systems which are incorporated into the building and utilize environmental sources (eg sun, air, wind, vegetation, water, soil, sky) for heating, cooling and lighting of the building. The application of the bioclimatic method on rusunami aims to be a solution to ecological problems and the effectiveness of the use of materials with the aim of improving the quality of life of residents and making an interactive, healthy and active environment by optimizing natural elements and the application of appropriate spatial programs is expected to be useful for use. Keywords: Bioclimatic Architecture; Flats; Social; WellnessAbstrakJakarta merupakan salah satu wilayah yang pesat dalam hal kependudukan. Kota Jakarta sebagai Ibu Kota Negara Republik Indonesia memiliki perkembangan dan kemajuan yang sangat pesat di berbagai bidang dan sektor seperti sosial, ekonomi, budaya dan politik. Karena daya tarik yang ditimbulkan oleh Jakarta, hal tersebut memicu urbanisasi yang menyebabkan jumlah dan kepadatan penduduk Jakarta terus meningkat setiap tahunnya. Dengan adanya peningkatan jumlah penduduk maka kebutuhan akan hunian juga meningkat. Rumah susun menjadi salah satu solusi untuk menjawab permasalahan pertumbuhan populasi itu. Rumah Susun dianggap menjadi jawaban bagi kebutuhan pemukiman di wilayah perkotaan, khususnya bagi masyarakat menengah ke bawah. Studi ini menggunakan metode “Arsitektur Bioklimatik” sebagai pendekatan desain perancangan yang mengacu pada desain bangunan dan ruang (interior - eksterior - luar ruangan) berdasarkan iklim lokal, yang bertujuan untuk memberikan kenyamanan termal dan visual, memanfaatkan energi matahari dan sumber lingkungan lainnya. Elemen dasar dari desain Arsitektur Bioklimatik adalah sistem Passive Solar Systems yang dimasukkan ke dalam bangunan dan memanfaatkan sumber lingkungan (misalnya matahari, udara, angin, vegetasi, air, tanah, langit) untuk pemanas, pendingin dan penerangan bangunan. Penerapan metode bioklimatik pada rusunami bertujuan untuk menjadi solusi untuk permasalahan ekologi dan efektivitas penggunaan material dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup warga dan menjadikan lingkungan yang interaktif, sehat dan aktif dengan mengoptimalkan unsur alam dan penerapan program ruang yang tepat diharapkan dapat bermanfaat untuk digunakan. 
RUANG TUMBUH UNTUK PENYU DAN TERUMBU KARANG DENGAN METODE KAMUFLASE Bernadette Adelia Oktaviani; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12294

Abstract

Indonesia as an archipelago country is influenced and influences the sea. The condition of the sea in Indonesia greatly affects the marine ecosystem, both in flora and fauna. Sea turtles and coral reefs are representatives of flora and fauna that are affected by the marine ecosystem. Most type of sea turtles can be found in Indonesia and Indonesia is located in the coral triangle so there is high coral reef diversification. However, this condition is often being neglected by the tourists and fishermen. This project is a conservation facility to increase the growth of sea turtles and coral reefs and complemented by tourism activities as an effort to increase visitors and awareness of the importance of sea turtles and coral reefs for marine ecosystems. This project is located in Kelapa Dua Island, Thousand Islands, North Jakarta. In this project the design method applied is camouflage, this method is chosen to increase comfortability for the sea turtles during their nesting process in the coastal area. From this method, there are several important points such as nature, vegetation, vision, shape, and color. Its application based on this method can be seen through the natural materials that are used in this building so it blends with the surrounding environment, vegetation to increase the potential for turtles to lay eggs and camouflaging the building, and curved shapes to mimic turtles. Therefore, it can increase the love and human consciousness of nature. Keywords:  camouflage; coral reef; marine ecosystem; sea turtleAbstrakIndonesia sebagai negara kepulauan sangat dipengaruhi dan mempengaruhi perairan di sekitarnya. Kondisi perairan di Indonesia sangat mempengaruhi ekosistem laut baik flora maupun fauna. Penyu dan terumbu karang merupakan perwakilan dari flora dan fauna yang terdampak dari kondisi ekosistem laut. Sebagian besar jenis penyu terdapat di Indonesia dan Indonesia berada di segitiga terumbu karang sehingga terdapat diversifikasi terumbu karang yang tinggi. Namun, kondisi ini seringkali tidak disadari baik oleh masyarakat, wisatawan, maupun nelayan. Ruang Tumbuh untuk Penyu dan Terumbu Karang merupakan fasilitas konservasi untuk menambah ruang tumbuh bagi penyu dan terumbu karang dan dilengkapi dengan kegiatan pariwisata sebagai usaha untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan pengunjung akan pentingnya penyu dan terumbu karang bagi ekosistem laut. Proyek ini berlokasi di Pulau Kelapa dua, Kepulauan Seribu, Jakarta Utara. Dalam proyek ini, metode desain yang diterapkan adalah metode desain kamuflase untuk meningkatkan kenyamanan penyu dalam melakukan proses bertelur di area pantai. Dari metode ini terdapat beberapa poin penting yaitu alam, vegetasi, penglihatan, bentuk, dan warna. Penerapannya berdasarkan metode tersebut dapat dilihat melalui material yang alami sehingga menyatu dengan alam sekitar, vegetasi untuk meningkatkan potensi penyu bertelur dan mengkamuflase, serta bentuk melengkung untuk meniru penyu. Dengan begitu, dapat meningkatkan rasa cinta dan kesadaran manusia akan alam.
EVALUASI KONSEP KAWASAN TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT (TOD) STASIUN CISAUK, KECAMATAN CISAUK, KABUPATEN TANGERANG, BANTEN. (STUDI KASUS STASIUN CISAUK, KECAMATAN CISAUK, KABUPATEN TANGERANG) Beryllium Safiullah Ahmad; Sylvie Wirawati; B. Irwan Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12913

Abstract

City development with the concept of Transit Oriented Development (TOD) is a city development that relies on mass transportation modes, the concept of Transit Oriented Development (TOD) in the City, namely as a buffer for the capital against cities that are around the city center. Recently, Transit Oriented Development (TOD) has become a solution to integrate housing with mass transportation so as to facilitate access to the capital, in the development of Transit Oriented Development (TOD) there are special standards that follow standard assessment criteria both nationally and internationally. Transit Oriented Development Cisauk Station is one of the Transit Oriented Developments being developed in Tangerang Regency, as well as the Capital City Supporting City. The purpose of this study is to analyze the suitability of the development of the Transit Oriented Development (TOD) area of Cisauk Station, both based on the Tangerang Regency Spatial Planning (RTRW) Regulations 2011-2031 and based on the criteria of the Standard Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) to determine the suitability of the Transit Oriented area. Development (TOD) Cisauk Station. Based on the results of the evaluation of theanalysis scorecard using comparative qualitative methods resulted in the suitability of theProject of Transit Oriented Development (TOD)Cisauk Station against theof criteriathe Standard Institute For Transportation and Development Policy (ITDP) with aspects of walking/walking, cycling/cycle, connecting/connecting, public transportation /transit, mixing, compressing, compacting, and shifting, then the Transit Oriented Development (TOD) of Cisauk Station has met the standard criteria for Transit Oriented Development TOD) and has a percentage value of 55% – 69% from 100% assessment. The researcher knows that the results of the evaluation of the Transit Oriented Development (TOD) Cisauk Station are included in the category of theassessment class criteria Bronze, this result was obtained by the researchers by comparing the research data and the assessment criteria based on the International Institute For Transportation and Development Policy (ITDP).  Keywords: Evaluation; Transit Oriented Development; Criteria Standard Institute For Transportation and Development Policy (ITDP);  Cisauk Station.  AbstrakPengembangan kota dengan konsep Transit Oriented Development (TOD) merupakan pengembangan kota yang bertumpu pada moda transportasi massal, konsep Transit Oriented Development (TOD) di Kota yaitu sebagai penyangga Ibukota terhadap kota – kota yang berada di sekitar pusat kota. Belakangan ini Transit Oriented Development (TOD) menjadi solusi untuk mengintergrasikan hunian dengan transportasi massal sehingga memudahkan akses menuju ibukota, dalam pengembangan Transit Oriented Development (TOD) terdapat standar khusus yang mengikuti kriteria standar penilaian baik secara nasional maupun internasional. Transit Oriented Development Stasiun Cisauk merupakan salah satu Transit Oriented Development yang sedang dikembangkan di Kabupaten Tangerang, sekaligus sebagai Kota Penyangga Ibukota. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kesesuaian pengembangan kawasan Transit Oriented Development (TOD) Stasiun Cisauk baik berdasarkan Peraturan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Tangerang 2011 – 2031 maupun berdasarkan kriteria Standard Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) untuk mengetahui kesesuaian kawasan Transit Oriented Development (TOD) Stasiun Cisauk. Berdasarkan hasil dari evaluasi analisis scorecard dengan menggunakan metode kualitatif komparatif menghasilkan kesesuaian Proyek Transit Oriented Development (TOD) Stasiun Cisauk terhadap kriteria Standard Institute For Transportation and Development Policy (ITDP) dengan aspek berjalan/walk, bersepeda/cycle, menghubungkan/connect, angkutan umum/transit, pembauran/mix, memadatkan/densify, merapatkan/compact, dan beralih/shift, maka Transit Oriented Development (TOD) Stasiun Cisauk sudah memenuhi kriteria standar Transit Oriented Development TOD) dan memiliki nilai persentase 55% – 69% dari 100% penilaian. Peneliti mengetahui bahwa hasil evaluasi Transit Oriented Development (TOD) Stasiun Cisauk masuk dalam katagori kriteria kelas penilaian Bronze, hasil ini di dapatkan oleh peneliti dengan mengkomparatifkan data hasil penelitian dan kriteria penilaian berdasarkan International Institute For Transportation and Development Policy (ITDP).
STRATEGI ADAPTASI KAMPUNG TERHADAP KENAIKAN AIR LAUT DAN PENURUNAN TANAH DI MUARA ANGKE Abigael Mardianto; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12335

Abstract

The capital city of Indonesia, Jakarta, is the world’s fastest sinking city, especially the Northern part with an average land surface of more than 1.5 metres below sea level. Research shows that about 95% of North Jakarta will be 4 metres or far more below sea level by 2050. Sinking land jeopardises the Angke Estuary community since people lose their homes and livelihoods. Additionally, the mangrove forests in the coastal areas are home to many flora and fauna and now at risk due to drowning. Therefore, innovation in building structure would potentially mitigate instead of remediating the current issues. The design method used in literature and precedent studies, adaptation, and modular design become the basis of building design. A Telescopic column is an adjustable-floating system made out of recycled gallon plastic containers. It is an innovative and clean approach because of its sustainability towards climate change and environmentally friendly by utilising recycled material. The floating feature enables the building to adapt to sea-level fluctuations (e.g. high - low tides). This project aims to provide better living areas for the marginal communities of Angke Estuary whilst restore the coastal ecosystems. Keywords:  Adaptive; coastal ecosystem; mangrove; Muara Angke; residential needsAbstrak Jakarta menjadi kota yang paling cepat tenggelam di dunia, khususnya area Jakarta Utara dengan rata-rata permukaan tanah sudah berada lebih dari 1,5 m di bawah permukaan laut. Penelitian menunjukan bahwa di tahun 2050 95% area Jakarta Utara akan berada lebih dari 4m dibawah permukaan laut. Dengan melihat permasalahan tersebut rumah dan mata pencaharian warga Muara Angke, Jakarata Utara sedang dan semakin tenggelam. Selain itu ekosistem pesisir yang merupakan hutan mangrove, rumah untuk banyak jenis flora dan fauna juga terancam tenggelam. Kebutuhan akan bentuk bangunan baru yang dapat mengatasi permasalahan ini secara menyeluruh bukan sementara seperti tanggul-tanggul yang dibangun oleh pemerintah saat ini. Metode perancangan yang digunakan melalui studi litelatur, studi presenden, adaptasi, dan modular menjadi dasar dari  desain bangunan. Strategi desain yang sesuai dengan cara hidup masnyarakat Muara Angke dan adaptif terhadap kenaikan air laut dengan menggunakan teknologi struktur kombinasi kolom teleskopik yang adjustable dan platform apung terbuat dari daur ulang galon plastik menjadikan lingkungan tahan terhadap perubahan iklim. Bangunan dapat menyesuaikan dengan berbagai fase kenaikan air laut yaitu pada saat pasang,surut dan tenggelam. Proyek ini bertujuan memberikan hunian yang adaptif terhadap perubahan iklim serta mengembalikan keseimbangan ekosistem pesisir Muara Angke.  
RUMAH FESYEN BERKELANJUTAN DI BANDUNG DENGAN PENDEKATAN EKOLOGI, SIMBIOSIS DAN METAFORA Tjut Nabilla Zafriana; Rudy Trisno
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12471

Abstract

With the increase in human needs caused by the development of the human population, various phenomena arise. Textiles, as one of the needs of the community that are used as clothing, also continue to increase. The development of the times and trends that are constantly updated, give rise to the phenomenon of fast fashion and consumptive culture which causes the accumulation of fashion waste. The Sustainable Fashion House project in Bandung aims to develop recycled fashion products and also reduce consumptive nature by improving clothes according to current trends by elevating localities that are almost extinct. The method used is the symbiotic method and the metaphor of the scarf with a Sundanese neo-vernacular architectural approach. The conclusion is to accommodate all fashion recycling activities into something of high value. In addition, it also invites the public and the fashion community to accommodate and process used clothes so that they can be resold as well as for themselves. The novelty of this project is to provide a platform for the general public of Bandung to manage various activities related to fashion. Keywords:  Ecology; Fashion; Metaphor; Neo-Vernacular; Symbiosis Abstrak Dengan meningkatnya kebutuhan manusia yang disebabkan dengan perkembangan populasi manusia, muncul berbagai fenomena. Tekstil, sebagai salah satu kebutuhan masyarakat yang digunakan sebagai pakaian juga terus meningkat. Perkembangan zaman dan tren yang terus diperbarui, memunculkan fenomena fast fashion dan budaya konsumtif yang menyebabkan menumpuknya limbah fesyen. Proyek Rumah Fesyen Berkelanjutan di Bandung ini bertujuan untuk mengembangkan hasil fesyen daur ulang dan juga mengurangi sifat konsumtif dengan memerbaiki baju menyesuaikan tren yang saat itu terjadi dengan mengangkat lokalitas yang hampir punah. Metode yang digunakan adalah metode simbiosis dan metafora dari selendang dengan pendekatan arsitektur neo-vernakular Sunda. Kesimpulannya adalah mewadahi segala kegiatan daur ulang fesyen menjadi sesuatu hal yang bernilai tinggi. Selain itu juga mengajak masyarakat dan komunitas fesyen untuk menampung dan mengolah pakaian bekas sehingga dapat dijual kembali maupun untuk dirinya sendiri. Kebaruan proyek ini adalah memberikan wadah untuk masyarakat umum Bandung untuk mengelola berbagai kegiatan yang berhubungan dengan fesyen. 
STUDI KEBERHASILAN PENGELOLAAN OBJEK WISATA BERBASIS COMMUNITY BASED TOURISM (CBT), OBJEK STUDI : PANTAI NGURBLOAT, KABUPATEN MALUKU TENGGARA Qhalfiah Hairun Bandjar; B. Irwan Wipranata; Sylvie Wirawati
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12836

Abstract

One of regions in Indonesia that have natural tourism potential are Eastern Indonesia, where Eastern Indonesia has beautiful natural tourism potential although there is still little development being done, such as Maluku Province. One of the regional income sectors of Maluku Province is the tourism sector because it has potential in the field of tourism, besides that it can be seen from the number of tourists visiting who increase by 10% every year. This shows that Maluku Province has advantages in the tourism sector, especially marine tourism, one of the areas in Maluku Province that has potential is Southeast Maluku Regency with Ngurbloat Beach tourist attraction. Ngurbloat Beach is a tourist attraction by applying the concept of Community Based Tourism (CBT) whose management involves village communities, tourism awareness groups and the management. With CBT-based management, Ngurbloat Beach has received 3 awards, one of which is being the best tourism object in Southeast Maluku Regency. The main purpose of this study was to determine the success factors for managing CBT-based Ngurbloat Beach tourism objects. This research is a descriptive research with qualitative and quantitative approaches. The qualitative approach was carried out by means of field surveys and in-depth interviews with related parties. The quantitative approach was done by having tourists fill out questionnaires at the Ngurbloat Beach tourist attraction. There are five methods of analysis used in this study, namely location analysis, attractiveness analysis, perception and preference analysis, analysis of management based on Community Based Tourism (CBT) and analysis of the success factors of CBT-based management. The results of this research are in the form of factors that influence the success in managing Ngurbloat Beach tourism objects based on Community Based Tourism (CBT).  Keywords:  Community Based Tourism; Ngurbloat beach; Success factors AbstrakSalah satu wilayah di Indonesia yang memiliki potensi wisata alam adalah Indonesia bagian Timur, dimana Indonesia Timur memiliki potensi wisata alam yang indah walaupun masih sedikit pembangunan yang dilakukan, seperti Provinsi Maluku. Salah satu sektor pendapatan daerah Provinsi Maluku adalah sektor pariwisata karena memiliki potensi di bidang pariwisata, selain itu dapat dilihat dari jumlah wisatawan yang meningkat sebesar 10% tiap tahunnya. Hal ini menunjukkan Provinsi Maluku memiliki keunggulan di sektor pariwisata terutama wisata bahari, salah satu daerah di Provinsi Maluku yang memiliki potensi yaitu Kabupaten Maluku Tenggara dengan objek wisata Pantai Ngurbloat. Pantai Ngurbloat merupakan objek wisata dengan menerapkan konsep Community Based Tourism (CBT) yang pengolahannya melibatkan masyarakat desa, kelompok sadar wisata dan pihak pengelola. Dengan pengelolaan berbasis CBT, Pantai Ngurbloat telah mendapatkan 3 penghargaan, salah satunya menjadi wisata terbaik di Kabupaten Maluku Tenggara. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor keberhasilan pengelolaan objek wisata Pantai Ngurbloat yang berbasis CBT.  Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan kombinasi pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kualitatif dilakukan dengan cara survey lapangan dan wawancara mendalam (in-depth interview) dengan pihak terkait sedangkan pendekatan kuantitatif dilakukan dengan pengisian kuesioner oleh wisatawan objek wisata Pantai Ngurbloat. Terdapat lima analisis yang digunakan pada penelitian ini yaitu analisis lokasi, analisis daya tarik, analisis persepsi dan preferensi, analisis pengelolaan berbasis Community Based Tourism (CBT) dan analisis faktor-faktor keberhasilan pengelolaan berbasis CBT. Hasil dari penelitian ini berupa 6 faktor terkait konsep CBT dari 10 faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam pengelolaan objek wisata Pantai Ngurbloat berbasis Community Based Tourism (CBT).
PETERNAKAN SAPI VERTIKAL BERKELANJUTAN Merry Suryani; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12465

Abstract

Global warming is a world issue that threatens the future of the earth. several attempts were made to reduce damage to nature such as global warming. However, many people are not aware that global warming is caused by our daily activities and even global warming is also caused by the food we eat everyday such as beef. As much as 26% of total greenhouse gases is produced by the agricultural sector and half comes from cattle. The greenhouse gas produced by cows is in the form of body gas, methane, which is 21 times worse than carbon dioxide. Even the greenhouse gases produced by cows are as much as all the vehicles on earth put together. Behind the huge impact produced by cows, the need for protein is crucial for human survival and even becomes a culture. So that this source of animal protein cannot be eliminated just like that because it will have a huge impact from a health to an economic point of view. From this issue, I propose a project which he thinks can help solve the global warming issue without having to eliminate the protein source by capturing body gas produced by cows, processing cow dung and processing it into useful goods and building systems that are sustainable and independent. Keywords:  culture; global warming; industry; protein; sustainableAbstrak Pemanasan global sekarang menjadi isu dunia yang mengancam masa depan bumi. Beberapa upaya dilakukan untuk mengurangi kerusakan alam seperti pemanasan global. Namun banyak yang tidak sadar bahwa pemanasan global disebabkan oleh kegiatan sehari hari yang kita lakukan dan bahkan pemanasan global juga disebabkan oleh makanan yang kita makan sehari-hari terutama daging sapi. Sebanyak 26% dari total gas rumah kaca dihasilkan oleh sektor agrikultur dan setengahnya berasal dari ternak sapi. Gas rumah kaca yang dihasilkan oleh sapi ini berupa gas tubuh yaitu gas metana yang lebih berpotensi lebih buruk 21 kali lipat dibandingkan dengan karbondioksida. Bahkan gas rumah kaca yang dihasilkan sapi sama banyaknya dengan segala kendaraan di muka bumi dijadikan satu. Tetapi dibalik dampak besar yang dihasilkan oleh sapi, kebutuhan akan protein menjadi hal yang krusial dalam keberlangsungan hidup manusia dan bahkan menjadi budaya. Sehingga sumber protein hewani ini tidak dapat kita musnahkan begitu saja karna akan berdampak sangat besar dari segi kesehatan hingga ekonomi. Dari isu tersebut maka diajukan proyek yang dikiranya dapat membantu untuk menyelesaikan isu global warming tanpa harus menghilangkan sumber protein tersebut dengan cara menangkap gas tubuh yang dihasilkan sapi, mengolah kotoran yang dihasilkan sapi dan memprosesnya menjadi barang yang berguna serta sistem bangunan yang berkelanjutan dan mandiri.  
FASILITAS PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN DAN PETERNAKAN Mochammad Tegar Alexander
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12469

Abstract

Indonesia is an agrarian country, where most of the population lives in agriculture. Even until now, most of Indonesia's population uses nature to support their needs and one of them is by depending on the agricultural sector. Many agricultural lands can usually be found in peri-urban areas, one of which will be discussed here is Karawang Regency, one of the areas in peri-urban areas with a very high agricultural land area. Karawang has had a crisis in its agricultural sector in recent years, the main reason being land usage change and flood that caused their production value and number to decrease drastically. An architectural project cannot solve the flood problem, or solve the shortage of agricultural land in one whole city. But we can still help even if it is only by being an example for the surrounding community, that there is always a way out, so that agricultural production can still be optimal even though agricultural land is reduced. In this journal paper, we will discuss how to solve the crisis problem that occurred in the Karawang area, by bringing up an idea in the form of an architectural building that can be a way out of solving this agricultural problem.Keywords:  agrarian; Flood; Karawang Farm AbstrakIndonesia adalah negara agraris, dimana sebagian besar penduduknya bermata pencaharian di bidang pertanian. hingga kini, mayoritas penduduk Indonesia memanfaatkan alam untuk menunjang kebutuhan hidupnya dan salah satunya dengan menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Banyaknya lahan pertanian biasanya dapat ditemui di daerah peri kota, salah satunya yang akan dibahas disini yaitu Kabupaten Karawang, salah satu daerah di peri kota dengan luas lahan pertanian yang sangat tinggi. Karawang telah mengalami krisis pada sektor pertaniannya beberapa tahun ini, penyebab utamanya yaitu karena pengalihan lahan dan musibah banjir yang menyebabkan menurunnya hasil produksi pertanian mereka. Satu proyek arsitektur memang tidak bisa menyelesaikan permasalahan banjir, ataupun menyelesaikan permasalahan berkurangnya lahan pertanian yang ada pada satu kota, namun kita masih tetap bisa membantu walau hanya dengan cara menjadi contoh bagi masyarakat sekitar, bahwa ada jalan keluar dan cara lain agar hasil produksi pertanian masih bisa optimal walaupun lahan pertanian berkurang. Dalam tulisan jurnal ini, akan dibahas bagaimana arsitektur bisa berkontribusi menyelesaikan permasalahan krisis pertanian yang terjadi di daerah Karawang, dengan memunculkan sebuah gagasan dalam bentuk bangunan arsitektur yang dapat menjadi salah satu jalan keluar penyelesaian masalah pertanian ini.
SEBUAH RUANG UNTUK KOMUNITAS SAMPAH PLASTIK DI MURIA RAYA, JAKARTA SELATAN Audrey Audrey; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12432

Abstract

Sampah plastik yang pengolahannya belum maksimal menjadi masalah ekologis yang cukup berat karena unsur plastik sendiri yang lama terurai. Dari masalah tersebut, didapatkan ide untuk melakukan sebuah kolaborasi dengan komunitas sampah plastik untuk melampaui ekologi menuju arsitektur untuk kebaikan dan kehidupan. Kolaborasi ini diharapkan mampu mengubah persepsi masyarakat akan sampah plastik, sehingga dapat memotivasi gerakan daur ulang sampah plastik. Kolaborasi komunitas ini terdiri dari komunitas pengumpul, komunitas kreatif, dan komunitas penduli lingkungan, dengan bentuk pengumpulan bahan baku dalam material sampah yang siap diolah menjadi produk furniture/kerajinan oleh komunitas kreatif, serta tambahan untuk mendukung gerakan peduli lingkungan. Metode yang digunakan pada proyek ini adalah kontekstual, dengan menyelaraskan nilai-nilai karakteristik terhadap lingkungan sekitar terutama pada isu yang diangkat, yaitu sampah plastik terhadap program dan tempat; bentuk bangunan; bahan dan sistem bangunan.  Konsep yang diterapkan adalah upcycle, di mana material yang digunakan adalah material daur ulang sehingga para penggiat kreatif dapat berkumpul dan bekerja sama untuk menghasilkan produk. Proyek Ruang Kolaborasi Komunitas Sampah Plastik menjadi wadah bagi antar silang komunitas untuk dapat mengurangi jumlah sampah plastik dengan prinsip melampaui ekologi, mengubah terapan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) menjadi 4R + 1U (Reduce, Reuse, Rethink, Upcycle, Replace). Kelompok kegiatan daur ulang dibagi menjadi 3 ruang berdasarkan kebutuhan bagi masing-masing penggiat kreatif (furniture, seniman, dan penjahit) serta diharapkan proyek ini mampu menyadarkan kembali masyarakat terkait pemanfaat sampah plastik yang bisa menjadi bagian kehidupan.Kata kunci: Sampah; Plastik; Komunitas; Upcycle; Recycle
PENDEKATAN PERILAKU TRENGGILING SUNDA DALAM PERANCANGAN PUSAT KONSERVASI Nur Afifah Khairunnisa; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12449

Abstract

Indonesia is a country with the second highest mega-biodiversity in the world. However, it is also known as the country that has the largest list of critically endangered-protected animals based on the International Union for Conservation of Nature (IUCN) category. This is due to the lack of protection and lack of public knowledge and awareness. The relationship between living organisms is, as a matter of fact very important in the ecosystem. Thus, principles or ways of thinking are needed in the attempts of preserving natural resources to ensure a sustainable life, which are called Beyond Ecology. At the time being, several animals in Indonesia have reached the brink of extinction, one of them being the Sunda pangolin (Manis Javanica), whose population has decreased up to 80% in the last 21 years due to poaching and illegal trading. One of the efforts of preservation is to design a conservation center combined with educational and recreational programs, with the aim of protecting, restoring, and maintaining the safety of the Sunda Pangolin as well as increasing the sense of care, public awareness and knowledge of the community on the importance of biodiversity in life. By using the analogy method, it is necessary to analyze the behavior and characteristics of the Sunda pangolin in the design concept of the conservation center to produce a design that is well-suited to the needs of the Sunda pangolin and the Indonesian people. Keywords:  conservation; education; ecology; recreation; sunda pangolinAbstrakIndonesia merupakan negara megabiodiversitas peringkat kedua paling tinggi di dunia. Namun, dikenal juga sebagai negara yang memiliki daftar terbanyak mengenai satwa lindung yang terancam punah berdasarkan kategori International Union for Conservation of Nature (IUCN). Hal ini dikarenakan kurangnya perlindungan, lemahnya peraturan, dan minimnya wawasan serta kesadaran masyarakat. Padahal, relasi antar organisme hidup sangat penting dalam ekosistem. Sehingga, diperlukannya prinsip atau pemikiran dalam mengupayakan terpeliharanya sumber daya alam yang disebut Beyond Ecology untuk menjamin kehidupan yang berkelanjutan. Kini, beberapa hewan di Indonesia telah mencapai ambang kepunahan, salah satunya adalah trenggiling sunda (Manis Javanica) yang populasinya menurun hingga 80% dalam kurun waktu 21 tahun terakhir dikarenakan perburuan liar dan perdagangan ilegal. Salah satu upaya pelestariannya adalah melakukan perancangan konservasi yang digabung dengan program edukasi dan rekreasi, dengan tujuan melindungi, memulihkan, dan melestarikan keberadaan trenggiling sunda sekaligus meningkatkan rasa kepedulian, kesadaran dan wawasan masyarakat akan pentingnya pelestarian keanekaragaman hayati dalam kehidupan. Dengan menggunakan metode analogi, diperlukannya analisis pendekatan perilaku dan karakteristik trenggiling sunda dalam konsep perancangan pusat konservasi sehingga menghasilkan perancangan yang sesuai dengan kebutuhan trenggiling sunda dan masyarakat Indonesia.

Page 56 of 134 | Total Record : 1332