cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
Sinema Terbuka Sebagai Ruang Ketiga di Jakarta Tramilia Salsabila Utami; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8579

Abstract

Cinema in Jakarta generally located in a shopping mall in Jakarta. Cinema nowadays becomes a destination for people but not yet become a third place. The lack of third place in Jakarta that can provide a place for gathering, as a meeting point, and entertainment makes Jakarta residents used commercial building as a third place. Looking at the design and program a cinema that can meet the conditions and characteristics of a third place by looking at the phenomenon cinema in Jakarta. Open cinema takes layar tancap concept or "misbar" that have been established in Indonesia. The purpose of layar tancap is to give an entertainment in areas that are difficult to reach, apparently can be applied in the city. Under the discussion, a cinema should be able to become the third place so that makes the visitor feel comfortable, with the main activity is watching a movie. Open cinema is expected to become a third place that can provide entertainment watching a movie in Jakarta without having to come to a cinema in a shopping center. Cinema that can become a third place in Jakarta. Giving a cinema with a different atmosphere, trying to give space for people to interact while providing entertainment. Keywords: Entertainment; Open Cinema; Third place AbstrakBioskop di Jakarta umunya berada di dalam pusat perbelanjaan besar di Jakarta. Bioskop saat ini menjadi tujuan namun belum menjadi sebuah third place. Minimnya third place di Kota Jakarta yang dapat memberikan wadah untuk berkumpul, titik temu, dan menyediakan sebuah hiburan membuat warga Jakarta menjadikan bangunan komersil sebuah third place. Bagaimana desain dan program sebuah bioskop yang dapat memenuhi syarat dan ketentuan sebuah third place dengan melihat fenomena bioskop di Jakarta saat ini. Open cinema atau sinema terbuka mengambil konsep layar tancap atau misbar yang dari dulu sudah ada di Indonesia. Layar tancap yang tujuan utamanya adalah untuk memberikan hiburan di daerah yang sulit dijangkau ternyata dapat diterapkan di kota besar. Dalam pembahasan sebuah bioskop seharusnya dapat menjadi ruang ketiga sehingga dapat membuat penggunanya merasa nyaman, dengan memberikan aktivitas utama menonton film. Open Cinema diharapkan dapat menjadi third place yang dapat menyediakan hiburan menonton di Jakarta tanpa harus datang ke bioskop di pusat perbelanjaan kota seperti bioskop saat ini. Open Cinema dapat menjadi sebuah third place di kota Jakarta, yang memberikan hiburan menonton dengan suasana yang berbeda, berusaha memberikan ruang hiburan dan interaksi bagi masyarakat.
GALERI SENI INTERAKTIF Bianca Marvella; Andi Surya Kurnia
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4421

Abstract

Millennials are the generation that lives among advance technology. The use of digital technology is inseparable from the millennial generation. This claim are proven by how technology sink in a lot aspects of life, social aspect as one of them. Today, with digital technology, social media becomes a tool to communicate that can connect people without the limitation of time and place. Millennials, as a generation who use digital technology the most today, open themselves up by showing moments, experiences, and pleasures through art. As a form of expressing oneself, art is no longer limited to a collection of sculptures, or painting, but rather to an aesthetic moments that they can share on social media in the form of photos or videos. In Indonesia, most museums and art galleries only accommodate exhibition spaces that are limited to static object (immovable), even though they are supposedly accommodate dynamic art objects that can be used interactively with visitor galleries. Therefore, a space that can accommodate interactive art objects in the digital age is needed. By using design research methods, carried out on space through observation and exploration, the Interactive Art Gallery not only provides relevant expression space for millennial generations, but also supports direct conversion between communities through art. AbstrakGenerasi milenial merupakan generasi yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang menjadikan mereka tech savvy (gemar teknologi). Pemakaian teknologi digital sudah sangat lekat dengan generasi milenial. Hal ini dibuktikannya dengan masuknya teknologi dalam aspek-aspek kehidupan, salah satunya adalah aspek sosial. Hari ini, dengan kecanggihan teknologi digital, sosial media menjadi sebuah perangkat interaksi yang dapat mengkoneksikan orang-orang tanpa batasan waktu dan tempat. Milenial, sebagai generasi pengguna teknologi digital terbanyak saat ini, mengekspresikan diri mereka dengan cara menunjukan momen, pengalaman, dan kesukaan, salah satunya lewat seni. Sebagai wujud ekspresi diri, seni tidak lagi terbatas pada koleksi patung, atau lukisan, tetapi lebih kepada momen-momen estetik yang dapat mereka bagikan di sosial media dalam bentuk foto maupun video. Di Indonesia sendiri, kebanyakan museum dan galeri seni hanya mewadahi ruang pamer yang terbatas pada objek-objek seni statis (tidak bergerak) padahal seharusnya mulai berkembang untuk mewadahi objek seni dinamis yang dapat berinteraksi langsung dengan pengunjung galeri. Oleh karena itu, dibutuhkannya sebuah ruang yang dapat mewadahi objek seni interaktif di era digital. Dengan menggunakan metode design research yang melakukan pendekatan terhadap ruang lewat observasi dan eksplorasi perilaku, Galeri Seni Interaktif dirancang dengan tujuan tidak hanya memberikan ruang ekspresi yang relevan untuk generasi milenial, tapi juga mendukung terjadinya interaksi langsung antar masyarakat sekitar melalui seni. 
STUDI PENGGUNAAN TERBAIK DAN TERTINGGI PADA PERUNTUKAN KOMERSIAL DI JALAN MUCHTAR RAYA SAWANGAN KOTA DEPOK Fransiskus Xaverius Kennedy; Priyendiswara Agustina Bela
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8866

Abstract

A land on Jalan Muchtar Raya Depok is an empty land which has a designation as a commercial land. The area of 17,170 m2 is located in the southern part of Depok, precisely in Sawangan District, Sawangan Baru Village. Unfortunately, the land is still in the form of vacant land, whereas the location of the land is near the secondary collector road and has a high opportunity to be developed further due to the development of trends that lead to Sawangan. So that allotment is needed for the appropriate type of property to obtain the highest and best allotment. To find out the highest and best allotment of commercial land on Jalan Muchtar Raya, a Highest and Best Use (HBU) analysis was performed on the land. HBU analysis is the use of a land to get the maximum designation so that it gets the best use with the aspects analyzed including the site and site aspects, legal aspects, market aspects, financial aspects. The results of this study found that retail with a community scale is the highest and best alternative to be established on land in Jalan Muchtar Raya Depok with an NPV value (Rp.41,485,881,445) which means the project is feasible because it is greater than> 0 then an IRR value of 15 , 2% with an interest rate of 12% which means that if the IRR> project interest rate can be implemented, then the profitability index is obtained at 1.70 which means that the return for this property product is 1.70 greater than the investment made. Keywords:  commercial land; commercial property; highest and best use AbstrakSuatu lahan di Jalan Muchtar Raya Depok merupakan lahan kosong yang mempunyai peruntukan sebagai lahan komersial. Lahan seluas 17.170 m2 tersebut terletak pada kawasan selatan Depok tepatnya di Kecamatan Sawangan, Kelurahan Sawangan Baru. Sayangnya lahan tersebut masih berupa lahan kosong, padahal letak lahan yang berada di dekat jalan kolektor sekunder dan mempunyai peluang tinggi untuk dikembangkan lebih lanjut dikarenakan dengan adanya perkembangan tren yang mengarah ke Sawangan. Sehingga diperlukan peruntukan untuk jenis properti yang sesuai untuk memperoleh peruntukan yang tertinggi dan terbaik. Untuk mengetahui peruntukan tertinggi dan terbaik pada lahan komersial di Jalan Muchtar Raya dilakukan analisis Highest and Best Use (HBU) pada lahan tersebut. Analisa HBU adalah penggunaan dari suatu lahan untuk mendapatkan peruntukan yang maksimum sehingga mendapatkan penggunaan terbaik dengan aspek-aspek yang dianalisa diantaranya adalah aspek lokasi dan tapak, aspek legal, aspek pasar, aspek finansial. Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa Retail dengan skala community merupakan alternatif tertinggi dan terbaik untuk didirikan pada lahan di Jalan Muchtar Raya Depok ini dengan nilai NPV (Rp41.485.881.445) yang berarti proyek layak dikarenakan lebih besar dari >0 kemudian nilai IRR yakni 15,2 % dengan tingkat suku bunga 12% yang berarti jika IRR > suku bunga proyek dapat dilaksanakan, kemudian didapatkan profitability index di angka 1,70 yang artinya pengembalian untuk produk properti ini 1,70 lebih besar dari investment yang dilakukan.
TEMPAT PETUALANGAN KULINER DI STASIUN PESING Evan Hansabian; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6832

Abstract

A thirdplace is very important on our daily basis, where the firstplace is a dwelling we live in, the secondplace is where we work to earn a living, and what about the thirdplace? This is what will be brought up by an architect of how do we scheme a thirdplace for others to create a good quality. With a phenomenological approach, many things must be considered in detail because the number of places to eat at Pesing Station are lack, unclean, and unintegrated, that made the visitors less enjoying this area. Unconsciously in it has a memory of historical value about local culinary that has faded in Jakarta and completed by some supportive local activities such as outdoor theater, pedestrian mall, local typical cafes, and local desserts, to raise the culture and habits of people in Indonesia. Since the location is close to the train station, co-working space become an additional program in this culinary place, where people who wants to work do not need to rent an office building. With a few simple eating places, they are quite convinient to find food and other entertainment facilities. There are online motorcycle taxis operating in front of Ibis hotel but hamper the traffic lanes and cause traffic jams, so the foodstreet will be a resting place for station visitors, and both online and offline motorcycle taxis to avoid disrupting the traffic. The presence of this food adventure place in Pesing Station is expected to improve the quality of social life in the environment around us, minimize the traffic congestion in front of the station, adding some knowledge about local foods, and be a thirdplace in Grogol Petamburan area. AbstrakTempat ketiga itu sangat penting bagi kehidupan manusia, dimana tempat pertama adalah rumah yang kita tinggali sehari-hari, tempat kedua adalah dimana kita bekerja untuk mendapatkan penghasilan, bagaimana dengan tempat ketiga? Ini yang akan diangkat oleh seorang arsitek, bagaimana cara merancang sebuah tempat ketiga bagi orang-orang sekitar agar bisa menciptakan kualitas yang baik. Dengan pendekatan fenomenologi, banyak hal yang harus diperhatikan secara detail, karena tempat makan di stasiun pesing jumlahnya sangat kurang, tidak bersih, dan tidak terintegrasi, sehingga membuat pengunjung sekitar kurang menikmati daerah tersebut. Secara tidak sadar di dalamnya terdapat sebuah memori pemberi nilai sejarah tentang kuliner nusantara yang sudah memudar di Jakarta dan di lengkapi dengan aktivitas-aktivitas lokal pendukung lainya seperti theater outdoor, pedestrianmall, cafe khas nusantara, dan makanan penutup nusantara, kerena ingin mengangkat budaya dan kebiasaan masyarakat di indonesia. Karena lokasi yang dekat dengan stasiun kereta api, maka co-working space menjadi program tambahan di tempat kuliner ini, dimana orang yang ingin bekerja tidak perlu menyewa gedung perkantoran. dengan adanya beberapa tempat makan yang sederhana, mereka cukup mudah untuk mencari makan dan sarana hiburan lainya. Disana terdapat ojek online yang beroperasi di depan ibis hotel tetapi cukup menghambat jalur lalu lintas dan menimbulkan kemacetan, maka foodstreet menjadi tempat peristirahatan bagi pengunjung stasiun, ojek online, dan ojek pengkolan agar tidak mengganggu jalur lalu lintas. Dengan hadirnya tempat petualangan kuliner di stasiun Pesing ini diharapkan dapat meningkatkan interaksi sosial di lingkungan sehari-hari, dapat meminimalisir kemacetan yang ada di depan stasiun, menambah wawasan tentang kuliner nusantara dan menjadi tempat ketiga bagi wilayah Grogol petamburan.
PENERAPAN METODE ARSITEKTUR NARATIF SEBAGAI STRATEGI BERADAPTASI BERHUNI DI MASA DEPAN DI DESA SINGOSARI Vania Veeska; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10580

Abstract

Without realizing it, the world is currently undergoing massive shifts, from one civilization to the next which we call shifting. A movement that can determine whether we can survive or not, change, or become extinct. Linked with this phenomenon we have also seen urban bias, which is a situation where urbanization of rural’s youth to big cities is inevitable when cities are considered to provide more hope and job opportunities. As a result? Villages are increasingly short of young people. “Rise of Rural: Incubator for Innovation” is a project that re-imagines the youth of Singosari Village as incubators because the city has lost its power to provide a better life for the community. The village, which is always in second place, is now the main agent of change and innovation that continues to learn, unlearn, and re-learn to adapt through transformation patterns (incubators) based on local and digital mindsets (adjusted, not only referring to revolution 4.0). Through narrative as an architectural methodology which is inspired by the values in Doraemon’s story. How Nobita-together with his friends-embarks for a journey, during the journey they learn from each other and collaborate through Doraemons’ gadgets (technology), our world in the future is a world of collaboration, not competition.Keywords:  collaboration; rural; shifting; technology; youthAbstrak Tanpa kita sadari saat ini dunia tengah mengalami perubahan besar-besaran, dari satu peradaban ke peradaban berikutnya yang kita sebut sebagai shifting. Suatu perpindahan yang dapat menentukan apakah kita dapat bertahan atau tidak, berubah atau punah. Berkaitan dengan fenomena ini kita juga sudah menyaksikan urban bias, yaitu keadaan dimana urbanisasi kaum muda desa ke kota besar tidak terelakkan ketika kota dianggap menyediakan harapan lebih dan kesempatan kerja. Akibatnya? Desa semakin kekurangan kaum muda. Proyek “Rise of Rural: Incubator for Innovation” membayangkan kembali kaum muda di Desa Singosari sebagai inkubator desa karena kota sudah kehilangan kekuatannya untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat. Desa yang selalu di nomor duakan kini menjadi aktor utama perubahan dan inovasi yang terus learn, unlearn, dan re-learn untuk beradaptasi melalui pola transformasi (inkubator) berbasis pola pikir lokal dan digital (disesuaikan, tidak melulu mengacu pada revolusi 4.0). Melalui pendekatan arsitektur naratif yang terinspirasi dari nilai-nilai di dalam cerita doraemon, bagaimana Nobita dan kawan-kawan saling belajar dan berkolaborasi melalui gadget (teknologi) dari Doraemon. Menggunakan drawing as hypothesis-menampilkan beberapa gambar sebagai mimpi dan ide desain- sebagai alat komunikasi dalam penyusunan ide, konsep, menuju gambar kerja. Dari berbagai macam ide desain kemudian di kristalisasi menjadi 4 zona utama, yang di dalam ke-empat zona tersebut terdapat program pendukung aktivitas yang bersangkutan.
SARANA REKREASI OLAHRAGA DAN HIBURAN Stephen Clive; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.4013

Abstract

Sejalan dengan program pemerintah dalam usaha meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat dengan program peremajaan lingkungan dan program pembuatan prasarana baru, pengembangan akan fasilitas rekreasi dan olah raga bersama-sama turut menjadi aspek  utama dalam meningkatkan kualitas hidup manusianya. Selain itu, dalam membenahi wajah dan citra kota Jakarta sebagai Daerah Tujuan Wisata (DTW), usaha peningkatan dan pengembangan fasilitas rekreasi dan olahraga mendapat perhatian yang cukup serius. Dalam pembahasan ini, wilayah yang menjadi perhatian adalah wisata Jakarta Utara, dimana wilayah tersebut merupakan bagian dari pengembangan area Ancol, maka pengembangan fasilitas baru dapat sebagai penunjang kegiatan tersebut. Lingkup pembahasannya adalah mengenai bangunan pusat rekreasi tertutup (dalam gedung). Tujuan dan manfaat dari proyek ini, adalah menciptakan wujud ruang dalam kota yang bebas dari kesibukkan dan ketegangan kota, dan juga mampu berfungsi sebagai kegiatan pendukung. Hal ini mengingat pentingnya integrasi antar fungsi – fungsi kegiatan yang ada dalam suatu kota. Metode penulisan yang dipakai dalam pembahasan ini adalah deduksi, sedangkan metode pengumpulan datanya diperoleh dari survey lapangan, yang mencakup observasi di lapangan dan wawancara, serta studi literatur sebagai masukkan maupun studi perbandingan. Hasil dari penelitian ini sendiri menghasilkan suatu bangunan arsitektur dengan programnya yang meliputi olahraga dan hiburan. 
PUSAT PENGEMBANGAN KEPERCAYAAN DIRI Dessy Andiwijaya; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4487

Abstract

Self-confidence is a very important aspect of our lives. Everyone is different from one another, each has a unique character attached to him. From that difference, it can be seen that there are people who are confident, but there are also people who lack confidence. Because with us lacking in confidence, we will miss the opportunities that exist in this life, such as work. Self-confidence also makes a person nervous, anxious, difficult to interact socially and unable to find self-concept. From the above, as if self-confidence is the root of life because it determines the thoughts and activities that we will do everyday. Self-confidence is influenced by internal factors and external factors. External factors are family environment, friend environment and work. A person's confidence and character influences all aspects of a person's life, such as finance, work, social life and others. Internal factors of lack of confidence are self-concept, self-esteem, and life experience. Confidence (confidence) determines how a person will judge and respect him personally. Self-confidence is a belief in the ability of yourself to achieve something and can accept self-deficiencies so that these deficiencies become a strength in us. Whereas according to Hurlocks, Confidence (self-confidence) is an attitude in someone who can / can accept reality, develop self-awareness, think positively, have independence, & have the ability to have everything that is desired. To develop self-confidence, we need to improve self concept, ability and social interaction. AbstrakKepercayaan diri merupakan aspek yang sangat penting dalam kehidupan kita. Setiap orang berbeda satu dan lainnya, masing-masing memiliki karakter yang khas melekat pada dirinya. Dari perbedaan itulah, dapat diketahui bahwa terdapat orang yang percaya diri, namun ada pula orang yang kurang percaya diri. Karena dengan kita kurang percaya diri, kita akan melewatkan kesempatan-kesempatan yang ada dalam kehidupan ini, misalnya pekerjaan. Kepercayaan diri juga membuat seseorang bersikap gugup, cemas, sulit untuk berinteraksi sosial dan tidak dapat untuk menemukan konsep diri. Dari hal di atas, seakan-akan kepercayaan diri merupakan akar dari kehidupan karena hal ini menentukan pikiran dan aktivitas yang akan kita lakukan sehari-hari. Kepercayaan diri diperngaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor eksternal yaitu  lingkungan keluarga, lingkungan teman dan pekerjaan. Kepercayaan diri dan karakter seseorang mempengaruhi segala aspek kehidupan seseorang, misalnya finansial, pekerjaan, kehidupan sosial dan lain-lain. Faktor internal dari kurangnya kepercayaan diri yaitu konsep diri, harga diri, dan pengalaman hidup. Rasa percaya diri(confidence) menentukan bagaimana seseorang akan menilai dan menghargai dirinya pribadi. Kepercayaan diri merupakan keyakinan akan kemampuan diri sendiri untuk mencapai suatu hal dan dapat menerima kekurangan diri sehingga menjadikan kekurangan tersebut menjadi kekuatan dalam diri kita. Sedangkan menurut Hurlocks, Confidence(kepercayaan diri) merupakan sikap pada diri seseorang yang dapat/ bisa menerima kenyataan, mengembangkan kesadaran diri, berpikir positif, memiliki kemandirian,& mempunyai kemampuan untuk memiliki segala sesuatu yang diinginkan.Untuk mengembangkan kepercayaan diri, kita perlu meningkatkan meningkatkan konsep diri, kemampuan dan interaksi sosial.  
RUANG KOMUNITAS TIONGHOA DI GLODOK Leonardo Leonardo; Dewi Ratnaningrum
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8564

Abstract

The development of modern urban society tends to have an individual nature and is more aloof to its personal space, where humans should be created as social beings who need interaction and socialization with people around them. Modern times with their technologies make society more selfish and as if they do not need others. To meet social needs in the current modern era, it takes a social container that can accommodate the activities of the surrounding community. The community can meet with each other, socialize and also interact through these social media platforms. Glodok is known as a Chinatown in Jakarta, the majority of the population are Chinese. The Chinese Community Room in Glodok is present as the third room or "The Third Place", where the third place as a place for people to gather, interact and move with each other. The project is intended as a forum for local people and migrants to interact together, and create an atmosphere like the old days full of fun, comfort, and free to be visited by anyone, such as entertainment venues, games, dance performances and dance. The idea of the program planned in this project will be a place to be able to enjoy performances and recreation for the local community and its surroundings with programs in it such as performance areas, parks, food culinary, games, and art galleries. This project design method takes contextuality around the site and takes local Chinese elements into account. Keywords:  community; interaction; social; space AbstrakPerkembangan masyarakat kota modern cenderung memiliki sifat yang individual dan lebih menyendiri terhadap personal space-nya, dimana seharusnya manusia diciptakan sebagai makhluk sosial yang membutuhkan interaksi dan sosialisasi dengan orang disekitarnya. Zaman modern dengan teknologi-teknologinya membuat masyarakat lebih mementingkan diri mereka sendiri dan seakan tidak membutuhkan orang lain. Untuk memenuhi kebutuhan sosial di era modern saat ini, dibutuhkan wadah sosial yang dapat menampung aktivitas-aktivitas masyarakat sekitar. Masyarakat dapat saling bertemu, bersosialisasi dan juga berinteraksi melalui media wadah sosial tersebut. Glodok dikenal sebagai pecinan di Jakarta, Mayoritas penduduk nya adalah kaum Tionghoa. Ruang Komunitas Tionghoa di Glodok hadir sebagai ruang ketiga atau “The Third Place”, dimana tempat third place sebagai tempat untuk masyarakat dapat berkumpul, berinteraksi dan beraktivitas dengan sesamanya. Proyek ditujukan sebagai wadah bagi masyarakat setempat maupun pendatang untuk berinteraksi bersama, dan membangkitkan suasana seperti dahulu kala yang penuh dengan rasa senang, nyaman, dan bebas untuk dikunjungi oleh siapapun, seperti tempat hiburan, permainan, pertunjukan barongsai dan tari-tarian. Ide dari program yang direncanakan dalam proyek ini akan menjadi tempat untuk dapat menikmati pertunjukan dan rekreasi bagi masyarakat setempat dan sekitarnya dengan program yang di dalamnya seperti area pertunjukan, taman, kuliner makanan, permainan, dan galeri seni. Metode perancangan proyek ini mengambil kontekstual pada sekitar tapak dan mengambil unsur-unsur Tionghoa kawasan setempat.
PENATAAN KAWASAN SEGITIGA JATINEGARA SEBAGAI IKON WISATA JAKARTA TIMUR James Jonathan; Liong Ju Tjung; Bambang Delianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4593

Abstract

The Jatinegara Triangle Region is located in the Administrative City of East Jakarta, which is known to have a thick nuance of history and trade as the economic lifeblood of society since the colonial era in Indonesia. As the center of trade and services, the Jatinegara Triangle is a unique shopping area, because of the traditional trade center or Jatinegara Regional Market (formerly known as Pasar Meester), and Agate Stone Market and Permata Rawa Bening located opposite Jatinegara Station. Agate Stone Market is so unique because this market sells various kinds of Agate Stone, gems and heirlooms not only known in Jakarta, but also known to foreign countries. In Perda No. 1 of 2014 concerning Detail Spatial Planning in Jatinegara Subdistrict, it is said that there is a tourism area development with the development and improvement of urban tourism functions and the development of the Betawi Cultural Center in Jatinegara Region. However, there are still some problems in the Jatinegara Triangle area such as street vendors which is on the sidewalk which results in the inconvenience of pedestrians and causes the death of several shops and shopping centers in the region, still lack of green open space, many old, untreated buildings that have historical value, and lack of parking spaces resulting in illegal parking on the edge Street. Therefore, some arrangements will be made in the Jatinegara Triangle Area such as improving the function of the area, revitalizing old buildings, adding parking lots, adding regional street furniture and increasing regional accessibility, this is done to become an area with the concept of Shopping Street with special characteristics conservation building as East Jakarta Tourism Icon as a result of this arrangement. AbstrakKawasan Segitiga Jatinegara ini terletak di Kota Administratif Jakarta Timur yang dikenal memiliki nuansa kental sejarah dan perdagangan sebagai urat nadi ekonomi masyarakat sejak era kolonial di Indonesia. Sebagai pusat perdagangan dan jasa, Segitiga Jatinegara ini merupakan kawasan pembelanjaan yang unik, karena adanya pusat perdagangan tradisional atau pasar Regional Jatinegara (dahulu dikenal sebagai Pasar Meester), dan Pasar Batu Akik dan Permata Rawa Bening yang berlokasi di seberang Stasiun Jatinegara. Pasar Batu Akik sedemikian unik karena pasar ini menjual berbagai macam batu akik, permata dan barang-barang pusaka tidak hanya dikenal di Jakarta, tetapi juga dikenal hingga Mancanegara. Pada Perda no 1 Tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Detail Kecamatan Jatinegara dikatakan bahwa terdapat pengembangan kawasan pariwisata dengan pengembangan dan perbaikan fungsi kawasan wisata perkotaan dan pengembangan Pusat Kebudayaan Betawi di Kawasan Jatinegara  Namun, masih terdapat beberapa permasalahan yang terjadi di kawasan Segitiga Jatinegara seperti terdapat PKL yang berada di atas trotoar yang mengakibatikan ketidaknyaman para pejalan kaki serta menyebabkan matinya beberapa pertokoan dan pusat perbelanjaan di kawasan ini, masih kurangnya ruang terbuka hijau, banyak bangunan tua yang tidak terawat yang memiliki nilai sejarah, dan kurangnya lahan parkir yang mengakibatkan parkir liar di pinggir jalan. Maka itu, akan dilakukan beberapa penataan pada Kawasan Segitiga Jatinegara seperti meningkatkan fungsi kawasan, merevitalisasi bangunan-bangunan tua, menambah lahan parkir, menambah furniture street kawasan dan meningkatkan aksesibilitas kawasan, hal ini dilakukan agar menjadi kawasan dengan konsep Shopping Street yang memiliki ciri Khas dengan bangunan konservasi sebagai Ikon Wisata Jakarta Timur sebagai hasil dari penataan ini.
RUANG PENYEMBUHAN UNTUK EFEK FISIK DARI KECANDUAN INTERNET Clarin Sukri; J.M. Joko Priyono Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4522

Abstract

The existence of the internet today changes individual behavior in many aspects that not only have a positive impact but also have a negative impact on its users. The rise of internet abuse that occurs causes syndromes such as internet addiction and diseases that attack the individual's physique. Therefore a container for dealing with the physical effects of internet addiction in millennial adolescents becomes necessary. Container which also provides psychological support to individuals. The site is in the area with the most millennial growth and also with consideration of function utilization, the chosen site is Semanan, Kalideres, West Jakarta. The design method used is descriptive qualitative and experimental methods in designing where experiments are conducted by incorporating aspects of suitable architectural design in the project and synthesis analysis to find out the best architectural design strategies that can optimize the program of healing room facilities for victims of internet addiction. Thus the design recommendations chosen were the application of healing gardens and architectural healing to the design of "healing rooms for the physical effects of internet addiction" which would be linked to the physical healing process not only for healing for internet addict patients but also maintaining the comfort of all individuals in in it from nurses who work to the management staff. AbstrakKeberadaan internet saat ini mengubah prilaku individu dalam banyak aspek yang tidak hanya memberi dampak positif tapi juga menimbulkan dampak negatif bagi para penggunanya. Maraknya penyalahgunaan internet yang terjadi menimbulkan sindrom-sindrom seperti kecanduan internet dan penyakit-penyakit yang menyerang fisik individu tersebut. Maka dari itu sebuah wadah untuk mengatasi efek fisik dari kecanduan internet pada remaja milenial ini menjadi perlu. Wadah yang juga memberi dukungan secara psikologi pada individu. Tapak berada di daerah dengan tumbuh kembang milenial terbanyak juga dengan pertimbangan pemanfaatan fungsi maka tapak terpilih adalah kawasan Semanan, Kalideres, Jakarta Barat. Metode perancangan yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dan metode eksperimental dalam mendesain dimana dilakukan percobaan-percobaan dengan memasukkan aspek desain arsitektuk yang cocok dalam proyek dan analisis sintesis untuk mengetahui strategi desain arsitektur terbaik yang dapat mengoptimalkan program fasilitas ruang penyembuhan bagi para korban kecanduan internet. Dengan demikian rekomendasi desain yang dipilih adalah penerapan healing garden dan healing arsitektur pada rancangan “ruang penyembuhan untuk efek fisik dari kecanduan internet” yang akan dikaitkan dengan proses penyembuhan fisik tidak hanya guna penyembuhan bagi para pasien pecandu internet namun juga menjaga kenyamanan semua individu yang ada di dalamnya dari para perawat yang bekerja hingga para staff pengelola.

Page 53 of 134 | Total Record : 1332