cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
PENDEKATAN ARSITEKTUR KOSMOLOGI BALI DAN PRAGMATIC UTOPIA DALAM MERANCANG KONSERVASI TERUMBU KARANG DI PULAU NUSA PENIDA Nicholas Gabriel; J.M. Joko Priyono Santosa
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12371

Abstract

The life of the marine ecosystem is starting to be threatened by the natural phenomena that occur, destroying marine life and coral reefs. The destruction of coral reefs begins with the occurrence of bleaching. This phenomenon can quickly kill coral reefs extensively in less than a year and cause the death of marine life in coastal ecosystems. The theory adopted uses the concept of Balinese cosmology and pragmatic utopia in responding to the challenge of going beyond ecology and responding to the context of the surrounding environment. The selected program is a conservation function and a gallery for visitors to explore the space within the site. This project creates a new formula for balancing traditional theory with the utopia of the future. The concept of Balinese cosmology is applied in the layout of the space according to the beliefs of the Balinese people. This project is expected to be a hope and a public space that conveys the experience of spatial space bringing people into a different dimension, appreciating the exploration process. Become a project that can influence visitors psychologically on the importance of the survival of marine ecosystems. Keywords: Coral reefs; Conservation; Cosmology; Pragmatic Utopia; Spatial space AbstrakKehidupan ekosistem laut mulai terancam dengan fenomena alam yang terjadi membuat biota laut beserta terumbu karang hancur. Kehancuran terumbu karang dimulai dari terjadinya bleaching. Fenomena ini dapat dengan cepat membunuh terumbu karang secara luas kurang dari setahun dan menyebabkan kematian biota laut pada ekosistem pesisir pantai. Teori yang diangkat menggunakan konsep kosmologi Bali dan pragmatic utopia dalam menjawab tantangan untuk malampaui ekologi dan menanggapi konteks lingkungan sekitar. Program yang dipilih merupakan fungsi konservasi dan gallery untuk pengunjung menjelajahi ruang dalam site. Proyek ini menciptakan formula baru dalam menyeimbangkan teori tradisional dengan utopia masa depan. Konsep kosmologi Bali diterapkan dalam tata letak ruang sesuai kepercayaan masyarakat Bali. Proyek ini diharapkan dapat menjadi harapan dan ruang publik yang menyampaikan pengalaman ruang spasial membawa manusia kedalam dimensi yang berbeda, menghargai proses eksplorasi. Menjadi proyek yang dapat memengaruhi psikologis pengunjung akan pentingnya kelangsungan hidup ekosistem laut. 
PENERAPAN METODE NARASI ARSITEKTUR DALAM PERANCANGAN EKSTRAKURIKULER PENDIDIKAN EKOLOGI DI KAWASAN EDUTOWN, BSD Ferdi James; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12482

Abstract

Life in urban areas, which is accelerating and capitalist, makes humans less sensitive to their environment. Students only learn about nature and the environment through literacy and lack opportunities to learn directly from nature in urban areas. It causes a lack of awareness and mindset and indifferent behaviour towards nature and the surrounding environment within the city. With all the acceleration of development, BSD City must be balanced with the behavioural pattern of people who are aware and care about the environment. This project is a preventive measure against environmental damage. Technology and materials must be sustainable and environmentally friendly, but what is fundamental is human behaviour that must be sustainable and friendly to the environment and nature. Therefore, through the program "Ecological Education Extracurricular in the ‘Edutown’ Area, BSD," using the narrative method with a cultural ecology approach to assist in handling human thought patterns and behaviour towards nature and the environment. Through this project, it is hoped that students' awareness, mindset, and behaviour towards nature and its environment can be changed, developing the next generation of the nation who is intellectually intelligent and morally towards God, others, and the environment. Therefore in the future, humans can walk side by side with nature and maintain its sustainability. Keywords: ecology; education; environment; extracurricular; narrative architecture Abstrak Kehidupan di perkotaan yang selalu mengalami percepatan dan cenderung kapitalis membuat manusianya kurang peka terhadap lingkungannya. Pendidikan di perkotaan, siswa hanya belajar tentang alam dan lingkungan melalui literasi dan kurang kesempatan belajar langsung dari alam di perkotaan. Hal ini yang berdampak akan kurangnya kesadaran dan pola pikir serta perilaku tak acuh terhadap alam dan lingkungan sekitarnya. BSD City dengan segala percepatan kemajuan dan perkembangannya harus diimbangi pula dengan pola perilaku masyarakat yang sadar dan peduli akan lingkungan. Proyek ini merupakan langkah tindakan preventif terhadap kerusakan lingkungan. Teknologi dan material harus sustainable dan ramah lingkungan, namun yang fundamental adalah perilaku manusia yang harus sustainable dan ramah pula terhadap lingkungan dan alam. Oleh karena itu melalui program “Ekstrakurikuler Pendidikan Ekologi di Kawasan Edutown, BSD”, dengan menggunakan metode narasi dengan pendekatan ekologi budaya untuk membantu dalam penanganan pola pikir dan perilaku manusia terhadap alam dan lingkungan. Diharapkan melalui proyek ini kesadaran, pola pikir dan perilaku siswa–siswa terhadap alam dan lingkunganya dapat berubah, sehingga tercipta generasi penerus bangsa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, namun juga akhlak kepada Tuhan, sesama dan lingkungan. Sehingga kedepannya manusia dapat berjalan berdampingan dengan alam dan menjaga keberlangsungannya.
WISATA HUTAN DI DESA DAYAK KANAYATN Canggita Lusya; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12386

Abstract

Deforestation is no stranger to people in West Kalimantan and even often becomes the center of national and world attention, one of which is the Kuburaya Regency, Sungai Ambawang District. Due to the function of the area as an area that produces forest products. The lives of local people are still very dependent on the forest, where the Dayak community has a holistic perception of the forest. For them, the forest does not only mean economic but also socio-cultural and religious. The very high rate of forest deforestation causes nature and culture in local communities to be marginalized due to the inability of culture to adapt to changes in regional conditions (with loss of forest cover/deforestation), so this research was carried out by applying cultural empowerment, namely, by strengthening cultural ecotourism in the local area and creating Past life, which can remind the Kanayatn Dayak culture to the younger generation in Korek Village, is very necessary, through a study of the Kanayatn Dayak typology approach, the rhymes of the jonggan dance songs and the settlement patterns of Korek Village and forest tourism telling the meaning of the jungle for the Dayak community which is very valuable. important for their daily activities. Served as the basic design in forming zoning, circulation patterns, building orientation, and building form. The design of this project uses a qualitative method with case studies and Kengo Kuma's design methods. The results of the research are the design of the Kanayatn Dayak cultural ecotourism with the application of the aspect of beyond ecology, which can increase the involvement of local communities in optimizing the program of conservation of natural resources and culture.Keywords:  Culture; Dayak Kanayatn; ecology; forest; tour.  Abstrak Deforestasi sudah tidak asing lagi didengar oleh masyarakat di Kalimantan Barat, bahkan sering menjadi pusat perhatian nasional dan dunia, salah satunya wilayah Kabupaten Kuburaya Kecamatan Sungai Ambawang. Dikarenakan fungsi daerahnya sebagai kawasan yang memproduksi hasil hutan. Kehidupan masyarakat lokal masih sangat bergantung pada hutan, dimana masyarakat dayak memiliki persepsi holistik terhadap hutan. Bagi mereka, hutan tidak hanya bermakna ekonomi melainkan juga sosio budaya dan religious. Tingkat deforestasi hutan yang sangat tinggi menyebabkan alam dan budaya pada masyarakat lokal mulai terpinggirkan akibat tidak mampunya budaya beradaptasi dengan perubahan kondisi kawasan (dengan hilangnya tutupan hutan / deforestasi), sehingga penelitian ini dilakukan penerapan pemberdayaan budaya yaitu, dengan memperkuat ekowisata budaya didaerah setempat dan menciptakan kehidupan masa lampau, yang dapat mengingatkan kembali budaya Dayak Kanayatn pada generasi muda di Desa Korek sangat diperlukan, melalui studi pendekatan tipologi Dayak Kanayatn, pantun syair lagu tarian jonggan dan pola pemukiman Desa Korek dan wisata hutan mengisahkan makna hutan rimba bagi masyarakat dayak yang bernilai sangat penting bagi kehidupan aktivitas sehari – hari mereka. Dijadikan sebagai desain dasar dalam membentuk zoning, pola sirkulasi, orientasi bangunan, dan bentuk bangunan. Desain proyek ini menggunakan metode kualitatif dengan studi kasus dan metode design milik Kengo Kuma. Hasil penelitian berupa desain ekowisata budaya Dayak Kanayatn dengan penerapan aspek beyond ecology, yang dapat meningkatkan keterlibatan masyarakat lokal dalam mengoptimalkan program kegiatan pelestarian SDA dan budaya.
STUDI KEBERHASILAN PENGELOLAAN WISATA BERBASIS COMMUNITY BASED TOURISM (STUDI KASUS: AIR TERJUN TUMPAK SEWU, DESA SIDOMULYO, KECAMATAN PRONOJIWO, KABUPATEN LUMAJANG) Farrisha Haidir; Parino Rahardjo; Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12833

Abstract

Indonesia is a country that has unlimited natural wealth and potential as a tourism sector. Tourism is currently a sector that has the potential to be developed as a source that can encourage the rate of economic growth for the country. In addition, the development of tourism objects in each region is also expected to increase the economy for the surrounding community. Tumpak Sewu Waterfall Tourism which is located in Lumajang Regency is one of the attractions  managed by the people of  Sidomulyo Village using the concept of Community Based Tourism (CBT). The CBT concept is a way of creating sustainable tourism, this concept requires the participation of local communities in developing and managing tourism objects to succeed. In the management of the Tumpak Sewu Waterfall tourist attraction, the factors that determine its success are not yet known. Therefore, the purpose of this research is to to find out the tourism management system, to know the role of the community in managing tourism, and to know the success factors of tourism object management. This research is a descriptive research with qualitative and quantitative approaches. Qualitative data collection was collected by conducting field surveys to tourist attraction locations and in-depth interviews with related parties, and qualitative data collection was carried out by filling out questionnaires by visitors. The results of this study will get in the form of factors that influence the success in managing the Tumpak Sewu Waterfall tourist attraction. Keywords:  Community Based Tourism (CBT); Management; Success; Tumpak Sewu Waterfall AbstrakIndonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam yang tak terbatas dan berpotensi sebagai sektor pariwisata. Pariwisata saat ini menjadi sektor yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai sumber yang dapat mendorong laju pertumbuhan ekonomi bagi Negara. Selain itu, berkembangnya objek wisata yang ada di setiap daerah, diharapkan juga dapat meningkatkan perekonomian bagi masyarakat di sekitarnya. Wisata Air Terjun Tumpak Sewu yang berlokasi di Kabupaten Lumajang adalah salah satu objek wisata yang dikelola oleh masyarakat Desa Sidomulyo menggunakan konsep Community Based Tourism (CBT). Konsep CBT merupakan cara dalam menciptakan pariwisata yang berkelanjutan, dimana konsep ini membutuhkan partisipasi masyarakat lokal dalam mengembangkan dan juga mengelola objek wisata hingga berhasil. Dalam pengelolaan objek wisata Air Terjun Tumpak Sewu belum diketahui faktor – faktor yang menentukan keberhasilannya. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sistem pengelolaan wisata, mengetahui peran masyarakat dalam mengelola wisata, dan mengetahui faktor-faktor keberhasilan pengelolaan objek wisata. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pengumpulan data kualitatif dikumpulkan dengan melakukan survey lapangan ke lokasi objek wisata dan wawancara mendalam (in- depth interview) dengan pihak – pihak yang terkait, sedangkan pengumpulan data kualitatif dilakukan dengan pengisian kuesioner oleh pengunjung. Hasil dari penelitian ini akan mendapatkan berupa faktor – faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam pengelolaan objek wisata Air Terjun Tumpak Sewu.
KANTOR SEWA DAN CO-WORKING DENGAN PEMANFAATAN TAMAN ENERGI TERBARUKAN Lidia Wiriani; Budi Adelar Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12774

Abstract

As time goes by, currently the development growth in metropolitan cities has been leading to the ecosystem change, one of which is the decrease of the green open space (GOS). Nowdays Jakarta has only 9.8% green area and rather it is still far from 30% as a standard of green open space according to government’s Law No. 2 of 2007. In addition, another problem in Jakarta is the increase on the office electricity needs that generally due to the growth of office space demands in business and industrial, including start-up sectors that currently growing fastly. Development in cities is very often only focused on human interests on spaces and facilities, meanwhile on the other side, it just pay less attention to the surrounding environmenta impact. Therefore, this final project is promptly proposing a design and construction of a rental office and co-working office with the use of renewable energy park and solar energy with the aim of creating a more efficient electricity and also to provide a spacious green open spaces as charasteristic of an ecological building, to enable to promote a positive contribution to environmental improvement. The method approach used as reference in this project is the Leadership in Energy and Environmental Design (LEED) standard. This project will not only offer office facilities but also a multifunctional facilities such as coffee shop, mini market, food court, book and stationery store, fitness center, fun games area, jogging track, basketball court, and ATM corner, while for green open space (GOS) there is also renewable energy park, namely bioo panel garden, irrigation ponds, and tree areas. Keywords: Green office space (GOS); electricity consumption; rental and co-working office; renewable energy parkAbstrakSeiring berjalannya waktu, saat ini maraknya pembangunan di kota metropolitan telah berdampak pada perubahan ekosistem, salah satunya yaitu isu lingkungan seperti keterbatasan ruang terbuka hijau (RTH). Saat ini Jakarta memiliki kawasan hijau hanya sekitar 9,8% yang masih jauh dari 30% sebagai standar ruang terbuka hijau di kota berdasarkan Undang-Undang No. 2 Tahun 2007. Selain itu, masalah lainnya di Jakarta adalah meningkatnya pemakaian listrik perkantoran yang umumnya dikarenakan adanya peningkatan kebutuhan ruang usaha di dunia bisnis dan industri kreatif (start-up) yang sedang berkembang pesat. Pembangunan di kota seringkali hanya berpusat pada kebutuhan manusia akan ruang dan fasilitasnya, sementara disisi lain kurang memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan sekitar. Adapun proyek pada tugas akhir ini adalah untuk mengajukan suatu rancangan pembangunan kantor sewa dan co-working dengan pemanfaatan taman energi terbarukan agar tercipta kelistrikan yang lebih efisien, serta perwujudan ruang terbuka hijau yang luas sebagai ciri bangunan ekologis, sehingga diharapkan dapat memberikan kontribusi untuk perbaikan lingkungan. Paradigma utama dalam mendesain proyek ini adalah bagaimana menciptakan enviromental balance dengan pendekatan ecosystem environment dan energy efficiency. Adapun pendekatan metode yang digunakan sebagai acuan adalah standar Leadership in Energy and Environmental Design (LEED). Proyek ini disamping menyediakan sarana perkantoran, juga menawarkan fasilitas yang multifungsi seperti coffeeshop, minimarket, food court, toko buku dan alat tulis, fitness center, fun games area, jogging track, lapangan basket, serta gerai ATM. Sementara untuk area ruang terbuka hijau (RTH) tersedia taman energi terbarukan (renewable energy park) yaitu bioo panel garden, kolam irigasi, dan area taman pohon. 
PERANCANGAN GEDUNG KESENIAN TARI DAN PEWAYANGAN KOTA BEKASI MELALUI PENDEKATAN ARSITEKTUR EKOLOGI Nadia Sabrina; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12455

Abstract

As times goes by, the culture adopted became more eroded, this causes us to forget the importance of culture, spirituality, ethics and morals. Especially in the city of Bekasi which is a peri-urban city which is located between the city and the village. Traditional dance and puppetry are well known as local culture, however, it is now on a verge of an extinction. it relates to forgotten culture of the City of Bekasi resulting in the loss of the identity of the City of Bekasi. The development of a function as a fulfillment of human needs must consider the surrounding natural environment and the reciprocal relationship between humans and their environment. Therefore, the use of ecological architectural principles needs to be applied. The purpose of the project is to preserve the arts of dance and puppet culture in the City of Bekasi. The design method uses the principles of ecological architecture. Source ZEB concept by utilizing sunlight as a building energy source and applying a system of Grey-water recycling and rainwater collection. The mass is in the form of an arch so that the building is more dynamic. The mass is made of terraces for airing and natural lighting can enter so that the utilization of renewable natural resources can be maximized. Keywords:  Art hall; Ecological architecture; Ecology AbstrakPerkembangan zaman terus terjadi sehingga semakin tergerus budaya yang dianut, hal ini mengakibatkan kita lupa akan pentingnya budaya, spiritual, etika dan moral. Khususnya pada Kota Bekasi yang merupakan kota peri-urban dimana terletak antara pusat kota dan desa. Tari dan pewayangan Kota Bekasi cukup dikenal sebagai budaya setempat namun, terus mengalami kepunahan. Hal ini berkaitan langsung dengan mulai terlupakannya budaya Kota Bekasi mengakibatkan hilangnya identitas Kota Bekasi. Pembangunan suatu fungsi sebagai pemenuhan kebutuhan manusia haruslah mempertimbangkan lingkungan alam sekitar dan hubungan timbal balik antar manusia dan lingkungannya. Maka dari itu, Penggunaan prinsip arsitektur ekologi perlu diterapkan dalam bangunan. Tujuan proyek sebagai upaya pelestarian kesenian tari dan pewayangan Budaya Kota Bekasi. Metode perancangan menggunakan prinsip arsitektur ekologi. Konsep Source ZEB dengan memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber energi bangunan dan menerapkan sistem Grey-water recycling dan penampungan air hujan. Massa berbentuk melengkung agar bangunan lebih dinamis. Massa di buat berundak untuk pengudaraan dan pencahayaan alami dapat masuk sehingga pemanfaatan sumber daya alam terbarui dapat maksimal.
STUDI POLA PERGERAKAN PENUMPANG DI TITIK TRANSIT (STUDI KASUS : STASIUN MRT BLOK M DAN TERMINAL BUS BLOK M, KEBAYORAN BARU, JAKARTA SELATAN) Felicia Sugita; Suryono Herlambang; Parino Rahardjo
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12839

Abstract

Blok M is the commercial centre area of Kebayoran Baru District, which has accessibility and a strategic position to the city of Jakarta. It also an area that is crossed by variety of public transportation and it not only serves residents at the sub-district level, but also residents of Jakarta. The existence of Terminal Bus Blok M and now there is MRT Station, it makes Blok M an intermodal transit area and also a destination for office, entertainment, and shopping. However, Transit Oriented Development area that should be able to connect between transportation modes, it has not been fully implemented well in Blok M. This study is conducted to determine about pedestrian mobility, pedestrian way conditions, and supporting activities in Blok M. The study is conducted using quantitative and qualitative analysis methods. A qualitative analysis to look at the profile of the pedestrian at the transit area, mobility of pedestrian, pedestrian way conditions, and supporting activities at the transit area. The quantitative analysis used to view the simulation of the estimated number of passengers based on the RDTR 2030 and PRK 2020. Based on studies conducted, the mobility in Blok M area is not maximized, only 30% of passengers change transportation modes. There are several criteria that have not been met for the condition of the pedestrian way in the Blok M, especially related to the conflict that occurs between pedestrians and private vehicle users. The supporting activity in this area are dominated by shopping centres and shops. Keywords:  Blok M; Mobility; MRT Station; Pedestrian; Terminal BusAbstrakKawasan Blok M merupakan kawasan pusat komersial Kecamatan Kebayoran Baru yang memiliki aksesibilitas dan kedudukan yang cukup strategis terhadap kota Jakarta dan menjadi salah satu kawasan yang dilintasi berbagai moda angkutan umum yang tidak hanya melayani penduduk tingkat kecamatan, tetapi juga melayani penduduk kota Jakarta. Keberadaan Terminal Bus Blok M, Transjakarta, kemudian sekarang ditambah dengan adanya jaringan Jakarta Mass Rapid Transit (MRT) membuat Blok M menjadi kawasan transit intermoda dan menjadikan Blok M sebagai tujuan perkantoran, wisata hiburan dan wisata belanja. Namun pada kenyataannya kawasan TOD yang direncanakan seharusnya dapat menghubungkan antarmoda transportasi belum sepenuhnya terlaksana dengan baik di Kawasan Blok M. Studi ini dilakukan untuk mengetahui mobilitas penumpang, kondisi jalur pejalan kaki, dan aktivitas pendukung yang ada di kawasan Blok M. Kemudian studi dilakukan dengan metode analisis kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kualitatif untuk melihat profil dari penumpang di titik transit, mobilitas penumpang, kondisi jalur pejalan kaki, dan aktivitas pendukung di titik transit. Kemudian, pendekatan kuantitatif digunakan untuk melihat simulasi dari proyeksi jumlah penumpang berdasarkan RDTR 2030 dan PRK 2020. Berdasarkan studi yang telah dilakukan, bahwa mobilitas yang ada di kawasan Blok M dapat dikatakan belum maksimal, hanya 30% penumpang yang melakukan perpindahan moda transportasi. Beberapa kriteria yang belum terpenuhi untuk kondisi jalur pejalan kaki yang ada di kawasan Blok M, terutama terkait masih adanya konflik yang terjadi antara pejalan kaki dengan pengguna kendaraan pribadi. Dan aktivitas pendukung yang paling mendominasi kawasan Blok M adalah pusat perbelanjaan dan pertokoan. 
RUANG EDUKASI HUTAN DI KALIMANTAN Anugerah Bagus Wicaksono; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12413

Abstract

Forest fires, illegal logging, and land use or deforestation in Kalimantan are common. One example of a fire is a very large forest in Central Kalimantan, forest land being converted into oil palm plantations. The emergence of liar animals in residential areas occurs because there is no balance between humans, animals, and nature which causes damage to patterns of activity and residence both in human settlements and animals in liars' nature. Architecture cannot ignore events that are constantly happening. This project aims to change the mindset of the importance of a balance between humans, animals, and nature by creating a place that can reflect nature. Through the Forest Education Spot in Central Kalimantan, it is hoped that there will be a space that connects life in the forest and in the city by dividing activities based on space to create a sense of togetherness and create a sense of togetherness balance between living things. Keywords: balance; deforestation; forest education spot; KalimantanAbstrakKebakaran hutan, penebangan liar dan penyalahgunaaan lahan atau dengan sebutan deforestasi di Kalimantan sudah sering terjadi. Salah satu contoh adalah kebakaran hutan yang sangat besar di Kalimantan Tengah, lahan hutan diubah menjadi kebun kelapa sawit. Munculnya hewan liar di lahan pemukiman terjadi karena tidak adanya keseimbangan antara manusia, hewan dan alam yang membuat rusaknya pola aktivitas dan tempat tinggal baik di pemukiman manusia ataupun hewan di alam liar. Arsitektur tidak bisa mengabaikan kejadian yang  terus menerus terjadi.  Proyek ini bertujuan mengubah pola  pikir akan pentingnya sebuah keseimbangan antara manusia, hewan, dan alam dengan cara membuat sebuah tempat yang bisa merefleksikan alam. Melalui Ruang Edukasi Hutan Kalimantan Tengah diharapkan tercipta sebuah ruang yang mengkoneksikan kehidupan di hutan dan di kota dengan membagi aktivitas berdasarkan ruang sehingga bisa membuat sebuah rasa kebersamaan dan muncul keseimbangan di antara makhluk hidup. 
GRIYA MODE BERKELANJUTAN DI KOTA BEKASI Muhammad Dzamarsyach Dewanto; Diah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12377

Abstract

The increasing consumption of clothing every year gives birth to a new concept, namely fast fashion. It is a modern term for cheap and trendy clothes that take fashion ideas from fashion shows or fashionable styles from celebrities. The fast fashion work system is known as a mass process that is able to produce clothes quickly. However, this process uses too many natural resources and is detrimental to the environment. Even though the results of the fabric produced are not comparable to the nature that was sacrificed. The concept of fast fashion which should be able to harmonize production and consumers will lose balance. This project has a goal to build an architectural masterpiece that can reduce the negative impact of the fashion industry on environmental pollution. Inviting the public to participate in changing a consumptive and hedonistic culture. Thus creating a community that is aware of a better lifestyle to become a productive and circular generation in fashion consumption. In its design, Atelier Bow-Wow's Behaviorology Strategy method is used which studies the context of environmental, social and economic concerns that seek to turn problems into opportunities as a basic aspect of eco-friendly design. This study also uses the Nonidentity-programming method by Bernard Tschumi to create programs in circular architectural works, and parametric methods in planning the design of the building's facade. It is hoped that this project will be able to deal with the environmental crisis caused by the practice of the fashion industry in order to create a sustainable life. Keywords: sustainable, fashion, lifestyle, environment AbstrakMeningkatnya konsumsi pakaian setiap tahunnya melahirkan konsep baru yaitu fast fashion. Ini adalah sebuah istilah modern untuk pakaian murah dan trendi yang mengambil ide mode dari peragaan busana atau gaya modis dari selebriti. Sistem kerja fast fashion dikenal sebagai proses masal yang mampu menghasilkan pakaian dengan cepat. Akan tetapi, proses ini menggunakan sumber daya alam yang terlalu banyak dan merugikan lingkungan. Padahal hasil kain yang dihasilkan tidak sebanding dengan alam yang dikorbankan. Konsep fast fashion yang harusnya mampu menyelaraskan produksi dan konsumennya akan kehilangan keseimbangan. Proyek ini memiliki tujuan untuk membangun sebuah karya arsitektur yang mampu mengurangi dampak negatif industri fesyen terhadap pencemaran lingkungan. Mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam mengubah budaya yang konsumtif dan hedonisme. Sehingga menciptakan sebuah komunitas yang sadar akan gaya hidup yang lebih baik untuk menjadi  generasi  yang produktif  dan sirkular  dalam konsumsi  fesyen.  Dalam perancangannya digunakan metode Behaviorology Strategy milik Atelier Bow-Wow yang mempelajari konteks kepedulian terhadap lingkungan, sosial dan ekonomi yang berusaha mengubah masalah menjadi peluang sebagai aspek dasar dalam desain yang ramah akan ekologi. Studi ini juga menggunakan metode Nonidentity- programming oleh Bernard Tschumi untuk menciptakan program dalam karya arsitektur yang sirkular, dan metode parametrik dalam perencanaan desain bangunan fasadnya. Diharapkan proyek ini mampu dalam menghadapi persoalan krisis lingkungan akibat praktek industri fesyen demi menciptakan kehidupan yang berkesinambungan.
EVALUASI DAN PENINGKATAN PENGELOLAAN SKYWALK SEBAGAI DESTINASI WISATA (STUDI KASUS: KAWASAN CIHAMPELAS, KOTA BANDUNG, JAWA BARAT) Maudy Fena Namira; B. Irwan Wipranata; Liong Ju Tjung
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12869

Abstract

Tourism on a skywalk is one of the phenomena of embodiment of recreational public spaces in the city. The city of Bandung, which has difficulty accomodating tourist movements due to the disporpotionate growth of tourists with road supplies, has implemented a skywalk project to overcome this problem. Skywalk Teras Cihampelas is the first elevated pedestrian path in Indonesia and quickly becoming the preffered tourist destination in Bandung. Skywalk Teras Cihampelas also become an example for other areas as a motivation for procuring pedestrian paths as public spaces and tourism destination. However, not long after its opening, many problems arose such as crime, damage to facilities and slums due to the procurement of tarpaulins which gradually made the skywalk lost its visitors. Many people regret this phenomenon and worry that the skywalk project has the potential to not meet its original goals and fail. The purpose of this research is to evaluate the barriers and improve the managements of skywalk that are oriented towards effective tourism. The method used are scoring based on pedestrian path standards and benchmarking to identify and study things that need improvement. Based on the result of the study, the main problem that became the obstacle was the poor management, especially in terms of finance, promotion, human resources and the difficulty of the bureaucracy in filing for improvement. Changes can be made by uniting opinions between the managements and preseting new innovations or attraction by following good examples from other skywalks. Keywords:  pedestrian path ; skywalk ; tourism AbstrakWisata yang dilakukan pada skywalk merupakan salah satu fenomena perwujudan ruang publik rekreasi pada kota. Kota Bandung yang sudah jenuh akibat tidak sebandingnya pergerakan wisatawan dengan persediaan jalan menghadirkan pembangunan proyek skywalk untuk mengatasi masalah ini. Skywalk Teras Cihampelas adalah salah satunya, merupakan jalur pejalan kaki layang pertama di Indonesia dan dengan cepat menjadi destinasi wisata pilihan di Kota Bandung. Skywalk Teras Cihampelas juga menjadi contoh bagi wilayah lainnya sebagai motivasi pengadaan jalur pejalan kaki sebagai ruang publik rekreasi dan wisata. Namun tidak lama sejak peresmiannya, banyak masalah yang muncul seperti tindak kriminal, kerusakan fasilitas dan kekumuhan akibat pengadaan terpal yang kelamaan membuat skywalk sepi pengunjung. Banyak pihak menyayangkan kejadian ini dan khawatir bahwa proyek skywalk yang masih panjang berpotensi tidak sesuai dengan tujuan awalnya dan gagal. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah mengevaluasi hambatan dan meningkatkan pengelolaan skywalk yang berorientasi pada pariwisata efektif. Metode yang dilakukan adalah skoring dari standar jalur pejalan kaki dan benchmarking/mengacu pada best practise untuk mengidentifikasi hal-hal yang perlu perbaikan dan mempelajari potensi peningkatan komponen wisata. Berdasarkan hasil penelitian, masalah utama yang menjadi penghambat adalah buruknya manajemen pengelolaan terutama dari segi keuangan, promosi, sumber daya manusia serta sulitnya birokrasi pengajuan perbaikan. Perubahan dapat dilakukan dengan menyatukan pendapat antar pengelola, membenahi manajemen dan menghadirkan inovasi atau atraksi baru dengan mencontoh apa yang sudah dilakukan pada skywalk lainnya.

Page 58 of 134 | Total Record : 1332