cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
PENERAPAN SELF-SUFFICIENT PADA REDESAIN RUMAH SUSUN KEBON KACANG Silvia Silvia; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12490

Abstract

House is the safest place to avoid Covid-19. The lives of people who live in landed houses and flats are different. People's lives have changed drastically from all aspects, namely health, economic, social, and other aspects. This Covid-19 condition requires people to stop doing normal activities temporarily. This condition can be done by redesigning old flats as a solution, such as the Kebon Kacang flats. In addition to being old, this flat is also getting shabby, not to mention its strategic location in the middle of a city that should have potential. Kebon Kacang flats project aims explicitly at the residents of the flats by offering facilities to fulfill their daily activities and needs to avoid Covid-19. In addition, redesign tends to play an essential role in the environment, such as providing needs for residents so that they do not need to travel. These also impact ecology, such as increased air quality due to the reduced use of motorized vehicles. Using analytical descriptive research methods, literature studies and case studies, and the self-sufficient design methods approach aims to make the building and occupants mutually productive and create a new sufficient habit due to this pandemic. Self-sufficient application in this project involves rainwater harvesting, food production, green roof, and green balcony. The redesign of the Kebon Kacang flats offers residential, commercial programs such as food markets, food courts, cafes/coffee shops and kiosks, education for children, facilities such as hydroponics, gyms, playgrounds, and others.Keywords: Covid-19; flats; house; redesign; self-sufficient Abstrak Rumah menjadi tempat yang paling aman untuk menghindari Covid-19, tetapi perbedaan kehidupan masyarakat yang tinggal di rumah tapak dengan rumah susun sangatlah berbeda. Kehidupan masyarakat yang berubah drastis dari segala aspek, yakni aspek kesehatan, ekonomi, sosial, dan lainnya. Dimana kondisi Covid-19 ini mengharuskan masyarakat untuk secara temporari menghentikan aktivitas normal sampai tidak tahu lamanya. Hal ini dapat dilakukan dengan cara meredesain rumah susun yang sudah berusia tua, misalnya rusun Kebon Kacang. Selain umur bangunan sudah tua, rusun ini juga sudah semakin kumuh, belum lagi letaknya yang strategis di tengah-tengah kota yang seharusnya dapat menjadi potensi. Dengan membangun proyek redesain rumah susun Kebon Kacang khususnya ditujukan untuk penghuni rumah susun dengan menawarkan fasilitas-fasilitas untuk memenuhi aktivitas dan kebutuhan sehari-hari mereka, serta sistem untuk menghindari Covid-19. Selain itu dengan redesain cenderung berperan penting terhadap lingkungan, selain menyediakan kebutuhan untuk penghuni sehingga tidak perlu melakukan perjalanan, ini juga berdampak terhadap ekologi, seperti kualitas udara yang meningkat akibat berkurangnya penggunaan kendaraan bermotor. Dengan menggunakan metode penelitian deskriptif analisis, studi literatur dan studi kasus, dan metode perancangan self-sufficient yang bertujuan agar bangunan dan penghuni dapat saling produktif serta mengubah kebiasaan penghuni menjadi lebih mandiri terkait pandemik Covid-19. Penerapan self-sufficient pada proyek meliputi rainwater harvesting, food production, green roof, serta green balcony.  Pada redesain rumah susun kebon kacang ini menawarkan program hunian, komersial seperti food market, foodcourt, café/coffee shop dan kios, pendidikan untuk anak, fasilitas-fasilitas seperti hidroponik, gym, taman bermain, dan lainnya.
PENERAPAN KONSEP BANGUNAN NOL SAMPAH PADA DESAIN FASILITAS PENGOLAHAN SAMPAH DI MUARA ANGKE Alvin Pranata; Stephanus Huwae
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12349

Abstract

One of the ecological problems in Indonesia is waste. In dealing with these problems, adequate processing facilities are needed, as well as human awareness to reduce waste. Waste processing can be done by recycling it into useful goods, converting waste into a source of electrical energy, or into organic fertilizer by implementing a zero waste or "zerowaste" system. Buildings are needed that can carry out these processes and provide education to the public about the importance of reducing or processing waste. Architecture contributes to preparing and designing buildings that will be used. Methods are needed to create waste processing facilities by taking into account the environment and the area where the site is located. The pragmatic approach is used as the basis for positioning the building in solving the ecological problems of waste. The application of contextual methods is needed to shape activities in the project by taking into account the site conditions and the environment where the project is located. This building design visualization concept uses high-tech architectural concepts to show the utility of waste processing, waste processing systems, the use of recycled materials that are lightweight, sturdy, effective and efficient. The success of this project can be achieved through (1) waste treatment with zero waste system; (2) activities formed in the project; (3) flexible, effective and efficient space requirements and relationships; (4) accessibility and circulation. It is hoped that this project can overcome the ecological problems of waste without producing other waste, provide education to the community about the importance of reducing and processing waste and make this project a center of activity to meet the needs of the community. Keywords: Contextual Method; Pragmatic Approach; Recycling; Waste Treatment Facilities; Zerowaste SystemAbstrakSalah satu permasalahan ekologis di Indonesia adalah sampah. Dalam menghadapi permasalahan tersebut, diperlukan fasilitas pengolahan yang memadai, serta kesadaran manusia untuk mengurangi sampah. Pengolahan sampah dapat dilakukan dengan mendaur ulang menjadi barang berguna, merubah sampah menjadi sumber energi listrik, atau menjadi pupuk organik dengan menerapkan sistem nol sampah atau “zerowaste”. Diperlukan bangunan yang dapat menjalankan proses – proses tersebut dan memberikan edukasi terhadap masyarakat tentang pentingnya mengurangi dan mengolah sampah. Arsitektur berkontribusi untuk mempersiapkan, merencanakan dan merancang bangunan yang akan digunakan. Diperlukan metode – metode untuk menciptakan fasilitas pengolahan sampah dengan memperhatikan lingkungan dan kawasan lokasi tapak. Pendekatan pragmatik digunakan sebagai dasar untuk memposisikan bangunan dalam menyelesaikan permasalahan ekologis sampah. Penerapan metode kontekstual diperlukan untuk membentuk aktivitas dalam proyek dengan memperhatikan kondisi tapak dan lingkungan lokasi proyek berada. Konsep visualisasi desain bangunan ini menggunakan konsep arsitektur teknologi tinggi untuk memperlihatkan utilitas pengolahan sampah, sistem pengolahan sampah, penggunaan material hasil daur ulang yang ringan, kokoh, efektif dan efisien. Keberhasilan proyek ini dapat dicapai melalui (1) pengolahan sampan dengan sistem nol sampah; (2) aktivitas yang terbentuk didalam proyek; (3) kebutuhan dan hubungan ruang yang fleksibel, efektif dan efisien; (4) aksesibilitas dan sirkulasi. Diharapkan proyek ini dapat mengatasi permasalahan ekologis sampah tanpa menghasilkan sampah lain, memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya mengurangi dan mengolah sampah serta menjadikan proyek ini sebagai salah satu pusat aktivitas untuk pemenuh kebutuhan masyarakat. 
TEKNOLOGI PERTANIAN BERBASIS EKOLOGI Kevin Kevin; Budi Adelar Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12418

Abstract

Global Warming is one of the causes of ecological damage. It is caused by human activities that run at high intensity without considering their impact. Freight Transport, on the other hand, is a type of transportation activity that worsens such a condition due to its production of carbon dioxide and natural resources exploitation it exercises. However, Freight Transport activity occurs because a region requires supplies from other regions due to its disability  to meet its own needs. Agricultural Buildings are a solution to such problems by means of providing space that facilitates agricultural activities which could not be carried out because of poor land availability or land quality. This Agricultural Building is located in Pulokerto Village, Gandus District, Palembang City.  It is an agropolitan area that is threatened by urban development and creates damage to land resources. As such, it is a compound of buildings that operate the so-called. Organic Agriculture and Education program equipped with waste processing as well as self-sufficient input of energy from hydro-energy plant. This sub-program aims to ensure that existing agricultural activities do not exploit non-renewable resources and do not cause environmental damage. The compound ultimate is not only to repair and reduce ecological damage but also to become a new agricultural system and become a new agricultural platform where agriculture is one of the important sectors for the survival of life in a city.   Keywords:  Agriculture; Ecology;  Freight Transport; Global Warming.Abstrak Pemanasan Global menjadi salah satu penyebab kerusakan ekologi. Pemanasan Global disebabkan oleh aktivitas manusia yang berjalan dengan intensitas tinggi tanpa mempertimbangkan dampak dari aktivitas tersebut. Freight Transport atau yang lebih dikenal sebagai kegiatan logistik merupakan salah satu jenis aktivitas transportasi yang memperburuk keadaan ekologi akibat karbon dioksida dan eksploitasi sumber daya alam. Aktivitas Freight Transport ini sendiri terjadi karena tidak mampunya suatu daerah memenuhi kebutuhannya sendiri sehingga membutuhkan pasokan dari daerah lain. Bangunan dengan Teknologi Pertanian Berbasis Ekologi merupakan solusi dari permasalahan yang ada melalui penyediaan ruang pertanian baru yang memfasilitasi aktivitas pertanian yang sebelumnya tidak dapat dilakukan pada suatu area baik karena ketersediaan lahan maupun kualitas lahan yang tidak memenuhi kriteria ruang pertanian. Bangunan Pertanian ini berlokasi di Desa Pulokerto Kecamatan Gandus Kota Palembang dimana desa ini merupakan area agropolitan yang terancam oleh perkembangan kota dan kerusakan sumber daya tanah. Bangunan ini memiliki program yaitu Pertanian Organik dan Edukasi. Program-program ini difasilitasi oleh sub-program pengolahan limbah dan pengolahan energi secara mandiri melalui Hydroenergy Plant. Sub-program ini bertujuan agar aktivitas pertanian yang ada tidak mengeksploitasi sumber daya tidak terbarukan dan tidak menimbulkan kerusakan lingkungan. Bangunan Pertanian Berbasis Ekologi ini bertujuan memperbaiki dan mengurangi kerusakan ekologi serta menjadi wadah pertanian baru dimana pertanian merupakan salah satu sektor penting untuk kelangsungan kehidupan pada suatu kota.
SENTRA PERTANIAN KOTA JAKARTA PUSAT Fahira Muntaz; J.M. Joko Priyono Santosa
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12401

Abstract

Climate change is vulnerable to occur in major cities including the city of Jakarta because of the many greenhouse gas emissions resulting from the construction of many buildings and the lack of green land. In addition, the city of Jakarta and major cities in general can not meet their own food needs. Climate change is a very serious threat to the agricultural sector. It is hoped that the city's agricultural center buildings will be able to create architecture for the agricultural sector that is resistant to climate change and accommodate millennial farmers and become examples of agriculture in the future and apply sustainable architecture can be a representation and example of environmentally minded buildings in Jakarta. The design of the city's agricultural center building is located on Kramat Kwitang Highway, Senen Subdistrict, Central Jakarta City, DKI Jakarta. Data analysis is done using theory i.e. analysis based on environmental aspects, building aspects and human aspects. The city's agricultural center building accommodates the main function as a place to cultivate agricultural crops and secondary functions as a means of education and public space. The result that will be achieved is a building that has a basic design concept that competes on sustainable architecture and also biophilic  by designing natural elements into vertical buildings. Keywords:  Central Jakarta; Farm; Urban Abstrak Perubahan iklim rentan terjadi di kota besar termasuk kota Jakarta karena banyaknya emisi gas rumah kaca yang diakibatkan dari banyak dibangunnya gedung-gedung dan minimnya lahan hijau. Selain itu kota Jakarta dan kota-kota besar pada umumnya tidak dapat mencukupi kebutuhan makanannya sendiri. Perubahan iklim merupakan salah satu ancaman yang sangat serius terhadap sektor pertanian. Diharapkan dengan adanya bangunan sentra pertanian kota ini mampu menciptakan arsitektur untuk sektor pertanian yang tahan terhadap perubahan iklim serta mewadahi petani milenial dan menjadi contoh pertanian di masa depan serta menerapkan arsitektur yang berkelanjutan dapat menjadi representasi dan contoh bangunan berwawasan lingkungan di Jakarta. Perancangan bangunan pusat pertanian kota ini terletak di jalan Raya Kramat Kwitang, Kecamatan Senen, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teori yaitu analisis berdasarkan aspek lingkungan, aspek bangunan dan aspek manusia. Bangunan pusat pertanian kota mewadahi fungsi utama sebagai tempat pembudidayaan tanaman pertanian dan fungsi sekunder sebagai sarana edukasi dan public space. Hasil yang akan dicapai adalah bangunan yang berkonsep dasar rancangan yang berpacu pada sustainable architecture dan juga biophilic dengan merancang unsur alam kedalam bangunan vertikal.
APLIKASI DESAIN BIOFILIK DALAM KOMUNITAS SENIOR DI JAKARTA UTARA Nathania Jifia Santoso; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12478

Abstract

The increasing life expectancy resulted in expanding numbers of elderly worldwide. According to BPS data, by 2035, the number of elderly in Indonesia will reach 48.2 million people or about 15.8% of the entire population of Indonesia. The increasing population leads to escalated dependence of the elderly caused by the aging process. In this modern era, the elderly need daily activities to feel useful. The solution that emerged is a community that provides facilities for the elderly. The goal is for elderly remains active and productive at the age that demands limited movement. North Jakarta was chosen as location by considering economic variables and population density to determine the target user, namely the mid- upper class. The user category are the independent living community, the older adults aged 55 and over. According to WHO, one factor that affects the quality of human life include the ageing is the physical environment. Building design can play a role in improving the health and welfare of the elderly. The concept of biophilic design applied in the project, based on the study of 14 patterns of biophilic (Terrapin, 2014) and the practice of biophilic design (Kellert, 2015), which applied in the site and building mass. Keywords:  ; Ageing ; Biofilic Design ; Senior Community,; Quality of lifeAbstrakTingkat harapan hidup yang terus meningkat mengakibatkan populasi lansia di seluruh dunia semakin bertambah. Menurut data BPS, diperkirakan pada tahun 2035 jumlah lansia di Indonesia akan mencapai 48,2 juta jiwa atau sekitar 15,8% dari seluruh penduduk Indonesia. Meningkatnya populasi lansia menyebabkan peningkatan ketergantungan lansia yang diakibatkan oleh proses penuaan. Di jaman yang lebih modern ini, lansia membutuhkan keseharian agar merasa berguna. Solusi desain yang dimunculkan adalah sebuah komunitas yang menyediakan fasilitas untuk mendukung aktivitas lansia. Tujuannya agar lansia tetap aktif dan produktif di usia yang menuntut pergerakan yang terbatas, agar dapat merubah pandangan masyarakat bahwa lansia adalah beban. Lokasi di Jakarta utara dipilih dengan mempertimbangkan variabel ekonomi dan kepadatan penduduk untuk menentukan target pengguna yaitu menengah keatas. Kategori pengguna proyek adalah komunitas independent living, yaitu orang dewasa yang lebih tua berusia 55 tahun ke atas. Menurut WHO, salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas hidup manusia dalam proses penuaan adalah lingkungan fisik. Desain bangunan dapat berperan dalam meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan hidup lansia. Konsep desain biofilik diaplikasikan dalam proyek dengan dasar kajian dari 14 patterns of biophilic (Terrapin, 2014) dan the practice of biophilic design (Kellert, 2015), yang diwujudkan pada tapak dan massa bangunan.
LOKA: RUMPUN TERINTEGRASI KULTUR DAN AGRARI Ruth Chan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12435

Abstract

The world already knows Bangka Belitung as the second largest producer of tin in the world with the best tin quality. However, the post-tin mining area is dominated by tailings and pits which have physical and chemical characteristics of the soil, as well as poor microclimate conditions. The existence of rampant tin mining also leaves economic, social and ecological problems among the people of Bangka. Using qualitative research methods by paying attention to the design quality of the collage method, Loka: Cluster Integrated Culture and Agrarian is an area for local people to gather, work, and play. This project aims to be able to bring back the human admiration for nature and buildings as if helping nature to take over what was originally hers. This area acts as a medium to restore social, economic and ecological conditions that were affected during the tin mining. This area is expected to revive the dynamics and vitality of the region. Keywords: ecology; economic; revive; social; tin AbstrakDunia sudah mengenal Bangka Belitung sebagai penghasil timah terbanyak kedua di dunia dengan kualitas timah terbaik. Namun, lahan pasca tambang timah didominasi oleh hamparan tailing dan kolong yang memiliki karakteristik fisika dan kimia tanah, serta kondisi iklim mikro yang buruk. Adanya pertambangan timah yang merajalela juga menyisakan permasalahan secara ekonomi, sosial dan ekologi ditengah masyarakat Bangka. Menggunakan metode penelitian kualitatif dengan memperhatikan kualitas desain dari metode kolase, Loka: Rumpun Terintegrasi Kultur dan Agrari adalah sebuah kawasan untuk masyarakat local sendiri berkumpul, bekerja, dan bermain. Proyek ini bertujuan untuk dapat memunculkan kembali rasa kagum manusia terhadap alam dan bangunan seakan membantu alam untuk mengambil alih apa yang semula miliknya. Kawasan ini berlaku sebagai medium untuk memulihkan keadaan sosial, ekonomi dan ekologi yang terdampak selama adanya pertambangan timah. Kawasan ini diharapkan dapat menghidupkan kembali kedinamisan dan vitalitas daerah.
STUDI INTEGRASI MODA ANGKUTAN UMUM (STUDI KASUS : STASIUN GARUT BARU, KECAMATAN GARUT KOTA, KABUPATEN GARUT) Bella Syafira; Suryono Herlambang; Parino Rahardjo
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12854

Abstract

Transportation is work on to run with effectively, capacity and quality to serve various hub in an area, and transportation can also be used as an element for regional development. Effectively means achieving the planned targets, capacity means having good facilities for adequate facilities and infrastructure, and quality means being able to provide transportation services that are smooth (fast), safe, cheap and comfortable. Mass transportation can also have a great influence, one of which can be used to become a driving force for the economic and tourism sectors in a area and region. Transportation consists of 2 components, it was a facilities and infrastructure, transportation facilities used to transport the passengers such as bus, trains, cars and motorcycles. Meanwhile, transportation infrastructure is a supporting component of transportation facilities such as roads, toll roads, terminals, stations and ports. Some important elements of transportation that used for integrating some hub in an area are the vehicle (vehicles or modes of transportation), the way (road and routes), the terminal (terminals, bus stops and stations) and the passanger. In a transportation system, if there one element is not in a good condition, then each activity center in an area will not be well integrated. Keywords:, economic and tourism sectors; integration;  regional development; stakeholder; transportationAbstrakTransportasi diusahakan agar dapat berjalan secara efektif, berkapasitas dan berkualitas untuk melayani berbagai pusat kegiatan di sebuah kawasan, dan transportasi juga dapat digunakan sebagai elemen untuk pengembangan wilayah. Efektif berarti mencapai sasaran yang telah direncanakan, berkapasitas berarti memiliki fasilitas yang baik untuk sarana dan prasarana tersedia secara cukup, dan berkualitas berarti dapat memberikan pelayanan jasa transportasi yang lancar (cepat), selamat (aman), murah dan nyaman. Transportasi secara masal juga dapat memiliki pengaruh yang besar, salah satunya dapat digunakan untuk menjadi penggerak untuk sektor perekonomian dan pariwisata di suatu wilayah dan kawasan. Transportasi terdiri dari 2 komponen yaitu sarana dan prasarana, sarana transportasi adalah komponen yang digunakan untuk mengangkut penumpang yang ada seperti bus, kereta api, mobil dan motor. Sedangkan prasarana transportasi merupakan komponen penunjang dari sarana transportasi seperti contohnya jalan raya, jalan tol, terminal, stasiun dan pelabuhan. Beberapa unsur penting transportasi agar dapat saling mengintegrasikan titik penting yang ada adalah the vehicle (kendaraan atau moda transportasi), the way (jaringan jalan dan trayek atau rute), the terminal (terminal, halte dan stasiun) dan the passanger (penumpang).  Dalam sebuah sistem transportasi, jika kondisinya ada yang kurang baik dari keempat unsur di atas maka masing-masing pusat kegiatan yang ada di sebuah kawasan tidak akan terintegrasi dengan baik. 
STUDI ASPEK HUNIAN BERKELANJUTAN PADA RUSUNAWA (OBJEK STUDI : RUSUNAWA RAWA BEBEK) Abraham Marcelino Sihombing; Sylvie Wirawati; I G Oka Sindhu Pribadi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12852

Abstract

Rental Flats is a housing program that is used to solve housing problems. The Jakarta government, has one of its visions, namely the realization of sustainable settlements. It is certain that the purpose of building this flats cannot be separated from the aspects of sustainable housing which combines environmental, social and economic aspects into the development strategy to ensure the integrity of the environment as well as the safety, ability, welfare, and quality of current and future generations. Therefore, the purpose of choose the Rawa Bebek flats as study object is because this is one of the flats that built by Jakarta based on this vision and the purpose of this study is to see the forms of implementation of sustainable aspects that has been doing and evaluate them, so that apart from conducting studies, also can provide suggestions and recommendations on aspects of sustainable housing that need to be improved. The research method used is descriptive qualitative method. The results obtained are that in the application of sustainability aspects, especially in Rawa Bebek flats, environmental aspects are aspects that need to be improved a lot. Because in this aspect the Rawa Bebek flats already has the system, but it has not been running optimally. Meanwhile, the social and economic aspects of Rawa Bebek Rusunawa has been running quite well in their implementation. The Result, Rawa Bebek Flats has implemented many aspects of sustainable housing, although these aspects need to be improved in order to achieve a better sustainable settlement. Keywords: Flats; Sustainable Housing; Sustainable  AbstrakRumah Susun Sewa merupakan program perumahan yang digunakan untuk mengatasi masalah perumahan khususnya di daerah perkotaan. Pemerintah DKI Jakarta dalam pembangunannya, memiliki salah satu visinya yaitu  dapat terwujudnya permukiman yang berkelanjutan. Dipastikan bahwa tujuan dibangunya rusunawa ini tidak lepas dari aspek – aspek hunian berkelanjutan yang dimana memadukan aspek lingkungan hidup, sosial, dan ekonomi kedalam strategi pembangunan untuk menjami keutuhan lingkungan hidup serta keselamatan, kemampuan, kesejahteraan, dan mutu generasi saat ini dan generas masa depan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melakukan studi terhadap Rusunawa Rawa Bebek salah satu rusunawa yang dibangun oleh DKI Jakarta dengan berlandaskan visi tersebut untuk melihat bentuk penerapan – penerapan aspek berkelanjutan yang telah dilakukan dan melakukan evaluasi terhadapnya sehingga selain melakukan studi juga dapat memberikan saran dan rekomendasi terhadap aspek – aspek hunian keberlanjutan yang perlu ditingkatkan. Metode penelitian yang digunakan menggunakan metode kualitatif deskriptif. Hasil penelitian yang didapatkan adalah bahwa dalam penerapan aspek – aspek keberlanjutan khususnya di Rusunawa Rawa Bebek, aspek lingkungan merupakan aspek yang perlu banyak ditingkatkan. Karena pada aspek tersebut Rusunawa Rawa Bebek sudah memiliki sistemnya, tetapi belum berjalan optimal. Sedangkan untuk aspek sosial dan ekonomi Rusunawa Rawa Bebek sudah berjalan cukup baik dalam penerapanya. Dengan hasil ini, Rusunawa Rawa Bebek sudah menerapkan banyak aspek hunian berkelanjutan walaupun berbagai aspek tersebut perlu ditingkatkan agar tercapai suatu permukiman yang berkelanjutan yang lebih baik.
PROGRAM KOEKSISTENSI MANUSIA DENGAN ORANGUTAN BORNEO DI HUTAN LINDUNG SAMBOJA LESTARI, KUTAI KARTANEGARA, KALIMANTAN TIMUR Nadia Erica Hindrakusuma; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12321

Abstract

The increase in human population directly impacts the rise of housing needs, resulting in the expansion of human development to other parts of the planet. At some point, these developments might enter wildlife habitats and conservation areas which could cause harm to conservation efforts and the general livelihood of the people. This phenomenon can be expected to occur in the development of Indonesia’s New Capital in North Penajam Paser and Kutai Kartanegara, East Kalimantan, where one of Indonesia’s endemic and critically endangered species makes their home, the Bornean Orangutans. The idea of this experimental project of human-wildlife coexistence gives hope as dwellings for the ever-growing human population while learning to protect and connect with the Orangutans, which also doubles as an in-situ conservation facility in the sanctuary forest of Samboja Lestari. The design method used is bio-inspired by the Orangutans’ wisdom in the ways of the tropical rainforest. The design produces modular dwelling units for researchers, eco-tourist/volunteers, and students; configured to fulfill the spatial needs for both human and wildlife users. Keywords: Bornean Orangutans; Conservation; Inter-species Coexistence; Modular Dwellings; New Capital. AbstrakBertambahnya jumlah manusia berdampak pada penambahan kebutuhan tempat tinggal, sehingga terjadi ekspansi permukiman manusia ke seluruh penjuru Bumi. Pada satu titik, pembangunan tersebut dapat memasuki ranah habitat dan konservasi satwa liar yang dapat merugikan baik bagi upaya konservasi alam, maupun bagi keberlangsungan kehidupan manusia. Fenomena tersebut dapat diprediksikan terjadi pada rencana pembangunan IKN (Ibu Kota Negara) Indonesia baru di Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, dimana salah satu spesies endemik terancam punah Indonesia berada, yaitu Orangutan Borneo.Usulan proyek eksperimental koeksistensi antar spesies ini diharapkan dapat menjadi dwelling bagi manusia yang kian berkembang untuk belajar melindungi dan memahami Orangutan, dimana proyek ini juga sebagai salah satu fasilitas pendukung upaya konservasi in situ di hutan lindung Samboja Lestari. Metode yang digunakan berupa bio-inspired dari cara hidup Orangutan yang lebih bijak dalam hidup di hutan hujan tropis. Hasil dari desain berupa unit-unit dwelling moduler bagi ilmuwan, eco-tourist/relawan lingkungan, dan pelajar; dikonfigurasikan agar dapat memenuhi kebutuhan ruang baik bagi manusia maupun satwa liar.
OMAH MANGROVE: PENDEKATAN ARSITEKTUR LINGKUNGAN DAN LOKALITAS DALAM PERANCANGAN ECOWISATA MANGROVE DI MUARA ANGKE Matthew Louis; Diah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12362

Abstract

Mangrove forest is one of the habitats and at the same time the holder of an important role in the coastal ecosystem. Mangrove forest itself is home to several types of marine life. Based on forestry data in Indonesia, there are around 3,489,140.68 Ha. The largest mangrove forest is in Sumatra. In Jakarta, there are mangrove forests in North Jakarta, precisely around the Kapuk to Muara Angke areas. The ecosystem area is 291.17 ha with a density level of 272.79 ha (rare) 16.83 ha (medium), 1.54 ha (heavy). In Kapuk Muara there is already a wildlife sanctuary for the mangrove forest in Muara Angke. However, there are still mangrove forests with a damaged category of 272.9 ha and 18.38 ha categorized as undamaged so that they are included in the critical category. This situation is exacerbated by the reclamation activities which have only been partially implemented. Fishermen lose their livelihoods because the bait and  fishing nets are buried by reclaimed land so that the fishing area is reduced. According to his writings on locality theory, Sutanto (2020) states that architecture in its development must utilize sustainable technology. This becomes important in building a new tradition that can provide usefulness to its users. This locality approach is expected to help the fishing communities in Muara Angke deal with their problems. In addition, this study also refers to the environmental architecture method, which respects the environment and local characteristics of the local community that make up the Muara Angke area. The purpose of the study is to produce a concept of structuring a mangrove restoration area, as well as to improve the welfare of fishermen in that location. Keywords: Environmental Architecture ; Locality ; Ecotourism,; Mangroves AbstrakHutan mangrove merupakan salah satu habitat dan sekaligus pemegang peranan penting dalam ekosistem pantai. Hutan mangrove sendiri merupakan rumah bagi beberapa jenis biota laut. Berdasarkan data kehutanan di Indonesia terdapat sekitar 3.489.140,68 Ha. Hutan mangrove terbesar terdapat di wilayah Sumatera. Di Jakarta Hutan mangrove terdapat di Jakarta Utara tepatnya di sekitar daerah Kapuk hingga Muara Angke. Luasan ekosistem 291.17 ha dengan tingkat kerapatan sebesar 272,79 ha (jarang) 16,83 ha (sedang) , 1,54 ha (lebat). Di Kapuk Muara sudah terdapat suaka margasatwa untuk hutan mangrove yang berada di Muara Angke. Namun meski demikian masih terdapat hutan mangrove dengan kategori rusak sebesar 272,9 ha dan 18,38 ha terkategori tidak rusak sehingga termasuk ke dalam kategori kritis. Keadaan ini diperburuk dengan kegiatan reklamasi yang baru berjalan sebagian sebagian. Nelayan kehilangan mata penchariannya dikarenakan umpan dan jaring nelayan tertimbun oleh urukan tanah reklamasi sehingga wilayak penangkapan ikan menjadi berkurang. Menurut tulisannya tentang teori lokalitas, Sutanto (2020) menyatakan bahwa arsitektur dalam perkembangannya harus memanfaatkan teknologi yang berkelanjutan. Hal ini menjadi  penting  dalam membangun  sebuah  tradisi baru yang dapat memberikan kegunaan terhadap penggunanya. Pendekatan lokalitas ini diharapkan dapat membantu masyarakat nelayan di Muara Angke menghadapi permasalahan mereka. Selain itu studi ini juga mengacu pada metode  enviromental architecture, yang menghargai lingkungan dan ciri lokalitas masyarakat setempat yang membentuk kawasan Muara Angke. Tujuan studi adalah menghasilkan konsep penataan area restorasi mangrove, sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan nelayan di lokasi tersebut.

Page 67 of 134 | Total Record : 1332