cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
MUSEUM BIOTA LAUT SUNDA KELAPA Alfin Aditya; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12431

Abstract

As a result of very rapid technological advances in this day and age, the ecosystem of life on earth is disrupted. Not only on land, there is damage to ecosystems in the sea, especially those caused by human activities that make the sea a place for waste disposal, both in the form of garbage and industry. The disruption of the ecosystem causes the life of marine biota to be preserved and educated to the public. One way to overcome the marine biota ecosystem caused by the lack of public awareness of the life of the marine biota is through education combined with tourism or seaside recreation. The issue of going beyond ecology to architecture for goodness and life as the theme of Stupa 8, provides ideas on how architecture can play a role in helping to maintain the ecosystem of life in the sea. As an effort to answer how architecture can play a role in community life, from the issues raised, an approach is used using contextual design methods. This method is used so that there is a context of marine life in the Sunda Kelapa environment which is the location of the site. Contextual is used as a design method by taking into account existing activities and the history of the existence of the Sunda Kelapa port and the existence of the first aquarium in Jakarta. With the presence of a marine biota museum that will be designed in the Sunda Kelapa Harbor area, it will complement the existence of a maritime museum, a hexagonal market as a means of tourism and community recreation. By utilizing multi-media technology in demonstrating museum materials and the existence of an aquarium, it is hoped that it can attract people to want to visit the museum. And especially can play a role in educating the public to be more concerned about marine life that is increasingly polluted. Keywords: Technology Advancement; Beyond Ecology; History and Culture; Plastic waste Pollution AbstrakKemajuan teknologi yang sangat pesat pada zaman sekarang ini, membuat ekosistem kehidupan di bumi menjadi terganggu. Bukan hanya di darat saja terjadi kerusakan ekosistem di laut pun terutama yang disebabkan oleh ulah manusis yang menjadikan laut sebagai tempat pembuangan kotoran baik berupa sampah maupun industri. Salah satu cara mengatasi ekosistem biota laut yang disebabkan oleh kurangnya kesadaran masyarakat terhadap kehidupan biota di laut adalah melalui edukasi yang digabungkan dengan wisata atau rekreasi tepi laut. Isu melampaui ekologi menuju arsitektur untuk kebaikan dan kehidupan sebagai tema soal Stupa 8, memberikan pemikiran bagaimana arsitektur dapat ikut berperan dalam menjaga ekosistem kehidupan di laut. Dalam menjawab peran arsitektur dapat dalam kehidupan di masyarakat, berdasarkan isu dilakukan pendekatan yang menggunakan metode perancangan kontekstual. Metode ini digunakan agar terjadi konteks dari kehidupan biota laut terhadap lingkungan Sunda Kelapa yang menjadi lokasi tapak. Kontekstual yang dijadikan metode perancangan dengan memperhatikan kegiatan yang sudah ada serta sejarah keberadaan Pelabuhan Sunda Kelapa serta pernah adanya aquarium pertama di   Jakarta. Kehadiran museum biota laut di area Pelabuhan Sunda Kelapa ini, akan melengkapi keberadaan museum bahari, pasar hexagonal sebagai sarana wisata dan rekreasi masyarakat di kawasan kota tua. Dengan memanfaatkan teknologi multi media dalam peragaan materi museum serta adanya aquarium diharapkan dapat menjadi daya tarik masyarakat untuk ingin berkunjung ke museum. Dan terutama dapat berperan mengedukasi masyarakat agar lebih peduli terhadap kehidupan laut yang semakin tercemar.
FLYING FOX TECHNOSPHERE: WISATA DAN PENANGKARAN KELELAWAR DI TAPANGO, SULAWESI BARAT Julius Julius; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12315

Abstract

Humans with all the advancements in science and technology, facilitate all kinds of processes in various kinds of activities. The comfort provided has had a profound impact since the days of the industrial revolution. But with all the damage, there are also many impacts caused by this development. Environmental pollution and unpredictable climate change are global problems facing the world. Some of the main causes are pollution generated from various industries and transportation. This causes disruption of environmental ecosystems and other living things. Indonesia consists of many islands with various uniqueness in it, ranging from language, culture, and living things in it. One of the living things that are threatened with extinction due to environmental changes and the actions of liar hunters are bats. Fruit bats or Flying Fox are endemic animals to Sulawesi that have various important roles in the environment behind the bad perception of humans towards these creatures. The presence of bats in plantation and forest areas can improve fruit quality because of its role as cross-pollinating agents. This bat with the Latin name Acerodon Celebensysis is only found in the Sulawesi archipelago and lives side by side with the community and has a relationship with local culture. However, the bad perception of bats that have a bad impact on health and also the hunting of liars by the community to be used as food has caused the population to decline. An approach is needed to help this endemic animal population and also increase people's insight to get to know Kalong and rectify bad perceptions about this endemic animal of Sulawesi. Keywords:  acerodon celebensys; bad perception; fruit bats; pollution; population. AbstrakManusia dengan segala kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, memudahkan segala macam proses dalam berbagai macam kegiatan. Kemudahan yang diberikan ini memiliki dampak yang sangat besar sejak zaman revolusi industri. Namun dengan segala kemudahannya, banyak juga dampak negatif yang dihasilkan dari perkembangan ini hingga mengakibatkan kerusakan ekosistem yang mempengaruhi keseimbangan dalam lingkungan. Salah satu makhluk hidup yang terancam punah akibat perubahan lingkungan, dan tindakan perburuan liar adalah Kalong yang merupakan hewan endemik kepulauan Sulawesi. Untuk mengurangi dan meminimalisir tindakan manusia yang merusak alam, perlu pendekatan dalam penyampaian informasi mengenai pentingnya kehidupan sesama makhluk hidup. Metode yang digunakan adalah pendekatan persepsi yang menggunakan media spasial sebagai bentuk pennyampain informasi. Metode ini diterapkan dalam elemen-elemen pembentuk ruang untuk mencirikan kehidupan Kalong seperti material yang digunakan dalam penyusunan ruang dan tata ruang yang digunakan. Tujuan dari metode ini adalah untuk membuka pemikiran manusia dalam memandang kehidupan makhluk hidup lain serta menyampaikan informasi mengenai peranan makhluk hidup lain dalam ekosistem. Kalong sendiri dipandang oleh masyarakat sebagai hewan pembawa penyakit, sedangkan perannan dari kalong sendiri adalah membantu pelestarian kehidupan hutan. Hasil dari metode ini adalah pembentukan massa bangunan yang mengambil pola dasar pergerakan kelelawar dalam satu ruang sebagai bentuk dari massa bangunan, kemudian menggunakan material penyusun ruang dengan bahan-bahan yang berasal dari habitat kelelawar serta program wisata penangkaran yang bertujuan untuk membantu Kalong sulawesi agar tidak punah dengan cara memelihara dan mengembangbiakannya.
PEMAKAMAN MASA DEPAN RAMAH LINGKUNGAN DI CISAUK Gregorius Agung Dwinurcahyo; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12451

Abstract

This human cannot be separated from 2 important events in their lives, namely birth and death, in the end, all living things will die and be born at their respective times. The problem is the high rate of population growth in big cities which is not aligned with the provision of burial grounds. Land for burial is needed all the time, but the vacant land is impossible to increase, resulting in the increasing shortage of burial land that occurs in the community. Eco-Cemetery for the Future by incorporating ecology into the design aims to make the cemetery an open space for safe and comfortable public facilities, control and use of land that can be carried out in a planned, directed, effective and efficient manner, designing an environmentally friendly cemetery by a small negative impact on the environment, and human life in the future. Keywords: Cemetery; Environmentally friendly; Open Space; Sustainable AbstrakManusia tidak lepas dari 2 kejadian penting dalam kehidupannya yaitu kelahiran dan kematian, pada akhirnya semua makhluk hidup akan meninggal dan lahir pada waktunya masing-masing yang akan menjadi masalah adalah tingginya tingkat pertumbuhan penduduk di kota-kota besar yang tidak diselaraskan dengan penyediaan lahan pemakaman. Lahan untuk pemakaman yang terus dibutuhkan setiap saat, tetapi lahan kosong yang tidak mungkin bertambah, mengakibatkan semakin tingginya kekurangan lahan pemakaman yang terjadi di masyarakat. Eco-Cemetery for the Future dengan memasukan ekologi ke dalam desain, bertujuan untuk menjadikan pemakaman sebagai ruang terbuka untuk sarana umum yang aman dan nyaman, pengendalian dan pemanfaatan lahan yang dapat dilakukan secara terencana, terarah, efektif dan efisien, merancang pemakaman yang ramah lingkungan dengan dampak negatif yang kecil terhadap lingkungan, dan kehidupan manusia di masa depan.
“UNZOO”: TAMAN SATWA DI KUTAI KARTANEGARA, KALIMANTAN TIMUR Jessie Tineshia Ng; Denny Husin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12417

Abstract

Extensive deforestation in Kalimantan caused by mining, mining is often abandoned when it is no longer useful. This causes animals to lose their natural habitat. It also affects the surrounding population. One of the affected species is the Bornean Orangutan (Pongo pygmaeus), which is in decline and threatened with extinction. Bornean Orangutan (Pongo pygmaeus) is only scattered in several points on the island of Borneo. If humans continuously destroy their habitat, the remaining places for orangutans and other animals are only in the protected areas. Therefore, this project aims to turn the ex-mining land into a protected animal park for orangutans and other animals. The existing type of animals are in prison (cage) and use as a show or object on display, not as a habitat for the animal. Using experimental architectural methods that focus on site transformation, the Immersion landscape elevates the concept of “unzoo” to offer a better environment for animals in the future. Animal parks are a public place to get education about animals (fauna), plants (flora), and ecosystems (environment) through direct interaction in the created habitats. By applying the concept of Unzoo and Immersion Landscape, we create an animal park not only for the benefit of humans but resembles the habitat of orangutans and other animals. Visitors can feel and get knowledge in the original habitat of these animals without being directly in their natural habitat. Keywords: animals park; habitat; Immersion Landscape; unzoo.AbstrakFenomena meluasnya deforestasi di Kalimantan yang dijadikan lahan pertambangan, masalahnya lahan pertambang sering kali ditinggal begitu saja jika sudah tidak menghasilkan. Masalah ini membuat satwa kehilangan rumah (habitat), selain itu juga mempengaruhi populasi satwa-satwa yang tinggal didalamnya. Salah satu spesies satwa yang terdampak adalah orang utan Borneo (Pongo pygmaeus), tidak hanya berkurang tetapi terancam punah. Spesies orang utan Borneo (Pongo pygmaeus) ini hanya tersebar dibeberapa titik pulau Borneo. Tempat tersisa bagi orang utan dan satwa lainnya hanya di area yang dilindungi jika habitatnya terus-menerus dirusak manusia. Tujuan proyek ini ingin mengembalikan lahan bekas pertambang menjadi taman satwa yang dilindungi (habitat buatan) untuk orang utan dan satwa lainnya. Tipe taman satwa eksisting kerap memperlakukan satwa seperti berada di dalam penjara (kandang) dan menjadikannya sebuah pertunjukan atau benda yang dipamerkan, bukan selayaknya sebagai habitat dari satwa itu sendiri. Menggunakan metode arsitektur eksperimental yang berfokus pada transformasi tapak, Immesion landscape mengangkat konsep unzoo untuk menawarkan lingkungan yang lebih baik untuk satwa di masa depan. Menjadikan taman satwa tempat publik untuk mendapatkan edukasi tentang satwa (fauna), tumbuhan (flora), dan ekosistem (lingkungan) melalui interaksi dengan secara lansung di habitat yang diciptakan. Dengan menerapkan konsep Unzoo dan Immersion Landscape membuat taman satwa bukanlah sekedar untuk kepentingan manusia tetapi menyerupai habitat orang utan dan satwa lainnya. Pengunjung dapat merasakan dan mendapatkan edukasi dihabitat asli satwa tersebut tanpa secara lansung berada di habitat aslinya.  
PUSAT BUDAYA PALEMBANG DI 13 ILIR, SUMATERA SELATAN Febian Pratama
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12383

Abstract

In terms of beyond ecology, by looking at the culture ecology side. Indonesia is an archipelagic country that has the wealth and diversity of the archipelago’s culture which is an attraction in itself in the eyes of the world. However, the current cultural conditions are starting to be abandoned by some Indonesian people, which may not be separated from the times and technology as well as the entry of foreign cultural influences. For example the Palembang city, which is the capital city of South Sumatra as the center of government, recreation, cultural, and trade center. Culture in the region becomes an important role in it that should not be lost. So the site is located in Palembang close to the Musi River. The younger generation must play an important role in preserving the diversity of culture and local architecture that Indonesia has. Palembang itself does not yet have a place to accommodate the existing culture. So the project is designed based on cultural functions by creating a cultural center that is believed to be very important for the community and the nation’s successors in order to keep a culture that exists in Palembang based on beyond ecology. Keywords: Cultural; Culture; Palembang; Younger generation AbstrakDalam persoalan ekologi melampaui, dengan melihat pada sisi ekologi budaya. Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki kekayaan dan keragaman budaya nusantara yang menjadikannya sebuah daya tarik sendiri di mata dunia. Namun kondisi kebudayaan yang ada saat ini mulai ditinggalkan oleh sebagian masyarakat Indonesia yang mungkin tidak terlepas dari perkembangan zaman dan teknologi serta masuknya pengaruh budaya luar. Misalnya kota Palembang, dimana sebagai ibukota Provinsi Sumatera Selatan yang merupakan pusat pemerintahan, pusat rekreasi, pusat permukiman, pusat perdagangan dan pusat kebudayaan. Kebudayaan di wilayah tersebut menjadi peran penting didalamnya yang seharusnya tidak hilang. Sehingga pemilihan tapak berlokasi di Palembang  yang berdekatan dengan Sungai Musi. Generasi muda seharusnya menjadi peran penting dalam menjaga kelestarian keanekaragaman budaya dan arsitektur lokal yang dimiliki Indonesia. Mengingat bahwa di Palembang itu sendiri belum memiliki sebuah wadah untuk menampung kebudayaan yang ada. Sehingga proyek ini dirancang berbasis pada fungsi kultural dengan membuat sebuah pusat budaya yang diyakinkan menjadi sangat penting bagi masyarakat maupun penerus bangsa agar tetap dapat melestarikan sebuah kultural yang ada di Palembang dalam konteks ekologi melampaui.
STASIUN SINGGAH SEMANAN INDAH SEBAGAI FASILITAS PENINGKATAN WELLNESS Greselda Ruby; Andi Surya Kurnia
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8464

Abstract

Mobility of commuters is one of the factors that causing Jakarta's population density increases. Most of Jakarta residents and commuters spend time with routine activities such as work and study so they do not have free time to create a healthy lifestyle such as exercise and relaxation. This third place project is a facility to improve healthy life and as a layover place because it is supported by its location that is directly related to Jakarta mobility and activities center, named Rawa Buaya commuter train station which is directly connected with office activities. The facilities involve activities to fulfill human physiological needs (Abraham Maslow (1908-1970) in Asmadi (2008:18)) which includes rest, eating, exercise, and relaxation. Thus, the programs that use in the project is to increase physical wellness such as indoor and outdoor sleeping capsules, and food court; mental wellness such as yoga, meditation, zumba, spa, and sauna classes; and social wellness such as game stations, outdoor waiting areas, and charging stations. The design of the thrid place project uses the responses to site approach by considering the orientation to the location of the site at the corner of the road, pedestrian access, and the neighborhood or surrounding buildings. The method is used in forming building masses that pay attention to orientation and natural light, determine the main pedestrian access in the site, place programs near the surrounding functions, and make programs on the ground floor for the public. Keywords: mobility; respond to site; wellness AbstrakMobilitas komuter menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kepadatan penduduk Jakarta semakin meningkat. Sebagian besar penduduk dan komuter Jakarta menghabiskan waktu dengan aktivitas rutin seperti bekerja dan belajar sehingga tidak mempunyai waktu luang untuk mewujudkan gaya hidup sehat seperti berolahraga dan berelaksasi. Proyek third place ini menjadi fasilitas peningkatan hidup sehat sekaligus tempat singgah karena didukung dengan lokasi yang berhubungan langsung dengan pusat mobilitas dan aktivitas masyarakat Jakarta yaitu stasiun kereta komuter Rawa Buaya yang terhubung langsung dengan aktivitas perkantoran. Fasilitas tersebut menyangkut kegiatan pemenuhan kebutuhan fisiologis manusia (Abraham Maslow (1908-1970) dalam Asmadi (2008:18)) yang meliputi kegiatan istirahat, makan, olahraga, dan relaksasi. Dengan demikian, program yang diangkat berupa peningkatan physical wellness seperti kapsul tidur indoor dan outdoor, serta food court; mental wellness seperti kelas yoga, meditasi, zumba, spa, dan sauna; serta social wellness seperti game station, outdoor waiting area, dan charging station. Perancangan proyek thrid place ini menggunakan pendekatan responses to site dengan mempertimbangkan orientasi terhadap lokasi tapak di sudut jalan, akses pedestrian, dan neighborhood atau bangunan sekitar.  Metode tersebut digunakan dalam membentuk massa bangunan yang menyesuaikan orientasi dan memperhatikan cahaya alami, menentukan akses utama pedestrian di dalam tapak, meletakkan program-program sesuai dengan fungsi sekitar, dan membuat program di lantai dasar sebagai program bersama.
RUANG PEMBERDAYAAN KAUM IBU MUARA ANGKE SEBAGAI TEMPAT KETIGA Joshua Ervin Novaldi; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8648

Abstract

Jakarta as the capital of the country has changed for many years. Every change that occurs is influenced by problems that are in each region. This unites the uniqueness of each region by solving different problems. From this uniqueness, it makes every region in Jakarta has its sector, such as offices, housing, industry, and others. Although there are many sectors in Jakarta with the same function, the problems that occur are not necessarily the same that depends on the people in them. Coupled with the distribution of people coming and going to Jakarta which is quite large, adding to the variable of each problem area is solved. The Muara Angke region, Penjaringan, Pluit is a fishing and housing industry area that is visited by many visitors a day. The majority of the Muara Angke community are fishermen, but because of the times, many have left the fishing work and turned to office workers. With the level of which is relatively low, office work is difficult. The main objective of solving problems in each region is to increase the income of the community. Muara Angke with its fishing and marine products industry has not been maximized to make its people prosperous because there are still many fishermen who depend on boat charterers who make their income reduced. From the results of studies of empowerment of mothers in Muara Angke can maximize the natural resources obtained from the community. Placement of mothers becomes the midpoint of solving the Muara Angke problem through the third room is expected to be able to boost the quality of life of the people of Muara Angke with the area of gathering and working. The establishment of this third space is supported and based on PermenKP law number 28 in 2016, PermenKP number 51 in 2016, KepmenKP number 67 in 2016 which contains gender-responsive activities. Keywords: Gender; Life Quality; Public Space; Sea Resources AbstrakJakarta sebagai ibu kota negara selama bertahun-tahun banyak mengalami perubahan. Setiap perubahan dipengaruhi oleh masalah yang ada di setiap wilayahnya. Hal ini memunculkan keunikan setiap wilayah dengan penyelesaian masalah yang berbeda-beda. Keunikan ini menjadikan setiap wilayah mempunyai sektor masing-masing seperti wilayah perkantoran, perumahan, industri, dan lain-lain. Walaupun banyak sektor di Jakarta dengan fungsi yang sama, masalah yang terjadi belum tentu sama, bergantung kepada masyarakat di dalamnya. Ditambah dengan persebaran penduduk datang dan pergi Jakarta yang terbilang cukup besar, menambah variabel dari setiap masalah wilayah yang diselesaikan. Muara Angke, Penjaringan, Pluit merupakan wilayah industri perikanan dan perumahan yang didatangi banyak pengunjung perharinya. Mayoritas nelayan, akan tetapi perkembangan zaman merubah pekerjaan nelayan dan beralih ke pekerja kantoran, namun pekerjaanan ini menjadi hal sulit, mengingat tingkat pendidikan di Muara Angke terbilang rendah. Tujuan utama dari penyelesaian masalah setiap wilayah adalah untuk peningkatan pendapatan masyarakatnya. Muara Angke dengan industri perikanan dan hasil lautnya belum maksimal untuk membuat masyarakatnya hidup sejahtera karena masih banyak nelayan yang bergantung kepada penyewa kapal yang membuat pendapatan mereka berkurang. Pemberdayaan kaum ibu di Muara Angke bisa memaksimalkan sumber daya alam yang didapat. Penempatan kaum ibu menjadi titik tengah dari penyelesaian masalah Muara Angke melalui ruang ketiga, diharapkan dapat mendongkrak kualitas hidup masyarakat dengan adanya area berkumpul dan bekerja. Pembentukan ruang ketiga ini didukung dan didasarkan oleh undang-undang PermenKP nomor 28 tahun 2016, PermenKP nomor 51 tahun 2016, KepmenKP nomor 67 tahun 2016 yang berisikan tentang kegiatan responsif gender. 
PUSAT INTEGRASI AGRIKULTUR DI BUMI SERPONG DAMAI Yunior Dharma Aryindra; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4463

Abstract

The government has the idea to develop a Modern Agricultural Zone in BSD (Bumi Serpong Damai) covering an area of 36ha which can support for 700ha of agricultural land around the area. We need a place where producers, consumers and the public can gather together to explore, develop and share experiences in the food production system in urban area. This will be great first movement for the next greater movement so that agriculture can merge into city-life and become a daily life for the urban community. Agricultural Hub in BSD has potentiallity to reduce barriers between consumers and producers which usually take long times cyclus because production activies are carried in the villages and sales in urban areas, but with this Agricultral Hub we can break the long chain so it can create a sustainable and efficient cyclus. Because this building located in the middle of the city, it provides direct education for the urban community about agriculture and the renewal and development of agricultural technologies. Agricultural Hub in Bumi Serpong Damai operates with a number of main programs whose serving and providing all cyclus of the food production process to reach consumers. Starting from production, process, cooking to sales available in here, plus there are research facilities and offices for young start-ups who want to enter the world of agriculture. Located in the CBD (Central Business District) of BSD and directly adjacent to agricultural land makes Agricultural Hub in Bumi Serpong Damai a connector between urban areas and agricultural land, which make benefit to the areas. AbstrakPemerintah memiliki gagasan untuk mengembangkan Kawasan Pertanian Modern di BSD (Bumi Serpong Damai) seluas 36 Ha yang dapat memberikan dukungan terhadap lahan pertanian seluas 700 Ha di sekitar kawasan tersebut. Oleh karena itu, dibutuhkan wadah produsen kota. Pusat Integrasi Agrikultur memiliki potensi dirancang untuk mengurangi hambatan antara konsumen dan produsen yang biasanya berlangsung secara berjenjang dan panjang namun dengan adanya pusat ini dapat memutuskan rantai tersebut sehingga dapat menciptakan iklim yang berkelanjutan dan efisien. Serta dengan letaknya yang berada di tengah kota memberikan edukasi secara langsung bagi masyarakat kota mengenai apa itu pertanian serta pembaharuan dan pengembangan teknologi-teknologi pertanian. Pusat Integrasi Agrikultur di Bumi Serpong Damai beroperasi dengan beberapa program utama yang sifatnya melayani dan menyediakan semua  tahapan proses produksi pangan hingga sampai ke tangan konsumen. Dimulai dari produksi, proses, memasak hingga penjualan tersedia disini ditambah dengan adanya fasilitas riset dan kantor bagi start-up muda yang ingin masuk ke dalam dunia agrikultur juga tersedia di sini. Dengan lokasi yang berada di kawasan CBD (Central Business District) BSD serta berbatasan langsung dengan lahan pertanian menjadikan Pusat Integrasi Agrikultur sebagai konektor antara kawasan perkotaan dan lahan pertanian, yang tidak memutus tetapi menyambungkan antar keduanya.
PENDEKATAN NARASI ARSITEKTUR PADA WADAH KOMUNITAS ANAK JALANAN Eva Megaretta; Rudy Trisno
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10782

Abstract

Related to the theme of the future of living based on today, this research has a question about the problem that is the basis for today from 20 years ago to the present. This question can be related to the problem of the high rate of population growth in big cities which is not aligned with increasing social welfare, resulting in higher social inequality in society. Therefore, the term PMKS or people with social welfare problems emerged. This is of course related to words such as marginal, vulnerable, and exploitative, which are very appropriate terms to describe the conditions of the life of PMKS. In this case, most PMKS are based on the age point of 6-18 years according to data from the RI social welfare which is classified as street children. Outcast are children who are psychologically helpless, children who at some level do not have enough mentally and emotionally strong, while they have to deal with harsh street life and tend to have a negative effect on the development of their behavior and the formation of their personality coupled with a family background that has economic problems. Their existence is often seen and disturbs people in big cities in Indonesia. one of them is in the city of DKI Jakarta. In essence, all living things need a place to take shelter where they get protection from various threats, but they also feel safe and comfortable in a place (space). Is it possible that spaces with activities that encourage outcast to be independent will be formed so that they can reduce the social problems of outcast that exist today to create an independent dwell for them in the future?Keywords: dwelling; outcast; social welfare. Abstrak Terkait dengan tema soal masa depan berhuni berbasis hari ini, penelitian ini mempunyai pertanyaan akan masalah yang menjadi dasar sampai hari ini dari jangkauan waktu 20 tahun silam sampai dengan saat ini. Pertanyaan terebut dapat dikaitkan dengan masalah pada tingginya tingkat pertumbuhan penduduk di kota-kota besar yang tidak diselaraskan dengan meningkatnya kesejahteraan sosial, mengakibatkan semakin tingginya ketimpangan sosial yang terjadi di masyarakat. Maka dari itu muncul istilah PMKS atau penyandang masalah kesejahteraan sosial. Hal ini tentunya berkaitan dengan kata-kata seperti marginal, rentan, dan eksploitatif yang merupakan istilah yang sangat tepat untuk menggambarkan kondisi dari kehidupan PMKS. Dalam hal ini PMKS terbanyak berdasarkan segi usia 6-18 tahun menurut data dari kesejahteraan sosial RI yang tergolong sebagai anak jalanan. Anak jalanan adalah anak yang tidak berdaya secara psikologis, anak yang pada suatu taraf tertentu belum memiliki cukup mental dan emosional yang kuat, sementara mereka harus bergelut dengan kehidupan jalanan yang keras dan cenderung berpengaruh negatif bagi perkembangan prilaku dan pembentukan kepribadian mereka. ditambah lagi dengan latar belakang keluarga yang mempunyai masalah-masalah ekonomi. Keberadaan mereka sering terlihat dan menganggu masyarakat di kota-kota besar di Indonesia. salah satu nya di kota DKI Jakarta. Pada Hakikatnya semua makhluk hidup memerlukan wadah untuk bernaung dimana mereka mendapatkan perlindungan dari berbagai ancaman, namun mereka juga merasakan aman dan nyaman pada sebuah tempat (space). Mungkinkah ruang-ruang dengan aktivitas yang mendorong anak jalanan untuk mandiri akan terbentuk sehingga dapat meredahkan permasalahan sosial anak jalanan yang ada saat ini untuk terciptanya sebuah dwell yang mandiri untuk mereka di masa depan?
SEKOLAH DASAR ABAD-21 DENGAN METODE BAHASA POLA DAN METAFORA DALAM PENCIPTAAN RUANG BELAJAR KREATIF DI KELAPA GADING Natasha Kurnia Tishani; Rudy Trisno
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10760

Abstract

The advancement of technology in the world is marked by the industrial revolution event. Indonesia has entered the era of the industrial revolution 4.0. This incident affects the way society dwell, slowly our lives have been dominated by technology and it is possible that in the future humans will be replaced by robots. We must developing soft skills that cannot be replaced by robots through our education. Indonesia’s education itself does not prepare the next generation to deal with this event. Starting from outdated curriculum,  teachers who are afraid to explore in teaching to school buildings that still adhere to the school system in the 19th century. The study of the discussion is how human dwell in the future in this case is to study, namely primary school buildings, which can accommodate teaching and learning activities with a curriculum that suits future needs. The design method used is in form of design stages, starting from Area Analysis; Investigation of selected sites; Proposed Program;  Design Analysis: Composition of mass and the concept of mass of buildings using the Metaphor Method; Project Zoning; Application of Pattern Language Methods and Structure and Building Materials. The result of this research is an elementary school architectural building that accmodate 21st century learning. Keywords:  creativity; education; metaphorical architecture; pattern langugae;primary school  Abstrak Kemajuan teknologi didunia ditandai dengan adanya peristiwa revolusi industri. Indonesia telah memasuki era revolusi industri 4.0. Peristiwa ini memengaruhi cara masyarakat berhuni, secara perlahan kehidupan kita telah didominasi dengan teknologi dan tidak menutup kemungkinan dimasa depan manusia akan digantikan dengan robot. Lalu, bagaimana kita sebagai manusia menghadapi ini ? yaitu mengembangkan softskill yang tidak bisa digantikan oleh robot melalui pendidikan kita. Pendidikan Indonesia tidak menyiapkan generasi selanjutnya untuk menghadapi perisitiwa ini. Berawal dari kurikulum yang sudah usang, lalu para guru yang takut untuk bereksplorasi dalam mengajar hingga bangunan sekolah yang masih menganut sistem sekolah di abad-19. Lingkup pembahasan laporan ini adalah bagaimana wadah berhuni manusia dimasa depan yaitu kegiatan menuntut ilmu, yaitu bangunan sekolah dasar, yang dapat mewadahi kegiatan pembelajaran dengan kurikulum masa depan. Metode perancangan yang digunakan adalah; a) Analisis Kawasan; b) Investigasi tapak terpilih; c) Usulan program; d) Analisis Perancangan : Gubahan massa dan Konsep Massa bangunan dengan Metode Arsitektur Metafora; d) Penzoningan Pada Proyek; e) Penerapan Metode Bahasa Pola dan f) Struktur dan Material Bangunan. Hasil akhir dari penelitian ini berupa bangunan arsitektur sekolah dasar yang mewadahi kegiatan pembelajaran abad-21.

Page 69 of 134 | Total Record : 1332