cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
KAMPOENG PELANGI: KAMPUNG VERTIKAL UNTUK MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH Alvin Alvin; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12318

Abstract

A worrying symptom and supporting environmental imbalance is high population growth. The existence of population growth makes the need for housing continues to increase, the problem is that the facilities provided by the government and developers can only be reached by the upper middle class, while every resident should have the right to have a place to live, including low-income people (MBR). The culture and traditions of the people of a village that are thick with activities and their lives are fading after the development towards vertical, closed and individualistic dwellings. Kalianyar is the most densely populated area in DKI Jakarta, living in the midst of crowds has become a daily pastime. In addition to the natives, many migrants from outside Jakarta and Java chose Kalianyar, Tambora as their temporary residence. It is undeniable that the population density in Kalianyar creates housing problems and the demand for housing. Therefore, Kampoeng Pelangi is here to make the lives of Kalianyar residents better, more beautiful and harmonious. create a vertical residence with a flexible architectural approach and sustainable development that can reflect, improve and fulfill the needs and life of a village in the Kalianyar Village area. Implementing sustainable living in social, economic, and environmental aspects in the form of a vertical village and applying flexible architecture in the form of space flexibility. Keywords: Flexible; MBR; Population growth; Sustainable Development; Vertical Village Abstrak Gejala yang mengkawatirkan dan mendukung ketidak seimbangan lingkungan hidup adalah pertumbuhan penduduk yang tinggi. Adanya pertumbuhan penduduk membuat kebutuhan akan hunian terus meningkat, permasalahannya fasilitas yang disediakan oleh pemerintah dan pengembang hanya dapat dijangkau oleh kalangan menengah keatas saja, sedangkan seharusnya setiap penduduk memiliki hak untuk memiliki tempat tinggal tak terkecuali masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Kebudayaan dan tradisi masyarakat sebuah kampung yang kental dengan aktivitas dan kehidupannya semakin pudar setelah perkembangan ke arah hunian-hunian yang vertikal, tertutup dan individualistik. Kalianyar merupakan daerah terpadat di DKI Jakarta, hidup di tengah kesesakan sudah jadi lahapan sehari-hari. Selain warga asli, banyak pula pendatang dari luar Jakarta dan Jawa yang memilih Kalianyar, Tambora sebagai wilayah untuk mereka tempati sementara. Tak dipungkiri bahwa kepadatan penduduk di Kalianyar menimbulkan permasalahan-permasalahan hunian dan permintaan rumah tinggal. Maka dari itu, Kampoeng Pelangi hadir untuk membuat hidup warga Kalianyar lebih baik, indah dan harmoni. membuat sebuah hunian vertikal dengan pendekatan arsitektur fleksibel dan pembangunan berkelanjutan yang dapat mencerminkan, meningkatkan dan memenuhi kebutuhan dan kehidupan sebuah kampung di daerah Kelurahan Kalianyar. Menerapkan hidup yang berkelanjutan dalam aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan dalam rupa kampung vertikal serta menerapkan arsitektur fleksibel dalam wujud fleksibilitas ruang.
RENCANA PENGELOLAAN DANAU TAMBING SEBAGAI KAWASAN EKOWISATA Kezia Claudya Labonda; B. Irwan Wipranata; Sylvie Wirawati
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12865

Abstract

Lake Tambing (Rano Kalimpaa) is one of the attractions of Lore Lindu National Park which has the potential to be developed as ecotourism. However, there are still problems related to management, including the facilities available are poorly maintained and not sufficient for the needs of tourists, then internal management that does not have an integrated organizational structure. As a manager, Lore Lindu National Park compiled a master plan for ecotourism development in 2018 which focuses on structuring and building tourism supporting infrastructure. The purpose of this study is to provide a proposed management plan in the implementation of the development plan in order to achieve a developing and sustainable tourist destination area. The literature review used in preparing the proposed management plan is the principle of ecotourism based on Law Number 5 1990 concerning Conservation of Biological Natural Resources and Their Ecosystems which includes conservation, education, economy, satisfaction, and community empowerment. Then also aspects of tourism management which consists of several components including organization, management, human resources, facilities and infrastructure, tourist attraction and promotion. This study uses various analyzes, namely location analysis, analysis of existing conditions, analysis of physical plans based on ecotourism development plans for the Tambing lake area 2018, analysis of visitor perceptions and preferences, analysis of management system determination, and analysis of management cost plans. While the analytical tools used are descriptive, Likert scale, Cartesian diagrams and benchmarks. The results of this study are the concept of the Tambing Lake Area Management Plan as an Ecotourism Area. Keywords: lake area; ecotourism; conservation; management planAbstrakDanau Tambing (Rano Kalimpaa) merupakan salah satu objek wisata Taman Nasional Lore Lindu yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai ekowisata. Akan tetapi, masih terdapat permasalahan terkait pengelolaan diantaranya fasilitas yang tersedia kurang terawat dan belum mencukupi kebutuhan wisatawan kemudian pengelolaan internal yang belum memiliki struktur organisasi yang terintegrasi. Taman Nasional Lore Lindu telah menyusun rencana induk pengembangan ekowisata pada tahun 2018 yang berfokus pada penataan dan pembangunan sarana prasarna pendukung wisata. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan usulan rencana pengelolaan dalam implementasi rencana pengembangan agar dapat mencapai kawasan destinasi wisata yang berkembang dan berkelanjutan. Adapun kajian literatur yang digunakan dalam penyusunan usulan rencana pengelolaan yaitu prinsip ekowisata berdasarkan Undang Undang Nomor 5 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati Dan Ekosistemnya yang mencakup konservasi, edukasi, ekonomi, kepuasan, pemberdayaan masyarakat. Kemudian juga aspek pengelolaan pariwisata yang terdiri dari beberapa komponen antara lain organisasi, manajemen, sumber daya manusia, sarana dan prasarana, daya tarik wisata dan promosi. Penelitian ini menggunakan berbagai analisis yaitu analisis lokasi, analisis kondisi eksisting, analisis rencana fisik berdasarkan rencana pengembangan ekowisata kawasan danau tambing 2018, analisis persepsi dan preferensi pengunjung, analisis penentuan sistem pengelolaan, dan analisis rencana biaya pengelolaan. Sementara alat analisis yang digunakan yaitu deskriptif, skala likert, diagram kartesius dan benchmark. Hasil dari penelitian ini merupakan konsep Rencana Pengelolaan Kawasan Danau Tambing Sebagai Kawasan Ekowisata.
PENDEKATAN KONSEP TOD DALAM DESAIN FASILITAS PUSAT TRANSPORTASI PUBLIK DAN RUANG KOMUNAL DI RAWA BUAYA Filip Julianus Sudjana; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12474

Abstract

The population circulation network is an important matter regarding the modes of transportation and mobility of the population owned by a city. If this network is bad, it will lead to decreased access for pedestrians, waste of motor vehicle fuel, and worsening of the level of air quality in the city. The Swamp Crocodile area is an area that has many modes of transportation. However, this mode of transportation is not well organized, creating congestion points in this area. The concept of Transit Oriented Development (TOD) was created as a solution for sustainable urban development in terms of transportation that focuses on circulation and accessibility. The TOD concept is very suitable to be applied to terminals in the city of Jakarta, which have criteria for using TOD-based terminals. This Transit Oriented Development (TOD) area will help people in the city of Jakarta, especially the Rawa Buaya area, West Jakarta to create a pedestrian-friendly mode of transportation that can connect areas in this area. The design method used is based on existing precedents and will take direct examples of user experiences from several successful transportation hubs. This design is expected to increase public interest in using public transportation and help reduce congestion in the city. Keywords: accessibility; transportation hub; transit oriented development; Rawa Buaya Abstrak Jaringan sirkulasi penduduk adalah hal penting yang menyangkut moda transportasi dan mobilitas penduduk yang dimiliki suatu kota. Bila jaringan ini buruk, akan menyebabkan menurunnya akses bagi pejalan kaki, pemborosan bahan bakar kendaraan bermotor, serta memburuknya tingkat kualitas udara dalam kota. Daerah Rawa Buaya merupakan daerah yang terdapat banyak moda transportasi. Tetapi, moda transportasi ini kurang tertata dengan baik sehingga menciptakan titik kemacetan pada kawasan ini. Konsep Transit Oriented Development (TOD) diciptakan sebagai salah satu solusi pembangunan kota yang sustainable dalam hal transportasi yang berfokus pada sirkulasi dan aksesibilitas. Konsep TOD ini sangatlah cocok untuk diterapkan untuk terminal yang ada di kota Jakarta, yang memiliki kriteria untuk menggunakan terminal berbasis TOD. Kawasan Transit Oriented Development (TOD) ini akan membantu masyarakat dalam kota Jakarta khususnya daerah Rawa Buaya, Jakarta Barat untuk menciptakan moda transportasi yang ramah pejalan kaki dan dapat menghubungkan wilayah-wilayah pada kawasan ini. Metode desain yang digunakan berdasarkan preseden yang sudah ada akan mengambil contoh langsung pengalaman pengguna dari beberapa pusat transportasi yang sudah berhasil. Perancangan desain pusat transportasi ini diharapkan dapat meningkatkan minat masyarakat untuk menggunakan transportasi umum dan membantu mengurangi kemacetan dalam kota.
SISTEM NETT ZERO ENERGY BUILDING PADA RUSUNAWA Anisa Yusita Pratama; Rudy Trisno
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12456

Abstract

Every year there is an increase in the number of residents in the city of Jakarta, this causes the use of land for buildings to increase due to an increase in the need for urban space. The high rate of population growth raises the need for very large residential land. This is not balanced with the land area owned by Jakarta. With these limitations triggered and resulted in the number of semi-permanent housing in the city center and some forming slum areas in some places. In addition, pandemic which affects new habits in humans, which makes people more sensitive to health factors in responding to pandemic conditions. One of them is a new phenomenon that occurs in urban communities, such as many who grow crops in their homes, to have a healthy home. This project aims to meet the criteria for a healthy house or settlement for residents and their surroundings and can accommodate new needs in the community, especially for MBR. The method used ecology architecture and net zero building with EDGE app. The final conclusion is that this project is intended to be a healthy, comfortable and safe vertical residence in a limited area. Keywords: Building; Edge; Nzeb; Rusunawa  AbstrakSetiap tahun terjadi peningkatan jumlah penduduk di Kota Jakarta hal ini mengakibatkan penggunaan lahan untuk bangunan semakin meningkat karena terjadi peningkatan kebutuhan ruang kota. Tingginya laju pertumbuhan penduduk menimbulkan kebutuhan lahan permukiman yang sangat besar. Hal ini tidak seimbang dengan luas lahan yang dimiliki Jakarta. Dengan keterbatasan ini memicu dan mengakibatkan banyaknya hunian semi permanen di pusat kota dan sebagian membentuk hunian kumuh di beberapa tempat. Selain itu, dengan terjadinya pandemi mempengaruhi kebiasaan baru pada manusia yang membuat masyarakat lebih peka terhadap faktor kesehatan sebagai respons atas kondisi pandemi. Salah satunya yaitu terdapat fenomena baru yang terjadi di masyarakat kota seperti banyaknya yang bercocok tanam di hunian, untuk memiliki rumah yang sehat. Proyek ini bertujuan untuk memenuhi kriteria rumah atau pemukiman yang sehat untuk penghuni dan sekitarnya serta dapat mengakomodasi kebutuhan akan hunian layak dan terjangkau di masyarakat khususnya untuk MBR. Metode yang digunakan yaitu dengan ekologi dan net zero building dengan bantuan aplikasi EDGE. Kesimpulan akhirnya adalah proyek ini dimaksudkan untuk menjadi hunian vertikal yang sehat, nyaman dan aman di lahan yang terbatas.
RE-FEASIBILITY STUDY PENGEMBANGAN APARTEMEN CISAUK POINT DENGAN METODE SENSITIVITAS UNTUK OPTIMALISASI INVESTASI Dodi Liem; Sylvie Wirawati; Irwan Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12820

Abstract

Cisauk Point Apartment is part and one of LRT City, which applies the TOD concept. Cisauk Point Apartment is located right next to Cisauk Station, where Cisauk Station itself serves KRL Commuter Line and integrates with Intermoda BSD City. With all the potential of the Cisauk Point Apartment, it is interesting for the author to conduct a re-feasibility study of this apartment’s development. The objectives of this study include knowing the return on investment from the Cisauk Point Apartment’s development after being hampered by the COVID-19 pandemic; and knowing the variables that affect the sensitivity of return on investment from the Cisauk Point Apartments development. Re-feasibility studies were conducted for projects that had used higher than expected costs or time resources, leading to concerns over the validity of the original feasibility studies. The purpose of the re-feasibility study is to prevent budget waste and to improve the efficiency of financial management by making transparent and fair decisions through objective and neutral investigations of the validity of property development projects. Sensitivity analysis is a technique in which different values of certain key variables are tested to see how sensitive the investment returns are to possible changes in assumptions. Investment optimization is an action or process to make the investment of a project produce the best and most profitable returns, and the investment can also be more effective and efficient. The research method uses a qualitative approach with discounted cash flow methods and sensitivity analysis. The study found that the investment in Cisauk Point development was still feasible despite the COVID-19 pandemic, and the most influential variable on investment feasibility was the increase in selling prices. Keywords:  Cisauk Point; Investment; Sensitivity AbstrakApartemen Cisauk Point merupakan bagian dan salah satu kawasan dari LRT City, yang menerapkan konsep TOD. Apartemen Cisauk Point berlokasi tepat di sisi Stasiun Cisauk, dimana Stasiun Cisauk sendiri melayani KRL Commuter Line dan terintegrasi dengan Intermoda BSD City. Dengan segala potensi yang dimiliki lahan pengembangan Cisauk Point, menarik bagi penulis untuk melakukan re-feasibility study atau studi kelayakan ulang terhadap pengembangan apartemen ini. Tujuan penelitian ini antara lain, yaitu mengetahui pengembalian investasi dari pengembangan Apartemen Cisauk Point setelah terhambat akibat pandemi COVID-19; dan mengetahui variabel-variabel yang mempengaruhi sensitivitas pengembalian investasi dari pengembangan Apartemen Cisauk Point. Re-feasibility study dilakukan untuk proyek-proyek yang telah menggunakan biaya atau sumber daya waktu yang lebih tinggi dari yang diharapkan, yang mengarah ke kekhawatiran atas validitas studi kelayakan asli. Tujuan re-feasibility study adalah untuk mencegah pemborosan anggaran dan untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan keuangan dengan pengambilan keputusan yang transparan dan adil melalui investigasi yang objektif dan netral terhadap validitas proyek pengembangan properti. Analisis sensitivitas merupakan teknik dimana nilai yang berbeda dari variabel kunci tertentu adalah diuji untuk melihat seberapa sensitif hasil investasi terhadap kemungkinan perubahan asumsi. Optimalisasi investasi merupakan suatu tindakan atau proses untuk membuat investasi dari suatu proyek dapat menghasilkan pengembalian yang terbaik dan paling menguntungkan, serta investasi tersebut juga dapat menjadi lebih efektif dan efisien. Metode penelitian, menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode discounted cash flow dan analisis sensitivitas. Penelitian menemukan bahwa investasi pengembangan Cisauk Point masih layak meski adanya Pandemi COVID-19, dan variabel yang paling berpengaruh kelayakan investasi adalah kenaikan harga jual.
PABRIK GASIFIKASI BERBASIS EDUKASI DAN REKREASI AIR SEBAGAI SOLUSI PENCEMARAN SAMPAH PLASTIK SUNGAI CITARUM KABUPATEN BANDUNG Kevin Joshua Adiyanto Hutagaol; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12327

Abstract

The existence of plastic waste can be equated as a malignant cancer that’s more and more invading and destroy the life that is on earth. Indonesia itself is the second largest producer of plastic waste in the world. Indonesia’s efforts in dealing with this matter are still not optimal. Combination between people lack of awareness and lack of waste management create plastic issue as a main problem that threatened the entire country’s ecosystem. Citarum river as an ancient river that has been a source for the people for thousands of years has begun to collapse and even makes an impact on other ecosystems. Rule – making or simply waste collecting is not part of architects job, but with the design skills that we have, we can build a place for processing, educating, socializing or even recreation. The project with the name Lahir Alir Hilir as Gasification Plant and Recreational Space is here to meet these needs as a place. By fulfilling the six ecological parameters as well as using contextual method as an approach, Lahir Alir Hilir project can become an example or solution in solving plastic waste issue in Indonesia.  Keywords: Gasification plant; Waste management; Plastic wasteAbstrakEksistensi sampah plastik dapat diibaratkan seperti kanker ganas yang semakin lama akan menginvasi dan menghancurkan seluruh kehidupan di bumi. Indonesia sendiri merupakan negara penghasil sampah plastik terbesar nomor dua di dunia. Upaya Indonesia dalam menangani masalah tersebut masih belum optimal. Kombinasi antara kurangnya kesadaran masyarakat dan manajemen sampah menjadikan sampah plastik sebagai permasalahan utama yang mengancam keseluruhan ekosistem Indonesia. Sungai Citarum sebagai sungai purba yang menjadi sumber kebutuhan orang-orang selama ribuan tahun pun mulai lumpuh dan justru memberikan dampak buruk bagi ekosistem lainnya. Menciptakan peraturan ataupun sekedar mengumpulkan sampah bukan menjadi tugas seorang arsitek, namun dengan kemampuan desain yang kita miliki, kita dapat membangun sebuah wadah sebagai tempat pengolahan, edukasi, sosialisasi maupun rekreasi. Proyek dengan nama Lahir Alir Hilir sebagai Pabrik Gasifikasi dan Rekreasi hadir untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut sebagai wadah. Dengan memenuhi enam parameter ekologi dan juga pendekatan dengan metode kontekstual menjadikan proyek Lahir Alir Hilir sebagai contoh atau salah satu solusi bagi penyelesaian permasalahan utama sampah plastik di Indonesia.  
HIVE CITY : KONSERVASI DAN WISATA PADA KAWASAN KECAMATAN CILEUNGSI BOGOR Aldo Linardi; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12351

Abstract

Doomsday is a condition in which all the life of this world ends. Everything in this world is sure to end someday but this incident can happen much faster. Human neglect and greed in dealing with the surrounding ecology can accelerate the end of the world. This world is filled with various kinds of living things ranging in size from large to small, each creature has its own role and is related to one another. Currently 40% of the insect population is threatened with extinction and if the insects become extinct there will be a mass extinction of living things, this is called the Insect Doomsday. This can occur because insects play an important role in pollination, pest control, waste processing, and decomposers as well as a source of food in the ecosystem. This project uses the Biomimicry method which uses the geometric shape of the characteristics of the honeycomb. The resulting geometric shape becomes a metaphor for the insects to live in. The basic concept of this project is to create an open conservation that can increase the bee and butterfly population in the Cileungsi Area and become a place for insects that have lost their food sources due to changes in the function of the green area. Rapid action is needed to prevent the decline in insect populations in order to prevent the Insect Doomsday. The authors designed the project on the basis of Beyond Ecology. With conservation projects and insect tourism, it can increase insect populations and increase biodiversity by using horticulture that uses insects to develop its plants.  Keywords: Insect Doomsday; Conservation; Beyond Ecology Abstrak Kiamat adalah sebuah kondisi dimana seluruh kehidupan dunia ini berakhir. Segala sesuatu di dunia ini pasti suatu saat akan berakhir akan tetapi kejadian ini bisa terjadi jauh lebih cepat. Kelalaian dan ketamakan manusia dalam berhubungan dengan ekologi sekitar dapat mempercepat akhirnya dunia. Dunia ini diisi dengan berbagai macam makhluk hidup mulai dari ukuran besar sampai kecil, setiap makhluk mempunyai perannya masing-masing dan saling berkaitan. Saat ini 40% populasi serangga terancam punah dan jika serangga punah maka akan terjadi kepunahan masal makhluk hidup, inilah yang disebut dengan Kiamat Serangga. Hal tersebut dapat terjadi karena serangga memegang peran penting dalam penyerbukan, pengontrol hama, pengolah limbah, dan decomposer serta sumber makanan dalam ekosistem. Proyek ini menggunakan metode Biomimikri yang menggunakan bentuk geometri dari karakteristik sarang lebah. Bentuk Geometri yang dihasilkan menjadi metafora tempat tinggal para serangga. Konsep dasar dari proyek ini adalah menciptakan sebuah konservasi terbuka yang dapat menambah populasi serangga lebah dan kupu-kupu di Kawasan Cileungsi serta menjadi tempat bagi serangga yang kehilangan sumber makanan akibat perubahan fungsi kawasan hijau. Diperlukan aksi cepat dalam mencegah penurunan populasi serangga dalam mencegah Kiamat Serangga penulis merancang proyek dengan basis Beyond Ecology.  Dengan proyek konservasi dan wisata serangga dapat menambah populasi serangga serta menambah keanekaragaman hayati dengan hortikultura yang menggunakan serangga dalam mengembangkan tumbuhannya. 
PENATAAN KAMPUNG KHAS RW 04 MANGGARAI (KOLABORATIF, HARMONI, ASRI, SOLID) Joshua Marcell Iglecia Putralim; Priska Stefani; Parino Rahardjo; Wahyu Kusuma Astuti
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12948

Abstract

RW 04 Manggarai subdistrict is part of Tebet Subdistrict which is directly adjacent to Matraman Subdistrict, East Jakarta. The boundary is separated by the Ciliwung River which stretches from Bogor to the north coast of Jakarta. One of the priority areas included in RW 04 is Manggarai Train Station which has a comleks activity. With a high level of mobility, the people who live in the vicinity have poor living environment conditions (Slums). Very dense housing zones are the main problem in rw 04 Manggarai area. The characteristics of the people who live in it have a strong kinship. In addition to the problem of house density, Kali Ciliwung also has poor environmental quality conditions, because it is filled by semi-permanent houses with a very minimal level of security, especially the structure of buildings / foundations. The method that we use in the arrangement of slums rw Manggarai scope, namely participatory development, where in all the planning until the execution stage begins, the role of the community becomes very important and planners / architects only become a forum in representing the input of citizens in accordance with qualitative approaches with data collection using observation methods, and interviews. Based on the observations of the group, supported by several informants (rw 04 residents)  who gave input in the planning process can be concluded a major overhaul is not expected by the rw 04 community. Therefore, the priority plan that must be done the earliest improvement is the quality of basic utilities that become the main needs of rw 04 community.Keywords: Keywords: Bantaran Kali; Land Consolidation; Mobility; Participatory Development; Green Open Space (RTH); Flat House; and Basic Utilities.AbstrakRW 04 Kelurahan Manggarai merupakan bagian dari Kecamatan Tebet yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Matraman, Jakarta Timur. Batas wilayahnya dipisahkan oleh Kali Ciliwung yang membentang dari Bogor hingga pantai utara Jakarta. Salah satu kawasan prioritas yang termasuk dalam RW 04 adalah Stasiun Kereta Manggarai yang memiliki kegiatan yang komleks. Dengan adanya tingkat mobilitas yang tinggi, masyarakat yang tinggal di sekitarnya memiliki kondisi lingkungan tempat tinggal yang buruk (Kumuh). Zona perumahan sangat padat menjadi masalah utama di kawasan RW 04 Manggarai. Karakteristik masyarakat yang tinggal didalamnya memiliki kekerabatan yang kuat. Selain masalah kepadatan rumah, bantaran  Kali Ciliwung juga memiliki kondisi kualitas lingkungan yang buruk, karena dipenuhi oleh rumah semi permanen warga dengan tingkat keamanannya yang sangat minim, khususnya struktur bangunan/pondasi. Metode yang kami gunakan pada penataan kampung kumuh lingkup RW Manggarai, yaitu partisipatif development, dimana dalam segala perencanaannya hingga tahap eksekusi dimulai, peran masyarakat menjadi sangat penting dan perencana/arsitek hanya menjadi wadah dalam merepresentasikan masukan warga sesuai pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data menguanakan metode observasi, dan wawancara. Berdasarkan hasil observasi kelompok, didukung dengan beberapa informan (warga RW 04) yang memberi masukan dalam proses perencanaan dapat disimpulkan perombakan besar-besaran sangat tidak diharapkan oleh masyarakat RW 04 ini. Maka dari itu rencana prioritas yang harus dilakukan pembenahan paling awal adalah kualitas utilitas dasar yang menjadi kebutuhan utama masyarakat RW 04. Selain itu, untuk menciptakan kualita lingkungan kampung yang sehat, tentunya harus menyediakan lebih banyak RTH dan melakukan konsolidasi lahan di beberapa lokasi yang terdampak perencanaan dengan pembangunan rumah flat, sehingga pemanfaatan lahan menjadi lebih efisien dan optimal.
Pengolahan Mikroalga Berorientasi Masa Depan untuk Industri Kosmetik di Ancol Andrea Murdiono; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12457

Abstract

Nowadays buildings are required to support sustainability for the defense of the quality of life for the environment and humans, both in the present and in the future in a sustainable manner. Architecture that seeks to reduce the negative impact of the environment and increase efficiency and support the future as well as positive impact to the ecosystem. With an energy conservation approach as well as creating a healthy environment and ecological design. Microalgae are aquatic plants that play an important role in the environment, namely as primary producers. Their habitat is in water areas and is able to photosynthesize and produce oxygen. The oxygen capacity that is formed exceeds the tree, which is 150 times greater than the tree. Microalgae also produce electrical energy in the process of photosynthesis that will use for productivity either for buildings and also for surrounding area. In the design of the future-oriented microalgae processing building located in Ancol, apart from being a microalgae farming area to be processed into cosmetics, the building can also produce oxygen and electrical energy that is friendly to the environment. With a microalgae growth process that uses carbon dioxide which can help reduce the effects of global warming. Then with the electrons produced in the growth process of microalgae that can be processed into electrical energy. Then the waste from microalgae processing can also be reused by 70% for the microalgae harvesting process. Then the rest of the waste can also be directly disposed of without further processing or processing because the level of dirtiness is the same as rainwater. The absence of chemicals used in this processing also makes the design environmentally friendly. Thus, the design of the future-oriented microalgae processing building located in Ancol, apart from its function as a place for the development and processing of microalgae, is intended as a substitute for palm oil. This design also supports sustainability by using microalgae as the basic source. Keywords:  cosmetics; microalgae; sustainable; renewable energyAbstrakSekarang ini bangunan dituntut untuk menunjang keberlanjutan untuk pertahanan kualitas hidup bagi lingkungan dan manusia ,baik di masa sekarang maupun di masa depan secara berkelanjutan. Arsitektur yang berusaha untuk mengurangi dampak negatif dari lingkungan dan meningkatkan efisiensi dan menunjang masa depan serta positif bagi ekosistem lingkungan. Dengan pendekatan konservasi energi maupun menciptakan lingkungan yang sehat dan desain ekologis. Mikroalga merupakan tumbuhan air yang berperan penting bagi lingkungan, yaitu sebagai produsen primer. Habitat hidupnya yang berada di area perairan dan mampu berfotosintesis dan menghasilkan oksigen. Kapasitas oksigen yang terbentuk melebihi pohon, yaitu 150 kali lipat lebih besar dari pohon. Mikroalga juga menghasilkan energi listrik dalam proses fotosintesisnya. Pada rancangan bangunan pengolahan mikroalga  berorientasi masa depan yang terletak di Ancol ini, selain sebagai area pertanian mikroalga untuk diolah menjadi kosmetik, bangunan juga dapat memproduksi oksigen maupun energi listrik yang ramah bagi lingkungan. Dengan proses pertumbuhan mikroalga yang menggunakan karbon dioksida yang dapat membantu mengurangi efek pemanasan global. Kemudian dengan adanya elektron yang dihasilkan dalam proses pertumbuhan mikroalga yang dapat diolah menjadi energi listrik. Kemudian hasil limbah dari pengolahan mikroalga juga dapat digunakan kembali sebesar 70% untuk proses panen mikroalga. Kemudian sisa llimbah juga dapat langsung dibuang tanpa proses maupun pengolahan lanjut karena tingkat kekotoran sama dengan air hujan. Tidak adanya zat kimia yang digunakan dalam proses pengolahan ini juga menjadikan rancangan ramah lingkungan. Dengan demikian, rancangan bangunan pengolahan mikroalga berorientasi masa depan yang terletak di Ancol ini selain sebagai fungsinya untuk menjadi tempat perkembangan dan pengolahan mikroalga yang tujuannya sebagai materi dasar pengganti kelapa sawit. Rancangan ini juga menunjang keberlanjutan dengan menggunakan mikroalga sebagai sumber dasarnya. 
HYBRID PROGRAM REKREASI DAN PENGOLAHAN SAMPAH MAKANAN BERBASIS MASYARAKAT Gabriantika Kandiana Handayani; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12358

Abstract

The current global phenomenon, Covid-19 pandemic, encourages people to change their lifestyles. Some of them are studying, working, and doing activities from home. And then this can cause a reaction in the form of panic buying in adapting. In the process, humans began to use e-commerce which then had a significant impact on increasing waste. This increasing happens because there's a reciprocal relationship between humans and their environment or commonly called ecology. But long before that, the waste problem has not been resolved due to the lack of public awareness. People don't have a responsible attitude towards the waste that they produced. In particular, food waste occupies the highest percentage of global wastes. But this contrasts with the fact that 8.9% of the world's population is still hungry. It is not only an economic and global warming problem, but this also consumes limited natural resources in the environment. The layering diagram method (Sutanto, 2020) is applied to create responsible waste management. It is related to the analysis of potential, needs, site, and activities. And for the distribution of the program is based on the Food Recovery Hierarchy (USEPA, 2020) related to reduce, reuse, and recycle. The application of this method then produces a hybrid program in the form of recreation and processing. Collaboration extends the life cycle of waste in the community activity space providing an opportunity to play a role. The existence of spaces for gathering, discussing, processing, and planting, is the embodiment of the hybrid program. In addition, the process is also collaborated by the role of technology as part of future processing. Keywords:  ecology; food waste; reduce; reuse; recycle. Abstrak Fenomena global yang terjadi saat ini yakni pandemi Covid-19, mendorong manusia untuk mengubah gaya hidupnya. Beberapa diantaranya ialah belajar, bekerja, dan beraktifitas dari rumah. Hal ini kemudian menimbulkan reaksi berupa panic buying dalam beradaptasi. Dalam prosesnya, manusia mulai berkembang ke penggunaan e-commerce yang kemudian memberikan dampak cukup signifikan pada peningkatan sampah. Ini merupakan hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungannya atau biasa disebut ekologi. Namun jauh sebelum itu permasalahan sampah memang belum terselesaikan akibat minimya kesadaran masyarakat untuk memiliki sikap bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan. Khususnya sampah makanan yang menduduki persentase tertinggi dan juga kontras dengan kenyataan bahwa 8.9% dari populasi dunia masih kelaparan. Hal ini menjadi penting karena sampah makanan bukan hanya masalah ekonomi dan pemanasan global, namun juga menghabiskan sumber daya alam yang terbatas di lingkungan. Dengan tujuan untuk menciptakan pengolahan sampah yang bertanggungjawab, maka diterapkan metode diagram layering (Sutanto, 2020) terkait analisis potensi, kebutuhan, tapak, dan aktifitas. Serta pembagian programnya di dasari oleh Food Recovery Hierarcy (USEPA, 2020) terkait reduce, reuse, dan recycle. Penerapan metode ini kemudian menghasilkan hybrid program berupa rekreasi dan pengolahan. Kolaborasi memperpanjang siklus hidup sampah dalam ruang kegiatan masyarakat memberikan kesempatan untuk berperan. Hal ini diwujudkan dengan adanya ruang – ruang untuk berkumpul, berdiskusi, mengolah, dan menanam. Selain itu prosesnya juga dibantu dengan peran teknologi sebagai bagian dari pengolahan masa depan. 

Page 68 of 134 | Total Record : 1332