cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
FASILITAS REKREASI DAN KESENIAN BUKIT DURI Leonard Natanael
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8538

Abstract

The development of a city has now developed rapidly, especially the City of Jakarta. The development of the shape of the building, industry and technology affect social life in urban areas. Urban communities tend to be individualistic creatures, so issues begin to emerge about a third place. The presence of a third place becomes one of the places that humans need amid routine activities. According to Ray Oldenburg, the third place is between the first place which is the residence area and the second place which is the work area, where the third place is a place to relax, relax, and socialize with a new atmosphere of routine. Third place exists as a place that can be accessed by everyone because it is open and neutral so that it does not see elements of class, ethnicity, position, etc. This open nature is needed to strengthen the spirit of socialization among individuals from the gap of society groups. Examples of existing third place in Jakarta are parks or RPTRA, which are facilities that are available in every environment which is not so much in number. To answer this problem the author designed the Bukit Duri Recreation and Arts Facility for the community of Bukit Duri Village. This facility provides a place for the community to present interesting activities and activities that can be enjoyed by all residents openly. The main facilities that are offered include recreational areas, art galleries and commercial areas. The facility aims to provide an green open area while reviving the spirit of art in the Bukit Duri Village. Keywords:  facilities; netral; socialization; third place AbstrakPerkembangan sebuah kota kini sudah berkembang secara cepat, khususnya Kota Jakarta. Perkembangan dari bentuk bangunan, industri maupun teknologi berpengaruh terhadap kehidupan sosial di perkotaan. Masyarakat kota cenderung menjadi makhluk individualis, oleh karena itu mulai muncul isu-isu mengenai sebuah third place. Kehadiran sebuah third place menjadi salah satu tempat yang dibutuhkan manusia ditengah kesibukan rutinitas. Menurut Ray Oldenburg, third place berada di antara first place yang merupakan area tempat tinggal dan second place yang merupakan area kerja, dimana third place merupakan tempat untuk bersantai, berelaksasi, dan bersosialisasi dengan suasana yang baru dari rutinitas yang dilakukan. Third place hadir sebagai tempat yang dapat diakses oleh semua orang oleh karena itu bersifat terbuka dan netral sehingga tidak melihat unsur golongan, suku, jabatan, dll. Sifat terbuka ini diperlukan untuk mempererat jiwa sosialisasi antar individu dari kesenjangan golongan masyarakat. Contoh eksisting third place di Jakarta yaitu berupa taman atau RPTRA, yang merupakan fasilitas yang tersedia di setiap lingkungan yang jumlahnya tidak begitu banyak. Untuk menjawab permasalahan ini penulis merancang Fasilitas Rekreasi dan Kesenian Bukit Duri untuk masyarakat Kelurahan Bukit Duri. Fasilitas ini menyediakan wadah bagi masyarakat untuk menghadirkan kegiatan dan aktivitas yang menarik yang dapat dinikmati semua warga secara terbuka. Fasilitas utama yang diharirkan berupa area rekreasi, sanggar seni, dan area komersil. Fasilitas tersebut bertujuan untuk menyediakan area terbuka hijau sekaligus membangkitkan kembali jiwa seni yang ada di Kelurahan Bukit Duri.
PAVILIUN KEBUDAYAAN BETAWI Felicia Setiawan; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6767

Abstract

Most people are trapped by their monotonous activities, they tend to look for more practical entertainment through smart phones, the internet or television. That might  reduce  the real meaning of social interaction. The existence of public space itself is one of many factors that encourgage people to do social interaction. Therefore, as what the author has read in  a literature study, that third place able to be one of the bridges of social interaction. Third Place provides a catalyst space between home and work, making the third place a comfortable haven. Third Place is not a place of work or home, but a place to relax that can allow you to have a open community life. The selection of a cultural center as a third place because the cultural center can pour various expressions of human needs, dreams and desires. In addition, the location of the site is next to Taman Ismail Marzuki. Seeing that there are several programs that cannot be accommodated by Taman Ismail Marzuki and the need to reintroduce Betawi cultural values that are starting to fade in the present,  encouragge us to create programs that can support this. The design method used by this project is the dis-programming method, a program that is mutually contaminating with other programs, The location is close to the education center and cultural the center which drives both programs to support one another, here the writer combines programs in the cultural center with educational programs such as dance studios, music studios and libraries. AbstrakSebagian besar masyarakat terjebak dengan aktivitas mereka yang monoton, mereka cenderung mencari hiburan yang lebih praktis melalui ponsel pintar, internet atau televisi. Hal tersebut mengurangi esensi dari interaksi sosial yang seharusnya dilakukan. Keberadaan ruang publik sendiri merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong terjadinya interaksi sosial. Oleh karena itu penulis melakukan studi literatur, berdasarkan hasil studi penulis dapat menyimpulan bahwa third place dapat menjadi salah satu jembatan interaksi sosial. Third Place menyediakan ruang katalis antara rumah dan tempat kerja, menjadikan third place sebagai tempat singgah yang nyaman. Third Place bukanlah tempat kerja ataupun rumah, melainkan tempat bersantai yang dapat memungkinkan kehidupan komunitas yang terbuka. Pemilihan pusat kebudayaan sebagai third place dikarenakan pusat budaya dapat menuangkan berbagai ekspresi kebutuhan manusia, mimpi dan keinginan. Selain itu, lokasi tapak berada disebelah Taman Ismail Marzuki. Melihat ada beberapa program yang belum dapat diakomodir oleh Taman Ismail Marzuki dan perlunya pengenalan kembali akan nilai-nilai budaya betawi yang mulai pudar di zaman sekarang, mendorongnya diciptakan program – program yang dapat mendukung hal tersebut. Metode perancangan yang digunakan proyek ini adalah metode dis-programming, program yang sifatnya saling mengkontaminasi dengan program lainnya. Letak tapak yang dekat dengan pusat pendidikan dan pusat kebudayaan mendorong terjadinya program yang saling mendukung satu sama lain, disini penulis menggabungkan program yang ada di pusat kebudayaan dengan program pendidikan seperti studio tari, studio musik dan perpustakaan.
PUSAT KULINER SUNDA KELAPA Steven Lim; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4444

Abstract

Developing era and globalization has created new generation that has a different behaviour and their own habit. Compare to another generations, milennials value experiences more than owning things. Milennials experiences are mainly filled with architectural vacations or culinary. Developing culinary culture in a city district could attract millennials arrival and participation. Increasing millennials participation could revive a district and people’s economic condition. Sunda Kelapa district has the culinary tourism potential but has not been developed yet, so that it needs an adequate facility. An Adequate facility surely could revive the culinary tourism potential. Sunda Kelapa Food Stop is one of the solution of the needs that designed with phenomenology method. Method that strenghten human sensory stimulation  that gives a psychological effect to visitors. Effects that created gives experiences in composition, shapes, temperature, light, sound and other aspects. AbstrakBerkembangnya zaman dan pengaruh globalisasi membentuk generasi baru yang memiliki perilaku dan kebiasaan tersendiri. Dibanding dengan generasi lainnya, milenial lebih mengutamakan pengalaman baru dibandingkan kepemilikan akan sesuatu. Pengalaman baru milenial sebagian besar diisi dengan kegiatan berwisata arsitektur ataupun kuliner. Dikembangkannya budaya kuliner suatu wilayah kota dapat menarik kedatangan dan partisipasi para milenial. Meningkatnya partisipasi milenial tentunya menghidupkan suatu kawasan dan kondisi ekonomi masyarakat sekitar. Kawasan Sunda Kelapa memiliki potensi wisata kuliner yang saat ini belum dikembangkan sehingga membutuhkan suatu fasilitas memadai. Fasilitas yang memadai tentunya dapat membangkitkan wisata kuliner dari kawasan tersebut. Pusat Kuliner Sunda Kelapa merupakan salah satu jawaban atas kebutuhan kawasan yang dirancang dengan metode fenomenologi. Metode yang memperkuat berbagai rangsangan indera yang mampu memberikan efek psikologis bagi pengunjung. Efek yang ditimbulkan memberikan pengalaman komposisi, bentuk, suhu, cahaya, suara dan aspek lainnya.
Tempat Pertunjukan Kesenian Khas Tionghoa Di Glodok Faustinus Hadinata Muliawan; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6732

Abstract

Glodok sub district is known as a Chinatown in Jakarta. The population in Glodok sub district are dominated by craftsmen of  chinese arts, such as lion dance, liong, chinese calligraphy, chinese decorations, porcelain crafts, chinese music, chinese traditional clothes, and also various kinds of homemade chinese traditional food. The chinese art crafted are charity and worship to the gods. This Chinese traditional craftsman are unprofitable community. The goals of this project is for supporting the survival of this Chinese arts community. These communities needs facilities in order to get more attention from residents in Glodok sub district and greater. The idea of the program for this project is one stop cultural center concept, where this place can become a cultural place, exhibition, and recreation center for Glodok residents and the surroundings. In this project visitors can make, exhibit, and display the product and performance of the Chinese traditional art. In this place is possible to make a competition between each of traditional chinese art organization, for supporting the existence of each traditional Chinese art community. The product can be sold as commercial Chinese art works. The design method of this project are inspired by Tulou building in Fujian China, and has been modified according to the context of the city prevailing in the Glodok region. Abstrak Glodok dikenal sebagai pecinan di Jakarta, Mayoritas penduduk nya adalah kaum Tionghoa. Di kawasan Glodok ini didominasi oleh para pengerajin kesenian khas Tionghoa, seperti barongsai, liong, kaligrafi China, lukisan khas Tionghoa, kerajinan keramik, kesenian musik khas Tionghoa, pengerajin baju tradisional Tionghoa , dan juga banyak pabrik makanan tradisional China dalam skala rumahan. Mayoritas pengerajin seni adalah kaum lansia, karena mengerajin kesenian ini sudah menjadi bagian dari kehidupan berderma atau berbakti kepada Sang Pencipta dan juga kepada leluhur mereka, komunitas pengerajin seni ini adalah berbasis amal/tidak mengambil keuntungan. Oleh karena itu tujuan dari proyek ini adalah untuk menjaga keberlangsungan dari komunitas kesenian khas Tionghoa ini. Agar komunitas ini tetap mendapat pengakuan maka dibutuhkan sebuah wadah yang dapat mengelola komunitas ini agar lebih mendapat banyak perhatian dari penduduk di kawasan Glodok ini. Ide dari program yang direncanakan dalam proyek ini adalah menganut konsep dari hulu ke hilir, dimana di tempat ini dapat menjadi pusat budaya,pertunjukan dan rekreasi bagi penduduk Glodok dan sekitarnya. Hal ini diwujudkan dari program dalam proyek ini yang mulai dari pembuatan, memamerkan dan menampilkan hasil dari kesenian khas China ini, kemudian sampai pada akhir nya dapat diperlombakan dan dapat menjadi produk kerajinan seni secara komersil. Metode perancangan dan desain proyek ini mengambil inspirasi dari bangunan Tulou di Fujian, China yang kemudian di modifikasi lagi sesuai dengan konteks kota yang berlaku di kawasan Glodok.
PENDEKATAN ARSITEKTUR TERAPEUTIK TERHADAP RUANG PEMULIHAN KECEMASAN DI KAMAL, JAKARTA BARAT Felix Nathaniel Toliu; Stephanus Huwae
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16862

Abstract

Anxiety has become a problem that everyone has, and one of the reasons people worry is because they are recovering in a hospital. According to data 75%-85% of people will feel anxious before and after surgery. This Anxiety Healing Space project aims to reduce the level of anxiety felt by hospital patients and their families and the community around the site. Not only reducing anxiety levels, this project also aims to educate the public about the dangers and how to deal with anxiety through palliative education and geriatric education. The design of this project takes a therapeutic architecture system by utilizing architecture as a healing or recovery tool for the users of this project. Utilizing the shape grammar method to achieve a therapeutic architecture. From this method, several important points emerge, namely: spatial experience, building form, and connection with nature. The application of the method to building design is reflected in the following ways: (1) green space is the best place for recovery, (2) the arch-dominated form of the building prioritizes the comfort of the user's vision, (3) the application of natural roofs made of green plants, (4) utilizing nature as a barrier between spaces, and (5) utilizing natural light for lighting at several points to save energy. Keywords: Healing for anxiety; therapeutic architecture AbstrakKecemasan sudah menjadi masalah yang dimiliki setiap orang, dan salah satu alasan orang cemas karena berada dalam pemulihan di rumah sakit. Menurut data 75%-85% orang akan merasa cemas sebelum dan sesudah operasi. Proyek Ruang Pemulihan Kecemasan ini bertujuan untuk mengurangi tingkat kecemasan yang di rasakan pasien rumah sakit maupun keluarga dari pasien serta masyarakat sekitar tapak. Bukan hanya mengurangi tingkat kecemasan, proyek ini juga bertujuan untuk mengedukasi masyarakat tentang bahaya dan cara mengatasi kecemasan melalui edukasi paliatif dan edukasi geriatri. Perancangan proyek ini mengambil konsep therapeutic architecture dengan memanfaatkan arsitektur sebagai alat penyembuhan atau pemulihan bagi pengguna proyek ini. Memanfaatkan metode shape grammar untuk mencapai arsitektur yang therapeutik. Dari metode tersebut muncul beberapa poin penting, yaitu: pengalaman ruang, bentuk bangunan, dan keterkaitan dengan alam. Penerapan metode terhadap desain bangunan terpancar dalam beberapa hal sebagai berikut: (1) ruang hijau menjadi tempat pemulihan tebaik, (2) bentuk bangunan yang didominasi lengkungan mengutamakan kenyamanan penglihatan pengguna, (3) penerapan atap-atap natural dari tanaman hijau, (4) pemanfaatkan alam sebagai pembatan antar ruang, serta (5) pemanfaatkan cahaya alami untuk penerangan di beberapa titik untuk menghemat energi.
PENDEKATAN ARSITEKTUR DENGAN RETHINKING TYPOLOGY DAN DISPROGRAMMING DALAM MERANCANG PUSAT REHABILITASI KECANDUAN GAME Garry Gohtandry; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16974

Abstract

Addiction to online games in this era is increasing. Data shows that in 2017, according to Amsterdam-based marketing research institute Newzoo, there were 43.7 million gamers (56% of whom were male) in the country, spending a total of US$ 880 million. Indonesia has the largest number of game players in Southeast Asia, with an estimated prevalence of 6.1% of gamers experiencing addiction, so there are 2.7 million game players who may be addicted. The World Health Organization (WHO) officially states that online game addiction is a mental disorder, because it can cause sleep disorders that affect the body's metabolic system, often feel tired (fatigue syndrome), stiff neck and muscles, to Carpal Turner Syndrome. But playing online games also has many positive sides, such as players being trained between the right and left brain to work in a balanced way. Not only that, colorful game visuals and in-game movements provide high imagination so that the brain will continue to imagine. To be able to improve the mental health of online game addicts, a new type of rehabilitation facility is needed that is able to answer the needs and challenges of the times. Considering that addiction generally occurs because of neglecting to play online games for a long time as a child, it is proposed to add an elementary school function that introduces good information technology from an early age. Disprogramming strategy is used so that the rehabilitation function as the first function can contaminate the elementary school as the second function so that these two facilities can function more optimally. This facility is also equipped with a large open space to accommodate social activities as a supporting activity that can teach the importance of real socializing among others. It is hoped that the combination of rehabilitation functions, elementary schools and active open spaces can become a new typology of rehabilitation buildings that reduce the adverse effects of online addiction in society.  Keywords: game addiction;  online game; rehabilitation center AbstrakKecanduan game online di masa ini semakin meningkat. Data menunjukkan pada 2017, menurut lembaga riset pemasaran asal Amsterdam, Newzoo, ada 43,7 juta gamer (56% di antaranya laki-laki) di negeri ini, yang membelanjakan total US$ 880 juta. Indonesia memiliki Jumlah pemain game terbanyak di Asia Tenggara, dengan prakiraan prevalensi 6,1% pemain game mengalami kecanduan, maka terdapat 2,7 juta pemain game yang mungkin kecanduan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi menyatakan bahwa kecanduan game online merupakan penyakit gangguan mental, karena dapat menyebabkan gangguan tidur sehingga mempengaruhi sistem metabolisme tubuhnya, sering merasa lelah (fatigue syndrome), kaku leher dan otot, hingga Karpal Turner Syndrome. Namun bermain game online juga memiliki banyak sisi positif seperti para pemain seperti dilatih antara otak kanan dan kiri untuk bekerja secara seimbang. Tidak hanya itu, visual game yang berwarna warni dan Gerakan dalam game memberikan imajinasi yang tinggi sehingga otak akan terus berimajinasi. Untuk dapat memperbaiki kesehatan mental pecandu game online, dibutuhkan sebuah tipe baru fasilitas rehabilitasi yang mampu menjawab kebutuhan dan tantangan zaman. Mengingat kecanduan pada umumnya terjadi karena adanya pembiaran bermain game online dalam durasi panjang semasa kecil, maka diusulkan untuk menambahkan fungsi sekolah dasar yang mengenalkan informasi teknologi yang baik sedari dini. Strategi Disprogramming digunakan agar fungsi rehabilitasi sebagai fungsi pertama dapat mengkontaminasi sekolah dasar sebagai fungsi kedua sehingga kedua fasilitas ini dapat berfungsi lebih maksimal. Fasilitas ini juga dilengkapi dengan ruang terbuka yang luas untuk mewadahi aktivitas bersosialisasi sebagai aktivitas pendukung yang dapat mengajarkan pentingnya bersosialisasi nyata diantara sesama. Diharapkan penggabungan fungsi rehabilitas, sekolah dasar dan ruang terbuka aktif dapat menjadi sebuah tipologi baru bangunan rehabilitasi yang mengurangi dampak buruk kecanduan online di masyarakat.
PENERAPAN KONSEP RE-THINKING TYPOLOGY PADA HUNIAN VERTIKAL UNTUK DEWASA MUDA DI LAHAN BERKONTUR, CISARUA Bimo Yudhi Santoso; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16912

Abstract

This paper describes and analyzes the types or characteristics of typologies as well as proposes a different typological idea for the typology of vertical housing located in contoured and heavily cultured areas for evolving young adults. This provides views and insights into the architectural thought process. Based on learning the existing type as a reference and choosing various typology as prototype and as a reference for analysing the development trend of vertical housing typology as a guide principle to then propose an arhetype. The results of these analysis are proven re-thinking the typology of the vertical housing itself which is integrated with the microhousing typoloogy. Two typologies emerged, providing insight into the aplication of cultural cosmologi and also integrating the contoured site with the project. Keywords:  contour; microhousing; typology; vertical housing AbstrakTulisan ini menjelaskan dan menganalisis tipe atau karakteristik tipologi serta  mengusulkan sebuah pemikiran tipologi yang berbeda terharap tipologi bangunan vertikal yang berada di daerah berkontur dan berbudaya untuk kaum dewasa muda yang sedang berkembang. Makalah ini memberikan pandangan dan wawasan ke dalam proses pemikiran arsitektur. Berdasarkan pembelajaran tipe eksisting sebagai acuan tren perkembangan dan tipologi bangunan hunian vertikal sebagai panduan prinsip, pendekatan pemikiran ulang tipologi untuk menganalisa tipologi yang ada muncul suatu tipologi baru. Hasil dari analisis ini dibuktikan dengan memikirkan ulang tipologi bangunan vertikal itu sendiri yang di integrasikan dengan tipologi rumah mikro. Dua tipologi yang muncul, memberikan wawasan tentang penerapan kosmologi budaya dan juga mengintegrasikan tapak yang berkontur dengan proyek.
TEMPAT NONGKRONG PRODUKTIF DI KALIDERES, JAKARTA BARAT Jenniffer Maden; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16947

Abstract

Productive hangout place, is a project that accommodates hanging out activities for actors of productive age around the location of the site. Which has the aim of providing another view of hanging out that was previously considered negative by many people. Thus, this hanging out activity has a positive impact such as overcoming the gap in hanging out activities with various activities tailored to the actors. In accordance with the theme, namely: rethinking typology, by taking one of the trending topics, namely hanging out. Various negative views by the public regarding hanging out in everyday life are common. In fact, hanging out provides more benefits if hanging out activities can be made different and more focused according to the existing hangout actors.The current productive generation dominates in all areas of life. Thus, the need for a place to release stress and make a person or a group happier is very influential for their performance. Keywords:  Hangout; Positive; Productive AbstrakTempat nongkrong produktif, merupakan proyek yang mewadahi kegiatan nongkrong bagi pelaku dengan usia produktif di sekitar lokasi tapak berada. Yang memiliki tujuan untuk memberikan pandangan lain mengenai nongkrong yang tadinya dianggap negatif oleh banyak orang. Sehingga, kegiatan nongkrong ini memberi dampak positif seperti mengatasi kesenjangan dalam aktivitas nongkrong dengan berbagai kegiatan yang disesuaikan dengan para pelaku. Sesuai dengan tema yaitu: rethinking tipologi, dengan mengambil salah satu topik yang sedang tren yaitu nongkrong. Berbagai pandangan-pandangan negatif oleh masyarakat mengenai nongkrong dalam kehidupan sehari-hari ini sering terjadi. Pada kenyataannya nongkrong ini memberikan lebih banyak manfaat jika kegiatan nongkrong dapat dibuat berbeda dan lebih terarah sesuai dengan pelaku nongkrong yang ada. Generasi produktif saat ini mendominasi dalam segala bidang kehidupan. Sehingga, perlunya suatu wadah untuk melepaskan stres dan membuat seseorang atau suatu kelompok lebih bahagia sangat berpengaruh untuk kinerja mereka. 
FASILITAS KESEHATAN MENTAL DI TANGERANG SELATAN Garreth Malcolm Rolland; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16860

Abstract

Jakarta is a city with very rapid population growth, so that Jakarta is a busy, dense, and bustling city. As a result of the existing busyness causes people's health to decline due to lack of exercise. Green open space is getting less and less, as if it doesn't provide a place for people to breathe. Meanwhile, there is a close relationship between space and public health, and how the role of architecture in helping a person's healing process, as well as maintaining the physical and mental health of the community. This study aims to produce a concept and design of a fitness facility building that can assist the community in preventing health decline and overcoming mental fatigue due to busy daily activities. By using a biophilic design approach and incorporating the concept of tourism into a fitness facility, the design will emphasize the connectivity between the environment, buildings and humans both directly and indirectly. So that it can attract people's interest to exercise and help overcome people's mental fatigue. Low-calorie restaurants at the fitness facilities here also play a role in helping to maintain the nutritional balance of the community, because to achieve a healthy and fit lifestyle it must be balanced with a healthy and regular diet. The low-calorie restaurant is surrounded by small gazebos, each of which is used as a food-making process in the low-calorie restaurant. Starting from planting hydroponic vegetables, then washing them, then taking them to the gazebo of the cooking room. There is also a packaging area and a hydroponic vegetable sales area. In addition, there is also a fishing area that aims to release the stress of its users. Keywords: Fitness Facility; Green Open Environment; Public Space; Healthy Life TravelAbstrakJakarta merupakan kota yang pertumbuhan penduduknya sangat pesat, sehingga Jakarta menjadi kota yang sibuk, padat, dan ramai. Akibat kesibukan yang ada menyebabkan kesehatan masyarakat menurun akibat kurang berolahraga. Ruang terbuka hijau pun kian lama semakin berkurang, seakan tidak menyediakan tempat bagi masyarakat untuk bernafas. Sementara itu terdapat kaitan erat antara ruang dan kesehatan masyarakat, dan bagaimana peran arsitektur dalam membantu proses penyembuhan seseorang, serta menjaga kesehatan jasmani maupun kesehatan mental masyarakatnya. Studi ini bertujuan menghasilkan suatu konsep dan rancangan bangunan fasilitas kebugaran yang dapat membantu masyarakat dalam mencegah penurunan kesehatan dan mengatasi lelah mental akibat kesibukan aktivitas sehari-hari. Dengan menggunakan pendekatan biophilic design serta menggabungkan konsep wisata ke dalam fasilitas kebugaran, desain akan menekankan konektivitas antara lingkungan, bangunan dan manusia baik secara langsung dan tidak langsung. Sehingga dapat menarik minat masyarakat untuk berolahraga serta membantu mengatasi lelah mental masyarakat. Restoran rendah kalori pada fasilitas kebugaran disini juga berperan dalam membantu menjaga keseimbangan gizi masyarakat, karena untuk mencapai pola hidup sehat dan bugar harus diimbangi dengan pola makan yang sehat dan teratur. Restoran rendah kalori dikelilingi oleh gazebo-gazebo kecil yang masing-masing gazebo tersebut difungsikan sebagai proses pembuatan makanan yang ada pada restoran rendah kalori tersebut. Mulai dari penanaman sayur hidroponik, kemudian di cuci, lalu dibawa menuju gazebo ruang masak. Terdapat pula area packaging dan area penjualan sayur hidroponik. Selain itu juga terdapat area pemancingan yang bertujuan untuk melepaskan stress penggunanya.
PEMBAHARUAN DAN PEREMAJAAN RUMAH SAKIT JIWA BERINTEGRASI DENGAN METODE PENYEMBUHAN MODERN Kriselina Julistia Lawira; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16870

Abstract

Nowadays, a person's health is not only seen physically but also mentally and awareness of mental health continues to increase. Therefore, facilities that can support mental health are needed. One of the places that serve and as a place of reference for people with mental problems is a psychiatric hospital. When compared with the factors to support the healing of patients in modern healing, the buildings and rooms of psychiatric hospitals in Indonesia do not support the healing and well-being of patients and their staff. Plus, the existing psychiatric hospital is an old building so it has a design orientation that is not relevant for today. Also, there is a negative stigma that people think psychiatric hospitals are facilities that only treat severe mental disorders. Psychiatric hospitals need to design a new typology that can renew and rejuvenate buildings as an innovation effort that can support patient recovery and help change people's views of psychiatric hospitals. The result of the design is a building that has a triangular shape mass with a radial and centered pattern. Where the building will have a deinstitutionalization orientation which is applied with a biophilic design with the addition of new programs and adjusting the state of the psychiatric hospital program with the psychology of people with mental disorders. Keywords: Triangle Shape; Deinstitutional; Supervision; Healing AbstrakSekarang ini, kesehatan seseorang tidak hanya dilihat secara fisik tetapi juga jiwa dan kesadaran akan kesehatan jiwa pun terus meningkat. Oleh karena itu, dibutuhkan fasilitas- fasilitas yang mampu menunjang kesehatan jiwa. Salah satu tempat yang melayani dan sebagai tempat rujukan orang dengan masalah kejiwaan atau gangguan mental adalah rumah sakit jiwa. Bila dibandingkan dengan faktor-faktor untuk mendukung kesembuhan pasien dalam penyembuhan modern ini, bangunan dan keruangan rumah sakit jiwa di Indonesia kurang mendukung kesembuhan dan kesejahteraan pasien maupun petugasnya. Ditambah, rumah sakit jiwa yang ada saat ini merupakan bangunan tua sehingga memiliki orientasi rancangan yang tidak relevant untuk masa sekarang. Serta, adanya stigma negatif masyarakat yang beranggapan rumah sakit jiwa merupakan fasilitas yang hanya menangani gangguan jiwa yang berat. Rumah sakit jiwa memerlukan perancangan tipologi baru yang dapat memperbaharui dan meremajakan bangunan sebagai upaya inovasi yang mampu mendukung kesembuhan pasien dan membantu mengubah pandangan masyarakat terhadap rumah sakit jiwa. Hasil dari perancangan merupakan bangunan yang memiliki massa dasar berbentuk segitiga degan pola radial dan memusat. Dimana bangunan akan memiliki orientasi deintitusionalisasi yang diterapkan dengan biofilik desain dengan penambahan program baru dan menyesuaikan 

Page 70 of 134 | Total Record : 1332