cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
CHROMA TRANS-PUAN : RUANG KOMUNITAS DAN REFLEKSI DIRI Khalik Arif Thahara; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16934

Abstract

Transwomen or what we usually hear as transgender, becong or sissy are humans who are born with male sex but they choose a different way of life from men in general. These different choices of way of life often get discriminatory actions against trans women, acts of discrimination against trans women continue to increase every year. This shows that it is difficult for them to find a safe place for them, by rethinking the typology to build a safe space and community center for them. By combining the typology of safe space, post-traumatic design & phenomenology taken from the lifestyle of transwomen who live communally, it is an effort to build a community place for them to develop and feel safe through architectural media. Chroma is an embodiment of a user's perspective on trans women where they can reflect on themselves that trans women are just like them, humans. Keywords:  Trans woman; Discrimination; Safe Space; Chroma; Self Reflection AbstrakTranspuan atau yang biasa kita dengar dengan sebutan waria, bencong atau banci merupakan manusia yang terlahir dengan jeis kelamin laki-laki namun mereka memilih jalan hidup yang berdeda dengan laki-laki pada umumnya. Pilihan jalan hidup yang berbedea ini kerap mendapatkan tindakan diskriminatif terhadap kaum transpuan, tindakan diskriminasi terhadap kaum transpuan terus meningkat setiap tahunya. Hal ini menunjukan bahawa mereka sulit menemukan tempat aman bagi mereka, dengan berfikir ulang tentang tipologi untuk membangun sebuah safe space dan community centre untuk mereka.  Dengan menggabungkan tipologi dari safe space, post traumatic design & fenomenologi yang diambil dari pola hidup transpuan yang hidup secara communal merupakan sebuah upaya untuk membangun sebuah tempat komunitas untuk mereka berkembang dan merasakan aman melalui media arsitektur. Chroma merupakan sebuah perwujudan dari sebuah perspektif pengguna terhadap transpuan dimana mereka dapat merefleksikan diri bahwa transpuan juga sama sperti mereka, manusia. 
REVITALISASI PERMUKIMAN KUMUH KAMPUNG PULO, KECAMATAN KAMPUNG MELAYU, JAKARTA TIMUR Ziyad Fauzi Na'im; Budi A. Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16906

Abstract

Slums are synonymous with advanced cities, especially the city of Jakarta, from the many beauty and progress that exist, it has many problems, one of which is the arrangement of slum settlements which are still widely spread in important areas such as the economic center, one of which is Kampung Pulo which is in the economic center of East Jakarta and also has a special plan to be developed, while previously in 2015 there were clashes due to the plan for relocation of settlements on the banks of the Ciliwung river besides that many of those who had been relocated did not feel better with their lives even though they lived in new, better buildings and cleaner. The problem is the location of their settlement which is on the banks of the Ciliwung river so that it does not have an infiltration area in the Kampung Pulo settlement. To solve this problem, the government has prepared land for the new Kampung Pulo settlement so that the existing problems in this area can be reduced or eliminated, one of which is flooding in the Kampung Pulo settlement. they are alive and do not have a negative impact on the environment and the Ciliwung river. There has been a lot of research approach data about Kampung Pulo regarding their way of life on the Ciliwung river so that it can be applied to the completion of the revitalization of the new Kampung Pulo settlement in an area that has been planned by the government by using a typology analysis of settlement architecture so that it can be a solution for designing the revitalization of Kampung Pulo.  Keywords:  Revitalitation ; Slum Houses; Typology  Abstrak Permukiman kumuh identik dengan perkotaan yang maju terutama kota Jakarta dari sekian banyak keindahan dan kemajuan yang ada memiliki banyak permasalahan di dalamnya salah satunya penataan permukiman kumuh yang masih banyak tersebar di area penting seperti pusat perekonomian salah satunya Kampung Pulo yang berada di pusat perekonomian Jakarta Timur dan juga memiliki perencanaan khusus untuk di kembangkan, sementara sebelumnya pada tahun 2015 sempat terjadi bentrok akibat rencana relokasi permukiman di bantaran kali Ciliwung ini selain itu banyak dari mereka yang telah terelokasi tidak merasa lebih baik dengan kehidupan mereka walaupun mereka tinggal di bangunan baru yang lebih baik dan lebih bersih. Permasalahan pada lokasi permukiman meraka yang berada di bantaran sungai Ciliwung sehingga tidak memiliki area resapan pada permukiman Kampung Pulo. Untuk menyelesaikan permasalahan ini pemerintah telah mempersiapkan lahan untuk pemrukiman Kampung Pulo yang baru sehingga permasalahan yang ada pada area ini bisa dikurangi ataupun dihiklangkan salah satunya banjir langanan pada permukiman Kampung Pulo.Pendekatan kebiasaan hidup mereka perlu diperhatikan untuk bisa membentuk ruang kampung yang baru sehingga mendukung cara mereka hidup dan tidak memberikan dapak negatif pada lingkungan dan sungai Ciliwung. Sudah banyak data pendekatan penelitian tentang kampung Pulo ini mengenai cara hidup mereka di batarana sungai Ciliwung sehingga bisa terapkan pada penyelesaian revitalisasi permukiman Kampung Pulo yang baru di area yang sudah direncanakan oleh pemerintah dengan penggunaan analisa tipologi arsitektur permukiman sehingga bisa menjadi solusi untuk perancangan revitalisasi Kampung Pulo.
ARSITEKTUR BIOFILIK DALAM DESAIN KANTOR INDUSTRI KREATIF DI JAKARTA SELATAN Muhammad Daffa Ramada Yunasz; Diah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16916

Abstract

In the era of the pandemic, the office system underwent a change to become a more flexible office. Working virtually has made humans and of course office workers adapt and provide a lot of benefits, but there is a negative side that is quite influential, one of which is because of social inequality, not everyone has a comfortable and healthy workspace, all activities are carried out in the workspace, during long working days. Not everyone has access to easy outdoor spaces, such as balconies, or in the form of greenscape, these spaces are areas that are rarely stepped on. One of those who are directly affected by this phenomenon is related to the creative industry in Indonesia, an industry that utilizes creativity and skills. Most of the office workers are Generation Y or the “Millennial” generation. If neglected, it will not be good for the welfare of office workers in the long term. Therefore, the design for this project is expected to connect the workspace and outdoor space, and achieve a better aspect of the office work system. Synthesizing architectural typology methods with biophilic designs namely the approach of human needs to connect with nature, resulting in new typologies. In addition to office space as the main function, variations of other activities and programs are also formed, as well as strong interactions with relationships with outside spaces, so that the desired goals can be achieved on a micro scale (indoor space). macro (outdoor space), and form an appropriate typology for the future office context (post-pandemic) which can achieve good goals for the welfare of office workers in the long term. Keywords:  Biophilic ; Creative Industry; Social Inequality; WFHABSTRAKPada era pandemi sistem kantor mengalami perubahan menjadi kantor yang lebih fleksibel. Bekerja secara virtual sudah membuat manusia dan tentunya pekerja kantoran beradaptasi dan memberikan banyak sekali manfaat, tetapi ada sisi negatifnya yang cukup berpengaruh, yaitu salah satunya karena kesenjangan sosial, tidak semua orang memiliki ruang kerja yang nyaman dan sehat, segala aktivitas dilakukan di ruang kerja, selama hari kerja yang panjang. Tidak semua orang memiliki akses ke ruang luar yang mudah, seperti balkon, atau berupa greenscape, ruang tersebut menjadi area yang jarang di pijak. Salah satu yang terdampak langsung dengan fenomena ini terkait bidang industri kreatif di Indonesia, yaitu industri yang memanfaatkan kreativitas dan keterampilan. Para pekerja kantorannya rata-rata merupakan generasi Y atau generasi “Milenial”. Bila diabaikan, akan tidak baik bagi  kesejahteraan pekerja kantor dalam jangka panjang. Oleh karena itu, desain untuk proyek ini diharapkan dapat menghubungkan ruang kerja dan ruang luar, serta mencapai aspek dari sistem kerja kantor yang lebih baik. Mensintesiskan metode tipologi arsitektur dengan desain biofilik yaitu pendekatan kebutuhan manusia untuk terhubung dengan alam, menghasilkan tipologi baru. Selain ruang kantor sebagai fungsi utama, dibentuk juga variasi dari aktivitas dan program lainnya, serta interaksi yang kuat terhadap hubungan dengan ruang luar, sehingga tujuan yang diinginkan bisa tercapai untuk skala mikro (ruang dalam), makro (ruang luar), dan membentuk tipologi yang sesuai untuk konteks kantor kedepannya (post-pandemic) yang dapat memperoleh tujuan baik bagi kesejahteraan pekerja kantor dalam jangka panjang.
RENCANA PENGELOLAAN KAWASAN PARIWISATA DI DESA WISATA NAWUNG, KECAMATAN PRAMBANAN, KABUPATEN SLEMAN, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA (BERBASIS COMMUNITY BASED TOURISM) Nada Utari Putri; Sylvie Wirawati
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.17389

Abstract

Indonesia has a lot of tourism objects that have the potential to be develope. The tourism is the main sector that has the potential in each region, this is expected to be an economic enhancer and can encourage economic growth for the country. Nawung Tourism Village, located in Sleman Regency, Prambanan District, Gayamharjo Village, and the part of tourist village objects contained in the government program, that is Prambanan National Tourism Strategic Area - Kalasan. Nawung Tourism Village used the concept of Community Based Tourism (CBT) where the participation of local communities in develope and manage tourism objects to success. However, the management of tourism objects in the Nawung Tourism Village has not been going well since the time was inaugurated, the management is only carried out by some local communities without involving existing organizations. Therefore, the purpose of this research is to analyze the form of management based on Community Based Tourism (CBT) that is appropriate and can be applied to the object of Nawung Tourism Village. This is a descriptive research with quantitative and qualitative approaches, where quantitative data collection is done by filling out questionnaires by visitors, while qualitative collection is carried out by conducting field surveys to the location of the study object and conducting in-depth interviews with several stakeholders in the Nawung Tourism Village. The results of this study are to provide recommendations for appropriate management to can be applied to the object of Nawung Tourism Village. Keywords:  Community Based Tourism; Management Plan; Nawung Tourism Village; PokdarwisAbstrakIndonesia memiliki banyak sekali objek wisata yang menjadi potensi untuk dapat dikembangkan. Sektor pariwisata ini menjadi sektor utama yang sangat berpotensi untuk melakukan pengembangan pada objek wisata di setiap daerah, hal ini diharapkan dapat menjadi penambah perekonomian dan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi bagi negara. Desa Wisata Nawung berlokasi di Kabupaten Sleman, Kecamatan Prambanan, Kelurahan Gayamharjo ini merupakan salah satu objek desa wisata yang terdapat pada pada program pemerinta yaitu pengembangan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional Prambanan – Kalasan. Desa Wisata Nawung sendiri menggunakan konsep Community Based Tourism (CBT)  dimana konsep tersebut membutuhkan partisipasi masyarakat lokal dalam mengembangkan dan mengelola objek wisata hingga berhasil. Akan tetapi, pengelolaan objek wisata pada Desa Wisata Nawung sendiri masih belum berjalan dengan baik sejak saat diresmikannya, pengelolaan hanya dilakukan oleh beberapa masyarakat setempat tanpa melibatkan organisasi-organisasi yang ada. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis bentuk pengelolaan berbasis Community Based Tourism (CBT) yang tepat dan dapat diterapkan pada objek Desa Wisata Nawung. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif, dimana pengumpulan data kuantitatif dilakukan dengan pengisian kuesioner oleh pengunjung, sedangkan pengumpulan kualitatif dilakukan dengan melakukan survey lapangan ke lokasi objek studi dan melakukan wawancara mendalam pada beberaoa stakeholder yang ada di objek Desa Wisata Nawung. Hasil dari penelitian ini yaitu memberikan rekomendasi pengelolaan yang tepat agar dapat diterapkan pada objek Desa Wisata Nawung. 
REVITALISASI KAMPUNG NELAYAN CILINCING Nicholas Aries; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16900

Abstract

The issue of decreasing living quality happens in most coastal villages in Indonesia. One of them is Cilincing fishermen's village located in North Jakarta. Cilincing fishermen's village is a village that grows organically without any proper planning. This condition helps worsen the issue of living quality caused by humans and nature. The low living quality at Cilincing fishermen's village showed it is an unhabitable territory, especially in long-term conditions. It is also a form of displaying how people with low income live their life. The idea of relocating will be a new challenge to be done so that to be able to get around the new development needs to be done. The new development is a method to achieve revitalization without relocating the inhabitants henceforth, able to preserve to locality aspect of the environment.  The main idea of the revitalization program that uses a new development method is to provide a habitable living facility, especially for the native inhabitants of Cilincing fishermen's village, followed by a secondary program of facilities and infrastructure that function to help the activities of the inhabitants. The output of the revitalization program is vertical housing with adaptive characteristics without getting rid of the local aspects. In hopes of increasing the living quality of Cilincing fishermen's village inhabitants. As well as providing infrastructure and facilities which can increase the fishermen's village economic condition. Keywords: Cilincing; fishermen’s village; living quality; new development AbtrakAdanya fenomena penurunan kualitas berhuni yang terjadi di mayoritas kampung nelayan di Indonesia salah satunya merupakan Kampung Nelayan Cilincing yang terletak di Jakarta utara. Kampung Nelayan Cilincing merupakan kawasan desa pesisir yang terbentuk secara organik dan bertumbuh dengan pesat tanpa adanya proses perencanaan, hal ini menimbulkan berbagai macam masalah yang memengaruhi kualitas berhuni masyarakat di kawasan tersebut baik yang disebabkan oleh manusia maupun alam. Rendahnya kualitas berhuni menunjukkan ketidaklayakan kawasan untuk dihuni dalam jangka waktu yang panjang serta memberikan gambaran kehidupan mayoritas masyarakat dengan penghasilan rendah. Untuk itu dengan dilakukannya relokasi akan menjadi sebuah tantangan tersendiri, agar mampu menyiasati hal tersebut akan dilakukannya sebuah pengembangan baru atau new development. Pengembangan baru merupakan metode untuk melakukan revitalisasi di kawasan kampung nelayan Cilincing tanpa melakukan relokasi penduduk untuk menjaga aspek lokalitas kawasan tersebut. Dengan Ide program utama revitalisasi kawasan adalah menghadirkan fasilitas hunian yang layak huni bagi warga lokal kampung nelayan, didukung oleh program sarana dan prasarana kebutuhan aktivitas warga kampung nelayan Cilincing. Dengan program menyediakan sebuah fasilitas hunian vertikal dengan sifat adapatif tanpa menghilangkan aspek lokalitas yang sudah ada diharapkan dapat meningkatkan kondisi kualitas berhuni masyarakat kampung nelayan. Usulan berupa dukungan prasarana maupun sarana kegiatan yang juga dapat menaikkan kondisi ekonomi di kampung nelayan.
KONSEP MIX PROGRAMMING DALAM PENCARIAN TIPOLOGI BARU DESAIN TERMINAL BLOK M Fitriandi Fitriandi; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16976

Abstract

Jakarta as the capital of the Unitary State of the Republic of Indonesia is the center of economy and government. The population of DKI Jakarta province continues to grow every year. One of the causes of population growth is urbanization. Population density also differs between the night population and the day population, where the day population is greater due to the presence of commuters. Human density, activity, and the high use of private vehicles cause the city of Jakarta to become one of the cities with the problem of high congestion in the world. As a step in overcoming congestion, the DKI Jakarta government has built a transportation system in the form of TransJakarta buses, MRT, and LRT to invite private vehicle users to switch to using public transportation. But it turns out that it is not optimal without the improvement of other supporting facilities such as transportation buildings. Driving comfort needs to be supported by building comfort that facilitates intermodal movement. Through the cross programming method Bernad Tschumi the author seeks to discover a new typology of the design of a terminal with Blok M Terminal as a case study. Blok M terminal which used to be just a place to transite will be made into a terminal that not only serves as a transit facility but also as a meeting point facility for transportation system users and the surrounding community. Keywords:  Transit; Cross Programming ; New Typology; Blok M Terminal AbstrakJakarta sebagai Ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan pusat ekonomi dan pemerintahan. Jumlah penduduk Provinsi DKI Jakarta terus bertambah setiap tahunnya. Salah satu penyebab pertambahan penduduk adalah urbanisasi. Kepadatan penduduk juga berbeda antara penduduk malam dengan penduduk siang, dimana penduduk siang lebih besar akibat hadirnya para komuter. Kepadatan manusia, aktivitas, dan tingginya penggunaan kendaraan pribadi menyebabkan kota Jakarta menjadi salah satu kota dengan persoalan kemacetan tinggi dunia. Sebagai langkah dalam mengatasi kemacetan, pemerintah DKI Jakarta telah membangun sistem transportasi berupa bus TransJakarta, MRT, serta LRT guna mengajak pengguna kendaraan pribadi beralih menggunakan kendaraan umum. Namun ternyata hal tersebut belum optimal tanpa peningkatan fasilitas pendukung lainnya seperti bangunan transportasi. Kenyamanan berkendara perlu didukung dengan kenyamanan bangunan yang memfasilitasi perpindahan antar moda. Melalui metode cross programming Bernad Tschumi penulis berusaha untuk menemukan tipologi baru dari desain sebuah terminal dengan Terminal Blok M sebagai studi kasus. Terminal BLOK M yang dahulu hanya sebagai tempat untuk bertransit akan dibuat menjadi sebuah terminal yang tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas transit namun juga sebagai fasilitas titik temu bagi pengguna sistem transportasi dan masyarakat sekitar.
FASILITAS KESEHATAN MENTAL DI TANGERANG SELATAN Anastasia Putri; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16902

Abstract

Mental health in Indonesia is no longer a taboo topic despite the mild awareness and handling of the cases. However, as our era evolves more people have become more aware that mental health issues are as notable as physical health. Statistics stated in the year 2018 that in Indonesia as much as 3.7% of the population suffer from depression. Even so, the number of facilities that accommodate mental health treatments are still limited and dispersed. Mental Health Facility in Tangerang Selatan is a place where people with early signs of mental illness or are stressed out where they can receive treatments or carry out self-healing processes. This facility aims to help patients heal emotionally and mentally under supervision of professionals. This project is located in Kelapa Dua, Tangerang Selatan where this specific location can easily reach out to people from various status. The design method used in this project makes use of the 5 human senses that take role in the healing process of the patients. There are some key elements supporting this design method which are: room atmospheres, colors, nature, sounds, textures, and smells. The application according to these methods are to be expressed in the exterior and interior design of the building and the landscape that complements the building itself. At the end of the design process results a design that is expected to create relief and gradually develop healing to the visitors’ mental health.Keywords: facility; healing; mental health; senses AbstrakKesehatan mental di Negara Indonesia bukan lagi menjadi hal yang tabu meskipun masih kurang mendapat perhatian dari masyarakat dalam hal pengetahuan maupun penanganannya. Namun, semakin berkembangnya zaman semakin banyak orang yang menyadari pentingnya menjaga kesehatan mental sama seperti kesehatan fisik. Pada 2018, di Negara Indonesia sendiri tercatat ada sebanyak 3.7% populasi mengalami depresi namun ketersediaan fasilitas untuk penanganan kesehatan mental masih tergolong sedikit jumlahnya dan kurang menyebar terlebih di daerah yang kurang berkembang. Fasilitas Kesehatan Mental di Tangerang Selatan memfasilitasi penyandang penyakit mental yang ringan atau sedang dibawah tekanan yang membutuhkan perawatan maupun pelampiasan secara emosional. Sarana ini bertujuan untuk membantu pemulihan atau penyembuhan mental secara mandiri dan dibawah pengawasan profesional. Proyek ini berlokasi di Kelapa Dua-Tangerang Selatan, merupakan lokasi dapat menjangkau masyarakat dari berbagai kalangan. Adapun metode desain yang diterapkan pada proyek ini menggunakan ke-lima indera manusia yang berperan dalam proses pemulihan pasien. Metode ini terdapat beberapa elemen penting dalam desain, diantaranya: suasana ruang, warna, alam, suara, tekstur, dan bau. Penerapan dalam desain eksterior berupa lansekap dan memanfaatkan alam sekitar tapak, untuk interior lebih pada rancangan suasana ruang pada bangunan dan lansekap yang mendukung desain bangunan. Diharapkan hasil rancangan tercipta suasana dan kondisi rancangan  yang memenuhi dasar dalam penyembuhan mental bagi penyandang penyakit mental.
WISATA DAN SENI PERTUNJUKAN BETAWI DENGAN KONSEP BETAWI PESISIR Muhammad Ilham Sudrajat; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16918

Abstract

Kelurahan Marunda was once a place which known for its Betawi culture in Jakarta. The existence of Museum Si Pitung in the area reflected the Betawi culture, sourced from its folklores (of Betawi culture). However in present day, Kelurahan Marunda is now more one of Jakarta’s Industrial Area. As in writer’s opinion, it is important to keep Kelurahan Marunda famous for its Betawi culture, in order to keep the Betawi identity of Kelurahan Marunda itself. The site the writer chose is near from Pantai Marunda, known locally as ‘Tempat Wisata/Recreational Place’, which until now still frequently visited by publics. Considering the site of the writer chose, therefore the writer looks up to the theory of Biophilic Design. The writer propose to build an area with Betawi Culture Concept in Coastof Kelurahan Marunda with 3 main activity programs as: The traditional art conservation activities, for example dancing arts, musics, theatres and matrial arts. Next memorabilia conservation activities, putting in bold of water recreation conservation activities in the Coast of Marunda.Also there are activities which contain Betawi Culture’s image conservation, in this will be bolding the culinary and accessories sectors out. The above-proposed Betawi Culture tourism area is definitely important for Marunda Area, because it will also creates working opportunities for the locals, and the most important once more is to keep the Betawi identity in Marunda itself. Keywords:  Betawi Culture Art; Betawi Coastal; Eco-Tourism Principles AbstrakKelurahan Marunda merupakan tempat yang kental terhadap budaya Betawi di Jakarta. Adanya bangunan Museum Si Pitung di kawasan Marunda melambangkan adanya cerita di Marunda yang mengacu pada cerita-cerita budaya Betawi. Namun di masa sekarang, Marunda menjadi bagian kawasan industri di Jakarta. Saya berpendapat bahwa sangat pentinglah adanya suatu kawasan di Marunda yang masih berpegang teguh pada kebudayaan Betawi, untuk mempertahankan identitas asli kawasan Marunda.  Tapak yang terpilih berada di Pantai Marunda, tapak ini merupakan tempat wisata di Marunda yang masih kerap dikunjungi oleh warga. Dengan teori perancangan biofilik desain. Maka dari itu, penulis mengusulkan untuk membangun sebuah kawasan dengan konsep Betawi Pesisir di wilayah Marunda dengan menentukan 3 program aktivitas utama dalam kawasan dan juga menentukan zonasi pada tapak antara lain adalah. Aktivitas pelestarian kesenian, seperti kesenian tari, musik, teater, dan juga pencak silat. Ada juga aktivitas pelestarian memoribilia, yang di dalamnya merupakan zona yang berfokus pada pelestarian rekreasi air, dimana adanya kegiatan yang berkaitan dengan penduduk Betawi Pesisir di kawasan Marunda. Dan yang terakhir adalah aktivitas pelestarian citra, dalam zona ini lebih mengacu kepada pelestarian kuliner dan aksesoris.  Proyek kawasan pariwisata kebudayaan Betawi Pesisir ini sangatlah baik untuk wilayah Marunda. Karena dapat menciptakan lapangan pekerjaan, dan juga mempertahankan identitas Betawi Pesisir di Marunda.
PEMAKAMAN VERTIKAL SEBAGAI TIPOLOGI BARU Sri Arta Utami Nofitasari; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16895

Abstract

A cemetery is the final resting place of the deceased. Death is part of the land of the dead. Death is one of the phases in the cycle of human life that all humans will face and experience. Death is one part of the process of human life. Death is a process that cannot be avoided by humans, humans who are born in the world will eventually leave the world. All living things believe that one day they will die. Humans cannot determine when they are born and when they will die. There are several ways of burial such as cremation, recommission, the burial of the grave, and others. But over time the land for burial has run out. Therefore, vertical burial facilities are Designed as a new typology and are expected to answer the problem of lack of burial land. The city of Jakarta is one of the cities that have limited land in Indonesia. A limited land is a form of increasing population in the city of Jakarta. The population continues to increase in proportion to the need for land for burials. Indonesia officially recognizes the existence of 6 Indonesian religions, this affects the way people have funerals with religious funerals. The funeral that is usually carried out is a funeral based on religion. The Design method used is by conducting a literature study; Literature Review; Area Analysis; Site Investigation; data collection and study of precedents. The results of the writing can be concluded that vertical burial is effective in overcoming the problem of shortage of burial land. Keywords: Burial; Death; Religious Architecture; Typology; Vertical AbstrakPemakaman adalah tempat peristirahatan terakhir orang yang sudah meninggal. Meninggal yaitu bagian dari kematian, Kematian merupakan fase dalam siklus kehidupan manusia yang pasti akan dihadapi dan dialami oleh seluruh manusia. Kematian merupakan salah satu bagian dari proses kehidupan manusia. Kematian adalah proses yang tidak bisa dihindari oleh manusia, manusia dilahirkan di dunia pada akhirnya akan meninggalkan dunia. Semua makhluk hidup percaya bahwa suatu hari mereka akan mati. Manusia tidak memiliki kemampuan untuk menentukan kapan dia lahir dan kapan mereka akan mati. Ada beberapa cara pemakaman seperti kremasi, resomasi, pemakaman kubur dan lainnya. Namun seiring waktu lahan untuk pemakaman telah habis. Maka, dirancang fasilitas pemakaman vertikal sebagai tipologi baru dan diharapkan menjawab permasalahan kurangnya lahan pemakaman. Kota Jakarta merupakan salah satu kota yang mengalami keterbatasan lahan di Indonesia. Keterbatasan lahan adalah bentuk dari peningkatan jumlah penduduk di Kota Jakarta.  Jumlah penduduk terus meningkat sebanding dengan kebutuhan lahan untuk pemakaman. Indonesia secara resmi mengakui adanya 6 agama Indonesia, ini mempengaruhi cara pemakaman masyarakat dengan pemakaman agama. Pemakaman yang biasa dilakukan adalah pemakaman berdasarkan agama. Metode perancangan yang digunakan adalah dengan melakukan studi Literatur; Kajian Literatur; Analisa Kawasan; Investigasi Tapak; pengumpulan data dan studi preseden. Hasil dari penulisan dapat disimpulkan bahwa pemakaman vertikal efektif dalam mengatasi masalah kekurangan lahan pemakaman.
OMAH RAJUT ASA Dessyanna Natalie; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.17243

Abstract

School of Therapy for Autistic Children is an educational institution ranging from kindergarten (TK), elementary school (SD), junior high school (SMP), and senior high school (SMA) in Jakarta which is devoted to Children with Autism. The background underlying this design is because educational facilities for children with autism  are classified as inadequate and have not been able to meet all the educational needs for sufferers so that they can develop their talents and potential, and obtain education that is equivalent to normal children their age. In fact, these children are considered to have no talent and potential that can be developed. Most of the general public has a negative perspective on children with autism. As a result, there are so many children with autism who have talents and potentials that, if developed, can far exceed what normal children have in general. In planning and designing this Special School, it will be interpreted through the concepts of architectural and behavioral psychology.  Keywords: Autism, Psychology of Architecture, Jakarta. AbstrakSekolah Terapi Anak Autis Merupakan sebuah lembaga pendidikan mulai dari taman kanak - kanak (TK), tingkat sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), dan sekolah menengah atas (SMA) di Jakarta yang dikhususkan bagi Anak Penyandang Autisme. Latar belakang yang melandasi perancangan ini yaitu karena fasilitas pendidikan bagi anak autis tergolong belum memadai dan belum dapat memenuhi segala kebutuhan pendidikan bagi penderita agar mereka dapat mengembangkan bakat dan potensi diri, serta memperoleh pendidikan yang setara dengan anak normal seusianya. Faktanya, anak- anak ini dianggap tidak memiliki bakat dan potensi yang dapat dikembangkan. Kebanyakan masyarakat umum memiliki perspektif negatif mengenai anak penyandang autisme. Hasilnya, terdapat begitu banyak anak penyandang autisme yang memiliki bakat dan potensi diri yang apabila dikembangkan, dapat jauh melebihi apa yang dimiliki anak normal pada umumnya. Dalam perencanaan dan perancangan Sekolah Luar Biasa ini akan diinterpretasikan melalui konsep Psikologi arsitektur dan perilaku. 

Page 71 of 134 | Total Record : 1332