cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
STUDI KEBERHASILAN PENGELOLAAN DESA WISATA BERBASIS COMMUNITY BASED TOURISM (STUDI KASUS: DESA NGLANGGERAN, KECAMATAN PATUK, KABUPATEN GUNUNGKIDUL, YOGYAKARTA) Berinda Filantropi; Priyendiswara Agustina Bella
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.17295

Abstract

Tourism is one of the most important economic activities in Indonesia, because it has a lot potential and natural wealth in it. Tourism is currently being developed, because it is considered capable of providing income for state revenues. In addition, the development of tourism is expected to provide and improve the economy of the local area and its people. Nglanggeran Tourism Village located in Patuk District, Gunungkidul Regency is one of the tourist villages that is managed with a Community Based Tourism management approach system (CBT). The CBT approach system is a tourism management system involving the participation of local communities. In the management of the Nglanggeran Tourism Village, it is not known how the performance of the CBT approach in the management of the Nglanggeran Tourism Village, the perceptiosn and preferences of visitors to the performance and result of the management of the Nglangggeran Tourism Village, and what factors influence the success of the village management. Therefore, the main purpose of this study is to analyze the performance of the CBT approach in the management of Nglanggeran Tourism Village, analyze visitor perceptions and preferences of the performance and results of the Nglanggeran Tourism Village management by applying CBT. This research qualitative and quantitative research. Qualitative data was obtained by conducting field surveys to tourist village locations and conducting interviews with related parties, while quantitative data was obtained by distributing questionnaires by visitors to Nglanggeran Tourism Village. The result of this study are to find out how the performance of the CBT approach to the management of the Nglanggeran Tourism Village, how the perecptions and preferences of visitors to the performance and results of the management of the Nglanggeran Tourism Village, and what are the factors that influence the management of the Nglanggeran Tourism Village. Keywords:  Community Based Tourism; Management; Nglanggeran Tourism Village; Success AbstrakPariwisata merupakan salah satu aktivitas perekonomian terpenting di Indonesia, karena memiliki banyak potensi dan kekayaan alam didalamnya. Pariwisata saat ini terus dikembangkan, karena dianggap mampu memberikan pemasukan bagi pendapatan negara. Selain itu, berkembangnya pariwisata diharapkan dapat memberikan dan meningkatkan perekonomian daerah setempat dan masyarakatnya. Desa Wisata Nglanggeran berlokasi di Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul merupakan salah satu desa wisata yang dikelola dengan sistem pendekatan pengelolaan Community Based Tourism (CBT). Sistem pendekatan CBT merupakan sistem pengelolaan pariwisata dengan melibatkan partisipasi masyarakat lokal. Dalam pengelolaan Desa Wisata Nglanggeran belum diketahui bagaimana kinerja pendekatan CBT dalam pengelolaan Desa Wisata Nglanggeran, persepsi dan preferensi pengunjung terhadap kinerja dan hasil dari pengelolaan Desa Wisata Nglanggeran, serta belum diketahui faktor – faktor apa saja yang berpengaruh dalam keberhasilan pengelolaan desanya. Oleh karena itu, tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kinerja pendekatan CBT dalam pengelolaan Desa Wisata Nglanggeran, menganalisis persepsi dan preferensi pengunjung terhadap kinerja dan hasil dari pengelolaan Desa Wisata Nglanggeran, dan untuk menganalisis faktor – faktor yang berpengaruh dalam keberhasilan pengelolaan Desa Wisata Nglanggeran dengan menerapkan CBT. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dengan melakukan survey lapangan ke lokasi desa wisata dan melakukan wawancara dengan pihak – pihak terkait, sedangkan untuk data kuantitatif diperoleh dengan penyebaran kuesioner oleh pengunjung Desa Wisata Nglanggeran. Hasil dari penelitian ini adalah mengetahui bagaimana kinerja pendekatan CBT terhadap pengelolaan Desa Wisata Nglanggeran, bagaimana persepsi dan preferensi pengunjung terhadap kinerja dan hasil dari pengelolaan Desa Wisata Nglanggeran, dan apa saja faktor – faktor yang berpengaruh terhadap pengelolaan Desa Wisata Nglanggeran. 
PERUBAHAN UNTUK HUNIAN VERTIKAL UNTUK PERUBAHAN GAYA HIDUP PASCA PANDEMI Antomy Chandra; Stephanus Huwae
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16904

Abstract

With the emergence of the COVID-19 pandemic in 2020, people are forced to avoid direct contact activities due to pandemic rules not to avoid direct contact with each individual. This makes people carry out their daily activities remotely through electronic devices using the internet. After carrying out remote activities for almost 2 years, people are starting to get used to remote activities and feel more comfortable in carrying out important daily activities because of the benefits of doing online activities that don't need to take a lot of time (no traffic jams, travel costs). , etc.) which makes it possible for the implementation of these remote activities to be carried out in the long term after this pandemic is over or subsided. With the change in the function of the house as a place to work, go to school, and shelter, important activities such as work/study can be disrupted because these activities become a distraction for each other, therefore adaptation is also needed to the arrangement of the home space (vertical) and the program so that activities in homes do not interfere with each other and important activities that are carried out remotely (work/study) are not disturbed and the results of the quality of the activities are decreasing which is to adapt to new lifestyle changes that lead to digital and long-distance contacts in the future to avoid distraction from these activities that interfere with their productivity and quality. Keywords:  COVID-19 pandemic; distraction;  lifestyle changes; productivity. AbstrakDengan munculnya pandemi COVID-19 pada tahun 2020 ,masyarakat terpaksa untuk menghindari aktivitas secara kontak langsung karena aturan pandemi untuk tidak menghindari kontak langgsung terhadap masing-masing individu. Hal tersebut membuat masyarakat melakukan aktivitas keseharianya secara jarak jauh melalui perangkat elektronik degan menggunakan internet . Setelah berlangsungnya kegiatan secara jarak jauh selama hampir 2 tahun, maka masyarakatpun mulai terbiasa dengan kegiatan secara jarak jauh dan merasa lebih nyaman dalam melakukan kegiatan penting sehari – harinya karena manfaat berkegiatan secara online yang tidak perlu memakan waktu banyak ( tidak ada kemacetan jalan, ongkos berpergian, dll)  yang hal ini memungkinkan untuk penerapan kegiatan secara jarak jauh tersebut dilakukan secara jangka panjang setelah pandemi ini selesai atau meredah. Dengan perubahan fungsi rumah sebagai tempat bekerja, bersekolah, dan hunian maka kegiatan penting seperti bekerja/belajar bisa terganggu karena kegiatan tersebut manjadi distraksi bagi satu-sama lainnya, oleh maka itu dibutuhkan juga adaptasi terhadap  penyusunan ruang rumah(vertikal) dan programnya agar kegiatan dalam rumah saling tidak mengganggu satu sama lainnya dan kegiatan penting yang dilakukan secara jarak jauh (bekerja/belajar) tidak terganggu dan hasil kualitas kegiatannya pun makin berkurang dimana untuk menyesuaikan dengan perubahan gaya hidup yang baru yang mengarah ke arah digital dan kontak jarak jauh kedepannya untuk mengindari distraski terhadap kegiatan tersebut yang mengganggu produktivitas dan kualitas nya.
PERANCANGAN RUMAH SUSUN HIJAU DI CENGKARENG DENGAN PENDEKATAN RETHINKING TYPOLOGY DAN TRANSPROGRAMMING Alexander Jason; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16973

Abstract

Jakarta is a city with a very high population density. Every year the population in Jakarta increases by around 88 thousand people according to the Central Statistics Agency for the Special Capital Region of Jakarta in 2020. This is partly due to the high level of urbanization. The high urbanization resulted in the increasing demand for housing. However, the limited amount of land has resulted in higher land prices while the purchasing power of most people for housing in Jakarta has decreased and has led to the emergence of slums. The bad impact of living in slums is the weakening in the quality of health which has a direct impact on the weakening in the standard of living of its inhabitants. Therefore, it is needed flats that not only deal with the problem of slum settlements but also deal with health and economic problems of the residents of the flats so that the standard of living of the community is increasing and has a healthy living environment. The concept of this project is housing that is able to accommodate the lives of Low-Income Communities. This project is a new solution for livable housing that is able to improve the welfare of Low-Income Communities through the main housing program as well as supporting programs for planting areas and independent markets. Residents are expected to be able to live and work in a healthy environment. The design approach uses "Rethinking Typology" which pays attention to aspects of spatial form/configuration, function, and image in a dwelling and the relationship between concepts and program contexts in buildings. Keywords:  housing; rethinking typology; slum settlement AbstrakJakarta merupakan kota dengan tingkat kepadatan penduduk sangat tinggi. Setiap tahun penduduk di Jakarta bertambah sekitar 88 ribu jiwa menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta tahun 2020. Hal ini antara lain disebabkan tingkat urbanisasi yang tinggi. Tingginya urbanisasi mengakibatkan bertambahnya kebutuhan akan perumahan. Namun jumlah lahan yang terbatas mengakibatkan harga lahan semakin tinggi sementara kemampuan daya beli sebagian besar masyarakat untuk hunian di Jakarta semakin menurun dan menjadikan timbulnya permukiman kumuh. Dampak buruk dari bermukim di permukiman kumuh adalah menurunnya kualitas kesehatan yang berdampak langsung pada turunnya taraf kehidupan penghuninya. Oleh karena itu dibutuhkan hunian susun yang bukan hanya menangani masalah permukiman kumuh tetapi juga menangani masalah kesehatan dan perekonomian para penghuni rumah susun tersebut agar taraf kehidupan masyarakat semakin meningkat dan mempunyai lingkungan hidup yang sehat. Konsep proyek ini adalah hunian yang mampu mengakomodasi kehidupan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Proyek ini adalah solusi baru hunian layak huni yang mampu meningkatkan kesejahteraan MBR melalui  program utama  hunian serta program pendukung area tanam dan pasar mandiri. Penghuni diharapkan dapat bermukim sekaligus bekerja di dalam lingkungan yang sehat. Pendekatan perancangan menggunakan “Rethinking Typology” yang memperhatikan aspek bentuk/konfigurasi spasial, fungsi dan citra dalam suatu hunian dan hubungan antara konsep dan konteks program dalam bangunan.
KONSEP DESAIN RUANG KERJA SETELAH PANDEMI COVID-19 Paulus Cahyadi Hwanggara; Denny Husin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16908

Abstract

The phenomenon of the Covid-19 pandemic affects the decline in productivity and work efficiency throughout the world and also in Indonesia. This decrease in productivity caused by changes in habits is one of the problems related to the use of buildings, systems or office units that adapt to the pandemic needed to be shown to prepare for an adaptation. With the aim of creating new workspace design concepts after the pandemic, typological methods related to distance, ergonomics and architectural psychology related to personal, social, and public spaces. As well as case studies to develop the relationship between typology and architectural psychology. The result is an office design with open workspaces, recreation rooms, and sports facilities where these spaces provide flexibility which has become a new need for work during a pandemic. Keywords:  covid-19; health; pandemic; productivity; Office AbstrakFenomena pandemi Covid-19 mempengaruhi penurunan produktivitas dan efisiensi kerja di seluruh dunia dan juga di indonesia. Penurunan produktivitas ini disebabkan oleh perubahan kebiasaan merupakan salah satu masalah terkait penggunaan bangunan, sistem atau unit kantor yang menyesuaikan pandemi diperlukan yang ditunjukkan untuk menyiapkan sebuah  adaptasi. Hal tersebut bertujuan untuk menciptakan konsep desain ruang kerja baru setelah pandemi. Metode tipologi terkait jarak, ergonomik dan psikologi arsitektur terkait ruang personal, sosial, dan publik digunakan sebagai pendekatan desain. Studi kasus digunakan untuk mengembangkan relasi antara tipologi dengan psikologi arsitektur. Hasil studi adalah sebuah desain kantor dengan ruang open workspace,  ruang rekreasi, dan fasilitas olahraga dimana ruang tersebut memberikan sebuah fleksibilitas yang menjadi kebutuhan baru dalam bekerja disaat dan sesudah pandemi.
KAMPOENG KITE: INKUBATOR BERBASIS KEBUDAYAAN BETAWI Ronald Leonardo; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16879

Abstract

In the city of Jakarta, there are tribes that can be said to be quite popular, namely the Betawi tribe, but in practice Betawi is only applied as general knowledge, which is taught in the media and educational institutions. Without us knowing and interpreting what it means and what is behind what is said to be Betawi. In reality, the Betawi tribe as a local ethnic group is often narrated as a marginal, less intellectual, lower middle class economy and other negative stereotypes circulating in a multicultural society. Using the typology method in the design, to change and create new perceptions and narratives about Betawi. Adapting from the perspective of architecture, customs, and also the daily life of Betawi customs, then translated into a form and space that is different but contains the same elements. Transforming a new form of Betawi traditional house, by reconstructing every related element, from the aspect of structure, ornament, philosophy, etc.This project aims to change the stereotypes/views of people towards Betawi and create a new paradigm and stigma against the Betawi community. By raising the real problems faced, namely the economy and also the identity crisis, it is promoted to design facilities that can accommodate productivity and on the other hand promote Betawi culture itself. Keywords:  Betawi; Typology; Stereotypes; Community. AbstrakKota Jakarta terdapat suku yang dapat dikatakan cukup populer yaitu suku Betawi, tetapi secara praktik Betawi hanya diterapkan sebagai pengetahuan umum saja, yang diajarkan di media dan institusi pendidikan. Tanpa kita tahu dan memaknai apa arti dan apa yang ada dibalik yang dikatakan sebagai Betawi. Pada kenyataan yang terjadi suku Betawi sebagai etnis lokal kerap kali dinarasikan sebagai kaum yang marjinal, kurang intelektual, kelas perekonomian menengah kebawah dan stereotip negatif lainya yang beredar di masyarakat yang multikultur. Menggunakan metode tipologi dalam perancangan, untuk merubah dan menciptakan persepsi dan narasi baru tentang Betawi. Mengadaptasi dari perspektif arsitektur, kebiasaan, dan juga keseharian dari adat Betawi, lalu diterjemahkan menjadi sebuah bentuk dan ruang yang berbeda tetapi mengandung unsur yang sama. Mentransformasikan bentuk baru dari rumah adat Betawi, dengan cara merekronstruksi ulang setiap elemen-elemen terkait, dari aspek struktur, ornamen, filosofi, dsb. Proyek ini bertujuan untuk merubah stereotip/pandangan dari orang-orang terhadap Betawi dan menciptakan paradigma dan stigma baru terhadap komunitas Betawi. Dengan mengangkat permasalahan yang dihadapi secara riil yaitu ekonomi dan juga krisis identitas, maka diusung untuk merancang fasilitas yang dapat mewadahi produktivitas dan disisi lain mempromosikan budaya Betawi itu sendiri.
PERANCANGAN HUNIAN VERTIKAL SEBAGAI TEMPAT TINGGAL, BERKREASI, DAN BERINSPIRASI Coreen Katrina Tania; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16965

Abstract

With the continuous increase of population growth in urban life but not the availability of comparable urban land for housing, the demand for apartments becomes a solid investment. Vertical housing has much capacity and can create green open space in a vertical environment. The emergence of a new lifestyle of living and working forms a new residence based on the characteristics of generations. This paper examines the effect of changes in lifestyle that are no longer conventional on the development of vertical housing, namely living and working housing. Using the biophilic method as an effort to approach nature with spaces. The biophilic concept is a concept that shows the relationship between the natural environment and humans in the hope of being able to influence the physical and psychological conditions of the user. Applying the biophilic concept seeks to create an expected atmosphere or condition, which can provide opportunities for humans/users to live and work healthy, reduce users' stress levels, and have an inspiring and prosperous living environment by using designs closer to nature. The purpose of this paper is to find a new residential typology to deal with changing lifestyles in this generation related to the need for adequate housing in dense areas. That's why the construction of "Vertical Residential Design As A Creative and Inspirational Place to Live" can be a positive, valuable initiative in overcoming housing problems. Keywords: Apartment; Characteristics; Creative; Lifestyle; Vertical OccupancyAbstrakDengan meningkatnya pertambahan penduduk dalam kehidupan perkotaan dan tidak dengan adanya ketersediaan lahan perkotaan yang sebanding untuk perumahan, mengakibatkan permintaan apartemen menjadi investasi yang solid. Perumahan vertikal memiliki daya tampung yang banyak dan dapat mewujudkan ruang terbuka hijau di lingkungan vertikal. Munculnya gaya hidup baru bertinggal dan bekerja membentuk hunian baru yang didasarkan atas karakteristik generasi. Dalam tulisan ini diteliti mengenai pengaruh perubahan gaya hidup yang tidak lagi konvensional terhadap pengembangan hunian vertikal, yaitu hunian tinggal dan bekerja. Menggunakan metode biophilic, sebagai upaya pendekatan alam dengan ruang. Konsep biophilic merupakan konsep yang memperlihatkan hubungan antara alam sekitar dengan manusia dengan harapan mampu mempengaruhi kondisi fisik maupun kondisi psikologis pengguna. Penerapan konsep biophilic berupaya agar dapat menciptakan suasana atau kondisi yang diharapkan dimana dapat menyediakan kesempatan bagi manusia/pengguna dengan tujuan hidup dan bekerja yang sehat, mengurangi tingkat kestresan pengguna dan memiliki lingkungan hidup yang menginspirasi dan sejahtera menggunakan cara mendekatkan desain dengan alam. Tujuan dari tulisan ini untuk menemukan tipologi hunian baru untuk menghadapi perubahan gaya hidup di generasi ini terkait dengan kebutuhan rumah tinggal yang efektif di daerah padat. Oleh karena itulah pembangunan “Perancangan Desain Hunian Vertikal Sebagai Tempat Tinggal Berkreasi dan Berinspirasi” dapat menjadi inisiatif yang positif dan bermanfaat dalam mengatasi masalah tempat tinggal. 
EFISIENSI SIRKULASI DAN ZONASI PASAR CENGKARENG Olivia Iendah Permatasari
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16948

Abstract

The market for most people is a place to live, earn a living, also a place for people to meet and interact to meet individual needs. Traditional market offerings have many advantages, including much cheaper prices, variety of food ingredients that can be seen directly, many of the necessities that are served can be negotiated. The traditional market is a representation of the people's economy, with sufficient class economic capacity, and a reliable place for small and medium scale businesses. The existence of traditional markets in the face of digital acceleration is a formidable challenge in the midst of global competition and the urgency of the pandemic drive. The modern market is getting stronger by the day and actively attracts buyers by means of all the advantages it has to offer. while the traditional market still bears the stigma of “dirty; uncomfortable; unhygienic” compared to modern markets. Therefore, traditional markets are starting to lose their interest, especially for Generation Z, which is already very dependent on digital products. To avoid being abandoned by consumers and being able to compete in the modern market, therefore the quality of service and management of traditional markets must be improved, by increasing circulation and zoning efficiency in order to support market needs with current market activities with digital intervention. The author tries to provide new space for visitors, sellers and managers with the super-imposition method between the circulation of building users. Keywords: Circulation, Zoning AbstrakPasar bagi sebagian besar masyarakat adalah tempat untuk hidup, mendapatkan kehidupan, juga tempat untuk orang bertemu dan berinteraksi untuk memenuhi kebutuhan individu. Penawaran pasar tradisional memiliki banyak keuntungan, diantaranya harga jauh lebih murah, variasi bahan pangan yang dapat dilihat langsung, banyak barang kebutuhan yang disajikan dapat ditawar. Pasar tradisional merupakan representasi perekonomian rakyat, dengan kemampuan ekonomi kelas terbilang cukup, dan tempat yang dapat diandalkan untuk skala kecil dan menengah . Eksistensi pasar tradisional menghadapi percepatan digital merupakan tantangan yang berat di tengah persaingan global dan urgensi dari dorongan pandemi. Pasar modern semakin kuat dari hari ke hari dan aktif menarik pembeli dengan sarana dari segala kelebihan yang ditawarkan. sementara pasar tradsional masih menyandang stigma “kotor;tidak nyaman; tidak higenis” dibandingkan dengan pasar modern. oleh karena itu, pasar tradisional mulai kehilangan minatnya terlebih pada generasi Z yang sudah sangat bergantung pada produk digital. Untuk menghindari ditinggalkan konsumen serta mampu bersaing di pasar modern, oleh karena itu kualitas pelayanan dan pengelolaan pasar tradisional harus ditingkatkan, dengan cara meningkatkan efisiensi sirkulasi dan zonasi demi menunjang kebutuhan pasar dengan aktivitas pasar saat ini dengan intervensi digital. Penulis berusaha memberi ruang gerak baru kepada pengunjung , penjual dan  pengelola dengan metode super-imposisi antara sirkulasi pengguna bangunan. 
RUANG TERAPI SENI SEBAGAI SOLUSI PENYEMBUHAN STRES DI JAKARTA BARAT Aldo Setiawan; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16871

Abstract

Stress is a global phenomenon that occurs to everybody. Stress is not a disease or flaw on a human body, it's more like a condition that can't be avoided. Even though it's not a disease, a continuous stress occurrence can lead to a lot of negative things and even a mental related disease. Stress had always been a global phenomenon even long before Covid 19 pandemic. But since Covid attacks, a lot of stress related problem has been detected. All of a sudden, all activity is being restricted making everything online based, people being infected, lost jobs and even losing loved ones. This leads to a whole new cause of stres. The impact of stress can affect daily activity which decreases the productivity and health. If this goes on, stress will increase and more people will suffer the risk of catching mental related disease. Through research, stress can be reduced by doing a number of therapy. Art therapy is one way to reduce stress levels by utilizing art as a medium. By designing a project that accommodate Art therapy and gallery as it’s second medium, it's believed that it can help decrease stress level. Keywords:  Art gallery; Art therapy; Healing; Stress.  AbstrakStres Merupakan isu global dan hal yang dialami oleh setiap orang, stres bukanlah suatu penyakit atau kecacatan pada fisik manusia dan stres juga tidak bisa dihindari. Namun, paparan stres yang berlebihan dapat menyebabkan banyak dampak buruk terhadap manusia. Stres juga sudah menjadi isu bahkan sebelum adanya kasus pandemi seperti yang sedang dialami dunia saat ini. Faktanya yang terjadi sekarang semenjak adanya Pandemi Covid 19, banyak timbul masalah terkait stres baru di perkotaan. Pasalnya, suasana kota yang biasanya hiruk pikuk, aktifitas padat semuanya dibatasi secara mendadak membuat banyak kegiatan menjadi dilakukan secara daring. Hal ini menyebabkan tingkat stres meningkat bagi masyarakat dikarenakan banyak yang terinfeksi, kehilangan orang terdekat, kehilangan pekerjaan, dan sebagainya. Dampak dari stres ini juga mengganggu keseharian masyarakat sehingga menurunkan tingkat produktifitas dan juga kesehatan mental bahkan sampai fisik. Jika hal ini dibiarkan berkelanjutan, maka tingkat stres akan terus meningkat dan kemungkinan masyarakat terkena penyakit mental juga akan meningkat. Stres dapat dikurangi dengan melakukan berbagai macam jenis terapi. Art Therapy merupakan salah satu bidang therapeutic yang mempergunakan kesenian sebagai medium untuk mengurangi tingkat stres pada seseorang.  Dengan membuat suatu proyek yang dapat menampung terapi seni dan juga galeri sebagai sarananya, tentu mampu membantu proses penyembuhan stres pada seseorang.
PERANCANGAN BALAI MULTI-ETNIK SEBAGAI WADAH UNTUK MEMPERSATUKAN KEMBALI ETNIS DAYAK DAN MADURA DI KAMPUNG PELADIS Brigita Pricillia; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16851

Abstract

Indonesia is a very diverse country, from that diversity there are various ethnic. However, the negative side, is the diversity and differences that can later lead to ethnic conflicts. Just like what happened in Borneo since 1950-2001, where conflicts between Dayak and Madurese ethnic groups repeatedly occurred. Kampung Peladis, which is located in West Borneo, is one proof that there are still borders and boundaries between Dayak and Madurese ethnic groups. Starting from the pattern of settlements, to the daily activities of inter-ethnic groups, and less mingling with each other. Therefore, with the aim of reuniting the two ethnic groups, through rethinking the typology as a design strategy, Rituals of Re-Unite settings so that the two ethnic groups will inevitably meet and communicate with each other at the Multi-Ethnic Hall in Kampung Peladis. Bloomfield once said, reconciliation means finding a way to live side by side with former opponents, to love and forgive them. They need to manage impressions because they "have to forget" the past at all costs, in order to coexist with each other. Thus, the method used is phenomenology as a design approach. Thus, Rituals of Re-Unite: Multi-Ethnic Hall of Kampung Peladis is expected not only to be useful as a forum for assimilation of the two ethnic groups in Kampung Peladis, but also to benefit people's lives. Keywords:  Borneo ; Conflict ; Dayak ; Ethnic ; Madurese AbstrakIndonesia merupakan sebuah negara yang sangat majemuk, dari kemajemukan itulah adanya berbagai keragaman etnis dan suku bangsa. Namun jika dilihat dari sisi negatif, dari keberagaman dan perbedaan tersebutlah yang nantinya dapat menimbulkan terjadinya konflik etnis. Layaknya yang terjadi di Kalimantan pada rentang tahun 1950-2001 silam, dimana konflik antaretnik Dayak dan Madura berulang kali terjadi. Kampung Peladis yang terletak di Kalimantan Barat, merupakan salah satu bukti bahwa masih terdapat border dan boundaries antaretnik Dayak dan Madura hingga saat ini. Mulai dari pola permukiman, hingga aktivitas keseharian yang berkelompok antaretnis, dan kurang berbaur antar satu sama lain. Oleh karena itu, dengan tujuan untuk mempersatukan kembali kedua etnis tersebut, melalui rethinking the typology sebagai strategi desain, maka Rituals of Re-Unite mensiasati agar kedua etnis nantinya mau tidak mau bertemu dan saling berkomunikasi di Balai Multi-Etnik Kampung Peladis. Bloomfield pernah mengatakan, rekonsiliasi berarti menemukan cara hidup berdampingan dengan mantan lawan, untuk mencintai dan memaafkan mereka. Mereka perlu mengatur kesan karena mereka "harus melupakan" masa lalu dengan cara apapun, untuk hidup berdampingan satu sama lain. Sehingga, metode yang digunakan yaitu fenomenologi sebagai pendekatan desain. Dengan demikian, Rituals of Re-Unite: Balai Multi-Etnik Kampung Peladis diharapkan tak hanya bermanfaat menjadi wadah pembauran kedua etnis tersebut di Kampung Peladis, namun juga bermanfaat bagi kehidupan masyarakat.
TAMAN BACA MASYARAKAT ROROTAN UNTUK MENINGKATKAN MINAT BACA MASYARAKAT Muhammad Reynaldi; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16933

Abstract

It is proven from the data that the education quality in Indonesia is very low and continues to decline from year to year. At the same time, Indonesian people's reading interest is also very low compared to other countries. Here we can see the correlation between education and reading interest, because by reading we can learn. One solution is to provide a reading platform with the aim of increasing public interest in reading. In this case, the library becomes the most dominating central point in efforts to increase reading interest. But in today's electronic era, people rarely go to the library. People feel no need to go to the library because everything can be accessed anywhere. Therefore, we need a building program that adapts to the times and can attract people to come to the library. One of the programs is to include electronic elements in the reading media. The type of library that will be created is a community reading park, with this the library is focused on reading activities. A concept is also needed to increase people's reading interest. The concept that will be used is “Creating a Perfect Reading Atmosphere”, which aims to provide maximum comfort for the readers. The method used in this project is the typological method. By creating a library that uses the right typology, the library will become a comfortable and safe place for its readers. Keywords: education quality; library; reading interest; typologyAbstrakTerbukti dari data kalau kualitas pendidikan di Indonesia sangat rendah dan terus turun dari tahun ke tahunnya. Di saat yang bersamaan minat baca masyarakat Indonesia juga sangat rendah dibandingkan dengan negara lainnya. Di sini terlihat korelasi antara pendidikan dan minat baca, karena dengan membaca kita bisa belajar. Salah satu solusinya adalah menyediakan wadah membaca dengan tujuan meningkatkan minat baca masyarakat. Perpustakaan dalam hal ini menjadi titik sentral yang paling mendominasi dalam upaya peningkatan minat baca. Tetapi di zaman sekarang yang serba elektronik, orang-orang menjadi jarang ke perpustakaan. Orang-orang merasa tidak perlu untuk ke perpustakaan dikarenakan semua sudah bisa diakses di mana saja. Maka itu diperlukan sebuah program bangunan yang beradaptasi dengan zaman dan bisa memikat orang untuk datang ke perpustakaan. Salah satu programnya adalah memasukkan unsur elektronik dalam media membacanya. Jenis perpustakaan yang akan dibuat adalah taman baca masyarakat, dengan ini perpustakaan difokuskan untuk kegiatan membaca. Diperlukan juga sebuah konsep untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Konsep yang akan digunakan adalah “Menciptakan Suasana Membaca yang Sempurna”, yang bertujuan untuk memberikan kenyamanan maksimal bagi pembacanya. Metode yang digunakan dalam proyek ini yaitu metode tipologi. Dengan menciptakan perpustakaan yang menggunakan tipologi yang tepat, perpustakaan tersebut akan menjadi tempat yang nyaman dan aman bagi pembacanya. 

Page 74 of 134 | Total Record : 1332