cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
ARSITEKTUR KESEHARIAN DALAM TIPOLOGI GALERI SENI DI SETIABUDI, JAKARTA Philip Efraim; DIah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16922

Abstract

Jakarta has been the 9th most stressful city in the world with the highest stress index placing right after Kiev, Ukraina. According to survey in one of the company based in Jakarta, 80% of the staff confessed had a pressured work environment either the cause was work demands, unfriendly environment, or personal problems. In the other hand, art has been part of human civilization from the start until now. Art has been involved in human’s daily life, reached every aspect of human’s life quality. Few researches have stated that art has a part in human’s learning process and sharpen the human’s cognitive system. Based on the facts of the current circumstances, this study was made to create and develop a design concept of Art Gallery which holds a part in being a space for self healing for the urban society. The merge of these functions was based on the process of re-thinking of the typology of Art Gallery in general also by adding daily architecture approah in the design process. Keywords:  Art Gallery; Art; Daily Architecture;  Self-healing; StressAbstrakKota Jakarta merupakan kota dengan kedudukan ke-9 setelah Kiev, Ukraina sebagai kota dengan indeks stres terbesar di dunia. Menurut hasil survey di salah satu perusahaan di Jakarta, 80% karyawannya mengaku stres dengan pekerjaannya, akibat tuntutan pekerjaan, lingkungan kerja, dan masalah individu. Sementara itu, seni adalah bagian dari kehidupan manusia sejak awal peradabannya hingga sekarang. Seni terlibat dalam kehidupan sehari-hari manusia, dalam semua aspek kehidupan manusia. Beberapa penelitian juga menyebutkan bahwa seni bisa membantu proses belajar manusia dan melatih sistem kognitif manusia. Mengacu pada kondisi tersebut, maka studi ini bertujuan menghasilkan suatu konsep perancangan galeri seni yang sekaligus dapat menjadi wadah self healing bagi warga kota. Penggabungan kedua fungsi ini dilandasi dengan proses berpikir ulang terhadap tipologi galeri pada umumnya juga menambahkan pendekatan arsitektur keseharian dalam proses perancangan. 
TIPOLOGI HUNIAN UNTUK GENERASI MUDA DI PLUIT, JAKARTA UTARA Jason Halim Saputra; Stephanus Huwae
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16864

Abstract

Population growth is something experienced by many countries, including Indonesia.  Population growth results in higher demand for new housing.  This inversely proportional to the decreasing availability of land for new residential development.  In big cities like Jakarta with a density of 10 million people, land for the construction of new housing is increasingly difficult, causing changes in the typology of urban dwellings.The "Urban Housing for Young Generation" project  aimed the younger generation to provide them with affordable housing, and also according to their more flexible characteristics.  An ideal residential building requires life support facilities, so facilities such as retail and recreation are also provided to meet the needs of residents. This project located on Jalan Pluit Permai, Penjaringan Subdistrict, North Jakarta, which is in a densely populated zone, has high mobility, and also has an existing life support facilities. Idea of the project puts forward the characteristics of flexibility because the target market is the younger generation who has flexible behavior by using functional methods in its design.  In addition, Post-Pandemic situation also addressed as current issue in design;  So the way humans carry out their activities has slightly changed.  These two become the basic reference used to design the concept of this building. Keywords:  Urban Housing;  young generation characteristics; and post-pandemic situation.  AbstrakPertumbuhan penduduk merupakan suatu hal yang dialami oleh banyak negara, termasuk dengan negara Indonesia. Pertumbuhan penduduk mengakibatkan permintaan akan hunian baru yang lebih tinggi. Hal ini berbanding terbalik dengan ketersediaan lahan untuk pembangunan hunian baru yang semakin berkurang. Di kota besar seperti halnya di Jakarta dengan kepadatan 10 juta jiwa, lahan untuk pembangunan hunian baru ini semakin sulit sehingga menyebabkan perubahan tipologi hunian kota. Proyek "Hunian Kota untuk Generasi Muda" ini ditujukan kepada generasi muda dengan tujuan untuk memberikan mereka hunian dengan harga terjangkau, dan juga sesuai dengan karakteristik mereka yang lebih fleksibel. Sebuah bangunan hunian yang ideal memerlukan fasilitas pendukung kehidupan, sehingga pada proyek ini disediakan pula fasilitas seperti retail maupun rekreasi untuk memenuhi kebutuhan penghuni. Proyek ini berlokasi di Jalan Pluit Permai, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara yang berada di area zona padat kependudukan, memiliki mobilitas yang tinggi serta memiliki sarana pendukung kehidupan. Proyek ini mengedepankan karakteristik fleksibilitas karena target pasarnya adalah generasi muda yang memiliki perilaku fleksibel dengan menggunakan metode fungsional dalam perancangannya. Selain itu, saat ini kita sedang mengalami yang namanya situasi Post-Pandemic yang berkelanjutan,  sehingga cara manusia melakukan aktivitasnya mengalami sedikit perubahan. Kedua hal tersebut menjadi acuan dasar yang digunakan untuk merancang konsep bangunan ini.
FASILITAS PERTUNJUKAN SENI TARI SEBLANG DAN RUMAH SINGGAH DI DESA OLEHSARI Jehezkiel Aprilio Alietsar; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16855

Abstract

A thought of saving the nation's traditional culture that began to fade, sink, and even disappear through the media of architecture can save the nation's culture and traditions, especially the dance culture, one of which is the famous Seblang Dance in Indonesia. The project location is in Olehsari Village, Glagah, Krajan Hamlet, Bysari, Kec. Banyuwangi, Banyuwangi Regency, East Java 68432 Therefore, in making the project, it follows the rules with the typology formed from the village so that it can maintain its original culture. with several application of concepts such as smart village which is the main target of the village government of Olehsari Village, while also applying several methods in the design with the Hybrid, Phenomenon, and Parasite methods. The purpose of this final project focuses on how to solve problems against the attacks or attacks of globalization in saving traditional dances. The ritual of the Seblang dance is one of the author's thoughts to become an object of research with architectural aspects through the application of architectural Rethinking Typology to performing arts facilities and also providing accommodation facilities by providing shelter facilities. In the application of the concept of form produced by several architectural methods that refer to vernacular architecture which adapts from the culture of the Osing tribe which dominates in the Banyuwangi area which is indeed the chosen site. So it is hoped that in the end this building can meet the needs of each user and can support the vision and mission of the Banyuwangi district in advancing the tourism sector based on 3 important things in tourism, namely: Attraction, accessibility, amenities. It is also hoped that it will contribute to a tangible manifestation of the global goal, namely The Sustainable Development Goals (SDGs). Keywords: homestay; performing arts room; seblang dance; typology; traditional AbstrakProyek merupakan sebuah pemikiran penyelamatan budaya tradisi bangsa yang mulai redup, tenggelam, dan bahkan hilang dengan melalu media arsitektur; dapat menyelamatkan budaya dan tradisi bangsa khususnya budaya menari salah satunya Tari Seblang yang terkenal di Indonesia. Letak proyek terdapat di Desa Olehsari, Glagah, Dusun Krajan, Olehsari, Kec. Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Dengan demikian, pada pembuatan proyek mengikuti kaidah kaidah-dengan tipologi yang terbentuk dari desa tersebut sehingga dapat mempertahankan budaya asli yang dimiliki. dengan beberapa penerapan konsep seperti smart kampung yang menjadi target utama dari Pemdes Desa Olehsari. Selain itu juga menerapkan beberapa metode dalam rancangan dengan metode hybrid, phenomenon, dan parasite. Tujuan dari tugas akhir ini menitik beratkan pada bagaimana pemecahan masalah terhadap serangan atau gempuran globalisasi dalam meyelamatkan tari tarian tradisional. Ritual Tari Seblang menjadi salah satu pemikiran penulis untuk dapat menjadi objek penelitian dengan aspek-aspek secara arsitektural lewat penerapan rethinking typology arsitektur terhadap fasilitas pertunjukan seni dan juga menyediakan fasilitas akomodasi dengan memeberikan fasilitas rumah singgah. Dalam penerapan konsep bentuk yang dihasilkan dengan beberapa metode arsitektural yang mengacu pada arsitektural vernakular yang mengadaptasi dari budaya suku osing yang sangat mendominasi di daerah Banyuwangi yang memang merupakan tapak yang dipilih. Sehingga diharapkan pada akhirnya bangunan ini dapat memenuhi kebutuhan dari setiap penggunanya serta dapat mendukung visi misi dari Kabupaten Banyuwangi dalam memajukan sektor pariwisata berdasarkan dengan 3 hal penting dalam wisata yaitu: attraction, accesibility, amenities. Yang juga di harapkan dapat memberikan kontribusi terhadap wujud nyata dalam tujuan global yaitu The Sustainable Development Goals (SDGs).
SUPORTIF DESAIN PADA KLINIK REHABILITASI MENTAL DI JAKARTA Jovan Adrio; Denny Husin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16872

Abstract

The saturation level of the COVID-19 pandemic is increasing. Limitation of activities has been carried out five times for approximately a year. The problem is that community productivity reduces with the level of depression increased 69% of the Indonesian population experiencing psychological problems, of which 72% are women and 28% are men. This study aimed to reduce the effects of depression during the pandemic and post-pandemic. The method used in this research is literature study, secondary data collection, case studies from several projects and other research. Mental health disorders cause by limited space for movement, boredom in learning, psychological trauma due to loss of loved ones, and social anxiety. The steps taken in the research are to identify mental health problems that occur in Indonesia, develop a frame of mind, and formulate hypotheses based on literature and case studies.The results of this study are to build clinics and supporting facilities to reduce depression levels by designing facilities for consultations for sufferers and psychologists or psychiatrists, supporting facilities in the form of parks as recreation areas, meditation areas, and support units. There is. These facilities can help patients to overcome the mental illness they are experiencing. Keywords : pandemic; healing; depression; typology; psychology AbstrakTingkat kejenuhan pandemi COVID-19 semakin meningkat. Pembatasan kegiatan yang telah dilakukan sebanyak 5 kali selama kurang lebih selama 1 tahun. Masalahnya produktivitas masyarakat berkurang serta meningkatnya tingkat depresi dengan 69% penduduk Indonesia mengalami masalah psikologis diantaranya 72% adalah wanita dan 28% adalah pria. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengurangi efek depresi pada saat pandemi dan pascapandemi. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah studi literatur, pengambilan data sekunder, studi kasus dari beberapa proyek dan penelitian lainnya. Gangguan kesehatan mental disebabkan oleh terbatasnya ruang gerak, kejenuhan belajar, trauma psikologis akibat hilangnya orang tersayang, dan kecemasan sosial. Langkah yang diambil dalam penelitian adalah mengidentifikasi masalah kesehatan mental yang terjadi di Indonesia, menyusun kerangka berpikir, dan merumuskan hipotesa berdasarkan studi literatur dan kasus. Hasil dari penelitian ini adalah membangun klinik dan fasilitas penunjang untuk mengurangi tingkat depresi dengan merancang fasilitas untuk konsultasi bagi para penderita dan psikolog atau psikiater, fasilitas penunjang berupa taman sebagai area rekreasi, area meditasi, serta unit pendukung. Terdapat. Dengan fasilitas tersebut dapat membantu pasien untuk mengatasi penyakit mental yang dialaminya.
RUMAH COLLOCALIA : SARANA EDUKASI PENGEMBANGAN BUDIDAYA BURUNG WALET Louis Frederick; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16940

Abstract

Swallow are bird that produce nest which are used as consumption materials that have good benefits for human body. Because of these benefits, many swallow's nests are in demand by the public, especially abroad, thus making swallow's nests have a high selling value. Then, many people are now practicing swallow cultivation, by making buildings as places for swallows to nest and live. However, this creates problems, especially environmental problems due to the lack of education for public to conducting swallow cultivation. So this design focuses on solving environmental problems due to swallow cultivation by providing swallow education facilities in public. This case also occured in the city of Gunungsitoli, North Sumatra, which is required an educational forum about the life of swallows. The educational facilities are in the form of galleries that provide lessons and also experiences for people who wants to learn properly about swallow cultivation or how to do new swallow cultivation. In design process are using the phenomenological design methods for the animal life with the aim of providing new education and training that is rarely found in the general public. In another sides, the education is also in the form of recreation in which there are also solutions in solving environmental problems such as a place for processing swallow waste and also as a place to manage swallow nests that are ready for consumption so as to increase regional income. Keywords: Swallow; Education; Recreation AbstrakBurung walet merupakan burung yang menghasilkan sarang dimana digunakan sebagai bahan konsumsi yang memiliki khasiat yang baik bagi tubuh. Karena khasiat tersebut, banyak sarang burung walet diminati oleh masyarakat khususnya di luar negeri, sehingga menjadikan sarang burung walet memiliki nilai jual yang tinggi. Dengan demikian, banyak masyarakat yang kini melakukan budidaya burung walet, dengan cara membuat bangunan-bangunan gedung sebagai tempat untuk burung walet bersarang. Akan tetapi hal tersebut membuat permasalahan- permasalahan, terutama permasalahn lingkungan karena kurangnya edukasi terhadap masyarakat dalam melakukan budidaya burung walet. Sehingga dalam perancangan ini berfokus pada penyelesaian permasalahan lingkungan akibat adanya budidaya burung walet dengan cara memberikan sarana edukasi burung walet ditengah masyarakat. Hal ini juga terjadi di Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara dimana memerlukan wadah edukasi tentang kehidupan burung walet. Sarana edukasi tersebut berupa galeri-galeri yang memberikan pelajaran dan juga pengalaman kepada masyarakat yang ingin belajar dengan benar tentang budidaya burung walet ataupun ingin melakukan budidaya burung walet yang baru. Dalam proses perancangan menggunakan metode perancangan fenomenologi terhadap kehidupan hewan dengan tujuan dapat memberikan edukasi dan pemahan baru yang jarang didapati masyarakat umum. Disamping itu, edukasi tersebut juga dalam bentuk rekreasi yang didalamnya juga terdapat solusi dalam penyelesaian permasalahan lingkungan seperti tempat pengolahan limbah walet dan juga sebagai tempat mengelolah sarang burung walet yang siap dikonsumsi sehingga dapat meningkatkan pendapatan daerah.
SANGGAR SENI PERTUNJUKAN BETAWI DENGAN KONSEP NEO-VERNAKULAR DAN METAFORA DI CILINCING, JAKARTA UTARA Christopher Christopher
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16962

Abstract

Betawi arts and culture have become their own identity and an accompaniment of the long history of forming the city of DKI Jakarta and its Betawi people. During the hustle and bustle of technological progress and modernization, there is a concern that Betawi performing arts will begin to fade among the current generation. The art studio that has produced many talents and young talents in Betawi performing arts fields is threatened with its existence after the number continues to decline every year. A building design was carried out using an architectural design method that combined the concept of neo vernacular with the metaphorical concept to solve the problem of cultural acculturation and to preserve and maintain the identity of Betawi performing arts. This acculturation manifests the new typology of performing arts studios to remain standing during the rapid progress and entry of various modern cultures among the Betawi people. The purpose of this combination of metaphorical and neo-vernacular concepts is to create a new typology in the Betawi art studio project, which has always prioritized tradtional architecture in every building design. It is hoped that the form of this new typology in the design of Betawi art studio can revive the Betawi art studio which is increasingly being eroded by progress by the times. The form of this typology can also be seen from the various facilities provided in the Betawi art studio project. The facilities in the Betawi art studio project are adjusted to progress of the times and the needs of the current generation. Keywords: Betawi Art; Sanggar Art; Acculturation; Metaphor; Neo-Vernacular AbstrakKesenian dan Kebudayaan Betawi telah menjadi identitas tersendiri dan menjadi pengiring dari sejarah perjalanan panjang akan terbentuknya kota DKI Jakarta dengan masyarakat Betawinya. Di tengah hiruk pikuk akan kemajuan teknologi dan modernisasi, muncul suatu kekhawatiran akan mulai pudarnya kesenian pertunjukan Betawi pada generasi sekarang ini. Sanggar seni yang selama ini telah melahirkan banyaknya bakat dan talenta muda dalam bidang seni pertunjukan Betawi mulai terancam eksistensinya setelah jumlahnya terus menurun setiap tahun. Untuk menyelesaikan permasalahan akulturasi budaya tersebut, dilakukan desain bangunan dengan metode perancangan arsitektur yang menggabungkan konsep neo-vernakular dengan konsep metafora untuk melestarikan dan mempertahankan identitas seni pertunjukan Betawi. Akulturasi ini adalah wujud dari tipologi baru akan sanggar seni pertunjukan Betawi supaya tetap berdiri di tengah pesatnya kemajuan dan masuknya berbagai budaya modern di kalangan masyarakat Betawi.  Tujuan dari adanya perpaduan akan konsep dari metafora dan neo-vernakular ini sendiri untuk membuat suatu tipologi baru dalam proyek sanggar seni Betawi yang selama ini selalu mengedepankan sisi arsitektur tradisional dalam setiap desain bangunanya. Diharapkan wujud dari tipologi baru terhadap desain sanggar seni Betawi tersebut dapat menghidupkan kembali sanggar seni Betawi yang semakin tergerus akan kemajuan jaman. Wujud akan tipologi baru tersebut juga dapat terlihat dari berbagai fasilitas yang disediakan di dalam proyek sanggar seni Betawi tersebut. Fasilitas yang ada di dalam proyek sanggar seni Betawi tersebut disesuaikan dengan kemajuan jaman dan kebutuhan akan generasi masa kini.   
EVOLUSI RUANG KERJA – PENINGKATAN KUALITAS HIDUP MERESPON LAJU PERKEMBANGAN KEHIDUPAN Jason Christhoufer Kurniawan; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.17021

Abstract

Technological developments and the existence of a pandemic have caused the pace of development of life globally and daily to also experience a fairly significant acceleration. This has an impact on all sectors of life including in shaping daily habits, mindsets, and lifestyles. The work system was forced to undergo a very significant evolution because the pandemic resulted in many people being forced to work online. Lifestyle has changed significantly. From the data obtained, humans spend half of their daily 24 hours at work. So it can be concluded that the workplace has an impact on a person's quality of life. Productivity, creativity, resilience and other quality of life factors are strongly influenced by the workplace. The effectiveness provided by workplaces and residences, quality of space, atmosphere of space, communal spaces to support social activities of workers in order to provide self-satisfaction outside of work achievement and so on are things that can create a better quality workplace. So that workers become more comfortable, productive and effective at work. Keywords: Evolution ; Pandemic ; Technological Developments ; Workplace AbstrakPerkembangan teknologi dan adanya pandemi menyebabkan laju perkembangan kehidupan secara global maupun sehari-hari juga mengalami percepatan yang lumayan signifikan. Hal tersebut memberi dampak pada semua sektor kehidupan termasuk dalam membentuk kebiasaan sehari-hari, pola pikir, dan gaya hidup. Sistem kerja dipaksa mengalami evolusi yang sangat signifikan karena dengan adanya pandemi mengakibatkan orang-orang banyak yang terpaksa bekerja dengan sistem daring. Pola hidup pun berubah dengan sangat signifikan. Dari data yang didapatkan, manusia menghabiskan setengah waktu dari 24 jam kesehariannya di tempat kerja mereka. Sehingga bisa disimpulkan bahwa tempat kerja memberikan dampak terhadap kualitas hidup seseorang. Produktivitas, kreativitas, kebetahan dan faktor kualitas hidup lainnya sangat dipengaruhi tempat kerja. Keefektifan yang diberikan tempat kerja dan tempat tinggal, kualitas ruang, suasana ruang, ruang-ruang komunal guna mendukung kegiatan sosial dari para pekerja agar memberikan kepuasan diri diluar pencapaian kerja dan lain sebagainya merupakan hal-hal yang bisa menciptakan kualitas tempat kerja yang lebih baik. Sehingga para pekerja pun menjadi lebih betah, produktif dan efektif dalam bekerja.
TIPOLOGI BARU PASAR TRADISIONAL SERPONG Nadhifa Aurelia Prawira; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16924

Abstract

Serpong E-Peken Project: A New Form of Serpong Traditional Market is based on the problems that arise and affect most of the traditional markets in Indonesia. Traditional markets are often considered slum and unfit, especially for the upper middle class, this makes the market undeveloped due to its inability to compete with the emergence of modern markets. Though this problem should not happen because every market has its own characteristics. The construction of this project is based on a conceptual method, which in its development takes into account many factors, both external and internal. In addition, this project also combines several other functions outside of its main function, such as a food court area, a sitting area as well as a communal area, and a recreation area to keep activities in the market alive. By using this method, it is hoped that this project will be able to carry out its main function as a traditional market and also be able to increase its competitiveness. This new form of traditional market is also expected to increase public interest in traditional markets and can be used as an example in the development of other traditional markets in the future. Keywords:  Market Revitalization; Rethinking Typology; Traditional Market.  AbstrakProyek E-Peken Serpong: Wujud Baru Pasar Tradisional Serpong diangkat dari permasalahan yang muncul dan menimpa sebagian besar pasar tradisional yang ada di Indonesia. Pasar tradisional kerap dinilai kumuh dan tidak layak khususnya bagi masyarakat kelas menengah atas, hal ini membuat pasar tidak berkembang karena ketidakmampuannya untuk bersaing dengan bermunculannya pasar - pasar modern. Hal ini tidak seharusnya terjadi sebab setiap pasar memiliki karakteristik yang berbeda. Pembangunan proyek ini berbasis metode konseptual, dimana dalam pembangunannya memperhatikan banyak faktor baik eksternal maupun internal. Selain itu, proyek ini juga menggabungkan beberapa fungsi lain di luar fungsi utamanya, seperti area food court, area duduk sekaligus area komunal, dan area rekreasi agar aktivitas di dalam pasar tetap hidup. Dengan menggunakan metode tersebut diharapkan proyek ini akan mampu menjalankan fungsi utamanya sebagai pasar tradisional dan juga mampu meningkatkan daya saingnya. Wujud baru pasar tradisional ini juga diharapkan akan meningkatkan minat masyarakat akan pasar tradisional dan bisa dijadikan contoh dalam pengembangan pasar tradisional lainnya di kemudian hari. 
PERANCANGAN LAPAS DENGAN PENDEKATAN BIOFILIK BERBASIS PEMASYARAKATAN DI KARAWANG BARAT Fanny Fanny; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16932

Abstract

The way of life in almost all countries is regulated by law. A person who is found guilty of a crime and convicted by a court is called a convict and the convict who will carry out a sentence that causes pain due to the loss of independence is called a prisoners. However, in addition to carrying out the crime, it is necessary to guide the convict to repent and educate so that he becomes a useful member of Indonesian society. Thus, the purpose of imprisonment is correctional, which implies that not only the community is protected against repeated crimes by the convict, but also protected by a banyan tree and given life provisions. So that he becomes a useful member of the Indonesian social community. The purpose of this design as an effort to present a healthy and beautiful prison to achieve the coaching process in accordance with the goals of the correctional institution and to question the extent to which a prison typology can be developed to produce a new typology while maintaining an active typology that can answer the challenges/problems that cause delays in the coaching process. prisoners. By developing the concept of biophilic for healing in a program that will be carried out by prisoners, namely focusing on the five senses (therapy through the senses of sight, touch, smell and hearing); coaching and education; and agriculture (plantation and agriculture) as well as incorporating biophilic elements into the basic form of the building mass. Keywords:  Biophilic; Prison; Prisoners; Typology AbstrakTata cara menjalankan kehidupan di hampir seluruh negara diatur oleh hukum. Orang yang didakwa bersalah atas sebuah kejahatan dan dihukum oleh pengadilan disebut terpidana dan terpidana akan menjalankan pidana yang menimbulkan rasa derita karena hilangnya kemerdekaan disebut narapidana. Namun selain menjalankan pidana perlu pembimbingan bagi terpidana agar bertobat dan mendidik supaya ia menjadi seorang anggota masyarakat Indonesia yang berguna. Sehingga, tujuan pidana penjara adalah permasyarakatan, yang mengandung makna bahwa tidak hanya masyarakat yang diayomi terhadap diulanginya perbuatan jahat oleh terpidana, melainkan juga diayomi oleh pohon beringin dan diberikan bekal hidup. Sehingga menjadi seorang anggota masyarakat sosial Indonesia yang berguna. Tujuan dari perancangan ini sebagai bentuk upaya menghadirkan lapas yang sehat dan asri untuk tercapainya proses pembinaan sesuai dengan tujuan Lembaga permasyarakatan serta mempertanyakan sejauh mana suatu tipologi penjara dapat dikembangkan untuk menghasilkan tipologi baru dengan tetap mempertahankan tipologi aktifnya yang dapat menjawab tantangan / masalah penyebab terhambatnya proses pembinaan narapidana. Dengan mengembangkan konsep biophilic for healing dalam program yang akan dilaksanakan oleh narapidana yaitu berfokuskan pada pancaindra (terapi melalui indra penglihatan, peraba, penciuman dan pendengaran); pembinaan dan pendidikan; dan argrikultur (perkebunan dan pertanian) serta memasukan unsur biophilic ke dalam bentuk dasar massa bangunan. 
PERANCANGAN PERTANIAN VERTIKAL YANG TERINTEGRASI UNTUK MENGATASI MASALAH PANGAN MASA DEPAN Caroline Natalie; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16854

Abstract

Based on existing data, people in Indonesia will migrate to urban areas which will cause population problems. One of them is the food problem, coupled with the fast demand for fresh food in the capital, which lacks planting media and sunlight. Vertical agriculture is considered to be one solution to this problem. However, until now there has been no special building for vertical agriculture that stands in the capital. This is because to build a special building for vertical agriculture requires a large amount of cost and energy. The vertical design approach by rethinking the typology based on the analysis of existing studies produces a typology of open masses and blocks as edges, a typology of terracing and grid patterns, the placement of vertical farms in buildings using solar energy sources and technology (hybrids), and hydroponic, aquaponic, and hydroponic cultivation methods. and aeroponics with retail and office programs as supporting programs that are directly integrated with vertical farming as the main program. So that the "Integrated Vertical Farming" project is expected not only to be able to answer food and environmental problems, but also the economy. Keywords: Food Problems; Program; Typology; Vertical Farming AbstrakBerdasarkan data yang ada, masyarakat di Indonesia akan bermigrasi ke daerah perkotaan yang akan menimbulkan masalah kependudukan. Salah satunya adalah masalah pangan, ditambah dengan permintaan bahan pangan segar yang cepat di ibukota yang minim media tanam dan matahari. Pertanian vertikal dinilai menjadi salah satu solusi masalah tersebut. Namun hingga kini belum ada bangunan khusus pertanian vertikal yang berdiri di ibukota. Hal tersebut dikarenakan untuk membangun bangunan khusus pertanian vertikal membutuhkan biaya dan energi yang cukup besar. Pendekatan perancangan pertanian vertikal dengan rethinking typology berdasarkan analisis studi yang ada menghasilkan tipologi massa yang terbuka dan blok sebagai tepi, tipologi pola terasering dan grid, penempatan pertanian vertikal pada bangunan dengan penggunaan sumber energi matahari dan teknologi (hybrid), dan metode penanaman hidroponik, akuaponik, dan aeroponik dengan program retail dan office sebagai program pendukung yang terintegrasi langsung dengan pertanian vertikal sebagai program utama. Sehingga proyek “Integrated Vertical Farming” ini diharapkan tidak hanya mampu menjawab permasalahan pangan dan lingkungan, tetapi juga ekonomi.

Page 73 of 134 | Total Record : 1332