cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
EKSPLORASI DESAIN TAMAN DENGAN PENDEKATAN BIOFILIK BERBASIS ETIKA LINGKUNGAN DI BSD Kezia Kartika Sari; Priscilla Epifania Ariaji
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10906

Abstract

Ethical Biophilic Park in BSD, Tangerang Is a connected open green spaces between a green park and a deer park., which one has existing faunal element specifically deer. Located at Jakarta’s suburban area, BSD Biophilical Park is one of many parks that foster a herd of deer. Both sites were found not maximized in their function, the existing deer foster has not considered fulfilling five freedoms of animal welfare, which must looked at into more in the future. Conceiving the needs of the human-animal interaction, biophilic and rewilding design methods are expected to be sufficient for the welfare of both parties. The park allocates a variety of artificial natural elements, closeness to faunal elements, as well as space experiences in enclosed spaces. Observing on how the park treat the herd, and how it affects the human activity, creates an output of a green park, that is still connected with the deer park, and also ones which has a full-length trail to see the herd without direct interaction such as petting and. In addition to the design, it involuntarily comply environmental ethics that favor  the following welfare of the animal itself. Keywords: Biophilical Park; Deer Fostering; Environmental Ethics; Opened Green Public; Space Rewilding Abstrak Taman Biofilik Berbasis Etika Lingkungan di BSD merupakan perpaduan dua ruang terbuka hijau yang salah satunya memiliki unsur fauna berupa rusa. Terletak di daerah sub urban Jakarta, Taman Biofilik BSD merupakan satu-satunya taman yang merawat rusa. Kedua tapak ditemukan belum maksimal dalam fungsinya, pemeliharaan rusa juga dianggap belum memenuhi lima unsur kesejahteraan hewan, yang kedepannya harus lebih diperhatikan. Memahami kebutuhan adanya hubungan dan interaksi antara manusia dan hewan, metode desain biofilik dan untuk diliarkan diharapkan dapat mencukupi kesejahteraan bagi kedua pihak. Taman mengalokasikan berbagai unsur alam buatan, kedekatan dengan unsur fauna, serta pengalaman ruang yang bersifat lebih terbuka atau tidak sepenuhnya terbangun dinding empat sisi. Mengamati perlakuan taman eksisting pada hewan, dan pengaruh aktivitas manusia didalamnya, menghasilkan taman manusia yang tetap terintegrasi dengan taman rusa, yang didalamnya terdapat jalur untuk melihat-lihat rusa tanpa secara langsung memegang atau memberi makan rusa. Terapan desain secara tidak langsung menghasilkan interaksi yang mematuhi etika lingkungan yang kerap mempengaruhi kesejahteraan hewan itu sendiri.
EVALUASI STRATEGI PENGELOLAAN WISATA ALAM KAWASAN CURUG LUHUR, KABUPATEN BOGOR Rikiyama Anugrah Wijaya Fujiyama; Irwan Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.7274

Abstract

Nature tourism is one of the very large types of tourism in the territory of Indonesia because of the wealth and beauty of the unlimited natural atmosphere and the high number of enthusiasts of these types of tours. One of the places that have the potential of natural tourism wealth around the foot of Mount Salak, Sukabumi is a curug or commonly known as a waterfall. Curug Luhur is one of the waterfalls that has the potential to be the object of sustainability tourism studies. But it is unfortunate because there are still problems in the area. One problem is the poor management strategy that threatens the preservation of nature and the balance of the ecosystem. To improve management strategies, it is necessary to know a number of problems and potentials in the region so that they can create better management strategies and increase visitor numbers without destroying the ecosystem balance and becoming sustainable tourism. Some aspects that must be considered are the organizational system, accessibility, facilities and infrastructure, human resources, attractiveness, and promotion. While from the perspective of the aspects of sustainable tourism are conservation, community participation, economy, and infrastructure. To get the results of evaluating the management strategy, namely by conducting quantitative and qualitative research and using research methods in the form of interviews, data collection, and field surveys in analyzing locations, physical conditions, carrying capacity of the area, best practices, visitor preferences, and management strategies. Keywords: management; sustainable tourism; waterfall AbstrakWisata alam adalah salah satu jenis wisata yang sangat besar di wilayah Indonesia karena kekayaan dan keindahan suasana alamnya yang tidak terhingga dan jumlah peminat jenis wisata tersebut juga memiliki angka yang tinggi. Salah satu tempat yang memiliki potensi kekayaan wisata alam di sekitar kaki Gunung Salak, Sukabumi adalah berjenis curug atau biasa dikenal sebagai air terjun. Curug Luhur adalah salah satu air terjun yang berpotensi menjadi objek studi pariwisata keberlanjutan. Tetapi sangat disayangkan karena masih terdapat permasalahan pada kawasan tersebut. Salah satu masalahnya adalah strategi pengelolaan yang tidak baik sehingga mengancam kelestarian alam dan keseimbangan ekosistem. Untuk memperbaiki strategi pengelolaan, perlu diketahui beberapa masalah dan potensi pada kawasan tersebut sehingga dapat membuat strategi pengelolaan yang lebih baik dan dapat meningkatkan angka pengunjung tanpa merusak keseimbangan ekosistem di dalamnya dan menjadi pariwisata berkelanjutan. Beberapa aspek yang harus diperhatikan adalah sistem organisasi, aksesibilitas, sarana dan prasarana, sumber daya manusia, daya tarik, dan promosi. Sedangkan dari sudut pandang aspek pariwisata berkelanjutan adalah konservasi, partisipasi masyarakat, ekonomi, dan infrastruktur. Untuk mendapatkan hasil evaluasi strategi pengelolaan, yaitu dengan melakukan penelitian kuantitatif dan kualitatif serta menggunakan metode penelitian berupa wawancara, pengumpulan data, dan survey lapangan dalam melakukan analisis lokasi, kondisi fisik, daya dukung kawasan, best practices, preferensi pengunjung, dan strategi pengelolaan.
KAJIAN PERANCANGAN HUNIAN SEHAT DAN TERJANGKAU BAGI PEKERJA MIGRAN DI TANAH ABANG Vinny Santoso; Diah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10732

Abstract

Urbanization is a phenomenon that cannot be avoided. Bappenas (2020) states that the population growth of DKI Jakarta has increased by 0.7%, which is an increase of 72 thousand people from the previous year, to become 10.57 million people. However, the lack of education and skills they have is one factor in the increasing number of migrant workers in the informal sector. Meanwhile, the opportunities for informal workers, especially migrants in DKI Jakarta, are not supported by the availability of adequate and affordable housing around the area, so that it becomes a problem for the growth of slum / illegal settlements that do not support a healthy life around the area. This study aims to provide an alternative place of residence for migrants who work in the informal sector in the trade and services sector in the Tanah Abang area. The final result expected is to produce a design concept and its application to shelter designs that meet the criteria of being healthy and affordable for migrants, especially those working in the Tanah Abang area. Migrants in this area find it difficult to find a place to live in a location close to the workplace, in order to save time and transportation costs. The system of sharing space in rooms and residential facilities is a residential concept used so that housing costs can be affordable. This study uses a behavioral world method with a daily architectural approach, mapping the activities of the target occupants, in order to determine the space requirements and the appropriate occupancy programs. The concept of designing this building, a healthy residence with good air circulation, has safety, comfort and beauty values even though it still applies the principle of affordability so that migrants who work in cities can live properly.Keyword : Urbanization; Migrant; Health; Affordable ABSTRAKUrbanisasi merupakan fenomena yang tidak dapat dihindarkan. Bappenas (2020) menyebutkan pertambahan penduduk DKI Jakarta naik 0,7% yaitu bertambah 72 ribu jiwa dari tahun sebelumnya, sehingga menjadi 10,57 juta jiwa. Namun rendahnya bekal pendidikan dan ketrampilan yang mereka miliki, menjadi salah satu faktor meningkatnya jumlah pekerja migran pada sektor informal. Sementara adanya peluang bagi para pekerja informal khususnya para migran di DKI Jakarta tidak didukung dengan ketersediaan tempat tinggal disekitar kawasan yang layak dan terjangkau, sehingga menjadi masalah tumbuhnya permukiman kumuh/ liar yang tidak mendukung kehidupan yang sehat di sekitar kawasan tersebut. Studi ini bertujuan memberikan alternatif tempat berhuni bagi para migran yang bekerja pada sektor informal di bidang perdagangan dan jasa pada Kawasan Tanah Abang. Hasil akhir yang diharapkan adalah menghasilkan suatu konsep perancangan dan penerapannya pada desain hunian yang memenuhi kriteria sehat dan terjangkau bagi para migran khususnya yang bekerja di Kawasan Tanah Abang.  Para migran di Kawasan ini sulit mendapatkan tempat tinggal di lokasi yang dekat dengan tempat kerja, agar dapat menghemat waktu dan biaya transportasi. Sistem sharing ruang pada kamar maupun fasilitas hunian, merupakan konsep hunian yang digunakan agar biaya tempat tinggal dapat terjangkau. Studi ini menggunakan metode dunia perilaku dengan pendekatan arsitektur keseharian, dilakukan pemetaan aktivitas dari para target penghuni, agar dapat menentukan kebutuhan ruang dan program dalam hunian yang sesuai. Konsep perancangan bangunan ini, hunian yang sehat dengan sirkulasi udara yang baik, mempunyai nilai keamanan, kenyamanan, dan keindahan meskipun tetap menerapkan prinsip keterjangkauan sehingga para migran yang bekerja di kota dapat hidup dengan layak.
RUANG INTERPRETATIF: KESADARAN DAN KEPEDULIAN LINGKUNGAN Saputra, Yohana; Liauw, Franky
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.4011

Abstract

Pariwisata telah menjadi salah satu kebutuhan pokok masyarakat era ini. Sebagian besar masyarakat menjadikan pariwisata sebagai kegiatan untuk melepas penat dan beban dari kegiatan dalam kehidupan sehari-harinya. Jakarta sebagai kota metropolis menjadi pusat bagi kota-kota di sekitarnya dalam berbagai kegiatan, sehingga sektor pariwisata dapat memicu perkembangan ekonomi Jakarta dan sekitarnya serta bidang lainnya. Perkembangan sektor pariwisata berjalan sebanding dengan perkembangan teknologi dan jaringan media sosial yang kian meluas. Jaringan yang luas dan teknologi pengambilan gambar yang semakin maju, menarik masyarakat dalam berwisata dan membagikan cerita perjalanannya dalam jaringan dunia maya. Namun, kemajuan zaman ini pun juga menyebabkan timbulnya masalah di berbagai sektor. Salah satunya yang kerap menjadi perbincagan kota-kota di dunia yaitu masalah lingkungan, yang secara umum merupakan akibat dari kegiatan masyarakat itu sendiri. Maka, dalam konteks wisata ekologi, proyek wisata ini menggambarkan akibat dari masalah kerusakan lingkungan tersebut, sehingga wisatawan tidak lagi melihat keindahan alam melainkan suasana yang bertolak belakang yang diakibatkan oleh kegiatan dan kebiasaan hidup mereka, terutama masyarakat perkotaan.
STUDIO INOVASI DAN KREATIF KERAJINAN KAYU Triani, Joanne Triani; Choandi, Mieke
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4394

Abstract

Woodcrafts Innovation and Creative Studio are a place for craftsmen or enthusiasts of craftsmanship and process, especially wood. With four main programs: Experience, Explore & Learn, Develop, and Community, it’s expected to become a space for providing resources, facilities, knowledge and forming a community for people to work and create a variety of local products, as well as maintaining and contributing to creative economic growth. The background of this studio, because of the potential of natural resources and creative resources. Millennials' behavior differs from those of the previous generation, whereas millennials are perceived to be more creative, giving birth to many potentials in creative economy industry. Craft is one of the three industries who constitute the most contributions to the creative economy, namely woodcraft. Although potential, it's growth has shown to be stagnated, due to the difficulty to transfer of knowledge to the younger generation. For this reason, it’s necessary to provide a space that can introduce and become a forum to ensure the development of creative economy. Based on the results of some researches conducted on millennials, this generation has the desire to engage in new experiences and opportunities to meet people. This behavior can be used to offer a craft product with the addition of experience and stories that can attract millennials. Located in Kemang, which is known as an area that developed towards the artpreneur with the presence of various art store and galleries. This studio provides a space for experience seekers and creative industry players to share ideas, products, knowledge, and tools. The objective is so that those who do not have the skills yet can gain new experiences and skills, even explore the potential in the creative industry. As for creative economic actors, they can deepen their potential and share their knowledge. Aside from that, they can also market their products to a wider scope. AbstrakStudio kreatif dan inovasi kerajinan kayu merupakan wadah bagi  pengrajin ataupun peminat ilmu dan keahlian dalam proses kerajinan, khususnya material kayu. Melalui empat program yaitu Experience, Explore & Learn, Develop, dan Community membentuk sebuah studio yang  menyediakan sumber daya, fasilitas, pengetahuan, serta sebuah komunitas untuk berkarya melalui produk kerajinan kreatif berkelanjutan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif khususnya kerajinan kayu. Latar belakang hadirnya studio ini, karena potensi sumber daya alam hingga sumber daya kreatif yang dimiliki di Indonesia. Generasi milinial dinilai lebih kreatif daripada generasi sebelumnya, ditandai dengan ekonomi kreatif baru diberbagai bidang. Ekonomi kreatif kerajinan merupakan salah satu bidang yang menyumbang perekonomian terbesar bagi negara. Kerajinan kayu memiliki potensi yang besar, namun pertumbuhannya mengalami stagnasi. Terhambatnya pertumbuhan diakibatkan kesulitan dan terbatasnya perpindahan ilmu ke generasi muda. Untuk itu wadah komunitas ini yang dapat mengenalkan ekonomi kreatif kepada millenial, agar generasi ini dapat terlibat pengalaman dan kesempatan bertemu sesama peminat ketrampilan kerajinan. Melalui riset terhadap generasi millenial, terdapat keinginan pada generasi ini untuk terlibat pengalaman. Perilaku ini dapat dimanfaatkan untuk menawarkan suatu produk kerajinan dengan penambahan pengalaman dan cerita didalam produk yang dapat menarik minat generasi millennial. Berlokasi di Kemang, Jakarta Selatan yang dikenal sebagai kawasan berkembang ke arah artpreneur , ditandakan banyaknya art store, galeri, dan lain-lain. Studio ini menjadi wadah untuk mendapatkan pengalaman dan menggali potensi dibidang ekonomi kreatif bagi pemula. Sedangkan untuk pelaku ekonomi kreatif dapat memperdalam potensi dan berbagi ilmu dalam  proses kreatif, serta mendapat kesempatan berkolaborasi dan memasarkan hasil produk  ke lingkup yang lebih luas. 
HUB KREATIF AUDIO DAN VISUAL DI KEBAYORAN BARU Yoshua Triwisnu Haryanto; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8606

Abstract

Jakarta, which is the center of the national economy, is facing Bonus Demographic and Industry Revolution 4.0 phenomenons. If both of these phenomena are well managed they will bring positive impacts to Indonesia, especially Jakarta. However these phenomenons threaten workers with repetitive types of works and civils at their productive age. The creative industry is one example of an unrepetitive work, and still needs development. This project aims to create social interaction space within the district of Kebayoran Baru via audio and visual arts. And in helping to develop and prepare communities to face challenges in the creative industry. In conducting this research, the methods used are: First, the descriptive method of conducting literature studies, observations, and documentation. Secondly, the metaphor method is metaphorizing Wayang Theater into a physical form of architecture. Keywords: Creative Industries; Industry Revolution 4.0; Productive Age; SocializationAbstrakJakarta yang menjadi pusat perekonomian negara sedang mengalami Bonus Demografi dan Revolusi Industri 4.0. Di mana jika kedua fenomena ini dikelola dengan baik maka akan membawa dampak positif bagi Indonesia, terutama Jakarta. Namun hal ini mengancam para pekerja dengan jenis pekerjaan yang repetitif dan para penduduk di usia produktif. Industri kreatif merupakan salah satu contoh dari pekerjaan yang tidak repetitif, dan masih butuh pengembangan di bidang tersebut. Proyek ini bertujuan agar terciptanya ruang interaksi sosial di dalam Kecamatan Kebayoran Baru dalam wadah seni audio dan visual. Serta dalam membantu mengembangkan dan menyiapkan masyarakat dalam menghadapi tantangan dalam industri kreatif. Dalam melakukan penelitian ini, metode yang digunakan adalah: pertama, metode deskriptif yaitu melakukan studi literatur, observasi, dan dokumentasi. Kedua, metode metafora yaitu mengibaratkan Teater Wayang menjadi bentuk fisik arsitektur.
WIYATA TAMAN REKREASI KESEHATAN Artaxerxes Christopher Lee; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

DKI Jakarta as the capital of Indonesia, making Indonesia the most populous city which reaches 15.7 thousand inhabitants / km2, has the highest air safety in the world which reaches 194 Air Quality Indexes.  Air pollution resulting from ARI in the Jakarta area reached 1,817,579 cases in 2018. The problem is the need for a healthy management of life for the people of DKI Jakarta. City densities are the highest deceleration sites for many cities.  The third place is good for the health of the city masayarkat such as parks, recreation, sports, eating places.  Environmental Education to celebrate the Environment in order to establish an understanding of good and right planting, and planting that is most beneficial for the city, so that air pollution in DKI Jakarta can be reduced and produce healthy lungs for the people of DKI Jakarta. Menteng Subdistrict, Mentahan Ward, Central Jakarta Administration City, DKI Jakarta, Public transportation center is located in Menteng sub-district where this area can be an attraction for tourists, workers and other visitors who use public transportation. The highest disease in this district is ARI which is a problem in air pollution. The important thing in designing in Menteng District is traffic jam and motorcycle taxi or online taxis that park irregularly because there is no base camp in the public transportation point area. So that with the existence of a third place for the central point of public transportation is needed as an intermediary place for congestion and a place to gather with family, friends, and others. AbstrakDKI Jakarta sebagai Ibu Kota Indonesia, menjadikan kota terpadat di Indoneisa yang mencapai 15,7 ribu jiwa /km2, memiliki polusi udara tertinggi di dunia yang mencapai 194 Us Air Index Quality. Polusi udara yang tinggi mengakibatakan penyakit ISPA di kawasanan DKI Jakarta mencapai 1.817.579 kasus pada tahun 2018. Sehingga perlunya pengelolaan hidup yang sehat bagi masyarakat DKI Jakarta. Kepadatan kota yang tinggi mengakibatkan perlunya tempat ketiga bagi banyarakt kota. Tempat ketiga yang baik untuk kesehatan masayarkat kota seperti taman, rekreasi, olahraga, tempat makan. Edukasi lingkungan untuk mencintai lingkungan agar terjalinnya pengertian dalam penanaman yang baik dan benar, dan penanaman yang paling bermanfaat bagi kota, agar polusi udara di DKI Jakarta dapat berkurang dan menjadikannya paru-paru kota yang sehat bagi masyarakat DKI Jakarta. Kawasan Kecamatan Menteng, Keluarahan Menteng, Kota Adminitrasi Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Titik pusat transportasi umum berada di kecamatan Menteng yang dimana kawasan ini dapat menjadi daya Tarik bagi wisatawan, perkerja, dan pengunjung lainnya yang menggunakan transportasi umum. Penyakit di kecamatan ini paling tinggi adalah ISPA yang menjadi masalah dalam polusi udara. Hal yang penting dalam perancangan di Kecamatan Menteng adalah kemacetan dan ojek atau taksi online yang parkir tidak teratur karena tidak adanya penyediaan base camp pada area titik transportasi umum.  Sehingga dengan adanya tempat ketiga bagi kawasan titik pusat transportasi umum sangat di butuhkan sebagai tempat perantara kemacetan dan tempat berkumpul bersama keluarga, teman, dan lain-lain.
RUANG APRESIATIF, REKREATIF DAN KREATIF Eileen Rosabel Renaningtyas; Tatang Hendra Pangestu
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6881

Abstract

Third place as community gathering place, which can accept various people, do not close the possibility to separate community activities in having fun while working. The village of Cilandak Barat which became the chosen region is very related to the creative economy. According data BPS West Cilandak Village, the informal business sector is the dominant economic activity of citizens. The type of business done varies from the business of grocery stalls, business Wartel, Cyber Cafe business, Matrial Business, salon business, to the business of ornamental plants. The creative economy will be chosen as the main theme raised from the region's background. This theme aims to improve people's welfare, especially in selected regions. This project functions as a place to facilitate the people of Cilandak as an educational place, a place to innovate and create and a place to rest for the visitors who come in expressing themselves. In reviewing the literature there are several determining factors that maximize pedestrian on the ground floor, there is a bridge as a liaison between mass and mass form in response to the surrounding environment which is the biggest factor in affect the mass form. Therefore, the method in the formation of a mass using the site analysis system. Site analysis consists of, view analysis, Skyline, in & out tread, zonning, pedestrian and vehicle directional response. The result of the analysis will result in a mass form, and the result of the analysis of the site will be visible on the floor, look and cut. AbstrakTempat ketiga sebagai tempat berkumpulnya masyarakat, dimana dapat menerima berbagai kalangan masyarakat, tidak menutup kemungkinan untuk memisahkan kegiatan masyarakat dalam bersenang-senang sambil bekerja. Kelurahan Cilandak Barat yang menjadi kawasan terpilih sangat berkaitan dengan ekonomi kreatif. Menurut data BPS Kelurahan Cilandak Barat, sektor usaha informal merupakan kegiatan ekonomi yang dominan dilakukan warga. Jenis usaha yang dilakukan bervariasi mulai dari usaha warung kelontong, usaha wartel, usaha warnet, usaha matrial, usaha salon, hingga usaha tanaman hias. Ekonomi kreatif akan dipilih sebagai tema utama yang diangkat dari latar belakang kawasan. Tema ini bertujuan sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khusunya pada kawasan terpilih. Fungsi proyek ini sebagai tempat untuk memfasilitasi masyarakat Cilandak sebagai tempat edukasi, tempat berinovasi maupun berkreasi dan tempat beristirahat bagi para pengunjung yang datang dalam mengekspresikan diri. Dalam mengkaji literatur terdapat beberapa faktor yang menentukan yaitu memaksimalkan pedestrian pada lantai dasar, terdapat jembatan sebagai penghubung antar massa dan bentuk massa dalam menanggapi lingkungan sekitar yang menjadi faktor terbesar dalam mempengaruhi bentuk massa. Maka dari itu, metode dalam pembentukan sebuah massa dengan menggunakan sistem analisa tapak. Analisa tapak terdiri dari, analisa view, skyline, in & out tapak, zonning, respon arah pejalan kaki dan kendaraan. Hasil dari analisa yang didapat akan menghasilkan bentuk massa, dan hasil analisa tapak akan terlihat pada denah, tampak dan potongan.
PERTANIAN VERTIKAL DI ARJUNA UTARA Christopher Darius; Lina Purnama
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4570

Abstract

Millennial are an innovative generation both in terms of technology and in solving problems. This generation has its views both on the way the world works and its impact on the environment. In terms of food availability and quality, Millennial are very concerned about their food. This generation of "foodies" prefers organic foods whose sources are guaranteed, given a large amount of environmental pollution and excessive use of pesticides. Millennials in Jakarta are competing to find innovatives solution to fix this problem, agriculture in the city began to emerge in the form of hydroponics. This is also done to improve the problem of Jakarta food distribution system that has been outdated, where all food is produced from the suburban areas and distributed to markets in Jakarta. The vertical farming system is a system that can be said to be new in Jakarta. This system can supply all parts of Jakarta in the form of a "decentralized" system in which each area has its own vertical farming which will supply food. Arjuna Utara is a road in the Duri Kepa area which is a border area between West and South Jakarta where this area does not have any formal market. The informal market that stands in the patra area is a less organized area. This site has an existing conventional farm where the land is cultivated as a vegetable garden. In this project the building has 8 floors, 4 of which are using aeroponic systems. The rest are in the form of public spaces and eating places that can become a new center of crowd on North Arjuna Road. AbstrakMilenial merupakan generasi yang inovatif baik dari segi teknologi maupun dalam memecahkan masalah. Generasi ini memiliki pandangannya sendiri baik terhadap cara dunia bekerja dan dampaknya terhadap lingkungan. Dalam hal ketersediaan dan kualitas pangan, milenial sangat memperhatikan makanan mereka. Generasi “foodies” ini lebih memilih makanan organik dan makanan yang sumbernya terjamin, mengingat banyaknya pencemaran lingkungan dan penggunaan pestisida secara berlebihan. Para milenial di Jakarta berlomba-lomba mencari inovasi untuk memperbaiki masalah ini, pertanian di dalam kota mulai bermunculan dalam rupa hidroponik. Hal ini sekaligus dilakukan untuk memperbaiki masalah sistem distribusi pangan Jakarta yang sudah tertinggal, di mana semua pangan dihasilkan dari daerah terluar Jakarta dan didistribusikan ke pasar-pasar di Jakarta. Sistem pertanian vertikal adalah sebuah sistem yang dapat dikatakan baru di Jakarta. Sistem ini dapat menyuplai seluruh bagian Jakarta dalam bentuk sistem desentralisasi yang masing-masing wilayah memiliki pertanian vertikalnya yang akan menyuplai makanan sendiri. Arjuna utara merupakan sebuah jalan di wilayah Duri Kepa yang merupakan area perbatasan antara Jakarta Barat dan Selatan di mana area ini belum memiliki pasar formalnya sendiri. Pasar informal yang berdiri berada di area patra di mana merupakan area yang kurang tertata. Tapak ini memiliki existing pertanian konvensional di mana tanah digarap sebagai kebun sayuran. Dalam proyek ini bangunan memiliki 8 lantai yang 4 diantaranya merupakan area pertanian bersistem Aeroponik dan sisanya berupa ruang publik dan tempat makan yang dapat menjadi pusat keramaian baru di jalan Arjuna Utara.
RUANG PUBLIK PENGEMBANGAN DIGITAL DAN KULINER MASYARAKAT KOTA BAMBU SELATAN DENGAN PENDEKATAN RUANG KETIGA Hebert Nathan Widjaja; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8627

Abstract

Jakarta is a capital known as the economic center and has the attraction to try one's luck by coming and looking for work so that the problem arises, namely the clumping of labor. The large number of workers coming to Jakarta has led to new problems, namely poor quality such as education and morals. The low level of education of individuals who come this causes a low standard of living which raises other problems, namely social problems such as rising unemployment, increasing poverty, raising slums, and increasing crime. Kota Bambu Selatan community views education as something that is not important. Kota Bambu Selatan community prefers to go directly to the community to work, but in reality the community in general makes education as a benchmark for how someone is able to work well. Excessive labor and time, but the lack of adequate facilities can lead to increased disparities in society. From this problem, the provision of Third Place is expected to accommodate the community of Kota Bambu Selatan so as to improve the quality of life of the people of Kota Bambu Selatan. By providing open areas, it is also hoped that the Kota Bambu Selatan community will be able to interact with each other so as to foster a sense of sympathy and empathy. Keywords : Education; Human Resource; Poverty; Public SpaceAbstrakJakarta merupakan ibukota yang dikenal sebagai pusat ekonomi dan memiliki daya tarik untuk mengadu nasib dengan datang dan mencari pekerjaan sehingga muncul permasalahan yaitu terjadinya penggumpalan tenaga kerja. Banyaknya tenaga kerja yang datang ke Jakarta ternyata memunculkan  masalah baru, yaitu rendahnya kualitas seperti pendidikan dan moral. Rendahnya tingkat pendidikan dari individu yang datang ini menyebabkan rendahnya taraf hidup yang dimana memunculkan permasalahan lainnya, yaitu memunculkan masalah-masalah sosial seperti meningkatnya pengangguran, meningkatnya kemiskininan, memunculkan daerah-daerah kumuh, dan meningkatnya kriminalitas. Masyarakat Kota Bambu Selatan memandang pendidikan merupakan sesuatu yang tidak penting. Masyarakat Kota Bambu Selatan lebih memilih untuk terjun langsung ke masyarakat untuk bekerja, namun pada kenyataannya masyarakat pada umumnya menjadikan pendidikan sebagai tolak ukur bagaimana seseorang mampu untuk bekerja dengan baik. Tenaga dan waktu yang berlebih, namun kurangnya fasilitas yang memadai dapat menyebabkan meningkatnya kesenjangan pada masyarakat. Dari masalah tersebut, penyediaan Third Place diharapkan dapat mewadahi masyarakat Kota Bambu Selatan sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat Kota Bambu Selatan. Dengan penyediaan area tebuka, diharapkan juga masyarakat Kota Bambu Selatan dapat berinteraksi satu dengan lainnya sehingga dapat menumbuhkan rasa simpati dan empati.

Page 8 of 134 | Total Record : 1332