cover
Contact Name
M. Arifki Zaianro
Contact Email
m.arifkiz@yahoo.com
Phone
+6285366376666
Journal Mail Official
m.arifkiz@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Imam Bonjol Gang Sultan Anom Perumahan Sultan Anom Residence Blok D No 1
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
MAHESA : Malahayati Health Student Journal
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 2746198X     EISSN : 27463486     DOI : 10.3324
Core Subject : Health,
MAHESA : Malahayati Health Student Journal, dengan nomor ISSN 2746-198X (Cetak) dan ISSN 2746-3486 (Online) adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh DIII Keperawatan Universitas Malahayati Lampung. MAHESA : Malahayati Health Student Journal merupakan jurnal yang memiliki fokus utama pada hasil penelitian dan ilmu-ilmu di bidang kesehatan yang dikembangkan dengan pendekatan interdispliner dan multidisiplin. Proses penerimaan naskah selalu terbuka setiap waktu, naskah yang sudah disubmit oleh penulis akan direview oleh reviewer yang ahli dalam bidang keperawatan dan kesehatan. MAHESA : Malahayati Health Student Journal telah menggunakan Open Journal System dimana penulis, editor dan reviewer bisa memantau proses naskah secara online. Dalam satu tahun MAHESA : Malahayati Health Student Journal terbit sebanyak 4 kali yaitu pada bulan Maret, Juni, September, Desember.
Articles 1,690 Documents
Modulasi Serotonin Serum dan Motilias Usus melalui Aktivitas Fisik Renang Pada Mencit (Mus Musculus) Jantan Konstipasi Aulia Mahdaniyati S; Susy Purnawati; I Gusti Ayu Widianti
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 6 (2026): Volume 6 Nomor 6 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i6.25935

Abstract

ABSTRACTConstipation is a common gastrointestinal disorder frequently associated with reduced intestinal motility. Intestinal motility is regulated by the enteric nervous system, in which serotonin plays a key role as a neurotransmitter. Physical activity has been reported to influence the serotonergic system; however, its potential role as a non-pharmacological intervention for constipation remains limitedly explored. This study aimed to analyze the modulation of serum serotonin levels and intestinal motility through swimming exercise in male constipated mice (Mus musculus). This experimental study employed a post-test-only control group design. A total of 30 male mice aged 2–3 months with body weights of 20–30 g were divided into three groups: normal control (P0), constipated control without intervention (P1), and treatment group (P2). Constipation was induced using loperamide HCl at a dose of 0.04 mg/mouse/day for seven days. The P2 group subsequently underwent swimming exercise three times per week for four weeks. Serum serotonin levels were analyzed using the Kruskal–Wallis test, while intestinal motility was analyzed using one-way ANOVA. The treatment group demonstrated significantly higher mean serum serotonin levels compared to the P0 and P1 groups (p=0.000). However, no significant differences in intestinal motility were observed among the study groups (p=0.395). Swimming exercise effectively modulates serum serotonin levels in male mice with constipation, although it does not significantly improve intestinal motility. Keywords: Swimming Exercise, Serum Serotonin, Intestinal Motility, Constipation.  ABSTRAKKonstipasi merupakan gangguan gastrointestinal yang sering dijumpai dan berkaitan erat dengan penurunan motilitas usus. Regulasi motilitas usus dipengaruhi oleh sistem saraf enterik, salah satunya melalui peran serotonin sebagai neurotransmiter utama. Aktivitas fisik diketahui mampu memengaruhi sistem serotonergik, namun mekanisme ini masih jarang dikaji sebagai pendekatan nonfarmakologis pada konstipasi.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis modulasi kadar serotonin serum dan motilitas usus melalui aktivitas fisik renang pada mencit (Mus musculus) jantan model konstipasi. Penelitian ini merupakan studi eksperimental dengan rancangan post-test only control group design. Sebanyak 30 ekor mencit jantan usia 2–3 bulan dengan berat badan 20–30 gram dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kontrol normal (P0), kontrol konstipasi tanpa perlakuan (P1), dan kelompok perlakuan (P2). Konstipasi diinduksi menggunakan loperamide HCl 0,04 mg/ekor/hari selama 7 hari. Kelompok P2 selanjutnya diberikan aktivitas fisik renang dengan frekuensi tiga kali per minggu selama empat minggu. Kadar serotonin serum dianalisis menggunakan uji Kruskal–Wallis, sedangkan motilitas usus dianalisis menggunakan uji ANOVA. Kadar serotonin serum pada kelompok perlakuan (P2) menunjukkan rerata yang lebih tinggi dibandingkan kelompok P0 dan P1 (p=0,000). Namun, analisis motilitas usus tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan (p=0,395).Aktivitas fisik renang mampu memodulasi kadar serotonin serum pada mencit jantan model konstipasi, namun belum menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap motilitas usus. Kata Kunci: Aktivitas Fisik Renang, Serotonin Serum, Motilitas Usus, Konstipasi.
Hubungan Kesadaran Interoseptif Dengan Kesadaran Hipoglikemia pada Penderita DM Tipe 2 Maria Manungkalit; Ni Putu Wulan P. Sari; Agustina Ch. Bura Mare
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 7 (2026): Volume 6 Nomor 7 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i7.23818

Abstract

ABSTRACT One condition frequently experienced by people with type 2 diabetes is hypoglycemia, which can drastically lower blood glucose levels. Undetected and untreated hypoglycemia can lead to serious complications, including seizures or loss of consciousness. However, many people with type 2 diabetes have difficulty recognizing the symptoms of hypoglycemia in its early stages. One factor thought to influence the ability to detect hypoglycemia symptoms is interoceptive awareness, which is a person's ability to perceive and identify internal bodily sensations, such as heartbeat, breathing, and changes in blood glucose levels. The purpose of this study was to explain the relationship between interoceptive awareness and hypoglycemia awareness in people with type 2 diabetes. This study used a cross-sectional design. The population comprised all 173 people with type 2 diabetes in the Mulyorejo Community Health Center (Puskesmas) in Surabaya in June 2025. A total of 110 people met the sample criteria. The instrument used to measure interoceptive awareness was the Multidimensional Assessment of Interoceptive Awareness–Version 2 (MAIA-2) questionnaire, and the HypoA-Q questionnaire was used for hypoglycemia awareness. Hypoglycemia awareness was low despite adequate interoceptive awareness. There was no relationship between interoceptive awareness and glycemia awareness in patients with type 2 diabetes. Nteroceptive awareness (the ability to perceive general body signals) is not always associated with hypoglycemia awareness due to different biological mechanisms and neurological adaptations. Keywords : Hypoglycemia Awareness, Interoceptive Awareness, Type 2 Diabetes Mellitus.  ABSTRAK Salah satu kondisi yang sering dialami oleh penderita DM tipe 2 adalah hipoglikemia, yang dapat menurunkan kadar glukosa darah secara drastis. Hipoglikemia yang tidak terdeteksi dan tidak ditangani dengan cepat dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk kejang atau kehilangan kesadaran. Namun, banyak penderita DM tipe 2 yang kesulitan mengenali gejala hipoglikemia pada tahap awal. Salah satu faktor yang diduga mempengaruhi kemampuan deteksi gejala hipoglikemia adalah kesadaran interoseptif, yaitu kemampuan seseorang untuk merasakan dan mengidentifikasi sensasi tubuh internal, seperti detak jantung, pernapasan, dan perubahan kadar glukosa darah.Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan hubungan kesadaran interoseptif dengan kesadaran hipoglikemia pada penderita DM tipe 2. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan jumlah populasi adalah seluruh penderita DM tipe 2 di wilayah kerja Puskemas Mulyorejo Surabaya pada bulan Juni 2025 sebanyak 173 orang. jumlah sampel yang memenuhi kriteria sebanyak 110 orang. Instrumen yang digunakan untuk variabel kesadaran interoseptif adalah kuesioner Multidimensional Assessment of Interoceptive Awareness–Version 2 (MAIA-2) dan variable kesadaran hipoglikemia menggunakan kuesioner HypoA-Q. Kesadaran hipoglikemianya rendah walaupun kesadaran interoseptifnya cukup. Tidak terdapat hubungan antara kesadaran interoseptif dengan kesadaran glikemia pada penderita DM tipe 2. Kesadaran interoseptif (kemampuan merasakan sinyal tubuh secara umum) tidak selalu berhubungan dengan kesadaran hipoglikemia karena adanya mekanisme biologis dan adaptasi neurologis yang berbeda. Kata Kunci: Kesadaran Interoseptif, Kesadaran Hipoglikemia, Diabetes Melitus Tipe 2.
Fragmentasi Layanan dan Determinan Sosial: Analisis Kualitatif Kegagalan Discharge Planning dan Rekomendasi Model Kolaboratif Lintas Sektor (Sehati) Yohana Teodosia Setu; Saverinus Suhardin; Imakulata Bete; Awaliyah Muslimah Suwetty; Moses Filmon Nennogasu; Adhytrio Yohanes Nubatonis
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 7 (2026): Volume 6 Nomor 7 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i7.23910

Abstract

ABSTRACT High readmission rates among Patients with Mental Disorders (ODGJ) are often linked to Discharge Planning (DP) failures. This study aims to deeply explore systemic barriers and the need for community-based solutions to prevent DP from functioning as an effective Transitional Care (TC) mechanism at Naimata Mental Hospital, Kupang. This descriptive phenomenological qualitative research involved 14 key participants (Mental Hospital Health Personnel, Community Health Center Nurses, ODGJ Patients, and Families/Caregivers) through In-depth Interviews. Data were analyzed using thematic methods to identify major barriers in the post-discharge continuum of care. Eight main themes were found, which include: (1) Massive handoff failure, manifested as "Silent Discharge" due to the absence of formal coordination (WA Group) between the Mental Hospital and Community Health Centers (Puskesmas). (2) Medication non-adherence is triggered by Social Determinants of Health (SDH), especially the "Medication vs. Food" dilemma and high transportation costs. (3) Families experience an extreme Caregiver Burden crisis, inducing High Expressed Emotion (EE) due to inadequate Family Psychoeducation (FPE). (4) The analysis justifies the need for the SEHATI Collaborative Model as a bridging mechanism. Service fragmentation, coupled with unaddressed SDH and high Caregiver Burden, drives readmission. The SEHATI Model is recommended to formalize coordination, integrate local initiatives (Gentar Sejiwa), and provide holistic psychoeducation to prevent relapse. Keywords: Discharge Planning, Handoff Failure, Caregiver Burden, Social Determinants of Health, SEHATI Model.  ABSTRAK Angka readmisi yang tinggi pada Pasien Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) sering dikaitkan dengan kegagalan Discharge Planning (DP). Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi secara mendalam hambatan sistemik dan kebutuhan solusi berbasis komunitas yang mencegah DP berfungsi sebagai mekanisme Transitional Care (TC) yang efektif di RS Jiwa Naimata Kupang. Penelitian kualitatif fenomenologi deskriptif ini melibatkan 14 partisipan kunci (Tenaga Kesehatan RSJ, Perawat Puskesmas, Pasien ODGJ, dan Keluarga/Caregiver) melalui In-depth Interview. Data dianalisis menggunakan metode tematik untuk mengidentifikasi hambatan utama dalam kontinum layanan pasca-pulang. Ditemukan delapan tema utama, yang menunjukkan: (1) Kegagalan handoff yang masif, termanifestasi sebagai “Pulang Senyap” (Silent Discharge) karena ketiadaan koordinasi formal (WA Grup) antara RSJ dan Puskesmas. (2) Non-adherence obat dipicu oleh Determinan Sosial Kesehatan (SDH), terutama dilema "Obat vs. Nasi" dan tingginya biaya transportasi. (3) Keluarga mengalami krisis Beban Caregiver yang ekstrem, memicu High Expressed Emotion (EE) akibat kegagalan Family Psychoeducation (FPE). (4) Analisis memvalidasi kebutuhan Model Kolaboratif SEHATI sebagai mekanisme penghubung. Fragmentasi layanan, ditambah SDH yang terabaikan dan Caregiver Burden tinggi, mendorong readmisi. Model SEHATI direkomendasikan untuk memformalkan koordinasi, mengintegrasikan inisiatif lokal (Gentar Sejiwa), dan memberikan psikoedukasi holistik guna mencegah kekambuhan. Kata Kunci: Discharge Planning, Kegagalan Handoff, Beban Caregiver, Determinan Sosial Kesehatan, Model SEHATI.
Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Guru SD Islam Al-Hadiriah Pada Kesehatan Gigi dan Mulut Helwiah Umniyati; Alisa Novianty Pratiwi; Rika Apriani; Risna Nicola; Rizky Nizza; Rosita Rosita; Safira Ramadhani
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 6 (2026): Volume 6 Nomor 6 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i6.25297

Abstract

ABSTRACT Oral health depends on individual knowledge and awareness. Teachers, as individuals, influence children in every aspect, including maintaining oral health. Therefore, schoolteachers need to have a better understanding of oral health aspects. The purpose of this study was to assess teachers' knowledge, attitudes, and oral health behaviors at Al-Hadiriah Islamic Elementary School. A cross-sectional study was conducted among 60 teachers at Al-Hadiriah Islamic Elementary School. Data was analyzed using chi-square. Most schoolteachers had good knowledge of oral health (68.3%), and good attitudes (55%). In several aspects, teacher behavior was very good; however, regarding snacking, approximately 37 respondents (61.7%) reported snacking two or three times between meals. There was a significant relationship between incorrect toothbrushing times (not brushing after breakfast and before bed) and poor knowledge and attitudes. There is a significant need to improve oral health knowledge and attitudes among schoolteachers regarding various oral health problems and dental disease prevention so that they can be implemented in schools. Keywords: Knowledge, Attitudes, Dental And Oral Health, Teachers.  ABSTRAK Kesehatan gigi dan mulut bergantung pada pengetahuan dan kesadaran individu. Guru sebagai individu memengaruhi anak-anak dalam setiap aspek, termasuk pemeliharaan kesehatan mulut. Oleh karena itu, guru sekolah perlu memiliki pemahaman yang lebih baik tentang aspek kesehatan mulut. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai pengetahuan, sikap, dan perilaku kesehatan gigi dan mulut di kalangan guru SD Islam Al-Hadiriah. Studi potong lintang dilakukan pada 60 guru SD Islam Al-Hadiriah. Analisis data dengan menggunakan chi-square. Sebagian besar guru sekolah memiliki pengetahuan yang baik mengenai kesehatan gigi dan mulut (68,3%) dan sikap yang baik sebesar 55%. Perilaku guru dalam beberapa aspek sangat baik; hanya dalam perilaku mengonsumsi camilan masih ada sekitar 37 responden (61,7%) yang mempunyai kebiasaan mengonsumsi camilan sekitar 2-3 kali di antara waktu makan. Terdapat hubungan yang signifikan antara waktu sikat gigi yang salah (tidak sikat gigi setelah sarapan pagi dan malam sebelum tidur) dengan pengetahuan dan sikap yang kurang baik.  Ada kebutuhan yang sangat besar untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap kesehatan mulut di kalangan guru sekolah mengenai berbagai masalah rongga mulut dan pencegahan penyakit gigi.   Kata Kunci: Pengetahuan, Sikap, Kesehatan Gigi dan Mulut, Guru.
From Service Quality To Patient Loyalty: A Scoping Review Of Healthcare Experience Raras Purna Enrilladela; Ernawaty Ernawaty
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 7 (2026): Volume 6 Nomor 7 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i7.23670

Abstract

ABSTRACT The global shift toward patient-centered care has prompted healthcare providers to prioritize medical effectiveness and the quality of patient experience. This scoping review aims to map the relationship between service quality, patient satisfaction, and loyalty within healthcare facilities and identify the underpinning theories. Guided by the PRISMA-ScR protocol, this study analyzes 15 primary research articles published between 2021 and 2024. Findings reveal that service quality, reliability, empathy, physical infrastructure, and effective communication are key determinants of patient satisfaction. Furthermore, trust, percept value, and service equity enhance this relationship and trigger long-term loyalty, mainly through word of mouth. The three main theoretical frameworks, Expectancy Disconfirmation Paradigm (EDP), Equity Theory, and Value Percept Theory, are confirmed as critical to explaining patient satisfaction and loyalty. This review highlights the necessity of a comprehensive service management strategy that integrates technical, emotional, and relational dimensions to sustain patient loyalty. Keywords: Service Quality, Patient Satisfaction, Loyalty, Healthcare Facility.
Penerapan SIK dan SIMRS Terhadap Mutu Layanan dan Efisiensi Rumah Sakit Dedi Maidiarto; Hardinata Hardinata; Normala Candra Puspita; Okta Santika Iriani; R.A Wulandari; Shindy Fajriani Fasha; Siti Barorah Gaugary; Sukriani Sukriani
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 6 (2026): Volume 6 Nomor 6 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i6.23483

Abstract

ABSTRACT This study aims to assess the implementation of Health Information Systems (HIS) and Hospital Management Information Systems (SIMRS) on service quality and operational efficiency in healthcare facilities. The study's background stems from the need for digital transformation to overcome the limitations of manual processes, such as data fragmentation, information delays, and the risk of errors, as well as to meet regulatory and accreditation demands that emphasize patient safety, accountability, and cost control. The research method used was a literature review of Indonesian-language publications relevant to HIS/SIMRS integration, covering electronic medical records, pharmacy and logistics, laboratory, radiology, scheduling, and billing modules. Article selection was carried out through a multi-step screening and methodological quality assessment, followed by the extraction of context variables, design, findings, and managerial recommendations for narrative synthesis. The analysis results indicate that HIS/SIMRS integration is correlated with reduced wait times, increased clinical documentation compliance, reduced medication errors through computerized medical orders, accelerated diagnostic cycles via radiology laboratory connectivity, and improved billing accuracy and inventory management, which reduces waste and accelerates claims. Keywords: Implementation of SIK, SIMRs, Service Quality, Efficiency.  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menilai penerapan Sistem Informasi Kesehatan (SIK) dan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) terhadap mutu layanan dan efisiensi operasional di fasilitas kesehatan. Latar belakang kajian berangkat dari kebutuhan transformasi digital untuk mengatasi keterbatasan proses manual, seperti fragmentasi data, keterlambatan informasi, dan risiko kesalahan, serta untuk memenuhi tuntutan regulasi dan akreditasi yang menekankan keselamatan pasien, akuntabilitas dan pengendalian biaya. Metode penelitian yang digunakan berupa tinjauan pustaka (literature review) terhadap publikasi berbahasa Indonesia yang relevan dengan integrasi SIK/SIMRS, meliputi modul rekam medis elektronik, farmasi dan logistik, laboratorium, radiologi, penjadwalan, hingga penagihan. Seleksi artikel dilakukan melalui skrining bertahap dan penilaian kualitas metodologis, diikuti ekstraksi variabel kontek, rancangan, temuan dan rekomendasi manajerial untuk sintesis naratif. Hasil analisis menunjukkan bahwa integrasi SIK/SIMRS berkorelasi dengan pemangkasan waktu tunggu, peningkatan kepatuhan dokumentasi klinis, reduksi kesalahan medikasi melalui perintah medis terkomputerisasi, percepatan siklus diagnostik via konektivitas laboratorium radiologi, serta perbaikan akurasi billing dan pengelolaan persediaan yang menekan pemborosan dan mempercepat klaim. Kata Kunci: Penerapan SIK, SIMRs, Mutu Layanan, Efisiensi.
Hubungan Status Gizi, Perilaku Cuci Tangan, dan Frekuensi Konsumsi Jajanan Sekolah Dengan Kejadian Diare Akut Siswa SD Islam Imama Semarang Brahita Adilla Diva Kusmala; Zana Fitriana Octavia
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 7 (2026): Volume 6 Nomor 7 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i7.26214

Abstract

ABSTRACT Acute diarrhea remains a major public health problem, especially among school-aged children, and can be influenced by various factors such as nutritional status, hygiene behavior, and unhygienic food consumption. Its condition requires attention because it can increase morbidity in children and negatively affect in health status. This study aimed to analyze the relationship between nutritional status, handwashing behavior, and frequency of school snack consumption with the incidence of acute diarrhea among students at Imama Islamic Elementary School. A cross-sectional design was used involving 90 respondents. Data were collected through anthropometric measurements and interviews using questionnaires and food frequency questionnaire (FFQ), then analyzed using the Chi-Square test. The results showed a significant relationship between nutritional status (p = 0.004), handwashing behavior (p = 0.002), and frequency of school snack consumption (p = 0.004) with the incidence of acute diarrhea in Imama Islamic elementary school.  Keywords: Acute Diarrhea, Nutritional Status, Handwashing Behavior, School Snack Consumption.  ABSTRAK Diare akut masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang tinggi, terutama pada anak usia sekolah, dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti status gizi, perilaku higiene, serta konsumsi jajanan sekolah yang tidak higienis. Kondisi ini perlu mendapat perhatian karena dapat meningkatkan angka kesakitan pada anak dan berdampak pada kualitas kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara status gizi, perilaku cuci tangan, dan frekuensi konsumsi jajanan sekolah dengan kejadian diare akut pada siswa SD Islam Imama Semarang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan status gizi, perilaku cuci tangan, dan frekuensi konsumsi jajanan sekolah dengan kejadian diare akut pada siswa SD Islam Imama Semarang menggunakan desain cross-sectionaldengan 90 responden. Data dikumpulkan melalui pengukuran antropometri serta wawancara menggunakan kuesioner dan FFQ, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara status gizi (p=0,004), perilaku cuci tangan (p=0,002), dan frekuensi konsumsi jajanan sekolah (p=0,004) dengan kejadian diare akut di SD Islam Imama. Kata Kunci: Diare Akut, Status Gizi, Perilaku Cuci Tangan, Konsumsi Jajanan Sekolah.
Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Pemanfaatan Kearifan Lokal sebagai Obat Tradisional Oleh Masyarakat Kabupaten Bogor Siti Mulyani; Harun Al Rasid; Eni Rizki Rahayu; Tri Mulyati; Sariaman Purba; Rizkia Prihartini
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 7 (2026): Volume 6 Nomor 7 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i7.23548

Abstract

ABSTRACT Indonesia has natural resources that have been used as traditional medicine for generations. In rural areas, in particular, the use of traditional medicine is often the first solution to overcome minor health problems such as fever, flu, cough, colds, or other problems. This study aims to determine the factors that influence the behavior of using local wisdom as traditional medicine. The method used in this study is quantitative with a cross-sectional design. The instrument used was a questionnaire that was tested for validity and reliability. The number of respondents was 105 using a purposive sampling technique. Data analysis used univariate, bivariate, and multivariate tests. The results of the study indicate that there is an influence of the level of knowledge and attitude on the behavior of using local wisdom traditional medicine, but there is no influence of trust and accessibility on the behavior of using local wisdom traditional medicine. The attitude variable is the most dominant variable influencing behavior. Health workers and the government should implement a more contextual and culturally based educational approach to improve public health literacy, especially regarding the safe and rational use of traditional medicine, and provide an understanding of when to access medical health services.  Keywords: Kowledge, Attitude, Trust, Accessibility, Behavior.  ABSTRAK Indonesia memiliki sumber daya alam yang telah dimanfaatkan sebagai obat tradisional secara turun temurun. Di wilayah pedesaan khususnya, penggunaan obat tradisional seringkali menjadi solusi pertama dalam mengatasi gangguan kesehatan ringan seperti demam, flu, batuk, masuk angin atau masalah lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pemanfaatan kearifan lokal sebagai obat tradisional oleh masyarakat Kabupaten Bogor. Metode yang digunakan dalam penelitian berupa kuantitatif dengan desain cross sectional. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner yang dilakukan uji validitas serta reliabilitas. Jumlah responden sebanyak 105 dengan teknik purposive sampling. Analisa data menggunakan uji univariat, bivariat dan multivariat. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh tingkat pengetahuan dan sikap dengan perilaku pemanfaatan kearifan lokal obat tradisional serta tidak ada pengaruh kepercayaan dan aksesibilitas dengan perilaku pemanfaatan kearifan lokal obat tradisional. Variabel sikap merupakan variabel yang paling dominan mempengaruhi perilaku. Bagi tenaga kesehatan dan pemerintah untuk melakukan pendekatan edukatif yang lebih kontekstual dan berbasis budaya lokal untuk meningkatkan literasi kesehatan masyarakat, terutama dalam hal penggunaan obat tradisional yang aman dan rasional, serta memberikan pemahaman kapan harus mengakses pelayanan kesehatan medis. Kata Kunci: Pengetahuan, Sikap, Kepercayaan, Aksesibilitas, Perilaku.
Pengaruh Pemberian Antipsikotik Atipikal Terhadap Perubahan Berat Badan Pada Pasien Skizofrenia di Rumah Sakit Khusus Daerah Dadi Provinsi Sulawesi Selatan Mentari Dwi Oktaviani; ⁠Rachmat Faisal S; Ilma Khaerina Amaliyah B; Aryanti R.Bamahry; Muhammad Alim Jaya
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 6 (2026): Volume 6 Nomor 6 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i6.19921

Abstract

ABSTRACT Schizophrenia is a chronic mental disorder that affects the quality of life of sufferers. One of the common side effects of atypical antipsychotic therapy is weight gain, which can affect patient compliance with treatment and increase the risk of metabolic syndrome. This study aims to analyze the effect of atypical antipsychotic administration on weight changes in schizophrenia patients at the Dadi Regional Special Hospital, South Sulawesi Province. This study used a quantitative descriptive design with a cross-sectional approach. The sample consisted of schizophrenia patients who underwent outpatient and inpatient care at the hospital during the study period. Weight measurements were taken before treatment, one month, and two months after atypical antipsychotic therapy began. Data analysis was performed using normality tests, homogeneity tests, and inferential statistical tests. The results showed that there was a significant increase in weight after one and two months of treatment. The average weight of patients increased from 66.33 kg before treatment to 67.93 kg after one month, and 74.63 kg after two months. Statistical tests showed significant differences in weight changes at various measurement periods. Conclusion: Administration of atypical antipsychotics has a significant effect on weight gain in schizophrenia patients. Therefore, regular weight monitoring and implementation of weight management strategies are important to reduce the risk of metabolic side effects and improve the quality of life of patients. Keywords: Schizophrenia, Atypical Antipsychotics, Weight, Metabolic Side Effects, Therapy Management.  ABSTRAK Skizofrenia adalah gangguan mental kronis yang memengaruhi kualitas hidup penderitanya. Salah satu efek samping yang umum dari terapi antipsikotik atipikal adalah peningkatan berat badan, yang dapat berdampak pada kepatuhan pasien terhadap pengobatan serta meningkatkan risiko sindrom metabolik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian antipsikotik atipikal terhadap perubahan berat badan pasien skizofrenia di Rumah Sakit Khusus Daerah Dadi, Provinsi Sulawesi Selatan. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari pasien skizofrenia yang menjalani rawat jalan dan rawat inap di rumah sakit tersebut selama periode penelitian. Pengukuran berat badan dilakukan sebelum pengobatan, satu bulan, dan dua bulan setelah terapi antipsikotik atipikal dimulai. Analisis data dilakukan menggunakan uji normalitas, uji homogenitas, dan uji statistik inferensial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan berat badan yang signifikan setelah satu dan dua bulan pengobatan. Rata-rata berat badan pasien meningkat dari 66,33 kg sebelum pengobatan menjadi 67,93 kg setelah satu bulan, dan 74,63 kg setelah dua bulan. Uji statistik menunjukkan adanya perbedaan bermakna dalam perubahan berat badan pada berbagai periode pengukuran. Pemberian antipsikotik atipikal berpengaruh signifikan terhadap peningkatan berat badan pasien skizofrenia. Oleh karena itu, pemantauan berat badan secara berkala serta penerapan strategi manajemen berat badan menjadi penting untuk mengurangi risiko efek samping metabolik dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Kata Kunci: Skizofrenia, Antipsikotik Atipikal, Berat Badan, Efek Samping Metabolik, Manajemen Terapi.
Hubungan Pendidikan dan Umur Ibu dengan Pemantauan Tumbuh Kembang Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Banjar Bangkalan Ainur Risalah; Euvanggelia Dwilda Ferdinandus; Budi Utomo; Bagus Setyoboedi
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 7 (2026): Volume 6 Nomor 7 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i7.23970

Abstract

ABSTRACT Growth monitoring achievements in Indonesia are still low, including in Bangkalan District, which ranks lowest in East Java, while the Banjar Bangkalan Community Health Center only recorded 2.34% of toddlers, or 22 toddlers, suffering from malnutrition. Low monitoring rates may be related to factors such as the mother's education and age, which affect knowledge, psychological readiness, and parenting practices. To date, there has been no research in Bangkalan analyzing the relationship between these two factors and growth monitoring based on Minister of Health Regulation No. 6 of 2024. This study used a quantitative cross-sectional design on 43 mothers with consecutive sampling, where data were collected through data collection sheets and analyzed using Fisher's Exact test. The results showed that most mothers had higher education (67.4%) and were aged ≥20 years (81.4%), but 65.1% did not monitor growth and development according to the standards. There was a weak positive relationship between education (p = 0.015) and maternal age (p = 0.036) with growth and development monitoring. These findings indicate a weak positive correlation between education and maternal age with growth monitoring of toddlers in the Banjar Bangkalan Community Health Center Working Area, making it important to provide assistance to mothers with low education and age 20 years so that growth monitoring of toddlers can be carried out optimally. Keywords: Maternal Education, Maternal Age, Growth Monitoring of Toddlers.  ABSTRAK Capaian pemantauan tumbuh kembang di Indonesia masih rendah, termasuk di Kabupaten Bangkalan yang menempati posisi terendah di Jawa Timur, sementara Puskesmas Banjar Bangkalan hanya mencatat 2,34% balita dengan jumlah 22 balita yang mengalami gizi buruk. Rendahnya pemantauan dapat berkaitan dengan faktor pendidikan dan umur ibu, yang memengaruhi pengetahuan, kesiapan psikologis, serta praktik pengasuhan. Hingga saat ini, belum terdapat penelitian di Bangkalan yang menganalisis hubungan kedua faktor tersebut terhadap pemantauan tumbuh kembang berdasarkan Permenkes No. 6 Tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif cross sectional pada 43 ibu dengan teknik consecutive sampling, di mana data dikumpulkan melalui lembar pengumpulan data dan dianalisis menggunakan uji Fisher’s Exact. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ibu memiliki pendidikan tinggi (67,4%) dan umur ≥20 tahun (81,4%), namun 65,1% tidak melakukan pemantauan tumbuh kembang sesuai standar. Terdapat hubungan positif lemah antara pendidikan (p = 0,015) dan umur ibu (p = 0,036) dengan pemantauan tumbuh kembang. Hal ini menandakan adanya hubungan positif lemah antara pendidikan dan umur ibu dengan pemantauan tumbuh kembang balita di Wilayah Kerja Puskesmas Banjar Bangkalan, sehingga penting memberikan pendampingan kepada ibu dengan pendidikan rendah dan umur 20 tahun agar pemantauan tumbuh kembang balita dapat berjalan secara optimal.  Kata Kunci: Pendidikan Ibu, Umur Ibu, Pemantauan Tumbuh Kembang Balita.

Filter by Year

2021 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 6, No 7 (2026): Volume 6 Nomor 7 (2026) Vol 6, No 6 (2026): Volume 6 Nomor 6 (2026) Vol 6, No 5 (2026): Volume 6 Nomor 5 (2026) Vol 6, No 4 (2026): Volume 6 Nomor 4 (2026) Vol 6, No 3 (2026): Volume 6 Nomor 3 (2026) Vol 6, No 2 (2026): Volume 6 Nomor 2 (2026) Vol 6, No 1 (2026): Volume 6 Nomor 1 (2026) Vol 5, No 12 (2025): Volume 5 Nomor 12 (2025) Vol 5, No 11 (2025): Volume 5 Nomor 11 (2025) Vol 5, No 10 (2025): Volume 5 Nomor 10 (2025) Vol 5, No 9 (2025): Volume 5 Nomor 9 (2025) Vol 5, No 8 (2025): Volume 5 Nomor 8 (2025) Vol 5, No 7 (2025): Volume 5 Nomor 7 (2025) Vol 5, No 6 (2025): Volume 5 Nomor 6 (2025) Vol 5, No 5 (2025): Volume 5 Nomor 5 (2025) Vol 5, No 4 (2025): Volume 5 Nomor 4 (2025) Vol 5, No 3 (2025): Volume 5 Nomor 3 (2025) Vol 5, No 2 (2025): Volume 5 Nomor 2 (2025) Vol 5, No 1 (2025): Volume 5 Nomor 1 (2025) Vol 4, No 12 (2024): Volume 4 Nomor 12 (2024) Vol 4, No 11 (2024): Volume 4 Nomor 11 (2024) Vol 4, No 10 (2024): Volume 4 Nomor 10 (2024) Vol 4, No 9 (2024): Volume 4 Nomor 9 (2024) Vol 4, No 8 (2024): Volume 4 Nomor 8 (2024) Vol 4, No 7 (2024): Volume 4 Nomor 7 (2024) Vol 4, No 6 (2024): Volume 4 Nomor 6 (2024) Vol 4, No 5 (2024): Volume 4 Nomor 5 (2024) Vol 4, No 4 (2024): Volume 4 Nomor 4 (2024) Vol 4, No 3 (2024): Volume 4 Nomor 3 (2024) Vol 4, No 2 (2024): Volume 4 Nomor 2 (2024) Vol 4, No 1 (2024): Volume 4 Nomor 1 (2024) Vol 3, No 12 (2023): Volume 3 Nomor 12 (2023) Vol 3, No 11 (2023): Volume 3 Nomor 11 (2023) Vol 3, No 10 (2023): Volume 3 Nomor 10 (2023) Vol 3, No 9 (2023): Volume 3 Nomor 9 (2023) Vol 3, No 8 (2023): Volume 3 Nomor 8 (2023) Vol 3, No 7 (2023): Volume 3 Nomor 7 (2023) Vol 3, No 6 (2023): Volume 3 Nomor 6 (2023) Vol 3, No 5 (2023): Volume 3 Nomor 5 (2023) Vol 3, No 4 (2023): Volume 3 Nomor 4 (2023) Vol 3, No 3 (2023): Volume 3 Nomor 3 (2023) Vol 3, No 2 (2023): Volume 3 Nomor 2 (2023) Vol 3, No 1 (2023): Volume 3 Nomor 1 (2023) Vol 2, No 4 (2022): Volume 2 Nomor 4 (2022) Vol 2, No 3 (2022): Volume 2 Nomor 3 (2022) Vol 2, No 2 (2022): Volume 2 Nomor 2 (2022) Vol 2, No 1 (2022): Volume 2 Nomor 1 (2022) Volume 1 Nomor 4 Desember 2021 Volume 1 Nomor 3 September 2021 Volume 1 Nomor 2 Juni 2021 Volume 1 Nomor 1 Maret 2021 More Issue