cover
Contact Name
Muhajir
Contact Email
qathruna@uinbanten.ac.id
Phone
+628121907168
Journal Mail Official
qathruna@uinbanten.ac.id
Editorial Address
Jalan Jendral Sudirman No. 30 Panancangan Cipocok Jaya, Sumurpecung, Kec. Serang, Kota Serang, Banten 42118
Location
Kota serang,
Banten
INDONESIA
Qathrun Jurnal Keilmuan dan Pendidikan Islam
ISSN : 2406954X     EISSN : 27765563     DOI : http://dx.doi.org/10.32678/qathruna
Core Subject : Education,
QATHRUNÂ: Jurnal Keilmuan dan Pendidikan Islam invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies in the areas of Islamic Education, which cover the following research focuses: Learning strategy of Islamic education Development of Islamic education curriculum Curriculum implementation of Islamic Education Development of learning media and resources of Islamic education Islamic education learning evaluation Practices of Islamic education learning in school Inclusive education in Islamic education Action research in Islamic education
Articles 121 Documents
KONSEP FITRAH PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM MENURUT HAMKA DAN AN-NABHANI Hunainah Hunainah; Syahid Syahid
QATHRUNÂ Vol 4 No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fitrah merupakan perkara yang penting, agar manusia mengetahui hakikat dan tujuan eksistensinya. Sistem pendidikan yang berjalan saat ini adalah sistem pendidikan yang berasaskan sekularisme yang bertentangan dan tidak sesuai dengan fitrah manusia. Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan rumusan konsep pendidikan yang sesuai dengan fitrah manusia. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimana Hamka dan an-Nabhani merumuskan konsep fitrah?; dan (2) Apa persamaan dan perbedaan pemikiran Hamka dan an-Nabhani dalam membahas konsep fitrah?. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode eklektik, yaitu memilih dan mencampur beberapa metode, yang terdiri dari penelitian kepustakaan (library research) dan analisis isi (content analysis). Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) Fitrah adalah potensi dasar manusia untuk melakukan serangkaian aktivitas sebagai penunjang pelaksanaan fungsi kekhalifahannya di muka bumi. Salah satu potensi dasar manusia adalah potensi daya pikir (al-aql) yang membutuhkan pengembangan berupa pendidikan yang sesuai dengan fitrah manusia; (2) Persamaan pemikiran Hamka dan an-Nabhani dalam membahas konsep fitrah, keduanya membahas bahwa: (a) fitrah sebagai potensi dasar yang cenderung atau tunduk pada aturan aturan Allah; (b) potensi dasar manusia di antaranya adalah akal, yakni potensi daya pikir; dan (c) potensi dasar manusia membutuhkan pengembangan. Sedangkan perbedaan pemikiran kedua tokoh adalah: (a) Hamka mendefinisikan fitrah sebagai potensi dasar yang mendorong manusia untuk melakukan serangkaian aktivitas sebagai penunjang fungsi kekhalifahannya di muka bumi; potensi dasar tersebut berupa jiwa (al-qalb), jasad (al-jism) dan akal (al-aql); sedangkan (2) an-Nabhani tidak mendefinisikan fitrah; beliau hanya menjelaskan bentuk fitrah sebagai potensi dasar manusia berupa potensi hidup (taqah al-hayawiyah) yang terdiri dari kebutuhan jasmani (hajat al-udwiyah) dan naluri (gharaiz); dan potensi daya pikir (al-aql).
JASMANI MANUSIA DALAM PERSPEKTIF PARA AHLI PENDIDIKAN Muhajir Muhajir
QATHRUNÂ Vol 2 No 02 (2015): Juli-Desember 2015
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manusia dalam perspektif pendidikan adalah binatang yang dapat berpikir (khayawan al-nathiq), karena diberi dua potensi yaitu potensi jasmani dan potensi rohani. Potensi rohani tidak diragukan lagi oleh pendidikan Islam, karena rohani yang dilengkapi dengan akal dan hati sebagai instrumen pokok dalam pendidikan Islam. Namun orang Islam sering mengabaikan jasmani yang merupakan bagian dari manusia secara utuh. Sehingga sering dijumpai fisik orang Islam sering sakit, kurang sehat, dan bentuk tubuhnya juga kecil, berbeda dengan tubuh orang Barat. Padahal Islam menganjurkan untuk memelihara fisik secara cermat, hati-hati dan teliti. Islam memandang bahwa pendidikan jasmani manusia tidak terlepas dari pendidikan rohani, artinya jasmani dan rohani manusia menyatu. Ketika pendidikan jasmani dilaksanakan, maka di dalamnya include pendidikan rohani, begitu pula sebaliknya. Hal ini sesuai dengan semboyan “al-‘aqlu al-saliim fii al-jismi al-saliim”, artinya di dalam jiwa yang sehat terdapat tubuh atau jasmani yang kuat. Statement ini jelas bahwa Islam mengutamakan jiwa yang sehat, karena dengan jiwa yang sehat akan menimbulkan tubuh yang kuat. Hal ini berbeda dengan orang Barat dengan semboyannya, “men sana in corpore sano”, artinya di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Konsep Barat tersebut lebih mengutamakan kesehatan jasmani ketimbang rohani. Dua perspektif di atas, memberikan pelajaran kepada para pendidik Islam, bahwa pendidikan jasmani tidak dapat dipisahkan dengan pendidikan rohani. Artinya ketika berbicara rohani, tidak dapat mengabaikan jasmani, begitu pula sebaliknya, ketika berbicara jasmani para pendidik Muslim juga tidak boleh memisahkan dengan rohani.
PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN MULTILITERASI PADA MATA PELAJARAN AQIDAH AKHLAK MATERI PERGAULAN REMAJA Ade Miftahul Irfan; Hidayatullah Hidayatullah; Apud Apud
QATHRUNÂ Vol 8 No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/qathruna.v8i1.4799

Abstract

This research is motivated by the monotony of learning the subjects of aqidah morality, there are still many students who have not implemented the moral aqidah subjects, especially the material for this youth association in everyday life. Aqidah morals subject matter of adolescent association has basic competencies (KD) that should be understood and applied by Madrasah students. The formulation of the problem in this study is how the development and effectiveness of the multi-literacy learning model in the subjects of aqidah morals material for adolescent relationships at MAN 2 Serang City.This study aims to develop and measure the effectiveness of the product of a multiliterate learning model on the subject of Aqidah Morals, material for adolescent relationships at MAN 2 Serang City. The method used in this research is Research and Development or development research using Borg and Gall steps which are simplified into five stages. The results showed that menunjukkanExpert validation was carried out by two experts, namely, learning design experts and material experts. Received "good" predicate. Then, during product trials in the field, the researchers conducted online, consisting of questionnaires, small-scale tests and large-scale tests. With the following results received the predicate "Good". The conclusions obtained from this research are The development of a multiliterate learning model in the subjects of Aqeedah Akhlak, material for adolescent socialization, has been successfully developed through a research procedure based on the R&D development model and refers to the research steps according to Borg and Gall which are simplified into five stages.
HUBUNGAN KEDISIPLINAN DAN PEMAHAMAN AYAT-AYAT AL-QUR’AN DENGAN AKHLAK SISWA Vivi Novianti; Hunainah Hunainah
QATHRUNÂ Vol 7 No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/qathruna.v7i1.3017

Abstract

The objectives of this study were 1) to determine student discipline, 2) to determine the students 'understanding of the verses of the Koran, 3) to determine the students' morals, 4) to determine the relationship between discipline and student morals, 5) to determine the relationship between understanding the verses. -say of the Al-Qur'an students with student morals, 6) to determine the relationship between discipline and understanding of the verses of the Qur'an together with the students' morals. The method used in this research is a quantitative method with a descriptive approach, namely to obtain an overview of the relationship between discipline and understanding of the verses of the Qur'an related to morals (surah Al-Ahzab verse 21, surah Al-Ahqof verse 15 and surah Ali. Imron 110) with the morals of MAN 2 Serang City students. The result of the research states that discipline is included in the good category with a mean value of 127.72, understanding of the verses of the Qur'an is in the medium category with a mean acquisition of 73.92, student morals are in the very good category with mean acquisition of 151.44, the coefficient relationship The correlation between the discipline and the students' morals is 0.749, the correlation coefficient of understanding the verses of the Qur'an with the students' morals is 0.218 and the relationship between discipline and understanding of the verses of the Qur'an together with the students' morals has a correlation coefficient of 0.749 which means it has an influence on student morals by 74.9%.
KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM MASA KLASIK Sahlani Sahlani
QATHRUNÂ Vol 4 No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau dipelajari oleh siswa dalam suatu periode tertentu. Dalam arti yang lebih luas, kurikulum sebenarnya bukan hanya sekadar rencana pelajaran, tapi semua yang secara nyata terjadi dalam proses pendidikan di sekolah. Dengan kata lain, kurikulum mencakup baik kegiatan yang dilakukan pada jam belajar maupun di luar jam belajar, sepanjang hal itu berlangsung di lembaga pendidikan. Karena itu ada istilah ekstra-kurikuler, yaitu berbagai kegiatan yang dilakukan di luar jam tatap muka di ruangan kelas. Akan tetapi, tentu saja kurikulum dalam pengertian seperti itu baru dikenal pada sistem pendidikan modern, baik sekolah maupun madrasah. Pada masa sebelumnya meskipun sudah dikenal, muatan kurikulum tidak seketat pengertian tersebut. Kurikulum pendidikan madrasah merupakan pengembangan lebih lanjut dan lebih "standar" (dalam arti dapat digunakan secara seragam oleh siapa saja) dari kurikulum yang pernah dikenal pada masa Nabi Saw.. Kurikulum pendidikan pada masa Nabi Saw. ditentukan secara pribadi oleh beliau sendiri yang bertindak sebagai perancang pendidikan, konsultan sekaligus guru. Pada saat itu belum ada undang-undang pendidikan yang mengatur segala bentuk pengelolaan dan pengembangan pendidikan. Pada masa Khulafa al-Rasyidun dan Bani Umayyah kurikulum pendidikan ditentukan oleh para ulama dan khalifah yang memerintah pada masa itu. Sementara itu pada masa Dinasti Abbasyiah, ketika lembaga pendidikan model madrasah sudah mulai dikenal, kurikulum dan metode pendidikan diurus oleh ulama, sedangkan khalifah tidak terlalu dominan dalam menentukan kebijakan-kebijakan pendidikan. Ini dilakukan dalam kerangka penghormatan mereka terhadap otorita lembaga pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan yang dilakukan para ulama., selain karena mereka disibukkan dengan urusan politik.
METODE PENDIDIKAN ISLAM M. Kholil Asy’ari
QATHRUNÂ Vol 1 No 01 (2014): Januari-Juni 2014
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Metode adalah seperangkat cara, jalan dan teknik yang dipakai oleh guru (pendidik) dalam proses belajar mengajar agar siswa (murid, peserta didik) mencapai tujuan pembelajaran atau kompetensi tertentu yang dirumuskan dalam kurikulum, silabus dan mata pelajaran. Pendidikan Islam adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara sesuai dengan ajaran Islam untuk kebahagiaan hidup di dunia dan akherat. Untuk melahirkan peserta didik yang berkualitas dibutuhkan metode yang tepat dalam memberikan materi pelajaran.
PEMBIASAAN SHALAT DHUHA UNTUK MENINGKATKAN DISIPLIN BELAJAR SISWA Eni Sri Mulyani; Hunainah Hunainah
QATHRUNÂ Vol 8 No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/qathruna.v8i1.4782

Abstract

The research objective was to describe the improvement of student learning discipline through habituation of Dhuha prayer at SD Negeri Kadingding, Kibin District. The data type of this research is descriptive qualitative using three data analyzes, namely data reduction, data presentation, and conclusion drawing. This study uses a qualitative descriptive approach which includes field research (Field Research) with data collection techniques namely observation, interviews, and documentation. The subjects of this study were students of SD Negeri Kadingding, Kibin District. Data were collected from 33 grade V students, 17 male students and 16 female students. Class V was taken as the sample because grade V children are in the high grade level between grades IV, V, VI. This research was conducted for 40 days starting from 23 July to 8 October 2019. The results of this study indicate 1) thatwith the implementation of the practice of the Dhuha prayer at SD Negeri Kadingding, Kibin District, which is held every Tuesday to Friday at 06.30 - 07.00, the Duha prayer is carried out in congregation starting from grade I to grade VI, the number of cycles of dhuha prayer from the school recommends a minimum of 2 cycles of prayer in advance to improve time discipline and get used to performing Duha prayers. 2) the percentage of the implementation of this Dhuha prayer habit has an effect on increasing student discipline in learning; 3) The condition of the place used for the Dhuha prayer is inadequate, because it uses the school yard field by laying out a mat, so it takes time to prepare for the Dhuha prayer.
MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM PAI DALAM KBK, KTSP, DAN KURIKULUM 2013 Cecep Hunaefi
QATHRUNÂ Vol 5 No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum di Indonesia telah mengalami banyak sekali perubahan. Mulai dari kurikulum tradisional pasca kemerdekaan sampai kurikulum modern. Kemudian dikenal kurikulum modern hingga pada Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), Kuikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), dan Kurikulum 2013. Dari ketiga kurikulum ini terjadi banyak perubahan dan perkembangan dalam pendidikan di Indonesia. Pada Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), siswa dituntut untuk memiliki suatu kompetensi yang dihasilkan dari proses pembelajaran di sekolah, dan guru dalam kurikulum ini hanya menjalankan kurikulum yang telah dirancang oleh pusat. Pada kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), siswa dituntut untuk aktif dalam pembelajaran dan kurikulum yang digunakan adalah hasil dari rancangan tiap satuan pendidikan masing-masing dengan melihat dari beberapa aspek. Kurikulum 2013 merupakan penyempurna dari kurikulum-kurikulum yang ada sebelumnya. Tulisan ini akan mengupas lebih banyak tentang kurikulum KBK, KTSP dan kurikulum 2013.
EKO-TARBIYAH PERSPEKTIF AL-QUR’AN Ano Suharna
QATHRUNÂ Vol 3 No 01 (2016): Januari-Juni 2016
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Isu lingkungan merupakan bagian dari krisis global yang sangat serius yang dialami oleh umat manusia sekarang ini. Krisis tersebut tidak hanya menyangkut masalah lingkungan saja tetapi juga menyangkut berbagai masalah yang semakin kompleks dan multidimensional yang menyentuh setiap aspek kehidupan; kesehatan, mata pencaharian, kualitas lingkungan hubungan sosial, ekonomi, teknologi, politik, pendidikan dan yang lainya. Keberadaan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup bagi umat manusia dalam segala aspek kehidupan (QS. Al-Baqarah (2): 185) Seyogyanya dapat dijadikan langkah solutif untuk menjawab dan menyelesaikan permasalahan tersebut, dengan menjadikan ekologi yang dikolaborasikan dengan tarbiyah dan diintegrasikan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang oleh penulis sebut Eko-Tarbiyah Perspektif Al-Qur’an direvitalisasikan dalam pendidikan Islam. Revitalisasi nilai-nilai ekologi melalui pendidikan dapat dilakukan dengan memasukan eko-tarbiyah perspektif Al-qur’an pada kurikulum dengan menggunakan dua pendekatan, yaitu: pendekatan monolitik dan integratif. baik pada pendidikan formal maupun pendidikan non formal, atau bahkan dengan mendirikan model lembaga pendidikan ekologi Qur’ani, baik oleh pemerintah atau non pemerintah yang ditunjang dengan fasilitas dan sarana pendukung ilmu pengetahuan tentang ekologi.
IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL PADA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENINGKATKAN AKHLAK PESERTA DIDIK Muhamad Irfan
QATHRUNÂ Vol 7 No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/qathruna.v7i2.3535

Abstract

This study aims: (1) to describe the implementation of a contextual learning model in Islamic religious education learning about a sense of responsibility to students at Al Ishlah Sukadiri High School and Senior High School; (2) describe the implementation of the contextual learning model in Islamic religious education learning about the social situation to students at Al Ishlah Sukadiri High School and Senior High School; (3) describe the implementation of the contextual learning model in Islamic religious education learning about reducing tension and anxiety to students at Al Ishlah Sukadiri High School and Senior High School; This research uses a qualitative-descriptive approach. This study uses a type of field research. The design used in this study was multisite. In the use of data collection methods used are in-depth interviews, participant observation and documentation. From the results of this study, the authors conclude that: (1) The method used by the teacher in providing learning responsibility to students is by giving warnings and punishments to students who cannot be responsible for themselves with a positive punishment, namely memorizing short letters. and read istighfar. (2) The method used by the teacher in providing examples of social situations to students is by providing stories about events that are in accordance with Islamic religious education learning materials, namely empathy either directly or using learning media, in addition to providing advice and group assignments. (3) The method used by the teacher in providing learning about reducing tension and anxiety to students is by giving a comfortable impression when entering class, providing calm through contemplation by inviting students to always remember Allah.

Page 7 of 13 | Total Record : 121