cover
Contact Name
I Gede Sutana
Contact Email
sutana@stahnmpukuturan.ac.id
Phone
+6236221289
Journal Mail Official
sutana@stahnmpukuturan.ac.id
Editorial Address
Jl. Pulau Menjangan No.27 Banyuning - Singaraja
Location
Kab. buleleng,
Bali
INDONESIA
Maha Widya Duta : Jurnal Penerangan Agama, Pariwisata Budaya, dan Ilmu Komunikasi
ISSN : 25980203     EISSN : 27467066     DOI : -
Core Subject : Religion, Social,
Maha Widya Duta: Jurnal Penerangan Agama, Pariwisata Budaya, dan Ilmu Komunikasi memfokuskan pada bidang penerangan agama, pariwisata budaya, dan ilmu komunikasi. Pemikiran-pemikiran ilmiah yang terpublikasi dalam jurnal ini diharapkan memberikan kontribusi positif bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Jurnal ini terbit setahun dua kali yakni pada bulan April dan Oktober. dikelola dan dikembangkan oleh Jurusan Dharma Duta STAH Negeri Mpu Kuturan Singaraja.
Articles 135 Documents
KONSELING PRANIKAH SEBAGAI LANGKAH AWAL MENUJU GRHASTA ASHRAMA Putu Wijaksana; Duwi Oktaviana
Maha Widya Duta : Jurnal Penerangan Agama, Pariwisata Budaya, dan Ilmu Komunikasi Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/duta.v6i2.2433

Abstract

Nowadays, divorce cases are increasing. To avoid this, it is necessary to anticipate the younger generation of Hindus in planning their weddings. One effort that can be done is through premarital counseling. The purpose of this paper is to find out the purpose of implementing premarital counseling and the benefits that can be obtained when prospective brides carry out premarital counseling. The purpose of premarital counseling itself is to equip the younger generation of Hindus in living a married life (Catur Ashrama) in order to form a happy family (sukinah). In order to achieve a happy family, it is necessary to explain the duties, rights, and obligations of husband and wife in premarital counseling material. By understanding each other's swadharma, it is hoped that the household will be happy and be able to give birth to a superior and positive generation.Keywords: premarital counseling, Grhasta Ashrama
NILAI AJARAN AGAMA HINDU DALAM SATUA RARE SIGARAN Ni Kadek Sastrini; Gede Agus Jaya Negara
Maha Widya Duta : Jurnal Penerangan Agama, Pariwisata Budaya, dan Ilmu Komunikasi Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/duta.v6i2.2392

Abstract

 Karya sastra merupakan hasil imajinasi penulis dalam menggambarkan kehidupan sosial masyarakat. Salah satunya adalah karya sastra yang berupa cerita yang dikenal di Bali disebut dengan Satua.  Para sastra Bali masih memandang Satua memiliki keistimewaan, karena kehadirannya mengandung arti tersendiri dan sikap mental serta tingkah laku dengan kehidupan masyarakat. Selain itu banyak ajaran-ajaran agama yang terkandung didalam satua-satua Bali salah satunya adalah satua Rare Sigaran.Satua rare sigaran merupakan sebuah cerita mengenai seorang anak yang terlahir dalam keadaan berbadan setengah karena ketika ibunya Rare Sigaran mengandung ia mencaci maki Bhatara Guru sampai akhirnya Bhatara Guru marah dan mengambil setengah badan dari anak yang ada dalam perut ibunya Rare Sigaran. Sampai akhirnya rare sigaran mampu menemukan setengah badannya kembali di alam sorga berkat keinginannya yang kuat,Ajaran agama yang tetmuat dalam satua Rare Sigaran seperti ajaran Karma Phala, ajaran Etika Hindu yaitu Kroda sifat marah yang memang dimiliki setiap orang dan ajaran Satya yang berarti kesetiaan.Amanat yang ingin disampaikan adalah bagaimana menjalani kehidupan yang seharusnya sikap seseorang bisa untuk mengendalikan diri dan tidak menyakiti orang lain baik itu dari perkataan maupun perbuatan. Salah berucap maka akan membuat seseorang itu akan mendapat karmanya sendiri.
PENTINGNYA ETIKA KOMUNIKASI DI ERA SIBER Desak Made Sueni; I Nyoman Buda Asmara Putra
Maha Widya Duta : Jurnal Penerangan Agama, Pariwisata Budaya, dan Ilmu Komunikasi Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/duta.v6i2.2434

Abstract

The development of communication technology with its various new media platforms forms a new society called cyber society. The massive digital content consumed by the cyber community results in frequent miscommunication and disharmony due to a lack of responsibility and communication ethics. This research is a qualitative research using literature study. Based on the results of this study, ethics has a very vital role in communication in the cyber era. We must implement internet ethics in cyber society, starting with ourselves, family and those closest to us, learning to use the internet safely and responsibly. This is very important to prevent violations of the law contained in Law Number 19 of 2016 amendments to Law Number 11 of 2008 concerning Information and Electronic Transactions. Imprisonment sentences accompanied by fines of hundreds of millions to billions of rupiah await if they violate the ethics of communication in the cyber world.Keywords : communication ethics, cyber era.
AJARAN BHAKTI MARGA SEBAGAI LANDASAN MENUMBUHKEMBANGKAN KARAKTER SISWA Pradna Lagatama; Nyoman Dane
Maha Widya Duta : Jurnal Penerangan Agama, Pariwisata Budaya, dan Ilmu Komunikasi Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/duta.v6i2.2437

Abstract

Law Number 20 of 2003 concerning the National Education System has emphasized that the goal of national education must be pursued to be achieved by all education providers in Indonesia. To achieve this, a special analysis is needed at the education level, adapted to the level of ability and needs of students. Formally, school is a place to study religion and a place to guide students.Education has meaning and an important role in life. Educational institutions are expected to take over the roles and responsibilities of families in shaping the character of students. In shaping students' morals and character, the application of morals and ethics is the basic point that must be realized by an educator. Learning is not only understood in theory but is applied in the behavior of each student's life so that it can show the character of students leading to a better direction. In this case, what is appropriate to be applied to overcome the problem of moral degradation is the teachings of Bhakti Marga so that it can shape the morals, ethics and habits of students towards male students. The forms of Bhakti Marga teachings in developing students' character are: carrying out prayers, preserving the environment, maintaining the cleanliness of holy places. Regarding the impact of Bhakti Marga teachings in developing student character, it is to increase students' religious attitudes, create student discipline, form tolerance in students, increase environmental care, and increase students' sense of responsibility. So that the teachings of Bhakti Marga can be used as guidelines in daily life in order to maintain a harmonious balance of the natural environment. Keywords: Bhakti Marga Teachings, Student Character
KONSEP EKOLOGI SEBAGAI IMPLEMENTASI TRI HITA KARANA DALAM UPACARA NGUSABA BULIH DI DESA NYANGLAN Kadek Abdhi Yasa; I Nyoman Hari Mukti Dananjaya
Maha Widya Duta : Jurnal Penerangan Agama, Pariwisata Budaya, dan Ilmu Komunikasi Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/duta.v6i2.2408

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Konsep Ekologi sebagai bentuk implementsi ajaran Tr Hita Karana dalam upacara ngusaba bulih Pura Manik Mas Desa Pakraman Nyanglan Kecamatan Banjarangkan Kabupaten Klungkung. Metoda yang digunakan dalam peneltian ini mempergunakan metode kualitatif, Metoda pengumpulan data yang dipergunakan seperti: observasi, wawancara, studi kepustakaan, studi dokumentasi. Upacara ngusaba bulih adalah suatau kegiatan yang dilaksanakan oleh krama subak dan masyarakat Desa Nyanglan untuk mengupacarai bulih dan memuja Dewi Sri sebagai penjaga tanaman padi. Prosesi upacara ngusaba bulih terdapat tiga tahapan yaitu praprosesi, prosesi inti dan prosesi penutup.  Konsep Ekologi dalam upacara ngusaba bulih merupakan implementasi dari ajaran Tri Hita Karana yang jika dikaji secara mendalam upacara ngusaba bulih ini merupakan sebuah media pemuliaan dan penghargaan terhadap alam lingkungan.
KOMUNIKASI TERAPEUTIK PENYEHAT TRADISIONAL BALIAN USADA DI BALI Ni Made Sinarsari; I Gede Sutana
Maha Widya Duta : Jurnal Penerangan Agama, Pariwisata Budaya, dan Ilmu Komunikasi Vol 7, No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/duta.v7i1.3336

Abstract

Communication is needed in various professions that are engaged in by humans, including the profession of health workers. Communication carried out by health workers is therapeutic communication which aims to build a relationship of trust between health workers and patients in the process of handling the patient's illness. Therapeutic communication is not only done by modern health workers such as midwives, nurses, and doctors. However, health workers such as Balian Usada in Bali also use therapeutic communication to facilitate the communication process in handling and healing patients' illnesses. This research is a study of the phenomenon of therapeutic communication which is not only carried out by modern health workers but also by traditional health workers. In the process of collecting data, this research uses the method of literature study and document analysis related to the field of study, and is presented by means of interpretation and description analysis. From this research it can be seen that Balian Usada is a Balinese traditional healer who learns medicine consciously, either through Guru Waktera learning from Balinese medicine experts, or self-taught through Lontar Usada. Balian Usada has a professional ethics of Balian or Sesana Balian. Sesananing Balian is a code of ethics that is mandatory as a moral control for usada in carrying out their profession. Balian Usada builds patient trust and comfort through anamnesis. When the patient feels trust and comfort and the communication has gone both ways, Balian Usada then plans the patient's treatment according to the patient's complaints. Good and effective communication has a significant impact on the patient's recovery. Poor communication can be a problem in patient care. Developing easy communication is essential to reduce patient anxiety.  Keywords: Therapeutic Communication; Traditional Healer; Balian Usada
KONSEP AJARAN CATUR WARNA DALAM LONTAR CANDRA BHAIRAWA I Nyoman Ariyoga
Maha Widya Duta : Jurnal Penerangan Agama, Pariwisata Budaya, dan Ilmu Komunikasi Vol 7, No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/duta.v7i1.3153

Abstract

Di Bali ajaran agama Hindu banyak terdapat dalam lontar, salah satunya adalah Lontar  Candra Bherawa, konsep ajaran yang terdapat didalamnya terkait ajaran catur warna, nilai-nilai ajaran catur warna merupakan empat pembagian profesi masyarakat berdasarkan guna dan karmanya, bukan berdasarkan pada keturunan atau kelas sosialnya di masyarakat, sehingga tidak terjadi kekeliruan mengenai pemahaman ajaran catur warna.   Keempat golongan ini saling berkaitan dan membutuhkan satu dengan yang lainya, sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh. Untuk lebih mendalami ajaran catur warna dipilihlah Lontar  Candra Bherawa, karena didalam teks ini terdapat ajaran catur warna.  Dalam mengkaji Lontar  Candra Bherawa mengunakan analisis deskritif kualitatif, dengan menganalisis teks secara objektif serta mendalam sehingga didapatkan makna yang dapat diinterpretasikan terkait ajaran catur warna. Masing-masing pembagian ajaran catur warna memiliki kewajiban pokok. Golongan brahmana mereka yang memiliki keunggulan kemampuan dibidang ilmu pengetahuan weda, golongan ksatrya mereka yang memiliki kemampuan dibidang memimpin pemerintahan, golongan sudra mereka yang memiliki kemampuan dibidang pertanian, dan golongan waisya mereka memiliki kemampuan dibidang melayani. Dengan adanya pembagian catur warna dapat memberikan kedamaian dan kemakmuran bagi masyarakat dan negara, sehingga tujuan mencapai jagadhita dan moksa dapat tercapai.Kata Kunci: Catur Warna, Lontar Candra Bhairawa
TATA LAKU ETIKA SANG NENI WEDIA DALAM PEMBUATAN BANTEN SEBAGAI SARANA UPACARA YADNYA Ketut Sari
Maha Widya Duta : Jurnal Penerangan Agama, Pariwisata Budaya, dan Ilmu Komunikasi Vol 7, No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/duta.v7i1.3124

Abstract

Penelitian ini membahas tentang analisa etika dalam pembuatan banten sebagai sarana upacara yadnya, analisis mendalam dengan mejabarkan bagaimana tata laku seorang pembuat sarana upacara yang disebut sang neni wedia atau srati banten dalam proses pembuat bakti atau banten. Terdapat dua teks atau naskah yang dianalisa untuk mengetahui aturan main atau tata laku pembuatan sarana upacara tesebut, diantaranya lontar yadnya prakerti dan lontar dewi tapiniserta konsep Susila dalam ajaran agama hindu. Penelitian ini mengunakan jenis pendekatan kualitaif deskriptif analitik. Data primer, atau hasil observasi dan wawancara pakar, menjadi sumber data. Sedangkan pendukung analisis adalah sumber sekunder seperti buku dan publikasi ilmiah. Penarikan kesimpulan merupakan tahap terakhir setelah memilih data yang akan digunakan untuk analisis. Agar masyarakat umum khususnya lati sesaji dapat mempelajari kembali informasi yang terdapat dalam kitab suci umat Hindu mengenai etika berdana dan langkah-langkah menyiapkan dan mengelola sesaji, maka hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan bagi sang neni wedia maupun umat pada umumnya.
DHARMA DALAM KITAB SARASAMUCCAYA SEBAGAI PEDOMAN HIDUP DI ZAMAN KALI YUGA Duwi Oktaviana
Maha Widya Duta : Jurnal Penerangan Agama, Pariwisata Budaya, dan Ilmu Komunikasi Vol 7, No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/duta.v7i1.3151

Abstract

Kemajuan zaman dan kecanggihan teknologi memberikan dua dampak sekaligus bagi kehidupan manusia. Layaknya sebuah pisau, hal tersebut dapat memberikan dampak positive maupun negative. Dampak positivenya yaitu segala aktivitas dan kegiatan manusia akan semakin dipermudah. Sedangkan dampak negativenya yaitu semakin maraknya tindak kejahatan seperti begal, pembunuhan, penganiayaan, pemerkosaan, perampokan, penipuan, serta aksi kejahatan lainnya. Semakin meningkatnya tindak kejahatan dari waktu ke waktu menandakan bahwa dunia telah memasuki zaman Kali Yuga. Tentunya perilaku negative di zaman Kali Yuga ini akan menghambat upaya-upaya dalam mewujudkan kehidupan harmonis, rukun, dan tentram. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis dan membahas kedudukan dharma dalam kitab Sarasamuccaya sebagai pedoman hidup di zaman Kali Yuga dengan harapan dapat mewujudkan masyarakat Hindu yang harmonis, rukun, damai, tentram dan bahagia secara lahir dan batin. Artikel ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Hasil pembahasan dalam artikel ini yaitu dharma menjadi landasan dalam mencari artha, dharma menjadi sarana pemusnahan dosa, dharma menjadi sumber kebahagiaan, dan dharma sebagai pembuka jalan menuju sorga. Pada akhirnya, secara praktis artikel ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi umat Hindu sebagai pedoman dan tuntunan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.Kata Kunci: Dharma, Sarasamuccaya, Zaman Kali Yuga
Eksistensi Pola Permukiman Tradisional Yang Berlandaskan Falsafah Bali di Desa Sanding Kecamatan Tampaksiring Kabupaten Gianyar I Kadek Edi Palguna
Maha Widya Duta : Jurnal Penerangan Agama, Pariwisata Budaya, dan Ilmu Komunikasi Vol 7, No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/duta.v7i1.3152

Abstract

Balinese traditional settlement is a village or house arrangement based on Balinese philosophy. This settlement pattern has been passed down from ancient times by the ancestors of the Balinese people. Along with the times and the entry of globalization, it requires that traditional settlements be affected. This research was conducted using a case study approach with qualitative methods, by collecting data through observation and literature review. Furthermore, the data is analyzed, reduced, and interpreted so that it can be presented descriptively. The results showed that the settlement of Sanding Village used an intersection pattern, as seen by the construction of public facilities in the village catus pata zone. The maintenance of traditional Balinese settlements is carried out through the construction of main houses in elbow satak and the use of strong Balinese philosophical concepts. The conclusion obtained by the people of Sanding Village seems that they have not been separated from the concept of traditional settlements, and the increase in population experienced was overcome by the construction of new housing outside the satak elbow.Keywords; Traditional settlements, Balinese philosophy