cover
Contact Name
I Gede Sutana
Contact Email
sutana@stahnmpukuturan.ac.id
Phone
+6236221289
Journal Mail Official
sutana@stahnmpukuturan.ac.id
Editorial Address
Jl. Pulau Menjangan No.27 Banyuning - Singaraja
Location
Kab. buleleng,
Bali
INDONESIA
Maha Widya Duta : Jurnal Penerangan Agama, Pariwisata Budaya, dan Ilmu Komunikasi
ISSN : 25980203     EISSN : 27467066     DOI : -
Core Subject : Religion, Social,
Maha Widya Duta: Jurnal Penerangan Agama, Pariwisata Budaya, dan Ilmu Komunikasi memfokuskan pada bidang penerangan agama, pariwisata budaya, dan ilmu komunikasi. Pemikiran-pemikiran ilmiah yang terpublikasi dalam jurnal ini diharapkan memberikan kontribusi positif bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Jurnal ini terbit setahun dua kali yakni pada bulan April dan Oktober. dikelola dan dikembangkan oleh Jurusan Dharma Duta STAH Negeri Mpu Kuturan Singaraja.
Articles 135 Documents
Implementasi Astangga Yoga Terhadap Pengendalian Diri I Wayan Sudiarta
Maha Widya Duta : Jurnal Penerangan Agama, Pariwisata Budaya, dan Ilmu Komunikasi Vol 7, No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/duta.v7i1.2894

Abstract

Yoga menekankan bagaimana individu dapan mengendalikan diri baik itu secara jasmani (badan/diri), rohani (pikiran) dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pengendalian diri dalam ajaran yoga dilakukan dengan berbagai cara. salah satu caranya tertuang dalam astangga yoga. Astangga yoga dapat diartikan sebagai delapan anggota tubuh  yoga, meliputi: yama (pantangan), niyama (kebajikan pembantu), asana (sikap badan atau sikap-sikap meditasi), pranayama (pengendalian napas), pratyahara (penyaluran aktifitas mental), dharana (memusatkan pikiran), dhyana (meditasi atau perenungan), dan samadhi (keadaan perenungan paling dalam). Penelitian ini membahas terkait implementasi astangga yoga terhadap pengendalian diri. Adapun metode dalam penelitian ini yaitu penelitian kualitatif dengan pencatatan dokumen. Analisis data digunakan analiswsis dari Miles dan Huberman yaitu: (1) Reduksi data, (2) Penyajian data, (3) Penarikan kesimpulan dan verifikasi. Adapun hasil penelitian dalam penelitian ini adalah Implikasi Astangga Yoga Terhadap Pengendalian Diri sebagai yaitu (1) Yama pengendalian terhadap diri dari pengaruh-pengaruh kurang baik yang berasal dari dalam diri maupun dari luar; (2) Niyama memupuk kebiasaan-kebiasaan baik dari dalam diri; (3) Asana pengendalian pikiran dan melatih kosentrasi; (4) Pranayama mengendalikan hawa nafsu dalam diri dan emosi; (5) Pratyahara pengendalian dari pada panca indra; (6) Dharana mengendalikan pikiran terhadap pengaruh seperti sifat sattwam, rajas dan tamas; (7) Dhyana  pengendalian diri sudah dapat terkontrol dengan baik; (8) Samadhi mulai merasakan tingkat kenyamanan spiritual yang paling tinggi. Kata kunci: Implikasi Astangga Yoga, Pengendalian Diri
TEKNIK PEWAWANCARA PROGRAM SIARAN TELEVISI WIRASA DALAM MENGENDALIKAN WAWANCARA I Gusti Ngurah Aan Darmawan
Maha Widya Duta : Jurnal Penerangan Agama, Pariwisata Budaya, dan Ilmu Komunikasi Vol 7, No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/duta.v7i1.3113

Abstract

Broadcast programs have become important factors for the television industry to win the competition in the digital broadcasting era. Talk shows are one type of broadcast program that can be found on television by viewers. The interviewer becomes an important actor in the success of the talk show broadcast program. The interviewer must have expertise in asking questions as well as controlling the interview so that the broadcast program delivered is not only interesting but also beneficial for the viewers. The theories used in this study were conversation rules and patterns of controlling interviews. This study was conducted in a qualitative method with a case study approach to the interviewers of Wirasa broadcast program aired on the Public Broadcasting Institution (Lembaga Penyiaran Publik TVRI Stasiun Bali). The data were collected through interviews, observations, and document analysis. The results of the research showed that the technique used by interviewers in Wirasa program in controlling the interview went through various stages of exposition, complication, rising action, turning point, and ending. Meanwhile, in managing the conversation, the interviewer exercised control by giving a fair portion for the interviewee to answer.
MAKNA FILOSOFIS PANCA KERTYA DALAM UPACARA POTONG GIGI gede agus jaya negara
Maha Widya Duta : Jurnal Penerangan Agama, Pariwisata Budaya, dan Ilmu Komunikasi Vol 7, No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/duta.v7i1.2898

Abstract

Hinduism is a religion based on a belief system. For adherents of Hinduism, especially in Bali, it looks like a religion that is breathed with various religious activities with different procedures for implementation. So that at first glance it seems that Hinduism is a religion that is full of ritual or ceremonial activities, but the reality that can be seen is only a small part of the implementation of religious teachings that have just been carried out by Hindus, especially in Bali, only limited to religious ceremonies with various ceremonial facilities.This Hindu religious ceremony was born from the concept of the Tri Kerangka Dasar of Hinduism namely Tattwa, Susila and upacara, the three of which cannot stand alone and are interrelated with one another. With regard to the basic framework of Hinduism, the most prominent implementation in Bali is the ceremonial system contained in the Panca Yadnya teachings, because the ceremony is the outermost aspect that describes the diversity of the implementation of Hindu religious teachings. In connection with the implementation of the yadnya ceremony, the important material to observe is the value and meaning contained in the procession, in this case it can be related to the five activities in the beryadnya which are called Panca Kertya which consists of five elements, namely: (1) Samhara, namely fusion; (2) Tirobhawa, namely drowning; (3) Utpeti, namely the re-creation ceremony; Sthiti namely maintenance; and Anugraha or pedanan. Potong Gigi ceremony, one of the ceremonies that is often held in Bali, certainly has a Panca Kertya philosophical meaning in its implementationWhen examining the structure of the Potong Gigi ceremony from the Panca Kertya aspect, a conclusion can be drawn that the implementation of the Potong Gigi ceremony has a complete part or procession in an effort to humanize humans to find their identity. Or in other words, between the Potong Gigi ceremony and the teachings of Panca Kertya, it is a religious activity that is unified or integral in building the components of yadnya.
STRATEGI KOMUNIKASI MEMBENTUK GENERASI MUDA HINDU BERKARAKTER MULIA I Nyoman Buda Asmara Putra
Maha Widya Duta : Jurnal Penerangan Agama, Pariwisata Budaya, dan Ilmu Komunikasi Vol 7, No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/duta.v7i1.3154

Abstract

Membentuk generasi muda Hindu yang berkarakter mulia merupakan tugas dan tanggung jawab bersama. Dibutuhkan strategi komunikasi sebagai upaya untuk mewujudkan hal tersebut di tengah tantangan serta permasalahan kehidupan yang semakin berat dan kompleks. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, sumber datanya berasal dari buku, artikel ilmiah dan penelitian terdahulu. Hasil penelitian ini manusia mempunyai lima aspek kepribadian yang dapat dikembangkan dan ditingkatkan yakni fisik, intelek, emosional, psikis dan spiritual. Menapaki fase kehidupan grehasta asrama diperlukan konseling praperkawinan untuk memantapkan langkah dalam mengarungi bahtera rumah tangga sehingga bisa mewujudkan keluarga yang sukinah. Pembentukkan watak seorang anak dalam ajaran agama Hindu sebelum anak lahir prenatal education diwujudkan dengan upacara magedong-gedongan dan mendidik disiplin orang tua. Pada lembaga pendidikan semua unsur di dalamnya harus memberikan teladan yang baik. Selain membekali anak didik dengan berbagai keterampilan untuk mencari nafkah juga menanamkan tatanan moral yang baik guna mencapai kehidupan yang mulia. Kerjasama seluruh pihak dalam segala lini kehidupan dari hulu ke hilir diharapkan dapat membentuk generasi muda Hindu berkarakter mulia.Kata kunci: Strategi Komunikasi, Generasi Muda Hindu, Berkarakter Mulia
PROSES TERJADINYA SINKRETISME PEMUJAAN HINDU-KONGHUCU DI PURA PENYAGJAGAN DESA CATUR KECAMATAN KINTAMANI KABUPATEN BANGLI I Nengah Karsana; Ni Made Suyeni; Ketut Sugawa Kori
Maha Widya Duta : Jurnal Penerangan Agama, Pariwisata Budaya, dan Ilmu Komunikasi Vol 7, No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/duta.v7i1.2889

Abstract

Kehadiran kepercayaan Hindu-Konghucu di wilayah Nusantara ini merupakan tonggak penting dalam perjalanan sejarah Bangsa Indonesia. Kehadiran budaya ini memunculkan adanya sinkretisme budaya. Wujud sinkretisasi antara Kebudayaan Cina (Konghucu) dan Hindu (Siwa) tersebut juga dapat ditemukan pada salah satu Pura Penyagjagan di Desa Catur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Konsepsi sinkretisme pemujaan Hindu Konghucu yang masih terjaga di Desa Catur ini dapat menjadi sebuah landasan atau referensi tentang pendidikan Multikultural khususnya di Bali.Metode penelitian menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Penentuan informan pada penelitian ini menggunakan purposive sampling. Pendekatan penelitian ini dimaksudkan sebagai penelitian yang menganalisis dan menjelaskan fenomena dengan sedalam-dalamnya. Metode pengumpulan data adalah cara observasi, wawancara, studi kepustakaan, dan studi dokumentasi.Proses terjadinya sinkretisme Hindu-Konghucu di Desa Catur diawali dengan dibangunnya Pelinggih Konco di Pura Penyagjagan. Pura tersebut konon zaman dahulu sebagai tempat peristarahat para warga Cina yang sedang berperang. Bentuk sinkretisme kebudayaan Hindu-Konghucu di Pura Penyagjagan Desa Catur dilihat dari sistem pemujaan, sarana upacara, dan bentuk bangunan.