cover
Contact Name
Hendra Susanto
Contact Email
hesus@stiqsi.ac.id
Phone
+6281232233243
Journal Mail Official
jurnal@stiqsi.ac.id
Editorial Address
Pondok Pesantren Al-Ishlah, Sendangagung Paciran Lamongan Jawa Timur
Location
Kab. lamongan,
Jawa timur
INDONESIA
Al-I'jaz: Jurnal Studi Al-Qur'an, Falsafah, dan Keislaman
ISSN : 27221652     EISSN : 27211347     DOI : https://doi.org/10.53563/ai.v3i1
Core Subject : Religion, Education,
Focus Al-I jaz adalah jurnal yang terbit dua kali dalam setahun (Juni dan Desember), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran dan Sains Al-Ishlah (STIQSI) Sendangagung Paciran Lamongan Jawa Timur. Fokus jurnal ini adalah untuk mendiseminasikan kajian akademis tentang Pemikiran Keislaman terkait Al-Qur’an, Falsafah dan Isu Keislaman Klasik dan Kontemporer, serta untuk memfasilitasi dialog akademis antara para akademisi dan peneliti yang berminat dalam kajian pemikiran keislaman terkait Al-Quran, Falsafah dan Isu Keislaman Klasik dan Kontemporer. Scope Al-I jaz memiliki ruang lingkup kajian dan penelitian yang mengkover beragam bidang terkait kajian Pemikiran Keislaman seperti: Tafsir, Hadits, Fiqh, Sejarah Islam, Hukum, Al-Quran dan Tafsir, Tasawuf, Ilmu Kalam, Politik, dan Filsafat serta Isu Keislaman Klasik dan Kontemporer (seperti relasi jender, demokrasi, Hak Azasi Manusia, Ekspresi dan Praktik Hidup masyarakat Muslim di seluruh dunia).
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 74 Documents
Pemikiran Etika Sufistik Al-Ghazali: Langkah-Langkah Memoderasi Akhlak Umar Faruq Tohir
Jurnal Al I'jaz Vol 3 No 1 (2021): June
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Dan Sains Al-Ishlah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53563/ai.v3i1.50

Abstract

Pemikiran etik-sufistik al Ghazali bisa ditafsirkan dalam kerangka moderasi akhlak berbasis agama di Indonesia yang majmuk. Untuk membangun atau men-set up moderasi yang tepat dan lugas di bumi Indonesia atau di tubuh muslim Indonesia. Pendekatan etika sufistik al Ghazali bsa menjadi opsi yang adekuat. Untuk melihat atau memantau lanskap pemikiran etis al Ghazali ini bisa disusur dari biografinya, dari corak pemikirannya yang kontradiktif dengan pemikiran-pemikiran ilmiahnya sendiri. Menurut al-Ghazali, akhlak bukanlah pengetahuan (marifah) semata tentang baik dan jahat maupun qudrat untuk baik dan buruk. Akhlak bukan pula pengalaman (fi’l) yang baik dan jelek, melainkan suatu keadaan jiwa yang mantap (hay’ah râsikhah fî al-nafs). Ia mendefinisikan akhlak sebagai suatu kemantapan jiwa yang menghasilkan perbuatan atau pengamalan dengan mudah, tanpa harus direnungkan dan disengaja. Ini artinya aklak bersifat spontan. Lalu arah pemikirannya menerobos menjadi evolusi pemikiran al Ghzali. Ada empat kelompok aliran Islam yang menjadi sasaran kritik al-Ghazali pada saat itu, yaitu: kelompok teolog Islam, filosof, aliran Syi'ah Bathiniyah, dan kelompok sufisme. Perlu juga dipahami secara mendalam konsep etika al Ghzali. Poros etika al Ghazali di antarannya terletak pada konsep keseimbangan dan langkah-langkah peningktan akhlak. Sesuai dengan inti persoalan, al-Ghazali menamakan etikanya ilmu menuju akhirat (‘ilm tharîq al-akhîrah) atau jalan yang dilalui para nabi dan leluhur saleh (al-salaf al-shâlih). Ia juga menamakannya ilmu pengamalan agama (‘ilm al-mu’âmalah), Sebagai tambahan pemahaman adalah pengertian tentang induk ahlak buruk manusia, metode mendapatkan akhlak baik bagi manusia. Di dalamnya upaya atau strategi peningkatan akhlak manusia. Etika al-Ghazali bersifat religius-sufi. Dengan demikian simpulan pendapatnya, etika ialah pengkajian tentang keyakinan religius tertentu (i’tiqâdât), dan tentang kebenaran atau kesalahan dalam amal untuk diamalkan, dan bukan demi pengetahuan belaka.
Ibnu Abbas: (Studi Biografi Generasi Awal Mufassir Al-Qur'an) Zainuddin Muhtar
Jurnal Al I'jaz Vol 1 No 1 (2019): Jurnal Studi Al-Quran, Falsafah dan Keislaman
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Dan Sains Al-Ishlah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53563/ai.v1i1.51

Abstract

Kitab Al-Qur’an yang merupakan pusat ajaran Islam telah menjadi bahan pengkajian yang tidak pernah kering. Ia selalu digali agar ditemukan berbagai mutiara dari dalam kandungannya. Sepanjang perjalanan sejarah Al-Qur’an, berbagai kalangan telah menumpahkan segenap waktu, tenaga dan fikirannya untuk selalu dapat berinteraksi dengan kalam yang mulia tersebut. Semakin intens perhatian yang diarahkan kepadanya, semakin besar daya tarik yang ia pancarkan dan daya tarik tersebut tidak pernah habis dan selalu tampak menarik bagaikan kilauan sudut permata yang begitu indah. Salah satu jenis kajian yang terus berkembang seiring perjalanan waktu adalah kajian tafsir yang boleh dikatakan sama tuanya dengan usia Al-Qur’an sejak ia diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW 14 Abad yang lalu. Dalam setiap kurun waktu tertentu, cabang ini telah menghasilkan pemikir-pemikir yang brilian yang telah mampu menjelaskan berbagai macam makna yang dikandung oleh Al-Qur’an dan menghasilkan karya-karya besar. Karya-karya tersebut kelak akan menjadi salah satu alat mediasi yang paling jitu untuk mudah memahami Al-Qur’an dan menjadikannya pelita dalam kehidupan ini. Tak pelak lagi, nama Abdullah bin Abbas atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Abbas menjadi salah satu nama yang paling popular dalam menafsirkan wahyu Allah tersebut. Kemampuan yang ia miliki telah diakui oleh berbagai kalangan, terutama kalangan sahabat-sahabat Nabi yang cukup senior seperti Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib. Langkah-langkah Ibnu Abbas dalam penafsiran Al-Qur’an, pun menjadi salah satu model yang mengilhami ulama-ulama besar dalam bidang tafsir beberapa abad kemudian. Kota suci Mekkah menjadi awal perkembangan pemikiran Ibnu Abbas yang juga menghasilkan ulama-ulama besar seperti Said bin Jubair dan Mujahid bin Jabr
Studi Hadis di Pesantren: (Pesantren sebagai Salah Satu Center of Excellent Kajian Hadis di Indonesia) Arwani Rofii
Jurnal Al I'jaz Vol 3 No 2 (2021): December
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Dan Sains Al-Ishlah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53563/ai.v3i2.58

Abstract

Hadis merupakan komponen penting dalam beragama karena hadis adalah sumber hukum Islam yang kedua setelah A l-Qur’an.Oleh karena hadis mempunyai kedudukan yang tinggi di Islam maka penulis ingin meneliti bagaimana kajian hadis semenjak zaman Rasulullah sallallahu ‘alayhi wa sallam hingga sekarang ini khususnya di Indonesia. Di Indonesia Pondok pesantren sebagai lembaga keagamaan mempunyai peren penting dalam maju mundurnya kajian hadis di Indonesia. Tujuan penulis adalah mengetahui sejarah perkembangan hadis mulai zaman Rasululullah hingga pada masa sekarang ini. Penelitian ini merupkan jenis penelitian pustaka (library research) dengan menggunakan metode content analyst dalam mengolah informasi yang telah diperoleh. Selain itu penelitian ini juga menggunakan metode penelitian kualitatif dengan cara wawancara kepada beberapa pengurus pesantren. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kajian hadis sudah ada semenjak Rasulullah sallalahu ‘alayhi wa sallam hidup, para sahabat juga melakukan kajian atau pembelajaran hadis demikian juga para tabi’in di madrasah-madrasah hadis yang berada di wilayah yang telah ditaklukkan. Kajian hadis terus berkembang pesat seiring pesatnya wilayah-wilayah yang ditaklukkan oleh Islam, kemudian pada masa khalifah ‘Umar ibn ‘Abd al-Aziz mulailah dibukukan hadis yang dapat digunakan sebagai sarana dalam mengkaji hadis, muncul kitab Sahih al-Bukhari, Sahih Muslim, Sunan al-Arba’ah dan lain sebagainya. Di Indonesia kajian hadis juga muncul seiring masuknya Islam di Indonesia pada abad 17, kajian hadis terus berjalan hingga sekarang dan pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan mempunyai perananan penting dalam keteberlangsungan kajian hadis di Indonesi. Di antara kitab-kitab Hadis yang dikaji di pesantren di Indoensia adalah Bulugh al-Maram, Hadith al-Arba’in al-Nawawiyyah, Sahih al-Bukhari dan lain sebagainya.
Jejak Pemikiran Ibnu Sina dalam Logika Modern Hamlah Ayatillah Zahroh; Andhika Dwi Saputra
Jurnal Al I'jaz Vol 3 No 2 (2021): December
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Dan Sains Al-Ishlah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53563/ai.v3i2.60

Abstract

Logika membantu pikiran agar runtut sistematis dan masuk akal dalam mencerna alam melalui bahasa. Akal yang masuk akal hanya bersifat potensial. Baru menjadi manifes jika kalimat per kalimat yang menuangkan informasi dari pikiran itu disusun secara logis. Artinya sesuai dengan karakter akal. Ibnu Sina atau Avicenna mengelaborasi cara berpikir Yunani untuk menghasilkan simpulan yang masuk akal. Pikiran-pikiran Ibnu Sina terwariskan dalam logika modern yang diajarkan sekolah dan kampus. Maka menelaah tata logika modern, tidak bisa dilepaskan dari jejak logika Ibnu Sina. Beragam penamaan, istilah-istilah teknis dalam logika modern menunjukkan jejak pikiran logika Ibnu Sina. Maka pertama-tama, tulisan ini akan membahas Ibnu Sina baik dari sisi biografi maupun karir intelektual terutama pandangaannya tentang logika. Kedua, tulisan ini akan menjelaskan logika modern. Dasar-dasar logika modern itu tercermin dalam berbagai istilah penamaan: induksi, deduksi, silogisme, penalran, penyimpulan. Ibnu Sina melakukan formaliasi cara berpikir logis yang terwarisi hingga kini.
Teologi Sampah Sungai: (Kajian Penyelesaian Sampah Berbasis Tafsir Ayat Kerusakan Lingkungan di Sungai Ngelom Sidoarjo) Susiani Setyaningsih
Jurnal Al I'jaz Vol 3 No 2 (2021): December
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Dan Sains Al-Ishlah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53563/ai.v3i2.62

Abstract

Pertambahan jumlah penduduk telah berimplikasi pada berbagai aspek kehidupan dalam masyarakat. Salah satu diantaranya yaitu permasalahan yang mencuat satu dekade terakhir ialah masalah sampah. Permasalahan semakin kompleks ketika masyarakat tidak dibekali dengan skill untuk mengolah sampah tersebut secara mandiri. Belum lagi permasalahan mendasar yang juga belum selesai dituntaskan yaitu masalah kesadaran masyarakat dalam membuang sampah. Kondisi inilah yang terjadi di lingkungan sungai Ngelom Sepanjang Sidoarjo. Sebuah permasalahan yang akan dikaji oleh penulis pada artikel ini. Permasalahan semakin menarik dikupas oleh penulis, ketika alur penulisan sampai pada bagian penggunaan perspektif positivisme. Akan seperti apakah permasalahan sampah yang terjadi di sepanjang Sungai Ngelom Wilayah Sepanjang Sidoarjo?.
Al Dakhil Shi’ah wa Al-Khawarij: (Infiltrasi Faham Syiah dan Khawarij dalam Tafsir Al Quran) Fithrotin Fithrotin
Jurnal Al I'jaz Vol 3 No 2 (2021): December
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Dan Sains Al-Ishlah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53563/ai.v3i2.63

Abstract

Berbagai infiltrasi yang mendistorsi penafsiran Al-Qur’an terus terjadi, hal itu disebabkan faktor eksternal dan internal. Keberagaman dalam penafsiran terjadi pada abad pertengahan. Pada periode ini, Ideologi dari berbagai madzab ikut memberikan corak penafsiran Al-Qur’an, sehingga melahirkan corak beragam, seperti madzab Syi’ah dan Khawarij1.Dari corak penafsiran yang ada, terdapat corak penafsiran yang dianggap unik karena penafsiran tersebut dipengaruhi aliran tertentu. Penelitian ini fokus pada sekte Syah dan Khawarij beserta hubungannya dengan penafsiran Al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan motode library research.Jenis penelitian adalah deskriptif-analisis dengan teknik pengumpulan data berupa studi dokumentasi menggunakan teknik content analysis. Hasil penelitian menunjukkan Syi’ah muncul karena faktor politik yang di dasarkan fanatisme kepada ahlul bait. Khawarij muncul karena faktor politik dan kekecewaan pada keputusan Ali bin Abi Thalib pada peristiwa tahkim. Hal ini membuat Khawarij keluar dari barisan Ali dan kemudian membuat kelompok sendiri dan berkembang dengan doktrin yang sangat keras dan radikal. Konsekuensi atas keimanan Syiah dan khawarij terhadap otoritas Al-Qur’an sebagai wahyu Nabi Muhammad adalah masing-masing sekte berusaha mencari sandaran dalam Al-Qur’an untuk mengokohkan dan meligitimasi doktrin dan ajaran dalam madzhab mereka yang terkadang memaksakan dengan takwil yang menyimpang dari makna orisinal Al-Qur’an sehingga pada perkembangannya muncul infiltrasi dalam tafsir Al-Qur’an yang tidak sesuai dengan apa yang dituju dan di kehendaki oleh ayat-ayat Al-Qur’an itu sendiri.
Dietri yang Menyehatkan: (Formula Diet Sehat dalam Tata Konsumsi Berdasar Ayat-Ayat Kesehatan) Rosydina Robi'aqalbi; Eva Naria
Jurnal Al I'jaz Vol 3 No 2 (2021): December
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Dan Sains Al-Ishlah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53563/ai.v3i2.64

Abstract

Permasalahan kesehatan terutama permasalahan status gizi masihmemerlukan perhatian khusus. Di Indonesia apalagi saat ini tengah memasukimasalah gizi ganda, di mana masalah gizi kurang belum teratasi sepenuhnya,namun sudah timbul masalah gizi baru yaitu kegemukan atau obesitas. Obesitasmerupakan salah satu faktor risiko terjadinya beberapa penyakit seperti penyakitjantung, diabetes melitus, dan hipertensi. Angka kejadian obesitas terus meningkatsejak tahun 1975 sampai 2016 dari 4% sampai 18% pada usia 5-19. Obesitas bisaterjadi ketika tidak terdapat keseimbangan antara energi yang masuk dengan yangdigunakan. Untuk itu dibutukan suatu konsep atau formulasi yang cukup agar terusmenjaga status gizi tetap normal. Islam telah lama mengajarkan bahwa perilakuberlebihan itu dilarang. Tidak berlebihan dalam makan disebutkan dalam QS AlAn’am: 141 dan QS Al-A’raf: 31. Selain dalam Al-Qur’an, dalam hadis RasullullahSAW pun telah terdapat formulasi konsep makan yang cukup dengan menjaga perutsepertiganya untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiganya lagiuntuk udara. Sementara dalam ilmu kesehatan, tanpa menyelisihi apa yang sudahagama Islam ajarkan, terdapat konsep atau formulasi sampai takaran detailseberapa besar porsi makan yang dianggap cukup. Maka dalam penelitian ini akandibahas secara studi literatur tentang bagaimana konsep makan yang cukup ituatau bagaimana cara menghitung kebutuhan makan setiap orang. Dalam ilmukesehatan, terdapat rumus IMT (Indeks Masa Tubuh) untuk mengukur status giziseseorang, dan juga terdapat rumusan kebutuhan energi seseorang yangdidasarkan pada usia, berat badan, serta aktifitasnya.
Historiografi Spanyol Masa Kekuasaan Islam: (Studi Sejarah Peradaban Islam di Spanyol Abad ke-8) Fathurrofiq Fathurrofiq
Jurnal Al I'jaz Vol 3 No 2 (2021): December
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Dan Sains Al-Ishlah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53563/ai.v3i2.65

Abstract

Epos sejarah Islam di Spanyol membentang dalam kurun waktu kurang lebih tujuh abad atau 700-an tahun. Selama tujuh ratus tahun dihitung dari tahun masuknya Thoriq bin Ziyad ke Selat Gibraltar pada 711 M (muslim conquest) sampai pada tahun kejatuhan Granada di tangan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella 1492 M (Reconguesta). Sejarawan dari Yele University Maria Rosa Menacol menghitung selama tujuh abad, yaitu dari tahun 750 M sampai 1492 M. Mengambil tahun 750, berarti ia memulai dari masa Abdurrahman Ad-Dakhil. Sepanjang kurun itu, Islam yang digerakkan oleh ekspansi orang-orang Arab mampu berkuasa kuat di Spanyol. Pasukan Islam yang dibawa oleh Thoriq mampu mengalahkan pasukan Roderik, Raja Gotik (Visighot). Kejayaan umat Islam berkembang pesat di Semenanjung Iberia itu jauh mengungguli kawasan-kawasan Eropa lain yang masih serba gelap. Namun kejayaan itu akhirnya rata dengan tanah ketika aliansi pasukan Kristen dari utara Pegunungan Pyrenees mampu menaklukkan Granada pada Januari 1292 M. Umat Islam Spanyol, termasuk warga Yahudi diberi pilihan: pindah agama Kristen atau keluar dari Spanyol. Gelombang eksodus besar-besaran terjadi. Bagi yang tidak menaati kebijakan itu akan diburu, disiksa dan dibantai. Sejak itu, Spanyol dengan semangat Kristen seolah melupakan tradisi toleransi dan berubah menjadi monster yang sadistis dan ingin membersihkan Eropa dari pencemaran orang-orang Islam. Sebuah antiklimaks drama kekuasaan umat Islam di Spanyol yang tragis sekaligus memilukan. Untuk menjernihkan penyebutan tentang kawasan Spanyol masa kekuasaan umat Islam, penting dikemukakan di pendahuluan ini sejumlah penyebutan untuk Spanyol. Diantaranya: Andalusia, Semenanjung Iberia, dan Spanyol sendiri. Istilah-istilah itu menunjuk pada kawasan yang sama. Bedanya adalah asal kata atau etimologi penyebutan itu. Masyarakat Roma, pusat Kristen Eropa saat itu menyebut Spanyol sebagai Hispania dan Iberia. Sebutan Hispanik ini masih berlaku di Amerika Serikat untuk orang-orang migran Amerika Selatan yang berbahasa Spanyol. Sementara Andalusia berasal dari penyebutan suku-suku yang tidak beradap yang melakukan vandalisme. Mereka berasal dari wilayah Skandinavia, Swedia, Finlandia, Islandia yang menetap di Spanyol. Mereka disebut kaum Vandal. Dari vandal inilah dilogatkan oleh orang Arab menjadi Andalusia.
ARTIKULASI HADITH (HADITH BUCHORI) DAN KONTEKSTUALISASINYA MENURUT MUHAMMAD ASAD Ahmad Nabil Amir
Jurnal Al I'jaz Vol 4 No 1 (2022): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Dan Sains Al-Ishlah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53563/ai.v4i1.52

Abstract

Makalah ini menyorot fikrah hadith Muhammad Asad (1990-1992) dan kontribusinya dalam pemahaman hadith kontemporer. Ia membincangkan kefahaman asas tentang hadith yang dirumuskan dalam karya-karyanya seperti Sahih al-Bukhari The Early Years of Islam; Islam at The Crossroads (bab “Hadith and Sunnah” dan “The Spirit of the Sunnah”); This Law of Ours and Other Essays; The Road to Mecca dan The Message of the Qur’an. Pengaruh hadith ini turut ditinjau daripada artikelnya dalam jurnal Arafat dan makalahnya yang lain terkait tema-tema hadith dan sunnah dan pemahaman serta cabarannya di abad moden, seperti tulisannya “Social and Cultural Realities of the Sunnah”. Reka bentuk kajian adalah bersifat deskriptif, analitis, historis dan komparatif. Kajian cuba mengembangkan ide dan fikrah hadith yang dirumuskan Asad dari perspektifnya yang moden dan membandingkannya dengan pemikiran-pemikiran sejarah yang krusial terkait prinsip hadith yang dibawakan oleh pemikir Islam yang lain. Dapatan kajian menyimpulkan bahawa Muhammad Asad telah memberikan sumbangan yang penting dalam pemikiran hadith di abad moden dengan hasil penulisannya yang prolifik dan substantif, termasuk terjemahan dan syarahannya yang ekstensif terhadap Sahih al-Bukhari yang memuatkan komentar-komentar yang baru dan analisis sejarahnya yang mendalam terhadap kitab ini. Ia merumuskan pertentangan-pertentangan hukum dan istinbat-istinbat fuqaha dan muhaddith dalam tradisi syarah hadith yang kritis. Ia turut merespon pertikaian-pertikaian asas yang dibangkitkan oleh golongan orientalis dan intelektual yang skeptis terhadap riwayat-riwayat sejarah dalam tradisi hadith
ANALISIS SEMANTIK KATA 'TAMKIN' DAN DERIVASINYA DALAM AL QURAN Ahmad Zaki Annafiri
Jurnal Al I'jaz Vol 4 No 1 (2022): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Dan Sains Al-Ishlah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53563/ai.v4i1.71

Abstract

Semantik menjadi salah satu metode penafsiran Al Quran yang kini sedang banyak dibahas oleh para peneliti. Penelitian ini bertujuan Penelitian ini bertujuan mengetahui analisis semantik kata “Tamkin” dalam Al-Quran beserta derivasinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yakni penelitian yang pengumpulan datanya bersifat kualitatif yang berupa lisan atau tulisan dan benda-benda yang diamati secara detail sehingga dapat ditangkap makna yang tersirat dalam dokumen atau benda tersebut. Sedangkan dilihat dari jenis penelitiannya merupakan penelitian kepustakaan. Sumber primer dalam penelitian ini adalah Tafsir Kementerian Agama RI, adapun sumber sekunder adalah berupa buku dan artikel berkaitan dengan judul. Penelitian ini dilakukan menggunakan judul analisis semantik Alquran menunjukan bahwa penelitian ini menggunakan metode analisis semantik atau konseptual terhadap bahan-bahan yang disediakan oleh kosakata Alquran. Hasil penelitian ini menunjukkan: 1)Tamkin dan derivasinya memiliki 6 pemaknaan menurut Tafsir Kementerian Agama RI, yaitu: memberikan ‘kekuasaan/kedudukan’, ‘meneguhkan kedudukan’, ‘kedudukan tinggi’, ‘menempatkan’, ‘kokoh’, dan ‘dianugerahkan’; 2) Kata Tamkin, diulang dalam Al-Quran sebanyak 16 kali dalam 12 surat yang berbeda, dalam bentuk gramatikalnya, diantaranya fi’l madhi, fi’l mudhari’, dan isim nakirah, selain itu juga dalam berbagai bentuk wazan, yaitu ???????, ????????, dan ????????.