cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, NTB
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran
ISSN : 27770583     EISSN : 27770575     DOI : https://doi.org/10.51878/learning.v1i2.376
Core Subject : Education,
LEARNING : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran diterbitkan 4 kali setahun (Februari, Mei, Agustus, dan November) oleh Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I) yang berada dibawah naungan Yayasan Insan Cendekia Indonesia Raya dan berafiliasi dengan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Hamzanwadi, MKKS SMP Negeri Kab. Lombok Timur dan Ikatan Guru Indonesia Kab. Tulang Bawang. Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pendidikan dan pembelajaran.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 136 Documents
Search results for , issue "vol. 6 no. 3 (2026)" : 136 Documents clear
NILAI-NILAI MORAL DALAM CERITA FILM “TIGA NAFAS LIKAS” KARYA NASIR JANI DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN SASTRA Novita Tarigan; Viktory N.J Rotty; Ruth C. Paath
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.10562

Abstract

The limited integration of moral value analysis in films with its application in literature learning highlights a significant research gap. Previous studies tend to focus on identifying moral values without linking them to pedagogical contexts. Therefore, this study aims to identify and analyze moral values in the film Tiga Nafas Likas and examine their implications for literature learning. This study employed a qualitative descriptive approach using content analysis. Data were collected from film scenes and dialogues, which were coded based on moral value categories. The analysis involved data reduction, coding, interpretation, and contextual meaning construction. The findings reveal eight categories of moral values, with loyalty and sacrifice, as well as family values, emerging as the most dominant. These values are conveyed not only narratively but also through characters’ actions with social consequences. The results indicate that film has strong potential as a medium for literature learning, enhancing moral understanding, emotional engagement, and character development. Thus, integrating film into literature learning can serve as an effective pedagogical strategy to foster students’ contextual and reflective moral literacy. ABSTRAK Keterbatasan kajian yang mengintegrasikan analisis nilai moral dalam film dengan implikasinya terhadap pembelajaran sastra menunjukkan adanya celah penelitian yang perlu diisi. Selama ini, analisis film cenderung berhenti pada identifikasi nilai tanpa mengaitkannya secara kontekstual dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis nilai-nilai moral dalam film Tiga Nafas Likas serta mengkaji implikasinya dalam pembelajaran sastra. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif melalui teknik content analysis. Data diperoleh dari adegan dan dialog film yang dikodekan berdasarkan kategori nilai moral. Analisis dilakukan melalui tahap reduksi data, pengkodean, interpretasi, dan penarikan makna secara kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat delapan kategori nilai moral, dengan dominasi pada nilai kesetiaan dan pengorbanan serta kekeluargaan. Nilai-nilai tersebut tidak hanya disampaikan secara naratif, tetapi juga diwujudkan melalui tindakan tokoh yang memiliki konsekuensi sosial. Temuan ini menegaskan bahwa film memiliki potensi sebagai media pembelajaran sastra yang mampu mengembangkan pemahaman nilai, keterlibatan emosional, dan pembentukan karakter siswa. Dengan demikian, integrasi film dalam pembelajaran sastra dapat menjadi strategi pedagogis yang efektif untuk menguatkan literasi moral peserta didik secara kontekstual dan reflektif.
PENINGKATAN KEMAMPUAN BAHASA MADURA MELALUI METODE BERNYANYI LAGU MADURA PADA ANAK USIA 5–6 TAHUN DI TK BAROKATUL ULUM Siti Aisyah Tarido; Ratnasari Dwi Ade Chandra; Rizki Sevi Triana
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.10591

Abstract

The present study was motivated by the phenomenon of declining regional language proficiency among younger generations. Preliminary data collected at TK Barokatul Ulum revealed that 85% of Group B students were unable to use Madurese vocabulary productively during learning activities. This study aimed to examine the effectiveness of a singing method utilizing Ronjengan, a culturally based local song, as a strategy to enhance the language competence of children aged 5–6 years while simultaneously contributing to the preservation of local cultural heritage. Methodologically, the research employed the Classroom Action Research framework developed by Kemmis and McTaggart, consisting of two cycles that included the stages of planning, action, observation, and reflection. The participants comprised 18 children from Group B. Data were collected through methodological triangulation involving observation, interviews, and documentation, and were analyzed using a descriptive qualitative approach. The intervention demonstrated a substantial improvement trajectory throughout the research process. Learning mastery at the pre-cycle stage was only 15%, increasing to 50% after Cycle I and reaching 77.8% by the end of Cycle II, thereby exceeding the predetermined success criterion of 75%. These findings confirm that the implementation of Madurese songs as a learning medium is effective in improving children's mastery of the regional language while simultaneously fostering the internalization of local wisdom values from an early stage of development. ABSTRAK Fenomena memudarnya kompetensi berbahasa daerah pada generasi muda melatarbelakangi kajian ini, di mana data awal di TK Barokatul Ulum menunjukkan 85% peserta didik kelompok B belum mampu menggunakan kosakata Bahasa Madura secara produktif dalam pembelajaran. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi efektivitas metode bernyanyi berbasis lagu bermuatan budaya lokal Ronjengan sebagai strategi peningkatan kompetensi kebahasaan anak usia 5–6 tahun sekaligus upaya pelestarian kearifan lokal. Secara metodologis, penelitian mengadopsi kerangka Penelitian Tindakan Kelas model Kemmis dan McTaggart yang terdiri atas dua siklus dengan tahapan perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Partisipan penelitian melibatkan 18 anak kelompok B, sementara pengumpulan data dilakukan melalui triangulasi teknik berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi yang dianalisis secara deskriptif kualitatif. Trajektori peningkatan yang signifikan teridentifikasi sepanjang proses intervensi. Ketuntasan belajar pada fase pra-siklus hanya mencapai 15%, meningkat menjadi 50% pasca-Siklus I, dan mencapai 77,8% pada akhir Siklus II melampaui indikator keberhasilan 75%. Hasil ini mengonfirmasi bahwa penerapan lagu Madura sebagai medium pembelajaran terbukti efektif dalam meningkatkan penguasaan bahasa daerah sekaligus menginternalisasikan nilai-nilai kearifan lokal sejak tahap perkembangan awal anak.
PERAN PENDIDIKAN KARAKTER DALAM MENGATASI PERUNDUNGAN DI SEKOLAH Miftahul Mujahidin; Reynar Andaru Ahnaf; Zaki Amrullah Zain; Ismail Ismail; Alfiansyah Habib Arrokhim
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.10666

Abstract

ABSTRACT Bullying in school environments has evolved into a multifaceted issue that reflects the growing complexity of student social interactions, particularly alongside rapid digital technology development. It is no longer limited to physical or verbal aggression, but also extends to social exclusion and cyberbullying that occurs through online platforms. Existing responses that rely heavily on punitive measures tend to address surface-level behavior without fully resolving the underlying causes. In response to this limitation, a literature-based inquiry was conducted to reinterpret the role of character education as a preventive framework grounded in value formation. The study draws upon 15 relevant scholarly sources, which were examined comparatively to identify recurring patterns related to forms of bullying, its impacts, and preventive efforts in school contexts. The synthesis of findings indicates that bullying generates consequences that extend beyond victims, affecting perpetrators and bystanders as well, while also shaping the overall school climate. Rather than being an isolated behavioral issue, it emerges as a social phenomenon embedded within the school ecosystem. Strengthening character values such as empathy, responsibility, discipline, respect, and honesty is consistently highlighted as a strategic pathway for prevention. These values are reinforced through classroom learning, school culture, family involvement, and continuous digital literacy development. Overall, the findings emphasize that effective prevention requires a holistic and integrated approach across educational environments rather than fragmented or incidental interventions. ABSTRAK Fenomena perundungan di lingkungan sekolah terus menunjukkan kompleksitas yang tidak sederhana, terutama ketika interaksi sosial peserta didik berkembang seiring penetrasi teknologi digital. Ragam bentuknya tidak lagi terbatas pada kekerasan fisik dan verbal, tetapi juga meluas ke ranah sosial serta cyberbullying yang berlangsung melalui media daring. Dalam berbagai kajian, pendekatan yang menitikberatkan pada hukuman belum sepenuhnya mampu menyentuh akar persoalan perilaku tersebut. Berangkat dari kondisi ini, telaah literatur dilakukan untuk membaca ulang peran pendidikan karakter sebagai strategi pencegahan yang lebih berorientasi pada pembentukan nilai. Kajian ini memanfaatkan 15 sumber relevan yang dianalisis secara komparatif untuk melihat pola temuan terkait bentuk, dampak, dan upaya penanganan perundungan di sekolah. Hasil sintesis menunjukkan bahwa perundungan memberikan konsekuensi tidak hanya bagi korban, tetapi juga pelaku dan saksi, serta berimplikasi pada iklim sosial sekolah secara keseluruhan. Penguatan nilai empati, tanggung jawab, disiplin, hormat, dan kejujuran melalui pembelajaran, budaya sekolah, keterlibatan keluarga, serta literasi digital dipandang berperan penting dalam membangun ekosistem sekolah yang lebih protektif terhadap perilaku perundungan. Temuan ini menegaskan bahwa pencegahan perundungan menuntut pendekatan holistik yang terintegrasi dalam seluruh ekosistem pendidikan, bukan sekadar intervensi insidental di sekolah.
PENINGKATAN KEMAMPUAN KOSAKATA BAHASA INGGRIS ANAK USIA 4-5 TAHUN MELALUI MEDIA POMPOM DI RA AL-FALAH KECAMATAN JENGGAWAH TAHUN AJARAN 2025/2026 Alin Jana Haika; Ianatuz Zahro; Mukhtar Zaini Dahlan
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.10715

Abstract

This study was motivated by the low level of English vocabulary mastery among early childhood learners at RA Al Falah Pondok Lalang, particularly in their ability to remember and pronounce basic vocabulary such as color names. The limited variety of learning media used in the classroom was assumed to be a major factor contributing to the lack of stimulation received by the children, which consequently affected the slow development of their vocabulary skills. To address this issue, pom-pom media was introduced as an alternative learning tool considered appropriate for early childhood learners. Its bright colors and multisensory characteristics were believed to increase children’s learning enthusiasm while also facilitating vocabulary comprehension. The purpose of this study was to improve the English vocabulary mastery of children aged 4–5 years through the implementation of pom-pom media in classroom learning activities. The research employed Classroom Action Research (CAR) using the Kemmis and McTaggart model, which consists of four stages: planning, action implementation, observation, and reflection. Data were collected through direct observation, assessment sheets, and documentation of learning activities. The findings revealed a significant improvement in children’s English vocabulary mastery, as indicated by the increase in achievement percentage from 48.9% in the pre-cycle stage to 88.6% at the end of Cycle I. These results indicate that pom-pom media is effective in enhancing English vocabulary acquisition among early childhood learners. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya penguasaan kosakata bahasa Inggris pada anak usia dini di RA Al Falah Pondok Lalang, khususnya dalam kemampuan mengingat dan melafalkan kosakata dasar seperti nama-nama warna. Keterbatasan variasi media pembelajaran yang digunakan di kelas diduga menjadi faktor utama yang menyebabkan stimulasi yang diterima anak kurang beragam, sehingga berdampak pada lambatnya perkembangan kosakata mereka. Guna mengatasi persoalan tersebut, media pom-pom diperkenalkan sebagai alternatif pembelajaran yang dianggap sesuai dengan kebutuhan anak usia dini, mengingat karakteristiknya yang berwarna cerah dan bersifat multisensori dinilai mampu membangkitkan antusiasme belajar sekaligus mempermudah pemahaman kosakata. Penelitian ini bertujuan meningkatkan penguasaan kosakata bahasa Inggris anak kelompok usia 4–5 tahun melalui penerapan media pom-pom dalam kegiatan pembelajaran. Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model Kemmis dan McTaggart, yang terdiri atas empat tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, lembar penilaian, dan dokumentasi kegiatan pembelajaran. Hasil penelitian memperlihatkan peningkatan yang signifikan, ditandai dengan naiknya persentase ketercapaian dari 48,9% pada tahap pra-siklus menjadi 88,6% pada akhir Siklus I. Temuan ini mengindikasikan bahwa media pom-pom efektif digunakan sebagai sarana peningkatan kosakata bahasa Inggris pada anak usia dini.
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING BERBANTUAN CARD MATCH CIRCLE TERHADAP KEAKTIFAN BELAJAR PESERTA DIDIK PADA MATA PELEJARAN FIQIH DI MTS DARUL HUDA BANDAR LAMPUNG Asmaul Husna; Umi Hijriyah; Devi Sela Eka Selvia
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.10864

Abstract

This study aims to examine the effectiveness of implementing the Discovery Learning model integrated with the Card Match Circle media in improving students’ learning activeness in Fiqh at MTs Darul Huda Bandar Lampung. The research was motivated by the low level of student participation, characterized by limited interaction with learning materials, the dominance of conventional teaching methods, and low learning motivation. The study employed a quasi-experimental method with a post-test only control group design, involving an experimental class that received Discovery Learning assisted by Card Match Circle and a control class that continued using conventional methods. The research instrument was a learning activeness questionnaire that had passed validity and reliability testing with a reliability coefficient of 0.876, while data were analyzed using normality, homogeneity, and t-tests. The results revealed a significant difference between the two classes, where the experimental class achieved a higher mean score of learning activeness (73.96) compared to the control class (64.73) with a significance value of 0.006 (<0.05). These findings indicate that the integration of Discovery Learning and Card Match Circle effectively enhances students’ participation in discussions, questioning, responding, and collaboration, while highlighting the novelty of combining a discovery-based strategy with interactive game-based media in Fiqh learning at the MTs level. Therefore, this model has the potential to serve as an innovative and contextual alternative to improve the quality of Islamic education learning. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengkaji efektivitas penerapan model pembelajaran Discovery Learning yang dipadukan dengan media Card Match Circle dalam meningkatkan keaktifan belajar peserta didik pada mata pelajaran Fiqih di MTs Darul Huda Bandar Lampung. Studi ini dilatarbelakangi oleh rendahnya partisipasi peserta didik yang terlihat dari minimnya interaksi dengan materi, dominasi pembelajaran konvensional, serta kurangnya motivasi belajar. Penelitian menggunakan metode quasi experimental dengan desain post-test only control group, melibatkan kelas eksperimen yang mendapatkan pembelajaran Discovery Learning berbantuan Card Match Circle dan kelas kontrol yang tetap menggunakan metode konvensional. Instrumen yang digunakan berupa angket keaktifan belajar yang telah lolos uji validitas dan reliabilitas dengan koefisien reliabilitas 0,876, sedangkan analisis data dilakukan melalui uji normalitas, homogenitas, dan uji t. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kedua kelas, di mana rata-rata keaktifan belajar kelas eksperimen (73,96) lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol (64,73) dengan nilai signifikansi 0,006 (<0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi Discovery Learning dan Card Match Circle efektif meningkatkan partisipasi peserta didik dalam diskusi, bertanya, menjawab, serta kerja sama, sekaligus menegaskan kebaruan penelitian melalui penggabungan strategi penemuan dengan media permainan interaktif pada pembelajaran Fiqih tingkat MTs, sehingga model ini berpotensi menjadi alternatif inovatif dan kontekstual untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam.    
OPTIMALISASI PENYUSUNAN SILABUS DAN RPP BERBASIS SUPERVISI AKADEMIK UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN Devika Septiani; Anisah Anisah; Helita Septaria; Ocha Anggraini; Mania Emilia
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.10993

Abstract

ABSTRACT The development of syllabi and Lesson Plan (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran / RPP) constitutes an essential component in supporting effective learning processes and achieving students’ competencies. However, instructional planning practices in schools continue to encounter various challenges, particularly those related to teachers’ pedagogical competence, the implementation of the Merdeka Curriculum, and the limited effectiveness of academic supervision. This study aims to analyze the optimization of syllabus and RPP development based on academic supervision in improving learning quality. The research employed a qualitative approach using a systematic literature review of 28 scientific articles obtained from Google Scholar, Garuda, and SINTA databases published between 2022 and 2026. Data analysis was conducted through identification, selection, categorization, and synthesis stages to identify patterns, trends, and strategies for improving instructional planning. The findings indicate that the quality of syllabi and RPP is strongly influenced by teachers’ ability to formulate learning objectives, strategies, and evaluation systems in an integrated manner. Academic supervision based on coaching and mentoring was found to be more effective in enhancing teachers’ professional competence compared to conventional one-way administrative supervision. In addition, the utilization of artificial intelligence and educational technology provides opportunities to create more adaptive, creative, and contextual learning practices. This study emphasizes that improving the quality of instructional planning requires strengthening teachers’ competencies, collaborative academic supervision, and sustainable integration of educational technology. ABSTRAK Penyusunan silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan bagian penting dalam mendukung efektivitas pembelajaran dan pencapaian kompetensi peserta didik. Namun, praktik perencanaan pembelajaran di sekolah masih menghadapi berbagai kendala, terutama berkaitan dengan kompetensi pedagogik guru, implementasi Kurikulum Merdeka, dan belum optimalnya supervisi akademik. Penelitian ini bertujuan menganalisis optimalisasi penyusunan silabus dan RPP berbasis supervisi akademik dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis systematic literature review terhadap 28 artikel ilmiah yang diperoleh melalui database Google Scholar, Garuda, dan SINTA pada rentang tahun 2022–2026. Proses analisis dilakukan melalui tahap identifikasi, seleksi, kategorisasi, dan sintesis temuan penelitian untuk menemukan pola, kecenderungan, serta strategi pengembangan perangkat pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas silabus dan RPP dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam merancang tujuan, strategi, dan evaluasi pembelajaran secara terpadu. Supervisi akademik berbasis coaching dan mentoring terbukti lebih efektif dalam mendukung pengembangan kompetensi guru dibandingkan supervisi administratif yang bersifat satu arah. Selain itu, pemanfaatan artificial intelligence dan teknologi pembelajaran memberikan peluang pengembangan pembelajaran yang lebih adaptif, kreatif, dan kontekstual. Penelitian ini menegaskan bahwa peningkatan kualitas perangkat pembelajaran memerlukan penguatan kompetensi guru, supervisi kolaboratif, dan integrasi teknologi pendidikan secara berkelanjutan.
PENERAPAN METODE EKSPERIMENTAL LEARNING PADA MATA KULIAH KONSERVASI TRADISIONAL Tambak Sihno Purwanto
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.11054

Abstract

ABSTRACT Low student engagement in learning is caused by the predominance of lecture-based teaching methods in the Art Conservation Study Program. This study addresses the following research question: how is the experiential method implemented in classroom activities, specifically in the case study of the Traditional Conservation Methods course in the Art Conservation Study Program, Faculty of Fine Arts and Design, Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta? The study aims to analyze the implementation of the Experiential Learning approach in the Traditional Conservation Methods course at the Art Conservation Study Program, Faculty of Fine Arts and Design, Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta. The research employed a Classroom Action Research design based on the Kurt Lewin model. The research subjects were students enrolled in the Traditional Conservation Methods class of the Art Conservation Study Program, Faculty of Fine Arts and Design, Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta. The findings revealed that the implementation of experiential learning methods increased students’ interest in learning traditional conservation. Students were able to understand theoretical concepts through direct interaction with the phenomena being studied. In addition, students were capable of documenting traditional conservation practices within communities and presenting them again in an academic context. The research findings demonstrate that integrating experience with theory can bridge the gap between traditional practices and scientific approaches. Therefore, the experiential learning method has strong potential to be further developed as an effective learning method in art conservation education.   ABSTRAK Rendahnya keterlibatan mahasiswa dalam pembelajaran karena kebanyakan metode pembelajaran di Prodi Konservasi Seni menggunakan metode ceramah. Pertanyaan dalam penelitian ini adalah, bagaimana metode eksperimental diterapkan pada kegiatan perkuliahan: studi kasus kuliah metode konservasi tradisional Program Studi Konservasi Seni Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Tujuannya menganalisis penerapan pendekatan Experiential Learning pada mata kuliah Metode Konservasi Tradisional Program Studi Konservasi Seni FSRD ISI Yogyakarta. Penelitian menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas model Kurt Lewin. Subjek penelitian adalah mahasiswa kelas metode konservasi tradisional Prodi Konservasi Seni FSRD ISI Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode eksperimental learning meningkatkan minat mahasiswa dalam pembelajaran konservasi tradisional. Mahasiswa mampu memahami teori berkat pengalaman berinteraksi langsung dengan fenomena yang dipelajari. Mahasiswa mampu mendokumentasikan praktik konservasi tradisional di masyarakat dan mempresentasikan kembali secara akademis. Temuan penelitian memperlihatkan integrasi pengalaman dengan teori dapat menjembatani kesenjangan antara praktik tradisional dan pendekatan ilmiah. Dengan demikian, metode eksperimental learning berpotensi untuk dikembangkan sebagai metode pembelajaran konservasi seni.
PENERAPAN METODE BERCERITA BERBANTUAN MEDIA GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA SISWA KELAS II SDN Nunung Nahdiati; Helmi Helmi; Akmaluddin Akmaluddin
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.11125

Abstract

This study was motivated by the low speaking skills of second-grade students at SDN 32 Cakranegara, as indicated by students’ lack of confidence, difficulty in expressing ideas coherently, and the limited use of innovative teaching methods and learning media. The focus of this study is how the implementation of storytelling methods assisted by picture media can improve students’ speaking skills. This study aims to enhance students' speaking abilities through more engaging and interactive learning methods. The research employed Classroom Action Research (CAR) using the Kemmis and McTaggart model, which consists of planning, action, observation, and reflection stages, conducted in two cycles. The subjects of this study were 28 second-grade students of SDN 32 Cakranegara. Data were collected through observation, tests, and documentation. The results showed a significant improvement in students’ speaking skills in each cycle. In the first cycle, students achieved a moderate level with a percentage of 67%, which increased to 89% in the second cycle, categorized as good. In addition, students’ participation and confidence in speaking activities also improved. Therefore, it can be concluded that the storytelling method assisted by picture media is effective in improving elementary school students’ speaking skills. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya keterampilan berbicara siswa kelas II SDN 32 Cakranegara yang ditunjukkan dari rendahnya kepercayaan diri, ketidakmampuan menyampaikan ide secara runtut, serta minimnya penggunaan metode dan media pembelajaran yang inovatif. Fokus penelitian ini adalah bagaimana penerapan metode bercerita berbantuan media gambar dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan berbicara melalui penggunaan metode yang lebih menarik dan interaktif. Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model Kemmis dan McTaggart yang meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi yang dilaksanakan dalam dua siklus. Subjek penelitian adalah 28 siswa kelas II SDN 32 Cakranegara. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, tes, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan keterampilan berbicara siswa pada setiap siklus, dimana pada siklus I mencapai kategori cukup dengan persentase 67% dan meningkat pada siklus II menjadi 89% dengan kategori baik. Selain itu, aktivitas dan kepercayaan diri siswa dalam berbicara juga mengalami peningkatan. Dengan demikian, dapat isimpulkan bahwa penerapan metode bercerita berbantuan media gambar efektif dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa sekolah dasar.    
IMPLEMENTASI DEEP LEARNING DALAM PERENCANAAN PEMBELAJARAN MASA DEPAN Putri Maharani; Lailatul Afifah; Rianti Sara Nabilla; Siska Ayu Wandika; Merlin Alissya
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.11155

Abstract

ABSTRACT The transformation of education in the digital era requires learning processes that extend beyond the mere acquisition of information and emphasize learners’ ability to construct understanding, interpret experiences, and respond critically to various real-world challenges. Within this context, deep learning is regarded as an approach capable of enhancing the quality of learning experiences through active student engagement, meaningful learning, and the connection between knowledge and authentic life situations. This article examines the implementation of deep learning in future-oriented instructional planning while identifying its benefits and implementation challenges. The study employed a library research method with a qualitative descriptive approach, analyzing 30 key references selected from 65 scholarly sources through stages of identification, selection, classification, and content analysis. The synthesis of the literature indicates that the implementation of deep learning contributes to the development of critical thinking, creativity, communication, collaboration, and increased student engagement in the learning process. The most frequently applied strategies include Problem-Based Learning (PBL), Project-Based Learning (PjBL), collaborative learning, and the integration of digital technology. The findings reveal that the success of deep learning does not depend on a single component; rather, it emerges from the interconnectedness of teacher competence, technological support, curriculum flexibility, and instructional design quality. Instructional planning serves as an integrative framework that brings these elements together, enabling deep learning to function as a strategic foundation for developing education that is more adaptive, contextual, and responsive to future learning needs. ABSTRAK Perubahan lanskap pendidikan pada era digital menuntut pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada penguasaan informasi, tetapi juga pada kemampuan peserta didik membangun pemahaman, menafsirkan pengalaman, dan merespons persoalan secara kritis dalam berbagai konteks. Dalam situasi tersebut, deep learning dipandang sebagai pendekatan yang mampu memperkuat kualitas pengalaman belajar melalui keterlibatan aktif peserta didik, pembelajaran yang bermakna, serta keterhubungan antara pengetahuan dan kehidupan nyata. Artikel ini mengkaji implementasi deep learning dalam perencanaan pembelajaran masa depan sekaligus mengidentifikasi manfaat dan tantangan penerapannya. Kajian dilakukan menggunakan metode library research dengan pendekatan deskriptif kualitatif terhadap 30 rujukan utama yang diseleksi dari 65 sumber ilmiah melalui proses identifikasi, seleksi, klasifikasi, dan analisis isi. Hasil sintesis menunjukkan bahwa implementasi deep learning berkontribusi terhadap penguatan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, serta peningkatan keterlibatan peserta didik dalam proses belajar. Strategi yang paling banyak digunakan meliputi Problem-Based Learning (PBL), Project-Based Learning (PjBL), pembelajaran kolaboratif, dan integrasi teknologi digital. Temuan kajian menegaskan bahwa keberhasilan pembelajaran mendalam tidak bertumpu pada satu komponen tertentu, melainkan pada keterhubungan antara kompetensi guru, dukungan teknologi, fleksibilitas kurikulum, dan kualitas desain pembelajaran. Perencanaan pembelajaran berperan sebagai titik integrasi yang menyatukan berbagai elemen tersebut sehingga deep learning dapat menjadi landasan strategis bagi pengembangan pendidikan yang lebih adaptif, kontekstual, dan berorientasi pada kebutuhan masa depan.
PENGUATAN KARAKTER MELALUI INTEGRASI NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL SUKU TENGGER DALAM PEMBELAJARAN PAI PADA MATERI AKHLAK TERPUJI DI SDN Lutfi Ayu Karisma; Ahmad Marzuki; Achmad Yusuf; Achmat Mubarok
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.11171

Abstract

The imperative of nurturing student morality through contextual instructional strategies rooted in regional heritage serves as the primary catalyst for this inquiry. This investigation is designed to delineate the methodology of character fortitude by assimilating the cultural ethos of the Tengger Tribe into Islamic Religious Education (IRE), specifically within the thematic domain of commendable virtues at SDN Tosari II. The research architecture encompasses the structural alignment of indigenous tenets, the operational dynamics of classroom instruction, alongside the structural catalysts and impediments encountered during execution. A qualitative methodology leveraging a case study design was deployed for this academic inquiry. Empirical data were systematically aggregated utilizing direct observation, in-depth interviews, and archival documentation. The analytical pipeline advanced through data reduction, conceptual presentation, and the synthesis of final deductions. The diagnostic insights demonstrate that the core principles of the Tengger community, comprising communal synergy, religious moderation, individual accountability, and ecological mindfulness, have been successfully woven into the IRE curriculum. This pedagogical integration is actualized through collaborative dialogues, routine habituation, role modeling, and real-world case analyses. Ultimately, the synthesis of indigenous heritage and religious instruction effectively fortifies student character while deepening their cognitive grip on practicing commendable ethics within their daily social spectrum. ABSTRAK Urgensi penanaman moralitas siswa berbasis pembelajaran kontekstual yang berakar pada kebudayaan daerah setempat menjadi stimulus utama dilaksanakannya riset ini. Penelitian ini diproyeksikan untuk menguraikan program pengokohan karakter anak didik lewat asimilasi nilai-nilai tradisi lokal Suku Tengger ke dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), khususnya pada pokok bahasan akhlak mulia di SDN Tosari II. Ruang lingkup investigasi ini mencakup formulasi penyerapan nilai lokal, dinamika operasional proses instruksional di kelas, serta identifikasi elemen akselerator dan hambatan dalam aplikasinya. Pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus diadopsi sebagai pisau analisis dalam penelitian ini. Instrumen penjaringan data dihimpun secara komprehensif melalui teknik pengamatan lapangan, tanya jawab mendalam, serta penelaahan dokumen resmi. Pengolahan data dilakukan secara sitematis lewat fase reduksi, kategorisasi data, hingga penarikan konklusi akhir. Temuan riset mengonfirmasi bahwa pilar filosofis masyarakat Tengger yang meliputi semangat bersinergi (gotong royong), moderasi beragama (toleransi), komitmen diri (tanggung jawab), serta kesadaran ekologis telah melebur dalam kurikulum PAI. Strategi internalisasi ini diwujudkan melalui skema kerja kelompok, habituasi positif, pemberian contoh perilaku (modeling), dan pembedahan kasus riil. Hasil akhir membuktikan bahwa kombinasi budaya dan agama ini sukses mematangkan budi pekerti siswa sekaligus mempertajam penalaran mereka terhadap implementasi akhlak terpuji dalam rutinitas keseharian.

Page 1 of 14 | Total Record : 136