cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 4 (2025)" : 16 Documents clear
KEKUATAN KEPEDULIAN: DARI TINDAKAN ALTRUISTIK MENUJU PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA RELAWAN DEWASA AWAL Felicia Lie, Audrey; Hastuti, Rahmah
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.8320

Abstract

This study aimed to examine the relationship between altruism and psychological well-being (PWB) among early adult volunteers. Altruism refers to the tendency to help others voluntarily, while PWB includes six core dimensions: self-acceptance, positive relations, autonomy, environmental mastery, purpose in life, and personal growth. A total of 138 volunteers aged 20–40 years from Community X were selected using purposive sampling. Data were collected using the Self-Report Altruism Scale and the Indonesian-adapted version of the Ryff Psychological Well-Being Scale. Spearman's rho correlation was used due to non-normal data distribution. The results showed that most participants had moderate to high levels of altruism and PWB. However, altruism was not significantly associated with overall PWB (r = 0.041; p = 0.635), except for the autonomy dimension, which showed a significant positive correlation (r = 0.192; p = 0.024). These findings suggest that altruistic behavior does not necessarily enhance general psychological well-being but does contribute to a sense of independence in decision-making. This study expands the understanding of the dynamics between volunteering and well-being within a collectivist cultural context. Future research is recommended to explore potential mediators such as empathy and prosocial motivation, as well as to broaden the scope and sectors of volunteer activities. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara altruisme dan psychological well-being (PWB) pada volunteer dewasa awal. Altruisme adalah kecenderungan membantu secara sukarela, sedangkan PWB mencakup enam aspek utama: penerimaan diri, relasi positif, autonomy, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi. Sebanyak 138 volunteer berusia 20–40 tahun dari Komunitas X dipilih menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui Self-Report Altruism Scale dan Ryff Psychological Well-Being Scale versi Indonesia. Analisis Spearman's rho digunakan karena data tidak berdistribusi normal. Hasil menunjukkan sebagian besar partisipan memiliki tingkat altruisme dan PWB sedang hingga tinggi. Namun, altruisme tidak berhubungan signifikan dengan PWB secara keseluruhan (r = 0,041; p = 0,635), kecuali pada dimensi autonomy yang menunjukkan hubungan positif signifikan (r = 0,192; p = 0,024). Temuan ini mengindikasikan bahwa perilaku altruistik tidak serta merta meningkatkan kesejahteraan psikologis secara umum, tetapi berkontribusi pada aspek kemandirian dalam pengambilan keputusan. Studi ini memperluas pemahaman mengenai dinamika volunteering dan kesejahteraan dalam konteks budaya kolektivis. Penelitian lanjutan disarankan untuk mengeksplorasi peran mediator seperti empati, motivasi prososial, serta memperluas konteks dan sektor kegiatan kerelawanan.
HUBUNGAN BODY IMAGE DENGAN SELF-PRESENTATION PADA DEWASA AWAL PENGGUNA INSTAGRAM Simon, Sevilla; Agustina, Agustina
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.8321

Abstract

Instagram, as a visual-based social media platform, encourages users to present themselves attractively, often influenced by their perception of body image. This study aims to examine the relationship between body image and self-presentation among young adult Instagram users. A total of 263 participants aged 18–25 were selected through purposive sampling. The instruments used were the Multidimensional Body-Self Relations Questionnaire (MBSRQ) to measure body image and the Presentation of Online Self Scale (POSS) to measure self-presentation. Data analysis using Spearman's correlation revealed a significant negative relationship between body image and self-presentation (? = –0.371, p < 0.001). This indicates that individuals with a more positive body image tend to engage less in intense and inauthentic self-presentation on social media. These findings suggest that a positive body perception plays an important role in shaping a more authentic digital self. The study highlights the importance of promoting healthy body image education to support more mindful and balanced use of social media among young adults. ABSTRAK Instagram sebagai media sosial visual mendorong penggunanya untuk menampilkan diri secara menarik, sering kali dipengaruhi oleh persepsi terhadap tubuh atau body image. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara body image dan self-presentation pada dewasa awal pengguna Instagram. Sebanyak 263 partisipan berusia 18–25 tahun dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah Multidimensional Body-Self Relations Questionnaire (MBSRQ) untuk mengukur body image dan Presentation of Online Self Scale (POSS) untuk mengukur self-presentation. Analisis data menggunakan korelasi Spearman menunjukkan hubungan negatif yang signifikan antara body image dan self-presentation (? = –0.371, p < 0.001). Artinya, semakin positif body image individu, semakin rendah kecenderungan mereka menampilkan diri secara intens dan tidak autentik di media sosial. Temuan ini menunjukkan bahwa persepsi positif terhadap tubuh berperan dalam membentuk representasi diri yang lebih autentik. Implikasi penelitian ini menggarisbawahi pentingnya edukasi terkait body image sehat untuk mendorong penggunaan media sosial yang lebih sadar dan seimbang.
PENGARUH KECEMASAN SOSIAL TERHADAP IMPOSTOR SYNDROME PADA REMAJA AKHIR Adithio, Matthew Joe; Agustina, Agustina
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.8476

Abstract

ABSTRACT Social anxiety and impostor syndrome are significant psychological challenges in late adolescence, especially among high school students, where academic demands, social pressures, and the dynamics of identity formation can trigger feelings of inadequacy and fear of failure. The gap between objective achievements and self-evaluation due to impostor syndrome is the main focus of this study, which aims to examine the significance of the role and contribution of social anxiety in predicting impostor syndrome. This study uses a correlational quantitative research design involving 231 high school students categorized as late adolescents, selected using purposive sampling. Data collection was conducted using the Social Anxiety Scale for Adolescents (SAS-A) and Clance Impostor Phenomenon Scale (CIPS) instruments, then analyzed using simple linear regression. The results of the analysis showed that the regression model was significant with an F (1,229) value of 145.00 and p < 0.001. The correlation coefficient (R) value of 0.623 indicated a strong relationship between the two variables in the model. The coefficient of determination (R²) value of 0.388 indicates that social anxiety contributes 38.8% to the variation in impostor syndrome in late adolescents, while the rest is influenced by other factors. In conclusion, the higher the level of social anxiety experienced, the more vulnerable late adolescents are to experiencing impostor syndrome. ABSTRAK Kecemasan sosial dan impostor syndrome merupakan tantangan psikologis yang signifikan di fase remaja akhir, terutama siswa Sekolah Menengah Atas, di mana tuntutan akademik, tekanan dari lingkungan sosial, dan dinamika pembentukan identitas diri dapat memicu perasaan tidak layak serta ketakutan akan kegagalan. Kesenjangan antara pencapaian objektif dan penilaian diri yang rendah akibat impostor syndrome inilah yang menjadi fokus utama penelitian, sehingga studi ini bertujuan untuk menguji signifikansi peran dan besarnya kontribusi Kecemasan sosial dalam memprediksi impostor syndrome. Studi ini menggunakan desain penelitian kuantitatif korelasional dengan melibatkan 231 siswa SMA yang dikategorikan sebagai remaja akhir, dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui instrumen Social Anxiety Scale for Adolescents (SAS-A) dan Clance Impostor Phenomenon Scale (CIPS), kemudian dianalisis menggunakan regresi linear sederhana. Hasil analisis menunjukkan bahwa model regresi signifikan dengan nilai F(1,229) = 145.00 dan p < 0.001. Nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0.623 menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara kedua variabel dalam model. Secara definitif, nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0.388 mengindikasikan bahwa Kecemasan sosial memberikan kontribusi sebesar 38.8% terhadap variasi impostor syndrome pada remaja akhir, sementara sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. Simpulannya, semakin tinggi tingkat kecemasan sosial yang dialami, semakin rentan remaja akhir menunjukkan gejala impostor syndrome. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan pentingnya pengembangan intervensi preventif yang menargetkan pengelolaan kecemasan sosial di lingkungan sekolah untuk mendukung kesehatan mental dan kepercayaan diri remaja.
JENIS KELAMIN SEBAGAI MODERASI DALAM HUBUNGAN KECEMASAN SOSIAL DAN INAUTHENTIC SELF PRESENTATION PADA REMAJA PENGGUNA INSTAGRAM Oktavia Sutarman, Merryn; Agustina , Agustina
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.8520

Abstract

Instagram is frequently used by adolescents as a platform to present themselves and gain social recognition. Inauthentic self-presentation has become a common strategy to construct a positive self-image and avoid negative judgment. This study aims to examine the relationship between social anxiety and inauthentic self-presentation among adolescent Instagram users, as well as to investigate the moderating role of gender. A quantitative correlational method was employed with purposive sampling. The participants consisted of 200 adolescents (97 males and 103 females) who owned Instagram accounts and had uploaded personal content. The instruments used were the Social Anxiety Scale for Social Media Users (SAS-MU) and the Self-Presentation on Facebook Questionnaire (SPFBQ). The results of the correlation analysis indicated a significant positive relationship between social anxiety and inauthentic self-presentation (r = 0.353, p < 0.05). However, the moderation regression analysis revealed that gender did not moderate this relationship (B = 0.089, p = 0.199). In conclusion, higher levels of social anxiety are associated with greater tendencies toward inauthentic self-presentation among adolescents, regardless of gender. ABSTRAK Instagram kerap digunakan remaja sebagai sarana menampilkan diri untuk memperoleh pengakuan sosial. Strategi inauthentic self-presentation pun menjadi umum dalam membentuk citra diri positif dan menghindari penilaian negatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecemasan sosial dan inauthentic self-presentation pada remaja pengguna Instagram, serta menguji peran jenis kelamin sebagai variabel moderator. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional dengan teknik purposive sampling. Partisipan berjumlah 200 remaja (97 laki-laki dan 103 perempuan) yang memiliki akun Instagram dan pernah mengunggah konten tentang diri sendiri. Instrumen yang digunakan adalah Social Anxiety Scale for Social Media Users (SAS-MU) dan Self-Presentation on Facebook Questionnaire (SPFBQ). Hasil analisis korelasi menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara kecemasan sosial dan inauthentic self-presentation (r = 0.353, p < 0.05). Namun, hasil analisis regresi moderasi menunjukkan bahwa jenis kelamin tidak memoderasi hubungan tersebut (B = 0.089, p = 0.199). Kesimpulannya, semakin tinggi kecemasan sosial, semakin tinggi kecenderungan remaja menampilkan diri secara tidak autentik, tanpa perbedaan signifikan antara laki-laki dan perempuan.
HUBUNGAN ANTARA BODY IMAGE DAN PERILAKU KONSUMTIF BERBELANJA PRODUK MAKEUP PADA DEWASA MUDA Ayu Karimatu Zakiyah, Raden; Hendra Heng, Pamela; Christina Uranus, Hanna
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.8521

Abstract

Young adults are a group that is in an important stage of development and pays great attention to physical appearance as a form of self-identity and social acceptance. One way to improve physical appearance is through the use of makeup products. This phenomenon encourages consumptive behavior in the purchase of beauty products, which is driven not only by functional needs but also by psychological urges related to body image. Body image is a person's perception, attitude, and evaluation of their physical appearance, which can be positive or negative. This study aims to determine the relationship between body image and consumptive behavior in purchasing makeup products among young adults. The research method used was a quantitative correlational approach. There were 318 young adults aged 18-30 years who used makeup at least three times a week. Data collection was conducted using an online questionnaire based on the Multidimensional Body Self Relations Questionnaire – Appearance Scales (MBSRQ-AS) and a consumptive behavior scale. Data analysis was conducted using correlation tests to determine the relationship between the two variables. The results showed that there was a positive and significant relationship between body image and consumptive behavior in makeup shopping, indicating that the higher the body image score, the higher the tendency for consumptive behavior in purchasing makeup products. These findings indicate that psychological aspects related to body perception and assessment are associated with makeup consumption behavior among young adults. This study is expected to serve as a basis for evaluation in promoting wise consumption awareness and strengthening a healthy body image. ABSTRAK Dewasa muda merupakan kelompok yang berada pada fase perkembangan penting dan memiliki perhatian besar terhadap penampilan fisik sebagai bentuk pencapaian identitas diri serta penerimaan sosial. Salah satu upaya untuk meningkatkan penampilan fisik adalah melalui penggunaan produk makeup. Fenomena ini mendorong munculnya perilaku konsumtif dalam pembelian produk kecantikan, yang tidak hanya didorong oleh kebutuhan fungsional, tetapi juga oleh dorongan psikologis terkait body image. Body image merupakan persepsi, sikap, dan evaluasi seseorang terhadap penampilan tubuhnya, yang dapat bersifat positif maupun negatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara body image terhadap perilaku konsumtif berbelanja produk makeup pada dewasa muda. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan korelasional. Partisipan berjumlah 318 dewasa muda berusia 18-30 tahun yang menggunakan makeup minimal tiga kali dalam seminggu. Pengambilan data dilakukan menggunakan kuesioner online yang disusun berdasarkan skala Multidimensional Body Self Relations Questionnaire – Appearance Scales (MBSRQ-AS) dan skala perilaku konsumtif. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi untuk mengetahui hubungan antara kedua variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara body image dan perilaku konsumtif berbelanja makeup, yang menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai body image, maka semakin tinggi pula kecenderungan perilaku konsumtif dalam pembelian produk makeup. Temuan ini mengindikasikan bahwa aspek psikologis terkait persepsi dan penilaian terhadap tubuh berkaitan dengan perilaku konsumsi produk makeup pada dewasa muda. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi dalam meningkatkan kesadaran konsumsi yang bijak serta penguatan body image yang sehat.
HUBUNGAN RESILIENSI DENGAN KUALITAS PERSAHABATAN PADA EMERGING ADULTS DARI KELUARGA BERCERAI Elena Susanto, Jessica; Hastuti, Rahmah
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.8707

Abstract

This quantitative study employed a non-experimental correlational design to examine the relationship between resilience and friendship quality among emerging adults from divorced families. Data were collected through online questionnaires distributed to participants who met specific demographic criteria. As the data were not normally distributed, the Spearman correlation test was used for analysis. The results revealed a significant positive relationship between resilience and friendship quality (p = 0.002; r = 0.281). Higher levels of resilience were associated with better friendship quality, although the strength of the correlation was relatively low. These findings underscore the importance of resilience as a protective factor that enables individuals from divorced families to build and maintain healthy social relationships during early adulthood. This study contributes empirical evidence to the psychological understanding of resilience's positive role in navigating the challenges of developmental transition ABSTRAK Penelitian kuantitatif ini menggunakan pendekatan korelasional non-eksperimental untuk menguji hubungan antara resiliensi dan kualitas pertemanan pada individu emerging adulthood yang berasal dari keluarga bercerai. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring kepada partisipan yang memenuhi kriteria demografis tertentu. Karena data tidak berdistribusi normal, analisis dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara resiliensi dan kualitas pertemanan (p = 0.002; r = 0.281). Semakin tinggi tingkat resiliensi individu, semakin baik kualitas pertemanannya, meskipun kekuatan hubungan berada dalam kategori rendah. Temuan ini menegaskan pentingnya resiliensi sebagai faktor protektif yang memungkinkan individu dengan latar belakang keluarga bercerai membangun dan mempertahankan hubungan sosial yang sehat di masa dewasa awal. Studi ini memberikan kontribusi empiris terhadap pemahaman psikologis mengenai dampak positif resiliensi dalam konteks transisi perkembangan yang penuh tantangan.

Page 2 of 2 | Total Record : 16