cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 21 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 4 (2025)" : 21 Documents clear
KEKUATAN KEPEDULIAN: DARI TINDAKAN ALTRUISTIK MENUJU PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA RELAWAN DEWASA AWAL Felicia Lie, Audrey; Hastuti, Rahmah
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.8320

Abstract

This study aimed to examine the relationship between altruism and psychological well-being (PWB) among early adult volunteers. Altruism refers to the tendency to help others voluntarily, while PWB includes six core dimensions: self-acceptance, positive relations, autonomy, environmental mastery, purpose in life, and personal growth. A total of 138 volunteers aged 20–40 years from Community X were selected using purposive sampling. Data were collected using the Self-Report Altruism Scale and the Indonesian-adapted version of the Ryff Psychological Well-Being Scale. Spearman's rho correlation was used due to non-normal data distribution. The results showed that most participants had moderate to high levels of altruism and PWB. However, altruism was not significantly associated with overall PWB (r = 0.041; p = 0.635), except for the autonomy dimension, which showed a significant positive correlation (r = 0.192; p = 0.024). These findings suggest that altruistic behavior does not necessarily enhance general psychological well-being but does contribute to a sense of independence in decision-making. This study expands the understanding of the dynamics between volunteering and well-being within a collectivist cultural context. Future research is recommended to explore potential mediators such as empathy and prosocial motivation, as well as to broaden the scope and sectors of volunteer activities. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara altruisme dan psychological well-being (PWB) pada volunteer dewasa awal. Altruisme adalah kecenderungan membantu secara sukarela, sedangkan PWB mencakup enam aspek utama: penerimaan diri, relasi positif, autonomy, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi. Sebanyak 138 volunteer berusia 20–40 tahun dari Komunitas X dipilih menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui Self-Report Altruism Scale dan Ryff Psychological Well-Being Scale versi Indonesia. Analisis Spearman's rho digunakan karena data tidak berdistribusi normal. Hasil menunjukkan sebagian besar partisipan memiliki tingkat altruisme dan PWB sedang hingga tinggi. Namun, altruisme tidak berhubungan signifikan dengan PWB secara keseluruhan (r = 0,041; p = 0,635), kecuali pada dimensi autonomy yang menunjukkan hubungan positif signifikan (r = 0,192; p = 0,024). Temuan ini mengindikasikan bahwa perilaku altruistik tidak serta merta meningkatkan kesejahteraan psikologis secara umum, tetapi berkontribusi pada aspek kemandirian dalam pengambilan keputusan. Studi ini memperluas pemahaman mengenai dinamika volunteering dan kesejahteraan dalam konteks budaya kolektivis. Penelitian lanjutan disarankan untuk mengeksplorasi peran mediator seperti empati, motivasi prososial, serta memperluas konteks dan sektor kegiatan kerelawanan.
HUBUNGAN BODY IMAGE DENGAN SELF-PRESENTATION PADA DEWASA AWAL PENGGUNA INSTAGRAM Simon, Sevilla; Agustina, Agustina
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.8321

Abstract

Instagram, as a visual-based social media platform, encourages users to present themselves attractively, often influenced by their perception of body image. This study aims to examine the relationship between body image and self-presentation among young adult Instagram users. A total of 263 participants aged 18–25 were selected through purposive sampling. The instruments used were the Multidimensional Body-Self Relations Questionnaire (MBSRQ) to measure body image and the Presentation of Online Self Scale (POSS) to measure self-presentation. Data analysis using Spearman's correlation revealed a significant negative relationship between body image and self-presentation (? = –0.371, p < 0.001). This indicates that individuals with a more positive body image tend to engage less in intense and inauthentic self-presentation on social media. These findings suggest that a positive body perception plays an important role in shaping a more authentic digital self. The study highlights the importance of promoting healthy body image education to support more mindful and balanced use of social media among young adults. ABSTRAK Instagram sebagai media sosial visual mendorong penggunanya untuk menampilkan diri secara menarik, sering kali dipengaruhi oleh persepsi terhadap tubuh atau body image. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara body image dan self-presentation pada dewasa awal pengguna Instagram. Sebanyak 263 partisipan berusia 18–25 tahun dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah Multidimensional Body-Self Relations Questionnaire (MBSRQ) untuk mengukur body image dan Presentation of Online Self Scale (POSS) untuk mengukur self-presentation. Analisis data menggunakan korelasi Spearman menunjukkan hubungan negatif yang signifikan antara body image dan self-presentation (? = –0.371, p < 0.001). Artinya, semakin positif body image individu, semakin rendah kecenderungan mereka menampilkan diri secara intens dan tidak autentik di media sosial. Temuan ini menunjukkan bahwa persepsi positif terhadap tubuh berperan dalam membentuk representasi diri yang lebih autentik. Implikasi penelitian ini menggarisbawahi pentingnya edukasi terkait body image sehat untuk mendorong penggunaan media sosial yang lebih sadar dan seimbang.
PENGARUH KECEMASAN SOSIAL TERHADAP IMPOSTOR SYNDROME PADA REMAJA AKHIR Adithio, Matthew Joe; Agustina, Agustina
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.8476

Abstract

ABSTRACT Social anxiety and impostor syndrome are significant psychological challenges in late adolescence, especially among high school students, where academic demands, social pressures, and the dynamics of identity formation can trigger feelings of inadequacy and fear of failure. The gap between objective achievements and self-evaluation due to impostor syndrome is the main focus of this study, which aims to examine the significance of the role and contribution of social anxiety in predicting impostor syndrome. This study uses a correlational quantitative research design involving 231 high school students categorized as late adolescents, selected using purposive sampling. Data collection was conducted using the Social Anxiety Scale for Adolescents (SAS-A) and Clance Impostor Phenomenon Scale (CIPS) instruments, then analyzed using simple linear regression. The results of the analysis showed that the regression model was significant with an F (1,229) value of 145.00 and p < 0.001. The correlation coefficient (R) value of 0.623 indicated a strong relationship between the two variables in the model. The coefficient of determination (R²) value of 0.388 indicates that social anxiety contributes 38.8% to the variation in impostor syndrome in late adolescents, while the rest is influenced by other factors. In conclusion, the higher the level of social anxiety experienced, the more vulnerable late adolescents are to experiencing impostor syndrome. ABSTRAK Kecemasan sosial dan impostor syndrome merupakan tantangan psikologis yang signifikan di fase remaja akhir, terutama siswa Sekolah Menengah Atas, di mana tuntutan akademik, tekanan dari lingkungan sosial, dan dinamika pembentukan identitas diri dapat memicu perasaan tidak layak serta ketakutan akan kegagalan. Kesenjangan antara pencapaian objektif dan penilaian diri yang rendah akibat impostor syndrome inilah yang menjadi fokus utama penelitian, sehingga studi ini bertujuan untuk menguji signifikansi peran dan besarnya kontribusi Kecemasan sosial dalam memprediksi impostor syndrome. Studi ini menggunakan desain penelitian kuantitatif korelasional dengan melibatkan 231 siswa SMA yang dikategorikan sebagai remaja akhir, dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui instrumen Social Anxiety Scale for Adolescents (SAS-A) dan Clance Impostor Phenomenon Scale (CIPS), kemudian dianalisis menggunakan regresi linear sederhana. Hasil analisis menunjukkan bahwa model regresi signifikan dengan nilai F(1,229) = 145.00 dan p < 0.001. Nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0.623 menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara kedua variabel dalam model. Secara definitif, nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0.388 mengindikasikan bahwa Kecemasan sosial memberikan kontribusi sebesar 38.8% terhadap variasi impostor syndrome pada remaja akhir, sementara sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. Simpulannya, semakin tinggi tingkat kecemasan sosial yang dialami, semakin rentan remaja akhir menunjukkan gejala impostor syndrome. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan pentingnya pengembangan intervensi preventif yang menargetkan pengelolaan kecemasan sosial di lingkungan sekolah untuk mendukung kesehatan mental dan kepercayaan diri remaja.
JENIS KELAMIN SEBAGAI MODERASI DALAM HUBUNGAN KECEMASAN SOSIAL DAN INAUTHENTIC SELF PRESENTATION PADA REMAJA PENGGUNA INSTAGRAM Oktavia Sutarman, Merryn; Agustina , Agustina
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.8520

Abstract

Instagram is frequently used by adolescents as a platform to present themselves and gain social recognition. Inauthentic self-presentation has become a common strategy to construct a positive self-image and avoid negative judgment. This study aims to examine the relationship between social anxiety and inauthentic self-presentation among adolescent Instagram users, as well as to investigate the moderating role of gender. A quantitative correlational method was employed with purposive sampling. The participants consisted of 200 adolescents (97 males and 103 females) who owned Instagram accounts and had uploaded personal content. The instruments used were the Social Anxiety Scale for Social Media Users (SAS-MU) and the Self-Presentation on Facebook Questionnaire (SPFBQ). The results of the correlation analysis indicated a significant positive relationship between social anxiety and inauthentic self-presentation (r = 0.353, p < 0.05). However, the moderation regression analysis revealed that gender did not moderate this relationship (B = 0.089, p = 0.199). In conclusion, higher levels of social anxiety are associated with greater tendencies toward inauthentic self-presentation among adolescents, regardless of gender. ABSTRAK Instagram kerap digunakan remaja sebagai sarana menampilkan diri untuk memperoleh pengakuan sosial. Strategi inauthentic self-presentation pun menjadi umum dalam membentuk citra diri positif dan menghindari penilaian negatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecemasan sosial dan inauthentic self-presentation pada remaja pengguna Instagram, serta menguji peran jenis kelamin sebagai variabel moderator. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional dengan teknik purposive sampling. Partisipan berjumlah 200 remaja (97 laki-laki dan 103 perempuan) yang memiliki akun Instagram dan pernah mengunggah konten tentang diri sendiri. Instrumen yang digunakan adalah Social Anxiety Scale for Social Media Users (SAS-MU) dan Self-Presentation on Facebook Questionnaire (SPFBQ). Hasil analisis korelasi menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara kecemasan sosial dan inauthentic self-presentation (r = 0.353, p < 0.05). Namun, hasil analisis regresi moderasi menunjukkan bahwa jenis kelamin tidak memoderasi hubungan tersebut (B = 0.089, p = 0.199). Kesimpulannya, semakin tinggi kecemasan sosial, semakin tinggi kecenderungan remaja menampilkan diri secara tidak autentik, tanpa perbedaan signifikan antara laki-laki dan perempuan.
HUBUNGAN ANTARA BODY IMAGE DAN PERILAKU KONSUMTIF BERBELANJA PRODUK MAKEUP PADA DEWASA MUDA Ayu Karimatu Zakiyah, Raden; Hendra Heng, Pamela; Christina Uranus, Hanna
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.8521

Abstract

Young adults are a group that is in an important stage of development and pays great attention to physical appearance as a form of self-identity and social acceptance. One way to improve physical appearance is through the use of makeup products. This phenomenon encourages consumptive behavior in the purchase of beauty products, which is driven not only by functional needs but also by psychological urges related to body image. Body image is a person's perception, attitude, and evaluation of their physical appearance, which can be positive or negative. This study aims to determine the relationship between body image and consumptive behavior in purchasing makeup products among young adults. The research method used was a quantitative correlational approach. There were 318 young adults aged 18-30 years who used makeup at least three times a week. Data collection was conducted using an online questionnaire based on the Multidimensional Body Self Relations Questionnaire – Appearance Scales (MBSRQ-AS) and a consumptive behavior scale. Data analysis was conducted using correlation tests to determine the relationship between the two variables. The results showed that there was a positive and significant relationship between body image and consumptive behavior in makeup shopping, indicating that the higher the body image score, the higher the tendency for consumptive behavior in purchasing makeup products. These findings indicate that psychological aspects related to body perception and assessment are associated with makeup consumption behavior among young adults. This study is expected to serve as a basis for evaluation in promoting wise consumption awareness and strengthening a healthy body image. ABSTRAK Dewasa muda merupakan kelompok yang berada pada fase perkembangan penting dan memiliki perhatian besar terhadap penampilan fisik sebagai bentuk pencapaian identitas diri serta penerimaan sosial. Salah satu upaya untuk meningkatkan penampilan fisik adalah melalui penggunaan produk makeup. Fenomena ini mendorong munculnya perilaku konsumtif dalam pembelian produk kecantikan, yang tidak hanya didorong oleh kebutuhan fungsional, tetapi juga oleh dorongan psikologis terkait body image. Body image merupakan persepsi, sikap, dan evaluasi seseorang terhadap penampilan tubuhnya, yang dapat bersifat positif maupun negatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara body image terhadap perilaku konsumtif berbelanja produk makeup pada dewasa muda. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan korelasional. Partisipan berjumlah 318 dewasa muda berusia 18-30 tahun yang menggunakan makeup minimal tiga kali dalam seminggu. Pengambilan data dilakukan menggunakan kuesioner online yang disusun berdasarkan skala Multidimensional Body Self Relations Questionnaire – Appearance Scales (MBSRQ-AS) dan skala perilaku konsumtif. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi untuk mengetahui hubungan antara kedua variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara body image dan perilaku konsumtif berbelanja makeup, yang menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai body image, maka semakin tinggi pula kecenderungan perilaku konsumtif dalam pembelian produk makeup. Temuan ini mengindikasikan bahwa aspek psikologis terkait persepsi dan penilaian terhadap tubuh berkaitan dengan perilaku konsumsi produk makeup pada dewasa muda. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi dalam meningkatkan kesadaran konsumsi yang bijak serta penguatan body image yang sehat.
HUBUNGAN RESILIENSI DENGAN KUALITAS PERSAHABATAN PADA EMERGING ADULTS DARI KELUARGA BERCERAI Elena Susanto, Jessica; Hastuti, Rahmah
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.8707

Abstract

This quantitative study employed a non-experimental correlational design to examine the relationship between resilience and friendship quality among emerging adults from divorced families. Data were collected through online questionnaires distributed to participants who met specific demographic criteria. As the data were not normally distributed, the Spearman correlation test was used for analysis. The results revealed a significant positive relationship between resilience and friendship quality (p = 0.002; r = 0.281). Higher levels of resilience were associated with better friendship quality, although the strength of the correlation was relatively low. These findings underscore the importance of resilience as a protective factor that enables individuals from divorced families to build and maintain healthy social relationships during early adulthood. This study contributes empirical evidence to the psychological understanding of resilience's positive role in navigating the challenges of developmental transition ABSTRAK Penelitian kuantitatif ini menggunakan pendekatan korelasional non-eksperimental untuk menguji hubungan antara resiliensi dan kualitas pertemanan pada individu emerging adulthood yang berasal dari keluarga bercerai. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring kepada partisipan yang memenuhi kriteria demografis tertentu. Karena data tidak berdistribusi normal, analisis dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara resiliensi dan kualitas pertemanan (p = 0.002; r = 0.281). Semakin tinggi tingkat resiliensi individu, semakin baik kualitas pertemanannya, meskipun kekuatan hubungan berada dalam kategori rendah. Temuan ini menegaskan pentingnya resiliensi sebagai faktor protektif yang memungkinkan individu dengan latar belakang keluarga bercerai membangun dan mempertahankan hubungan sosial yang sehat di masa dewasa awal. Studi ini memberikan kontribusi empiris terhadap pemahaman psikologis mengenai dampak positif resiliensi dalam konteks transisi perkembangan yang penuh tantangan.
EFEKTIVITAS KONSELING KELOMPOK DALAM MENINGKATKAN KEPERCAYAAN DIRI SISWA BROKEN HOME DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN Jauhari, Ali; Rayani, Dewi; Mustakim, Ichwanul
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.9808

Abstract

ABSTRACT Family is the primary environment that plays an important role in an individual's psychological development. Family conflicts that end in divorce can lead to a broken home condition which affects children's emotional well-being, such as feelings of sadness, lack of attention, and loss of parental support. These conditions may reduce students’ self-confidence, causing difficulties in social interaction and participation in learning activities. This issue highlights the importance of guidance and counseling services as an effort to help students improve their self-confidence. This study aims to examine the effectiveness of group counseling in improving the self-confidence of tenth-grade students at SMKN 1 Mataram who come from broken home families. The study employed a quantitative approach with a One Group Pre-test and Post-test experimental design. Data were collected through questionnaires as the main instrument, supported by observation, interviews, and documentation. The sample consisted of 8 students selected through purposive sampling from a population of 85 students based on the lowest self-confidence scores. Data were analyzed using the t-test. The results showed that the t-count value of 15.439 was greater than the t-table value of 2.365 at a significance level of 5% (df = 7), indicating that the null hypothesis (Ho) was rejected and the alternative hypothesis (Ha) was accepted. These findings indicate that group counseling is effective in improving the self-confidence of students from broken home families. ABSTRAK Keluarga merupakan lingkungan utama dalam perkembangan psikologis individu. Konflik keluarga yang berujung pada perceraian dapat menimbulkan kondisi broken home yang berdampak pada kondisi emosional anak, seperti perasaan sedih, kurang perhatian, serta hilangnya dukungan dari orang tua. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan kepercayaan diri sehingga siswa mengalami kesulitan dalam berinteraksi sosial dan berpartisipasi dalam kegiatan belajar. Permasalahan ini menunjukkan pentingnya layanan bimbingan dan konseling sebagai upaya membantu siswa meningkatkan kepercayaan diri. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas konseling kelompok dalam meningkatkan kepercayaan diri siswa kelas X SMKN 1 Mataram yang berasal dari keluarga broken home. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen One Group Pre-test and Post-test. Data dikumpulkan melalui angket sebagai instrumen utama, serta observasi, wawancara, dan dokumentasi sebagai data pendukung. Sampel penelitian berjumlah 8 siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dari populasi 85 siswa berdasarkan skor kepercayaan diri terendah. Analisis data menggunakan uji-t (t-test). Hasil penelitian menunjukkan nilai t-hitung sebesar 15,439 lebih besar daripada t-tabel sebesar 2,365 pada taraf signifikansi 5% (db = 7), sehingga Ho ditolak dan Ha diterima. Temuan ini menunjukkan bahwa konseling kelompok efektif dalam meningkatkan kepercayaan diri (self-confidence) siswa dari keluarga broken home.
PERAN KONSELING BEHAVIOR DENGAN TEKNIK ASSERTIVE TRAINING DALAM MENGENDALIKAN PERILAKU KECANDUAN GAME ONLINE SISWA Walla, Dominikus; Rayani, Dewi; Mustakim, Ichwanul
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.9810

Abstract

ABSTRACT Online games can provide cognitive benefits such as enhancing strategic thinking and problem-solving skills; however, excessive use may lead to addictive behaviors that negatively affect students’ psychological and social conditions. The phenomenon of online game addiction in schools reveals a gap between the need for effective counseling services and the limited availability of empirically tested behavior-based interventions, thereby requiring structured intervention efforts. This study aims to determine the effect of behavioral counseling on online game addiction among eighth-grade students at SMP Negeri 1 Gunungsari in the 2023/2024 academic year. The research employed a quantitative approach using a one-group pretest–posttest experimental design. The sample consisted of eight students identified as having online game addiction tendencies based on pretest results and selected through purposive sampling. The intervention was conducted through group counseling sessions using the Assertive Training technique to help students improve self-control over excessive gaming behavior. Data were analyzed using the Paired Sample t-test. The results showed that the calculated t-value (27.149) was greater than the t-table value (2.365) at α = 0.05 (df = 7), indicating that the alternative hypothesis was accepted. These findings confirm that behavioral counseling with the Assertive Training technique is effective in reducing online game addiction and provides practical contributions to strengthening school guidance and counseling services. ABSTRAK Game online dapat memberikan manfaat kognitif seperti melatih strategi dan pemecahan masalah, namun penggunaan berlebihan berpotensi menimbulkan perilaku adiktif yang berdampak pada aspek psikologis dan sosial siswa. Fenomena kecanduan game online di sekolah menunjukkan kesenjangan antara kebutuhan layanan konseling yang efektif dan masih terbatasnya intervensi berbasis pendekatan behavior yang teruji secara empiris, sehingga diperlukan upaya intervensi yang terstruktur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konseling behavior terhadap kecanduan game online pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Gunungsari Tahun Pelajaran 2023/2024. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen one group pretest–posttest. Sampel berjumlah 8 siswa yang terindikasi kecanduan berdasarkan hasil pretest dan dipilih melalui purposive sampling. Intervensi diberikan dalam bentuk konseling kelompok menggunakan teknik Assertive Training untuk membantu siswa meningkatkan kontrol diri terhadap perilaku bermain game. Analisis data dilakukan menggunakan uji Paired Sample t-test. Hasil menunjukkan nilai t-hitung 27,149 > t-tabel 2,365 (α = 0,05; db = 7), sehingga hipotesis alternatif diterima. Temuan ini menegaskan bahwa konseling behavior dengan teknik Assertive Training efektif menurunkan tingkat kecanduan game online serta memberikan kontribusi praktis bagi penguatan layanan bimbingan dan konseling di sekolah.
KETERKAITAN SELF REGULATION DENGAN FEAR OF MISSING OUT PADA REMAJA SEKOLAH MENENGAH Armilyana, Yanti; Astuti, Farida Herna; Rayani, Dewi
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.9811

Abstract

ABSTRACT The use of social media in daily life has psychological impacts on students, one of which is Fear of Missing Out (FOMO), defined as the feeling of anxiety about missing information or activities experienced by others on social media. This condition has the potential to increase anxiety, making strong self-regulation skills necessary for students to control their social media usage behavior. This study aims to analyze the relationship between self-regulation and Fear of Missing Out among eleventh-grade students of SMA Nurul Falah Perina in the 2023/2024 academic year. The study employed a quantitative approach with a correlational research design. The sample consisted of 20 students selected using a total sampling technique. Data were collected through a questionnaire as the primary instrument and analyzed using the Product Moment correlation formula. The results of the analysis showed a negative relationship between self-regulation and FOMO, with a correlation coefficient (r) of -0.746 at a 5% significance level (p < 0.05). These findings indicate that the higher the students' self-regulation ability, the lower the level of FOMO experienced. Therefore, self-regulation plays an important role in minimizing students' tendency toward FOMO. ABSTRAK Penggunaan media sosial dalam kehidupan sehari-hari memberikan dampak psikologis bagi siswa, salah satunya adalah Fear of Missing Out (FOMO), yaitu perasaan khawatir tertinggal informasi atau aktivitas orang lain di media sosial. Kondisi ini berpotensi meningkatkan kecemasan sehingga diperlukan kemampuan self regulation yang baik agar siswa mampu mengendalikan perilaku penggunaan media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara self regulation dengan Fear of Missing Out pada siswa kelas XI SMA Nurul Falah Perina Tahun Pelajaran 2023/2024. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel penelitian berjumlah 20 siswa yang ditentukan menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui angket sebagai instrumen utama dan dianalisis menggunakan korelasi Product Moment. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan negatif antara self regulation dan FOMO dengan koefisien korelasi (r) sebesar -0,746 pada taraf signifikansi 5% (p < 0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kemampuan regulasi diri siswa, semakin rendah tingkat FOMO yang dialami. Dengan demikian, self regulation berperan penting dalam meminimalkan kecenderungan FOMO pada siswa.
INTERVENSI BIMBINGAN KELOMPOK DENGAN PENDEKATAN RELAKSASI SEBAGAI STRATEGI PENGELOLAAN STRES SISWA FULL DAY SCHOOL Fitri, Muqarramah; Fadhli, Teuku; Zainuddin, M.; Maulida, Intan; Samudra, Lalu Ricky Untala
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.9853

Abstract

ABSTRACT Academic stress is a psychological condition that arises when students face high academic demands and limited time to complete various learning tasks. This phenomenon is often experienced by students who participate in the full-day school system due to the more intensive learning activities compared to the regular school system. This study aims to determine the effectiveness of group guidance with relaxation techniques in reducing academic stress among students implementing the full-day school system. This research employed a quantitative approach using a one group pre-test and post-test design involving 8 eleventh-grade students of SMAN 3 Unggul Sigli selected through purposive sampling. Data were collected using an academic stress questionnaire that had been tested for validity and reliability and were analyzed using the paired sample t-test with the assistance of SPSS version 22. The results showed an increase in the average score from 55.375 in the pre-test to 75.375 in the post-test with a significance value (sig. < 0.05), indicating a decrease in students’ academic stress levels after the implementation of group guidance with relaxation techniques. These findings indicate that the application of group guidance with relaxation techniques helps students manage emotional tension, improve self-control, and reduce the level of academic stress experienced during the full-day school learning system. Therefore, group guidance services with relaxation techniques can be used as an alternative intervention strategy in school counseling services to help students cope with academic stress more effectively. ABSTRAK Stres akademik merupakan kondisi psikologis yang muncul ketika peserta didik menghadapi tuntutan akademik yang tinggi serta keterbatasan waktu dalam menyelesaikan berbagai tugas pembelajaran. Fenomena ini sering dialami oleh siswa yang mengikuti sistem pembelajaran full day karena intensitas kegiatan belajar yang lebih padat dibandingkan dengan sistem sekolah reguler. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas bimbingan kelompok dengan teknik relaksasi dalam mengurangi stres akademik pada siswa yang menerapkan sistem full day. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain one group pre-test and post-test yang melibatkan 8 siswa kelas XI SMAN 3 Unggul Sigli yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui angket stres akademik yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, kemudian dianalisis menggunakan uji paired sample t-test dengan bantuan SPSS versi 22. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan skor rata-rata dari 55,375 pada pre-test menjadi 75,375 pada post-test dengan nilai signifikansi (sig. < 0,05), yang menandakan adanya penurunan tingkat stres akademik setelah pemberian layanan bimbingan kelompok dengan teknik relaksasi. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan bimbingan kelompok dengan teknik relaksasi mampu membantu siswa mengelola ketegangan emosional, meningkatkan kemampuan mengontrol diri, serta menurunkan tingkat stres akademik yang dialami selama mengikuti sistem pembelajaran full day. Dengan demikian, layanan bimbingan kelompok dengan teknik relaksasi dapat digunakan sebagai alternatif strategi intervensi dalam layanan bimbingan dan konseling di sekolah untuk membantu siswa mengatasi stres akademik secara lebih efektif.

Page 2 of 3 | Total Record : 21