cover
Contact Name
HENDRIK LEGI
Contact Email
hendriklegi83@gmail.com
Phone
+62811484408
Journal Mail Official
jurnal.stakdw@gmail.com
Editorial Address
Jalan Patimura Kel. Wamena Kota Kec. Wamena Papua 99511
Location
Kab. jayawijaya,
P a p u a
INDONESIA
Jurnal DIDASKO
ISSN : 27765407     EISSN : 27765415     DOI : 10.52879/didasko
DIDASKO merupakan wadah untuk memublikasi hasil penelitian ilmiah para dosen di lingkungan Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora, Wamena - Papua dan institusi lain yang memiliki kajian ilmiah sebidang. Fokus dan Scope pada jurnal Didasko adalah: Pendidikan Agama Kristen Teologi Biblika Teologi Sistematika Teologi Praktis
Articles 78 Documents
Pembelajaran Mendalam dan Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini Studi pada Proses Belajar Bermakna Anny Harince Babys; Alfred Melkianus Toh
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 1 (2026): Didasko: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/n7b9n807

Abstract

Early childhood cognitive development is the main foundation for learning success in the next stage of education and is greatly influenced by the quality of the learning process experienced by children. Learning at the Early Childhood Education level needs to be designed as a meaningful learning process that is in harmony with the characteristics of child development. This article aims to analyze the relationship between deep learning and early childhood cognitive development through the study of the process of meaningful learning. This study uses a descriptive qualitative approach with a literature review method on relevant scientific articles, both from accredited national journals and reputable international journals, which discuss deep learning, meaningful learning, and early childhood cognitive development. The data was analyzed through in-depth reading and systematic interpretation of the content of the article to identify thought patterns and tendencies of the research findings. The results of the analysis show that deep learning contributes significantly to early childhood cognitive development when learning focuses on meaningful, contextual, and child-centered experiences. The learning process that involves exploration, meaningful play, social interaction, and responsive teacher mentoring encourages children to build a more stable and sustainable understanding. Deep learning supports the development of basic cognitive abilities, intrinsic motivation, and early thinking functions. This article concludes that deep learning is a relevant pedagogical approach to improve the quality of early childhood learning through strengthening the meaningful learning process, so as to be able to build the foundation of children's cognitive development in a holistic and sustainable manner. Abstrak   Perkembangan kognitif anak usia dini merupakan fondasi utama bagi keberhasilan belajar pada tahap pendidikan selanjutnya dan sangat dipengaruhi oleh kualitas proses pembelajaran yang dialami anak. Pembelajaran pada jenjang Pendidikan Anak Usia Dini perlu dirancang sebagai proses belajar bermakna yang selaras dengan karakteristik perkembangan anak. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pembelajaran mendalam dan perkembangan kognitif anak usia dini melalui kajian terhadap proses belajar bermakna. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode kajian literatur terhadap artikel-artikel ilmiah yang relevan, baik dari jurnal nasional terakreditasi maupun jurnal internasional bereputasi, yang membahas pembelajaran mendalam, belajar bermakna, dan perkembangan kognitif anak usia dini. Data dianalisis melalui pembacaan mendalam dan penafsiran sistematis terhadap isi artikel untuk mengidentifikasi pola pemikiran dan kecenderungan temuan penelitian. Hasil analisis menunjukkan bahwa pembelajaran mendalam berkontribusi signifikan terhadap perkembangan kognitif anak usia dini ketika pembelajaran berfokus pada pengalaman yang bermakna, kontekstual, dan berpusat pada anak. Proses belajar yang melibatkan eksplorasi, bermain bermakna, interaksi sosial, dan pendampingan guru secara responsif mendorong anak membangun pemahaman yang lebih stabil dan berkelanjutan. Pembelajaran mendalam mendukung perkembangan kemampuan kognitif dasar, motivasi intrinsik, serta fungsi berpikir awal anak. Artikel ini menyimpulkan bahwa pembelajaran mendalam merupakan pendekatan pedagogis yang relevan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran PAUD melalui penguatan proses belajar bermakna, sehingga mampu membangun dasar perkembangan kognitif anak secara holistik dan berkelanjutan.
Mengantar Hidangan, Merajut Iman: Tradisi Maanta Jambi dalam Cermin Jemaat Perdana Lia Kris Agustina
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 1 (2026): Didasko: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v6i1.250

Abstract

Amidst the eroding values ??of togetherness, preserving local cultural traditions is crucial for maintaining the social and spiritual identity of the community. This article examines the relevance of the Maanta tradition in Jambi as a reflection of the faith values ??of the early church, as depicted in Acts 2:44-47. The Maanta tradition, a Jambi Malay custom of delivering food in food containers to family, relatives, or neighbors during religious occasions, is not only a form of local wisdom but also a manifestation of solidarity, love, and mutual cooperation. Using qualitative methods through literature review, this research examines the social and theological meaning of the Maanta practice and traces its connection to the principle of Koinonia in the early Christian community. The results indicate that the Maanta tradition embodies values ??of togetherness, social concern, and reciprocity, which align with the life of the early church, who shared, helped, and lived in unity of love. Within the context of contextual theology, the Maanta tradition has the potential to become a means of faith inculturation that connects Christian values ??with local culture. The modern church can learn from the Maanta spirit of living out concrete faith through love and service in a pluralistic society.   Abstrak Di tengah arus globalisasi yang kian mengikis nilai kebersamaan, pelestarian tradisi budaya lokal menjadi penting untuk menjaga identitas sosial dan spiritual masyarakat. Artikel ini membahas relevansi tradisi Maanta di Jambi sebagai cerminan nilai-nilai iman jemaat perdana sebagai gambaran dalam Kisah Para Rasul 2:44-47. Tradisi Maanta, yaitu kebiasaan masyarakat Melayu Jambi mengantarkan makanan menggunakan rantang kepada keluarga, kerabat, atau tetangga pada momen keagamaan, tidak hanya sekedar bentuk kearifan lokal, tetapi juga wujud solidaritas, kasih, dan gotong-royong. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui studi pustaka, penelitian ini mengkaji makna sosial dan teologis dari praktik Maanta serta menelusuri keterkaitan dengan prinsip Koinonia dalam komunitas Kristen mula-mula. Hasil kajian menunjukkan bahwa tradisi Maanta memuat nilai-nilai kebersamaan, kepedulian sosial, dan timbal balik yang sejajar dengan kehidupan jemaat perdana yang saling berbagi, membantu, serta hidup dalam kesatuan kasih. Dalam konteks teologi kontekstual, tradisi Maanta berpotensi menjadi sarana inkulturasi iman yang menghubungkan nilai-nilai Kristiani dengan budaya lokal. Gereja masa kini dapat belajar dari semangat Maanta untuk menghidupi iman yang konkret melalui kasih dan pelayanan di tengah masyarakat majemuk.
Formasi Iman dan Pendampingan Pastoral: Strategi Gereja dalam Mengaktualisasikan Missio Dei di Era Post-Truth Jos Sudarman Lauwanto; Pan Djun Tjhong
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 1 (2026): Didasko: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v6i1.251

Abstract

The post-truth era presents new challenges for the church in fulfilling its calling as a community that bears witness to the Gospel within society. Moreover, the rapid development of digital technology has transformed the way people communicate and receive information, with the result that objective truth is often supplanted by narratives that are more emotionally compelling. Moreover, the spread of hoaxes, disinformation and social polarisation demonstrates that the post-truth era affects not only the public sphere but also church life and practice. This study aims to analyse the role of faith formation and pastoral care as strategies for the church in actualising the Missio Dei in the post-truth era. This study employs a qualitative method using a literature review approach. The research findings indicate that the post-truth era presents serious challenges for the church in actualising the Missio Dei, as it is characterised by a crisis of truth, disinformation, and the dominance of subjectivity, all of which affect the faith lives of the faithful. It is therefore hoped that faith formation will serve as a theological foundation for building a community of truth through spiritual transformation, the strengthening of theological literacy, and the development of a resilient Christian character. Consequently, the integration of faith formation and pastoral care constitutes an effective church strategy for realising a relevant Missio Dei amidst a post-truth culture. Abstrak Era post-truth menghadirkan tantangan baru bagi gereja dalam menjalankan panggilannya sebagai komunitas yang menghadirkan kesaksian Injil di tengah masyarakat berada di era post Truth. Terlebih perkembangan teknologi digital yang sangat pesat telah mengubah manusia dalam berkomunikasi maupun menerima informasi sehingga kebenaran objektif sering kali tergeser oleh narasi yang lebih menarik secara emosional. Apalagi adanya fenomena penyebaran hoaks, disinformasi, polarisasi sosial menunjukkan bahwa era post-truth tidak hanya memengaruhi ruang publik, tetapi juga kehidupan dan praktik bergereja. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran formasi iman dan pendampingan pastoral sebagai strategi gereja dalam mengaktualisasikan Missio Dei di era post-truth. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa era post-truth menghadirkan tantangan serius bagi gereja dalam mengaktualisasikan Missio Dei karena ditandai oleh krisis kebenaran, disinformasi, dan dominasi subjektivitas yang memengaruhi kehidupan iman umat. Sehingga diharapkan formasi iman menjadi fondasi teologis yang membangun komunitas kebenaran melalui transformasi spiritual, penguatan literasi teologis, dan pembentukan karakter Kristiani yang tangguh. Oleh karena itu, integrasi formasi iman dan pendampingan pastoral merupakan strategi gereja yang efektif dalam mengaktualisasikan Missio Dei yang relevan di tengah budaya post-truth.  
Betangas Ritual Penyucian Diri Perempuan Menjelang Pernikahan dalam Perspektif Budaya Palembang dan Kisah Ester Lydia Kanti Rahayu
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 1 (2026): Didasko: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v6i1.249

Abstract

The betangas tradition is a ritual of self-purification for women in Palembang, performed in the run-up to their wedding. This ritual serves not only as a form of physical care, but also carries symbolic meaning representing a woman’s physical and spiritual readiness to embark on a new chapter as a wife. This study aims to uncover the symbolic meanings contained within the betangas tradition and to explore the parallels between its values and the process of self-purification undergone by Queen Esther as described in the Bible. The research methods employed include descriptive qualitative analysis, direct observation, in-depth interviews, and a review of various written sources, including books, academic articles, and biblical commentaries. The research findings indicate that every stage of the betangas ritual—from the body scrub, the use of spices, to the steam bath—contains symbols of self-purification, renewal, and spiritual readiness. The aroma of the spiced steam is believed to have a dual meaning: in addition to cleansing the body, it also symbolises prayer and hope for a peaceful and harmonious married life. The connection with the story of Queen Esther is evident in the values of purity, sincerity of heart and inner readiness, which underpin both rituals. Esther’s twelve-month period of self-purification using myrrh oil and aromatic herbs holds a parallel meaning to betangas, namely a process of self-transformation that prepares women to embrace new roles and life’s responsibilities.   Abstrak Tradisi betangas merupakan ritual penyucian diri bagi perempuan Palembang yang dilaksanakan menjelang pernikahan. Ritual ini tidak hanya berfungsi sebagai perawatan tubuh, tetapi juga mengandung makna simbolik yang merepresentasikan kesiapan lahir dan batin seorang perempuan dalam memasuki babak baru sebagai seorang istri. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna simbolik yang terkandung dalam tradisi betangas serta menelusuri persinggungan nilai-nilainya dengan proses penyucian diri yang dijalani Ratu Ester sebagaimana yang dalam Alkitab. Metode penelitian kualitatif deskriptif dan pengamatan langsung, wawancara mendalam, serta telaah terhadap berbagai sumber tertulis termasuk buku, artikel ilmiah, dan penafsiran Alkitab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap tahap dalam betangas yang dimulai dari luluran, penggunaan rempah-rempah, hingga proses mandi uap. Semua proses tersebut mengandung simbol penyucian diri, pembaharuan, dan kesiapan spiritual. Aroma uap rempah diyakini memiliki makna ganda: selain membersihkan tubuh, ia juga melambangkan doa dan harapan bagi cita-cita akan kehidupan rumah tangga yang tenteram dan harmonis. Keterkaitan dengan kisah Ratu Ester tampak pada nilai-nilai kemurnian, kertulusan hati, dan kesiapan batin yang sama-sama mendasari kedua ritual tersebut. Periode penyucian diri Ester selama dua belas bulan dengan minyak mur dan ramuan aromatik memiliki kesepadanan makna dengan betangas, yaitu proses perubahan diri yang mempersiapkan perempuan untuk menerima peran dan amanat hidup yang baru. 
Integrasi Artificial Intelligence dalam Pendidikan Agama Kristen untuk Membangun Karakter Spiritual Generasi Alpha Nofry J. Walangitan
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 1 (2026): Didasko: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v6i1.252

Abstract

The rapid development of Artificial Intelligence (AI) presents both opportunities and challenges for Christian Religious Education in fostering the spiritual character of Generation Alpha, who are growing up in a digital culture. This study aims to analyze the implementation of Artificial Intelligence in Christian Religious Education and to formulate an integration framework that remains oriented toward nurturing students' faith and character. The study employed a qualitative approach using a library research method through the analysis of relevant books, scholarly articles, and academic documents. Data were analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña, consisting of data collection, data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings indicate that Artificial Intelligence contributes to adaptive learning by enabling personalized learning materials, providing timely feedback, expanding access to learning resources, and strengthening students' digital literacy. However, the use of Artificial Intelligence also poses potential risks, including technological dependency, reduced quality of teacher–student relationships, and weakened spiritual disciplines when not accompanied by adequate pedagogical and spiritual guidance. The novelty of this study lies in the formulation of an Artificial Intelligence integration framework grounded in Christian pedagogy, which positions technology as a learning tool while preserving the teacher's essential role as a spiritual mentor and model of faith. Therefore, the integration of Artificial Intelligence should be implemented ethically, critically, and responsibly through strengthening teachers' digital competencies and developing a Christ-centered curriculum that supports the spiritual growth and character formation of Generation Alpha.   Abstrak Perkembangan Artificial Intelligence (AI) menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi Pendidikan Agama Kristen dalam membentuk karakter spiritual Generasi Alpha yang hidup di tengah budaya digital. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi Artificial Intelligence dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen serta merumuskan kerangka integrasi yang tetap berorientasi pada pembentukan iman dan karakter peserta didik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research) melalui analisis buku, artikel ilmiah, dan dokumen akademik yang relevan. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil sintesis menunjukkan bahwa Artificial Intelligence berkontribusi dalam menyediakan pembelajaran yang adaptif melalui personalisasi materi, umpan balik secara cepat, perluasan akses terhadap sumber belajar, serta penguatan kemampuan literasi digital. Di sisi lain, penggunaan Artificial Intelligence berpotensi menimbulkan ketergantungan pada teknologi, menurunkan kualitas relasi guru dan peserta didik, serta mengurangi pembiasaan disiplin rohani apabila tidak disertai pendampingan pedagogis dan spiritual. Kebaruan penelitian ini terletak pada perumusan kerangka integrasi Artificial Intelligence berbasis pedagogi Kristen yang menempatkan teknologi sebagai sarana pembelajaran, sementara guru tetap berperan sebagai pembimbing spiritual dan teladan iman. Dengan demikian, pemanfaatan Artificial Intelligence perlu dilaksanakan secara etis, kritis, dan bertanggung jawab melalui penguatan kompetensi digital pendidik serta pengembangan kurikulum yang berpusat pada Kristus guna mendukung pertumbuhan iman dan karakter Generasi Alpha.
Strategi Pedagogis Pendidikan Kristen dalam Menjawab Fenomena Deconstruction of Faith pada Generasi Muda Yonggi Sampelan
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 1 (2026): Didasko: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v6i1.253

Abstract

The phenomenon of deconstruction of faith among young people has emerged as a significant challenge for Christian Education in the digital era. Rather than representing a decline in faith, it often reflects a critical process through which individuals reconstruct a more personal and meaningful understanding of their beliefs. This study aims to analyze the phenomenon of deconstruction of faith and formulate a pedagogical strategy for Christian Education that effectively responds to this challenge. A qualitative library research approach was employed by examining scholarly journal articles, academic books, and relevant literature on Christian Education, faith development, transformative learning, and deconstruction of faith. The data were analyzed using content analysis through identification, categorization, synthesis, and interpretation of major themes. The findings indicate that deconstruction of faith should be understood as part of faith development rather than religious decline. The phenomenon is influenced by identity formation, digital culture, and the increasing capacity of young people for critical reflection. Based on the synthesis of the literature, this study proposes an Integrative Pedagogical Strategy for Christian Education that combines Stages of Faith Development, Transformative Learning Theory, and Cultural Liturgies as a conceptual framework for accompanying young people's faith reconstruction. The proposed strategy emphasizes dialogical learning, critical reflection, faith development mentoring, spiritual formation, and contextual learning communities as essential elements of contemporary Christian Education Abstrak Fenomena deconstruction of faith pada generasi muda menjadi salah satu tantangan penting bagi Pendidikan Kristen di era digital. Proses ini tidak selalu menunjukkan kemerosotan iman, tetapi sering kali merupakan refleksi kritis yang mendorong individu membangun kembali keyakinannya secara lebih personal dan bermakna. Penelitian ini bertujuan menganalisis fenomena deconstruction of faith serta merumuskan strategi pedagogis Pendidikan Kristen yang relevan dalam mendampingi generasi muda. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode penelitian kepustakaan (library research) dengan menganalisis berbagai artikel ilmiah, buku akademik, dan literatur yang berkaitan dengan Pendidikan Kristen, perkembangan iman, pembelajaran transformatif, dan deconstruction of faith. Data dianalisis menggunakan teknik content analysis melalui proses identifikasi, kategorisasi, sintesis, dan interpretasi tema-tema utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa deconstruction of faith lebih tepat dipahami sebagai bagian dari perkembangan iman daripada sebagai bentuk kemerosotan religiusitas. Fenomena ini dipengaruhi oleh perkembangan identitas, budaya digital, serta meningkatnya kemampuan refleksi kritis generasi muda. Berdasarkan sintesis temuan, penelitian ini menghasilkan Strategi Pedagogis Integratif Pendidikan Kristen yang mengintegrasikan Stages of Faith Development, Transformative Learning Theory, dan Cultural Liturgies sebagai kerangka konseptual dalam mendampingi proses rekonstruksi iman generasi muda. Strategi tersebut menekankan pentingnya pembelajaran dialogis, refleksi kritis, pendampingan perkembangan iman, praktik spiritual, serta pembentukan komunitas belajar yang kontekstual dan transformatif
Posisi Artificial Intelligence dalam Persiapan Khotbah: Kajian Liturgis, Homiletis dan Teologis terhadap Pelayanan Firman di Era Digital Darius Sriyono
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 5 No. 2 (2025): Didasko: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - Oktober 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v5i2.255

Abstract

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah memengaruhi berbagai bidang pelayanan gereja, termasuk proses persiapan khotbah, sehingga memunculkan peluang sekaligus tantangan teologis mengenai otoritas Kitab Suci, peran Roh Kudus, dan tanggung jawab pengkhotbah. Penelitian ini bertujuan menganalisis posisi Artificial Intelligence dalam persiapan khotbah berdasarkan perspektif liturgika, homiletika, dan teologi serta merumuskan model penggunaannya yang bertanggung jawab. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis library research melalui analisis terhadap Alkitab, buku teologi, dan artikel ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Artificial Intelligence layak dimanfaatkan sebagai instrumen pendukung untuk studi literatur, penyusunan kerangka, pengembangan ilustrasi, dan penyuntingan bahasa, tetapi tidak dapat menggantikan eksegesis, refleksi teologis, kepekaan pastoral, maupun karya Roh Kudus. Maka diperlukan SPIRIT- Artificial Intelligence Homiletical Framework, sebuah model liturgis yang mengintegrasikan doa, eksegesis, bantuan Artificial Intelligence, disermen teologis, penyusunan khotbah, dan proklamasi liturgis. Model ini direkomendasikan sebagai pedoman bagi gereja dan lembaga pendidikan teologi dalam memanfaatkan Artificial Intelligence secara etis, kritis, dan berpusat pada otoritas Firman Tuhan. Abstrak The rapid development of Artificial Intelligence (AI) has significantly influenced various aspects of church ministry, including sermon preparation, creating both opportunities and theological challenges concerning the authority of Scripture, the work of the Holy Spirit, and the responsibility of the preacher. This study aims to analyze the position of Artificial Intelligence in sermon preparation from liturgical, homiletical, and theological perspectives and to formulate a responsible framework for its use. The study employed a qualitative approach using library research by analyzing the Bible, theological books, and relevant scholarly articles. The findings indicate that Artificial Intelligence can appropriately serve as a supporting tool for literature review, sermon outlining, illustration development, and language editing. However, it cannot replace biblical exegesis, theological reflection, pastoral discernment, or the work of the Holy Spirit. Accordingly, this study proposes the SPIRIT- Artificial Intelligence Homiletical Framework, a liturgical model that integrates prayer, biblical exegesis, Artificial Intelligence assistance, theological discernment, sermon construction, and liturgical proclamation. This framework is recommended as a practical guideline for churches and theological institutions to utilize Artificial Intelligence ethically, critically, and under the authority of God's Word.
Asal Usul Manusia: Refleksi Iman Kristen atas Penciptaan dan Evolusi Yola Pradita
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 5 No. 2 (2025): Didasko: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - Oktober 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v5i2.256

Abstract

The debate between Christian faith and the theory of evolution often creates tension, particularly when evolution is seen as denying God’s role as Creator. This study aims to critically examine the Christian theological response to evolutionary theory in light of the doctrine of creation, without seeking synthesis or theological compromise. Using a qualitative method with a reflective-theological approach, it analyzes scientific and theological literature to assess how Christian faith can engage scientific findings responsibly. The results show that elements of evolution which exclude God’s involvement are theologically rejected, yet the natural development of the universe can be understood as a mechanism operating within the laws established by God. The novelty of this research lies in its effort to place Christian faith and evolution within their own distinct domains: creation as an affirmation of faith regarding purpose and human dignity, and evolution as a scientific explanation of natural processes. The study concludes that Christian theology can preserve doctrinal integrity while valuing scientific discovery Abstrak Perdebatan tentang hubungan iman Kristen dan teori evolusi sering menimbulkan ketegangan, terutama ketika evolusi dianggap menghapus peran Allah dalam penciptaan. Penelitian ini menganalisis secara kritis respons iman Kristen terhadap teori evolusi dalam terang doktrin penciptaan, tanpa mencari sintesis yang mengaburkan posisi teologis. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan reflektif-teologis melalui kajian literatur ilmiah dan teologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa unsur evolusi yang menolak keterlibatan Allah ditolak secara teologis, namun proses perkembangan alam tetap dapat dipahami sebagai mekanisme yang berlangsung dalam hukum ciptaan yang Allah tetapkan. Kebaruan penelitian ini terletak pada upayanya menempatkan iman Kristen dan evolusi dalam ranahnya masing-masing: penciptaan sebagai pernyataan iman tentang tujuan dan martabat manusia, dan evolusi sebagai penjelasan ilmiah mengenai mekanisme alam. Kesimpulannya, teologi Kristen dapat mempertahankan integritas doktrinal sembari menghargai temuan ilmiah, sehingga iman dan sains dipandang saling melengkapi tanpa harus dipadukan