cover
Contact Name
HENDRIK LEGI
Contact Email
hendriklegi83@gmail.com
Phone
+62811484408
Journal Mail Official
jurnal.stakdw@gmail.com
Editorial Address
Jalan Patimura Kel. Wamena Kota Kec. Wamena Papua 99511
Location
Kab. jayawijaya,
P a p u a
INDONESIA
Jurnal DIDASKO
ISSN : 27765407     EISSN : 27765415     DOI : 10.52879/didasko
DIDASKO merupakan wadah untuk memublikasi hasil penelitian ilmiah para dosen di lingkungan Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora, Wamena - Papua dan institusi lain yang memiliki kajian ilmiah sebidang. Fokus dan Scope pada jurnal Didasko adalah: Pendidikan Agama Kristen Teologi Biblika Teologi Sistematika Teologi Praktis
Articles 79 Documents
Perspektif Biblis tentang Teologi Kemiskinan dan Implementasinya dalam Pelayanan Gereja terhadap Ketidakadilan Sosial Ferdinandus Tamu Ama; Gloria Gabriel Lumingas
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 5 No. 2 (2025): Didasko: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - Oktober 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v5i2.200

Abstract

The theology of poverty stems from the belief that God is on the side of the poor and oppressed, and demands that His people bring justice to the world. This study shows that it is not enough for the church to simply preach the gospel verbally; it is also called to live out God's love through concrete actions that address social injustice. Reality shows that poverty is not merely an economic problem, but is related to social, cultural, and systemic structures that are imbalanced. The purpose of this study is to analyse the biblical perspective on the theology of poverty and to examine its implementation in church ministry as a prophetic and transformative effort in responding to social injustice. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach, it is concluded that the biblical basis of the theology of poverty shows God's concern for the poor, oppressed, and marginalised. In the context of church ministry, the dimension of the theology of poverty requires the church to not only play a spiritual role but also to face the challenges of social injustice with a prophetic attitude. Therefore, contextual and transformative implementation strategies are needed so that the church can bring God's love, justice, and solidarity into the lives of the community.AbstrakTeologi kemiskinan berangkat dari keyakinan bahwa Allah berpihak pada orang miskin dan tertindas, serta menuntut umat-Nya untuk menghadirkan keadilan di tengah dunia. Penelitian ini, gereja tidak cukup hanya memberitakan Injil secara verbal, tetapi juga dipanggil untuk menghidupi kasih Allah melalui tindakan nyata yang menyentuh persoalan ketidakadilan sosial. Raslitas menunjukkan bahwa kemiskinan bukan sekedar masalah ekonomi, melainkan terkait dengan struktur sosial, budaya, dan sistem yang timpang. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perspektif biblis tentang teologi kemiskinan serta mengkaji implementasinya dalam pelayanan gereja sebagai upaya profetis dan transformatif dalam menanggapi ketidakadilan sosial. Menggunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literature, maka disimpulkan bahwa landasan biblis teologi kemiskinan menunjukkan kepedulian Allah yang berpihak kepada orang miskin, tertindas, dan terpinggirkan. Dalam kerangka pelayanan gereja, dimensi teologi kemiskinan menuntut gereja untuk tidak hanya berperan secara spiritual, tetapi juga menghadapi tantangan ketidakadilan sosial dengan sikap profetis. Oleh karena itu, diperlukan strategi implementasi yang kontekstual dan transformatif, sehingga gereja mampu menghadirkan kasih, keadilan, dan solidaritas Allah dalam kehidupan masyarakat.
Pancasila dan Etis Teologis sebagai Basis Kepemimpinan Kristen bagi Reintegrasi Iman dan Identitas Kebangsaan Suryadi Nicolaas Napoleon Tatura; Yonatan Alex Arifianto
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 5 No. 2 (2025): Didasko: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - Oktober 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v5i2.213

Abstract

Pluralistic and dynamic national life is related to the relationship between Christian faith and Pancasila values. This has an impact on leadership, which experiences complex ethical and spiritual tensions. Moral shifts and the weakening of public leaders' integrity indicate a dissonance between religious values and national spirit. Meanwhile, Christian theology is often perceived as purely spiritual, without active involvement in social and national spheres. The phenomenon of increasing identity fragmentation and moral crisis among Christian leaders emphasises the importance of reconstructing a theological basis that can integrate faith and nationalism into a single, comprehensive ethical horizon. This study aims to reinterpret Pancasila as a space for theological dialogue that shapes Christian leadership based on theological ethics for the reintegration of faith and national identity. Using qualitative methods with a literature study approach, it was concluded that Pancasila has the potential as a theological and ethical space that enables Christian leadership rooted in the values of justice and humanity. Theological ethics has proven to be a moral foundation that guides Christian leaders to integrate faith with social and national responsibilities. Thus, Pancasila-based Christian leadership serves as a means of reintegrating faith and national identity in the praxis of Indonesian public life.AbstrakKehidupan berbangsa yang plural dan dinamis, terkait relasi antara iman Kristen dan nilai-nilai Pancasila. Berdampak pada kepemimpinan yang mengalami ketegangan etis dan spiritual yang kompleks. Pergeseran moral dan melemahnya integritas pemimpin publik menunjukkan terjadinya disonansi antara nilai-nilai iman dan semangat kebangsaan. Sementara itu, teologi Kristen kerap dipersepsikan hanya bersifat spiritual, tanpa keterlibatan aktif dalam ruang sosial dan nasional. Fenomena meningkatnya fragmentasi identitas dan krisis moral di kalangan pemimpin Kristen menegaskan pentingnya rekonstruksi basis teologis yang mampu mengintegrasikan iman dan nasionalisme dalam satu horizon etis yang utuh. Penelitian ini bertujuan untuk menafsirkan kembali Pancasila sebagai ruang dialog teologis yang membentuk  kepemimpinan Kristen berbasis etika teologis bagi reintegrasi iman dan identitas kebangsaan. Menggunkan metode kualitatif dengan pendekatan studi literature maka disimpulkan bahwa bahwa Pancasila memiliki potensi sebagai ruang teologis dan etis yang memampukan kepemimpinan Kristen berakar pada nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan. Etika teologis terbukti menjadi fondasi moral yang menuntun pemimpin Kristen untuk mengintegrasikan iman dengan tanggung jawab sosial dan kebangsaan. Dengan demikian, kepemimpinan Kristen berbasis Pancasila berperan sebagai sarana reintegrasi iman dan identitas kebangsaan dalam praksis kehidupan publik Indonesia.
Penginjilan Kontekstual: Membangun Jembatan antara Injil dan Budaya Lokal dalam Pelayanan Gereja di Papua Konstantina Kreuta
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 5 No. 2 (2025): Didasko: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - Oktober 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v5i2.127

Abstract

Contextualised evangelism in Papua aims to build bridges between the gospel and local culture, integrating spiritual values with environmental concerns. This research uses a qualitative approach to explore the challenges and opportunities in adaptive evangelism, as well as its impact on church ministry. The results show that the church can respond to modern challenges by prioritising environmental conservation as part of the evangelistic mission. By incorporating local cultural values and eco-friendly practices, the church is not only a place of worship, but also an agent of social change. The findings confirm that nature conservation is seen as a spiritual responsibility, encouraging congregations to play an active role in environmental programmes. The use of local symbols and traditions in delivering the gospel message creates deep resonance and enhances the relevance of the Christian faith in Papuan society. The conclusions of this study affirm that contextual evangelism in Papua is an innovative model that strengthens the relationship between faith, culture, and social responsibility, so churches can create positive and sustainable impact in local communities.AbstrakPenginjilan kontekstual di Papua bertujuan membangun jembatan antara Injil dan budaya lokal, mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dengan kepedulian lingkungan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk mengeksplorasi tantangan dan peluang dalam penginjilan yang adaptif, serta dampaknya terhadap pelayanan gereja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gereja mampu merespons tantangan modern dengan mengedepankan pelestarian lingkungan sebagai bagian dari misi penginjilan. Dengan menggabungkan nilai budaya lokal dan praktik eco-friendly, gereja tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga agen perubahan sosial. Temuan ini menegaskan bahwa pelestarian alam dipandang sebagai tanggung jawab spiritual, mendorong jemaat untuk berperan aktif dalam program lingkungan. Penggunaan simbol dan tradisi lokal dalam penyampaian pesan Injil menciptakan resonansi yang mendalam dan meningkatkan relevansi iman Kristen di masyarakat Papua. Konklusi dari penelitian ini menegaskan bahwa penginjilan kontekstual di Papua merupakan model inovatif yang memperkuat hubungan antara iman, budaya, dan tanggung jawab sosial, sehingga gereja dapat menciptakan dampak positif dan berkelanjutan dalam komunitas lokal.
Eksposisi Kata “Sukacita” dan “Sorak Sorai” Menurut Mazmur 100:1-5 dan Implementasinya dalam Ibadah Orang Percaya Masa Kini Paulus Kunto Baskoro; Denis Andrian; Agus Setiadi
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 5 No. 2 (2025): Didasko: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - Oktober 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v5i2.212

Abstract

The concept of worship in every church has different understandings and views. This affects how a servant and congregation can carry out a service properly. Each finds a different understanding based on Bible digging and a group's agreement on worship. However, many also view worship as a routine or ritual that is carried out in a rigid and serious manner and ignores the philosophy and essence of worship. This study uses a qualitative method with an expositional approach to the text of Psalm 100:1-5, especially in the words jubilation and rejoicing to find the principles that will be used in Biblical worship procedures. The principles found will become a basic material that will be extracted into a pattern or arrangement that is applied to worship. The goal is that every church that does not have a Biblical concept or procedure for worship can adopt and adapt it according to the needs and doctrines of each church. The result is that worship can run well with the right expression, the right implementation, and the right motivation.AbstrakKonsep ibadah dalam setiap masing-masing gereja punya pengertian dan pandangan yang berbeda-beda. Hal tersebut mempengaruhi bagaimana seorang pelayan dan jemaat dapat menjalankan suatu ibadah dengan benar. Masing-masing menemukan pengertian yang berbeda-beda berdasarkan penggalian Alkitab dan kesepakatan suatu kelompok dalam memandang ibadah. Namun, banyak juga yang pada akhirnya memandang ibadah sebagai suatu rutinitas atau ritual yang dilakukan dengan cara yang kaku, dan serius serta mengabaikan filosofi dan esensi dari ibadah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan eksposisi terhadap teks Mazmur 100:1-5 terutama pada kata jubilation dan rejoicing untuk menemukan prinsip-prinsip yang akan dipakai dalam tata cara ibadah yang Alkitabiah. Prinsip-prinsip yang ditemukan akan menjadi suatu bahan dasar yang akan diekstrak menjadi sebuah pola atau susunan yang diaplikasikan terhadap ibadah. Tujuannya ialah agar setiap gereja yang tidak memiliki konsep atau tata cara ibadah yang Alkitabiah dapat mengadposi dan mengadaptasi sesuai dengan kebutuhan dan doktrin gereja masing-masing. Hasilnya ialah ibadah dapat berjalan dengan baik dengan ekspresi yang tepat, implementasi yang pas, serta motivasi yang benar.
Analisis Fenomena Moral Minimalism Dalam Perspektif Apologetika Kristen Berdasarkan Galatia 5:13-15 Agung Waluyo Samadi
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 5 No. 2 (2025): Didasko: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - Oktober 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v5i2.199

Abstract

Fenomena sosial masa kini memperlihatkan dominasi paham individualisme radikal yang menempatkan kebebasan sebagai hak mutlak tanpa tanggung jawab sosial. Prinsip yang kerap dihidupi generasi modern berbunyi: “selama saya tidak merugikan orang lain, saya bebas melakukan apa saja”. Pola pikir ini sejalan dengan harm principle yang dikemukakan John Stuart Mill, yang menjadikan kerugian orang lain sebagai satu-satunya batas moral dalam bertindak. Penelitian ini bertujuan menelaah fenomena moral minimalism yang berkembang dalam masyarakat Indonesia melalui lensa apologetika Kristen dengan menjadikan Galatia 5:13-15 sebagai dasar teologis untuk memahami hakikat kebebasan sejati. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif dan pendekatan kepustakaan dengan memanfaatkan sumber primer berupa Alkitab dan sumber sekunder dari literatur teologis, filosofis serta sosiologis yang relevan. Melalui analisis biblika dan refleksi apologetika, penelitian ini menelusuri bagaimana ajaran Paulus menantang pandangan etis modern yang hanya menuntut “tidak merugikan,” namun gagal melahirkan kasih.AbstrakContemporary society is increasingly shaped by a form of radical individualism that treats freedom as an absolute right detached from social responsibility. The prevailing moral attitude among modern generations can be summed up in the phrase, “as long as I do not harm others, I am free to do whatever I want.” This mindset echoes John Stuart Mill’s harm principle, which regards the avoidance of harm to others as the only moral boundary of human action.This study seeks to examine the phenomenon of moral minimalism in Indonesian society through the lens of Christian apologetics, focusing on Galatians 5:13-15 as a theological foundation for understanding the true nature of freedom. Employing a qualitative method and a library-based approach, the research draws upon primary sources from Scripture and secondary sources from theological, philosophical,and sociological literature. Through biblical and apologetic analysis, this study explores how Paul’s teaching challenges modern ethical reasoning that stops at the level of “not harming” yet fails to cultivate genuine love.
Teologi Pembebasan dalam Exodus: Manifestasi Missio Dei sebagai Reversi Kuasa Dosa dalam Sejarah Keselamatan Marde Christian Stenly Mawikere; Sudiria Hura; Jean Calvin Riedel Mawikere; Daniella Beauty Melanesia Mawikere
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 1 (2026): Didasko: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/m5y84f23

Abstract

This article analyses the Exodus as a manifestation of the missio Dei that reveals God’s theology of liberation within salvation history. Employing a qualitative method through content analysis of biblical texts, this study highlights God’s actions of “seeing” (r?’? r?’îtî), “hearing” (š?ma‘tî), “knowing” (y?da‘tî), and “coming down” (y?radtî lehatsîl?m) to deliver His people from Egyptian oppression (Exod. 3:7–8). These actions demonstrate that mission originates from God’s own initiative, grounded in love, justice, and faithfulness to the berith (covenant). The findings indicate that liberation in the Exodus is holistic in nature, encompassing spiritual, social, ethical, and ecological dimensions. The contemporary Church is called to participate in the missio Dei by embodying signs of the Kingdom of God through authentic worship, social justice, and the restoration of creation. Abstrak Artikel ini menganalisis Exodus sebagai manifestasi missio Dei yang menyingkap teologi pembebasan Allah dalam sejarah keselamatan. Melalui metode kualitatif dengan analisis isi teks biblis, penelitian ini menyoroti tindakan Allah yang “melihat” (r?’? r?’îtî), “mendengar” (š?ma‘tî), “mengetahui” (y?da‘tî), dan “turun” (y?radtî lehatsîl?m) untuk membebaskan umat-Nya dari penindasan Mesir (Kel. 3:7–8). Tindakan tersebut menunjukkan bahwa misi berasal dari inisiatif Allah yang berakar pada kasih, keadilan, dan kesetiaan terhadap berith (perjanjian). Temuan penelitian menegaskan bahwa pembebasan dalam Exodus bersifat holistik—mencakup dimensi spiritual, sosial, etis, dan ekologis. Gereja masa kini dipanggil berpartisipasi dalam missio Dei dengan mewujudkan tanda-tanda Kerajaan Allah melalui ibadah sejati, keadilan sosial, dan pemulihan ciptaan.
Resiliensi Iman Generasi Strawberry terhadap FoMO: Pendekatan Teologi Berdasarkan 1 Petrus 5:7 Raymond Hessel Stephen; Yonatan Alex Arifianto
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 1 (2026): Didasko: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/m6prbm77

Abstract

The rapid development of the digital age has shaped new social patterns and behaviours among the younger generation, particularly the Strawberry Generation, who have grown up with intense exposure to social media and information technology. This phenomenon has given rise to the Fear of Missing Out (FoMO), which causes anxiety, a sense of insecurity, and even concerns about self-actualisation, and thus has the potential to weaken their spiritual resilience. The lack of contextual pastoral and theological strategies to address FoMO poses a significant challenge for the faith formation of this generation. This study aims to analyse the development of the Strawberry Generation’s faith resilience in the face of FoMO through a theological approach based on 1 Peter 5:7. The research method employs a descriptive qualitative approach involving literature review and theological exegetical hermeneutical analysis. The findings indicate that the theological analysis and exegesis of 1 Peter 5:7 provide a strong foundation for the development of the Strawberry Generation’s faith resilience. An understanding of FOMO within this generation clarifies the psychological and spiritual challenges they face in the digital context. Narrative theology, combined with digital pastoral strategies, has proven effective in guiding and strengthening their faith resilience. Thus, the integration of narrative theology and digital pastoral practices can serve as a contextual, relevant, and practical model for faith formation among young people in the digital age. Abstrak Perkembangan pesat era digital telah membentuk pola sosial dan perilaku baru pada generasi muda, khususnya Generasi Strawberry, yang tumbuh dengan paparan intens terhadap media sosial dan teknologi informasi. Fenomena ini memunculkan Fear of Missing Out (FoMO), yang menyebabkan kecemasan, rasa tidak aman bahkan kuatir akan aktualisasi, dan   sehingga berpotensi melemahkan resiliensi iman mereka. Kurangnya strategi pastoral dan teologis yang kontekstual untuk menghadapi FoMO menjadi persoalan signifikan bagi pembinaan iman generasi ini. Penelitian ini bertujuan menganalisis pembentukan resiliensi iman Generasi Strawberry terhadap FOMO melalui pendekatan teologi berbasis 1 Petrus 5:7. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan studi literatur dan analisis hermeneutic eksegesis teologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis teologis dan eksegesis 1 Petrus 5:7 memberikan landasan kuat bagi pembentukan resiliensi iman Generasi Strawberry. Pemahaman FoMO pada generasi ini memperjelas tantangan psikologis dan spiritual yang mereka hadapi dalam konteks digital. Teologi naratif yang dipadukan dengan strategi pastoral digital terbukti efektif dalam membimbing dan memperkuat ketahanan iman mereka. Dengan demikian, integrasi teologi naratif dan praktik pastoral digital dapat menjadi model pembinaan iman yang kontekstual, relevan, dan aplikatif bagi generasi muda di era digital.
Makna Kematian Kristus dalam Surat-Surat Paulus Sih Rahmadi
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 1 (2026): Didasko: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v6i1.243

Abstract

The death of Christ constitutes the central core of the Christian faith and serves as a primary foundation in New Testament theological reflection, particularly within the Pauline epistles. However, the diversity of interpretations has generated conceptual ambiguity, necessitating a systematic and comprehensive analysis. This article aims to analyze and formulate the meaning of Christ’s death in the Pauline letters in a comprehensive manner by employing a biblical theology approach structured thematically. This study utilizes a qualitative method based on library research, analyzing biblical sources and theological literature. The findings and discussion reveal that through His death, Christ redeems, justifies, reconciles humanity to God, and acts as a substitute for believers. Through His death, liberation from the bondage of sin and the Law is accomplished. This redemption is universally available to all humanity, yet it becomes effective only for those who receive it by faith. The thesis statement of this research is firmly grounded in the assertion that the death of Christ represents the perfect ransom and the only way of salvation for humanity. The novelty of this study lies in the relative lack of integrative scholarship that specifically constructs the meaning of Christ’s death in the Pauline epistles by holistically connecting the dimensions of redemption, justification, reconciliation, and substitution within Paul’s theological framework. Abstrak Kematian Kristus merupakan pusat dari iman Kristen dan menjadi fondasi utama dalam refleksi teologi Perjanjian Baru khususnya dalam surat-surat Paulus. Namun demikian keragaman interpretasi menimbulkan ambiguitas konseptual sehingga perlu dianalisis secara sistematis dan komprehensif. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis dan merumuskan makna kematian Kristus dalam surat-surat Paulus secara komprehensif dengan menggunakan pendekatan teologi biblika yang diformulasikan secara tematis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka dengan menganalisis sumber Alkitab dan literatur teologi. Hasil dan pembahasan yang ditemukan adalah melalui kematian-Nya Kristus menebus, membenarkan, mendamaikan dengan Allah dan menggantikan orang percaya. Melalui kematian-Nya terjadi pembebasan dari perhambaan dosa dan hukum Taurat. Penebusan ini berlaku bagi semua manusia namun hanya efektif bagi mereka yang menerimanya dengan iman. Thesis Statement penelitian ini berfondasi kuat pada kematian Kristus merupakan harga tebusan yang sempurna dan satu-satunya jalan keselamatan bagi manusia. Novelty kajian ini terletak pada kurangnya kajian integratif yang secara khusus mengkonstruksi makna kematian Kristus dalam surat-surat Paulus dengan menghubungkan dimensi penebusan, pembenaran, pendamaian dan substitusi secara holistik dalam pemikiran Paulus.
Mentoring Multiplikatif sebagai Jawaban Teologis atas Krisis Regenerasi Kepemimpinan: Kajian Eksegesis 2 Timotius 2:2 Markus Adelbert Simanjuntak; Agus Arda Setiawan Telaumbanua
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 1 (2026): Didasko: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v6i1.245

Abstract

The leadership regeneration crisis in Indonesian churches cannot be viewed merely as a managerial issue, but rather as a symptom of the fragility of its biblical foundation in understanding leadership transmission as an apostolic mandate. Therefore, through 2 Timothy 2:2, which contains an apostolic blueprint of normative and transgenerational multiplicative mentoring, this study aims to present a comprehensive exegesis of 2 Timothy 2:2 by integrating the approaches of Kaiser and Witherington, formulating a contextual theological model of multiplicative mentoring, and developing practical implications for the Indonesian church. Using Walter C. Kaiser Jr.’s syntactical-theological exegetical method, which includes contextual, syntactical, verbal/lexical, theological, and homiletical analysis, combined with Ben Witherington III’s socio-rhetorical reading to sharpen the historical and rhetorical dimensions, this study offers a robust interpretive framework. The exegetical findings show that the aorist middle imperative parathou in 2 Timothy 2:2 demands a decisive, personal, and responsible act of entrusting the doctrinal deposit, namely the transmission of the depositum fidei to individuals who meet two simultaneous criteria: proven integrity (pistois anthr?pois) and reproductive pedagogical capacity (hikanoi esontai kai heterous didaxai). The four-generation structure (Paul-Timothy-faithful people-others) is demonstrated as an apostolic transmission pattern that is normative in principle but flexible in form. The discussion section affirms that this multiplicative mentoring model provides a conceptual and practical framework for redesigning leadership succession and discipleship systems within traditional denominational churches in Indonesia. The novelty of this study lies in its identification of a multiplicative mentoring pattern in 2 Timothy through the integration of Walter C. Kaiser’s exegetical method and Witherington’s socio-rhetorical framework, offering a response to the leadership regeneration crisis in Indonesian churches.   Abstrak Krisis regenerasi kepemimpinan gereja di Indonesia tidak dapat dipandang semata-mata sebagai persoalan manajerial melainkan sebagai gejala dari kerapuhan fondasi biblikal dalam memaknai transmisi kepemimpinan sebagai mandat apostolik sehingga melalui 2 Timotius 2:2 yang mengandung blueprint apostolik mengenai mentoring multiplikatif yang bersifat normatif dan lintas zaman kajian ini bertujuan menyajikan eksegesis komprehensif 2 Timotius 2:2 dengan memadukan pendekatan Kaiser dan Witherington, merumuskan model teologis mentoring multiplikatif yang kontekstual dan menyusun implikasi praktis bagi gereja di Indonesia. Melalui metode eksegesis sintaktikal-teologis Walter C. Kaiser Jr. yang meliputi analisis kontekstual, sintaktikal, verbal/leksikal, teologis, dan homiletis dipadukan melalui pembacaan sosio-retorik Ben Witherington III untuk menajamkan dimensi historis dan retoris. Hasil eksegesis menunjukkan bahwa imperative aorist middle parathou dalam 2 Timotius 2:2 menuntut tindakan penyerahan amanah yang definitif, personal, dan bertanggung jawab, yakni penyerahan depositum doktrin kepada orang-orang yang memenuhi dua kriteria simultan: integritas yang terbukti (pistois anthr?pois) dan kapasitas pedagogis yang reproduktif (hikanoi esontai kai heterous didaxai). Struktur empat generasi (Paulus-Timotius-orang-orang yang dapat dipercaya-orang-orang lain) terbukti sebagai pola transmisi apostolik yang normatif dalam prinsip tetapi fleksibel dalam bentuk. Bagian Discussion menegaskan bahwa model mentoring multiplikatif ini menawarkan kerangka konseptual dan praktis untuk mendesain ulang sistem kaderisasi dan suksesi kepemimpinan gereja denominasi tradisional di Indonesia. Novelty penelitian ini terletak penemuan pola mentoring multiplikatif pada teks 2 Timotius melalui perpaduan metode eksegesis Walter C. Kaiser dengan kerangka sosio-retorik Witherington dalam memberikan jawaban atas krisis regenerasi pemimpin gereja di Indonesia.
Menyelami Impikasi Amanat Agung Dalam Pengajaran Pendidikan Agama Kristen Masa Kini Yertin M. Kantoli; Verawati Dosmaria Samosir; Yunus Van Hoten
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 1 (2026): Didasko: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/xdn2nq24

Abstract

In the context of Christian education, education has a central role in shaping Christian character and encouraging students to implement the Great Commission in their actions and behavior. The approach to Christian education encompasses a variety of aspects, including the formation of Christian character, the understanding of values such as love and care, the dissemination of God's Word, the motivation of service and giving, and the shepherding of the spiritual aspects of the students. Christian education also motivates students to carry out service and giving as an expression of Christ's love for fellow human beings. Thus, students learn to ponder values such as forgiveness, honesty, and compassion in the context of service. The importance of spreading God's Word in Christian education includes a deep understanding of the message of God's Word and how it is relevant in everyday life. Students are taught to understand the teachings of Christianity in a spiritual context and apply them in their lives, including in their decision-making and actions. It includes the development of a personal relationship with God, an understanding of spiritual callings, and character development that reflects the values of Christianity. Spiritual guidance and deepening of understanding of Christian teachings are integral parts of shepherding the spiritual aspects of students. Thus, Christian education has a great responsibility in shaping Christian character, understanding Christian values, and shepherding the spiritual aspects of students. Through this holistic approach, Christian education helps students live out the Great Commission in their actions and behavior, making them beneficial citizens of society as well as faithful followers of Christian values. Abstrak Dalam konteks pendidikan Kristen, pendidikan memiliki peran sentral dalam membentuk karakter Kristen dan mendorong siswa untuk mengimplementasikan Amanat Agung dalam tindakan dan perilaku mereka. Pendekatan pendidikan Kristen mencakup berbagai aspek, termasuk pembentukan karakter Kristen, pemahaman nilai-nilai seperti kasih dan kepedulian, menyebarkan Firman Tuhan, motivasi pelayanan dan pemberian, serta penggembalaan aspek rohani siswa. Pendidikan Kristen juga memotivasi siswa untuk menjalankan pelayanan dan pemberian sebagai ungkapan kasih Kristus kepada sesama manusia. Dengan demikian, siswa belajar untuk merenungkan nilai-nilai seperti pengampunan, kejujuran, dan belas kasih dalam konteks pelayanan. Pentingnya menyebarkan Firman Tuhan dalam pendidikan Kristen mencakup pemahaman yang mendalam tentang pesan Firman Tuhan dan bagaimana pesan tersebut relevan dalam kehidupan sehari-hari. Siswa diajarkan untuk memahami ajaran agama Kristen dalam konteks rohani dan mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka, termasuk dalam pengambilan keputusan dan tindakan mereka. Ini mencakup pengembangan hubungan pribadi dengan Tuhan, pemahaman panggilan rohani, dan pengembangan karakter yang mencerminkan nilai-nilai agama Kristen. Bimbingan rohani dan pendalaman pemahaman ajaran agama Kristen adalah bagian integral dalam menggembalakan aspek rohani siswa. Dengan demikian, pendidikan Kristen memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter Kristen, memahamkan nilai-nilai agama Kristen, dan menggembalakan aspek rohani siswa. Melalui pendekatan holistik ini, pendidikan Kristen membantu siswa menjalankan Amanat Agung dalam tindakan dan perilaku mereka, menjadikan mereka warga yang bermanfaat bagi masyarakat serta pengikut setia nilai-nilai agama Kristen.