cover
Contact Name
HENDRIK LEGI
Contact Email
hendriklegi83@gmail.com
Phone
+62811484408
Journal Mail Official
jurnal.stakdw@gmail.com
Editorial Address
Jalan Patimura Kel. Wamena Kota Kec. Wamena Papua 99511
Location
Kab. jayawijaya,
P a p u a
INDONESIA
Jurnal DIDASKO
ISSN : 27765407     EISSN : 27765415     DOI : 10.52879/didasko
DIDASKO merupakan wadah untuk memublikasi hasil penelitian ilmiah para dosen di lingkungan Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora, Wamena - Papua dan institusi lain yang memiliki kajian ilmiah sebidang. Fokus dan Scope pada jurnal Didasko adalah: Pendidikan Agama Kristen Teologi Biblika Teologi Sistematika Teologi Praktis
Articles 65 Documents
Perspektif Biblis tentang Teologi Kemiskinan dan Implementasinya dalam Pelayanan Gereja terhadap Ketidakadilan Sosial Tamu Ama, Ferdinandus; Lumingas, Gloria Gabriel
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 5, No 2 (2025): Didasko: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - Oktober 2025 (Still in Progress
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v5i2.200

Abstract

The theology of poverty stems from the belief that God is on the side of the poor and oppressed, and demands that His people bring justice to the world. This study shows that it is not enough for the church to simply preach the gospel verbally; it is also called to live out God's love through concrete actions that address social injustice. Reality shows that poverty is not merely an economic problem, but is related to social, cultural, and systemic structures that are imbalanced. The purpose of this study is to analyse the biblical perspective on the theology of poverty and to examine its implementation in church ministry as a prophetic and transformative effort in responding to social injustice. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach, it is concluded that the biblical basis of the theology of poverty shows God's concern for the poor, oppressed, and marginalised. In the context of church ministry, the dimension of the theology of poverty requires the church to not only play a spiritual role but also to face the challenges of social injustice with a prophetic attitude. Therefore, contextual and transformative implementation strategies are needed so that the church can bring God's love, justice, and solidarity into the lives of the community.AbstrakTeologi kemiskinan berangkat dari keyakinan bahwa Allah berpihak pada orang miskin dan tertindas, serta menuntut umat-Nya untuk menghadirkan keadilan di tengah dunia. Penelitian ini, gereja tidak cukup hanya memberitakan Injil secara verbal, tetapi juga dipanggil untuk menghidupi kasih Allah melalui tindakan nyata yang menyentuh persoalan ketidakadilan sosial. Raslitas menunjukkan bahwa kemiskinan bukan sekedar masalah ekonomi, melainkan terkait dengan struktur sosial, budaya, dan sistem yang timpang. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perspektif biblis tentang teologi kemiskinan serta mengkaji implementasinya dalam pelayanan gereja sebagai upaya profetis dan transformatif dalam menanggapi ketidakadilan sosial. Menggunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literature, maka disimpulkan bahwa landasan biblis teologi kemiskinan menunjukkan kepedulian Allah yang berpihak kepada orang miskin, tertindas, dan terpinggirkan. Dalam kerangka pelayanan gereja, dimensi teologi kemiskinan menuntut gereja untuk tidak hanya berperan secara spiritual, tetapi juga menghadapi tantangan ketidakadilan sosial dengan sikap profetis. Oleh karena itu, diperlukan strategi implementasi yang kontekstual dan transformatif, sehingga gereja mampu menghadirkan kasih, keadilan, dan solidaritas Allah dalam kehidupan masyarakat.
Pancasila dan Etis Teologis sebagai Basis Kepemimpinan Kristen bagi Reintegrasi Iman dan Identitas Kebangsaan Tatura, Suryadi Nicolaas Napoleon; Arifianto, Yonatan Alex
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 5, No 2 (2025): Didasko: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - Oktober 2025 (Still in Progress
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v5i2.213

Abstract

Pluralistic and dynamic national life is related to the relationship between Christian faith and Pancasila values. This has an impact on leadership, which experiences complex ethical and spiritual tensions. Moral shifts and the weakening of public leaders' integrity indicate a dissonance between religious values and national spirit. Meanwhile, Christian theology is often perceived as purely spiritual, without active involvement in social and national spheres. The phenomenon of increasing identity fragmentation and moral crisis among Christian leaders emphasises the importance of reconstructing a theological basis that can integrate faith and nationalism into a single, comprehensive ethical horizon. This study aims to reinterpret Pancasila as a space for theological dialogue that shapes Christian leadership based on theological ethics for the reintegration of faith and national identity. Using qualitative methods with a literature study approach, it was concluded that Pancasila has the potential as a theological and ethical space that enables Christian leadership rooted in the values of justice and humanity. Theological ethics has proven to be a moral foundation that guides Christian leaders to integrate faith with social and national responsibilities. Thus, Pancasila-based Christian leadership serves as a means of reintegrating faith and national identity in the praxis of Indonesian public life.AbstrakKehidupan berbangsa yang plural dan dinamis, terkait relasi antara iman Kristen dan nilai-nilai Pancasila. Berdampak pada kepemimpinan yang mengalami ketegangan etis dan spiritual yang kompleks. Pergeseran moral dan melemahnya integritas pemimpin publik menunjukkan terjadinya disonansi antara nilai-nilai iman dan semangat kebangsaan. Sementara itu, teologi Kristen kerap dipersepsikan hanya bersifat spiritual, tanpa keterlibatan aktif dalam ruang sosial dan nasional. Fenomena meningkatnya fragmentasi identitas dan krisis moral di kalangan pemimpin Kristen menegaskan pentingnya rekonstruksi basis teologis yang mampu mengintegrasikan iman dan nasionalisme dalam satu horizon etis yang utuh. Penelitian ini bertujuan untuk menafsirkan kembali Pancasila sebagai ruang dialog teologis yang membentuk  kepemimpinan Kristen berbasis etika teologis bagi reintegrasi iman dan identitas kebangsaan. Menggunkan metode kualitatif dengan pendekatan studi literature maka disimpulkan bahwa bahwa Pancasila memiliki potensi sebagai ruang teologis dan etis yang memampukan kepemimpinan Kristen berakar pada nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan. Etika teologis terbukti menjadi fondasi moral yang menuntun pemimpin Kristen untuk mengintegrasikan iman dengan tanggung jawab sosial dan kebangsaan. Dengan demikian, kepemimpinan Kristen berbasis Pancasila berperan sebagai sarana reintegrasi iman dan identitas kebangsaan dalam praksis kehidupan publik Indonesia.
Penginjilan Kontekstual: Membangun Jembatan antara Injil dan Budaya Lokal dalam Pelayanan Gereja di Papua Kreuta, Konstantina
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 5, No 2 (2025): Didasko: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - Oktober 2025 (Still in Progress
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v5i2.127

Abstract

Contextualised evangelism in Papua aims to build bridges between the gospel and local culture, integrating spiritual values with environmental concerns. This research uses a qualitative approach to explore the challenges and opportunities in adaptive evangelism, as well as its impact on church ministry. The results show that the church can respond to modern challenges by prioritising environmental conservation as part of the evangelistic mission. By incorporating local cultural values and eco-friendly practices, the church is not only a place of worship, but also an agent of social change. The findings confirm that nature conservation is seen as a spiritual responsibility, encouraging congregations to play an active role in environmental programmes. The use of local symbols and traditions in delivering the gospel message creates deep resonance and enhances the relevance of the Christian faith in Papuan society. The conclusions of this study affirm that contextual evangelism in Papua is an innovative model that strengthens the relationship between faith, culture, and social responsibility, so churches can create positive and sustainable impact in local communities.AbstrakPenginjilan kontekstual di Papua bertujuan membangun jembatan antara Injil dan budaya lokal, mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dengan kepedulian lingkungan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk mengeksplorasi tantangan dan peluang dalam penginjilan yang adaptif, serta dampaknya terhadap pelayanan gereja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gereja mampu merespons tantangan modern dengan mengedepankan pelestarian lingkungan sebagai bagian dari misi penginjilan. Dengan menggabungkan nilai budaya lokal dan praktik eco-friendly, gereja tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga agen perubahan sosial. Temuan ini menegaskan bahwa pelestarian alam dipandang sebagai tanggung jawab spiritual, mendorong jemaat untuk berperan aktif dalam program lingkungan. Penggunaan simbol dan tradisi lokal dalam penyampaian pesan Injil menciptakan resonansi yang mendalam dan meningkatkan relevansi iman Kristen di masyarakat Papua. Konklusi dari penelitian ini menegaskan bahwa penginjilan kontekstual di Papua merupakan model inovatif yang memperkuat hubungan antara iman, budaya, dan tanggung jawab sosial, sehingga gereja dapat menciptakan dampak positif dan berkelanjutan dalam komunitas lokal.
Eksposisi Kata “Sukacita” dan “Sorak Sorai” Menurut Mazmur 100:1-5 dan Implementasinya dalam Ibadah Orang Percaya Masa Kini Baskoro, Paulus Kunto; Andrian, Denis; Setiadi, Agus
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 5, No 2 (2025): Didasko: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - Oktober 2025 (Still in Progress
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v5i2.212

Abstract

The concept of worship in every church has different understandings and views. This affects how a servant and congregation can carry out a service properly. Each finds a different understanding based on Bible digging and a group's agreement on worship. However, many also view worship as a routine or ritual that is carried out in a rigid and serious manner and ignores the philosophy and essence of worship. This study uses a qualitative method with an expositional approach to the text of Psalm 100:1-5, especially in the words jubilation and rejoicing to find the principles that will be used in Biblical worship procedures. The principles found will become a basic material that will be extracted into a pattern or arrangement that is applied to worship. The goal is that every church that does not have a Biblical concept or procedure for worship can adopt and adapt it according to the needs and doctrines of each church. The result is that worship can run well with the right expression, the right implementation, and the right motivation.AbstrakKonsep ibadah dalam setiap masing-masing gereja punya pengertian dan pandangan yang berbeda-beda. Hal tersebut mempengaruhi bagaimana seorang pelayan dan jemaat dapat menjalankan suatu ibadah dengan benar. Masing-masing menemukan pengertian yang berbeda-beda berdasarkan penggalian Alkitab dan kesepakatan suatu kelompok dalam memandang ibadah. Namun, banyak juga yang pada akhirnya memandang ibadah sebagai suatu rutinitas atau ritual yang dilakukan dengan cara yang kaku, dan serius serta mengabaikan filosofi dan esensi dari ibadah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan eksposisi terhadap teks Mazmur 100:1-5 terutama pada kata jubilation dan rejoicing untuk menemukan prinsip-prinsip yang akan dipakai dalam tata cara ibadah yang Alkitabiah. Prinsip-prinsip yang ditemukan akan menjadi suatu bahan dasar yang akan diekstrak menjadi sebuah pola atau susunan yang diaplikasikan terhadap ibadah. Tujuannya ialah agar setiap gereja yang tidak memiliki konsep atau tata cara ibadah yang Alkitabiah dapat mengadposi dan mengadaptasi sesuai dengan kebutuhan dan doktrin gereja masing-masing. Hasilnya ialah ibadah dapat berjalan dengan baik dengan ekspresi yang tepat, implementasi yang pas, serta motivasi yang benar.
Analisis Fenomena Moral Minimalism Dalam Perspektif Apologetika Kristen Berdasarkan Galatia 5:13-15 Samadi, Agung Waluyo
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 5, No 2 (2025): Didasko: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - Oktober 2025 (Still in Progress
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v5i2.199

Abstract

Fenomena sosial masa kini memperlihatkan dominasi paham individualisme radikal yang menempatkan kebebasan sebagai hak mutlak tanpa tanggung jawab sosial. Prinsip yang kerap dihidupi generasi modern berbunyi: “selama saya tidak merugikan orang lain, saya bebas melakukan apa saja”. Pola pikir ini sejalan dengan harm principle yang dikemukakan John Stuart Mill, yang menjadikan kerugian orang lain sebagai satu-satunya batas moral dalam bertindak. Penelitian ini bertujuan menelaah fenomena moral minimalism yang berkembang dalam masyarakat Indonesia melalui lensa apologetika Kristen dengan menjadikan Galatia 5:13-15 sebagai dasar teologis untuk memahami hakikat kebebasan sejati. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif dan pendekatan kepustakaan dengan memanfaatkan sumber primer berupa Alkitab dan sumber sekunder dari literatur teologis, filosofis serta sosiologis yang relevan. Melalui analisis biblika dan refleksi apologetika, penelitian ini menelusuri bagaimana ajaran Paulus menantang pandangan etis modern yang hanya menuntut “tidak merugikan,” namun gagal melahirkan kasih.AbstrakContemporary society is increasingly shaped by a form of radical individualism that treats freedom as an absolute right detached from social responsibility. The prevailing moral attitude among modern generations can be summed up in the phrase, “as long as I do not harm others, I am free to do whatever I want.” This mindset echoes John Stuart Mill’s harm principle, which regards the avoidance of harm to others as the only moral boundary of human action.This study seeks to examine the phenomenon of moral minimalism in Indonesian society through the lens of Christian apologetics, focusing on Galatians 5:13-15 as a theological foundation for understanding the true nature of freedom. Employing a qualitative method and a library-based approach, the research draws upon primary sources from Scripture and secondary sources from theological, philosophical,and sociological literature. Through biblical and apologetic analysis, this study explores how Paul’s teaching challenges modern ethical reasoning that stops at the level of “not harming” yet fails to cultivate genuine love.