cover
Contact Name
HENDRIK LEGI
Contact Email
hendriklegi83@gmail.com
Phone
+62811484408
Journal Mail Official
jurnal.stakdw@gmail.com
Editorial Address
Jalan Patimura Kel. Wamena Kota Kec. Wamena Papua 99511
Location
Kab. jayawijaya,
P a p u a
INDONESIA
Jurnal DIDASKO
ISSN : 27765407     EISSN : 27765415     DOI : 10.52879/didasko
DIDASKO merupakan wadah untuk memublikasi hasil penelitian ilmiah para dosen di lingkungan Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora, Wamena - Papua dan institusi lain yang memiliki kajian ilmiah sebidang. Fokus dan Scope pada jurnal Didasko adalah: Pendidikan Agama Kristen Teologi Biblika Teologi Sistematika Teologi Praktis
Articles 65 Documents
Pendidikan Agama Kristen di Sekolah Berbasis Karakter Kasih Kenanga, Grace Putri; Susilo, Tinny Mayliasari; Fernando, Andreas
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 3, No 1 (2023): Pendidikan Agama Kristen dan Teologi - April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v3i1.89

Abstract

Kasih sangat penting dalam kehidupan orang Kristen. Kasih tidak hanya diungkapkan dengan kata-kata, tetapi juga melalui tindakan konkret. Tuhan sendiri memerintahkan orang percaya untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan pikiran dan mengasihi manusia seperti diri sendiri. Kasih inilah yang dibutuhkan dalam Pendidikan Agama Kristen. Kurangnya kasih dalam pendidikan telah mengakibatkan kurangnya rasa percaya diri, mudah putus asa, tidak memiliki daya juang, menjadi antisosial dan sebagainya. Melihat ini masalah, tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran penerapan Pendidikan Agama Kristen berbasis karakter kasih melalui penanaman pemahaman tentang kasih Kristus. Hal tersebut akan membentuk karakter anak yang penuh kasih, serta dapat mempraktikkan kasih dalam kehidupan. Metode penulisan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur. Hasil penulisan ini adalah perlunya kasih sebagai dasar Pendidikan Agama Kristen di sekolah. Pendidik merupakan pribadi yang penuh kasih, tujuan dan materi pembelajaran memuat capaian dan bahasan tentang kasih kepada Allah, sesama dan diri sendiri, metode pembelajaran untuk mempromosikan kasih, dan evaluasi pembelajaran berfokus pada perkembangan karakter kasih kepada anak.AbstractLove is very important in the life of Christians. Love is not only expressed in words, but also through concrete actions. God Himself commands believers to love God with all their heart and mind and to love humans as oneself. This love is what is needed in Christian Religious Education. Lack of love in education has resulted in a lack of self-confidence, easy to give up, lack of fighting spirit, become antisocial and so on. Seeing this problem, this paper aims to provide an overview of the implementation of Christian Religious Education based on the character of love through instilling an understanding of the love of Christ. This will form a child's character that is full of love, and can practice love in life. The writing method uses a qualitative method with a literature study approach. The result of this writing is the need for love as the basis for Christian Religious Education in schools. The educator is a loving person, the objectives and learning materials contain achievements and discussions about love for God, others and oneself, learning methods to promote love, and learning evaluation focuses on developing the character of love for children.
Penggunaan Video Dan Power Point Pembelajaran Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Pada Pelajaran Penddikan Agama Kristen Saingo, Yakobus Adi; Nenomnanu, Nida Yohana
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 3, No 2 (2023): Pendidikan Agama Kristen dan Teologi - Oktober 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v3i2.88

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan video dan power point untuk meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran pendidikan agama kristen kelas III di SDN Oebobo 2 Kupang. Metode yang diterapkan menggunakan pola penelitian tindakan kelas (PTK) dengan tahapan siklus terdiri dari beberapa kegiatan yang meliputi perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, dan observasi serta refleksi. Data akan dikumpulkan dari subjek penelitian yaitu siswa kelas iii sebanyak satu kelas berjumlah 24 orang yang terdiri dari 11 orang laki-laki dan 13 orang perempuan di SDN Negeri Oebobo 2 Kupang pada semester genap tahun pelajaran 2022/2023. Kriteria refleksi data-data atau batas target pencapaian peningkatan belajar siswa menggunakan kriteria: kriteria penilaian, rentang nilai kriteria 86–100 baik sekali, 70-85 baik, 60-69 cukup, 50-59 kurang, 0-49 kurang sekali. Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis secara deskriptif dengan memaparkan hasil serta pembahasan bahwa berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus, maka penggunaan video dan power point dapat meningkatkan motivasi belajar siswa terhadap mata pelajaran PAK kelas III di SDN Oebobo 2 Kupang sebab adanya peningkatan hasil belajar sebanyak 83.33%. Hasil belajar peserta didik mulai meningkat sejak siklus 1 yaitu 70.83%, dan siklus 22 yaitu 83.33 % dengan jumlah 24 siswa. Bahkan pada siklus 1 hasil yang diperoleh dari nilai keaktifan siswa sebesar 3,65 atau ada dalam tingkat sedang, dan pada siklus 22 hasil observasi  yang diperoleh dari nilai keaktifan siswa adalah sebesar 4,029 atau ada dalam tingkat tinggi.
Pandangan Alkitab Tentang Toleransi Damanik, Dapot; Simanjuntak, Michael; Sihombing, Grace; Sinaga, Sari Mutiara
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 3, No 2 (2023): Pendidikan Agama Kristen dan Teologi - Oktober 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v3i2.96

Abstract

Intolerance is a harmful behaviour that can threaten the continuity of harmonious life in society. In the context of Christianity, biblical views provide an understanding of intolerance and how to overcome such behaviour. This research aims to explore the biblical view of intolerance and provide solutions to overcome such behaviour. The research method used is a literature study by collecting references from the Bible and related sources. The results show that the Bible emphasises the importance of love, tolerance and humility in interacting with others. The solution to overcoming intolerance is by practising these values in daily life.AbstrakIntoleransi adalah perilaku yang merugikan dan dapat mengancam keberlangsungan kehidupan harmonis dalam masyarakat. Dalam konteks agama Kristen, pandangan Alkitab memberikan pemahaman tentang intoleransi dan bagaimana mengatasi perilaku tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pandangan Alkitab tentang intoleransi dan memberikan solusi untuk mengatasi perilaku tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dengan mengumpulkan referensi dari Alkitab dan sumber-sumber terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Alkitab menekankan pentingnya kasih, toleransi, dan kerendahan hati dalam berinteraksi dengan sesama. Solusi untuk mengatasi intoleransi adalah dengan mempraktikkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Yesus Memberi Makan Lima Ribu Orang: Kajian Model Pembelajaran Berbasis Masalah Warwer, Fredrik
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 3, No 2 (2023): Pendidikan Agama Kristen dan Teologi - Oktober 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v3i2.95

Abstract

The "problem-based learning model" is learning that uses problems as the core of learning, identifies relevant facts and analyzes problems. The Lord Jesus in His teaching also used problems in preaching the gospel, as in "Jesus fed the five thousand". This research aims to create a problem-based modeling of the biblical text Matthew 14:13-21 about “Jesus feeding five thousand people,” with research questions including: 1) what was Jesus' role as an instructor?; 2) what is the role of students as facilitators; and 3) what is the problem-based learning model in the context of “Jesus Feeding the Five Thousand?” This research uses a qualitative approach with phenomenological methods. In problem-based learning modeling, the selection of problems to be discussed is very important. Learning from Jesus who acted as an instructor and told His disciples to feed five thousand people, as an instructor Jesus set an example and example in solving and solving problems. The disciples acted as facilitators and ministered to the five thousand people present at the time. This research can contribute to profiding an alternative study model in understanding the text of the Bible.
Implementasi Program Bina Keluarga Di Jemaat Gpi Papua Imanuel Danaweria Fakfak Ohoiner, Holly Desemrine; Ngabalin, Ngabalin; Rewasan, Ruben; Camerling, Lindra Yolanda
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 3, No 2 (2023): Pendidikan Agama Kristen dan Teologi - Oktober 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v3i2.91

Abstract

The family development program is a form of formation for church members. This formation starts from the family where parents provide spiritual formation for their children in the form of family worship. Within the scope of GPI Papua's services in general and the GPI Papua Imanuel Werba congregation in particular, family development is not a congregational service program but rather was born from the awareness of the congregation to do so.This research aims to describe the congregation members' understanding of the family development program at the GPI Papua Imanuel Danaweria congregation; Describe the Implementation of Family Development in the GPI Papua Congregation Imanuel Danaweria; Mention factors inhibiting the progress of family development in the family;Describes the impact of the family development program in the GPI Papua Congregation Imanuel Danaweria.The research results show that family development is development that is centered on family development. Providing knowledge of the Christian faith for children, forming and developing the attitudes and character of family members to live according to their faith and the family to live happily and in harmony. Family formation is carried out in the form of family worship on Saturdays in every Christian family in the congregation or known as family worship. Where the father is the leader and main person responsible for the service because it includes not only the ministry of the word but also advice and upbringing given by the head of the family to both wife and children or parents to children. Family formation is carried out in the form of family worship on Saturdays in every Christian family in the congregation or is known as the key family service. Where the father is the leader and main person responsible for the service because it includes not only the ministry of the word but also advice and upbringing given by the head of the family to both wife and children or parents to children. This family development does not run completely because there are factors that hinder the progress of the Binakel worship, namely the work factor of each family member, social factors so that some children are not actively involved in worship and the factor of laziness from within. family members to perform the prayer. The impact of family development shapes the character of family members so they are better able to implement their faith in God in the realities of everyday lifeAbstrakProgram bina keluarga merupakan salah satu bentuk pembinaan warga gereja. Pembinaan tersebut dimulai dari keluarga di mana orang tua melakukan pembinaan spiritual bagi anak-anak dalam bentuk ibadah keluarga. Dalam lingkup pelayanan GPI Papua secara umum dan jemaat GPI Papua Imanuel Danaweria secara khusus bina keluarga tersebut tidak menjadi program pelayanan jemaat melainkan lahir dari kesadaran umat untuk melakukannya. Penelitian ini bertujuan untuk Mendeskripsikan pemahaman warga jemaat tentang program Bina keluarga di Jemaat GPI Papua Imanuel Danaweria; Mendeskripsikan Implementasi Bina keluarga di Jemaat GPI Papua Imanuel Danaweria; Menyebutkan faktor penghambat jalannya Bina keluarga dalam keluarga; Menguraikan dampak program Bina keluarga di Jemaat GPI Papua Imanuel Danaweria. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bina keluarga merupakan pembinaan yang berpusat pada pembinaan keluarga. Memberi pengetahuan iman Kristen bagi anak, membentuk dan membina sikap dan karakter anggota keluarga untuk hidup sesuai dengan imannya dan keluarga hidup Bahagia dan rukun. Bina keluarga yang dilakukan dalam bentuk ibadah keluarga pada hari sabtu di setiap keluarga Kristen di jemaat atau dikenal ibadah kunci usbuh keluarga. Di mana bapak menjadi pemimpin dan penanggung jawab utama dalam ibadah tersebut sebab di dalamnya tidak hanya ada pelayanan firman tetapi juga nasihat dan didikan yang diberikan oleh kepala keluarga baik bagi istri dan anak-anak atau orang tua kepada anak. Bina keluarga ini tidak berjalan sepenuhnya dikarenakan ada faktor yang menghambat jalannya ibadah Binakel yaitu faktor pekerjaan dari masing-masing anggota keluarga itu sendiri, faktor pergaulan sehingga anak ada yang tidak terlibat secara aktif dalam ibadah serta faktor kemalasan dari dalam diri anggota keluarga untuk melakukan ibadah tersebut. Dampak dari bina keluarga tersebut membentuk karakter anggota keluarga menjadi lebih dapat mengimplementasikan iman percayakan kepada Tuhan dalam realitas hidup setiap hari. 
Mereduksi Banalitas Moral dan Karakter Pemimpin Kristen: Studi Kepemimpinan Ahab dalam 1 Raja-raja 21 Arifianto, Yonatan Alex
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 3, No 2 (2023): Pendidikan Agama Kristen dan Teologi - Oktober 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v3i2.94

Abstract

Leadership that is corrupt and very far from the truth and evil before God but is considered normal in the reign of King Ahab as written in 1 Kings, this crime which is considered normal presents a prophetic voice where Elisha pronounces punishment for Ahab, through the story of Ahab and Jezebel Christian leadership studies to be able to reduce the moral banality and character of Christian leaders as a study of Ahad and Izabel's leadership in 1 Kings 21. Using descriptive qualitative research methods with a literature study approach, it can be concluded that reducing the moral banality and character of Christian leaders as a study of Ahad and Izabel leadership Izabel in 1 Kings 21 Christian leadership needs to know the nature of moral banality and deviant character, which greatly influences the leader's life. Through studying the history of the journey of evil kings Ahab and Jezebel in leadership case studies can be a parameter for not falling into moral banality and evil character. And what is expected in the actualization of contemporary Christian leadership is to strengthen moral education and the formation of good character. In addition, Christian leaders also need to strengthen their relationship with God and deepen their faith to strengthen morality and integrity in their actions and decisions. Thus, the leadership study of Ahab and Izabel can be a lesson for Christian leaders to avoid moral banality and deviant character.AbstrakKepemimpinan yang rusak dan sangat jauh dari kebenaran serta jahat di hadapan Tuhan namun dianggap wajar terjadi dalam pemerintahan raja Ahab yang tertulis dalam 1 Raja-raja, kejahatan yang dianggap lumrah itu menghadirkan suara kenabian di mana Elisa menyatakan hukuman bagi Ahab, lewat kisah Ahab dan Izebel kepemimpinan Kristen belajar untuk dapat mereduksi banalitas moral dan karakter pemimpin Kristen sebagai studi kepemimpinan Ahab dan izabel dalam 1 Raja-raja 21. Menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literature maka dapat disimpulkan bahwa mereduksi banalitas moral dan karakter pemimpin Kristen sebagai studi kepemimpinan Ahab  dalam 1 Raja-raja 21 kepemimpinan Kristen perlu mengetahui hakikat banalitas moral dan karakter yang menyimpang, yang mana hal ini sangat memengaruhi kehidupan pemimpin. Lewat pembelajaran sejarah perjalanan raja jahat Ahab dan Izebel dalam studi kasus kepemimpinan dapat menjadi parameter untuk tidak terjerumus dalam banalitas moral dan karakter jahat. Dan yang diharapkan dalam aktualisasi kepemimpinan Kristen masa kini untuk memperkuat pendidikan moral dan pembentukan karakter yang baik. Selain itu, pemimpin Kristen juga perlu memperkuat hubungan dengan Tuhan dan memperdalam iman mereka untuk memperkuat moralitas dan integritas dalam tindakan dan keputusan mereka. Dengan demikian, studi kepemimpinan Ahab dan Izebel dapat menjadi pelajaran bagi pemimpin Kristen untuk menghindari banalitas moral dan karakter yang menyimpang. 
Analisis Pengaruh Doa Pribadi terhadap Kesungguhan Ibadah Anggota Jemaat Gereja Masihi Advent Hari Ketujuh Tembagapura Sitanggang, Yan Adecco Michael; Hutagalung, Stimson
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4, No 1 (2024): Teologi dan Pendidikan Kristen (April 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v4i1.114

Abstract

This research examines the influence of personal prayer on the earnestness of collective worship among members of the Seventh-Day Adventist Church of Tembagapura congregation. It delves into the critical role of personal prayer as a form of personal devotion in fostering a deeper, more genuine engagement in communal worship activities. Through quantitative research employing a descriptive framework, the investigation surveys 58 congregational members, incorporating demographic analysis and exploring their perceptions of personal prayer and its impact on worship earnestness. Findings reveal a significant correlation between consistent personal prayer practices and enhanced fervor in collective worship, underscoring the importance of individual spiritual disciplines in enriching communal worship experiences. This research provides practical insights for enhancing worship engagement through focused personal prayer, contributing to a more profound and integrated collective worship experience.AbstrakPenelitian ini mengeksplorasi pengaruh doa pribadi terhadap kesungguhan ibadah bersama di kalangan anggota jemaat Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Tembagapura. Kajian ini menggali peranan penting doa pribadi sebagai bentuk ibadah personal dalam memperdalam keterlibatan yang lebih tulus dalam aktivitas ibadah komunal. Melalui penelitian kuantitatif dengan kerangka deskriptif, penelitian ini menyurvei 58 anggota jemaat, meliputi analisis demografis dan mengeksplorasi persepsi mereka mengenai doa pribadi dan dampaknya terhadap kesungguhan ibadah. Temuan menunjukkan adanya  keterkaitan antara praktik doa pribadi yang konsisten dan peningkatan semangat dalam ibadah bersama, menekankan pentingnya disiplin spiritual individu dalam memperkaya pengalaman ibadah bersama. Penelitian ini memberikan wawasan praktis untuk meningkatkan keterlibatan ibadah melalui doa pribadi yang fokus, berkontribusi pada pengalaman ibadah kolektif yang lebih dalam dan terpadu.
Studi Analisis Makna "Merdeka" Menurut Surat Galatia Dan Implementasinya Bagi Orang Percaya Masa Kini Baskoro, Paulus Kunto
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4, No 1 (2024): Teologi dan Pendidikan Kristen (April 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v4i1.111

Abstract

Many believers today are still trapped in living with the customs that apply in a culture or human regulations. So even though you believe in Jesus, you are still bound by the old human way of life. Makes the life of every believer not experience true freedom. In fact, Jesus' sacrifice and redemption perfected life as a whole. That is why the Letter of Galatians is an important reference for analyzing the life of a believer who is free in Christ as a whole, so that life does not depend on customs. As Paul stated, a person who obeys the law is like a slave who is enslaved. Therefore, freedom becomes one of the central teachings of Galatians. This research uses descriptive qualitative methods. The purpose of this writing is, first, to explain the biblical principle of independence. Second, emphasizing the concept of independence in the implementation of the lives of believers today, so that believers' lives are not bound by human customs.AbstrakBanyak orang percaya masa kini masih terjebak dengan kehidupan dengan tata adat istiadat yang berlaku dalam sebuah kebudayaan atau peraturan-peraturan manusia. Sehingga meskipun sudah percaya Yesus, namun masih terikat dengan tata cara hidup manusia lama. Membuat kehidupan setiap orang percaya tidak mengalami kemerdekaan yang sesungguhnya. Padahal pengorbanan dan penebusan Yesus menyempurnakan kehidupan secara utuh. Itu sebabnya Surat Galatia menjadi acuan penting untuk menganalisis kehidupan orang percaya yang merdeka dalam Kristus secara utuh, sehingga hidup tidak tergantung kepada adat istiadat. Seperti yang dinyatakan Paulus, orang yang melakukan hukum Taurat ibarat seorang hamba yang diperbudak. Maka dari itu kemerdekaan menjadi salah satu pusat ajaran dari surat Galatia ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskritif. Tujuan dari penulisan ini, Pertama, menjelaskan prinsip merdeka yang biblical. Kedua, menekankan konsep merdeka dalam implementasi kehidupan orang percaya masa kini, sehingga hidup orang percaya tidak terikat dengan adat istiadat manusia.
Tinjauan Kewirausahaan Menurut Kisah Para Rasul 18:3 untuk Menunjang Pelayanan Hamba Tuhan Masa Kini Karamoy, Ilona Olvy; Goni, Moody Daniel; Alexander, Abiyah Elia
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4, No 1 (2024): Teologi dan Pendidikan Kristen (April 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v4i1.112

Abstract

Paul's principle of ministry was unique because he was different from the other apostles. One of these differences can be seen when he emphasized that as an evangelist he did not want to burden the churches he served. He was also firm in not accepting any reward for his preaching even though he was entitled to it. The purpose of this study is that the church has an important role in helping to liberate people and bring them to a prosperous life, including in the economic field. Using a descriptive qualitative method, it can be concluded that it is important for the church to understand the biblical principles of entrepreneurship. Acts 18 shows that the apostle Paul is an example of an evangelist and entrepreneur who provides lessons on creativity, innovation, and hard work in overcoming economic challenges. The implication is that the church should provide clear teaching on the principles of economic ethics and business morals and model the application of entrepreneurial principles inspired by Paul.AbstrakPrinsip pelayanan Paulus sangat unik karena ia berbeda dengan rasul-rasul yang lain. Salah satu perbedaan ini bisa dilihat ketika ia menegaskan bahwa sebagai seorang penginjil ia tidak mau membebani jemaat yang dilayani. Ia juga tegas untuk tidak menerima imbalan apapun atas pemberitaan Injil yang dilakukannya meskipun sebenarnya ia berhak untuk itu. Tujuan dari penelitian ini gereja memiliki peran penting dalam membantu membebaskan manusia dan membawa mereka ke kehidupan yang sejahtera, termasuk dalam bidang ekonomi. Mengunakan metode kualitatif deskritif maka dapat disimpulkan bahwa Penting bagi gereja untuk memahami prinsip-prinsip alkitabiah tentang kewirausahaan. Kisah Para Rasul 18 menunjukkan bahwa rasul Paulus adalah contoh penginjil dan wiraswasta yang memberikan pelajaran tentang kreativitas, inovasi, dan kerja keras dalam mengatasi tantangan ekonomi. Implikasinya adalah gereja harus memberikan pengajaran yang jelas mengenai prinsip-prinsip etika ekonomi dan moral bisnis serta memberikan teladan dalam penerapan prinsip-prinsip kewirausahaan yang diilhami oleh Paulus.
Paradigma Biblika, Teologis dan Ontologis Mengenai Perintisan Jemaat Mawikere, Marde Christian Stenly; Hura, Sudiria; Legi, Hendrik
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4, No 1 (2024): Teologi dan Pendidikan Kristen (April 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v4i1.105

Abstract

This research explores the fundamental differences between the concept of Church Planting and general approaches in contemporary church growth. The article highlights that church planting is driven by strong theological principles, putting church ontology as the cornerstone. It is presented that hermeneutics must precede methodology, and theology must precede anthropology. Readers are invited to explore the deeper and scholarly dimensions of Church Planting. Church planting involves planting congregations and emphasizing the ontological dimension closely related to evangelism, in accordance with biblical teachings. Qualitative research with a hermeneutic approach and theological studies reveals that the ontology of church planting is derived from the Bible, involving a proper understanding of church doctrine. This article makes an important contribution to the scholarly discourse on church planting, discussing theological, ontological, and finally methodological aspects as implications. This article makes an important contribution to the scholarly discourse on church planting, discussing theological, ontological, and finally methodological aspects as implications. The novelty of this study lies in an approach that emphasizes a deeper understanding of the concept of church planting, distinguishes it from the general approach to church growth, and highlights the urgency of church ontology as the main foundation in church planting, which then has implications in the methodology and practice of church evangelism.AbstrakPenelitian ini mengeksplorasi perbedaan fundamental antara konsep Perintisan Jemaat dan pendekatan umum dalam pertumbuhan gereja kontemporer.. Artikel menyoroti bahwa perintisan jemaat didorong oleh prinsip-prinsip teologi yang kuat, mengedepankan ontologi gereja sebagai landasan utama. Disajikan bahwa hermeneutik harus mendahului metodologi, dan teologi harus mendahului antropologi. Pembaca diundang untuk menjelajahi dimensi lebih mendalam dan ilmiah terkait Perintisan Jemaat. Perintisan jemaat melibatkan upaya menanam jemaat dan menekankan dimensi ontologis terkait erat dengan penginjilan, sesuai dengan ajaran Alkitab. Penelitian kualitatif dengan pendekatan hermeneutik dan kajian teologis mengungkapkan bahwa ontologi perintisan jemaat bersumber dari Alkitab, melibatkan pemahaman doktrin gereja yang tepat. Artikel ini memberikan kontribusi penting dalam wacana ilmiah mengenai perintisan jemaat, membahas aspek teologis, ontologis, dan terakhir aspek metodologis sebagai implikasinya. Artikel ini memberikan kontribusi penting dalam wacana ilmiah mengenai perintisan jemaat, membahas aspek teologis, ontologis, dan terakhir aspek metodologis sebagai implikasinya. Kebaharuan dari penelitian ini terletak pada pendekatan yang menekankan pemahaman yang lebih dalam terhadap konsep perintisan jemaat, membedakannya dari pendekatan umum dalam pertumbuhan gereja, serta menyoroti urgensi ontologi gereja sebagai landasan utama dalam perintisan jemaat, yang kemudian membawa implikasi dalam metodologi dan praktik penginjilan gereja.