cover
Contact Name
HENDRIK LEGI
Contact Email
hendriklegi83@gmail.com
Phone
+62811484408
Journal Mail Official
jurnal.stakdw@gmail.com
Editorial Address
Jalan Patimura Kel. Wamena Kota Kec. Wamena Papua 99511
Location
Kab. jayawijaya,
P a p u a
INDONESIA
Jurnal DIDASKO
ISSN : 27765407     EISSN : 27765415     DOI : 10.52879/didasko
DIDASKO merupakan wadah untuk memublikasi hasil penelitian ilmiah para dosen di lingkungan Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora, Wamena - Papua dan institusi lain yang memiliki kajian ilmiah sebidang. Fokus dan Scope pada jurnal Didasko adalah: Pendidikan Agama Kristen Teologi Biblika Teologi Sistematika Teologi Praktis
Articles 65 Documents
Peran Gembala dalam Membimbing Jemaat di Tengah Tantangan Era Globalisasi: Refleksi dari 2 Timotius 2:14-26 Sugiono, Sugiono
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 5, No 1 (2025): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v5i1.26

Abstract

The era of globalization brings various challenges to the church, especially in terms of the spiritual identity of the congregation and the integrity of the Christian faith. This study aims to examine the role of church pastors in guiding the congregation amidst these challenges, based on reflections on 2 Timothy 2:14-26. The research method used is a qualitative approach with a study of the Bible text and lexical analysis of relevant verses, as well as a literature review of theological literature that discusses church leadership and the challenges of globalization. This study found that pastors are expected to maintain the spiritual resilience of the congregation, teach a deep understanding of pluralism and relativism, and direct the congregation to the true truth through loving, patient, and understanding teaching. This study emphasizes that the role of pastors is very important in maintaining the integrity of the congregation's faith amidst globalization, while strengthening the unity and loyalty of the congregation to the truth of the Gospel.AbstrakEra globalisasi membawa berbagai tantangan bagi gereja, terutama dalam hal identitas rohani jemaat dan integritas iman Kristen. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran gembala gereja dalam membimbing jemaat di tengah tantangan tersebut, berdasarkan refleksi dari 2 Timotius 2:14-26. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi teks Alkitab dan analisis leksikal terhadap ayat-ayat yang relevan, serta kajian pustaka dari literatur teologi yang membahas kepemimpinan gereja dan tantangan globalisasi. Penelitian ini menemukan bahwa gembala diharapkan untuk menjaga ketahanan rohani jemaat, mengajarkan pemahaman yang mendalam mengenai pluralisme dan relativisme, serta mengarahkan jemaat kepada kebenaran yang sejati melalui pengajaran yang penuh kasih, sabar, dan pengertian. Penelitian ini menekankan bahwa peran gembala sangat penting dalam menjaga integritas iman jemaat di tengah globalisasi, sekaligus memperkuat persatuan dan kesetiaan jemaat terhadap kebenaran Injil.
Kajian Antropologi Dalam Perspektif Iman Kristen Dengan Keyakinan Adanya Kebangkitan Tubuh Dameirianto, Yohanes Damacinus Kartika; Mangoli, Yefta Yan
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 5, No 1 (2025): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v5i1.169

Abstract

This article presents a discussion of human fragility in Christian epistemology, especially after the fall of the first human into sin and inherited in human life from generation to generation. Sin has made humans walk out of the path desired by God as a representative of God through the human body. Through the recognition of the restoration that comes from God, humans are expected to remain faithful in having hope for God's promises. By using a library method approach in anthropological research in the perspective of Christian faith with the belief in the resurrection of the body. The author tries to synthesize understanding, first to gain a correct understanding of the origin of human existence in answering the theory of evolution, second about humans falling into sin which resulted in their normal origin becoming abnormal as humans, third about God who by grace in His justice and mercy, has granted salvation to humans, and fourth about the resurrection of the body that brings every believer to live in eternity in Jesus Christ.AbstrakArtikel ini menampilkan pembahasan mengenai kerapuhan manusia di dalam epistemologis Kristen, terutama pasca kejatuhan manusia pertama ke dalam dosa dan mewariskan dalam kehidupan manusia turun-temurun. Dosa telah membuat manusia berjalan keluar dari jalur yang diinginkan Allah sebagai representative Allah melalui tubuh manusia. Melalui pengenalan akan pemulihan datang dari Allah, manusia diharapkan tetap setia dalam memiliki pengharapan akan janji-janji Allah.  Dengan menggunakan pendekatan metode kepustakaan dalam penelitian kajian antroplogi dalam perspektif iman Kristen dengan keyakinaan kebangkitan tubuh. Penulis mencoba mensintesakan pemahaman,  pertama untuk memperoleh pemahaman yang benar tentang asal-usul eksistensi manusia dalam menjawab teori evolusi, kedua mengenai manusia jatuh di dalam dosa yang mengakibatkan asalinya yang normal menjadi abnormal sebagai manusia, ketiga mengenai Allah yang oleh kasih karunia di dalam keadilan dan kerahiman-Nya, telah menganugerahkan keselamatan bagi manusia, dan keempat mengenai kebangkitan tubuh yang membawa setiap orang percaya untuk hidup dalam kekekalan di dalam Yesus Kristus.
Relational Discipleship in a Disruptive Era: Empowering the Young Generation to Navigate Moral Challenges Saptorini, Sari; Suryadi, Devina Herfiantika; Arifianto, Yonatan Alex
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 5, No 1 (2025): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v5i1.162

Abstract

This journal article explores the concept of relational discipleship as a vital approach for empowering the younger generation to navigate the challenges posed by the era of disruption. Characterized by rapid technological advancements and significant shifts in social dynamics, this era presents numerous obstacles, including moral decline, identity crises, and negative behaviors linked to excessive technology use. The article emphasizes the importance of relational discipleship, which fosters intimate relationships between leaders and youth, facilitating spiritual growth and resilience. By implementing practical strategies such as modeling behavior, encouraging open dialogue, and involving youth in ministry leaders can effectively guide young individuals toward spiritual maturity and adherence to the truths of God's Word. Ultimately, relational discipleship emerges as a crucial means for equipping the younger generation to face the complexities of contemporary life with wisdom and grace, enabling them to embody the values of faith and integrity in a disruptive world.
Creation And The Theology Of Relationship As A Fundamental Theme In The Old Testament Mawikere, Marde Christian Stenly; Hura, Sudiria
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 5, No 1 (2025): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v5i1.157

Abstract

This article explores creation and the theology of the God-Humanity-Creation relationship in the Old Testament, highlighting key elements such as the theology of perichoresis, the origin of the human body from the earth (adamah, אֲדָמָה), and the state of creation before and after humanity’s fall. It also examines the consequences of communal transgression and God's promise of restoration. By employing qualitative hermeneutical methods through biblical text analysis and theological literature studies, this study affirms that the work of restoration is a divine initiative aimed at re-establishing harmonious relationships between humanity, creation, and the Creator. This research offers new insights into the significance of restoration within the framework of creation and humanity’s responsibility as stewards of creation, while also presenting hope for the renewal of all creation. The conclusion of this study emphasises that the restoration of the God-Humanity-Creation relationship in the Old Testament is a divine initiative intended to restore the harmony of creation following humanity’s fall. By highlighting the concept of the theology of perichoresis, the origin of humanity from the earth (אֲדָמָה, adamah), and the impact of the fall on creation, this research asserts that restoration is not merely a promise but an ongoing part of God’s plan. Moreover, this study underscores humanity’s role as stewards of creation and provides theological insights into the hope of renewal for all creation in light of God’s redemptive work.
Perspektif Integritas Atas Finansial: Bendahara Tidak Jujur Menurut Lukas 16:1-18 Susanto, Budi; Baskoro, Paulus Kunto
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 5, No 1 (2025): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v5i1.160

Abstract

Financial integrity is important in everyday life, both in the context of education, work, family and spirituality. In the teachings of the Lord Jesus also emphasized the importance of the ability to manage finances well for Christians. One of God's teachings is found in the Gospel of Luke 16:1-18 regarding financial integrity, which is compared to a dishonest treasurer. This research aims to combine positive concepts that can be learned from the parable of the dishonest treasurer in Luke 16:1-18 with a focus on financial integrity in the teachings of Jesus and individual responsibility in managing finances. The research method used is a descriptive qualitative approach by interpreting literally and theologically to reveal the meaning of this parable. Priority in service to God is also emphasized, along with the principle of community in a financial context. The resume of this research emphasize the integration of religious values in financial management, while the practical implications include wise financial planning and the development of economic solidarity within the community.AbstrakIntegritas finansial merupakan hal penting dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam konteks pendidikan, pekerjaan, keluarga, maupun spiritualitas. Dalam ajaran Tuhan Yesus juga menekankan pentingnya kemampuan mengelola keuangan dengan baik bagi orang Kristen. Salah satu ajaran Tuhan terdapat pada injil Lukas 16:1-18 berkaitan dengan integritas keuangan yang diperumpamakan dengan bendahara yang tidak jujur. Penelitian ini bertujuan untuk menggabungkan konsep-konsep positif yang dapat dipelajari dari perumpamaan bendahara tidak jujur dalam Lukas 16:1-18 dengan fokus pada integritas keuangan dalam ajaran Yesus dan tanggung jawab individu dalam mengelola keuangan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskritif dengan menafsirkan secara literal dan teologis untuk mengungkap makna perumpamaan ini. Prioritas dalam pelayanan kepada Tuhan juga ditekankan, seiring dengan prinsip komunitas dalam konteks finansial. Kesimpulan penelitian ini menekankan integrasi nilai-nilai agama dalam pengelolaan keuangan, sementara implikasi praktisnya mencakup perencanaan keuangan yang bijaksana dan pengembangan solidaritas ekonomi dalam komunitas.
Mengulik Kiat Gereja Dalam Menyiapkan Generasi Muda Matang Secara Finansial: Sebuah Pembelajaran Penting Dari Kisah Hidup Yusuf Hutapea, Sophia Maranatha; Hastuti, Ruwi
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 5, No 1 (2025): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v5i1.163

Abstract

The church has an important role in preparing its young generation to be financially mature because this will have an impact on preventing the young generation from becoming a burden on their families, increasing their opportunities to contribute more to society, and socio-economically, the church's next generation will of course be of higher quality. This article aims to explore the church in preparing its young generation to be financially mature, referring to important lessons from Joseph's life story. The method used in this research is descriptive qualitative and literature review. This article highlights the importance of the younger generation being financially prepared, important lessons for managing finances from Joseph's life story, and the church strategies in preparing young people to be financially mature. It was concluded that the church will be optimal in preparing its young generation to be financially mature when teaching modeling of financial use, increasing financial training seminars, developing a culture of saving, and educating its young generation to invest.AbstrakGereja memiliki peran penting untuk mempersiapkan generasi mudanya matang secara finansial, tentunya hal ini akan berdampak pada menghindarkan generasi muda tersebut menjadi beban bagi keluarganya, memperbesar peluang mereka untuk lebih berkontribusi di masyarakat, dan secara sosial ekonomi pun generasi penerus gereja akan lebih berkualitas. Artikel ini bermaksud mengulik kiat gereja dalam menyiapkan generasi mudanya matang secara finansial merujuk pada pembelajaran penting dari kisah hidup Yusuf. Metode yang digunakan dari penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dan kajian literatur. Artikel ini menyoroti pentingnya generasi muda dipersiapkan secara finansial, berbagai pembelajaran penting mengelola keuangan dari kisah hidup Yusuf, serta kiat gereja dalam mempersiapkan anak mudanya yang matang secara finansial. Disimpulkan bahwa gereja akan maksimal dalam menyiapkan  generasi mudanya matang secara finansial ketika mengajarkan modeling penggunaan keuangan, memperbanyak seminar pelatihan finansial, mengembangkan budaya menabung, dan mendidik gererasi mudanya untuk berinvestasi.
Supremasi Kristus Sebagai Arah Liturgi Karismatik: Perspektif Paulus Dalam Filipi 2:9-11 Gunawan, Albert Ian; Yuono, Yusup Rogo
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 5, No 2 (2025): Didasko: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - Oktober 2025 (Still in Progress
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v5i2.201

Abstract

The background of this study arises from the phenomenon of worship in charismatic churches, which is known to be expressive, interactive, and dynamic, yet often places greater emphasis on the emotional experiences of the congregation rather than on a theological understanding centered on Christ. The main issue examined in this research is how the direction of charismatic liturgy can be redirected to the true essence of worship, namely being centered on the person and the saving work of Christ as affirmed in Philippians 2:9–11. The theory used in this study is Christology, particularly the understanding of the supremacy of Christ, which emphasizes that Christ is exalted and holds supreme authority as the center of the church’s worship. The research method employed is a qualitative approach using biblical exegesis and theological analysis, combined with a literature review on charismatic liturgy. The results of the study show that the supremacy of Christ must become the theological foundation of charismatic liturgy so that music, prayer, and preaching are directed not merely to build emotional experiences but to cultivate the congregation’s awareness that worship is an act of faith that glorifies Christ as Lord who reigns over all creation.AbstrakLatar belakang dari penelitian ini berangkat dari fenomena ibadah dalam gereja karismatik yang dikenal ekspresif, interaktif, dan dinamis, namun sering kali lebih menekankan pada pengalaman emosional jemaat daripada penghayatan teologis yang berpusat pada Kristus. Permasalahan utama yang dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana arah liturgi karismatik dapat diarahkan kembali pada esensi ibadah yang sejati, yakni berpusat pada pribadi dan karya keselamatan Kristus sebagaimana ditegaskan dalam Filipi 2:9–11. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kristologi, khususnya pemahaman tentang supremasi Kristus, yang menegaskan bahwa Kristus dimuliakan dan memiliki otoritas tertinggi sebagai pusat penyembahan gereja. Penelitian ini bertujuan untuk untuk memahami bagaimana seharusnya ibadah yang eksprsif, dinamis dan interaktif dilaksanakan dengan pemahaman teologis yang benar. Metode penelitian yang dipakai adalah pendekatan kualitatif dengan eksegesis teks Alkitab dan analisis teologis yang dipadukan dengan studi pustaka mengenai liturgi karismatik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa supremasi Kristus harus menjadi dasar teologis dalam liturgi karismatik, sehingga musik, doa, dan khotbah diarahkan bukan untuk membangun pengalaman emosional semata, melainkan untuk membentuk kesadaran jemaat bahwa ibadah adalah respons iman yang memuliakan Kristus sebagai Tuhan yang berkuasa atas seluruh ciptaan.
Didaskalia: Pendidikan Kristen Di Dalam Keluarga Bagi Anak Berakar, Bertumbuh Dan Berbuah Di Era Digital Amanit, Jeki Sepriandi; Willyam, Verry
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 5, No 2 (2025): Didasko: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - Oktober 2025 (Still in Progress
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v5i2.175

Abstract

This article discusses the development of the digital age through Christian education in the family, which plays a crucial role in shaping children's character and spirituality. The concept of Didaskalia, which emphasizes spiritual teaching and guidance, is the main foundation in guiding children to take root, grow, and bear fruit in faith. Digital technology provides both opportunities and challenges in children's faith education, as it can distract them from spiritual aspects. Therefore, an appropriate strategy is needed to integrate technologywith Christian education, such as the use of interactive Bible applications, educational content based on faith values, and character building through family discussions. This study uses an analytical approach with a literature review method to explore the role of the family in instilling faith values in the digital age. The findings of the study state that Christian education in the family has a major influence where it must be carried out holistically, covering intellectual, moral, emotional, and spiritual aspects, with parents as the main role models. When the principle of Didaskalia is applied in family life, children can grow with a strong personality and firm faith amidst changing times and facing the increasingly rapid pace of digitalization.AbstrakArtikel ini membahas mengenai perkembangan era digital melalui pendidikan Kristen dalam keluarga yang berperan krusial dalam membentuk karakter serta spiritualitas anak. Konsep Didaskalia, yang menekankan pengajaran dan pembinaan rohani, menjadi fondasi utama dalam membimbing anak agar berakar, bertumbuh, dan berbuah dalam iman. Teknologi digital memberikan peluang sekaligus tantangan dalam pendidikan iman anak, karena dapat mengalihkan perhatian mereka dari aspek spiritual. Oleh sebab itu, dibutuhkan strategi yang tepat dalam mengintegrasikan teknologi dengan pendidikan Kristen, seperti pemanfaatan aplikasi Alkitab interaktif, konten edukatif berbasis nilai-nilai iman, serta penguatan karakter melalui diskusi keluarga. Studi ini menggunakan pendekatan analitis dengan metode studi pustaka untuk mengeksplorasi peran keluarga dalam menanamkan nilai-nilai iman di era digital. Temuan penelitian menyatakan bahwa pendidikan Kristen dalam keluarga mempunyai pengaruh besar dimana harus dilakukan secara holistik, mencakup aspek intelektual, moral, emosional, dan spiritual, dengan orang tua sebagai teladan utama. disaat prinsip Didaskalia diterapkan dalam kehidupan keluarga, maka anak-anak dapat bertumbuh dengan kepribadian yang kuat dan keyakinan yang kokoh di tengah perubahan zaman dan menghadapi arus digitalisasi yang semakin cepat.
Teologi Kristen dan Tantangan Etis dari Budaya Viral Challenge di Ruang Virtual Rahayu, Yohana Fajar; Sumual, Elisa Nimbo
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 5, No 2 (2025): Didasko: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - Oktober 2025 (Still in Progress
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v5i2.198

Abstract

The development of digital culture has given rise to the phenomenon of viral challenges, which have not only become an entertainment trend but also shaped the mindset and behaviour of contemporary society. This dynamic has had a significant impact on moral values, particularly when the challenges that circulate normalise risky behaviour and erode norms of propriety. The massive viral challenge phenomenon in virtual space reveals an ambivalence between positive creativity and the potential for moral degradation due to the removal of cultural and religious norms. The purpose of this study is to examine the ethical challenges of viral challenge culture from a Christian theological perspective and to formulate its implications for the life of faith. Using a qualitative method based on literature study with theological-ethical analysis of contemporary digital phenomena, it can be concluded that the viral challenge culture in a social and digital perspective shows how digital trends shape new patterns of interaction and values in modern society. However, the ethical challenges of viral challenges for Christian life reveal issues of misguided self-existence, social pressure, and the banality of sin that demand faithfulness. Therefore, the Christian theological response to viral challenge culture and its implications for Christian leadership and education in virtual spaces is important in order to provide an ethical framework, spiritual examples, and educational strategies that can correct and transform digital culture into a means of Christian service and witness.AbstrakPerkembangan budaya digital telah melahirkan fenomena viral challenge yang tidak hanya menjadi tren hiburan, tetapi juga membentuk pola pikir dan perilaku masyarakat kontemporer. Dinamika ini membawa dampak signifikan terhadap nilai moral, khususnya ketika tantangan yang beredar menormalisasi perilaku berisiko dan mengikis norma-norma kepatutan.   Fenomena viral challenge yang masif di ruang virtual memperlihatkan ambivalensi antara kreativitas positif dan potensi degradasi moral akibat menyingkirkan norma budaya dan agama. Tujuan penelitian ini adalah untuk menelaah tantangan etis dari budaya viral challenge melalui perspektif teologi Kristen serta merumuskan implikasinya bagi kehidupan iman. Menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka dengan analisis teologis-etis terhadap fenomena digital kontemporer, maka dapat disimpulkan bahwa budaya viral challenge dalam perspektif sosial dan digital menunjukkan bagaimana tren digital membentuk pola interaksi dan nilai baru dalam masyarakat modern. Namun, tantangan etis viral challenge bagi kehidupan Kristen menyingkap persoalan eksistensi diri yang salah arah, tekanan sosial, serta banalitas dosa yang menuntut kewaspadaan iman. Karena itu, respon teologi kristen terhadap budaya viral challenge dan implikasi kepemimpinan dan pendidikan Kristen di ruang virtual menjadi penting untuk menghadirkan kerangka etis, teladan rohani, serta strategi edukatif yang mampu mengoreksi sekaligus mentransformasi budaya digital menjadi sarana pelayanan dan kesaksian Kristen.
Urgensi Pemberdayaan Orang Tua Melalui Seminar Parenting Dan Kebaktian Kebangunan Rohani Sebagai Upaya Pencegahan Pernikahan Usia Dini Suprihatin, Eny; Sriyati, Sriyati; Herda, Lusiana; Giawa, Kariani
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 5, No 2 (2025): Didasko: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - Oktober 2025 (Still in Progress
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v5i2.193

Abstract

The 2021 National Socioeconomic Survey (Susenas) found a high rate of early marriage in West Kalimantan. Field findings suggest that the high number of early marriages is due to: perceived age, dropping out, promiscuity, unproductive youth activities, and the relative ease of holding traditional and religious marriages. The people of Inggut Hamlet and its surrounding areas face various social challenges, including rising rates of early marriage, promiscuity, and educational concepts that are inadequate in shaping the character and preparedness of young people and parents for the future. The purpose of this study was to describe early marriage and its problems in Inggut Hamlet, as well as the urgency of holding parenting seminars as a preventative measure. The study used qualitative descriptive methods with a phenomenological approach. The results concluded: first, many young couples in Inggut marry without the necessary skills to care for, educate, and raise children. Second, empowering parents on childcare through a five-day Parenting Seminar and KKR (Spiritual Revival Service) yielded significant results. Nearly all parents and children (teenagers and youth) representing approximately 66 families (150 people) enthusiastically attended the event. Third, seminar participants decided to send their children to college and prohibit early marriage. Fourth, parents desire change in Inggut Hamlet. This means that empowering parents through parenting seminars and KKR is urgently needed to reform the paradigm of marriage and childrearing. It should no longer be based on traditional culture and customs, but rather on the physical, psychological, and spiritual maturity of the children.AbstrakHasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2021, kasus pernikahan usia dini di Kalimantan Barat tinggi. Temuan di lapangan penyebab tingginya pernikahan usia adalah: dianggap telah cukup umur, drop out, pergaulan bebas, aktivitas remaja yang tidak produktif, serta relatif mudahnya menyelenggarakan perkawinan adat maupun secara agama. Masyarakat Dusun Inggut dan sekitarnya menghadapi berbagai tantangan sosial. Antara lain: meningkatnya angka pernikahan usia dini, pergaulan bebas, serta konsep pendidikan yang kurang tepat dalam membentuk karakter dan kesiapan anak muda serta orang tua menghadapi masa depan. Tujuan penelitian menggambarkan pernikahan usia dini dan permasalahannya di dusun Inggut serta urgensi seminar parenting sebagai upaya pencegahan pernikahan usia dini. Penelitian menggunakan metode Kualitatif Deskriptif dengan pendekatan fenomenologi. Berdasar hasil penelitian disimpulkan: pertama, banyak pasangan usia muda di Inggut menikah tanpa bekal ketrampilan merawat, mendidik, dan mengasuh anak. Kedua, pemberdayaan orang tua tentang pengasuhan anak yang dilakukan dalam bentuk Seminar Parenting dan KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani) selama lima hari memeroleh hasil signifikan. Hampir semua orang tua dan anak (remaja dan pemuda) kurang lebih 66 Kepala Keluarga (150 jiwa) menghadiri acara dengan antusias. Ketiga, peserta seminar memutuskan untuk menyekolahkan anak sampai kuliah, dan melarang untuk menikah usia dini. Keempat, orang tua menginginkan perubahan terjadi di dusun Inggut. Artinya, pemberdayaan orang tua melalui seminar parenting dan KKR urgen dilakukan agar paradigma tentang pernikahan dan pengasuhan anak dibarui. Tidak lagi berdasarkan budaya dan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku turun-temurun di masyarakat tetapi karena secara fisik, psikis, dan spiritual sudah matang.