cover
Contact Name
Ani Hairani
Contact Email
bce@umy.ac.id
Phone
+62274387656
Journal Mail Official
bce@umy.ac.id
Editorial Address
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, G5 Building 1st floor, Brawijaya Street, Tamantirto, Kasihan Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Bulletin of Civil Engineering
ISSN : 27971104     EISSN : 27756351     DOI : https://doi.org/10.18196/bce
Core Subject : Engineering,
Bulletin of Civil Engineering (BCE) is an international journal of civil engineering. This journal publishes original papers on interdisciplinary theoretical and practical research related to the broad spectrum of civil engineering, encompassing all related sub-topics. The journal provides a forum for the international civil engineering community to present and discuss matters of major interest, including new developments in civil regulations. Coverage includes Structures; Geotechnics; Transportation; Environment; Earthquakes; Water Resources; Hydraulic and Hydraulic Structures; Construction Management and Materials.
Articles 47 Documents
Analisis Ketersediaan Air pada Daerah Tangkapan Waduk Sempor dengan Model Mock Surya Budi Lesmana; Andi Nadya Milenia
Bulletin of Civil Engineering Vol 3, No 1 (2023): Februari
Publisher : Civil Engineering Department, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/bce.v2i3.17117

Abstract

Sub-DAS Sempor, sub-DAS Seliling, dan sub-DAS Kedung Jati adalah bagian dari daerah tangkapan Waduk Sempor. Daerah tangkapan ini merupakan bagian hulu dari DAS Telomoyo dan menjadi salah satu sumber pemasok air pada Waduk Sempor, karena itu sangat penting untuk mengetahui debit ketersediaan air dan debit andalan pada daerah tangkapan tersebut sebagai strategi pengembangan sumber daya air secara menyeluruh. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui debit ketersediaan air dan debit andalan dengan menggunakan metode pendekatan model Mock. Pada penelitian ini, data yang digunakan merupakan data curah hujan bulanan dan data klimatologi tahun 2011-2020. Berdasarkan analisis    ketersediaan air model Mock, diperoleh rata-rata debit pada sub-DAS Sempor sebesar 0,308 m³/s; sub-DAS Seliling sebesar 0,337 m³/s; dan sub-DAS Kedung Jati sebesar 0,529 m³/s. Dari besaran debit Mock tersebut, diperoleh debit andalan Q80 pada sub-DAS Sempor sebesar 0,13 m³/s; sub-DAS Seliling sebesar 0,13 m³/s; dan sub-DAS Kedung Jati sebesar 0,23 m³/s, serta diperoleh debit andalan Q90 pada sub-DAS Sempor sebesar 0,10 m³/s; sub-DAS Seliling sebesar  0,11 m³/s; dan sub-DAS Kedung Jati sebesar 0,18 m³/s. Hasil analisis menunjukkan bahwa  sub-DAS Kedung Jati memiliki debit ketersediaan air yang paling besar dan  sub-DAS Sempor memiliki debit ketersediaan air yang paling kecil. Analisis juga dilakukan dengan melakukan simulasi perubahan tataguna lahan, dan diperoleh rata-rata debit daerah tangkapan mengalami penurunan pada sub- DAS Sempor dari 0,308 m³/s menjadi 0,297 m³/s; pada sub-DAS Seliling dari 0,337 m³/s menjadi 0,325 m³/s; dan pada sub-DAS Kedung Jati dari 0,529 m³/s menjadi 0,484 m³/s. Sempor sub-watershed, Seliling sub-watershed, and Kedung Jati sub-watershed are part of the catchment area of the Sempor Reservoir. This catchment area is the upstream part of the Telomoyo watershed, and it became one of the sources of water supply for the Sempor Reservoir, so it is very important to know the water availability and mainstay discharge in the catchment area as a strategy for developing water resources as a whole. The purpose of this research is to determine the flow of water availability and mainstay discharge using the F. J. Mock model approach. In this study, the datasets used are monthly rainfall data and climatological data from 2011 to 2020. Based on the analysis of water availability by the F. J. Mock model, the average discharge in the Sempor sub-watershed is 0.308 m³/s; Seliling sub-watershed is 0.348 m³/s; and the Kedung Jati sub-watershed is 0.529 m³/s. From the magnitude of the Mock discharge, it is obtained that the Q80% mainstay discharge in the Sempor sub-watershed is 0.13 m³/s; Seliling sub-watershed by 0.13 m³/s; and the Kedung Jati sub-watershed of 0.23 m/s, and a reliable Q90% discharge in the Sempor sub-watershed of 0.10 m³/s; Seliling sub-watershed by 0.11 m³/s; and the Kedung Jati sub-watershed at 0.18 m³/s. The analysis of the three sub-watersheds shows that the Kedung Jati sub-watershed has the largest available water discharge and the Sempor sub- watershed has the smallest available water discharge.  Analysis was also carried out by simulating changes in land use, and it was obtained that the average catchment area discharge had decreased in the Sempor sub-watershed from 0.308 m³/s to 0.297 m³/s; in the Seliling sub-watershed from 0.337 m³/s to 0.325 m³/s; and in the Kedung Jati sub-watershed from 0.529 m³/s to 0.484 m³/s.
Pengaruh Penggunaan Filler Serbuk Limbah Gerabah dan Sika-Viscocrete 1003 pada Campuran Beton Mutu Tinggi Retnowati Setioningsih
Bulletin of Civil Engineering Vol 3, No 1 (2023): Februari
Publisher : Civil Engineering Department, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/bce.v3i1.18008

Abstract

AbstrakUntuk membuat gedung dan infrastruktur bertingkat tinggi salah satunya beton berkekuatan tinggi. Salah satu cara membuat beton mutu tinggi adalah dengan membuat beton menjadi  Self Compacting Concrete . Tujuan utama yang dilakukan adalah membuat beton mutu tinggi dengan menambahkan aditif alami serbuk limbah gerabah dan aditif kimiawi  sika-viscocrete 1003 yang bervariasi. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental laboratorium dengan membuat benda uji silinder lebar 150 mm dan tinggi 300 mm. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah semakin banyak  sika-viscocrete 1003 yang ditambahkan, pada adukan beton dengan mutu rencana 50 MPa maka adukan beton semakin mengalir dan kuat tekan betonnya semakin meningkat. Hal tersebut dapat dilihat bahwa dengan penambahan  sika-viscocrete 1003 sebesar 2% dari berat semen kiat tekan beton mampu meningkat sebesar 1,73%.Kata-kata kunci:  Self Compacting Concrete, serbuk limbah gerabah, dan sika-viscocrete 1003.AbstractHigh-strength concrete is one of the materials used to construct high-rise structures and infrastructure. Self Compacting Concrete is one method for producing concrete of a high comresive. The main goal is to create high-quality concrete by mixing natural additives with gerabah waste powder and other chemical additives with Sika-viscocrete 1003. The procedure involves creating cylindrical specimens that are 150 mm broad and 300 mm. As more Sika-viscocrete 1003 is added to a concrete mix with a design quality of 50 MPa, the concrete mix flows more and the concrete's compressive strength rises, according to the study's findings. As can be observed, the concrete pressure can rise by 1.73% with the addition of 2% Sika-viscocrete 1003 by weight of cement..Keywords:   self-compacting concrete,  earthenware waste powder, and sika-viscocrete 1003.
Perencanaan Jaringan Distribusi Air Bersih Pedesaan dengan Software Epanet 2.0 Barid, Burhan; Septiani, Serlina Nurnagini
Bulletin of Civil Engineering Vol 3, No 2 (2023): Agustus
Publisher : Civil Engineering Department, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/bce.v3i2.18942

Abstract

Abstrak Pemenuhan air bersih meliputi sumber air, sistem pengolahannya dan distribusinya. Sistem distribusi air bersih yang belum terencana dengan tepat akan membuat air bersih tidak sampai kepada masyarakat. Hal inilah yang menjadi hambatan dalam pengelolaan air bersih, khususnya yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sistem distribusi air bersih yang ada di Desa Mantren, Magetan. Perencanaan jaringan dilakukan dengan menggunakan software Epanet 2.0. Sumber air direncanakan menggunakan sumur bor dengan debit rencana 1,95 liter/detik. Tipe pengaliran menggunakan gravitasi dari tampungan air dengan ketinggian tertentu. Hasil analisis menunjukkan bahwa ketinggian tampungan air yang disarankan adalah 11 meter dari permukaan tanah. Jumlah kebutuhan pipa sebanyak 55 buah. Dengan desain jaringan air yang telah dibuat, diperoleh tekanan air dalam pipa dan kecepatan aliran telah memenuhi persyaratan yang dikeluarkan Kementerian Pekerjaan Umum pada tahun 2007. Tekanan air dalam pipa berkisar 5-80 meter dan kecepatan aliran berkisar 0,3-4,5 m/detik. Hasil penelitian ini diharapkan mampu menjadi bahan rekomendasi teknis dalam perencanaan sistem distribusi air oleh warga setempat. Kata-kata kunci:  Epanet 2.0, sistem distribusi, tekanan air, dan kecepatan aliran. Abstract Fulfillment of clean water includes water sources, processing systems and distribution. A clean water distribution system which is not properly planned may lead to problems in accessibility. This is a very common problems in water distribution system, especially for that is managed and owned by the community. Therefore, this research aims to analyze the clean water distribution system in Mantren Village, Magetan. Network planning is carried out using Epanet 2.0 software. The water source is planned to use a drilled well with a planned discharge of 1.95 liters/second. The water is pumped to the reservoir tank and distributed to the people by gravity force. The analysis results show that the recommended height of the reservoir tank is 11 meters from the ground surface. The number of required pipes is 55 pieces. The water pressure in the pipes and flow velocity have met the requirements issued by the Ministry of Public Works in 2007. The water pressure is in the range of 5-80 meters, while the flow velocity is in the range of 0.3-4, 5 m/sec. The results of this research is expected to provide technical recommendations in planning water distribution systems by local residents. Keywords:  Epanet 2.0, distribution system, water pressure, and flow velocity 
Effect of Spalling Depth on the Fire Behaviour Simulation of High-Volume Fly Ash Nano-Silica Reinforced Concrete Slab at Various Fire Curves Roszilah Hamid; Noor Azim Mohd. Radzi; Azrul A Mutalib
Bulletin of Civil Engineering Vol 3, No 2 (2023): Agustus
Publisher : Civil Engineering Department, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/bce.v3i2.17897

Abstract

Pengelupasan beton ditandai dengan pemisahan elemen beton yang berulang-ulang yang terpapar suhu tinggi. Karena struktur mikronya yang padat, beton mutu tinggi cenderung menyerpih dan kehilangan kekuatannya. Makalah ini menyajikan simulasi perilaku termal pelat beton bertulang (RC) abu terbang isipadu tinggi isipadu tinggi abu terbang (HSHVFANS) beton bertulang (RC) kekuatan tinggi yang terpapar berbagai kurva api (HC, RABT-ZTV, dan RWS) menggunakan analisis elemen hingga (FE). Dua model FE, yaitu No Spalling (NS) dan Maximum Spalling (MS) divalidasi dengan uji api pelat HSHVFANS RC yang terpapar kurva api ISO 834 selama 120 menit. Model FE yang divalidasi digunakan untuk memprediksi efek kedalaman spalling pada kurva api yang berbeda. Hasil profil suhu menunjukkan bahwa model NS FE tetap berada di dalam hasil percobaan, sedangkan model MS FE menunjukkan peningkatan suhu berkisar antara 680 °C hingga 840 °C. Suhu penguatan untuk model NS FE tetap di bawah 300 °C hingga 120 menit, sedangkan model MS FE lebih tinggi dari 300 °C pada 72 menit (ISO 834), 55 menit (HC), 48 menit (RABT-ZTV), dan 46 menit (RWS). Telah ditemukan bahwa periode tahan api dari pelat RC HSHVFANS secara signifikan dipengaruhi pada kedalaman serpihan maksimum.Concrete spalling is characterised by a repetitive breakaway of concrete elements exposed to elevated temperatures. Due to its dense microstructure, high-strength concrete tends to spall and lose its strength. This paper presents the thermal behaviour simulation of a high-strength high-volume fly ash nano-silica (HSHVFANS) reinforced concrete (RC) slab exposed to various fire curves (HC, RABT-ZTV and RWS) using finite element (FE) analysis. Two FE models, namely No Spalling (NS) and Maximum Spalling (MS) were validated with the fire test of the HSHVFANS RC slab exposed to ISO 834 fire curve for 120 min. The validated FE models were used to predict the effect of spalling depth at different fire curves. The temperature profile result shows that the NS FE model remains inside the experimental results, while the MS FE model showed an increase in the temperature ranging from 680 °C up to 840 °C. The reinforcement temperature for the NS FE model remained below 300 °C until 120 min, while the MS FE model was higher than 300 °C at 72 min (ISO 834), 55 min (HC), 48 min (RABT-ZTV), and 46 min (RWS). It has been found that the fire-resistant period of the HSHVFANS RC slab was significantly affected at maximum spalling depth 
The Influence Of Blasting Waste On Mortar Performance Abd Karim, Ernie Binti Kulian; Mokhtar, Saiful Hazman Bin; Daud, Nur Hanani Binti
Bulletin of Civil Engineering Vol 3, No 2 (2023): Agustus
Publisher : Civil Engineering Department, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/bce.v3i2.17898

Abstract

Dalam campuran mortar, jumlah pasir yang dibutuhkan kira-kira tiga kali lipat jumlah semen yang digunakan. Oleh karena itu, permintaan pasir alam sangat tinggi karena pesatnya pertumbuhan infrastruktur saat ini. Akibatnya, penambangan pasir yang berlebihan telah menyebabkan erosi sungai yang berlebihan dan bahaya lingkungan. Hal ini menyebabkan perlunya mencari bahan alternatif pengganti pasir. Berkaitan dengan hal tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kinerja mortar dengan limbah peledakan sebagai material pengganti pasir. Limbah peledakan adalah limbah bahan peledak yang berasal dari area pembuatan kapal atau perawatan di anjungan angkut dan operasi militer. Persentase penggantian limbah peledakan terpilih adalah 0%, 10%, 20%, 30%, 40% dan 50%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase limbah peledakan yang dapat digunakan sebagai pengganti pasir mencapai 50%, dengan kuat tekan 21.8Mpa yang hampir dua kali lipat nilai sampel kontrol sebesar 14.2Mpa. Di sisi lain, tingkat penyerapan air untuk sampel 50.0% adalah 9.0%, lebih rendah dari nilai mortar kontrol sebesar 9.2%. Sesuai dengan ASTM C1329, kekuatan tekan mortar yang menggunakan limbah peledakan memenuhi kekuatan yang diijinkan untuk struktur.In a mortar mixture, the amount of sand needed is about three times the amount of cement used. Therefore, the demand for natural sand is extremely high due to the rapid growth of infrastructure these days. As a result, the over-mining of sand has caused excessive river erosion and environmental hazards. This has led to the need of finding an alternative material to replace sand. In this regard, this study was conducted to investigate the performance of mortar with blasting waste as a replacement material for sand. Blasting waste is explosive waste from shipbuilding areas or maintenance on transport bridges and military operations. The replacement percentages of blasting waste selected were 0%, 10%, 20%, 30%, 40% and 50%. The result showed that the percentage of blasting waste that can be used as a replacement for the sand is up to 50%, with a compressive strength of 21.8Mpa which was almost double the value of the control sample at 14.2Mpa. On the other hand, the water absorption rate for the 50.0% sample was 9.0%, lower than the value of the control mortar at 9.2%. In accordance with the ASTM C1329, the compressive strength of the mortar using blasting waste complied with the allowable strength for structures. 
Potensi Penggunaan Abu Daun Jagung Sebagai Alternatif Pengganti Semen Pada Campuran Mortar Ramadhan, Muhammad Ernadi; Sulaiman, Lusman; Islami, Rizky Citra; Agustina, Yanida
Bulletin of Civil Engineering Vol 4, No 1 (2024): Februari
Publisher : Civil Engineering Department, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/bce.v4i1.21324

Abstract

Semen yang digunakan pada mortar terbuat dari bahan kapur yang tidak dapat diperbaharui dan dapat menimbulkan polusi udara ketika semen diproduksi dalam jumlah besar. Oleh karena itu, bahan alternatif yang lebih ramah lingkungan sangat dibutuhkan untuk mengurangi penggunaan material semen sebagai bahan ikat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi material abu daun jagung sebagai bahan pengganti semen pada mortar.  Variabel penelitian menggunakan empat macam variasi komposisi mortar berdasarkan jumlah semen yang diganti dengan abu daun jagung (Mortar semen, 3% abu daun jagung, 5% abu daun jagung, dan 7% abu daun jagung). Model uji diberi pengujian makroskopik (uji kuat tekan) dan mikroskopik (X-Ray Diffraction , Energy Dispersive X – Ray Spectroscopy, dan Scanning Electron Microscope). Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan, penggunaan abu daun jagung 7% dari berat semen pada mortar menjadi variasi yang terkuat pada penelitian ini Cement used on mortar was made from limestone that cannot produced naturally, causing air pollution when it produced on big amount. Therefore, an alternative green material was very important for reducing cement utilization as bounding material. The purpose of this research was evaluating corn leaves ash material as cement substitute on mortar.The research variables were using four different mortar composition based on cement amount which replaced by corn leaves ash(Cement mortar, 3% corn leaves ash, 5%  corn leaves ash , and 7%  corn leaves ash). The samples were tested by macroscopic method (compression test) and microscopic method ( X-Ray Diffraction , Energy Dispersive X – Ray Spectroscopy, and Scanning Electron Microscope ). Based on the test, the substitution of 7% corn leaves ash from cement on mortar became the strongest variation on this research
Pengaruh Pengawetan terhadap Kuat Geser Bambu Petung (Dendrocolamus asper) Masdar, Astuti
Bulletin of Civil Engineering Vol 3, No 2 (2023): Agustus
Publisher : Civil Engineering Department, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/bce.v3i2.18556

Abstract

Bambu Petung merupakan salah jenis bambu unggulan dan banyak digunakan sebagai bahan kerajinan, alat rumah tangga, alat musik maupun sebagai konstruksi termasuk di daerah Sumatera Barat. Pengggunaan bambu sebagai bahan konstruksi dikarenakan bambu memiliki banyak keunggulan terutama pada sifat fisik dan mekaniknya. Meskipun memiliki keunggulan dari sifat mekaniknya, sebagai bahan organik Bambu Petung memiliki kelemahan yaitu tingkat keawetannya yang relatif rendah. Untuk mengatasi masalah keawetan ini diperlukan perlakuan khusus yaitu pengawetan bambu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah proses pengawetan pada Bambu Petung berpengaruh terhadap kuat geser bambu mengingat kuat geser bambu adalah salah satu nilai yang sangat berpengaruh terhadap kekuatan struktur bambu, terutama pada sambungan. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan standar ISO N225157-1 untuk pembuatan benda uji dan Standar N22157-2 untuk pengujian material. Pengawetan pada bambu dilakukan mengacu pada SNI 8909-2020. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa proses pengawetan dapat meningkatkan nilai kuat geser bambu pada daerah ruas sebesar 26,15% dan pada daerah antar ruas sebesar 29,89%. Kondisi ini dapat dijadikan acuan dalam merancang sambungan bambu mengingat kekuatan geser merupakan faktor penentu kekuatan sambungan.Kata-kata kunci: bambu, pengawetan, kuat geser, nodia, internodia
Risiko Kerugian Mutu Pekerjaan Konstruksi Pada Pembangunan Gedung Sekolah 4 Lantai Zulfiar, Muhammad Heri; Kusumawardana, Fernando
Bulletin of Civil Engineering Vol 4, No 1 (2024): Februari
Publisher : Civil Engineering Department, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/bce.v4i1.21901

Abstract

Pada umumnya tolak ukur keberhasilan proyek dinilai berdasarkan waktu penyelesaiannya yang singkat dengan pengeluaran biaya yang seminiminal mungkin. Berdasarkan hal-hal tersebut, maka penelitian lebih mengenai faktor-faktor yang memiliki potensi kerugian pekerjaan pada proyek pembangunan Gedung sekolah empat lantai yang berlokasi di Bantul. Penelitian ini dilakukan berdasarkan penyebaran kuisioner serta wawancara langsung dengan pihak terkait didalam proyek agar didapatkan nilai risiko dengan pendekatan risk = event x impact, yang kemudian dituangkan dalam matriks resiko AS/NZS 4360. Penelitian ini menggunakan metode Work Breakdown Structure (WBS) untuk memecah proyek secara sistematis dan logis menjadi komponen- komponennya.  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada pekerjaan struktur bawah yang mencakup pondasi footplate/ cakar ayam, struktur kolom, dan struktur balok memiliki tingkat resiko rendah dengan rata-rata sebesar 4,06. Faktor kerugian yang sering terjadi adalahpadapekerjaan bekisting plat lantai, penulangan balok dan pekerjaan bekisting balok.In general, the benchmark for project success is usually assessed based on a short completion time with minimal costs incurred. Based on these things, further research is needed  regarding the factors that have the potential for job losses in the four-story school building construction project located in the Building Construction of Al – Azhar 66 Islamic Junior High School in Bantul. This research was carried out based on distributing questionnaires and direct interviews with related parties in the project in order to obtain risk values using the risk = event x impact approach, which was then outlined in the AS/NZS 4360 risk matrix. This research applied Work Breakdown Structure (WBS) method to identify every component in the construction work. Results of this structure showed that footplate, column, and beam construction have low risk of quality loss with the 4.06 of average value. Loss factors often occur in floor formwork, beam reinforcement and beam formwork.
Analisis Sebaran Kualitas Air Sungai Bedok dengan Aplikasi Arc GIS Lesmana, Surya Budi; Fuady, Alfian Ahlunnaza
Bulletin of Civil Engineering Vol 3, No 2 (2023): Agustus
Publisher : Civil Engineering Department, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/bce.v3i2.13739

Abstract

Abstrak Industri memiliki peranan yang besar dalam mempengaruhi kualitas air sungai, karena berperan sebagai salah satu penghasil limbah yang akan dibuang ke sungai. Pabrik gula merupakan salah satu industri yang menghasilkan limbah, berupa padat, gas, dan juga limbah cair. Limbah tersebut dapat menjadi permasalahan jika dibuang ke sungai tidak memenuhi kriteria baku mutu air limbah yang berlaku. Air sungai yang diindikasikan tercemar dapat mengalami perubahan fisik berupa bau dan warna. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas air sungai pada anak Sungai Bedok, yang merupakan jalur tempat pembuangan limbah cair sebuah parbrik gula, dengan parameter BOD_5, DO, Fe, pH serta dampak yang dapat ditimbulkan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu mengolah data primer dengan pengambilan sampel air sungai dan melakukan analisis di laboratorium. Jumlah sampel yang diambil sebanyak delapan sampel pada sepanjang jalur anak Sungai Bedok. Pemetaan menggunakan aplikasi GIS untuk memberikan informasi lokasi titik sampel serta mendapatkan peta sebaran kualitas air disepanjang alur sungai tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai kadar DO tertinggi sebesar 4,2 mg/l dan terendah sebesar 2 mg/l, nilai kadar BOD5 tertinggi sebesar 9 mg/l dan terendah 3,5 mg/l, nilai kadar Fe tertinggi sebesar 0,35 mg/l dan terendah 0,1 mg/l, dan nilai pH diantara 7 – 7,4. Terdapat beberapa titik pada pengambilan sampel, kadar DO belum memnuhi standar baku mutu sesuai dengan Permenkes RI No.32 Tahun 2017 tentang baku mutu. Pada peta sebaran parameter limbah, dapat diketahui semakin jauh jarak sampel dari pabrik, maka kualitas air semakin bagus.Abstract River water quality is considerably affected by the quality of the water that enters it. Industry has an important effect on river water quality because industry, as one of the generators of waste, will be thrown into the river, which has lowered the standard quality of the applicable waste water. The sugar plant is one of the industries that generates trash, including solid waste, gas waste, and liquid waste. If liquid trash is discharged into a river and does not fulfill the required waste water quality guidelines, it can be a problem. The smell and color of the mentioned contaminated river water may change.  The study's goal is to examine the quality of river water in the Bedok River, which is the site of the Sugar Industry's liquid waste disposal, using the criteria BOD_5, DO, Fe, pH, and the damage that can be caused. The method employed in this study is to collect primary data by river water sampling and analyze it in the laboratory. As many as eight samples were collected along the river Bedok route. Mapping makes use of a GIS application to provide information on the location of the sample point and to generate a map of the distribution of water quality along the river stream.  The results of this investigation revealed the greatest DO level of 4.2 mg/l and the lowest of 2 mg/l, the highest BOD5 level of 9 mg/L and the lowest of 3.5 mg/litre, the highest Fe level of 0.35 mg/liter and the lowest 0.1 mg/liter, and a pH value ranging from 7 to 7.4. There are various places on sampling, and the DO rate does not meet the norm of quality standards in line with Permenkes RI No. 32 of 2017. The greater the sample distance from the Sugar Industry on the waste parameter distribution map, the better the water quality.  Keywords:  river, quality, waste, GIS 
Resiko Keterlambatan pada Pembangunan Gedung Delapan Lantai Menggunakan Metode Work Breakdown Structure (WBS) Zulfiar, M Heri; Fatimah, Amaida Dewi
Bulletin of Civil Engineering Vol 3, No 2 (2023): Agustus
Publisher : Civil Engineering Department, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/bce.v3i2.18332

Abstract

Abstrak Keterlambatan proyek kontruksi dapat diartikan bertambahnya waktu penyelesaian suatu proyek yang melebihi kontrak yang sudah ada. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan penilaian risiko keterlambatan beserta upaya yang harus dilakukan untuk mencegah terjadinya keterlambatan proyek Pembangunan Gedung 8 Lantai. Metode yang dilakukan pada penelitian ini yaitu pengumpulan penilaian risiko keterlambatan dengan form yang dibuat berdasarkan WBS yang bersumber dari kurva S, serta wawancara responden mengenai upaya untuk menanggulangi risiko keterlambatan proyek tersebut. Penelitian ini didapatkan hasil bahwa proyek Pembangunan ini memiliki nilai risiko skala rendah sebesar 3,7. Pada pekerjaan persiapan dengan nilai risiko sebesar 5,78(skala sedang). Pada pekerjaan struktur bawah dengan nilai risiko sebesar 3,7(skala rendah). Pada pekerjaan struktur atas dengan nilai risiko sebesar 4,04 (skala rendah). Pada pekerjaan finishing dengan nilai risiko sebesar 2,78 (skala rendah). Terakhir, pada pekerjaan elektrikal dengan nilai risiko 2,2 (skala rendah). Untuk kemungkinan kejadian tertinggi yaitu cuaca hujan saat pengecoran pelat lantai dan balok didapatkan upaya untuk mencegah terjadinya risiko keterlambatan proyek yaitu melakukan pekerjaan lainnya yang tidak terpengaruh cuaca dan melakukan lembur saat cuaca mendukung. Kata-kata kunci:  keterlambatan, risiko, upaya, proyek kontruksi, gedung. Abstract Construction project delays can be interpreted as increasing the time to complete a project that exceeds the existing contract. This study aims to assess the risk of delays along with the efforts that must be made to prevent delays in the building construction project, as well as interviews with respondents regarding efforts to overcome the risk of delays in the project. This study found that the building project had a low scale risk score of 3.7. In preparatory work with a risk value of 5.78 (medium scale). The lower structure work has a risk value of 3.7 (low scale). In superstructure work with a risk value of 4.04 (low scale). In finishing work with a risk value of 2.78 (low scale). Finally, on electrical work with a risk value of 2.2 (low scale). For the highest possible event, namely rainy weather when casting floor slabs and beams, efforts are made to prevent the risk of project delays, namely doing other work that is not affected by the weather and doing overtime when the weather supports it .  Keywords:  delay, risk, on, construction project, building