cover
Contact Name
Fariz Nizar
Contact Email
arsip_jurnal@unpand.ac.id
Phone
+6285156340961
Journal Mail Official
arsip_jurnal@unpand.ac.id
Editorial Address
Jl. Banjarsari Barat No.1, Pedalangan, Kec. Banyumanik, Kota Semarang, Jawa Tengah 50268
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Arsitektur Universitas Pandanaran Jurnal (ArsiP)
Published by Universitas Pandanaran
ISSN : 28080912     EISSN : 28080637     DOI : https://doi.org/10.54325/arsip.v1i1
Jurnal Ilmiah Mahasiswa S1 Arsitektur Universitas Pandanaran. Sebagai media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan S1 Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Pandanaran Semarang
Articles 101 Documents
RESILIENT VERNACULAR DESIGN OF BAYUNG GEDE: ARCHITECTURAL ADAPTATION OF BALI TO THE HIGHLAND ENVIRONMENT RESILIENT VERNACULAR DESIGN OF BAYUNG GEDE: ADAPTASI ARSITEKTUR BALI TERHADAP LINGKUNGAN DATARAN TINGGI Lokantara, I Gede Wyana; Rafika Hilmi Nasution; Khairunnisak; Aula Sekar Arum Pertiwi
JURNAL ARSIP UNPAND Vol 5 No 2 (2025): JURNAL ARSIP UNPAND
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54325/arsip.v5i2.175

Abstract

Penelitian ini mengkaji strategi desain arsitektur vernakular di Desa Bayung Gede, Bangli, Bali, sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi ekologis dataran tinggi. Melalui integrasi antara konsep Tri Mandala dan fungsi ruang terbuka natah, penelitian ini menyoroti bagaimana nilai-nilai tradisional mampu memperkuat ketahanan sosio-ekologis masyarakat lokal di tengah tekanan modernisasi dan perubahan lingkungan. Metode penelitian menggunakan pendekatan perancangan konseptual berbasis observasi spasial dan interpretasi simbolik, dengan fokus pada elemen arsitektur, tata ruang, serta material bangunan yang ramah lingkungan. Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan prinsip-prinsip vernakular bukan hanya mencerminkan identitas budaya, tetapi juga berperan strategis dalam menciptakan sistem ruang yang adaptif terhadap iklim, topografi, dan dinamika sosial. Prinsip vernakular di Desa Bayung Gede tercermin pada elemen natah sebagai ruang terbuka tradisional yang berfungsi mengatur iklim mikro dan resapan air, serta pada bentuk rumah yang menyesuaikan atap, orientasi, dan material alami sebagai wujud warisan budaya lokal. Temuan ini menegaskan bahwa arsitektur vernakular Bayung Gede merupakan representasi nyata dari keseimbangan antara keberlanjutan ekologis, nilai spiritual, dan kebutuhan fungsional manusia di era kontemporer.
ANALISIS BUKAAN DAN VENTILASI ALAMI TERHADAP KESEIMBANGAN DAN PROPORSI FASAD PADA RUMAH SUSUN
JURNAL ARSIP UNPAND Vol 6 No 1 (2026): JURNAL ARSIP UNPAND
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54325/arsip.v6i1.185

Abstract

Pembangunan rumah susun sebagai solusi hunian vertikal di kawasan perkotaan tidak hanya menuntut efisiensi lahan, tetapi juga kenyamanan penghuni dan kualitas tampilan arsitektural bangunan. Salah satu elemen penting yang memengaruhi aspek tersebut adalah penataan bukaan dan ventilasi alami pada fasad bangunan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh bukaan dan ventilasi alami terhadap proporsi dan keseimbangan fasad rumah susun. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif dengan studi kasus pada Rumah Susun Cabean Salatiga, Rumah Susun Noborejo Salatiga, dan Rumah Susun ASN Semarang. Data diperoleh melalui studi literatur, observasi lapangan, dan dokumentasi, kemudian dianalisis berdasarkan rasio bukaan, karakter bukaan, kinerja ventilasi alami, serta keseimbangan proporsi fasad. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga objek telah memenuhi standar minimum rasio bukaan untuk pencahayaan alami, namun memiliki perbedaan dalam kinerja ventilasi dan kualitas visual fasad. Rumah Susun ASN Semarang menunjukkan performa terbaik dengan pola bukaan yang ritmis, proporsi solid–void yang seimbang, dan ventilasi silang yang optimal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penataan bukaan yang proporsional dan terorganisir mampu meningkatkan keseimbangan visual fasad sekaligus mendukung efektivitas ventilasi alami pada rumah susun.
RECONSTRUCTION OF KEY VALUE CONCEPTS IN THE EVALUATION OF HERITAGE ARCHITECTURE FOR CONSERVATION DECISION-MAKING REKONSTRUKSI KONSEP NILAI PENTING DALAM PENILAIAN ARSITEKTUR PUSAKA UNTUK PENGAMBILAN KEPUTUSAN KONSERVASI Jessica Fitriani Putri
JURNAL ARSIP UNPAND Vol 6 No 1 (2026): JURNAL ARSIP UNPAND
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54325/arsip.v6i1.187

Abstract

Konsep nilai penting (significance) merupakan dasar utama dalam konservasi pusaka dan Heritage Impact Assessment (HIA). Namun, dalam praktik arsitektur, konsep ini masih cenderung dipahami secara normatif dan belum diterjemahkan secara sistematis ke dalam kerangka penilaian yang mampu menjembatani nilai non-fisik dengan wujud arsitektural bangunan. Kesenjangan ini menyebabkan proses desain, konservasi adaptif, dan evaluasi dampak sering kehilangan pijakan arsitektural yang jelas.Penelitian ini bertujuan merekonstruksi konsep nilai penting sebagai kerangka penilaian arsitektur pusaka yang bersifat konseptual-operasional. Metode yang digunakan adalah analisis konseptual dan sintesis teoretik terhadap literatur konservasi pusaka, teori arsitektur, serta kerangka Heritage Impact Assessment. Hasil penelitian berupa perumusan kerangka penilaian nilai penting berbasis atribut dan sistem arsitektur yang menempatkan arsitektur sebagai medium dan antarmuka utama dalam proses screening, scoping, dan evaluasi dampak. Kontribusi utama penelitian ini adalah penegasan peran arsitektur dalam konservasi berbasis nilai dan penyediaan landasan konseptual bagi pengambilan keputusan konservasi yang lebih terukur.
POLA SIRKULASI PEJALAN KAKI PADA KAMPUS JURUSAN PERTANIAN DAN PETERNAKAN Studi Kasus : Universitas Polbangtan Magelang – Yogyakarta, Universitas Tidar, dan Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta Akhmad Ulfan Abdul Rozaq; Taufiq Rizza Nuzuluddin; Maria Rosita Maharani
JURNAL ARSIP UNPAND Vol 6 No 1 (2026): JURNAL ARSIP UNPAND
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54325/arsip.v6i1.189

Abstract

Kampus-kampus yang memiliki jurusan pertanian dan peternakan memiliki karakteristik kegiatan yang unik, yang mencakup kegiatan akademik di ruang kelas, laboratorium, serta praktik lapangan di lahan pertanian dan peternakan. Kondisi ini menuntut adanya sistem sirkulasi pejalan kaki yang aman, efisien, dan terintegrasi dengan tata letak kampus. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi yang ada dan menganalisis pola sirkulasi pejalan kaki di kampus-kampus yang berfokus pada pertanian dan peternakan melalui studi kasus Universitas Polbangtan Magelang-Yogyakarta, Universitas Tidar, dan Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik observasi lapangan, pemetaan sirkulasi, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola sirkulasi pejalan kaki di ketiga kampus tersebut cenderung mengikuti pola linier dan jaringan yang berkembang sesuai dengan zonasi fungsional. Namun, masih ditemukan beberapa masalah seperti campur aduknya jalur pejalan kaki dengan kendaraan, fasilitas pejalan kaki yang terbatas, serta kurangnya unsur kenyamanan. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam perencanaan dan pengembangan sistem sirkulasi pejalan kaki yang lebih ramah, aman, dan berkelanjutan di kampus-kampus pertanian dan peternakan.
PENERAPAN PRINSIP BIOPHILIC DESIGN PADA FASILITAS KESEHATAN MENTAL DI IKLIM TROPIS, Studi Kasus: Compos Mentis Healthcare, India
JURNAL ARSIP UNPAND Vol 6 No 1 (2026): JURNAL ARSIP UNPAND
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54325/arsip.v6i1.190

Abstract

Meningkatnya gangguan kesehatan mental di wilayah perkotaan tropis seperti Jharkhand, India, menuntut desain inovatif untuk fasilitas perawatan kesehatan yang responsif terhadap iklim dan bersifat terapeutik. Meskipun biofilik desain semakin banyak diterapkan, terdapat kesenjangan penelitian mengenai adaptasi teknis dari 14 pola biofilik pada tipologi bangunan fasilitas kesehatan mental yang memenuhi standar keamanan yang ketat di iklim tropis lembap-kering. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi arsitektur biofilik di Compos Mentis Healthcare , Ranchi, menggunakan metode deskriptif kualitatif berdasarkan pengumpulan data sekunder dan analisis visual. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa sinkronisasi pencahayaan alami melalui skylight, optimalisasi ventilasi silang pada inner courtyard, dan penggunaan material alami berhasil menciptakan lingkungan restoratif yang mengurangi stres termal dan mempercepat pemulihan klinis pasien. Kebaruan studi ini terletak pada perumusan adaptasi kontekstual elemen biofilik yang menjembatani kontradiksi antara kebutuhan isolasi pasien mental dan kebutuhan akan koneksi dengan alam di cuaca ekstrem India Timur. Temuan ini memberikan kontribusi praktis berupa rekomendasi desain berkelanjutan yang dapat digunakan sebagai standar untuk pengembangan fasilitas perawatan kesehatan mental di daerah tropis.
PENGARUH ELEMEN TIRUAN ALAM TERHADAP PREFERENSI PEMILIHAN TEMPAT DUDUK DI COWORKING SPACE
JURNAL ARSIP UNPAND Vol 6 No 1 (2026): JURNAL ARSIP UNPAND
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54325/arsip.v6i1.192

Abstract

Coworking space berkembang sebagai ruang kerja yang mendukung produktifitas, namun intesitas aktivitasnya dapat menyebabkan kejenuhan. Penerapan elemen biofilik yang terbukti dapat meregenerasi pikiran, sejalan dengan biophilia hipotesis yang menjelaskan bahwa manusia memilki kecenderungan untuk terhubung dengan alam. Keterbatasan akses terhadap alam langsung pada coworking space modern, khususnya pada bangunan bertingkat, mendorong penerapan prinsip Indirect Experience of Nature melalui elemen tiruan alam seperti bentuk, pola, tekstur, warna, dan material alami. Namun, penelitian sebelumnya masih berfokus pada dampak psikologis elemen tiruan alam dan belum mengkaji bagaimana perbedaannya memengaruhi perilaku spasial pengguna dalam memilih tempat duduk, sehingga penelitian ini menawarkan pendekatan komparatif antarjenis elemen tiruan alam serta analisis perbandingan kondisi aktual dan preferensi ideal sebagai bentuk kebaruan.Penelitian ini bertujuan mengkaji preferensi pengguna dalam memilih tempat duduk terkait keberadaan elemen tiruan alam pada desain interior IdeaHub Coworking Space. Metode yang digunakan adalah mixed method melalui observasi dengan teknik behavior mapping untuk mengidentifikasi tingkat keterisian area serta kuesioner terhadap 40 responden. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif, pembobotan skala ranking, dan analisis komparatif antara kondisi aktual dan ideal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mural pepohonan memiliki pengaruh lebih dominan terhadap preferensi tempat duduk dibandingkan elemen warna dan material alami, dengan tingkat keterisian zona mural relatif lebih tinggi.
DESIGN OF THE NATIONAL LAND AGENCY OFFICE AND THE CENTRAL JAVA REGIONAL LAND OFFICE WITH A MODERN ARCHITECTURAL APPROACH PERANCANGAN KANTOR BPN DAN KANTOR PERTANAHAN WILAYAH JAWA TENGAH DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR MODERN muhamad Rafli; Mutiawati Mandaka; Adi Sasmito
JURNAL ARSIP UNPAND Vol 6 No 1 (2026): JURNAL ARSIP UNPAND
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54325/arsip.v6i1.194

Abstract

Undang Undang Dasar Merupakan salah satu perangkat Aturan dan Peraturan yang membatasi Segala  macam tindakan dan Aktivitas Masyarakat dalam bersosialisasi dan Berinteraksi antara Sesama Masyarakat. Indonesia Sendiri merupakan Suatu Negara yang menjadikan hukum  Sebagai aturan dan peraturan dan Memiliki sifat untuk mengikat yang mempunyai Arti wajib untuk dijalankan dan dilaksanakan secara sadar dan tanpa Paksaan. Pemerintah Republik Indonesia yang dipimpin oleh Seorang presiden memiliki peran dalam menjalankan Fungsi Eksekutifnya yaitu dengan Membuat peraturan dan aturan Undang Undang .UUPA merupakan Undang Undang Pokok Agraria yang mengatur tentang segala macam Administrasi Pertanahan yang ada Di republik Indonesia, Dalam menjalankan tugas nya kementerian ini juga terdapat di daerah provinsi untuk bisa mendistribusikan Tugas utama tersebut di setiap daerah, Kantor BPN Atau kantor pertanahan Wilayah jawa tengah yang akan dirancang ini ditujukan untuk membantu tugas Kementrian yang terkait di wilayah Jawa tengah , Perencanaan dan Perancangan Kantor BPN dan Kantor Pertanahan di Kota Semarang  dipilih karena menjadi salah satu akses Menuju Pusat ibu kota Indonesia yaitu Ibukota Jakarta, dalam Perencanaan dan perancangan ini Terdapat beberapa Prose yang dilalui , dimulai dari Proses analisa permasalahan dimana masalah yang ada adalah Belum adanya Bangunan di kota semarang yang bisa memfasilitasi Proses Administrasi, Kedua merupakan proses Analisa siapa siapa saja yang akan beraktifitas. Tahap selanjutnya merupakan tahapan dimana analisa kondisi eksisting ada kemudian Proses perencanaan selanjutnya adalah Prose pembuatan Denah yang merupakan respon dari Proses Analisa Kondisi Eksisting dan analisis kebutuhan ruang yang diperlukan untuk orang bisa beraktifitas di dalam gedung ini a Arsitektur modern adalah gaya desain bangunan yang mengutamakan fungsionalitas, kesederhanaan bentuk, dan minimalisme dengan menghindari ornamen berlebihan. Gaya ini berkembang pada abad ke-20 seiring dengan revolusi teknologi dan material baru, seperti baja, beton bertulang, dan kaca. Prinsip utama arsitektur modern adalah "form follows function" (bentuk mengikuti fungsi), yang berarti desain bangunan harus didasarkan pada kegunaannya dan  diharapkan hasil perencanaan dan rancangan ini bisa menjadi acuan dan gambaran bagaimana arsitektur modern merupakan konsep arsitektur yang relevan dengan Fungsi utama dan diharapkan hasil dari perencanaan ini bisa memberikan gambaran proses perencanaan dan perancangan yang baik dan sistematis.
MUSEUM AND LEARNING CENTER DESIGN STRATEGY BASED ON CULTURAL LANDSCAPE HERITAGE CONSERVATION IN MUARA TAKUS STRATEGI DESAIN MUSEUM DAN PUSAT PEMBELAJARAN BERBASIS CULTURAL LANDSCAPE HERITAGE CONSERVATION DI CANDI MUARA TAKUS Gama Ludia Ningsih; Wahyu Utami
JURNAL ARSIP UNPAND Vol 6 No 1 (2026): JURNAL ARSIP UNPAND
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54325/arsip.v6i1.197

Abstract

Candi Muara Takus yang berada di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau merupakan salah satu situs cagar budaya penting yang menunjukkan keterkaitan antara sejarah, aktivitas manusia, serta kondisi lanskap alam di sekitarnya sejak masa Kerajaan Sriwijaya. Kawasan ini memiliki nilai historis, spiritual, dan arkeologis yang tinggi. Namun, hingga saat ini fasilitas yang mendukung kegiatan edukasi dan penyampaian informasi sejarah kepada pengunjung masih sangat terbatas. Akibatnya, sebagian besar pengunjung hanya melihat fisik bangunan candi tanpa memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai nilai sejarah dan budaya kawasan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kebutuhan ruang museum dan balai pembelajaran sebagai sarana edukasi dan interpretasi budaya di kawasan Candi Muara Takus dengan menggunakan pendekatan Cultural Landscape Heritage Conservation (CLHC). Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif melalui studi literatur, observasi lapangan, analisis kebijakan terkait pelestarian cagar budaya, serta studi banding terhadap bangunan dengan fungsi serupa. Analisis difokuskan pada hubungan antara lanskap alam, nilai budaya, serta kebutuhan ruang edukasi di kawasan cagar budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perancangan museum dan balai pembelajaran perlu mempertimbangkan karakter lanskap kawasan, zonasi cagar budaya, serta hubungan visual dengan kompleks candi. Selain itu, desain bangunan juga perlu memperhatikan skala bangunan agar tidak mendominasi situs utama, penggunaan material lokal yang kontekstual, serta penguatan ruang terbuka sebagai media pembelajaran lanskap budaya. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan fungsi edukatif kawasan sekaligus mendukung upaya pelestarian nilai sejarah dan budaya Candi Muara Takus secara berkelanjutan.
INTEGRATED FISH MARKET DESIGN CONCEPT FOR CULTURAL LANDSCAPE IN BAGAN DELI WATERFRONT KONSEP PERANCANGAN PASAR IKAN TERPADU UNTUK LANSKAP BUDAYA DI TEPI AIR BAGAN DELI Mutiara Ubit; Wahyu Utami
JURNAL ARSIP UNPAND Vol 6 No 1 (2026): JURNAL ARSIP UNPAND
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54325/arsip.v6i1.198

Abstract

Bagan Deli di Medan Belawan merupakan lanskap budaya pesisir yang terbentuk dari interaksi aktivitas perikanan dan sistem perairan. Perkembangan kawasan pelabuhan memicu fragmentasi ruang tepi air dan melemahnya relasi spasial antara aktivitas nelayan dan lanskap pesisir. Penelitian sebelumnya mengenai Bagan Deli umumnya berfokus pada kondisi lingkungan dan adaptasi perubahan iklim, sementara pendekatan arsitektural yang memposisikan infrastruktur perikanan sebagai instrumen konservasi lanskap budaya masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengkaji penerapan prinsip konservasi lanskap budaya (Cultural Landscape Conservation/CLC) dalam perancangan pasar ikan terpadu di kawasan tersebut. Metode yang digunakan adalah Information Grouping Model (IGM) William Peña melalui analisis aspek fungsi, bentuk, ekonomi, waktu, dan energi. Hasil menunjukkan bahwa pasar ikan terpadu dapat berperan sebagai simpul lanskap yang memperkuat relasi darat–air melalui integrasi fungsi ekonomi, sosial, dan budaya dalam sistem ruang tepi air. Prinsip pelestarian diwujudkan melalui penataan kembali struktur ruang tepi air yang sebelumnya terfragmentasi, penerapan tipologi bangunan panggung yang adaptif terhadap pasang surut, serta penguatan keterkaitan spasial antara aktivitas nelayan dan kawasan pesisir. Studi ini menegaskan bahwa konservasi lanskap budaya dilakukan melalui penguatan struktur spasial dan praktik sosial kawasan pesisir.
LIFE SKILL HABITS IN THE DESIGN OF BOARDING SCHOOLS USING A BEHAVIORAL ARCHITECTURE APPROACH LIFE SKILL HABITS DALAM PERANCANGAN SEKOLAH RAKYAT BERASRAMA DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR PERILAKU Abdul Rahman Abiaup; R.A. Retno Hastijanti; Ibrahim Tohar
JURNAL ARSIP UNPAND Vol 6 No 1 (2026): JURNAL ARSIP UNPAND
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54325/arsip.v6i1.200

Abstract

Perancangan Sekolah Rakyat Berasrama dilatarbelakangi oleh kebutuhan fasilitas pendidikan yang tidak hanya berfokus pada pembelajaran akademik, tetapi juga mendukung pembentukan kemandirian dan keterampilan hidup siswa. Pada banyak sekolah menengah, proses belajar masih terpusat pada ruang kelas sehingga pengalaman praktik yang membentuk kebiasaan hidup belum sepenuhnya terfasilitasi. Penelitian ini bertujuan merumuskan konsep perancangan sekolah berasrama yang mendukung pembentukan life skill habits melalui pendekatan arsitektur perilaku. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif–analitis dalam proses perancangan arsitektur yang meliputi analisis tapak, identifikasi pelaku dan aktivitas, penyusunan kebutuhan ruang, serta perumusan konsep zonifikasi dan sirkulasi kawasan. Hasil perancangan menunjukkan bahwa pengaturan zonasi antara area edukasi, asrama, dan zona produktif serta sistem sirkulasi yang terstruktur mampu membentuk pola aktivitas harian siswa secara lebih terarah. Penyediaan bengkel kreatif dan pasar siswa juga mendukung pembelajaran berbasis praktik sehingga arsitektur berperan sebagai media pembentuk kemandirian dan keterampilan sosial siswa.

Page 10 of 11 | Total Record : 101