cover
Contact Name
Trisnu Satriadi
Contact Email
sylva.scientaeae@ulm.ac.id
Phone
+6285101185530
Journal Mail Official
trisnu.satriadi@ulm.ac.id
Editorial Address
Jl. A. Yani Km 36 Simpang Empat Banjarbaru Kalimantan Selatan
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Jurnal Sylva Scienteae
ISSN : -     EISSN : 26228963     DOI : http://dx.doi.org/10.20527
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Sylva Scienteae merupakan jurnal yang mempublikasikan hasil penelitian di bidang kehutanan, meliputi Teknologi Hasil Hutan, Manajemen Hutan, Budidaya Hutan, dan Konservasi Hutan. Jurnal ini diterbitkan oleh Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat. Terbit pertama kali di bulan Agustus 2018. Pada Tahun 2018 hanya mengeluarkan dua edisi yaitu Agustus dan Oktober. Selanjutnya pada tahun 2019 sampai sekarang, jurnal dipublikasikan sebanyak 6 edisi, yaitu Februari, April, Juni, Agustus, Oktober dan Desember.
Articles 791 Documents
ANALISIS KOMPOSISI DAN KEANEKARAGAMAN VEGETASI TUMBUHAN BAWAH PADA TEGAKAN MAHONI (Swietenia mahagoni (L.) Jacq) DI KHDTK ULM KALIMANTAN SELATAN Dwi Hargianto Nugroho; Basir Achmad; Setia Budi Peran
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 4 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 4 Edisi Agustus 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i4.9988

Abstract

Covercrops communities in plantation forests are always synonymous with weeds which have long been seen as nuisance and harmful plants, especially in planted areas that are maintained. Covercrops plays an important role as a source of organic matter, reducing the kinetic energy of rain and the forces of runoff over the soil, to prevent erosion by water. The mahogany tree (Swietenia mahagoni (L.) Jacq) is one of the choices of species used in government programs in the green revolution movement. It is possible that in the future there will be lots of mahogany plants around us. This study aims to analyze the types of covercrops that exist in Mahogany (Swietenia mahagoni (L.) Jacq) including Relative Density, Relative Frequency, Important Value Index, analyze the dominance index of understorey species in the stand Mahogany (Swietenia mahagoni (L.) Jacq), and analyzed the diversity and evenness of covercrops species on Mahogany (Swietenia mahagoni (L.) Jacq) at KHDTK ULM which was the research location. The results of this study there are 16 species with a total of 384 types of undergrowth. The types obtained during data collection include alaban kapas, alang-alang, dambah, jawaling, juragi, karamunting, kopasanda, litu, madang pirawas, magatseh, mahang, pancing-pancing, papisangan, sarapangan, tampukas, tengkook ayam. The data from the calculation of understorey obtained the highest important value index of 49.48 from fishing rods, a dominance index of 0.13 which was included in the category of no dominant species, a diversity index of 2.26 which was included in the medium diversity category, and an evenness index of 0.38 which is included in the category of medium equity.Vegetasi yang menempati bagian bawah pada hutan tanaman terkadang identik dengan gulma yang sejak lama dipandang sebagai tanaman pengganggu dan merugikan terutama di areal tanaman yang dipelihara. Tumbuhan bawah berperan penting sebagai penyedia bahan organik, mengurangi kekuatan hempasan butiran air hujan dan kekuatan aliran pada permukaan tanah, untuk mencegah terjadinya erosi oleh aliran air. Pohon mahoni (Swietenia mahagoni (L.) Jacq) menjadi salah satu pilihan jenis yang digunakan pada program pemerintah dalam gerakan revolusi hijau. Hal ini pada masa depan tidak menutup kemungkinan akan ada banyak sekali tanaman dari jenis mahoni disekitar kita. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jenis tumbuhan bawah yang ada pada Tegakan Mahoni (Swietenia mahagoni (L.) Jacq) meliputi Kerapatan Relatif, Frekuensi Relatif, Indeks Nilai Penting, menganalisis indeks dominansi jenis tumbuhan bawah pada tegakan Mahoni (Swietenia mahagoni (L.) Jacq), dan menganalisis keanekaragaman serta kemerataan jenis tumbuhan bawah pada Mahoni (Swietenia mahagoni (L.) Jacq) di KHDTK ULM yang menjadi lokasi penelitian. Hasil dari penelitian ini terdapat 16 jenis dengan total keseluruhan jumlah setiap jenis sebanyak 384 tumbuhan bawah. Jenis-jenis yang didapat selama pengambilan data diantaranya alaban kapas, alang-alang, dambah, jawaling, juragi, karamunting, kopasanda, litu, madang pirawas, magatseh, mahang, pancing-pancing, papisangan, sarapangan, tampukas, tengkook ayam. Data hasil perhitungan tumbuhan bawah diperoleh indeks nilai penting paling tinggi sebesar 49,48 dari jenis pancing-pancing, indeks dominansi sebesar 0,13 yang masuk dalam kategori tidak ada jenis yang mendominasi, indeks keanekaragaman sebesar 2,26 yang masuk dalam kategori keanekaragaman sedang, dan indeks kemerataan sebesar  0,38 yang masuk dalam kategori kemerataan sedang
INVENTARISASI PENGUASAAN LAHAN (TENURIAL) DI KAWASAN HUTAN LINDUNG LIANG ANGGANG Wiji Astutik Alawiyah; Udiansyah Udiansyah; Suyanto Suyanto
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 4 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 4 Edisi Agustus 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i4.10017

Abstract

Protected a whose existence is protected because it is useful in maintaining the ecosystem. De jure land in the Liang Anggang protected forest area is state-owned land, but de facto is used, controlled and even owned by the community with land titles, until now there is no latest data regarding the status of land tenure (tenure) and community settlements  that exist in the Liang Anggang protected forest, so the problem raised in this study is how the status of land ownership is controlled by the community in the Liang Anggang protected forest land tenure boundaries take an inventory  the existing tenure status in the Liang Anggang Protected Forest Area. The method used is descriptive method, which aims to describe the object of research or research results, the data analysis used is spatial analysis, land tenure boundary data is analyzed using image overlays, land tenure status data is analyzed by tabulation and for the presentation of inventory data is in the form of maps and Tables. Most of the Protected Forest area has been controlled by the community since decades ago and the community said that they had obtained the land from generation to generation and part of the proceeds came from buying and selling. Based on the field survey, the land controlled by the community is 19.25 ha. The status of land tenure cultivated by the community does not have a certificate but there are some who hold cultivation permits issued by the RT, namely 15 lands, in the form of SKT issued by the Kelurahan as many as 6 lands and having cultivation permits from the Social Forestry Decree as many as 14 landsHutan lindung adalah hutan yang dilindungi keberadaannya karena bermanfaat dalam menjaga ekosistem. Secara de jure adalah milik negara, tetapi secara de facto dimanfaatkan, dikuasai bahkan dimiliki oleh masyarakat dengan adanya surat-surat tanah, sampai saat ini belum adanya data terbaru mengenai status penguasaan lahan (tenurial) dan pemukiman masyarakat yang ada di hutan lindung liang anggang, sehingga masalah yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah bagaimana status kepemilikan lahan yang dikuasai oleh masyarakat dalam hutan lindung Liang Anggang. Tujuan dari Penelitian ini adalah mengidentifikasi batas-batas penguasaan lahan dan menginventarisasi status penguasaan lahan. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif yaitu bertujuan untuk mendeskripsikan objek penelitian ataupun hasil penelitian, analisis data yang digunakan yaitu analisis spasial, data batas penguasaan lahan dianalisis menggunakan overlay citra, data status penguasaan lahan dianalisis dengan tabulasi dan untuk penyajian data hasil inventarisasi adalah dalam bentuk Peta dan Tabel. Kawasan Hutan Lindung sebagian besar telah dikuasai oleh masyarakat sejak puluhan tahun lalu dan masyarakat menyampaikan bahwa mereka mendapatkan lahan tersebut secara turun temurun dan sebagian hadil dari jual beli. Berdasarkan survey lapangan lahan yang dikuasai masyarakat adalah seluas 19,25 ha. Status penguasaan lahan yang digarap oleh masyarakat tidak memiliki sertifikat namun ada beberapa yang memegang izin garap yang dikeluarkan oleh RT yaitu 15 lahan, berupa SKT yang dikeluarkan oleh Kelurahan sebanyak 6 lahan dan memiliki izin garap dari SK Perhutanan Sosial sebanyak 14 lahan
PENGARUH POLA PENGERINGAN TERHADAP RENDEMEN DAN KUALITAS MINYAK ATSIRI DAUN NILAM (Pogostemon calbin Benth) Husnul Chotimah; Vita Yanuar; Sikin M Noor
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 4 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 4 Edisi Agustus 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i4.10028

Abstract

The nilam plant (Pogostemon Calbin Benth) is a type of plant that has fibrous roots that can live in upland and lowland areas. Nilam will grow well at an altitude of 10 to 400 meters above sea level. The spread of patchouli in South Kalimantan covers the Bati-Bati District and Pelaihari Regency. Nilam (Pogostemon Calbin Benth) contains patchouli alcohol which is used as a binder for fragrance ingredients. This study aims to determine the yield and quality of essential oil from nilam (Pogostemon Calbin Benth) using water and steam distillation methods in various leaf drying patterns. This research was initiated by drying the material and then distilling it to obtain essential oils. Laboratory tests for the content of chemical compounds were carried out at the Agricultural Research and Development Center, Research Institute for Medicinal and Aromatic Plants Bogor to determine the levels of cineol and patchouli alcohol. Laboratory tests showed the highest cineol content in fresh material (77.4%) and the highest patchouli alcohol in sun-dried material (22.95%). Tumbuhan nilam (Pogostemon Calbin Benth) merupakan jenis tanaman yang memiliki akar serabut yang dapat hidup di daerah dataran tinggi dan rendah. Nilam akan tumbuh baik pada ketinggian 10 sampai 400 meter di permukaan laut. Penyebaran nilam di Kalimantan Selatan meliputi wilayah Kecamatan Bati-Bati dan Kabupaten Pelaihari. Nilam (Pogostemon Calbin Benth) memiliki kandungan patchouli alkohol yang digunakan sebagai pengikat bahan-bahan pewangi. Penelitian ini bertujuan mengetahui rendemen dan kualitas minyak atsiri dari tumbuhan Nilam (Pogostemon Calbin Benth) dengan metode penyulingan air dan uap (water and steam destillation) dalam berbagai pola pengeringan daun. Penelitian ini diawali dengan melakukan pengeringan bahan kemudian penyulingan  untuk memperoleh minyak atsiri. Uji Laboratorium kandungan senyawa kimia dilakukan di Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatika Bogor untuk mengetahui kadar sineol dan Patchouli alkohol. Menunjukkan hasil kadar sineol tertinggi pada bahan segar (77,4%) dan patchouli alkohol tertinggi pada bahan kering matahari (22,95%). 
PRODUKTIVITAS DAN KUALITAS MADU KELULUT DARI DESA BANGKILING RAYA KABUPATEN TABALONG Maulana Malik; Siti Hamidah; Trisnu Satriadi
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 4 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 4 Edisi Agustus 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i4.10010

Abstract

The stingless bee (kelulut / Trigona iitama) is a type of insect that is increasingly being cultivated in various regions, including in South Kalimantan.  The efficacy of kelulut honey is very good and easy in beekeepng techniques is the reason why kelulut beekeeping has the potential to be developed.  The purpose of this study was to determine the productivity and quality of kelulut honey at Bangkiling Raya Village, Tabalong Regency. Honey productivity was measured for 4 consecutive months, starting from June 2021 to September 2021. Honey quality was tested based on SNI 8664:2018, namely water content, diastase enzyme activity and reducing sugar. Honey production each month varies between 208 ml per colony to 344 ml per colony. Some parameters of the quality of the honey produced still do not meet SNI, namely water content, HMF and diastase enzyme activity. Parameters that have complied with SNI are reducing sugars. The results of this study indicate that there is a need for improvement in kelulut beekeeping techniques, harvesting techniques and post-harvest handling.Lebah tanpa sengat (Kelulut / Trigona iitama) merupakan jenis serangga yang mulai marak dikembangkan di berbagai daerah, termasuk di Kalimantan Selatan.  Manfaat madu yang baik serta kemudahan dalam teknik budidayanya menjadi alasan mengapa kelulut sangat potensial untuk dikembangkan.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur produktivitas dan kualitas madu kelulut yang berasal dari Desa Bangkiling Raya, Kabupaten Tabalong.  Produktivitas madu diukur selama 4 bulan berturut-turut, mulai dari Juni 2021 sampai dengan September 2021. Kualitas madu diuji berdasarkan SNI 8664-2018 berupa kadar air, enzim diastase, dan gula pereduksi.  Produktivitas madu bervariasi antara 208 ml hingga 344 ml per koloni per bulan.  Madu kelulut memiliki kadar air, HMF dan aktivitas enzim diastase yang belum memenuhi SNI, sedangkan untuk parameter gula pereduksi sesuai dengan SNI.  Pengembangan lebih lanjut perlu dilakukan seperti teknik budidaya, teknik pemanenan dan penanganan pasca panen.
KAJIAN PENGGUNAAN HABITAT OLEH SATWA BURUNG PADA KAWASAN MANGROVE TELUK TUHAHA KECAMATAN SAPARUA TIMUR Christosius F. Pattinasarany; C. K. Pattinasarany; A. Tuhumury
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 4 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 4 Edisi Agustus 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i4.9327

Abstract

Hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di rawa berair payau dan dipengaruhi pasang-surut air laut juga merupakan hutan pada wilayah intertidal dimana terjadi interaksi antara air laut, air payau, sungai, dan terestrial. Interaksi ini menjadikan ekosistem mangrove mempunyai keanekaragaman yang tinggi baik berupa flora maupun fauna, serta merupakan tempat tumbuh, berkembang biak, tempat tinggal serta tempat mencari makan.Pulau Saparua berada di provinsi Maluku yang memiliki kawasan hutan mangrove dengan luas 572,04 ha (5,72 Km²) atau 3,49 % dari total luas pulau Saparua. Penelitian dilaksanakan pada kawasan hutan mangrove Teluk Tuhaha dengan luas areal penelitian sebesar 13,16 ha, bertujuan untuk mengetahui keberadaan jenis satwa burung dan penggunaan vegetasi mangrove bagi keberlangsungan hidup satwa burung. Metode penelitian menggunakan Line Transect, data dianalisa dengan Rumus Analisa Vegetasi (habitat) dan Rumus Shannon-Winner untuk keragaman jenis satwa.Hasil penelitian ditemukan 9 jenis mangrove  dari 5 famili yaitu Bruguiera gymnorrhiza, B. parviflora, Ceriops tagal, Heritiera littoralis, Rhizophora apiculata, R. mucronata, Sonneratia alba, Scyphiphora hydrophyllacea dan Xylocarpus granatum. Sementara satwa burung yang ditemukan terdapat 13 jenis yaitu Perling Ungu (Aplonis metalica), Lawa-lawa (Collocalia sp), Kuntul Besar (Egreta alba), Belibis Totol (Dendrocygna guttata), Kipasan Kebun (Rhipidura leucophrys), Elang Bondol (Haliastur indus), Raja Udang Kecil (Alcedo pusilla), Isap Madu Zaitun (Lichmera argentauris), Sikatan Kelabu (Myiagra galeata), Trinil Pantai (Actitis hypoleucos), Layang-layang Batu (Hirundo tahitica), Cangak Laut (Ardea sumatrana), Srigunting Lencana (Dicrurus bracteatus)
DAMPAK SOSIAL EKONOMI PROGRAM INVESTASI HUTAN II (FOREST INVESTMENT PROGRAM II) TERHADAP MASYARAKAT DI KPH TANAH LAUT Wildani Nugraha; Fonny Rianawati; Hafizianor Hafizianor
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 4 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 4 Edisi Agustus 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i4.10019

Abstract

This study aims to determine the socio-economic impact of Forest Investment Program II (FIP II) on the community in the Tanah Laut FMU, analyze the socio-economic impact on the community using a quantitative approach and descriptive research procedures. The subjects of this study were farmers who joined the Forest Farmers Group and participated in the FIP-II program in Tanah Laut district. The object of this research is the community who join the Forest Farmers Group (KTH) which participates in FIP-II. The forest investment program II provides a socio-economic impact on farming communities in the Forest Village in the Tanah Laut KPH, South Kalimantan Province. There are 3 aspects that affect the socio-economic impact, namely 1). Education aspect where the involvement of farmers in FIP II causes the ability of farmers to send their children to university level, and seek additional education for their children such as courses or training in certain skills. 2) The work aspect, where the existence of FIP II causes the community to have permanent jobs and additional jobs, where farmers who own their own land get capital to seek additional businesses and can open new jobs for the surrounding community outside the KTH. 3) The income aspect where the existence of FIP II can increase farmers' income, as evidenced in the fulfillment of clothing, food, and housing needs as well as being able to meet other needs such as laptops, vehicles, and other electronic goodsPenelitian  ini bertujuan  untuk mengetahui dampak sosial ekonomi Forest Invesment Program II (FIP II) pada Masyarakat di KPH Tanah Laut, menganalisis dampak sosial ekonomi pada masyarakat dengan pendekatan kuantitatif dan prosedur penelitian desktiptif. Subjek penelitian ini adalah petani yang bergabung dalam Kelompok Tani Hutan dan ikut dalam program FIP-II di kabupaten Tanah Laut. Objek dari penelitian ini adalah masyarakat yang bergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) yang ikut dalam  FIP-II. Program investasi hutan II memberikan dampak sosial ekonomi pada masyarakat petani di Desa Hutan di KPH Tanah Laut Provinsi Kalimantan Selatan. Dampak sosial ekonomi yang berpengaruh ada 3 aspek yaitu 1).  aspek Pendidikan dimana dengan keterlibatan petani dalam  FIP II meneyebabkan adanya kemampuan petani untuk menyekolahkan anak mereka sampai ke jenjang perguruan tinggi, dan mengupayakan pendidikan tambahan anak mereka seperti kursus atau pelatihan keahlian tertentu. 2) Aspek pekerjaan, dimana dengan ada nya FIP II menyebabkan masyarakat mempunyai pekerjaan tetap dan pekerjaan tambahan, dimana petani yang memiliki lahan sendiri mendapatkan modal untuk mengupayakan usaha tambahan serta dapat  membuka lapangan pekerjaan baru untuk masyarakata sekitar diluar KTH. 3) Aspek pendapatan dimana dengan adanya FIP II dapat meningkatkan pendapatan petani, terbukti pada pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, dan perumahan juga mampu memenuhi kebutuhan lainnya seperti laptop, kendaraan, dan barang elektronik lainnya
KESEHATAN BIBIT TANAMAN PULAI (Alstonia scholaris) DI BALAI PERBENIHAN TANAMAN HUTAN (BPTH) DINAS KEHUTANAN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Devi Satiti; Susilawati Susilawati; Dina Naemah
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 4 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 4 Edisi Agustus 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i4.10007

Abstract

The purpoose of the study was to analyze te health condition of pulai (Alstonia scholaris) seedlings based on the damage caused by pests and diseases through the appearance of damage to the stems, shoots, leaves and branches and calculate the percentage of damage to pulai (Alstonia shcolaris) seedlings through the Environmental Monitoring and Assessment Program method. EMAP). This research was carried outt at the Forest Plant Seed Center (BPTH) of the Province of South Kalimantan. This researrch was carried out for ± 2 months starting from April to June which includes the stages of research preparation, data collection, data processing and analysis, to writing research reports. The implementation in this research has several stages, namely: Observation or Location Observation, Preparation of Tools and Materials and Data Collection. The selection of the type of seed that wil be the object of reesearch is 50% for the sample. Sampling used a random method or Systematic random sampling, namely the sampling technique was carried out with a sample frame arranged randomly in beds of 1,445 seeds which were numbered and extracted up to 700 numbers and the sample taken was a random meethod. Observing 1 by 1 sample based on the provisions contained in the EMAP classification. The resullts of the research, namely the analysis showeed that the causes of damage consisted of 5, namely due to death, insects, disease, human activities, and plant competition with the damaged parts of the seeds found in the shoots and leaves. The types of damage consisted of dead shoots, damaged leaves, and changes in leaf color and the highest severity is in the range of 30-39%. The ranking of the biggest damage was caused by insects on the leavess and the percentage of damage to stems of pulai (Alstonia Scholaris) was 41.43%.Tujuan penelitian untuk menganalisis kondisi kesehatan bibit pulai (Alstonia scholaris) berdasarrkan kerusakan yang disebaabkan oleh hama dan penyakit melalui kenampakan kerusakan pada bagian batang, pucuk, daun dan cabang dan menghitung persentase kerusakan bibit pulai (Alstonia shcolaris) melalui metode Enviromental Monitoring And Assesment Program (EMAP). Pelaksanaan dallam penelitian ini terdapat beberapa tahapan, yaitu: Observasi atau Pengamatan Lokasi, Persiapan Alat dan Bahan dan Pengambilan Data. Jenis bibit yang dipilih sebesar 50% untuk dijadikan sampel. Pengambilan sampel menggunakan cara acak atau Systematic random sampling dengan kerangka sampel (sample frame) yang disusun secara acak dalam bedengan sebanyak 1.445 bibit yang diberi nomor dan diekstraksi hingga 700 nomor dan sampel yang diambil adalah metode acak. Mengamati 1 per 1 sampel berdasarkan ketentuan yang terdapat pada klasifikasi EMAP. Hasil penelitian yaitu analisis menunjukkan bahwa penyebab kerusakan terdiri dari 5 yaitu  karena mati, serangga, penyakit, kegiatan manusia, dan persaingan tumbuhan dengan bagian bibit yang rusak terdapat pada pucuk dan daun.Tipe kerusakan terdiri atas pucuk mati,daun rusak,dan perubahan warna daun dan tingkat keparahan terbanyak berada dikisaran 30-39%. Ranking kerusakan terbesar adalah karena serangga di bagian daun dan persentase kerusakan batang pulai (Alstonia Scholaris) adalah 41,43%.
PENGARUH LAMANYA BENIH SETELAH JATUH DARI POHON DAN LAMA PERENDAMAN TERHADAP PERKECAMBAHAN MERSAWA (Anisoptera marginata Korth.) Sirul Hayati; Basir Achmad; Adistina Fitriani
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 4 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 4 Edisi Agustus 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i4.10011

Abstract

Testing the effect of "length of time after falling from the tree" (seed age) and soaking time on mersawa germination aims to analyze the germination rate and percentage of germinating mersawa seeds. The factors studied were LBSJP which consisted of 2 months and 1 month, and soaking of red onion extract which consisted of soaking time of 12 hours (without red onion extract/control), 6 hours, 9 hours, 12 hours, and 15 hours with  red onion extract. Based on the Mann-Whitney U test, the two factors and their interactions did not have a significant effect on the variables analyzed (germination rate and germination percentage). However, the seeds with 1 month age germinated faster, namely 13 days compared to the 2 months aged seed, namely 16 days and also had a higher survival rate in seeds with 1 month age, namely 93.33% compared to 2 months, namely 60%. Furthermore, the soaking factor also did not significantly affect the germination rate and germination percentage; however, the seeds that germinated the fastest were the seeds that were seed age 1 month with soaking for 12 hours compared to the seeds that were aged 2 months with soaking for 15 hours using red onion extract.Pengujian pengaruh “lamanya benih setelah jatuh dari pohon” (LBSJP) dan lama perendaman terhadap perkecambahan mersawa bertujuan untuk menganalisis laju perkecambahan dan presentase berkecambah benih mersawa. Faktor yang diteliti adalah  LBSJP yang terdiri dari 2 bulan dan 1 bulan, dan perendaman ekstrak bawang merah yang terdiri dari lama perendaman 12 jam (tanpa ekstrak bawang merah/konrol), 6 jam, 9 jam, 12 jam, dan 15 jam dengan ekstrak bawang merah. Berdasarkan Uji Mann-Whitney U, kedua faktor tersebut dan interaksinya tidak mememberikan pengaruh nyata terhadap variabel yang dianalisis (kecepatan berkecambah dan persentase berkecambah). Namun demikian benih yang LBSJP 1 bulan lebih cepat berkecambah yaitu 13 hari dibanding LBSJP 2 bulan yaitu 16 hari dan juga pada persentase hidup lebih tinggi pada  benih yang  LBSJP 1 bulan yaitu 93,33% dibandingkan 2 bulan yaitu 60%. Selanjutnya faktor perendaman juga tidak berpengaruh nyata terhadap laju perkecambahan dan persentase berkecambah, namun demikian benih yang paling cepat berkecambah yaitu benih yang LBSJP 1 bulan dengan perendaman selama 12 jam dibandingkan benih yang LBSJP 2 bulan dengan perendaman selama 15 jam menggunakan ekstrak bawang merah.
KONTRIBUSI USAHA PERHUTANAN SOSIAL TERHADAP PENDAPATAN ANGGOTA KELOMPOK USAHA PERHUTANAN SOSIAL (KUPS) DI DESA SUNGAI BAKAR KABUPATEN TANAH LAUT Abdul Haliq Sudin M. Batalipu; Asysyifa Asysyifa; Arfa Agustina Rezekiah
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 4 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 4 Edisi Agustus 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i4.9989

Abstract

Sungai Bakar village has obtained village forest management rights since 2017. The community formed an institution with several social forestry business groups (KUPS). KUPS formed include environmental services, agroforestry, silvopastura, clean water, and kelulut honey. The results of KUPS become one of the contributions in increasing the income of each member. The purpose of this study was to analyze the contribution of KUPS members income from social forestry efforts in Sungai Bakar Village. The research method was conducted through field observation and purposive sampling interviews. The contribution of income to the community obtained from KUPS is known by dividing the KUPS income by the total household income. The observation results obtained KUPS active program is KUPS agroforestry with crops porang 1 ha, Silvopastura with 6 cows and 13 goats, clean water which is still in the phase of clinical trials BPOM, honey kelulut with 17 stup, and environmental services are still in the stage of Coordination Department of Tourism land. The Silvopasturan KUPS contributed 6.43%, clean water management 6.46%, and kelulut honey 11.39%, while the agroforestry and environmental services KUPS in 2021 still did not contribute.Desa Sungai Bakar mendapatkan hak pengelolaan hutan desa sejak tahun 2017. Masarakat membentuk lembaga dengan beberapa kelompok usaha perhutanan sosial (KUPS). KUPS yang dibentuk diantaranya jasa lingkungan, agroforestry, silvopastura, air bersih, dan madu kelulut. Hasil dari KUPS menjadi salah satu kontribusi dalam meningkatkan pendapatan setiap anggotanya. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kontribusi pendapatan anggota KUPS dari Usaha Perhutanan Sosial di Desa Sungai Bakar. Metode penelitian dilakukan dengan melaluai observasi lapangan dan wawancara secara sensus Kontribusi pendapatan untuk masyarakat yang didapat dari KUPS diketahui dengan membagi pendapatan KUPS dengan total pendapatan rumah tangga. Hasil observasi didapatkan program KUPS yang aktif yaitu KUPS agroforestri dengan tanaman porang 1 ha, Silvopastura dengan 6 ekor sapi dan 13 ekor kambing, air bersih yang masih dalam tahap uji klinis BPOM, madu kelulut dengan dengan 17 stup, dan jasa lingkungan yang masih tahap koordinasi Dinas Pariwisata Tanah Laut. KUPS silvopasturan memberikan kontribusi 6,43%, pengelolaan air bersih 6,46%, dan madu kelulut 11,39%, sedangkan KUPS agroforestry dan jasa lingkungan pada tahun 2021 masih belum memberikan kontribusi.
KAJIAN TINGKAT BAHAYA EROSI PADA BERBAGAI TIPE TUTUPAN LAHAN SUB DAS PANJARATAN DI DAS TABUNIO KABUPATEN TANAH LAUT Wisda Hartati; Syarifuddin Kadir; Badaruddin Badaruddin
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 4 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 4 Edisi Agustus 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i4.10021

Abstract

Changes in land use in an area are caused by direct land use. Land degradation due to land use changes that are not accompanied by visible damage prevention measures cause high levels of erosion and sedimentation and low levels of rainwater infiltration cause several problems.Tanah Laut Regency is an area where there is a lot of land conversion, so its not functioning properly. The goal of this study was to calculate the amount of erosion based on the type of land cover in the Panjaratan sub-watershed and to analyze the level of erosion hazard (TBE) in various land covers in the Panjaratan sub-watershed. Method that used is the method proposed by Wischmeier & Smith, namely the Universal Soil Loss Equation (USLE) and data collection by purposive sampling. The results was obtained show that the number of suspected erosion in the Panjaratan Sub-Watershed was 60.97 tonsa/ahaa/ayr with an average of 6.77 tonsa/ahaa/ayr and categorized as very light erosion with details The highest amount of erosion value was in Land Unit 3 in wood tuber farming with an of 14.47 tonsa/ahaa/ayr erosion with erosion hazard class I, while the lowest value was in Land Unit 4 in Jackfruit Plantations with 1.99 tonsa/ahaa/ayr erosion with erosion hazard class I. While the erosion hazard level in all land units shows TBE class 0-SR (very light) is found in UL 1 Corn plantation, UL 2 reeds, UL 4 Jackfruit Plantation, UL 5 Shrubs, UL 6 alang- alang, dryland agriculture at UL 3, Oil palm plantations at UL 7 and 8 While TBE class I-R (light) there is UL 9 on open landPerubahan tata guna lahan di suatu wilayah disebabkan karena adanya pemanfaatan lahan secara langsung. Degradasi lahan akibat dari perubahan tata guna lahan yang tidak disertai dengan tindakan pencegahan kerusakan secara kasat mata menimbulkan tingginya tingkat erosi dan sedimentasi serta rendahnya tingkat resapan air hujan menimbulkan beberapa permasalahan. Kabupaten Tanah Laut merupakan daerah yang banyak terjadi alih fungsi lahan sehingga tidak berfungsi baik. Tujuan penelitian ini adalah menghitung besarnya erosi berdasarkan tipe tutupan lahan di Sub DAS Panjaratan dan menganalisis tingkat bahaya erosi (TBE) di berbagai tutupan lahan di Sub DAS Panjaratan. Metode yang digunakan adalah metode yang dikenalkan Wischmeier & Smith berupa Universal Soil Loss Equation (USLE) dan pengambilan datanya dengan cara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan Jumlah dugaan erosi di Sub DAS Panjaratan adalah 60,97 ton./.ha/.thn dengan rata rata 6,77 ton./.ha/.thn dan dikategori erosi sangat ringan dengan rincian. Jumlah nilai erosi tertinggi berada pada Unit Lahan 3 pada Pertanian umbi kayu dengan nilai 14,47 ton./.ha/.thn dengan kelas bahaya erosi I, Sedangkan nilai terendah ada pada Unit Lahan 4 pada Perkebunan Nangka dengan nilai 1,99 ton./.ha/.thn dengan kelas bahaya erosi I. Tingkat bahaya erosi pada semua unit menunjukkan TBE kelas 0-SR (sangat ringan) terdapat pada UL 1  Perkebunan jagung,  UL 2 alang-alang, UL 4 Perkebunan Nangka, UL 5 Semak Belukar, UL 6 alang- alang , pertanian lahan kering pada UL 3, Perkebunan sawit pada UL 7 dan 8 Sedangkan TBE kelas I-R (ringan) ada UL 9 pada lahan terbuka

Filter by Year

2018 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 8, No 6 (2025): Jurnal Sylva Scienteae Vol 8 No 6 Edisi Desember 2025 Vol 7, No 6 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 6 Edisi Desember 2024 Vol 7, No 5 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 5 Edisi Oktober 2024 Vol 7, No 4 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 4 Edisi Agustus 2024 Vol 7, No 3 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 3 Edisi Juni 2024 Vol 7, No 2 (2024): Jurnal Sylva Scientea Vol 7 No 2 Edisi April 2024 Vol 7, No 1 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 1 Edisi Februari 2024 Vol 6, No 6 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 6 Edisi Desember 2023 Vol 6, No 5 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 5 Edisi Oktober 2023 Vol 6, No 4 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 4 Edisi Agustus 2023 Vol 6, No 3 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 3 Edisi Juni 2023 Vol 6, No 2 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 2 Edisi April 2023 Vol 6, No 1 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 1 Edisi Februari 2023 Vol 5, No 6 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 6 Edisi Desember 2022 Vol 5, No 5 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 5 Edisi Oktober 2022 Vol 5, No 4 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 4 Edisi Agustus 2022 Vol 5, No 3 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 3 Edisi Juni 2022 Vol 5, No 2 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Volume 5 No 2 Edisi April 2022 Vol 5, No 1 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Volume 5 No 1 Edisi Februari 2022 Vol 3, No 6 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Volume 3 No 6 Edisi Desember 2020 Vol 4, No 6 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 6 Edisi Desember 2021 Vol 4, No 5 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 5 Edisi Oktober 2021 Vol 4, No 4 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 4 Edisi Agustus 2021 Vol 4, No 3 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 3 Edisi Juni 2021 Vol 4, No 2 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 2 Edisi April 2021 Vol 4, No 1 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 1 Edisi Februari 2021 Vol 3, No 5 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 5, Edisi Oktober 2020 Vol 3, No 4 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 4, Edisi Agustus 2020 Vol 3, No 3 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 3, Edisi Juni 2020 Vol 3, No 2 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 2, Edisi April 2020 Vol 3, No 1 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 1, Edisi Februari 2020 Vol 2, No 6 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 6, Edisi Desember 2019 Vol 2, No 5 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 5, Edisi Oktober 2019 Vol 2, No 4 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 4, Edisi Agustus 2019 Vol 2, No 3 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 3, Edisi Juni 2019 Vol 2, No 2 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 2, Edisi April 2019 Vol 2, No 1 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 1, Edisi Februari 2019 Vol 1, No 2 (2018): Jurnal Sylva Scienteae Vol 1 No 2, Edisi Oktober 2018 Vol 1, No 1 (2018): Jurnal Sylva Scienteae Vol 1 No 1, Edisi Agustus 2018 More Issue