cover
Contact Name
Trisnu Satriadi
Contact Email
sylva.scientaeae@ulm.ac.id
Phone
+6285101185530
Journal Mail Official
trisnu.satriadi@ulm.ac.id
Editorial Address
Jl. A. Yani Km 36 Simpang Empat Banjarbaru Kalimantan Selatan
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Jurnal Sylva Scienteae
ISSN : -     EISSN : 26228963     DOI : http://dx.doi.org/10.20527
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Sylva Scienteae merupakan jurnal yang mempublikasikan hasil penelitian di bidang kehutanan, meliputi Teknologi Hasil Hutan, Manajemen Hutan, Budidaya Hutan, dan Konservasi Hutan. Jurnal ini diterbitkan oleh Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat. Terbit pertama kali di bulan Agustus 2018. Pada Tahun 2018 hanya mengeluarkan dua edisi yaitu Agustus dan Oktober. Selanjutnya pada tahun 2019 sampai sekarang, jurnal dipublikasikan sebanyak 6 edisi, yaitu Februari, April, Juni, Agustus, Oktober dan Desember.
Articles 791 Documents
EFEKTIVITAS BUAH MENGKUDU (Morinda citrifolia) SEBAGAI PENGAWET KAYU JABON (Arthocephalus cadamba) DAN KEMIRI (Aleurites moluccana) TERHADAP SERANGAN RAYAP TANAH (Coptotermes travians Homgren) Anggy Widya Firdaus; Kurdiansyah Kurdiansyah; Trisnu Satriadi
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 3 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 3 Edisi Juni 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i3.9218

Abstract

Efforts prevent damage to wood are very important in order to improve quality and service life. One way that can be used is by means of wood preservation technology. This study uses noni (Morinda citrifolia) fruit as a natural presevative. The purpose of this study was to analyze the concentration of preservatives that were well absorbed by Jabon (Arthocephalus cadamba) wood and Kemiri (Aleurites moluccana) wood to resist subterranean termites. This study used Jabon wood and Kemiri wood without preservation and wich had been treated with preservation of 100 grams/liter, 200 grams/liter and 300 grams/liter. Analysis of the value of absorption and retention values were influenced by the addition of noni fruit preservatives on Jabon and Kemiri wood. The percentage of weight loss was influenced by the type of wood where Jabon had better resistance than Kemiri woodUpaya mencegah kerusakan pada kayu sangat penting dalam rangka meningkatkan kualitas dan umur pakai. Salah satu metode yang dapat digunakan ialah dengan cara teknologi pengawetan kayu. Penelitian menggunakan buah mengkudu (Morinda citrifolia) sebagai bahan pengawet alami. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa konsentrasi bahan pengawet yang baik diserap oleh kayu Jabon (Arthocephalus cadamba) dan kayu Kemiri (Aleurites moluccana) untuk menahan serangan rayap tanah.  Penelitian ini menggunakan kayu Jabon dan kayu Kemiri tanpa pengawetan dan yang telah diberi perlakuan pengawetan 100 gram/liter, 200 gram/liter dan 300 gram/liter.  Analisis nilai absobsi, retensi dan kehilangan berat dilakukan menggunakan perhitungan Rancangan Acak Lengkap (RAL).   Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa nilai absorbs dan retensi dipangeruhi oleh penambahan bahan pengawet ekstrak buah mengkudu pada Kayu Jabon dan Kemiri,  Persentase kehilangan berat dipengaruhi oleh Jenis kayu dimana Jabon memiliki ketahanan yang lebih baik dibanding dengan kayu Kemiri.
PRODUKTIVITAS DAN RENDEMEN BARECORE DARI LIMBAH EMPULUR KAYU SENGON (Paraserianthes falcataria) DI PT. HUTAN RINDANG BANUA, DESA SEBAMBAN BARU, KABUPATEN TANAH BUMBU, PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Marwatul Mukarramah; Noor Mirad Sari; Lusyiani Lusyiani
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 3 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 3 Edisi Juni 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i3.9226

Abstract

Productivity and yield are results that compare the achieved, the raw materials with the functioning systems. The study aims to analyze productivity and the yield from the barecore of the sengon wood (Paraserianthes falcataria) pith wastes in PT Hutan Rindang Banua.  Productivity calculations use a stopwatch with a zero stop method. Yield is calculated as a percentage of the ratio of yield and raw materials. The highest productivity on the seventh day was 0.3315 m3/ hour, while the third day lowest was 0.1241 m3/ hour. The average productivity for 7 days is 0.2372 m3/ hour. The highest yield on the third day is 89.9767 %, while the lowest on the second day is 58.0500 %. The average yield for 7 days is 74.5516 %.Produktivitas dan rendemen adalah hasil yang membandingkan antara hasil yang dicapai, bahan baku dengan sistem kerjanya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis produktivitas dan rendemen dari pembuatan barecore dari limbah empulur kayu sengon (Paraserianthes falcataria) di PT. Hutan Rindang Banua. Perhitungan produktivitas menggunakan stopwatch dengan metode nol stop. Rendemen dihitung sebagai persentase dari perbandingan antara hasil dan bahan baku. Hasil produktivitas yang tertinggi pada hari ketujuh adalah 0.3315 m3/jam, sedangkan yang terendah pada hari ketiga adalah 0.1241 m3/jam. Rata – rata produktivitas selama 7 hari adalah 0.2372 m3/jam. Hasil rendemen yang tertinggi pada hari ketiga adalah 89.9767 %, sedangkan yang terendah pada hari kedua adalah 58.0500 %. Rata – rata rendemen selama 7 hari adalah 74.5516 %.
ANALISIS PENGETAHUAN MASYARAKAT MANDIANGIN KECAMATAN KARANG INTAN KABUPATEN BANJAR KALIMANTAN SELATAN MENGENAI PEMANFAATAN TANAMAN MAHANG (Macaranga hypoleuca), TEJA (Cinnamomum iners) DAN WANGUN GUNUNG (Melicope sp) Sariana Sariana; Adi Rahmadi; Yuniarti Yuniarti
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 3 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 3 Edisi Juni 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i3.9215

Abstract

Knowledge analysis of the community of Mandiangin, Karang Intan subdistrict, Banjar district, South Kalimantan on the use of mahang (Macaranga hypoleuca), teja (Cinnamomum iners) and wangun gunung (Melicope sp.). The study aims to analyze the community knowledge about the use of mahang, teja, wangun gunung that can reduce or prevent covid-19 and analyze the plant parts used for the covid-19 treatment. Collecting data using interview techniques with snowball sampling method.. Based on interviews with the people in Mandiangin Timur Village, they have used mahang, teja and wangun gunung plants for the prevention and treatment of Covid-19.. he parts of the plants used in the mahang plant are the roots, the teja plant in the leaves and the wangun gunung plant in the shootsAnalisis Pengetahuan Masyarakat Mandiangin Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan Mengenai Pemanfaatan Tanaman Mahang (Macaranga hypoleuca), Teja (Cinnamomum iners) dan Wangun Gunung  (Melicope sp.). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengetahuan masyarakat tentang pemanfaatan tanaman Mahang, Teja, Wangun gunung yang dapat mengurangi atau mencegah Covid-19 dan Menganalisis bagian tanaman yang digunakan untuk pengobatan Covid-19. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara dengan metode snowball sampling. Berdasarkan hasil wawancara masyarakat di Desa Mandiangin Timur telah memanfaatkan tanaman mahang, teja dan wangun gunung untuk pencegahan dan pengobatan Covid-19. Bagian tanaman yang dimanfaatkan pada tanaman mahang yaitu bagian akar, tanaman teja pada bagian daun dan tanaman wangun gunung pada bagian pucuk
UJI TINGKAT KEBERHASILAN TANAMAN KEMIRI Martha Silvya Kapitan
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 3 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 3 Edisi Juni 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i3.9321

Abstract

This study aims to (1) The success rate of candlenut plants with the stump system (2) The success rate of candlenut plants with the pull out system (3) The success rate of candlenut plants with the spin system. The design used in this study was a completely randomized design (CRD). The stump, pullout and spin treatment had no significant effect with the survival rate for pullout and spin was 100% while for stump was 0%. For the increase in diameter, the stump value (A1) did not experience a diameter growth of 0, while the uprooting (A2) was 1.34 cm and the turning (A3) was 1.41 cm. The stump, pluck and twist treatments had a significant effect on height gain with stump (A1) 0 cm, uproot (A2) 2.99 cm and spin (A3) 4.11 cm. for the number of leaves with the percentage of uprooting (A2) and turning (A3) 4 leaves while for stump (A1) 0 leaves.Penelitian ini bertujuan untuk (1) Tingkat keberhasilan tanaman kemiri dengan sistem stump (2) Tingkat keberhasilan tanaman kemiri dengan sistem cabutan (3) Tingkat keberhasilan tanaman kemiri dengan sistem puteran. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL).Perlakuan stump, cabutan dan puteran tidak memberikan pengaruh nyata dengan nilai persentase hidup untuk cabutan dan puteran 100% sedangkan untuk stump 0%. Untuk pertambahan diameter dengan nilai stump (A1) tidak mengalami pertumbuhan diameter 0, sedangkan cabutan (A2) 1.34 cm dan puteran (A3) 1.41 cm. Perlakuan stump, cabutan dan puteran memberikan pengaruh nyata terhadap pertambahan tinggi dengan nilai stump (A1) 0 cm, cabutan (A2) 2.99 cm dan puteran (A3) 4.11 cm. untuk jumlah daun dengan presentase cabutan (A2) dan puteran (A3) 4 helai daun sedangkan untuk stump (A1) 0 helai daun
ANALISIS TINGKAT BAHAYA EROSI (TBE) PADA SUB DAS TEBING SIRING DAS TABUNIO KABUPATEN TANAH LAUT KALIMANTAN SELATAN Hartinah Harman; Syarifuddin Kadir; Badaruddin Badaruddin
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 3 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 3 Edisi Juni 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i3.9219

Abstract

The erosion hazard level of a sub-watershed is very important to find out about the degree of erosion hazard in an area. This research aims to analyze the value of erosion and the level of erosion hazard that occurs in the Tebing Siring sub-watershed, Tabunio watershed, Tanah Laut district, South Kalimantan Province. Estimation of erosion value using the USLE (Universal Soil Loss Equation) method with purposive sampling using 8 (eight) sample points on a predetermined land unit. The highest erosion value of 192.18 tons/ha/yr was obtained on a land unit (UL) 4 with land cover in the form of open land with a rather steep slope (15-25%). The lowest erosion value of 0.81 ton/ha/yr was obtained on a land unit (UL) 6 with rubber plantation land cover with a flat slope (0-8%). The degree of erosion hazard obtained refers to the findings of the calculation, it was found that the Tebing Siring Sub-watershed has a very light to severe erosion hazard level.  Very light erosion hazard level is known to be found in a land unit (UL) 5, land unit (UL) 6, and land unit (UL) 7. Light erosion hazard level is found in a land unit (UL) 1, land unit (UL) 2, and land unit (UL) 3. Moderate erosion hazard level is found in a land unit (UL) 8, and the severe erosion hazard level is found in a land unit (UL) 4Tingkat bahaya erosi Sub DAS sangat penting dilakukan untuk mencari tahu tentang derajat besar bahaya erosi yang dialami pada suatu kawasan. Riset ini bertujuan guna analisis nilai erosi dan level bahaya erosi yang terjadi di Sub DAS Tebing Siring DAS Tabunio kabupaten tanah laut Provinsi Kalimantan Selatan. Pendugaan nilai erosi dengan menerapkan metode USLE (Universal Soil Loss Equation) dengan pengambilan sampel yang dalam hal ini berjenis purposive sampling dengan jumlah 8 (delapan) titik sampel pada unit lahan yang telah ditetapkan. Nilai erosi tertinggi sebesar 192,18ton/ha/thn diperoleh pada unit lahan (UL) 4 dengan penutupan lahan berupa lahan terbuka dengan kemiringan lereng agak curam (15-25%). Nilai erosi terendah sebesar 0,81ton/ha/thn diperoleh pada unit lahan (UL) 6 dengan penutupan lahan perkebunan karet dengan kemiringan lereng datar (0-8%). Derajat bahaya erosi yang diperoleh mengacu pada temuan perhitungan ditemukan bahwa pada Sub DAS Tebing Siring memiliki level bahaya erosi amat ringan hingga berat. Derajat bahaya erosi sangat ringan diketahui terdapat pad unit lahan (UL) 5, unit lahan (UL) 6 dan unit lahan (UL) 7. Tingkat bahaya erosi ringan terdapat pada unit lahan (UL) 1, unit lahan (UL) 2 dan unit lahan (UL) 3. Derajat bahaya erosi sedang terdapat pada unit lahan (UL) 8, dan tingkat bahaya erosi barat terdapat pada unit lahan (UL) 4.
PENGELOLAAN DAN KONTRIBUSI TANAMAN KEMIRI (Aleurites moluccana) BAGI MASYARAKAT SEKITAR KAWASAN HUTAN KEMASYARAKATAN DESA GALAM KABUPATEN TANAH LAUT Mardiah Mardiah; Hafizianor Hafizianor; Fonny Rianawati
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 3 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 3 Edisi Juni 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i3.9211

Abstract

The candlenut plant in Galam Village before there was HKM was used by selling candlenut wood because the selling price was cheap, difficult to market, and the splitting of candlenut seeds was still manual. After the KTH Batu Kura was formed and get the candlenut crusher. Candlenut shells are also used to make liquid smoke which functions as a rubber latex thickener. The purpose of this study was to analyze the candlenut management system and the contribution of candlenut to the income of the community around the Community Forest Area in Galam Village, Bajuin District, Tanah Laut Regency. The tools used in this study include writing instruments, calculators, laptops. The types and sources of data needed to analyze management and contributions include primary data obtained from the community and secondary data from government agencies. Determination of respondents using saturated sampling method or census. Saturated sampling is a sampling technique when all members of the population are used as samples. Data collection is by using several approaches including interviews, field observations, and literature studies. The candlenut management data was analyzed in a systematic way, while the candlenut contribution was analyzed mathematically using four formulas, namely the formula for costs, income, net income and contribution. The results obtained from this study are candlenut management consisting of land preparation, planting patterns, maintenance, harvesting, candlenut production processes and marketing. The contribution of candlenut plants to the income of the community members of KTH Batu Kura is 31% and the contribution of non-candlenut income is 69%.Tanaman kemiri di  Desa Galam sebelum ada HKM di manfaatkan dengan cara menjual kayu kemiri karena harga jual yang murah, sulit dipasarkan, dan pemecahan biji kemiri masih manual. Setelah dibentuk KTH Batu Kura dan mendapatkan bantuan berupa peralatan pemecah kemiri. Cangkang kemiri juga dapat dimanfaatkan untuk membuat asap cair yang mana asap cair ini berfungsi untuk pengental getah karet. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis sistem pengelolaan kemiri dan kontribusi kemiri terhadap pendapatan masyarakat sekitar Kawasan Hutan Kemasyarakatan di Desa Galam Kecamatan Bajuin Kabupaten Tanah Laut. Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain alat tulis, alat hitung, laptop. Jenis dan sumber data yang diperlukan untuk menganalisi pengelolaan dan kontribusi meliputi data primer yang didapatkan dari masyarakat dan data sekunder dari intansi pemerintah.  Penentuan responden menggunakan metode sampling jenuh atau sensus. Sampling jenuh adalah teknik penentuan sample bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Pengambilan data yaitu dengan menggunakan beberapa pendektan antara lain wawancara, observasi lapangan, dan studi literatur. Analisis data pengelolaan kemiri dengan cara sistematis sedangkan kontribusi kemiri di analisis dengan matematis dengan menggunakan empat rumus yaitu rumus biaya, pendapatan, pendapatan bersih dan Kontribusi. Hasil yang diproleh dari penelitian ini adalah pengelolaan kemiri terdiri dari persiapan lahan, pola penanaman, pemeliharaan, pemanenan, proses produksi kemiri dan pemasaran. Kontribusi tanaman kemiri terhadap pendapatan masyarakat anggota KTH Batu Kura yaitu sebesar 31% dan kontribusi dari pendapatan diluar kemiri yaitu sebesar 69%.
ANALISIS PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP KEMAMPUAN INFILTRASI DAN ALIRAN PERMUKAAN CURAH HUJAN DI DAS MALUKA Muhammad Dienul Hafiz; Badaruddin Badaruddin; Khairun Nisa
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 3 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 3 Edisi Juni 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i3.9227

Abstract

Watershed conditions is one of the variables in the occurrence of floods that affect infiltration and run-off. Infiltration and run-off that occur in each land use have different values. The high and low values of infiltration and run-off will determine whether land use in the watershed will produce run-off or not. Maluka Watershed is one of the watersheds in South Kalimantan which has a fast water level rise but has a small infiltration rate and low slope making it prone to flooding. The purpose of this research are: (1) to analyze the rate and volume of infiltration as well as run-off in the Maluka watershed; and (2) to examine the role of land use that affects the rate of infiltration and run-off. This research was conducted in the Maluka watershed, located in Tanah Laut District, Banjar District, and Banjarbaru City. The Infiltration test was carried out using Horton Method with three repetitions five minutes apart and more than five meters away. The rainfall-runoff test was carried out using the Rational Method. The result of this research showed that in dry land agriculture the highest infiltration is 55,96 mm/hour (medium) with an infiltration volume is 25.99 mm3, the smallest infiltration located on open land is 10.27 mm/hour (low medium) with infiltration volume is 2.85 mm3, the highest runoff in plantations is 92.36 m3/second (while research) and 419.16 m3/second (within five years) while the smallest run off located on shrubs is 4.95 m3/second (while research), and 22.47 m3/second (within five years). The role of land use that affects the rate and volume infiltration as well as the amount of runoff is all land use, including open landKondisi Daerah Aliran Sungai atau DAS merupakan salah satu variabel dalam terjadinya banjir yang mempengaruhi infiltrasi dan aliran permukaan. Infiltrasi dan aliran permukaan yang terjadi pada setiap penggunaan lahan memiliki nilai berbeda-beda. Tinggi dan rendahnya nilai infiltrasi dan aliran permukaan akan menentukan penggunaan lahan yang ada di DAS akan menghasilkan aliran permukaan atau tidak. DAS Maluka merupakan salah satu DAS yang ada di Kalimantan Selatan yang memiliki kenaikan muka air cepat tetapi laju infiltrasinya kecil serta kelerengannya rendah sehingga rawan terjadinya banjir. Tujuan dari penelitian ini yaitu: (1) Menganalisis laju dan volume infiltrasi serta aliran permukaan di DAS Maluka; dan (2) Mengkaji peran penggunaan lahan yang mempengaruhi laju infiltrasi dan besarnya aliran permukaan. Penelitian ini dilakukan di DAS Maluka yang terletak di Kabupaten Tanah Laut, Kabupaten Banjar, dan Kota Banjarbaru. Uji infiltrasi dilakukan dengan menggunakan Metode Horton dengan 3 ulangan yang berselang waktu 5 menit dan berjarak 5 meter lebih serta uji aliran permukaan dilakukan dengan Metode Rasional. Hasil penelitian yang dilakukan didapatkan bahwa pertanian lahan kering memiliki laju infiltrasi terbesar 55,96 mm/jam (sedang) dengan volume infiltrasi 25,99 mm3, laju infiltrasi terkecil terdapat pada tutupan lahan tanah terbuka 10,27 mm/jam (sedang lambat) dengan volume infiltrasi 2,85 mm3, aliran permukaan tertinggi terdapat di perkebunan 92,36 m3/detik (selama penelitian) dan 419,16 m3/detik (dalam kurun waktu 5 tahun) sedangkan aliran permukaan terkecil ditemukan di semak 4,95 m3/detik (selama penelitian) dan 22,47 m3/detik (dalam kurun waktu 5 tahun). Peran penggunaan lahan yang mempengaruhi laju infiltrasi dan volume infiltrasi serta besarnya aliran permukaan yaitu semua tutupan lahan termasuk tanah terbuka.
KARAKTERISTIK ANATOMI DAN SIFAT FISIK KAYU HALABAN (Vitex pinnata L) YANG TUMBUH SECARA ALAMI DI BANJARBARU, KALIMANTAN SELATAN, INDONESIA Sinta Amanah; Wiwin Tyas Istikowati; Budi Sutiya
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 3 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 3 Edisi Juni 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i3.9216

Abstract

Halaban (Vitex pinnata L) wood is an endemic wood species originating from Kalimantan. Halaban wood is one of the types of wood that is familiar to the people of Kalimantan because it is used as wood charcoal and liquid smoke from the combustion of the wood, but many industries actually use wood as the main raw material and result in reduced availability of wood as pulp material being depleted. The purpose of this study was to analyze the anatomical and physical characteristics of Halaban wood that grows naturally in Banjarbaru, South Kalimantan. From 1 tree, 3 stems were sampled, each position was taken a wooden disk with a thickness of 5 cm from a height of 130 cm from the ground. Measurement of moisture content (KA), specific gravity (BJ), wood anatomy, and fiber derivative values. The test results show that halaban wood has an average of KA (16.79%±0.87), BJ (0.56±0.26). The anatomy of halaban wood obtained fiber length (1502.4 mm), lumen length (112.96 μm), fiber Ø (28.35 μm), lumen Ø (21.61 μm), and cell wall thickness (3.37 μm). Halaban fiber derivative values are Runkel Ratio (0.31), Slendernes (52.71), Muhlsteph Ratio (72.7%), Coefficient of Rigidity (0.11), and Flexibility Ratio (0.75). According to the fiber quality results obtained, Halaban wood is classified as class 2 with a total value of 375, meaning that it can be used as raw material for pulp and paper.Kayu Halaban (Vitex pinnata L) merupakan jenis kayu yang endemik atau berasal dari Kalimantan. Kayu halaban ini salah satu jenis kayu yang familiar bagi masyarakat Kalimantan karena digunakan sebagai arang kayu dan asap cair dari hasil pembakaran kayu tersebut, akan tetapi banyak industri ternyata memanfaatkan kayu untuk bahan baku utama dan mengakibatkan tersedianya kayu untuk bahan pulp menjadi berkurang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis karakteristik anatomi dan sifat fisik kayu halaban yang tumbuh secara alami di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Dari 1 pohon di ambil sampel 3 batang, setiap posisi diambil disk kayu dengan ketebalan 5 cm dari ketinggian 130 cm dari permukaan tanah. Pengukuran kadar air (KA), berat jenis (BJ), anatomi kayu, dan nilai turunan serat. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kayu halaban memiliki rata-rata KA (16,79%  BJ (0,56 . Anatomi kayu halaban diperoleh panjang serat (1502,4 mm), panjang lumen (112,96 μm), Ø serat (28,35 μm), Ø lumen (21,61 μm), dan ketebalan dinding sel (3,37 μm). Nilai turunan dari serat halaban yaitu Bilangan Rankel (Runkel Ratio) (0,31), Daya Tenun (Slendernes) (52,71), Perbandingan Muhlsthep (Muhlsteph Ratio) (72,7%), Koefisien kekakuan (Coefficient of Rigidity) (0,11), dan Perbandingan fleksibilitas (Flexibility Ratio) (0,75). Menurut hasil kualitas serat yang diperoleh, kayu halaban termasuk kategori kelas 2 dengan jumlah nilai 375 artinya bisa digunakan sebagai bahan baku pulp dan kertas.
POTENTIAL, ECOLOGY AND FUTURE DEVELOPMENT OF ATONG PLANT (Parinarium glaberimum, Hassk) ON THE ISLAND OF SAPARUA - MALUKU Johan Markus Matinahoru
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 3 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 3 Edisi Juni 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i3.8781

Abstract

The purpose of this study was to determine the potential and ecology of the Atong (Parinarium glaberimum) on Saparua Island, Central Maluku Regency. The method used for data collection of the  plants  number was the plot method, and for data analysis of vegetation was the Vegetation Value Index (VVI). The results of the research showed that the potential of atong plants in Saparua Island was classified as low density with an average number of 67 individual plants per hectare in each sample village. Atong plants are found growing and developing on the regosol soil at 100 - 300 meters from the coastline. Atong plant seeds are generally used by people to cure stomachaches, preservation of fish and also to prevent or to repel mosquitoes.
KEANEKARAGAMAN MAKROFAUNA TANAH DI PERKEBUNAN KARET (Hevea brasiliensis) DI DESA LABUHAN KECAMATAN BATANG ALAI SELATAN KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH Riska Younear; Eny Dwi Pujawati; Ahmad Yamani
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 3 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 3 Edisi Juni 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i3.9223

Abstract

Changes in land conditions greatly affect the life of soil macrofauna. Information about the diversity of soil fauna in rubber plantations in Labuhan village does no yet exist, so research is needed. The study aims to identify species, specifying the important value index and determine the soil fauna diversity index in rubber plantations Labuhan Village, South Batang Alai District, Hulu Sungai Tengah District. The methods used is pitfall trap by making excavtions in the ground to install plastic cups whouse position is parallel to the ground surface as many as 10 pieces and filled with 70% alcohol, the traps are closed with zinc plates with a size 20×20 cm2 installed for 1×24 hours and the hand shorting is carried out to take soil macrofauna that is inside with a depth of 20-30 cm, soil excavation using a hoe, then sorting soil macrofauna transported in the excavated soil sampel. The result of the research and identification found as many 20 species of soil fauna identified in rubber plantations with 14 families. The dominant species being the fire ant (Solenopsis invicta) with the highest important value index of 47.51%. While soil macrofauna species diversity index in rubber plantations belongs to the medium category with a value of 1.967.Perubahan kondisi lahan sangat berpengaruh terhadap kehidupan makrofauna tanah.  Informasi tentang keragaman fauna tanah di perkebunan karet di desa Labuhan belum ada, berdasarkan kondisi inilah maka kegiatan penelitian perlu dilakukan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi spesies, menentukan indeks nilai penting fauna tanah di perkebunan karet dan menentukan indeks keanekaragaman spesies fauna tanah di perkebunan karet di Desa Labuhan. Metode yang digunakan yaitu pitfall trap (perangkap jebak) dengan membuat galian pada tanah untuk memasang gelas plastik yang posisinya sejajar dengan permukaan tanah sebanyak 10 buah dan diisi dengan alkohol 70%. Perangkap ditutup dengan seng plat dengan ukuran 20×20 cm2 dipasang selama 1×24 jam dan hand shorting (penyortiran dengan tangan) dilakukan untuk mengambil makrofauna tanah yang ada di dalam tanah dengan 20-30 cm, penggalian tanah menggunakan alat cangkul, kemudian dilakukan penyortiran makrofauna tanah yang terangkut dalam sampel tanah yang digali. Hasil penelitian dan identifikasi diperoleh makrofauna yang teridentifikasi di perkebunan karet sebanyak 20 spesies dengan 14 famili. Spesies yang mendominasi yaitu semut api (Solenopsis invicta) dengan indeks nilai penting tertinggi 47,51%. Sedangkan indeks keanekaragaman spesies makrofauna tanah di perkebunan karet tergolong dalam kategori sedang dengan nilai 1,967

Filter by Year

2018 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 8, No 6 (2025): Jurnal Sylva Scienteae Vol 8 No 6 Edisi Desember 2025 Vol 7, No 6 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 6 Edisi Desember 2024 Vol 7, No 5 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 5 Edisi Oktober 2024 Vol 7, No 4 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 4 Edisi Agustus 2024 Vol 7, No 3 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 3 Edisi Juni 2024 Vol 7, No 2 (2024): Jurnal Sylva Scientea Vol 7 No 2 Edisi April 2024 Vol 7, No 1 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 1 Edisi Februari 2024 Vol 6, No 6 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 6 Edisi Desember 2023 Vol 6, No 5 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 5 Edisi Oktober 2023 Vol 6, No 4 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 4 Edisi Agustus 2023 Vol 6, No 3 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 3 Edisi Juni 2023 Vol 6, No 2 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 2 Edisi April 2023 Vol 6, No 1 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 1 Edisi Februari 2023 Vol 5, No 6 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 6 Edisi Desember 2022 Vol 5, No 5 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 5 Edisi Oktober 2022 Vol 5, No 4 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 4 Edisi Agustus 2022 Vol 5, No 3 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 3 Edisi Juni 2022 Vol 5, No 2 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Volume 5 No 2 Edisi April 2022 Vol 5, No 1 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Volume 5 No 1 Edisi Februari 2022 Vol 3, No 6 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Volume 3 No 6 Edisi Desember 2020 Vol 4, No 6 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 6 Edisi Desember 2021 Vol 4, No 5 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 5 Edisi Oktober 2021 Vol 4, No 4 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 4 Edisi Agustus 2021 Vol 4, No 3 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 3 Edisi Juni 2021 Vol 4, No 2 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 2 Edisi April 2021 Vol 4, No 1 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 1 Edisi Februari 2021 Vol 3, No 5 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 5, Edisi Oktober 2020 Vol 3, No 4 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 4, Edisi Agustus 2020 Vol 3, No 3 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 3, Edisi Juni 2020 Vol 3, No 2 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 2, Edisi April 2020 Vol 3, No 1 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 1, Edisi Februari 2020 Vol 2, No 6 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 6, Edisi Desember 2019 Vol 2, No 5 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 5, Edisi Oktober 2019 Vol 2, No 4 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 4, Edisi Agustus 2019 Vol 2, No 3 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 3, Edisi Juni 2019 Vol 2, No 2 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 2, Edisi April 2019 Vol 2, No 1 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 1, Edisi Februari 2019 Vol 1, No 2 (2018): Jurnal Sylva Scienteae Vol 1 No 2, Edisi Oktober 2018 Vol 1, No 1 (2018): Jurnal Sylva Scienteae Vol 1 No 1, Edisi Agustus 2018 More Issue