cover
Contact Name
Trisnu Satriadi
Contact Email
sylva.scientaeae@ulm.ac.id
Phone
+6285101185530
Journal Mail Official
trisnu.satriadi@ulm.ac.id
Editorial Address
Jl. A. Yani Km 36 Simpang Empat Banjarbaru Kalimantan Selatan
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Jurnal Sylva Scienteae
ISSN : -     EISSN : 26228963     DOI : http://dx.doi.org/10.20527
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Sylva Scienteae merupakan jurnal yang mempublikasikan hasil penelitian di bidang kehutanan, meliputi Teknologi Hasil Hutan, Manajemen Hutan, Budidaya Hutan, dan Konservasi Hutan. Jurnal ini diterbitkan oleh Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat. Terbit pertama kali di bulan Agustus 2018. Pada Tahun 2018 hanya mengeluarkan dua edisi yaitu Agustus dan Oktober. Selanjutnya pada tahun 2019 sampai sekarang, jurnal dipublikasikan sebanyak 6 edisi, yaitu Februari, April, Juni, Agustus, Oktober dan Desember.
Articles 812 Documents
PERBANDINGAN MUTU BRIKET ARANG TEMPURUNG KELAPA DAN KULIT DURIAN DITINJAU DARI KADAR AIR, ABU, DAN ZAT TERBANG BERDASARKAN SNI 01-6235-2000 Wulandari, Febriana Tri; Valentino, Niechi
Jurnal Sylva Scienteae Vol 8, No 6 (2025): Jurnal Sylva Scienteae Vol 8 No 6 Edisi Desember 2025
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v8i6.17797

Abstract

Penelitian ini bertujuan membandingkan mutu briket arang tempurung kelapa dan kulit durian berdasarkan parameter kadar air, kadar abu, dan kadar zat terbang, serta menilai kesesuaiannya dengan standar mutu SNI 01-6235-2000, P3HH, dan beberapa standar internasional. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) satu faktor dengan dua jenis bahan baku briket, masing-masing diulang tiga kali. Proses pembuatan briket meliputi karbonisasi bahan, penghancuran arang, pencampuran dengan perekat, pencetakan, dan pengeringan, sedangkan analisis mutu dilakukan melalui uji proksimat sesuai prosedur SNI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa briket tempurung kelapa (TK) memiliki mutu yang lebih baik dibandingkan briket kulit durian (KD). Nilai kadar air TK sebesar 0,41% dan KD 3,64%, keduanya memenuhi standar <8%. Pada kadar abu, TK (7,10%) memenuhi SNI (<8%), sedangkan KD (12,91%) melampaui ambang batas. Perbedaan paling signifikan ditemukan pada kadar zat terbang, di mana TK memiliki nilai 10,35% yang sesuai standar (<15%), sedangkan KD mencapai 78,78% sehingga tidak memenuhi kriteria mutu. Analisis ANOVA menunjukkan pengaruh sangat nyata jenis bahan baku terhadap ketiga parameter (p < 0,05). Secara keseluruhan, briket tempurung kelapa dinyatakan layak dan memenuhi sebagian besar standar mutu, sedangkan briket kulit durian hanya memenuhi parameter kadar air dan memerlukan optimasi proses karbonisasi untuk meningkatkan kualitasnya. Hasil ini menegaskan bahwa tempurung kelapa merupakan bahan baku yang lebih ideal untuk produksi briket arang berkualitas tinggi berbasis biomassa.
IDENTIFIKASI BENTUK-BENTUK KEARIFAN LOKAL DALAM MENJAGA DAN MELESTARIKAN HUTAN DI DESA TUNABESI KECAMATAN IO KUFEU KABUPATEN MALAKA Seran, Maria Henindra Martin; Rammang, Nixon; Pramatana, Fadlan; Marimpan, Lusia Sulo
Jurnal Sylva Scienteae Vol 9, No 1 (2026): Jurnal Sylva Scienteae Vol 9 No 1 Edisi Februari 2026
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v9i1.16173

Abstract

Kearifan lokal mempunyai arti penting untuk menjaga kerinduan sebuah kebudayaan di suatu tempat, sekaligus agar terus dan tetap terjaga akan kelestariannya. Nilai-nilai yang terkandung di dalam kearifan lokal, sebagai sebuah konsepsi (tersimpan dan tertanam) yang khas milik seseorang, atau kelompok masyarakat. Desa Tunabesi di Kecamatan Io Kufeu, Kabupaten Malaka, merupakan salah satu desa yang masih mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal dalam pengelolaan hutan adatnya. Namun, Hutan Adat Kufeu yang berada di desa tersebut belum memperoleh pengakuan hukum secara formal dari pemerintah terkait Surat Keputusan (SK).Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk kearifan lokal Desa Tunabesi dalam menjaga dan melestarikan hutan, serta mengetahui cara masyarakat mempertahankan nilai-nilai tersebut dari generasi ke generasi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat masih menjaga nilai-nilai seperti larangan menebang pohon sembarangan, menghindari berlebihan, serta pelaksanaan ritual adat dan sanksi bagi pelanggar. Adat dan peran Tetua Adat menjadi penguat kerinduan tradisi ini. Kearifan lokal terbukti efektif dalam melestarikan hutan, meskipun belum diakui secara hukum. Oleh karena itu diperlukan pengakuan hukum agar masyarakat memiliki perlindungan hukum dalam pengelolaan hutan adat.
ANALISIS INFILTRASI PADA BERBAGAI KELAS LERENG DI DAERAH ALIRAN SUNGAI SERATAK KABUPATEN KOTABARU Nazari, Erwin Rif'at; Badaruddin, Badaruddin; Kadir, Syarifuddin
Jurnal Sylva Scienteae Vol 9, No 1 (2026): Jurnal Sylva Scienteae Vol 9 No 1 Edisi Februari 2026
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v9i1.16520

Abstract

Infiltrasi adalah proses dimana air masuk dari permukaan tanah ke dalam tanah melalui pori-pori tanah. Tingkat infiltrasi yang berbeda pada berbagai kemiringan lereng dapat memengaruhi jumlah air yang dapat meresap ke dalam tanah dan seberapa besar aliran permukaan yang terbentuk. DAS Seratak di Kalimantan Selatan dikenal memiliki tingkat infiltrasi tinggi yang dapat menyebabkan risiko banjir kecil. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis tingkat infiltrasi; dan (2) menganalisis kapasitas serta volume infiltrasi pada berbagai kemiringan lereng, mulai dari yang datar hingga sangat curam. Penelitian dilakukan di DAS Seratak, Kotabaru. Metode Horton dengan 3 pengulangan dan interval waktu 5 menit digunakan dalam pengujian infiltrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemiringan yang landai memiliki tingkat infiltrasi tertinggi, mencapai 103,27 cm/jam (cepat), sementara kemiringan yang sangat curam memiliki tingkat infiltrasi terendah, yaitu 23,77 cm/jam. Kapasitas dan volume infiltrasi tertinggi terdapat pada kemiringan yang landai (8-15%), sementara yang terendah terdapat pada kemiringan yang curam (25-40%). Kemiringan landai memiliki kapasitas sebesar 36,3 cm/jam dan volume infiltrasi sebesar 94,9 cm3, sedangkan kemiringan curam memiliki kapasitas sebesar 10,6 cm/jam dan volume infiltrasi sebesar 25,4 cm3. Peran kemiringan lereng mempengaruhi tingkat, kapasitas, dan volume infiltrasi dengan variasi yang signifikan.
POTENSI TEGAKAN KARET DI DESA TELAGA LANGSAT KECAMATAN TAKISUNG KABUPATEN TANAH LAUT Noor, Yofie Luthfian; Asyari, Mufidah; Suyanto, Suyanto
Jurnal Sylva Scienteae Vol 9, No 1 (2026): Jurnal Sylva Scienteae Vol 9 No 1 Edisi Februari 2026
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v9i1.18409

Abstract

Persediaan kayu di hutan alam semakin menipis akibat adanya degradasi hutan. Hal tersebut menjadi masalah yang serius sehingga perlu adanya solusi untuk memenuhi kebutuhan manusia akan kayu yang semakin tinggi. Salah satu sumber penghasil kayu alternatif adalah hutan milik masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis potensi tegakan Karet Desa Telaga Langsat. Penelitian ini menggunakan sampel yang didapat menggunakan plot ukur lingkaran dengan titik awal secara purposif dan dilanjutkan secara sistematis. Sampel yang diambil sebanyak 10 titik lokasi dengan masing-masing lokasi menggunakan 3 plot sampel. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa hutan masyarakat di Desa Telaga Langsat bertipe homogen yang ditanami jenis Karet (Hevea brasiliensis) yang tumbuhnya menyebar secara teratur di sekitar pemukiman Masyarakat, dengan potensi tegakan sebesar 623 batang/ha dan volume total 2,195 m3 /ha. Individu terbanyak berada di jalur 3 berjumlah 1000 batang/ha dan Individu terkecil berada di jalur 10 berjumlah 500 batang/ha. Sedangkan potensi tegakan terbesar berada di jalur 1 dengan nilai potensi rata-rata diameter 24,37 cm, LBD 0,047 m2 , dan volume 0,136 m3 per individunya. Untuk potensi tegakan terkecil berada di jalur 10 dengan nilai potensi rata-rata diameter 17,70 cm, LBD 0,025 m2 , dan volume 0,044 m3 per individunya. Berdasarkan nilai potensi tegakan, kayu Karet di Desa Telaga Langsat bisa dimanfaatkan sebagai bahan bangunan dan bahan baku pembuatan arang jika sudah tidak produktif lagi menghasilkan getah karet. Kegiatan penjarangan perlu dilakukan agar pertumbuhan tegakan Karet bisa bagus dan optimal, serta perlu adanya penanaman jenis lain agar tumbuhan di Desa Telaga Langsat lebih bervariasi.
POTENSI DAN DOMINANSI TEGAKAN PADA WILAYAH BUKIT PULAI, PAMATON, DAN MANDIANGIN DI KAWASAN HUTAN DENGAN TUJUAN KHUSUS HUTAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT Nugroho, Vinsensius Bima; Suyanto, Suyanto; Udiansyah, Udiansyah
Jurnal Sylva Scienteae Vol 9, No 1 (2026): Jurnal Sylva Scienteae Vol 9 No 1 Edisi Februari 2026
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v9i1.9529

Abstract

Hutan memberikan manfaat yg banyak bagi manusia, maka hutan harus terus dilestarikan demi eksistensi kehidupan mahluk hidup di bumi. Untuk menyusun suatu perencanaan yang baik, maka diperlukan informasi tentang hutan yang dapat diperoleh dari data potensi hutan yang bersifat kuantitatif dan kualitatif. Bukit Pulai, Pamaton, dan Mandiangin masih belum banyak diketahui jenis-jenis tegakan dan manfaat di sana. Tujuan dari penelitian yaitu menganalisis potensi dan mengidentifikasi dominansi tegakan di kawasan Bukit Pulai, Pamaton, dan Mandiangin. Lokasi plot jalur berpetak ditentukan dengan metode purposive sampling yang memiliki panjang 20 m dan berjarak 1000 m antar jalurnya. Hasil dari penelitian yaitu tegakan di kawasan Bukit Pulai, Pamaton, dan Mandiangin terdiri dari 42 jenis untuk tingkat semai dengan potensi batang perhektar sebesar 219,36 m2/ha, 51 jenis untuk tingkat pancang berpotensi batang perhektar sebesar 124,24 m2/ha, 30 jenis untuk tingkat tiang memiliki 3,61 m2/ha potensi batang perhektarnya, dan 25 jenis untuk tingkat pohon berpotensi volume sebesar 0,18 m3/ha serta identifikasi dominansi tegakan tumbuhan pada tiap tingkat pertumbuhan didominasi oleh tengkook ayam (Nephelitum sp) ditingkat semai, tanaman mampat (Cratoxylon tormosum) menjadi yang paling dominan ditingkat pertumbuhan pancang, pada tingkat pertumbuhan tiang alaban (Vitex pubescens) menjadi tanaman yang paling dominan tumbuh, medang puspa (Schima wallichii) menjadi yang paling dominan ditingkat pertumbuhan pohon dimana tipe penutupan lahan di  Bukit Pulai, Pamaton, dan Mandiangin terdiri dari Hutan Lahan Kering Sekunder Kerapatan Rendah dengan potensi volume hanya sebesar 8,54 m3/ha, penutupan lahan semak belukar berpotensi volume hanya 6,67 m3/ha, penutupan lahan kebun berpotensi volume hanya sebesar 1,28 m3/ha.
ANALISIS PENGARUH IKLIM MIKRO TERHADAP AKTIVITAS LEBAH KELULUT (Trigona sp.) DI PESANTREN MIFTAHUL ULUM TABALONG Muhtadin, Ahmad; Arifin, Yudi Firmanul; Achmad, Basir
Jurnal Sylva Scienteae Vol 9, No 1 (2026): Jurnal Sylva Scienteae Vol 9 No 1 Edisi Februari 2026
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v9i1.18404

Abstract

Salah satu keanekaragaman hayati yang dapat dibanggakan Indonesia adalah serangga dimana lebah madu kelulut termasuk hewan serangga bersayap, sebagai penghasil madu yang telah lama dikenal manusia. Pembudidayaan madu kelulut memberikan dampak yang baik terhadap perekonomian masyarakat yang mengelolanya dimana permintaan madu akhir-akhir ini meningkat secara signifikan, terutama di masa pandemi Covid-19. Kondisi lingkungan yang terdapat di Pondok Pesantren Miftahul Ulum masih belum diketahui apakah sudah bagus untuk dilakukan pembudidayaan lebah kelulut. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis perbedaan iklim mikro (suhu, kelembapan dan intensitas cahaya) pada pagi (08.00-09.00 WITA), siang (12.00-13.00 WITA) dan sore (16.00-17.00 WITA) hari terhadap aktifitas lebah kelulut serta menentukan korelasinya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan analisis korelasi bivariat dengan Uji Pearson dan analisis korelasi. Hasil dari penelitian ini yaitu jumlah individu lebah madu kelulut yang beraktifitas tertinggi ditemukan pada siang hari dan terendah pada sore hari dimana suhu yang diperlukan pada aktivitas lebah kelulut berkisar 26,7 oC – 32,4 oC yang memiliki korelasi 0,6558 dimana arah trendline mengarah ke atas sehingga memiliki hubungan yang positif, kelembapan udara di sekitar habitat kelulut berkisar antara 68 – 99% dengan nilai korelasi dimana hubungan antara kelembapan dan aktivitas lebah kelulut berbanding terbalik atau negatif, berpengaruh agak lemah, dan memiliki interpretasi yang lemah, serta intensitas cahaya di habitat kelulut berkisar antara 123 – 1087 Lux dengan Hubungan korelasi antara intensitas cahaya dan aktivitas lebah kelulut bernilai 0.3046 yang memiliki hubungan berbanding terbalik atau negatif yang lemah dimana tidak memberikan dampak signifikan antara keduanya
Estimasi Penyerapan Karbon di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus ULM Menggunakan Metode Klasifikasi NDVI Dengan Citra Sentinel-2 MSI Ramadhan, Aditya; Syam'ani, Syam'ani; Jauhari, Ahmad
Jurnal Sylva Scienteae Vol 9, No 1 (2026): Jurnal Sylva Scienteae Vol 9 No 1 Edisi Februari 2026
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v9i1.11428

Abstract

ABSTRACT, Greenhouse gases such as carbon dioxide are significant contributors to global warming, threatening the global climate. Carbon in forest biomass has the potential to reduce GHG emissions. This research aims to develop a biomass model based on NDVI values and field data to estimate carbon sequestration in the ULM Forest Carbon Stock Area. The research utilizes two methods: NDVI and field measurements. Pre-field data management involves image management, image correction, and image clipping for NDVI analysis on the research area map. Sample point determination uses stratified and purposive sampling with a plot size of 20 m × 20 m, totaling 45 sample points. Field observation data collection at tree, pole, pile, understory vegetation, seedlings, and litter levels to assess the forest biomass potential. The research results, based on 38 samples, establish a linear regression model correlation of 715.62x-187.29 with an R2 of 0.701 and an RMSE measurement error rate of 41.72 kg/pixel, indicating an average field carbon potential of 217.11 kg/pixel. This shows the highest carbon potential in 2018 at 0.39 ton/pixel and 0.42 ton/pixel in 2022. The developed linear regression model indicates a carbon sequestration of 2585.07 tons or 1.63 tons/ha over a four-year period in the ULM Forest Carbon Stock Area.Keywords : Biomass, NDVI, Correlation, Carbon SequestrationABSTRAK. Gas rumah Kaca (GRK) seperti karbon dioksida menjadi kontributor utama pemanasan global yang mengancam iklim global. Karbon hutan dalam bentuk biomassa memiliki potensi menurukan emisi GRK. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model biomassa antara nilai NDVI dan data lapangan sehingga mengestimasikan serapan karbon KHDTK ULM. Metode penelitian menggunakan dua metode NDVI dan pengukuran lapangan. Pengelolaan data pralapangan meliputi pengelolaan citra, koreksi citra, pemotongan citra untuk analisis NDVI pada peta wilayah penelitian. Teknik penentuan titik sampel menggunakan stratified sampling dan purposive sampling dengan ukuran plot 20 m × 20 m berjumlah 45 titik sampel. Pengambilan data hasil observasi lapangan pada tingkat pohon, tiang, pancang tumbuhan bawah, semai dan seresah untuk mengetahui potensi biomassa hutan. Hasil penelitian menunjukkan dari 38 sampel yang digunakan membangun korelasi model regresi linier yaitu 715,62x-187,29 dengan R2 (0,701) dengan RMSE tingkat eror pengukuran potensi karbon sebesar 41,72 kg/pixel, dengan rata-rata potensi karbon lapangan 217,11 kg/pixel. Menunjukkan potensi karbon terbesar tahun 2018 yaitu 0,39 ton/pixel dan tahun 2022 sebesar 0,42 ton/pixel. Model regresi linier yang dikembangkan menunjukkan penyerapan karbon KHDTK ULM sebesar 2585,07 ton atau 1,63 ton/ha dalam kurun waktu empat tahun.Kata Kunci: Biomassa, NDVI, Korelasi, Penyerapan Karbon
USAHA KERAJINAN BAMBU (Bambusa Sp.) DI DESA BATU BINI KECAMATAN PADANG BATUNG KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN Pakpahan, Teresa; Asysyifa, Asysyifa; Hafizianor, Hafizianor
Jurnal Sylva Scienteae Vol 9, No 1 (2026): Jurnal Sylva Scienteae Vol 9 No 1 Edisi Februari 2026
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v9i1.18410

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan usaha kerajinan bambu dan mendeskripsikan pemasaran usaha kerajinan bambu di desa Batu Bini Kecamatan Padang Batung Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Bambu diketahui sebagai tumbuhan yang berumpun, berakar serabut yang batangnya bulat berongga, beruas, keras, dan tinggi, digunakan sebagai bahan bangunan, perabot rumah tangga dan kerajinan anyaman bambu. Usaha kerajinan bambu di Desa Batu Bini Kecamatan Padang Batung Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang diprakarsai oleh ibu Normila selaku ketua pengrajin bambu di Desa Batu Bini sejak dibentuk tahun 2019 hingga sekarang. Metode penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. Objek penelitian ini adalah anggota pengrajin bambu di Desa Batu Bini RT 03 RW 02. Dengan rincian responden dari anggota pengrajin bambu Desa Batu Bini berjumlah 30 orang yang terdiri dari 28 perempuan dan 2 orang laki-laki. Penentuan subjek atau responden yang dipilih mengacu pada persyaratan bahwa orang tersebut terlibat serta memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam pengelolaan kerajinan bambu. Metode yang dilakukan pada penelitian ini ialah metode kualitatif. Berdasarkan hasil analisis usaha kerajinan bambu di Desa Batu Bini bahwa Desa Batu Bini memiliki sumbardaya alam sangat berpotensi di bagian tanaman bambunya. Produk hasil kerajinan bambu Desa Batu Bini ada Butah, Kipas, Lanjung, Bakul, Tempat Tissue, Tempat Barang, Tempat Alat Tulis, Tempat Make Up, Toples, Tas Kecil, Keranjang, Tempat Botol. Kisaran harga produk kerajinan bambu dari 15ribu–200ribuan. Sistem pemasaran yang dipakai para pengrajin bambu adalah menjual dengan secara langsung dan secara online ke konsumen, adapun juga dijual ke pembakul lalu dipasarkan ke luar(pasar). 
Correlation Analysis of Vegetation Density (VD) with the Level of Vegetation Covery Density in Forest Areas for Special Objectives Lambung Mangkurat University Busthami, Yazid; Peran, Setya Budi; Jauhari, Ahmad
Jurnal Sylva Scienteae Vol 9, No 1 (2026): Jurnal Sylva Scienteae Vol 9 No 1 Edisi Februari 2026
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v9i1.11436

Abstract

Penelitian ini memiliki tujuan, yaitiu; (1) Menganalisis korelasi data Normalize Difference Vegetation Indeks (NDVI) dengan luas kerapatan tajuk di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Universitas Lambung Mangkurat (ULM); (2) Menganalisis korelasi Vegetation Densitiy (VD) dengan nilai kerapatan tajuk raster di KHDTK ULM. Penentuan titik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling berdasarkan Peta Normalize Difference Vegetation Indeks (NDVI) dengan kelas penutupan lahan berupa hutan sekunder dan ukuran petak ukur 10x10 m2 tingkat tiang dan 20x20 m2 untuk tingkat pohon, dengan data yang diambil berupa lebar tajuk melalui pengukuran diameter/jari-jari tajuk vegetasi. Hasil dari penelitian ini yaitu persamaan antara nilai Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) dengan luas kerapatan tajuk dalam plot 20x20 m2 mendapatkan persamaan dengan y = 0,5327x - 0,176, dengan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,7159 yang memiliki arti bahwa nilai variabel (x) tersebut mempunyai pengaruh 71% dan nilai koefisien korelasi (r) 0,8461 mengartikan hubungan antara Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) dengan luas kerapatan tajuk dalam plot 20x20 m2 sangat kuat dan persamaan antara nilai Vegetatio Density (VD) dengan Kerapatan tajuk raster menghasilkan y = 0,6851x + 0,0076, dengan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,9146 yang memiliki arti bahwa nilai variabel (x) tersebut mempunyai pengaruh 91% dan nilai Koefisien Korelasi (r) 0,956347 mengartikan hubungannya sangat kuat. Oleh karena itu, penggunaan citra Vegetation Density (VD) dapat dijadikan informasi yang cukup valid terhadap data kerapatan tajuk vegetasi pada suatu area dan dapat dijadikan informasi tambahan sebelum melakukan pengambilan data di lapangan
PEMANFAATAN TUMBUHAN OBAT OLEH MASYARAKAT KOTA KUTACANE, KAB. ACEH TENGGARA, ACEH Br Lubis, Rizky Febriana; Zuhriansah, Alfi Laila; Karlina, Yuni
Jurnal Sylva Scienteae Vol 9, No 1 (2026): Jurnal Sylva Scienteae Vol 9 No 1 Edisi Februari 2026
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v9i1.18084

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan pemanfaatan tumbuhan obat oleh masyarakat Kota Kutacane, Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh, serta menganalisis pola penggunaan, bagian tumbuhan yang dimanfaatkan, dan cara pengolahannya. Penelitian ini dilaksanakan pada Juli 2025. Data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dan observasi langsung terhadap informan yang ditentukan menggunakan teknik purposive sampling. Sedangkan data sekunder diperoleh melalui studi pustaka yang bersumber dari jurnal ilmiah, buku etnobotani, dan berbagai dokumen pendukung yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 27 jenis tumbuhan obat dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Anggota famili yang dominan adalah Zingiberaceae. Daun menjadi bagian yang paling sering digunakan (62,96 %), diikuti rimpang (18,52 %) dan buah (7,41 %). Metode penggunaan utama adalah diminum untuk penyakit dalam, sedangkan tempelan, olesan, dan digosok diterapkan pada gangguan eksternal. Teknik pengolahan masih sederhana, seperti perebusan, penumbukan, dan pemarutan. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa meskipun berada di wilayah perkotaan, masyarakat Kota Kutacane tetap mempertahankan ketergantungan pada tumbuhan obat sebagai alternatif pengobatan tradisional.

Filter by Year

2018 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 9, No 1 (2026): Jurnal Sylva Scienteae Vol 9 No 1 Edisi Februari 2026 Vol 8, No 6 (2025): Jurnal Sylva Scienteae Vol 8 No 6 Edisi Desember 2025 Vol 7, No 6 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 6 Edisi Desember 2024 Vol 7, No 5 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 5 Edisi Oktober 2024 Vol 7, No 4 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 4 Edisi Agustus 2024 Vol 7, No 3 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 3 Edisi Juni 2024 Vol 7, No 2 (2024): Jurnal Sylva Scientea Vol 7 No 2 Edisi April 2024 Vol 7, No 1 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 1 Edisi Februari 2024 Vol 6, No 6 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 6 Edisi Desember 2023 Vol 6, No 5 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 5 Edisi Oktober 2023 Vol 6, No 4 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 4 Edisi Agustus 2023 Vol 6, No 3 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 3 Edisi Juni 2023 Vol 6, No 2 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 2 Edisi April 2023 Vol 6, No 1 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 1 Edisi Februari 2023 Vol 5, No 6 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 6 Edisi Desember 2022 Vol 5, No 5 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 5 Edisi Oktober 2022 Vol 5, No 4 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 4 Edisi Agustus 2022 Vol 5, No 3 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 3 Edisi Juni 2022 Vol 5, No 2 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Volume 5 No 2 Edisi April 2022 Vol 5, No 1 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Volume 5 No 1 Edisi Februari 2022 Vol 3, No 6 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Volume 3 No 6 Edisi Desember 2020 Vol 4, No 6 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 6 Edisi Desember 2021 Vol 4, No 5 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 5 Edisi Oktober 2021 Vol 4, No 4 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 4 Edisi Agustus 2021 Vol 4, No 3 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 3 Edisi Juni 2021 Vol 4, No 2 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 2 Edisi April 2021 Vol 4, No 1 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 1 Edisi Februari 2021 Vol 3, No 5 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 5, Edisi Oktober 2020 Vol 3, No 4 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 4, Edisi Agustus 2020 Vol 3, No 3 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 3, Edisi Juni 2020 Vol 3, No 2 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 2, Edisi April 2020 Vol 3, No 1 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 1, Edisi Februari 2020 Vol 2, No 6 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 6, Edisi Desember 2019 Vol 2, No 5 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 5, Edisi Oktober 2019 Vol 2, No 4 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 4, Edisi Agustus 2019 Vol 2, No 3 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 3, Edisi Juni 2019 Vol 2, No 2 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 2, Edisi April 2019 Vol 2, No 1 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 1, Edisi Februari 2019 Vol 1, No 2 (2018): Jurnal Sylva Scienteae Vol 1 No 2, Edisi Oktober 2018 Vol 1, No 1 (2018): Jurnal Sylva Scienteae Vol 1 No 1, Edisi Agustus 2018 More Issue