cover
Contact Name
Muhammad Faisal
Contact Email
bashair@staindirundeng.ac.id
Phone
+6282289616858
Journal Mail Official
bashair@staindirundeng.ac.id
Editorial Address
Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Teungku Dirundeng Meulaboh Alamat: Jl. Lingkar Kampus Alue Peunyareng, Gp. Gunong Kleng, Meureubo - Aceh Barat. Kode Pos: 23615 Telp/Fax (0655) 7551591
Location
Kab. aceh barat,
Aceh
INDONESIA
BASHAIR
ISSN : 28071018     EISSN : 2807100X     DOI : https://doi.org/10.47498/bashair
Core Subject : Religion,
Jurnal Ilmu alQuran dan Tafsir concern menerbitkan karya ilmiah yang bertemakan kajian Alquran dengan Cakupan Kajian Ilmu Alquran, terjemahan Alquran, Studi Tafsir Alquran, Penelitian tentang Alquran dan Living Quran.
Articles 74 Documents
Analisis Tasybīh Dalam Qur'an Surah An-Nur: Pendekatan Tafsir Melalui Kajian Balaghah Anugrah Nur Ihsani
BASHA'IR: JURNAL STUDI AL-QUR'AN DAN TAFSIR Vol 6 No 1 (2026): Basha'ir: Jurnal Studi Al-Quran dan Tafsir
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47498/bashair.v6i1.6466

Abstract

Penelitian ini menganalisis gaya bahasa tasybīh dalam Q.S an-Nur melalui pendekatan balaghah yang diintegrasikan dengan kajian tafsir. Penelitian ini bertujuan menjawab pertanyaan: apa saja bentuk tasybih yang terdapat dalam Q.S An-Nur, dan bagaimana fungsi retorisnnya dalam menyampaikan pesan teologis?. Dengan menggunakan metode kualitatif berbasis studi kepustakaan, penelitian ini mengidentifikasi dan mengklasifikasikan struktur tasybīh pada Q.S an-Nur terdapat pada tiga ayat yang dikaji, yakni ayat 35, 39, dan 40. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap ayat mengandung varian tasybīh yang distingtif: ayat 35 menggunakan tasybīh mursal tamsili dan mursal mujmal, ayat 39 menampilkan tasybīh mursal mufassal, dan ayat 40 menghadirkan tasybīh mursal mufassal dengan citra kegelapan yang berlapis. Temuan ini menegaskan bahwa al-Qur'an menggunakan tasybīh bukan sekadar sebagai ornamen estetika, melainkan sebagai instrumen retoris yang secara fungsional memperkuat pesan teologis dan moral, khususnya dalam merepresentasikan hakikat cahaya hidayah dan kegelapan kesesatan. Penelitian ini diharapkan berkontribusi pada pengembangan kajian linguistik al-Qur'an melalui analisis integratif yang menghubungkan dimensi balaghah dan tafsir secara komprehensif.
Fenomena Dunning Kruger Effect Perspektif Al-Qur’an Nur Afni Handayani; Achmad Abubakar; Rahmi Damis
BASHA'IR: JURNAL STUDI AL-QUR'AN DAN TAFSIR Vol 6 No 1 (2026): Basha'ir: Jurnal Studi Al-Quran dan Tafsir
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47498/bashair.v6i1.6468

Abstract

Fenomena Dunning-Kruger Effect merupakan bias kognitif yang ditandai oleh kecenderungan individu berpengetahuan rendah untuk melebih-lebihkan kemampuannya, sebuah gejala yang kian marak terjadi dalam diskursus keagamaan di era modern. Al-Qur’an sebagai panduan yang senantiasa relevan (ṣāliḥ li kulli zamān wa makān) memberikan koreksi normatif terhadap ilusi superioritas ini, khususnya melalui penegasan larangan menyucikan diri dalam QS. al-Najm/53:32. Penelitian kualitatif berbasis studi kepustakaan (library research) ini bertujuan untuk mengonseptualisasikan bias kognitif tersebut ke dalam dimensi teologis Islam. Metode analisis yang digunakan adalah tafsir taḥlīlī terhadap QS. al-Najm/53:32 dengan mengintegrasikan pendekatan psikologi untuk membedah aspek metakognitif objek kajian. Data primer dan sekunder dihimpun dari ayat al-Qur’an, kitab-kitab tafsir otoritatif, serta literatur psikologi yang relevan. Berbeda dengan kajian terdahulu yang umumnya meninjau fenomena ini sebatas pada ruang lingkup psikologi kognitif dan sosial, penelitian ini menempatkan wahyu sebagai kerangka analisis utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dunning-Kruger Effect dalam perspektif al-Qur’an merupakan manifestasi dari kesombongan intelektual (kibr ‘ilmī) dan kebodohan berlapis yang tidak disadari (jahl murakkab). Al-Qur’an menawarkan resolusi metakognitif-etis berupa penguatan kesadaran akan keterbatasan insani dan larangan absolut atas klaim kesucian pribadi, sehingga bias kognitif ini tidak lagi dipandang sekadar sebagai problem psikologis individual, melainkan sebagai problem etik-keilmuan dan spiritual yang membutuhkan intervensi nilai-nilai wahyu.
Al-Amr Dalam Al-Qur'ān Surah Al-Aḥzāb Fadillah Rahmawati; Misnawati Misnawati
BASHA'IR: JURNAL STUDI AL-QUR'AN DAN TAFSIR Vol 6 No 1 (2026): Basha'ir: Jurnal Studi Al-Quran dan Tafsir
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47498/bashair.v6i1.6478

Abstract

Penelitian ini bertujuan Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk, kaidah, dan fungsi al-amr dalam Surah Al-Aḥzāb serta implikasinya terhadap pemahaman ayat-ayat hukum dalam Al-Qur’ān . Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif analitis melalui teknik content analysis. Analisis dilakukan berdasarkan kaidah al-amr dalam ushul fiqh dengan memanfaatkan berbagai literatur tafsir sebagai pendukung penafsiran ayat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 37 bentuk al-amr yang tersebar dalam 25 ayat dan seluruhnya menggunakan bentuk fi‘il amr. Selain itu, ditemukan lima kaidah al-amr, dengan kaidah bahwa perintah pada dasarnya menunjukkan kewajiban selama tidak terdapat qarīnah sebagai kaidah yang paling dominan. Dari segi fungsi, al-amr bermakna hakiki sebanyak 16 kali, ikrām 2 kali, serta doa, irsyād, tahdīd, ta‘jīz, imtinān, ihānah, dan iltimās masing-masing 1 kali. Temuan ini menunjukkan bahwa al-amr dalam Surah Al-Aḥzāb  tidak selalu bermakna kewajiban, melainkan harus dipahami secara kontekstual dengan mempertimbangkan qarīnah dan tujuan penyampaian ayat agar menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif terhadap kandungan hukum dan pesan Al-Qur’ān.
Ribā dan Bunga Bank Dalam Pemikiran Dawam Rahardjo: Studi Atas Ensiklopedi Al-Qur'an Ali Abdurahman Simangunsong; Ella Annissa
BASHA'IR: JURNAL STUDI AL-QUR'AN DAN TAFSIR Vol 6 No 1 (2026): Basha'ir: Jurnal Studi Al-Quran dan Tafsir
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47498/bashair.v6i1.6485

Abstract

Perdebatan mengenai hubungan antara ribā dan bunga bank masih menjadi isu penting dalam diskursus ekonomi Islam. Meskipun ulama sepakat mengenai keharaman ribā, status bunga bank masih diperselisihkan. Artikel ini mengkaji pemahaman Dawam Rahardjo tentang ribā dan bunga bank dalam Ensiklopedi Al-Qur’an serta menempatkannya dalam perdebatan tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan metode deskriptif-analitis terhadap penafsiran Dawam mengenai ayat-ayat ribā dan argumentasi yang dibangunnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dawam memaknai ribā sebagai praktik ekonomi yang mengandung unsur eksploitasi, pemerasan, dan ketidakadilan, sehingga tidak dapat disamakan secara otomatis dengan bunga bank modern. Dalam menjelaskan ribā, ia mengaitkannya dengan sejarah praktik ribā dalam tradisi Islam, Kristen, Yahudi, dan Yunani, serta menekankan dimensi moral larangan ribā. Sementara itu, bunga bank dipandang sebagai bagian dari sistem ekonomi modern yang telah diatur melalui regulasi perbankan. Meskipun membedakan ribā dan bunga bank, Dawam tetap menawarkan Bank Syari’at Islam sebagai alternatif untuk menghindari kemungkinan praktik ribā. Artikel ini menyimpulkan bahwa pemikiran Dawam lebih menekankan substansi moral larangan ribā daripada aspek legal-formalnya. The debate over whether bank interest constitutes ribā remains a significant issue in contemporary Islamic economic discourse. While Muslim scholars generally agree on the prohibition of ribā, they continue to differ on the legal status of bank interest. This article examines Dawam Rahardjo’s interpretation of ribā and bank interest in Ensiklopedi Al-Qur’an and situates his views within this broader debate. Employing library research and a descriptive-analytical approach, the study analyzes Dawam’s interpretation of Qur’anic verses on ribā as well as the arguments underlying his perspective. The findings reveal that Dawam understands ribā primarily as an economic practice characterized by exploitation, coercion, and injustice. Consequently, he does not automatically equate modern bank interest with ribā. His discussion places the prohibition of ribā within a broader historical context, encompassing Islamic, Christian, Jewish, and Greek traditions, while emphasizing its moral and social dimensions. In contrast, bank interest is viewed as part of a regulated modern financial system that can prevent exploitative lending practices. Nevertheless, Dawam acknowledges Islamic banking as an alternative for those who regard bank interest as a form of ribā. This study concludes that Dawam’s interpretation prioritizes the moral substance of the prohibition of ribā over its formal legal dimension, leading him to distinguish between ribā and bank interest.