cover
Contact Name
Muhammad Faisal
Contact Email
bashair@staindirundeng.ac.id
Phone
+6282289616858
Journal Mail Official
bashair@staindirundeng.ac.id
Editorial Address
Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Teungku Dirundeng Meulaboh Alamat: Jl. Lingkar Kampus Alue Peunyareng, Gp. Gunong Kleng, Meureubo - Aceh Barat. Kode Pos: 23615 Telp/Fax (0655) 7551591
Location
Kab. aceh barat,
Aceh
INDONESIA
BASHAIR
ISSN : 28071018     EISSN : 2807100X     DOI : https://doi.org/10.47498/bashair
Core Subject : Religion,
Jurnal Ilmu alQuran dan Tafsir concern menerbitkan karya ilmiah yang bertemakan kajian Alquran dengan Cakupan Kajian Ilmu Alquran, terjemahan Alquran, Studi Tafsir Alquran, Penelitian tentang Alquran dan Living Quran.
Articles 66 Documents
Analisis Ayat-Ayat Jihad Dalam Rawai’u Al-Bayan fi Tafsir Ayat Al-Ahkam Karya Ali Ash-Shabuni Rafly, Muhammad; Sulthoni, Akhmad; Ridho, Muhammad Mukharom
BASHA'IR: JURNAL STUDI AL-QUR'AN DAN TAFSIR Vol 4 No 2 (2024): Basha'ir: Jurnal Studi Al-Quran dan Tafsir
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47498/bashair.v4i2.3311

Abstract

Di tengah keberagaman pemikiran, budaya, dan politik, analisis jihad yang sesuai pedoman menjadi penting untuk menciptakan perdamaian dan keamanan. Tapi sangat disayangkan ketika hakikat sesungguhnya dari jihad dalam Islam diidentifikasikan sebagai bagian radikalisme bahkan terorisme. Maka penelitian ini bertujuan menyingkap hakikat sebenarnya dari jihad yang berdasarkan Al-Qur`an, As-Sunnah, dan penjelasan para ulama tentangnya. Salah satu penjelasan tentang hakikat jihad tersebut bisa di dapatkan di dalam kitab Rawai’u Al-Bayan Fi Tafsir Ayat Al-Ahkam karya Muhammad Ali Ash-Shabuni. Rawai’u Al-Bayan merupakan sebuah kitab yang bernuansa fiqhi yang memaparkan penjelasan kekinian bagi pembacanya. Penelitian ini berjenis kepustakaan (library research) dengan menggunakan metode tematik (maudhu’i). Sumber utama penelitian berasal dari Kitab Rawai’u Al-Bayan Fi Tafsir Ayat Al-Ahkam, sedangkan sumber sekunder diambil dari kitab-kitab yang relevan dengan tema. Al-Qur'an menjelaskan bahwa kaum musyrik dan ahli kitab tidak akan menerima Islam sampai mereka dapat mengembalikan pemeluknya ke kekufuran. Dalam Kitab Rawai’u Al-Bayan Fi Tafsir Ayat Al-Ahkam dijelaskan bahwa orang beriman harus berjuang di jalan Allah, demi tegaknya agamanya, dan seorang mukmin hendaknya berani dan perkasa. Nasib tawanan perang berbuat baik to para tawanan. Perang mempunyai norma dan aturan dan wajib bagi seorang mukmin untuk menaatinya.
Nilai-Nilai Pendidikan Pada Kisah Nabi Musa as: (Studi Tafsir Tarbawi Qs. Al-Kahfi (18): 60-82 dalam Tafir Al-Azhar) Rosna, Mutiara; Fauziah, Cut
BASHA'IR: JURNAL STUDI AL-QUR'AN DAN TAFSIR Vol 4 No 2 (2024): Basha'ir: Jurnal Studi Al-Quran dan Tafsir
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47498/bashair.v4i2.3786

Abstract

Penelitian ini membahas studi tafsir tarbawi terhadap nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam Al-Qur’an melalui kisah Nabi Musa as. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi ruang kekosongan akademis dalam studi tafsir tarbawi serta untuk memperolah nilai-nilai pendidikan yang terangkum dalam Qs. Al-Kahfi (18) ayat 60-82. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research) yang menjadikan Al-Qur’an dan kitab tafsir al-Azhar sebagai referensi utama. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Qs. al-Kahfi ayat 60-82 merangkum beberapa komponen pendidikan seperti metode, materi, tujuan, motivasi, nilai-nilai pendidikan, dan sebagainya. Dari kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir memiliki tujuan utama pendidikan, yaitu membimbing manusia agar memiliki akhlak mulia, berkompeten, kecerdasan, serta tanggung jawab terhadap keselamatan dan kesejahteraan dirinya serta masyarakat. Nilai-nilai pendidikan yang termaktub dalam kisah tersebut yaitu tawadhu, sikap tekun, bermanfaat untuk orang lain, memiliki kesabaran, dan kejujuran.
Pandangan Ulama Woyla Terhadap Ayat-Ayat Kepemimpinan Perempuan Marziah, Ainal; Hanif, Hanif; Fisa, Triansyah; Marisa, Siti Nurkhafifah
BASHA'IR: JURNAL STUDI AL-QUR'AN DAN TAFSIR Vol 5 No 1 (2025): Basha'ir: Jurnal Studi Al-Quran dan Tafsir
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47498/bashair.v5i1.4321

Abstract

The belief that women are weak and inferior has been a long-standing discussion in the Woyla community, leading to the perception that women are unfit for leadership, much like the classical scholars who largely prohibited women from leading. However, most contemporary scholars allow female leadership, interpreting the same Qur'anic verses differently. This study focuses on the views of dayah scholars in Woyla, Aceh Barat, aiming to explore their stance on female leadership and whether the Qur'an explicitly addresses this issue. Field research reveals that the majority of dayah scholars in Woyla hold that women should not be leaders, citing Surah An-Nisa, verse 34, as a basis for their argument. Nonetheless, they allow women to lead in specific areas outside of household and family matters, relying on Qur'anic verses that emphasize human equality and the mutual support of individuals without distinguishing between male and female. This nuanced understanding shows that while traditional views may restrict women’s leadership in certain domains, there is space for female leadership in other contexts based on broader interpretations of equality in the Qur’an.
Tafsir Al-Mishbah Quraish Shihab: Relevansi dan Kontekstualisasi Al-Qur’an Bagi Masyarakat Modern Indonesia Amin, Muhammad Habib Izzuddin; Abror, Indal
BASHA'IR: JURNAL STUDI AL-QUR'AN DAN TAFSIR Vol 5 No 1 (2025): Basha'ir: Jurnal Studi Al-Quran dan Tafsir
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47498/bashair.v5i1.4495

Abstract

Al-Qur’an serta penafsirannya yang relevan dan kontekstual menjadi kebutuhan mendesak dalam menghadapi tantangan modernitas. Salah satu karya tafsir yang menonjol di Indonesia adalah tafsir al-Mishbah karya Quraish Shihab. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis relevansi dan kontekstualisasi yang ditawarkan tafsir ini bagi masyarakat modern Indonesia. Metode kualitatif dengan pendekatan library research akan digunakan dalam penelitian ini, yang melibatkan analisis mendalam terhadap tafsir al-Mishbah dan relevansinya terhadap isu-isu kontemporer, seperti perhatian terhadap isu lingkungan, keadilan gender, dan juga antisipasi terhadap berita hoax. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Quraish Shihab mampu menghadirkan penafsiran yang sesuai dengan konteks masyarakat Indonesia, penekanan pada nilai-nilai universal al-Qur’an seperti mengedepankan nilai-nilai toleransi dan moderasi, serta konteks ke-Indonesiaan yang tercermin pada musyawarah dan mufakat, serta kekayaan tradisi dan budaya lokal yang dapat dilihat dari konsep pakaian serta gotong royong dan saling memberi yang sudah menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia. Melalui pendekatan yang moderat, inklusif, dan dialogis menjadikan tafsir al-Mishbah sebagai rujukan penting bagi masyarakat Muslim modern yang ingin memahami al-Qur’an dalam konteks kekinian. Selain itu penyertaan contoh-contoh konkret dalam kehidupan sehari-hari memperkuat daya tarik dan relevansinya.
Pemahaman Masyarakat Subulussalam Kota Terhadap Surah Al-Hujurāt Ayat 13 Dalam Kaitannya Dengan Ta’aruf Pra Nikah bin Adnan, Boihaqi; Warlita, Cut Riswana
BASHA'IR: JURNAL STUDI AL-QUR'AN DAN TAFSIR Vol 5 No 1 (2025): Basha'ir: Jurnal Studi Al-Quran dan Tafsir
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47498/bashair.v5i1.4574

Abstract

This study aims to explore the understanding of the people of Subulussalam City regarding Surah Al-Ḥujurāt verse 13, particularly in relation to ta’aruf before marriage. Ta’aruf refers to the initial process undertaken by prospective couples—male and female—to get to know each other, so that their forthcoming marriage is based on mutual understanding and informed decision-making. The research employs a descriptive qualitative method, with data collected through observation and interviews. The data were analyzed through the stages of data collection, data reduction, and conclusion drawing. The findings of the study are as follows:In the translation category, 3 informants were classified as having a good understanding, while 1 informant was found to have no understanding. In the interpretation category, 2 informants demonstrated a good understanding, while 4 were categorized as having only partial understanding. In the extrapolation category, 6 informants were found to have a good understanding, while 2 informants showed no understanding.
Penguatan Moderasi Beragama Melalui “Living Quranic Values” di Pesantren: (Studi Pondok Pesantren Barat Tengah Aceh) Pikri, Pikri; Masykar, Tabsyir
BASHA'IR: JURNAL STUDI AL-QUR'AN DAN TAFSIR Vol 5 No 1 (2025): Basha'ir: Jurnal Studi Al-Quran dan Tafsir
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47498/bashair.v5i1.4614

Abstract

Penelitian ini berfokus pada implementasi, pemahaman, serta dampak penerapan Living Qur’anic Values di pesantren wilayah Barat Tengah Aceh, dengan tujuan utama memperkuat kesadaran moderasi beragama. Sebagai lembaga pendidikan berbasis Islam, pesantren memiliki peran strategis dalam membentuk karakter santri yang tidak hanya memahami ajaran Al-Qur'an secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai Qur'ani seperti tawassuth (moderat), i’tidal (adil), tasamuh (toleran), ishah (perbaikan), qudwah (teladan), musyawarah (konsultasi), muwathanah (kewarganegaraan), al-la 'unf (anti kekerasan), dan i’tiraf bil ‘urf (menghargai tradisi) dianggap sebagai elemen kunci dalam membangun sikap moderat di kalangan santri, yang sangat relevan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran (mixed methods), yaitu kombinasi antara metode kualitatif dan kuantitatif, guna memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang penerapan Living Qur’anic Values. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan angket yang melibatkan para pimpinan pesantren, ustadz-ustadzah, serta santriwan-santriwati di sejumlah pesantren di wilayah Barat Tengah Aceh. Dari hasil penelitian, ditemukan bahwa penerapan nilai-nilai Al-Qur’an ini sudah cukup baik di lingkungan pesantren, meskipun masih ada disparitas dalam pemahaman dan pengamalan konsep moderasi beragama di antara santri. Sebanyak 54% santri telah mendengar istilah moderasi beragama atau washathiyyah, namun hanya 30% dari mereka yang benar-benar memahami konsep ini secara mendalam. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun nilai-nilai moderasi telah diperkenalkan, integrasinya dalam kurikulum formal dan praktik sehari-hari masih perlu ditingkatkan. Dampak penerapan Living Qur’anic Values terlihat dalam berbagai aspek kehidupan di pesantren. Di sekolah, santri menunjukkan peningkatan kedisiplinan, tanggung jawab, dan prestasi akademik, serta lebih aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler. Di lingkungan pesantren, nilai-nilai akhlak dan moral yang baik, seperti kesederhanaan dan empati, semakin melekat dalam keseharian santri. Sementara di masyarakat, santri menjadi teladan dalam mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dan terlibat dalam berbagai kegiatan sosial. Temuan ini menunjukkan pentingnya penguatan penerapan nilai-nilai Qur’ani di pesantren, baik secara konseptual maupun praktis, untuk menciptakan generasi santri yang tidak hanya cerdas dalam memahami agama, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan yang moderat, toleran, dan berkontribusi positif di masyarakat. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pengembangan pendidikan pesantren yang lebih berfokus pada penguatan moderasi beragama dan pengamalan Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari.
Epistemologi Tafsir Ishari: Kajian terhadap Kitab Haqã’iq al-Tafsĩr karya Abu ‘Abd Al-Rahman Al-Sulamî Mairizal, T
BASHA'IR: JURNAL STUDI AL-QUR'AN DAN TAFSIR Vol 5 No 1 (2025): Basha'ir: Jurnal Studi Al-Quran dan Tafsir
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47498/bashair.v5i1.4654

Abstract

This study examines Haqā’iq al-Tafsīr by Abu ‘Abd al-Rahman al-Sulamī as a classical representation of tafsīr ishârî, rooted in Sufi intuition while maintaining alignment with ẓāhir (exoteric) interpretation. Utilizing a library research method, this work explores both primary and secondary sources to investigate the epistemological foundations and the interpretive contribution of this text within the broader Islamic exegetical tradition. Despite its mystical orientation, the tafsīr remains within the bounds of the Sharia and avoids the deviations often associated with bāṭinī exegesis. In contemporary discourse, Haqā’iq al-Tafsīr offers valuable insight into promoting religious moderation through a spiritually rich yet normatively grounded, inclusive approach to Islamic understanding.
Landasan Teologis Tafsir Ekologis Dalam Kitab Tafsir Nusantara: (Kajian Terhadap Wacana Pemikiran Tafsir kontemporer) Muhammad Faisal; Baihaqi, Baihaqi; Faisal, Muhammad
BASHA'IR: JURNAL STUDI AL-QUR'AN DAN TAFSIR Vol 5 No 1 (2025): Basha'ir: Jurnal Studi Al-Quran dan Tafsir
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47498/bashair.v5i1.4655

Abstract

Contemporary Qur’anic exegesis examines current social phenomena, using issues like poverty, gender, and especially the environment as the basis for interpretation. This article focuses on environmental issues, highlighting growing public concern over environmental damage caused by both natural events and human actions. Such concerns have led exegetes to explore Qur’anic verses on environmental preservation, emphasizing that protecting the environment is a religious command. Three major Nusantara tafsir—Tafsir al-Azhar (HAMKA), Tafsir al-Misbah (Quraish Shihab), and Tafsir Kemenag—discuss this theme in depth. Using a descriptive qualitative method, this study finds that verses such as QS Al-Baqarah: 30, QS Al-Isra’: 27, QS Al-A’raf: 56, QS Al-Anbiya: 30, QS Ar-Rum: 41, QS Ali Imran: 190–191, and QS Ibrahim: 7 form the basis for environmental preservation in these interpretations.
Konsep Permasalahan Psikologis Pada Gen-Z: Solusi Qur'ani Serta Aktualisasi di Media Sosial Ifada, M.Zakian; Firdaus; Muzaka, Maimun; Mukaromah, Lutfah; Santi
BASHA'IR: JURNAL STUDI AL-QUR'AN DAN TAFSIR Vol 5 No 1 (2025): Basha'ir: Jurnal Studi Al-Quran dan Tafsir
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47498/bashair.v5i1.4724

Abstract

Permasalahan kesehatan mental pada Generasi Z semakin mengkhawatirkan akibat tingginya intensitas penggunaan media sosial. Gejala seperti kecemasan, stres, dan ketidakstabilan emosi sering dipicu oleh fenomena digital seperti FoMO, perbandingan sosial, dan perundungan siber. Tulisan ini mengambil posisi dalam diskursus integrasi spiritual-psikologis dengan menawarkan solusi berbasis Al-Qur’an terhadap gangguan mental tersebut. Menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dan metode studi kepustakaan, artikel ini menganalisis bentuk dan penyebab gangguan mental pada Gen-Z serta menyajikan nilai-nilai spiritual Qur’ani seperti dzikir, tawakkal, dan qana’ah sebagai media penyembuhan jiwa. Temuan penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai ini, jika diaktualisasikan melalui konten media sosial, mampu menciptakan ruang digital yang menenangkan dan membangun identitas positif. Media sosial pun dapat menjadi sarana dakwah spiritual dan penyembuhan mental apabila dimanfaatkan secara bijak. Kesimpulannya, integrasi antara spiritualitas Qur’ani dan literasi digital adalah solusi strategis dalam mengatasi krisis psikologis Gen-Z. Artikel ini memberikan kontribusi berupa model spiritual yang aplikatif dan kontekstual untuk meningkatkan kesehatan mental generasi muda di era digital.
Kināyah Dan Ṣarīḥ Dalam Penafsiran Al-Qur’an: Studi Perbandingan Tinjauan Balaghah Arab dan Semiotika Barat Nur, Muhammad; Susanto, Wawan
BASHA'IR: JURNAL STUDI AL-QUR'AN DAN TAFSIR Vol 5 No 2 (2025): Basha'ir: Jurnal Studi Al-Quran dan Tafsir
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47498/bashair.v5i2.5063

Abstract

This study examines the comparative interpretation of ṣarīḥ (explicit) and kināyah (implicit) in the Qur'an through two main approaches, namely classical Arabic balaghah and modern Western semiotic theory. This study uses a qualitative-descriptive-comparative approach by analyzing three selected verses, namely QS. Al-Baqarah: 183, QS. Al-Baqarah: 223, and QS. An-Nūr: 31. The purpose of this study is to explore how literal and symbolic meanings are constructed in Islamic sacred texts. The results show that ṣarīḥ lafaz are generally used in legal contexts, with a strict and direct meaning structure. In contrast, kināyah lafaz tend to be used to convey social and ethical values through symbolic and contextual language styles. The balaghah approach emphasizes aesthetic and rhetorical aspects, while the semiotic approach-especially from the thoughts of Ferdinand de Saussure, Charles Sanders Peirce, and Roland Barthes-opens up room for interpretation of connotative, ideological, and cultural meanings in the text. This study concludes that the integration of balaghah and semiotics approaches can enrich the interdisciplinary method of Qur'anic interpretation. In addition, this approach also offers a hermeneutic alternative that is more responsive to contemporary social and intellectual dynamics.