cover
Contact Name
Danik Nurjanah
Contact Email
agrifitia@instiperjogja.a.cid
Phone
+6281903781714
Journal Mail Official
agrifitia@instiperjogja.ac.id
Editorial Address
Jalan Nangka II, Maguwoharjo, Depok, Kab. Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, 55283
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Agrifitia: Journal of Agribusiness Plantation
ISSN : 28096835     EISSN : 2809705X     DOI : https://doi.org/10.55180
Pembangunan pertanian, Manajemen pertanian, komunikasi agribisnis, pemberdayaan sosial, pemasaran hasil pertanian, sistem agribisnis, penyuluhan pertanian, kebijakan pertanian, perdagangan internasional
Articles 76 Documents
Adopsi Inovasi Beauveria Bassiana di Desa Wirowongso Kecamatan Ajung Kabupaten Jember Muhammad Iqbal Sufi'ad
AGRIFITIA : Journal of Agribusiness Plantation Vol. 5 No. 2 (2025): SEPTEMBER
Publisher : Program Studi Agribisnis INSTIPER Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55180/aft.v5i2.1671

Abstract

Brown Planthopper pest attacks are problem faced by farmer in the paddy cultivation process. In this problem, farmer used Beauveria Bassiana wich was introduced by agricultultural extension workers as solution from Brown Planthopper attacks. This research aims to analyze the Beauveria Bassiana innovation adoption process through the stages of knowledge, persuasion, decision, implementation and confirmation. This research location in Wirowongso Village, Ajung District, Jember Regency. Determining the research area using Purposive Method with 6 farmer as respondent and using qualitative descriptive approach. Data collection was carried out using 3 methods, namely observation, interviews and documentation. Data analysis used the Miles and Hubberman qualitative analysis model. The results of the analysis show that in the process of Beauveria Bassiana adoption, there are five stages, namely the stage of knowledge, persuasion, decision, implementation, and confirmation. The result of diffusion process, it shows that the adoption process only occurs in three categories of adopters, namely innovators (heads of farmer groups), early adopters (farmer group secretaries) and early majority (farmers) Keywords: Adoption; innovation; Beauveria Bassiana; Brown Planthopper   ABSTRAK Serangan hama wereng coklat merupakan masalah yang dihadapi petani dalam proses budidaya tanaman padi. ​​Dalam masalah ini, petani menggunakan Beauveria Bassiana yang diperkenalkan oleh petugas penyuluh pertanian sebagai solusi dari serangan wereng coklat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses adopsi inovasi Beauveria Bassiana melalui tahapan pengetahuan, persuasi, keputusan, implementasi dan konfirmasi. Lokasi penelitian ini di Desa Wirowongso, Kecamatan Ajung, Kabupaten Jember. Penentuan daerah penelitian menggunakan Metode Purposive dengan 6 orang petani sebagai responden dan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan 3 metode, yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model analisis kualitatif Miles dan Hubberman. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam proses adopsi Beauveria Bassiana terdapat lima tahapan, yaitu tahap pengetahuan, persuasi, keputusan, implementasi, dan konfirmasi. Hasil proses difusi menunjukkan bahwa proses adopsi hanya terjadi pada tiga kategori adopter yaitu inovator (ketua kelompok tani), early adopter (sekretaris kelompok tani) dan early mayoritas (petani). Kata Kunci: hama wereng coklat; adopsi, inovasi; Beauveria Bassiana
Strategi Stabilisasi Harga Bawang Merah di Daerah Istimewa Yogyakarta Dhamira, Aura; Anggrasari, Herdiana; Maheresmi, Handani; Setyaningsih, Arfin; Lumbantobing, Steven Colbert; Rahman, Raihan Khalifah
AGRIFITIA : Journal of Agribusiness Plantation Vol. 5 No. 2 (2025): SEPTEMBER
Publisher : Program Studi Agribisnis INSTIPER Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55180/aft.v5i2.1903

Abstract

ABSTRACT The uncertain price changes of shallots in the Special Region of Yogyakarta will affect many parties, including farmers/producers, shallot traders, household consumers, and business actors processing this commodity. Therefore, this study formulates a strategy for shallot price stability in the Special Region of Yogyakarta. The study was conducted in 5 regencies (Yogyakarta City, Sleman Regency, Bantul Regency, Kulon Progo Regency, and Gunungkidul Regency) in the Special Region of Yogyakarta. This study used primary data with a survey method. Primary data was obtained from interviews with 30 key persons. Based on the results of the study, several strategies that can be used to stabilize shallot prices are by applying appropriate technology to shallot cultivation in DIY and establishing partnerships with the food processing industry. Keywords: fluctuation; price; shallots; strategy   ABSTRAK Perubahan harga bawang merah yang tidak menentu di Daerah Istimewa Yogyakarta akan berpengaruh pada banyak pihak, diantaranya petani/produsen, pedagang bawang merah, konsumen rumah tangga, serta para pelaku usaha pengolahan komoditas ini. Oleh karena itu pada kajian ini disusun strategi stabilitas harga bawang merah di Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian dilakukan di 5 Kabupaten (Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul, Kabupaten Kulon Progo, dan Kabupaten Gunungkidul) di Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan data primer dengan metode survei. Data primer diperoleh dari wawancara dengan 30 orang informan kunci. Berdasarkan hasil penelitian, beberapa strategi yang dapat digunakan untuk stabilisasi harga bawang merah adalah dengan cara menerapkan teknologi tepat guna pada budidaya bawang merah di DIY dan menjalin kemitraan dengan industri pengolahan makanan. Kata Kunci: bawang merah; fluktuasi; harga; strategi
Analisis Struktur dan Perilaku Pasar Komoditas Kacang Tanah di Desa Libureng Kecamatan Tanete Riaja Kabupaten Barru Alfiqran, M.; Hasriani; Asriadi, Andi Amran
AGRIFITIA : Journal of Agribusiness Plantation Vol. 5 No. 2 (2025): SEPTEMBER
Publisher : Program Studi Agribisnis INSTIPER Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55180/aft.v5i2.1908

Abstract

ABSTRACT This study aims to examine market behavior and structure with a focus on pricing, correlation analysis, market share, and concentration ratio. Traders were selected using the snowball sampling technique, while farmers were randomly selected from a total population of 200 people, with 36 people selected. Data collection was carried out using observation, interviews, and documentation methods. In the data analysis, this study focuses on market structure through market share, concentration levels, and barriers to market entry, as well as examining market behavior based on correlation coefficient values. From the research results, it is known that 34.06% of the market share is controlled by large traders, while 22.75% is controlled by intermediary traders, and 43.19% by farmers. Farmers operate in an environment with perfect competition of 19.30% related to market concentration. Large traders can be categorized as part of a tight oligopoly with a concentration ratio of 91.70%, while village middlemen tend to fall into the category of a tight oligopoly with a concentration ratio of 83.40%. Additionally, barriers to market entry, as seen from farmers' sales results, increased by 5.35% based on the Minimum Efficiency Scale (MES) evaluation. This indicates that peanut farmers do not face barriers to market entry, as the MES figure is below 10%. On the other hand, village intermediaries show a figure of 21.46%, indicating that their MES value exceeds 10%. Meanwhile, large traders show a result of 31.50%, further confirming that their MES value is above 10%, indicating barriers to market entry. Market correlation analysis shows a value of 0.125, indicating a very weak relationship. Therefore, peanut marketing involves three groups: farmers who operate effectively, intermediaries who operate with low efficiency, and large traders who operate with a high level of inefficiency. Keywords: Peanuts; Market Structure; Market Behavior   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perilaku dan struktur pasar dengan fokus pada penetapan harga, analisis korelasi, pangsa pasar, dan rasio konsentrasi. Pedagang dipilih menggunakan teknik sampling snowball, sementara petani dipilih secara acak dari populasi total 200 orang, dengan 36 orang terpilih. Pengumpulan data dilakukan menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dalam analisis data, penelitian ini fokus pada struktur pasar melalui pangsa pasar, tingkat konsentrasi, dan hambatan masuk pasar, serta menganalisis perilaku pasar berdasarkan nilai koefisien korelasi. Dari hasil penelitian, diketahui bahwa 34,06% pangsa pasar dikuasai oleh pedagang besar, 22,75% oleh pedagang perantara, dan 43,19% oleh petani. Petani beroperasi dalam lingkungan persaingan sempurna sebesar 19,30% terkait dengan konsentrasi pasar. Pedagang besar dapat dikategorikan sebagai bagian dari oligopoli ketat dengan rasio konsentrasi 91,70%, sementara pedagang perantara desa cenderung masuk ke dalam kategori oligopoli ketat dengan rasio konsentrasi 83,40%. Selain itu, hambatan masuk pasar, sebagaimana terlihat dari hasil penjualan petani, meningkat sebesar 5,35% berdasarkan evaluasi Skala Efisiensi Minimum (MES). Hal ini menunjukkan bahwa petani kacang tanah tidak menghadapi hambatan masuk pasar, karena angka MES berada di bawah 10%. Di sisi lain, pedagang perantara desa menunjukkan angka 21,46%, menunjukkan bahwa nilai MES mereka melebihi 10%. Sementara itu, pedagang besar sebesar 31,50%, yang lebih lanjut mengonfirmasi bahwa nilai MES mereka di atas 10%, menunjukkan hambatan masuk pasar. Analisis korelasi pasar menunjukkan nilai 0,125, menunjukkan hubungan yang sangat lemah. Oleh karena itu, pemasaran kacang tanah melibatkan tiga kelompok: petani yang beroperasi secara efektif, perantara yang beroperasi dengan efisiensi rendah, dan pedagang besar yang beroperasi dengan tingkat ketidakefisienan yang tinggi. Kata kunci: Kacang Tanah; Struktur Pasar; Perilaku Pasar
Kelayakan Ekonomi dan Non Ekonomi Ternak Ayam Ras Petelur Studi Kasus CV. Sanggalang Putra di Kecamatan Buer Kabupaten Sumbawa Siswanto, Totok Ari; Nurwahidah, Siti; Wijayanti, Nila
AGRIFITIA : Journal of Agribusiness Plantation Vol. 5 No. 2 (2025): SEPTEMBER
Publisher : Program Studi Agribisnis INSTIPER Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55180/aft.v9i2.1911

Abstract

ABSTRACT Business feasibility analysis includes two main aspects, namely economic aspects and non-economic aspects. Economic or financial analysis focuses on evaluating profits and costs, while non-ekonomic analysis examines other factors that can affect the success of a business. This study aims to analyze the income and non-economic feasibility of the laying hen business at CV. Sanggalang Putra in Buer District, Sumbawa Regency. The determination of the research location was carried out intentionally (purposively), namely at CV Sangalang which is quite developed in Kalabeso Village, Buer District, Sumbawa Regency, considering the large area of the farm, namely 1 hectare, the population and production of laying hen farms are one of the largest in Sumbawa Regency. The research was conducted in March-May 2025. The results of the study for the economic aspect are the average income from eggs of Rp.48,000,000/month and from retired chickens of Rp.24,500,000/month so that the total Rp.50,400,000,- per month, BEP product 79 bundles, BEP price Rp.169,500 per bundle and RCR value  2 thus the business is feasible to continue. Non-ekonomic aspects include market aspects, technical and technological aspects, and environmental aspects that are worth continuing. Keywords: Eligibility; Ekonomic; Non-Ekonomic     ABSTRAK Analisis kelayakan bisnis mencakup dua aspek utama yaitu aspek finansial dan aspek non-finansial. Analisis finansial fokus pada evaluasi keuntungan dan biaya, sementara analisis non-finansial meneliti faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi keberhasilan usaha. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Pendapatan dan kelayakan non finansial usaha ayam ras petelur pada CV. Sanggalang Putra di Kecamatan Buer Kabupaten Sumbawa. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) yaitu di CV Sangalang yang cukup berkembang di Desa Kalabeso Kecamatan Buer Kabupaten Sumbawa dengan pertimbangan luas areal peternakan yang luas yaitu 1 hektar, populasi dan produksi peternakan ayam ras petelur salah satu yang terbanyak di Kabupaten Sumbawa. Waktu penelitian akan dilaksanakan pada Bulan Maret-April 2025. Hasil penelitian untuk aspek finansial yaitu rata-rata penerimaan dari telur sebesar Rp. 48.000.000/bulan dan dari ayam afkir sebesar Rp.24.500.000/bulan sehingga total Rp. 50.400.000,-per bulan, BEP produk 79 ikat, BEP harga Rp. 169.500 per ikat dan nilai RCR 2 dengan demikian usaha layak untuk dilanjutkan. Aspek non finansial meliputi aspek pasar, aspek teknis dan teknologi, aspek lingkungan layak untuk dilanjutkan. Kata Kunci: Kelayakan; Finansial; Non Finansial
Disparitas Harga Beras Medium terhadap Harga Eceran Tertinggi (HET) dan Implikasinya terhadap Inflasi Pangan di Indonesia Mahdi, Naufal Nur; Rianzani, Citra
AGRIFITIA : Journal of Agribusiness Plantation Vol. 5 No. 2 (2025): SEPTEMBER
Publisher : Program Studi Agribisnis INSTIPER Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55180/aft.v5i2.2066

Abstract

Medium-grade rice is a strategic staple food consumed by the Indonesian people. Rice price stability is achieved through the Highest Retail Price (HET) policy, which is implemented to protect middle- and lower-income consumers. However, the price of medium-grade rice tends to exceed the HET, which may contribute to inflation. Therefore, the effectiveness of the HET for rice needs to be reexamined. This study aims to analyze the disparity and effectiveness of the HET for medium-grade rice, based on the zoning system, and the relationship between price disparity and food inflation. The methods used in this study are statistical analysis and correlation with secondary data sourced from the Statistics Indonesia (BPS), the National Food and Agriculture Agency (Bapanas), and the Ministry of Agriculture. The results show that the price of medium-grade rice at the consumer level consistently exceeds the HET set across all zones, with an average disparity of 4.18% (zone 1), 7.36% (zone 2), and 15.68% (zone 3). Furthermore, there is a strong positive correlation between the price disparity of medium-grade rice compared to the HET in the previous month and food inflation. Policy implications include the government's immediate distribution of CBP rice and adjustment of the HET for medium-grade rice. Keywords: medium rice; stabilization; HET; disparity; inflation     ABSTRAK Beras kualitas medium merupakan bahan pangan pokok strategis yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Stabilitas harga beras dicapai melalui kebijakan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang diterapkan untuk melindungi konsumen berpenghasilan menengah ke bawah. Namun, harga beras kualitas medium cenderung melebihi HET, yang dapat berkontribusi pada inflasi. Oleh karena itu, efektivitas HET untuk beras perlu dikaji ulang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis disparitas dan efektivitas HET untuk beras kualitas medium, berdasarkan sistem zonasi, dan hubungan antara disparitas harga dan inflasi pangan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis statistik dan korelasi dengan data sekunder yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS), Badan Pangan dan Pertanian Nasional (Bapanas), dan Kementerian Pertanian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga beras kualitas medium di tingkat konsumen secara konsisten melebihi HET yang ditetapkan di semua zona, dengan disparitas rata-rata 4,18% (zona 1), 7,36% (zona 2), dan 15,68% (zona 3). Lebih lanjut, terdapat korelasi positif yang kuat antara disparitas harga beras medium dibandingkan dengan HET bulan sebelumnya dan inflasi pangan. Implikasi kebijakan meliputi penyaluran beras CBP secara langsung oleh pemerintah dan penyesuaian HET untuk beras medium. Kata Kunci: beras medium; stabilisasi; HET; disparitas; inflasi
FRONT MATTER VOLUME 5 NO. 2 SEPTEMBER 2025 Ismiasih, Ismiasih
AGRIFITIA : Journal of Agribusiness Plantation Vol. 5 No. 2 (2025): SEPTEMBER
Publisher : Program Studi Agribisnis INSTIPER Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

FRONT MATTER VOLUME 5 NO. 2 SEPTEMBER 2025