cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal@fahutan.untan.ac.id
Phone
+6285345044457
Journal Mail Official
jurnal@fahutan.untan.ac.id
Editorial Address
Fakultas Kehutanan Untan Jln. Imam Bonjol Pontianak Telp/fax : 0561-767673 / 0561-764513
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
JURNAL HUTAN LESTARI
ISSN : 23383127     EISSN : 27761754     DOI : http://dx.doi.org/10.26418/jhl.v8i4
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hutan Lestari merupakan jurnal ilmu kehutanan yang menyajikan artikel mengenai hasil-hasil penelitian meliputi bidang teknologi pengolahan hasil hutan, pengawetan kayu, teknologi peningkatan mutu kayu, budidaya hutan, konservasi sumber daya alam, ekonomi kehutanan, perhutanan sosial dan politik kehutanan. Setiap naskah yang dikirimkan ke Jurnal Hutan Lestari akan ditelaah oleh Penelaah yang sesuai dengan bidangnya. Jurnal Hutan Lestari dipublikasikan oleh Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura diterbitkan setiap 3 bulan sekali.
Articles 22 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI" : 22 Documents clear
PENDUGAAN KARBON TERSIMPAN DI RUANG TERBUKA HIJAU HUTAN PENDOPO GUBERNUR KOTA PONTIANAK Margawuk, Maulidya; Astiani, Dwi; Dewantara, Iswan
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i2.64207

Abstract

Urban forests are vital in Pontianak, where environmental problems such as air pollution and rising temperatures are becoming more serious. Pontianak has green-open space in the Pontianak governor's hall. This study aims to obtain biomass and carbon stock data in the green-open space. This study was conducted from August to September 2022. Using non-destructive assessment and allometric equations. Data collection was carried out by implementing a census assessment on each stand with DBH ≥ 5 cm. The study found that as many as 48 tree species with a total of 778 individuals were found where Alstonia scholaris (L.) R. Br counted as the dominant species. The result of this study indicates that there is an increase in biomass and carbon storage compared to the last 5 years of measurement. Above-ground biomass in Pontianak city hall is around 220,32 tons/ha and carbon storage is around 103,43 tons C/ha. It can be estimated that this area sequestered carbon in the form of carbon stocks of ⁓6,63 ton/ha or absorbed 24,3 ton/ha CO2 annually from the atmosphere.Keywords: Carbon stocks, carbon sequestration.Abstrak Keberadaan hutan kota menjadi sangat penting di Kota Pontianak, di mana masalah lingkungan seperti polusi udara dan kenaikan suhu menjadi lebih serius. Kota Pontianak memiliki RTH di hutan pendopo gubernur Kota Pontianak. Penelitian ini bertujuan mendapatkan data tentang biomassa dan simpanan karbon pada ruang terbuka hijau hutan pendopo gubernur Kota Pontianak. Studi ini dilakukan dari Agustus hingga September 2022. Penelitian ini menggunakan metode non-destruktif dan persamaan allometrik, pengumpulan data dilakukan dengan sensus pada setiap tegakan dengan DBH ≥ 5 cm. Hasil penelitian ditemukan sebanyak 48 jenis pohon dengan jumlah 778 individu yang didominasi oleh Alstonia scholaris (L.) R. Br. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat penambahan biomassa dan simpanan karbon setelah 5 tahun pengukuran. Biomassa di hutan pendopo Kota Pontianak berkisar 220,32 ton/ha dan simpanan karbon sekitar 103,43 ton C/ha. Dapat diperkirakan bahwa area ini menyerap karbon dalam bentuk stok karbon ⁓6,63 ton/ha atau menyerap 24,3 ton/ha CO2 per tahun dari atmosfer.Kata kunci: Karbon stok, penyerapan karbon.
KOMPOSISI JENIS DI EKOSISTEM MANGROVE SUNGAI PINYUH KABUPATEN MEMPAWAH Adisti, Vidya; Rifanjani, Slamet; Darwati, Herlina
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i2.81768

Abstract

Sungai Pinyuh mangrove forest, Mempawah Regency, is a type of forest that grows in coastal areas with fairly good forest conditions and directly facing the open sea. The mangrove forest in Sungai Pinyuh is also one of the potential forests that is utilized by the community to meet their living needs. The aim of the research is to examine the composition of tree species in Sungai Pinyuh mangrove ecosystem, Mempawah Regency. Research data collection used a survey method by recording all vegetation on 6 observation lines. The first line was laid using the purposive sampling method in a position perpendicular to the coastline leading from sea to land, while the next line was ± 150 meters from the previous line. Based on the results of research that has been carried out, there are 717 individual trees organized into 5 species, namely Avicennia officinalis, Bruguiera cylindrica, Xylocarpus moluccensis, Rhizophora apiculate, Avicennia alba. The highest IVI (Important Value Index) in order was Avicennia officinalis (146.879%), followed by Bruguiera cylindrica (131.394%), then Xylocarpus moluccensis (19.268%), while the lowest IVI (Important Value Index) was Rhizophora apiculata (1.603%) and Avicennia alba (0.856%).Keywords: composition, mangroves, Sungai PinyuhAbstrakHutan mangrove Sungai Pinyuh Kabupaten Mempawah merupakan suatu tipe hutan yang tumbuh di daerah pantai dengan kondisi hutan yang cukup bagus dan berhadapan langsung dengan laut lepas. Hutan mangrove di Sungai Pinyuh juga merupakan salah satu hutan potensial yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tujuan penelitian mengkaji komposisi jenis pohon pada ekosistem mangrove Sungai Pinyuh Kabupaten Mempawah. Pengumpulan data penelitian menggunakan metode survei dengan mendata semua vegetasi pada 6 jalur pengamatan. Peletakkan jalur pertama dilakukan menggunakan metode Purposive sampling dengan posisi tegak lurus garis pantai mengarah dari laut ke darat, sedangkan jalur selanjutnya berjarak ±150 meter dari jalur sebelumnya. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terdapat 717 individu pohon yang disusun oleh 5 spesies yaitu Avicennia officinalis, Bruguiera cylindrica, Xylocarpus moluccensis, Rhizophora apiculate, Avicennia alba. INP (Indeks Nilai Penting) tertinggi secara beurutan adalah Avicennia officinalis (146,879 %), kemudian diikuti Bruguiera cylindrica (131,394 %), selanjutnya Xylocarpus moluccensis (19,268 %), sedangkan INP (Indeks Nilai Penting) terendah adalah Rhizophora apiculata (1,603 %) dan Avicennia alba (0,856 %).Kata kunci: komposisi, mangrove, Sungai Pinyuh
SIFAT FISIK MEKANIK PAPAN SERAT AMPAS TEBU BERDASARKAN JUMLAH LAPISAN DAN RASIO ASAM SITRAT-SUKROSA Lestari, Yayuk; Setyawati, Dina; Nurhaida, Nurhaida
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i2.72649

Abstract

Sugarcane bagasse fiber waste has not been utilized optimally. One of the uses of bagasse fiber waste is to make the waste into fiberboard. The research aim to evaluate the effect of the number of layers and the citric acid-sucrose ratio on the physical and mechanical properties of fiberboard and the best fiberboard that meets JIS A 5908:2003 Type 8 standards. The research was carried out in the wood processing laboratory of the Faculty of Forestry for + 4 months starting from the preparation of raw materials to testing and data processing. The experimental method used a factorial Completely Randomized Design (CRD) with two factors, namely the ratio of citric acid-sucrose (0/100, 25/75, 50/50, 75/25, 100/0) and the number of layers (one layer, three layers and five layers), each with three replicates. Fiberboard is made with dimensions of 30cm x 30cm x 1cm with a target density of 0,7 gr/cm3. The fiberboard is hot pressed at a temperature of 1800C for 10 minutes with a pressure of 35 kg/cm2. Based on research results, the ratio of citric acid to sucrose, the number of layers, and the interaction between the two have a significant effect on the physical and mechanical properties of fiberboard. The best fiberboard is found in the citric acid-sucrose ratio treatment of 75/25 with a single layer of board.Keywords: citric acid-sucrose, bagasse, fiberboard, number of layersAbstrakLimbah serat ampas tebu belum dimanfaatkan secara optimal. Salah satu pemanfaatan limbah serat ampas tebu adalah menjadikan limbah tersebut sebagai papan serat. Tujuan penelitian adalah mengevaluasi pengaruh jumlah lapisan dan rasio asam sitrat-sukrosa terhadap sifat fisik dan mekanik papan serat serta papan serat terbaik yang memenuhi standar JIS A 5908:2003 Type 8. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium pengolahan kayu Fakultas Kehutanan selama + 4 bulan mulai dari persiapan bahan baku sampai pengujian dan pengolahan data. Metode percobaan menggunakan faktorial Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor yaitu rasio asam sitrat-sukrosa (0/100, 25/75, 50/50, 75/25, 100/0) dan jumlah lapisan (satu lapis, tiga lapis dan lima lapis), masing-masing dengan tiga ulangan. Papan serat dibuat dengan ukuran 30cm x 30cm x 1cm dengan target kerapatan 0,7 gr/cm3. Papan serat dikempa panas pada suhu 1800C selama 10 menit dengan tekanan 35 kg/cm2. Berdasarkan hasil penelitian bahwa rasio asam sitrat-sukrosa, jumlah lapisan dan interaksi antara keduanya berpengaruh nyata terhadap sifat fisik dan mekanik papan serat. Papan serat terbaik terdapat pada perlakuan rasio asam sitrat-sukrosa 75/25 dengan jumlah lapisan satu lapis.Kata kunci: asam sitrat-sukrosa, ampas tebu, papan serat, jumlah lapisan
PEMANFAATAN BAMBU OLEH MASYARAKAT DUSUN SINAR HARAPAN KECAMATAN TEKARANG KABUPATEN SAMBAS Gunawan, Andri .; M, Iskandar A; Tavita, Gusti eva
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i2.68884

Abstract

Bamboo is a non-timber forest product that has good properties to use, because it has a strong stem. Bamboo has a very important role, especially the community of Sinar Harapan Village, Tekarang District, Sambas Regency. this can be seen from the many uses of bamboo for various community needs, such as food, clothing and handicraft needs. The purpose of this research is to identify the bamboo used, form of use, and the local wisdom of the community in utilizing bamboo. The method used in this research is a survey method. Sampling is done by census or full sampling. The data collection technique used in this research is interview technique. Based on the results of the data obtained at the research site, it was noted that there were 3 types of Abe Bamboo (Gigantochloa balui), Reed Bamboo (Schizostachyum zollingeri) and Ater Bamboo. (Gigantochloa atter), There are 11 bamboo products, namely nyiruk, small baskets, chicken cages, rectangular fruit baskets, pin fruit baskets, round fruit baskets, takin, bubu, galah, lemang and bamboo shoots. The most widely used type of bamboo is Abe (90.9%), while the Ater type bamboo is only used for cooking.Keywords: Utilization, Species of Bamboo, Sinar Harapan VillageAbstrakBambu merupakan hasil hutan bukan kayu yang memiliki khasiat yang baik untuk dimanfaatkan, karena memiliki batang yang kuat. Bambu memiliki peranan yang sangat penting khususnya masyarakat Desa Sinar Harapan, Kecamatan Tekarang, Kabupaten Sambas. hal ini terlihat dari banyaknya pemanfaatan bambu untuk berbagai kebutuhan masyarakat, misalnya kebutuhan pangan, sandang dan kerajinan. tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi Bambu yang dimanfaatkan, bentuk pemanfaatan, dan bagaimana kearifan lokal masyarakat dalam memanfaatkan bambu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey, Pengambilan sampel dilakukan secara sensus atau full sampling, Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik wawancara. Berdasarkan hasil data yang diperoleh di lokasi penelitian tercatat ada 3 jenis Bambu Abe (Gigantochloa balui) Bambu Buluh (Schizostachyum zollingeri) dan Bambu Ater. (Gigantochloa atter), Pemanfaatan bambu ada 11 produk yaitu nyiruk, bakul kecil, sangkar ayam, keranjang buah segi empat, keranjang buah pin, keranjang buah bulat, takin, bubu, galah, lemang dan rebung, Jenis bambu yang paling banyak digunakan adalah Abe (90,9%), sedangkan bambu jenis Ater hanya digunakan untuk memasak.Kata Kunci: Pemanfaatan, Jenis Bambu, Desa Sinar Harapan
IDENTIFIKASI JENIS ORDO ANURA DI KAWASAN HUTAN ADAT DESA PANA KECAMATAN KAPUAS KABUPATEN SANGGAU Hermanda, Debby; Prayogo, Hari; Ardian, Hafiz
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i2.55502

Abstract

Customary forest is an area that is within the customary jurisdiction of the community that functions as a support for the life of the community around the forest area. Amphibians can live in various habitat types such as aquatic, terrestrial, arboreal, and fossorial. This study aims to determine the species of members of the Anura Order found in the Pana Village Customary Forest area. The data collection method uses the visual encounter survey / VES method combined with sampling transects. Identification of the type of order is carried out by observing its morphological differences. Based on the results of the research conducted, amphibians found in the customary forest of pana village consist of 4 families; Ranidae (Bijurana nicobariensis, Chalcorana chalconota, Pulchrana signata, Hylarana erythraea, Fejervarya limnocharis, and Fejervarya cancrivora), Bufo (Duttaphrynus melanostictus), Dicloglossidae (Limnonectes kuhlii and Limnonectes malesianus) and Rhacophoridae (Polypedates otilophus).Keywords:  anura, customary forests, identificationAbstrakHutan adat merupakan suatu kawasan yang berada dalam wilayah hukum adat masyarakat yang berfungsi sebagai penopang kehidupan masyarakat yang berada di sekitar kawasan hutan. Amfibi dapat hidup di berbagai tipe habitat seperti akuatik, terestrial, arboreal, dan fossorial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui spesies anggota Ordo Anura yang terdapat di kawasan Hutan Adat Desa Pana. Metode pengumpulan data menggunakan metode survey perjumpaan visual/VES yang di kombinasikan dengan transek sampling. Identifikasi jenis ordo anura dilakukan dengan cara mengamati perbedaan morfologinya. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, amfibi yang ditemukan di hutan adat desa pana terdiri atas 4 famili; Ranidae (Bijurana nicobariensis, Chalcorana chalconota, Pulchrana signata, Hylarana erythraea, Fejervarya limnocharis, dan Fejervarya cancrivora), Bufo (Duttaphrynus melanostictus), Dicloglossidae (Limnonectes kuhlii dan Limnonectes malesianus) dan Rhacophoridae (Polypedates otilophus).Kata kunci: identifikasi, anura, hutan adat
KEARIFAN LOKAL DALAM KEGIATAN LADANG BERPINDAH SUKU DAYAK UUD DANUM DESA MEROBOI KECAMATAN SERAWAI KABUPATEN SINTANG Hardiansyah, Gusti; Seri, Seri; Roslinda, Emi
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i2.57601

Abstract

Local wisdom is a value system or behavior of local people in interacting with the environment in which they live wisely. This study aims to identify and describe forms of local wisdom based on the stages of implementation in shifting cultivation activities of the Dayak Uud Danum Tribe, Meroboi Village, Serawai District, Sintang Regency. The study used an interview survey method, with census data collection. Based on the results of research that has been carried out, there are 52 local wisdoms based on 12 stages of implementation in the shifting activities of the Dayak Uud Danun Tribe in Meroboi Village, namely land determination (Nyarik umok) 9 rituals, nebas (Monilik) 4 rituals, nebang (Nobong) 1 ritual, drying of litter (Ngihang Dobak) 2 rituals, burning (Nyahak) 8 rituals, collecting unburnt litter (Ngohkap) 2 rituals, nugal (Nuhkan) 9 rituals, grazing (Ngomabo) 1 ritual, waiting for the rice to bear fruit (Ngindoi paroi musit)5 rituals, harvesting (Ngohtom) 6 rituals, harvest thanksgiving event (Mohpas ukup) 4 rituals and Land management after harvest (Ngomulan) 1 ritual The shifting cultivation activity is carried out for one year (249 days) from May to April in next.Keywords: Local wisdom, shifting cultivation, Uud DanumAbstrakKearifan lokal merupakan tata nilai atau perilaku hidup masyarakat lokal dalam berinteraksi dengan lingkungan tempatnya hidup secara arif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan bentuk-bentuk kearifan lokal berdasarkan tahapan pelaksanaan dalam kegiatan ladang berpindah Suku Dayak Uud Danum Desa Meroboi Kecamatan Serawai Kabupaten Sintang. Penelitian menggunakan metode survei wawancara, dengan pengambilan data secara sensus. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terdapat 52 kearifan lokal berdasarkan 12 tahapan pelaksanaan dalam kegiatan ladang berpindah Suku Dayak Uud Danun Desa Meroboi yaitu penentuan lahan (Nyarik umok) 9 ritual, nebas (Monilik) 4 ritual, nebang (Nobong) 1 ritual, pengeringan serasah (Ngihang Dobak) 2 ritual, bakar (Nyahak) 8 ritual, mengumpulkan serasah yang tidak habis terbakar (Ngohkap) 2 ritual, nugal (Nuhkan) 9 ritual, merumput (Ngomabo) 1 ritual, menunggu padi berbuah (Ngindoi paroi musit)5 ritual, panen (Ngohtom) 6 ritual, acara syukuran hasil panen (Mohpas ukup) 4 ritual dan pengelolaan lahan setelah panen (Ngomulan) 1 ritual. Pelaksanan kegiatan ladang berpindah tersebut dilakukan selama satu tahun (249 hari) yaitu dari bulan Mei sampai dengan April pada tahun berikutnya. Kata kunci : Kearifan lokal, ladang berpindah, Uud Danum
ETNOZOOLOGI MASYARAKAT SUKU DAYAK DESA DI DESA ENSAID PANJANG KECAMATAN KELAM PERMAI KABUPATEN SINTANG Aspianto, Florensius; Muflihati, Muflihati; Yani, Ahmad
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i2.55729

Abstract

Animals are part of the Ethnozoology field used by the Desa Dayak Tribe. The purpose of the research is to record the types of animals and how to use them, as well as to examine the conservation efforts of animals. The study used a survey method with interview techniques to 11 respondents with a questionnaire guide and snowball sampling technique. Utilization of animals by the Desa Dayak Tribe there are 46 types of animals from 39 families that are used. The average family of animal species contained only 1 species, except for the families Ampullariidae, Channidae, Ranidae, Phasianidae, Phytonidae, Carvidae and Suidae, each of which found 2 species. Utilization varies from consumption, traditional rituals, medicine, myths or omens, artistic values, game animals and animals for hunting. Utilization that uses a lot of animals is for consumption as many as 23. The parts of animals that are used include meat, head, blood, fur, liver, claws, thorns, tail, sound, shell, fat, bile, horns, skin and beehives. The part that is widely used is meat as much as 30. Animal processing is carried out starting from cooking in gravy, frying, grilling, grinding and grilling which animals are obtained when hunting in the forest, trapping results and fishing in rivers.Keywords: Animals, Ethnozoology, Utilization, Village DayakAbstrak Hewan merupakan bagian dari bidang Etnozoologi yang dimanfaatkan Suku Dayak Desa. Tujuan penelitian untuk mendata jenis-jenis hewan dan cara pemanfaatan, serta mengkaji upaya konservasi terhadap hewan. Penelitian menggunakan metode survey dengan teknik wawancara terhadap 11 responden dengan panduan kuisioner dan teknik snowball sampling. Pemanfaatan hewan oleh Suku Dayak Desa terdapat 46 jenis hewan dari 39 famili yang dimanfaatkan. Famili dari jenis hewan rata-rata hanya terdapat 1 spesies, kecuali untuk famili Ampullariidae, Channidae, Ranidae, Phasianidae, Phytonidae, Carvidae dan Suidae masing-masing ditemukan 2 spesies. Pemanfaatan bervariasi mulai dari kosumsi, ritual adat, pengobatan, mitos atau pertanda, nilai seni, hewan buruan dan hewan untuk berburu. Pemanfaatan yang banyak menggunakan hewan yaitu untuk kosumsi sebanyak 23. Bagian hewan yang dimanfaatkan meliputi daging, kepala, darah, bulu, hati, ceker, duri, ekor, suara, cangkang, lemak, empedu, tanduk, kulit dan sarang lebah. Bagian yang banyak digunakan yaitu Daging sebanyak 30. Pengolahan hewan yang dilakukan mulai dari dimasak kuah, goreng, bakar, dipekasam dan disalai yang mana hewan tersebut didapatkan saat berburu dihutan, hasil perangkap dan memancing di sungai.Kata kunci: Hewan, Etnozoologi, Pemanfaatan, Dayak Desa
ETNOZOOLOGI PEMANFAATAN SATWA OLEH MASYARAKAT MELAYU DI DESA GALING KECAMATAN GALING KABUPATEN SAMBAS Huda, Nurul; Anwari, M Sofwan; Dirhamsyah, M
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i2.49448

Abstract

Malay people who live in groups have been known to utilize various types of biodiversity for their daily needs. Along with the development of the era accompanied by the entry of technology and also the entry of foreign cultures that make changes in people's lifestyles and mindsets, resulting in the waning of the original culture of the Galing Village Community. This study aims to obtain data on animal species and examine the use of animals used by the Malay Community in Galing Village, Sambas Regency. The method in this study is a survey method with interviews. The technique of determining respondents is done by using snowball sampling, namely by determining key respondents and then determining other respondents based on information from previous respondents, and so on. The number of respondents in this study were 10 people. The data generated is in the form of data on animal species, methods of obtaining animals, processing methods, parts used, and methods for using animals and then analyzed descriptively. Based on interviews, 49 species of animals from 41 families were used by the Malay community of Galing Village. Based on the class level, 9 classes of animals were used, namely Mammals, Aves, Reptiles, Pisces, Crustaceans, Insecta and Annelida.Keywords: Animal Utilization, Etnozoology, Malay Tribe.AbstrakMasyarakat Melayu yang hidup berkelompok selama ini dikenal memanfaatkan berbagai jenis keanekaragaman hayati untuk kebutuhan sehari-hari. Seiring dengan perkembangan zaman yang disertai dengan masuknya teknologi dan juga masuknya budaya asing yang membuat perubahan pola hidup dan pola pikir masyarakat, sehingga mengakibatkan memudarnya budaya asli masyarakat Desa Galing. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data tentang jenis hewan dan mengkaji pemanfaatan hewan yang dimanfaatkan oleh masyarakat Melayu di Desa Galing Kabupaten Sambas. Metode dalam penelitian ini adalah metode survei dengan wawancara. Teknik penentuan responden dilakukan dengan menggunakan snowball sampling yaitu dengan menentukan responden kunci kemudian menentukan responden lainnya berdasarkan informasi dari responden sebelumnya, begitu seterusnya. Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 10 orang. Data yang dihasilkan berupa data tentang jenis hewan, cara perolehan hewan, cara pengolahan, bagian yang digunakan, dan cara pemanfaatan hewan kemudian dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan wawancara diperoleh 49 jenis hewan dari 41 famili yang dimanfaatkan oleh masyarakat Melayu Desa Galing. Berdasarkan tingkat kelasnya digunakan 9 kelas hewan yaitu Mamalia, Aves, Reptilia, Pisces, Crustacea, Insecta dan Annelida.Kata kunci: Pemanfaatan satwa,  Etnozoologi,  Suku Melayu
PEMANFAATAN ROTAN SEBAGAI BAHAN BAKU KERAJINAN OLEH MASYARAKAT DESA BENUA KRIO, KABUPATEN KETAPANG Setyawati, Dina; MS, Albertus; Sisillia, Lolyta
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i2.49615

Abstract

The use of rattan as a raw material for handicrafts has been a long-standing tradition in Benua Krio, Hulu Sungai District, Ketapang Regency. This study aims to document the various species of rattan utilized as raw materials for handicrafts, the products, and describe their processing techniques. The respondents in this study were rattan artisans from Benua Krio Village, totaling 30 participants. The selection of respondents was carried out using the snowball sampling method. Data analysis revealed that 10 species of rattan are utilized, classified into three genera: Calamus, Korthalsia, and Daemonorops.The Calamus genus includes Calamus caesius Blume, C. manan Miq, C. optimus Beccari, C. inops Becc, and C. trachycoleus. The Korthalsia genus comprises Korthalsia echinometra Beccari and K. rigida Blum). The Daemonorops genus includes Daemonorops geniculata (Griff) Mart, D. didymophylla Bec), and D. melanochaetes B). The rattan processing follows several stages: harvesting, initial cleaning, drying and preservation, secondary cleaning, and product manufacturing The study identified 15 types of handicrafts produced in Benua Krio Village, including timpak, ragak, bakul, piring, kampik, ronjong, entaban, tengkalang, takin, takin dara, capan, ayak padi, klasah/tikar, pemangkong tilam, and tangguk.Keywords: Benua Krio Village, Handicraft, Rattan, Utilization,AbstrakPemanfaatan rotan sebagai bahan baku kerajinan di Desa Benua Krio sudah menjadi tradisi masyarakat. di Desa Benua Krio, Kecamatan Hulu Sungai, Kabupaten Ketapang. Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan berbagai jenis rotan yang digunakan sebagai bahan baku kerajinan, produk yang dihasilkan, serta mendeskripsikan teknik pengolahannya. Responden dalam penelitian ini adalah pengrajin rotan dari Desa Benua Krio, dengan total 30 peserta. Pemilihan responden dilakukan menggunakan metode snowball sampling. Hasil penelitian mendapatkan terdapat 10 jenis rotan yang dimanfaatkan, yang diklasifikasikan ke dalam tiga genus, yaitu Calamus, Korthalsia, dan Daemonorops. Genus Calamus mencakup Calamus caesius Blume, C. manan Miq), C. optimus Beccari), C. inops Becc, dan C. trachycoleus. Genus Korthalsia terdiri dari Korthalsia echinometra Beccari dan K. rigida Blume. Genus Daemonorops mencakup Daemonorops geniculata (Griff) Mart, D. didymophylla Becc, dan D. melanochaetes BI. Proses pengolahan rotan dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu pemanenan, pembersihan tahap pertama, pengeringan dan pengawetan, pembersihan tahap kedua, serta pembuatan produk. Penelitian ini mengidentifikasi 15 jenis kerajinan yang diproduksi di Desa Benua Krio, antara lain timpak, ragak, bakul, piring, kampik, ronjong, entaban, tengkalang, takin, takin dara, capan, ayak padi, klasah/tikar, pemangkong tilam, dan tangguk.Kata Kunci: Desa Benua Krio, Kerajinan, Rotan, Pemanfaatan
ANALISIS VEGETASI POHON PAKAN ORANGUTAN (Pongo pygmaeus Wrumbii) PADA TIGA HABITAT STASIUN RISET CABANG PANTI TAMAN NASIONAL GUNUNG PALUNG ulandari, sari; Dewantara, Iswan; Kartikawati, Siti Masitoh
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i2.58005

Abstract

Gunung Palung National Park is one of the habitats for Orangutans in West Kalimantan, and in this area, there is an Cabang Panti Research Station that focuses on conducting research on Orangutans, one of which is the type of feed. This study aims to examine the potential for species diversity and the similarity index of Orangutan forage tree species using the vegetation analysis method. The most common types of feed were found in frashwater swamp habitats and the least in alluvial habitats. The most common species found in three habtats, namely alluvial, freshwater swamp, lowland sandstone, was Popowia pisocarpa from the Annonaceae family, while the highest INP from the Polyalthia sumatrana species, which was 44.93% was feed for Orangutans at pole level in alluvial habitats. The results of the vegetation analysis of all growth levels for the diversity of tree species in the three habitats were classifield as moderate, the species distribution was evenly distributed and no species dominated. Three were similarity in the three habitats at tree level, while at the pole level only lowland sandstone habitat with alluvial.Keywords: Alluvial, Freshwater Swamp, Lowland Sandstone, Orangutan.AbstrakTaman Nasional Gunung Palung (TNGP) merupakan salah satu habitat Orangutan di Kalimantan Barat, dan kawasan ini terdapat Stasiun Riset Cabang Panti (SRCP) yang fokus melakukan penelitian Orangutan salah satunya adalah jenis pakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi keanekaragaman jenis dan indeks kesamaan jenis pohon pakan Orangutan pada tiga habitat (alluvial, rawa air tawar, dan batu berpasir dataran rendah). Hasil analisis vegetasi pada ketiga habitat secara berurutan sebagai berikut INP tertinggi pada strata semai (P.pisocarpa 22,52%; S.platycarpa 13,67%; A.nitida 14,55%), strata pancang (P.pisocarpa 32,56%; K.laurina 16,41%; S.grande 22,95%), strata tiang (P.sumatrana 44,93%; P.rostrata 25,38%; P.pisocarpa 26,17%), dan strata pohon (S.Parvifolia 21,91%; S.platycarpa 30,85%; S.parvifolia 26,75%). Jenis pakan Orangutan yang ditemukan sebanyak 141 jenis dengan jenis pakan yang paling banyak ditemukan terdapat ada habitat rawa air tawar (107 jenis) dan yang paling sedikit pada habitat aluvial (86 jenis). Keanekaragaman jenis pohon pada tiga habitat untuk semua strata pertumbuhan tegolong sedang (H Ì…=1,3 "“ 1,9), penyebaran jenis tergolong merata dan tidak ada jenis yang mendominasi (C = 0 "“ 0,1). Terdapat kesamaan jenis pada tiga habitat untuk strata pohon (S = 50 "“ 86 %), tingkat tiang hanya habitat batu berpasir dataran rendah dengan aluvial (S = 87 %)Kata kunci: Aluvial, Rawa Air Tawar,batu Pasir dataran Rendah, Orangutan

Page 2 of 3 | Total Record : 22


Filter by Year

2024 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 3 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 2 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 1 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 4 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 3 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 4 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 3 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 2 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 10, No 4 (2022): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 4 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 3 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 2 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 1 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 4 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 3 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 2 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 1 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 4 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 3 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 2 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 1 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 4 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 3 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 2 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 1 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 4 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 3 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 2 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 1 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 4 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 3 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 2 (2016): Jurnal Hutan Lestari Vol 4, No 1 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 4 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 3 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 2 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 1 (2015): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 3 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 2 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 1 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 3 (2013): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Hutan Lestari More Issue