cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal@fahutan.untan.ac.id
Phone
+6285345044457
Journal Mail Official
jurnal@fahutan.untan.ac.id
Editorial Address
Fakultas Kehutanan Untan Jln. Imam Bonjol Pontianak Telp/fax : 0561-767673 / 0561-764513
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
JURNAL HUTAN LESTARI
ISSN : 23383127     EISSN : 27761754     DOI : http://dx.doi.org/10.26418/jhl.v8i4
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hutan Lestari merupakan jurnal ilmu kehutanan yang menyajikan artikel mengenai hasil-hasil penelitian meliputi bidang teknologi pengolahan hasil hutan, pengawetan kayu, teknologi peningkatan mutu kayu, budidaya hutan, konservasi sumber daya alam, ekonomi kehutanan, perhutanan sosial dan politik kehutanan. Setiap naskah yang dikirimkan ke Jurnal Hutan Lestari akan ditelaah oleh Penelaah yang sesuai dengan bidangnya. Jurnal Hutan Lestari dipublikasikan oleh Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura diterbitkan setiap 3 bulan sekali.
Articles 915 Documents
PENDAPATAN PETANI PENYADAP KARET DI KAWASAN TEMBAWANG DESA TANGGUNG KECAMATAN JANGKANG KABUPATEN SANGGAU ully safira; Gusti Hardiansyah; Nurhaida Nurhaida
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i1.52477

Abstract

Rubber (Havea brasiliensis Muell. Arg) is a sap-producing vegetation that has the potential as a constituent as well as having economic value in the tembawang agroforestry system. The rubber is one of the sources of income for the community in the Village of Tanggung Jangkang District. The purpose of this research is to obtain the amount of income, income contribution, and the factors that affect the amount of rubber production. Research uses survey methods with observation techniques and structured interviews using questionnaires. The results of data analysis showed that the average income of rubber farming was Rp 9.657.000,00/household/year or Rp 804.750,00/household/month, contributing to household income of 25,93%. The results of the regression analysis showed that the independent variables, namely work experience, tree age, total of rubber that tapped, and working days simultaneously had a significant effect on the amount of rubber production. Partially the number of trees and working days have a significant effect on the amount of rubber production. The equation is: Y = -0,057 + 0,093 X1 - 0,019 X2 + 0,492 X3 + 0,419 X4 Analysis of the determination value of R Square is 0,818 (81,8%).Keywords: farmer's income, rubber trees, Tanggung, tembawang.AbstrakKaret (Havea brasiliensis Muell. Arg) adalah vegetasi penghasil getah yang memiliki potensi sebagai penyusun sekaligus memiliki nilai ekonomi dalam sistem agroforestri tembawang. Karet merupakan salah satu sumber pendapatan masyarakat di Desa Tanggung Kecamatan Jangkang. Tujuan penelitian memperoleh besaran pendapatan, kontribusi pendapatan, dan faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah produksi karet. Penelitian menggunakan metode survey dengan teknik observasi dan wawancara terstruktur menggunakan kuisioner. Pengambilan sampel dilakukan secara sensus terhadap 27 responden. Hasil analisis data menunjukan rata-rata pendapatan usahatani karet sebesar Rp 9.657.000,00/KK/tahun atau Rp 804.750,00/KK/bulan memberikan kontribusi terhadap pendapatan rumah tangga sebesar 25,93%. Hasil analisis regresi menunjukan variabel bebas yaitu pengalaman kerja, umur pohon, jumlah pohon, dan curahan hari kerja secara simultan berpengaruh signifikan terhadap jumlah produksi karet. Secara parsial jumlah pohon dan curahan hari kerja berpengaruh signifikan terhadap jumlah produksi karet. Persamaannya adalah Y = -0,057 + 0,093 X1 - 0,019 X2 + 0,492 X3 + 0,419 X4. Analisis nilai determinasi R Square sebesar 0,818 (81,8%).Kata kunci: pendapatan petani, pohon karet, Tanggung, tembawang
INTERPRETASI POTENSI EKOWISATA RIAM PANGAR DUSUN SEGONDE DESA PISAK KECAMATAN TUJUH BELAS KABUPATEN BENGKAYANG KALIMANTAN BARAT Slamet Rifanjani; kory altika; Joko Nugroho Riyono; Munadian Munadian
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i1.55660

Abstract

Riam Pangar is one of the natural water attractions located in the Watershed which is sourced from the Mount Nyiut Nature Reserve, Bengkayang Regency. This study aims to identification and to promote the potential that exists in Riam Pangar, Riam Pangar's physical potential, biological potential, socio-cultural community and infrastructure. This study uses direct observation and direct interviews with respondents. Data analysis is presented in a qualitative descriptive form. Based on the results of exploration and direct interviews with community leaders, namely, the Head of Hamlet, Temenggung Indigenous, and Local Communities, Riam Pangar ecotourism has very good potential to be visited by outsiders. There is an information center that can give visitors an idea of what to see, know and learn in the area. Promotions have been carried out on several social media such as YouTube, Instagram, Facebook, and TikTok. The potential that exists in Riam Pangar is flora, fauna, tourism objects and community culture. Diversity of flora species, namely Tristaniopsis sp, Durio sp, family Orchidaceae, spices, bamboo and others. The fauna consists of a diversity of species, namely Sus scrofa, Tragulus kanchil, Muntiacus muntjak, python sp, Sciades sp, Aves and others. The existing tourist objects are white water rafting, body rafting, tubing, photo spots, tracking paths and fishing arenas. Community culture has traditions and rituals every year, namely: Ngawah (tradition for land clearing), Ngebiong (tradition for pamulu rice or cleaning grass that interferes with rice growth), Ngebrang Pangutum or Gawai (tradition for harvesting), Berapek Saw'a (year-end ritual), the Welcoming Dance (which is used in big events), the Tariu Dance (which is used for the ritual of Berapek Saw'a or closing the year).Keywords: Interpretation, Promotion, Riam Pangar, Tourism Potential, AbstrakRiam Pangar adalah salah satu obyek wisata alam perairan yang terletak di Daerah Aliran Sungai yang bersumber dari Cagar Alam Gunung Nyiut Kabupaten Bengkayang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memperkenalkan potensi yang ada di Riam Pangar potensi fisik Riam Pangar, potensi biologis, sosial budaya masyarakat dan sarana prasarana. Penelitian ini menggunakan metode observasi langsung dan wawancara langsung terhadap responden. Analisis data disajikan dalam bentuk deksritif kualitatif. Berdasarkan hasil eksplorasi dan wawancara langsung kepada tokoh masyarakat yaitu, Kepala Dusun, Temenggung Adat, dan Masyarakat Lokal mengenai ekowisata Riam Pangar memmiliki potensi yang sangat baik untuk dikunjungi oleh masyarakat luar. Terdapat pusat informasi yang dapat memberikan gambaran kepada pengunjung tentang apa yang dilihat, diketahui, dan dipelajari di daerah tersebut. Promosi telah dilakukan di beberapa media sosial seperti youtobe, instagram, facebook, dan tiktok. Potensi yang ada di Riam Pangar adalah flora, fauna, objek wisata dan budaya masyarakat. Keanekaragaman jenis flora yaitu Tristaniopsis sp, Durio sp, famili orchidaceae, rempah-rempah, bambu dan lain-lain. Fauna yang terdiri dari keanekaragaman jenis yaitu Sus scrofa, Tragulus kanchil, Muntiacus muntjak, python sp, Sciades sp, Aves dan lain-lain. Objek wisata yang ada adalah arum jeram, body rafting, tubing, spot foto, jalur tracking dan arena memancing. Budaya masyarakat adanya tradisi dan ritual setiap tahun yaitu : Ngawah ( tradisi untuk pembukaan lahan ), Ngebiong ( tradisi untuk pamulu padi atau membersihkan rumput yang mengganggu pertumbuhan padi ), Ngebrang Pangutum atau Gawai ( tradisi untuk panen ), Berapek Saw’a ( ritual tutup tahun), Tarian Penyambutan ( yang digunakan di acara besar ), Tarian Tariu ( yang digunakan untuk ritual Berapek Saw’a atau tutup tahun ).Kata kunci:Interpretasi , Potensi Wisata, Promosi, Riam Pangar.
DAYA HAMBAT IN VITRO EKSTRAK DAUN KEMBANG TELANG (Clitoria ternatea) TERHADAP JAMUR PENYEBAB BUSUK AKAR (Ganoderma sp. ) In vitro inhibition of telang (Clitoria ternatea) leaf extract against root rot fungus (Ganoderma sp.) inor inor; hanna artutiekamawanti; Wiwik Ekyastuti
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i1.60513

Abstract

Kembang telang leaf extract is antimicrobial controlling pathogenic fungi in vitro. The purpose of the study was to determine the ability of the kembang telang leaf extract as an inhibitor of the growth of fungi that cause root rot and the concentration of the extract that was most effective. The research was carried out in the Silviculture laboratory Faculty of Forestry Universitas Tanjungpura for three months. The experimental method used a completely randomized design with treatments consisting of four concentrations, namely 0%, 3%, 6%, and 9%, with three replications. Telang flower leaf extract can inhibit Ganoderma sp. An inhibition zone looks more apparent than the Telang flower leaf extract area. The growth of fungal growth at the lowest concentration of 3% is the same as effectively inhibiting the growth of Ganoderma sp. The research results imply that the flower telang leaf extract has the potential as an antifungal against the Ganoderma sp.      Keywords: antimicrobial, extract, Clitoria ternatea, Ganoderma.AbstrakEkstrak daun kembang telang memiliki efek antimikrob dalam mengendalikan jamur patogen secara in vitro. Tujuan penelitian mengevaluasi kemampuan ekstrak daun kembang telang sebagai penghambat pertumbuhan jamur Ganoderma sp. penyebab busuk akar dan konsentrasi ekstraknya yang paling efektif. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Silvikultur Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura selama 3 bulan. Metode percobaan menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat taraf perlakuan konsentrasi ekstrak daun kembang telang 0%, 3%, 6%, dan 9% masing-masing tiga ulangan. Ekstrak daun kembang telang dapat menghambat pertumbuhan jamur Ganoderma sp. yang ditunjukkan dengan terbentuknya zona bening. Respons pertumbuhan jamur pada konsentrasi yang paling rendah (3%) sama efektifnya menghambat pertumbuhan jamur Ganoderma sp.  Implikasi hasil penelitian adalah ekstrak daun kembang telang memiliki potensi sebagai antijamur, khususnya Ganoderma sp. yang menyebabkan busuk akar pada Acacia mangium.  Kata kunci: antimikrob, Clitoria ternatea, ekstrak, Ganoderma
TINGKAT KEMANDIRIAN KESATUAN PENGELOLAAN HUTAN (KPH) DALAM PENGELOLAAN HUTAN DI SUMATERA BARAT Yurike Yurike; Mahdi Mahdi; Yonariza Yonariza
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i1.58857

Abstract

Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) di Sumatera Barat merupakan salah satu KPH Model yang dibentuk oleh pemerintah. KPH dibentuk untuk memastikan pengelolaan hutan tetap lestari dan berkelanjutan. KPH juga dituntut agar dapat menghasilkan pendapatan untuk membiayai dirinya sendiri dalam sebuah unit yang mandiri. Pembangunan KPH dianggap sebagai salah satu cara mengelola hutan di Indonesia Namun, pengelolaan KPH di Sumatera Barat tidak terlepas dari berbagai masalah yang ada baik dengan pemerintah, pihak swasta, masyarakat maupun masalah internal KPH itu sendiri. Setelah lebih kurang 6 tahun perjalanan KPH di Sumatera Barat perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui sudah sejauh mana kinerja KPH sebagai unit pengelolaan hutan di tingkat tapak dengan melihat tingkat kemandirian Kesatuan Pengelolaan Hutan. Penelitian ini menggunakan kriteria dan indikator dari Forest Watch Indonesia versi 2.0. Hasil penelitian menunjukkan nilai indeks tingkat kemandirian KPH di Sumatera Barat berada di posisi sedang yaitu 2,33. Hal ini menunjukkan bahwa KPH masih dalam tahap pengembangan. Beberapa KPH yang ada sudah memiliki rencana bisnis dan sedang diimplementasikan, hal ini salah satu cara menuju kemandirian KPH. Tetapi sebagian lagi belum bisa merealisasikan rencana tersebut karena berbagai konflik. Pada tahap selanjutnya, diharapkan KPH bisa menjadi KPH Mandiri dengan kelembagaan yang dikembangkan menjadi PPK-BLUD, ketika itu sumber pembiayaan dapat berasal dari usaha-usaha KPH yang sah baik yang berasal dari pemanfaatan dan penggunaan kawasan hutan.  Kriteria yang perlu di perhatikan lebih lanjut untuk diperkuat agar operasionalisasi KPH dapat berkelanjutan yaitu peningkatan kapasitas organisasi yang selama ini masih lemah, penanganan konflik, mekanisme investasi harus jelas dan kematangan rencana kelola KPH.
STRATEGI PENGEMBANGAN USAHATANI MADU TRIGONA DI SEKITAR KAWASAN HUTAN RARUNG Vina Alfi Royani; Amiruddin Amiruddin; Pande Komang Suparyana
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i1.65410

Abstract

Dengan potensi sumber daya hutan yang cukup luas, Indonesia bisa dikatakan memiliki keunggulan komparatif. Di Kabupaten Lombok Tengah khususnya Kecamatan Pringgarata memiliki hutan lindung yaitu di kawasan hutan Rarung. Jenis lebah madu yang dibudidayakan oleh kelompok tani di Kawasan Hutan Rarung Desa Pemepek adalah jenis lebah madu Trigona Sp. Salah satu alasan petani membudidayakan madu jenis ini adalah karena minat masyarakat dan tingkat permintaan konsumennya tinggi terhadap produk madu tersebutTujuan penelitian ini, yaitu untuk mengidentifikasi faktor internal dan eksternal, serta strategi terbaik dalam pengembangan usahatani Madu Trigona di sekitar kawsan hutan Rarung. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Pemepek yang merupakan desa berada di pinggir kawasan hutan Rarung Kecamatan Pringgarata Kabupaten Lombok Tengah. Jumlah responden penelitian ini sebanyak 30 responden dengan rincian, responden kelompok tani sebanyak 20 orang, penyuluh KHDTK Rarung sebanyak 4 orang, pengelola koperasi Wana Makmur sebanyak 1 orang, dan konsumen madu Trigona sebanyak 5 orang. Penelitian ini berjenis penelitian deskriptif dengan pendekatan manajemen strategi terdiri dari: 1) analisis matriks IFE dan EFE; 2) analisis matriks IE dan matriks SWOT; dan 3) analisis QSPM. Hasil penelitian menunjukkan strategi terbaik dari ke tujuh strategi yang dihasilkan adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dengan mengadakan penyuluhan dan pendampingan oleh instansi terkait. Rekomendasi penelitian ini disarankan untuk memberikan edukasi dan pendampingan yang lebih intensif kepada petani madu trigona di sekitar kawasan hutan Rarung.
KETAHANAN SENGON GENERASI M1 TERHADAP PENYAKIT KARAT TUMOR Fitria Dewi Kusuma; Supriyanto Supriyanto; Bonny PW Soekarno; Reyna Ashari
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i1.63912

Abstract

Sengon is commonly developed by community forest farmers because it is a fast-growing species and the demand for wood is quite high. The development of sengon is constrained by the attack of gall rust disease caused by the fungus Uromycladium falcatarium. Efforts to obtain disease-resistant plants can be done through mutation breeding, one of which is using gamma rays. This study aims to assess the resistance of M1 generation sengon to gall rust disease. Sengon seeds were irradiated using gamma rays at doses of 0, 25, 75, 125, and 175 Gy. Sengon seeds that had been irradiated were germinated and sown for up to 2 months of age. Inoculation of U. falcatarium fungus was carried out on sengon seedlings M1 (1st generation mutant) and M0 (control) generations, at 2 months old. The number of seeds used in each dose was five seeds with four replications. This study used a randomized block design (RBD). Observation on seedlings were disease severity, mortality rate, and resistance of seedlings to gall rust disease. Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) and then analysis of the least significant difference (LSD) was carried out at a level of 5%. The results showed that the dose of gamma irradiation had a significant effect on the severity of gall rust disease at 17, 27, and 37 days after isolation (DAI). The resistance levels of the M0 and M1 generations of sengon seedlings (doses of 25, 75, and 125 Gy) from 7 – 37 DAI were in the very resistant-moderately susceptible category, while the M1 seedlings with a dose of 175 Gy tended to be very resistant-resistant.Keywords: gall rust, gamma irradiation, mutation breeding. AbstrakSengon umum dikembangkan petani hutan rakyat karena termasuk jenis cepat tumbuh dan permintaan kayunya cukup tinggi. Pengembangan sengon terkendala dengan adanya serangan penyakit karat tumor yang disebabkan oleh jamur Uromycladium falcatarium. Upaya untuk memperoleh tanaman yang tahan penyakit dapat dilakukan melalui pemuliaan mutasi, salah satunya dengan sinar gamma. Penelitian ini bertujuan untuk mengaji ketahanan sengon generasi M1 terhadap penyakit karat tumor. Benih sengon diiradiasi menggunakan sinar gamma dengan dosis 0, 25, 75, 125, dan 175 Gy. Benih sengon yang telah diiradiasi dikecambahkan dan dipelihara hingga umur 2 bulan. Inokulasi jamur U. falcatarium dilakukan pada bibit sengon generasi M1 (mutan generasi ke-1) dan M0 (kontrol) berumur 2 bulan. Jumlah bibit yang digunakan pada masing-masing dosis sebanyak 5 bibit dengan empat kali ulangan. Penelitian ini disusun dengan rancangan acak kelompok (RAK). Pengamatan bibit meliputi keparahan penyakit, tingkat kematian, dan resistensi bibit terhadap penyakit karat tumor. Data dianalisis menggunakan sidik ragam dan kemudian dilakukan analisis beda nyata terkecil (BNT) dengan taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkaan bahwa dosisi iradiasi sinar gamma berpengaruh nyata terhadap keparahan penyakit karat tumor pada 17, 27, dan 37 HSI. Tingkat resistensi bibit sengon generasi M0 dan M1 (dosis 25, 75, dan 125 Gy) dari 7 – 37 HSI masuk dalam kategori sangat resisten-cukup rentan, sedangkan bibit sengon M1 dengan dosis 175 Gy cenderung sangat resisten-resisten.Kata kunci: karat tumor, iradiasi sinar gamma, pemuliaan mutasi.
INTERPRETASI POTENSI EKOWISATA DESA GUNUNG SEMBILAN TAMAN NASIONAL GUNUNG PALUNG PROVINSI KALIMANTAN BARAT Siti Latifah; indahyana sholikah; Joko Nugroho Riyono
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i1.57427

Abstract

Gunung Sembilan Village, Sukadana District, North Kayong Regency, which is in the Gunung Palung National Park (TNGP) area, is an area that has a lot of tourism potential. This area has a ecosystem wealth, both biotic and abiotic with very beautiful landscapes and is an area that has protected animals, namely hornbills and ecosystems that maintain their naturalness. The purpose of this study is to compile information on ecotourism potential and interpret the ecotourism potential of Gunung Sembilan Village, Gunung Palung National Park, West Kalimantan Province. The method used is a survey with direct observation and interview techniques. Gunung Sembilan Village, Sukadana District, Gunung Palung National Park has 18 ecotourism objects that can support the interpretation of the ecotourism potential of Gunung Sembilan Village. The total physical potential obtained is 12 tourist objects, the potential for plants is 2 unique plants, the potential for animal attractions is 2 types and 2 objects of cultural potential. The ecotourism potential of Gunung Sembilan Village has 3 interpretation paths, the physical path, the socio-cultural path and the biological path. The physical path is a tourist route that includes all physical potential. The socio-cultural path is a cultural tourism route that includes ancient history. The biological path is the path to the top of Mendale Hill which is a leading ecotourism object in Gunung Sembilan Village. Keywords: Ecotourism, Interpretation, Interpretation PathAbstrak Desa Gunung Sembilan Kecamatan Sukadana Kabupaten Kayong Utara yang berada pada kawasan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) merupkan satu wilayah yang mempunyai banyak potensi wisata. Kawasan ini memiliki kekayaan ekosistem, baik biotik maupun abiotik dengan lanskap yang sangat indah dan merupakan kawasan yang memiliki hewan dilindungi yaitu burung rangkong dan sekosistem yang terjaga kealamiannya. Tujuan penelitian ini yakni menyusun informasi potensi ekowisata dan menginterpretasi potensi ekowisata Desa Gunung Sembilan Taman Nasional Gunung Palung Provinsi Kalimantan Barat. Metode yang digunakan adalah survey dengan teknik observasi langsung dan wawancara. Desa Gunung Sembilan Kecamatan Sukadana  Taman Nasional Gunung Palung memiliki 18 objek ekowisata yang dapat mendukung interpretasi potensi ekowisata Desa Gunung Sembilan. Jumlah potensi fisik yang didapat yaitu 12 objek wisata, potensi tumbuhan sebanyak 2 tumbuhan unik , potensi hewan yang menjadi daya tarik  sebanyak 2 jenis serta 2 objek potensi kebudayaan. Potensi ekowisata Desa Gunung Sembilan , memiliki 3 jalur interpretasi yaitu jalur fisik, jalur sosial budaya dan jalur biologi. Jalur  fisik terdiri dari jalur wisata yang mencakup semua potensi fisik. Jalur sosial budaya adalah jalur wisata budaya yang mencakup sejarah dahulu kala. Jalur biologi adalah jalur menuju puncak Bukit Mendale yang merupakan objek ekowisata unggulan di Desa Gunung Sembilan.Kata kunci: Ekowisata, Interpretasi, Jalur Interpretasi
KEANEKARAGAMAN JENIS KEPITING BIOLA DI HUTAN MANGROVESURYA PERDANA MANDIRI KELURAHAN SETAPUK BESAR KOTA SINGKAWANG M Sofwan Anwari; Nurul Syafarudi; Hafiz Ardian
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i1.51424

Abstract

Uca spp crab as one of the coastal fauna, receives less attention in protection efforts because it is underutilized by humans. There are still many uca spp crabs but with increasing human activities in the mangrove ecosystem, it will have a direct impact on the number and diversity of its species. The purpose of this study was to examine the diversity of uca spp crab species  at Surya Perdana Mandiri Mangrove Forest Area, Setapuk Besar Village, Singkawang City. Determination of the research path is based on purposive sampling technique. Determination of the path based on the results of the field survey that has been carried out, namely based on the presence of Uca spp. There are 3 paths in this study, each lane consists of 10 plots. The distance between the plots is 50 meters long and the distance between lanes is 50 meters and 1x1 meter plot. There are 3 types of violin crabs found at the Surya Perdana Mandiri mangrove forest, Setapuk Besar Village, Singkawang City, namely Uca acuta, Uca forcipata, and Uca tetragonon. The total number of individuals is 198. The species diversity index in each research path is categorized as low.Keywords: Uca spp, mangrove, diversity. AbstrakKepiting biola sebagai salah satu fauna pesisir, kurang mendapatkan perhatian dalam upaya perlindungan karena kurang dimanfaatkan oleh manusia. Kepiting biola sekarang masih banyak, namun dengan meningkatnya aktivitas manusia pada ekosi stem mangrove akan berdampak langsung terhadap jumlah dan keanekaragaman jenisnya. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji keanekaragaman jenis kepiting biola di Kawasan Hutan Mangrove Surya Perdana Mandiri Kelurahan Setapuk Besar Kota Singkawang. Penentuan jalur penelitian dilakukan berdasarkan teknik Purposive sampling. Penentuan jalur berdasarkan hasil survei lapangan yang telah dilakukan yaitu berdasarkan keberadaan Uca spp. Terdapat 3 jalur dalam penelitian ini, setiap jalur terdiri atas 10 petak. Jarak antar petak yaitu sepanjang 50 meter dan jarak antar jalur 50 meter dan menggunakan petak berukuran 1x1 meter. Kepiting biola yang ditemukan di hutan mangrove Surya Perdana Mandiri Kelurahan Setapuk Besar Kota Singkawang ada 3 jenis yaitu Uca acuta, Uca forcipata, Uca tetragonon. Jumlah total individu 198. Indeks Keanekaragaman jenis di setiap jalur penelitian dikategorikan rendah. Kata kunci: Kepiting Biola, mangrove, keanekaragaman.
GUILD PAKAN SPESIES BURUNG DI EKOSISTEM SAVANA TAMAN NASIONAL WAY KAMBAS Ramadhani Ramadhani; Agus Setiawan; Dian Iswandaru; Yulia Rahma Fitriana
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i1.52003

Abstract

The savanna ecosystem in the Elephant Training Center of Way Kamba National Park has the potential as of habitat the birds. The purpose of this study was to analyze and classify bird species based on the type of feed group or guild. Through the method of counting bird data points are taken and recorded. There are 30 species of birds found in the savanna ecosystem which are divided into six types of guilds with the proportions of insectivores 40%, omnivores 33%, granivores 17%, carnivores 4%, nectarivores 3%, and frugivores 3%. The types of bird guild that dominates the savanna ecosystem is insectivorous (insectivores).Keywords: bird, feeding guild, savannaAbstrakEkosistem savana yang ada di Pusat Latihan Gajah Taman Nasional Way Kambas berpotensi untuk menjadi habitat burung. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mengklasifikasikan jenis burung berdasarkan jenis kelompok pakan atau guild. Melalui metode point count data burung diambil dan dicatat. Terdapat 30 spesies burung yang terdapat di ekosistem savana yang terbagi menjadi enam jenis guild dengan persentasenya antara lain insectivore 40%, omnivore 33%, granivoree 17%, carnivore 4%, nectarivore 3%, dan frugivor 3%. Tipe guild burung yang mendominasi ekosistem savana adalah pemakan serangga (insectivore).Kata kunci: burung, pakan, savana
KARAKTERISTIK VEGETASI HABITAT BEKANTAN (Nasalis larvatus Wurmb) DI KAWASAN EKOWISATA HUTAN MANGROVE DESA SEBUBUS KABUPATEN SAMBAS Nur Azizah; Hari Prayogo; Ratna Herawatiningsih
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i1.53539

Abstract

The proboscis monkey (Nasalis larvatus Wurmb.) is an endemic primate of Borneo belonging to the family Cercophitecidae and sub-family Colobinae. This primate belongs to the group of protected animals. The Mangrove Forest Ecotourism Area of Sebubus Village is one of the proboscis monkey habitats in West Kalimantan. This study aims to obtain data on the vegetation characteristics of the proboscis monkey habitat which will provide an overview of the food sources, shelters and beds of proboscis monkeys in their natural habitat. The method used in this study is a survey method, while data collection is done by using a plotted path technique. The number of paths observed were five lanes with a length of each lane of 350 meters. Based on the results of the study found 24 types of plants, 4 of which are sleeping trees and 7 are proboscis monkey feed. Rhizophora apiculata is a type of proboscis monkey that has the highest INP value. The sleeping proboscis tree has a characteristic that is a tree that grows upright, stems clean from lianas, has a large tree diameter, has no sap, is monopodial, is not deformed, orthotropic, has flat branches and has an attims and champagnat's architecture. The types of plants that are the source of proboscis monkey's food are young leaves or shoots, have broad leaves, smooth and smooth leaf surfaces, not thorny and have thick leaf flesh, light green to dark green. Air temperature ranges from 26℃ - 34.8℃ and humidity 55% - 89%.Keywords: Habitat, Mangrove Forest, Proboscis Monkey, Sebubus Village, Vegetation Characteristics.AbstrakBekantan (Nasalis larvatus Wurmb) merupakan primata endemik Kalimantan termasuk kedalam famili Cercophitecidae dan sub-familly Colobinae. Primata ini tergolong kedalam kelompok satwa yang dilindungi. Kawasan Ekowisata Hutan Magrove Desa Sebubus merupakan salah satu habitat bekantan yang ada di Kalimantan Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan karakteristik vegetasi habitat bekantan diperoleh gambaran mengenai sumber pakan, tempat berlindung dan tempat tidur bekantan di habitat aslinya. Metode adalah survey, sementara pengambilan data dilakukan dengan teknik jalur berpetak. Jumlah jalur yang diamati sebanyak lima jalur dengan panjang setiap jalur 350 Meter. Hasil penelitian ditemukan 24 jenis tumbuhan, 4 diantaranya pohon tidur, 7 merupakan pakan bekantan dan 13 tumbuhan lainnya merupakan penyusun ekosistem hutan mangrove. Rhizophora apiculata merupakan jenis pakan bekantan yang memiliki nilai INP tertinggi. Pohon untuk tidur bekantan memiliki ciri khas yaitu pohon yang tumbuh tegak lurus, batang bersih dari liana, memiliki ukuran diameter pohon besar, tidak memiliki getah, monopodial, tidak cacat, orthotropik, percabangan datar serta berasitektur attims. Ciri-ciri tumbuhan yang menjadi sumber pakan bekantan merupakan daun muda atau pucuk, memiliki daun yang lebar, permukaan daun licin dan halus, tidak berduri dan memiliki daging daun yang tebal, berwarna hijau muda hingga tua. Suhu udara berkisar antara 26 - 34,8  dan kelembaban udara 55% - 89%.Kata kunci: Habitat, Hutan Mangrove, Bekantan, Desa Sebubus, Karakteristik Vegetasi.

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 3 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 2 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 1 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 4 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 3 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 4 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 3 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 2 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 10, No 4 (2022): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 4 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 3 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 2 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 1 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 4 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 3 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 2 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 1 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 4 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 3 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 2 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 1 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 4 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 3 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 2 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 1 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 4 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 3 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 2 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 1 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 4 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 3 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 2 (2016): Jurnal Hutan Lestari Vol 4, No 1 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 4 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 3 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 2 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 1 (2015): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 3 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 2 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 1 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 3 (2013): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Hutan Lestari More Issue